Mari Beli Produk Teman


Saat ini pandemi masih belum jelas kapan berakhirnya. Setiap hari kita mendapatkan informasi bahwa jumlah yang positif COVID-19 terus meningkat. Meski fluktuatif, tetapi masih di atas 1.000 orang perhari. Bahkan episentrum berpindah, dari Jakarta ke Jawa Timur. Disinyalir saat ini malah telah terjadi gelombang kedua. Ini pasti mempengaruhi segala aspek kehidupan. Kita fokus di aspek ekonomi dulu. Pengangguran terjadi dimana-mana. Dampaknya, jelas terasa. Multiplier effect-nya,melebar kemana-mana.

Beban hidup yang terus meningkat, Continue reading “Mari Beli Produk Teman”

Peluang dan Tantangan Krisis


  1. Menurut Dcode EFC Analytics, dalam jangka pendek selama terjadi wabah COVID-19 ada beberapa kejadian dibidang ekonomi & Bisnis yang patut dicermati. Sehingga, dalam kompetisi ini, sebagaimana biasa ajan ada yg akan jadi pemenang dan tentu ada yang bakal kalah, alias tumbang.


Beberapa prediksi itu, sekarang sudah, sedang dan nampaknya bakal terjadi. Hal ini tentu saja menjadi early warning bagi para pelaku usaha. Prediksi ini, menjadikan pelaku usaha, harus selalu meng-update informasi, melakukan mitigasi, dan merumuskan langkah-langkah strategis Continue reading “Peluang dan Tantangan Krisis”

Digital Nomads


Dalam kesempatan berbeda, beberapa kali saya diskusi dengan anak-anak saya dan juga dengan para kemenakan. Mereka semua generasi milenial. Ada yang sudah nikah, ada yang masih singel. Ada yang sudah lulus kuliah, sedang kuliah dan generasi Z yang masih duduk di bangku SMA. Saya sebenarnya ingin menyelami persepsi mereka tentang banyak hal, tentang kehidupan beragama, tentang perpolitikan, tentang posisi generasi milenial sendiri, tetutama tentang achievementapa yang ingin mereka capai termasuk pilihan profesinya ke depan.

Saya biasanya mendongeng berbagai hal, berkenaan pemahaman dan pengalaman saya sebagai generasi X, yang mencoba sok tahu tentang milenial, yaitu generasi Y, Z dan sesudahnya. Seperti biasa alur ceritanya seringkali mengejutkan. Kadang serius dengan deretan teori dan data, lalu dilanjutkan dengan realitas kekinian dan prediksi ke depan. Continue reading “Digital Nomads”

Berapa Usia Ideal Membangun Start-Up ?


Flat male age icon set, from young to old. EPS 10. RGB

Salah satu pertanyaan yang seringkali diajukan ke saya dari berbagai kalangan, termasuk anak saya adalah, kapan waktu yang tepat untuk memulai membangun Start-Up. Di umur berapa dan dalam situasi seperti apa sebaiknya dimulai. Atau pertanyaan sejenis dengan itu. Dan seperti biasa, banyak jawaban dengan berbagai macam argumen untuk menjawab itu. Dan kerapkali diikuti pula dengan spekulasi jawaban yang maksudnya untuk memperjelas, namun yang terjadi malah bias. Karena tidak menjawab substansi pertanyaan dengan pasti. Saya seringkali menjawab dengan pernyataan bahwa tidak ada ketentuan pasti usia berapa sebaiknya memulai usaha. Semua tergantung niat dan kesiapan masing-masing dalam memulai usaha. Sebuah jawaban klise dan nampak serampangan,  sebab  tanpa dibarengi dengan data sebagai pendukung yang memadai.

Mungkin jawaban tersebut sesaat bisa “memenangkan” penanya, namun sebenarnya tidak menjawab persoalan. Dan hal itu pada gilirannya membuat saya juga menjadi gelisah dalam hal yang sama. Dan akhirnya menjadi pertanyaan besar pula bagi saya.

Sampai kemudian saya menemukan sebuah infografis, yang di posting oleh akun twitter-nya World Economic Forum (WEF), yang kebetulan saya mem-follow-nya. Ternyata infografis itu merupakan simpulan hasil penelitian dari Harvard Business Review (HBR). Disitulah letak jawaban yang ilmiah dan otoritatif dari institusi yang kredibel di dapat. Sekaligus untuk menjadi jalan keluar atas pertanyaan di atas, dengan tepat.

Penjelasan tentang hal ini dapat dilihat sebagaimana dalam gambar (info grafis) di bawah ini.

Dari gambar tersebut di atas paling tidak menjelaskan bahwa berapa usia pendiri start-up,  dan bagaimana tingkat pertumbuhan serta keberhasilan disetiap jenjang umur. Dan ternyata yang memiliki tingkat pertumbuhan dan keberhasilan tertinggi, adalah start-up yang didirikan oleh mereka yang berumur 45 tahun. 

Secara lebih rinci penjelasannya adalah sebagai betikut : 

  • ‌Ada sekitar 15 persen usia 29 tahun kebawah mendirikan start-up, namun hanya 10% yang mengalami pertumbuhan dengan baik.
  • ‌Sekitar 29% dari usia 30-39 tahun yang membangun start-up, namun sekitar 27% yang berhasil.
  • ‌Sekitar 30 % usia 40-49 tahun membangun start-up, dan 33% mengalami highest-growth start-up
  • ‌Pada kelompok usia 50-60 tahun ada sekitar 20% yang membangun start-up, dan sekitar 23 % mengalami pertumbuhan dengan baik. 
  • ‌Sedangkan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 5% yang membangun start-up dan 5% pula yang berhasil tumbuh dengan baik.

Dari data tersebut sesungguhnya membenarkan jawaban saya di atas, bahwa tidak ada batasan di usia berapa sebaiknya membangun start-up. Faktanya, di semua umur, tetap ada potensi berhasil dan gagal. Namun, probabilitas terbesar adalah di usia 40-49 tahun. 

Saya menduga, mengapa di usia tersebut tingkat keberhasilannya tinggi. Menurut paling tidak disebabkan oleh beberapa hal ini :

  • Business Experience
  • ‌Managerial Skill
  • ‌Networking
  • ‌Risk Calculated

Kendatipun demikian, apapun alasannya itu, poin yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata tidak ada istilah terlalu cepat atau terlalu muda dalam membangun start-up, sebagaimana juga, tidak ada istilah terlambat atau terlalu tua dalam memulai membangun start-up. Karena sekali lagi, setiap usia ada potensi masing-masing. Sehingga saya dan Anda memiliki kesempatan yang sama, untuk berhasil dan gagal.

Dengan demikian maka,  tidak harus juga menunggu datangnya momentum. Namun, mari kita ciptakan momentum itu, berapapun umur Kita. Dan ini yang menjadi alasan, mengapa saya selalu optimis dan tahun depan Saya ingin membangun start-up lagi. Sebab beberapa hari lagi akan ganti tahun, dan saat itu, usia masih berada dalam parameter interval dengan tingkat keberhasilan membangun start-up tertinggi.  Jadi tunggu apa lagi, Ayo bangun start-up, sekarang juga. Bareng saya 🙂 

Bismillah

Mawasangka, 29 Desember 2018

Membangun Start-Up (lagi)


Seolah tiada kapoknya. Bagi sebagian entrepreneur, membangunstart-upadalah sebuah habbits. Bukan masalah serakah, tamak, loba atau tidak puas dengan raihan yang dicapai dan sejenisnya. Tetapi keterpanggilan jiwa, sebagai manifestasi dari keingingan untuk selalu berkarya dan memberikan yang terbaik, lebih dominan yang melatarinya. Idealnya memang, dalam membangun sebuah perusahaan rintisan itu adalah setelah di didirikan, di rawat dulu, hingga menjadi perusahaan yang survive, berkembang, besar,sustainserta berpengaruh hingga IPO dan menjadi perusahaan publik (terbuka). Dan sudah barang tentu memberikan profit yang maksimal bagi share holders. Baru kemudian dikembangkan. Itu, cara kerja otak kiri katanya. Cara kerja otak kanan beda. Sebab dalam membangun bisnis, seringkali tidak linear, tetapi eksponensia. Bukan deret hitung, namun deret ukur, dan seterusnya. Sehingga, syukur-syukur start-upyang dibangun bisa mencapai derajat unicorn. Sebuah tahapan ideal bagi start-up, yang seringkali di ukur dengan valuasinya yang mencapai 1 juta dollar atau dalam kisaran 15 triliun rupiah dalam kurs hari ini. Dan parameter prestasi seperti itu, biasanya yang menjadi motivasi & impian hampir setiap start-up.Meskipun kenyataannya, dalam membangun start-upitu, tidak bisa dikaitkan langsung dengan sukses dan gagalnya bisnis sebelumnya.

Mengapa demikian? Sebab, tidak selamanya gambaran ideal itu, dapat diraih oleh semua start-up. Hanya sedikit yang bisa mencapai derajat itu. Alih-alih bisa sampai tingkatan unicorn. Untuk berkembang dan survivesaja, kerap kali sulit untuk diraih. Akibatnya, Continue reading “Membangun Start-Up (lagi)”