Corporate Spiritual


Sebagaimana dibahas dalam tulisan sebelumnya, bahwa kelas menengah muslim menjadi kunci dalam membangun sebuah bangsa. Dengan belasan fenomena tesebut -bahkan bisa jadi akan terus berkembang- ternyata juga mendeterminasi yang selanjutnya, secara sistemik -disadari atau tidak- telah mengubah perilaku mereka dalam menjalankan bisnis. Entrepreneur muslim dan pemilik perusahaan rintisan (start-up), bahkan eksekutif puncak perusahaan muslim sekalipun, rerata memasukkan nilai-nilai islam dalam menjalankan aktifitas bisnisnya. Dan ini menjadi semacam kesacaran kolektif (jama’i) yang terjadi di kalangan pengusaha dan juga profesional serta eksekutif muslim.

Spiritualitas agama (Islam), dengan berbagai aspek dan turunannya, dan dengan berbagai subyek (pelakunya), kini terus berkembang dan menjadi basis nilai pesatnya sistem ekonomi syariah di Indonesia. Fenomena ini sekaligus membantah teori Ian Marshal dan Danah Zohar Continue reading

Advertisements

Menata (Kembali) Ekonomi Kita


Di setiap saat kita disuguhi data statistik tentang kesenjangan ekonomi umat. Disparitas ini, sudah terjadi menahun. Dan setiap saat sesungguhnya sudah dilakukan kajian yang mendalam oleh kaum cerdik cendekia dalam mencari jalan keluar. Beberapa teori, serta solusi mengatasi permasalahan selalu hadir, bahkan dengan berbagai sudut pandang dan perspektif. Namun, lagi-lagi terjadi perulangan terus menerus, seolah dalam putaran roda gila, terjebak dalam lingkaran setan. Dan saya tidak bosan untuk mengulang-ulang ini, agar bisa mempengaruhi alam bawah sadar kita, bahwa ada something wrong dalam tatanan ekonomi kita. 

Sementara itu, dengan bergantinya tahun, jarak ketimpangan itu terus melebar. Menurut Chairul Tanjung, yang disampaikan dalam Kongres Ekonomi Umat Islam memaparkan data bahwa umat islam yang jumlahnya 87,5% dari populasi penduduk Indonesia, hanya mendapatkan porsi 12,5% perputaran bisnis. Continue reading

10 Akhlak Pengusaha Muslim


Adalah Prof. Dr. Shalah ash-Shawi dan Prof. Dr. Abdullah al-Mushlih dalam bukunya Ma La Yasa’ at-Tajira Jahluhu, yang diterjemahkan oleh Pustaka Darul Haq dengan judul Fikih Ekonomi Islam, dalam Bab I di awali dengn bahasan mengenai akhlak usahawan muslim. Dimana, ada 10 hal yang menurut beliau berdua menjai kode-etik bagi pengusaha muslim agar dalam melaksanakan aktifitasnya senantiasa memelihara kejernihan atiran ilahi, jauh dari sikap serakah dan egoisme, sehingga membuat usaha tersebut menjadi mediator bagi terbentuknya tatanan masyarakat yang saing mengasihi satu sama lainnya. Dan ini menurut saya, menjadi pilar bagi tegaknya peradaban Islam.

Akhlak dan kemudian menjadi kode etik bagi pengusaha muslim tersebut, sesungguhnya menjadi pembeda dengan pengusaha kebanyakan. Continue reading

Top Ten Start-up Mistakes


Sekali lagi membicarakan start-up atau perusahaan rintisan ini tidak pernah habis untuk di bahas dan di kupas dari berbagai sisi dan sudut pandang. Awalnya di salah satu WAG yang membahas tentang start-up. Kemudian saya balas dengan tulisan di blog ini, yang membahas tentang itu. Dan ada tambahahan seorang kawan, dengan mengirim gambar sebagaimana di laman ini. Lalu saya minta ijin untuk mengutip kirimannya untuk di tulis di  blog dan sekaligus berselancar menuju alamat yang diarahkan kesini. Ternyata berisi infografis, sebagaimana dalam gambar tersebut yang di poting pada 15 Nopember 2013 di blog-nya Daniel Garplidin, dan hingga saat ini sudah dilihat lebih dari 9.000 orang.

Daniel membuat berdasarkan prioritas dan besaran prosentase kesalahan dan skor yang di dapatkan dari tingkat kesalahan yang sering dilakukan oleh perusahaan rintisan (start-up). Berdasarkan infografis tersebut urutannya adalah sebagai berikut. Continue reading

Closed-Loop Market


Sebagaimana yang kita baca diberbagai kitab sirah, maka salah satu pilar peradaban yang di bangun setelah hijrah di Madinah adalah membangun Pasar. Sebab saat itu, dominasi ekonomi Madinah di bawah kendali Yahudi bani Qainuqa. Sementara itu, menuruf Prof Ash-Shalabi, hijrahnya kaum Muslimin ke Madinah, menyebabkan bertambahnya beban ekonomi di pundak negara yang baru berdiri ini. Sehingga, Nabi SAW, melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis ini dengan berbagai cara dan metode. Selain mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshor dan membangun Masjid Nabawi untuk mengakomodasi sebanyak mungkin orang-orang miskin Madinah, maka beliau juga memberi perhatian besar untuk urusan ekonomi ini.

Melihat cengkeraman Yahudi di sektor ekonomi yang kuat ini, dimana merekalah yang memiliki pasar niaga dan harta di Madinah, mengendalikan harga barang dan memonopolinya, memungut pajak yang tinggi, penh dengan praktik riba, serta mengeksploitasi keuntungan dari kebutuhan manusia. Nabi melihat ini adalah permasalahan mendasar yang harus diselesaikan. Maka, kaum Muslimin harus membangun pasar sendiri, untuk menyaingi sekaligus memotong rantai perdagangan yang selama ini di dominasi Yahudi, atas sumber-sumber kekayaan dan ekonomi Madinah. Selain itu, pasar yang dibangun juga menerapkan nilai-nilai islam, jauh dari sifat culas dan riba lainnya, yang saat itu menjadi jualan dan sistem di pasar yahudi. Dan didalamnya, di ajarkan serta dipraktekkan akhlak mulia dalam perniagaan. Maka, nabi memilihkan tempat di bagian barat Masjid Nabawi sebagai pasar bagi mereka, kemudian beliau bersabda.”Ini adalah pasar kalian, Di sini kalian tidak direndahkan dan tidak dipungut pajak.” Continue reading

Mentor


Dalam perkembangan bisnis modern, jika seseorang ingin membangun bisnis rintisan (start-up), agar terjadi akselerasi yang signifikan. Maka Entrepreneur tersebut, mesti didampingi seorang Mentor. Dan selanjutnya, banyak contoh sukses yang mempertegas sekaligus membuktikan kebenaran tesis tersebut. Dalam bahasa lain, mentor yang juga sering disebut, dengan Coach. Meski ada perbedaan mendasar antara Mentor dan Coach. Namun dalam konteks ini kita samakan.

Menurut KBBI, mentor/men·tor/ /méntor/ n pembimbing atau pengasuh (biasanya untuk mahasiswa): tiap mahasiswa diberi seorang –. Artinya, secara spesifik mentor itu, merupakan pembimbing atau pengasuh mahasiswa, selama kuliah. Namun kini telah memiliki perluasan makna, dan dikaitkan dengan bisnis. Semangatnya sama, meski implementasi berbeda. Intinya Continue reading

Produsen Muslim


Dalam berbagai kesempatan, termasuk di blog ini, sudah sering saya sampaikan hasil pengamatan langsung, mendengar ceramah ikut seminar dan lain sebagainya. Bahwa produk yang menguasai pasaran Indonesia saat ini, banyak yang dihasilkan oleh non muslim. Bahkan itu banyak dari perusahaan MNC, yang membuat pabrik disini, kemudian merebut pasar muslim. Dan, tidak sedikit dari produsen itu, yang di golongkan sebagai penyokong zionis yahudi. Terapi kita tetep membelinya. Dus artinya secara tidak langsung kita jadi pendukungnya pula. Sebab keuntungan dari produk yang kita beli, menjadi donasi ke Israel, dan bisa jadi peluru yang menembus, para mujahid disana berasal dari keuntungan barang yang kita beli itu. Na’udzu biLlahi minta dzalik.

Data dilapangan menyebutkan bahwa, tidak kurang dari 70% dari barang yang di jual diritel modern, atau warung-warung kecil itu berasal dari perusahaan Unilever, P&G, indofood, wing food, netsle, dlsb. Mereka menguasai pasar sampai ke jalur distribusinya. Bahkan dengan ketersediaan barang yang dibatasi serta term of payment yang semakin mepet Continue reading