Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, Peradaban

Menyelamatkan dan Mengembangkan Bank Syariah


Mengubah mind-set sangatkah penting, sehingga dalam bersyariah itu, yang dikedepankan bukan aspek transaksional semata

Menyelamatkan dan Mengembangkan Bank Syariah

 

Oleh: Asih Subagyo 

BEBERAPA hari terakhir, media tidak terkecuali media sosial riuh  dengan rencana right issue dari Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang pada akhirnya melebar kemana-mana, akibat ketidaktahuan (atau ketidakmautahuan) sebagian besar umat dan media akan sebuah proses.

Berbekal pengetahuan yang kurang memadai, yang tidak jarang bersumber dari copy-paste, dan nge-share tulisan yang belum jelas kebenaran dan keakuratan informasinya, menjadikan isu kian ramai namun nir dari bobot dan kebenaran.Ironisnya hal tersebut ternyata menjadikan banyak pihak terjebak untuk mudah kita men-judge, menjatuhkan hukuman tanpa ampun.

Parahnya, meskipun sebagian pihak kemudian melakukan klarifikasi (termasuk atas nama orang dalam) dan meng-counter persoalan itu, dengan pemahamaan yang relatif lebih jernih, berdasar fakta dan data, komprehensif, terstruktur dan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Namun nampaknya sebagian besar umat sudah termakan hoax  itu.

Pertanyaanya, apakah penyebaran hoax  itu, berjalan alamiah begitu saja? Saya melihat –meskipun sulit dibuktikan- nampaknya ada upaya dari pihak tertentu yang secara sistematis, terencana dan masif dengan sengaja terus menyebarkan hoax  tentang BMI ini.

Baca: Bela dan Beli Bank Muamalat Indonesia

Issue negatif terus digoreng untuk menjatuhkan kredibilitas BMI, dan mempengaruhi umat untuk kemudian tidak mempercayai BMI. Ujungnya adalah adanya rush alias penarikan dana besar-besaran dari BMI. Penggoreng nampaknya faham betul, bahwa sentimen umat Islam, saat ini sedang tinggi-tingginya, sehingga dengan menggoreng dan menggoyang BMI ini, lalu menyusupkan informasi adanya kelompok tertentu di belakang Mina Padi sebagai standby buyer (Lippo Group) yang akan masuk ke BMI, maka kepercayaan umat Islam akan BMI menjadi jatuh dan hilang.

Padahal kenyataannya tidak begitu. Dan ini jelas menjadi tujuan mereka. Ini telah menjadi semacam perang bisnis yang tidak sehat. Umat harus paham tentang ini, jangan mudah terpengaruh. BMI hanya sebagai sasaran awal, target utamanya  adalah hancurya sistem ekonomi Islam.

Patut rasanya kita menduga bahwa ada sekenario besar yang sedang bermain, dan anehnya, kita dengan tanpa sadar (ataupun sadar) terseret arus yang diciptakan dengan sekenario yang benar-benar tertata rapi.

Namun, secara pasti, hanya pihak Bank Muamalat Indonesia sendiri yang mampu meredam hoax  yang sudah sedemikian rupa. Sebagian publik yang kritis memang masih menunggu klarifikasi dari BMI terhadap apa yang diriuhkan media dan masyarakat di media sosial. Sebab, BMI di satu sisi dicintai, meski belum sepenuhnya benar-benar membuktikan diri.

Menguji Kecintaan Kita

Sebagai wujud kecintaan kita terhadap Bank Syariah(BS), tentunya adalah rekening kita, secara mayoritas selayaknya ada di BS tersebut. Tetapi kenyataannya tidak begitu.

Artinya dengan market share BS yang hanya sekitar 5% itu membuktikan, bahwa mayoritas umat ini, tidak menaruh dananya (tabungannya) di BS (dalam hal ini BMI).

Ini sebuah ironi. Bahkan menjelang dan pasca 212, yang dikampayekan untuk memindahkan dana dari bank konvensioal (BK) ke BS, nyatanya menurut beberapa BS, hal tersebut tidak signifikan.

Bahwa ada moving dana adalah iya, tetapi tidak besar. Artinya, kita lebih kuat berteriak, tetapi minim aksi nyata. Sekarang coba kita lihat rekening dan ATM di dompet kita masing-masing, betulkah main account itu di BS atau Bank Konvensional (BK) ?

Baca:  Bank Syariah Mau Maju Pesat? Harus Kaffah

Disisi lain, pemilik dana (besar) jika menempatkan dana ke BS ternyata juga minta bagi hasil yang besar, bahkan harus lebih besar dari yang diberikan oleh BK, sehingga dari informasi yang saya dapat, tidak sedikit yang mau menempatkan dananya ke BS asal nisbahnya 90 : 10.

Karena BS juga dalam posisi membutuhkan dana, sehingga di terima saja. Dan ini, dalam bahasa bank-nya, menyebabkan BS mengalami kendala tingginya Cost of Fund. Dana yang di dapatkan mahal. Akibatnya ketika “dijual” dalam bentuk pembiayaan ke nasabah jelas tidak kompetitif.

Padahal sumber dana yang murah (berupa tabungan) ini, akan berdampak pula kepada murahnya pembiayaan kepada nasabah. Namun karena pemilik dana melakukan “jual mahal”, akibatnya mahal pula jualannya ke nasabah.

Kondisi di atas, menunjukkan bahwa kecintaan kita kepada BS masih penuh keraguan jika tidak dikatakan semu.

Tanpa disadari justru umat Islam selama ini ternyata masih dihinggapi materialismeyang akut. Akibat dari dicekoki oleh sistem BK yang berbasis kapitalisme itu. Sehingga untuk menerapkan sebuah sistem syariah-pun, tolok ukur kita masih dalam hitungan untung rugi.

Sehingga dalam konteks mewujudkan kecintaan kita terhadap BS, adalah dengan mengalihkan seluruh simpanan yang kita miliki dari BK ke BS. Dan main account kita dalam menggunakan aktifitas keuangan adalah di BS.

Jika perpindahan ini bias dilakukan secara masif, maka BS akan mendapatkan sumber pendanaan yang banyak dan relative murah, yang kemudian bisa bersaing dengan BK.

Literasi

Apapun yang ingin kita lakukan untuk memperbesar market share BS, maka salah satu kuncinya adalah pemahaman kepada umat, terhadap bagaimana BS itu. Sehingga Literasi menjadi kunci.

Proses literasi ini bukan hanya menjadi tanggung jawab BS saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab negara, ormas Islam, ulama, da’i dan semua unsur umat Islam. Materi-materi kajian, khutbah dan sejenisnya, sudah harus menyentuh aspek ini.

Baca: Pangsa Pasar Syariah yang Manalagi?

Dari sini diharapkan muncul kesdaran, pemahaman dan langkah konkret dari umat. Kemudian secara bertahap, market share BS meningkat, secara eksponensial, dan menjadi terus membesar. Sehingga dengan ijin Allah, akan mendominasi industri keuangan Indonesia.

Dalam konteks literasi ini, maka start-nya harus diawali dari kesadaran bersyariah yang benar. Ada aturan main yang harus dipahami dalam fiqh muamalah, terutama menyangkut BS ini. Sehingga umat, untuk saat ini, tidak menuntut semua yang berlaku di BS, sama atau lebih tinggi dengan BK.

Sebab saat ini BS terusberproses menuju yang lebih baik. Kedepannya, seharusnya sudah mejadi kebenaran dan keyakinan bahwa tidak ada sistem yang lebih baik, tanpa menerapkan syariah.

Mengubah mind-set ini penting, sehingga dalam bersyariah itu, yang dikedepankan bukan aspek transaksional semata. Namun memang semua ini, karena kita ingin menjalankan perintah Allah Subhanahu Wata’ala dengan benar. Dan olehnya, kita mendapatkan keberkahan disitu.

PR Bank Syariah

Dari uraian di atas, terlepas dari perbedaan pendapat terhadap praktek BS, maka kehadiran BS sesungguhnya adalah sebagai marwah umat Islam. Baiknya, adalah kebaikan umat islam, dan buruknya adalah buruknya umat Islam pula.

Bank Syariah merupakan cermin kecil bagi penerapan syariah di Indonesia. Olehnya, ketika umat sudah menjatuhkan dukungan ke BS, maka mau-tidak mau BS juga harus memperbaiki diri, sehingga memenuhi keinginan umat. Beberapa PR tersebut adalah :

Pertama, menerapkan Prinsip  Syariah secara sungguh-sungguh

Umat melihat, praktek BS saat ini masih belum sesuai syariah. Masih banyak kesan “mengakali” sistem konvensional yang di bungkus dalam kemasan Syariah. Maka penerapan sistem yang berbasis syariah mutlak untuk diterapkan.

Kedua, memperbaiki Layanan

Layanan BS dirasa jauh ketinggalan dari BK. Umat sebenarnya mengarapkan sebuah layanan yang murah, mudah, cepat dan sesuai syariah. Ternyata hal ini, masih belum ditemukan di BS. Mesti ada perbaikan disini.

Ketiga, memperluas Jaringan

Jaringan BS memang masih kalah dari BK. Baik kantor Cabang maupun ATM. Sehingga akses umat terhadap BS terkendala. Meski kami tahu bahwa menambah KC/KK dan ATM itu berarti investasi/cost nampaknya perlu ada terobosan untuk ini, sehingga mendekatkan BS dengan umat.

Keempat, meningkatkan Pemanfaatan Teknologi

Rerata, pemanfaatan layanan teknologi (informasi) dari BS masih tertinggal dari BK. Padahal seringkali kita ii tidak memegang uang secara fisik, namun melalui teknologi semua bisa dilakukan, dimanapun dan kapanpun. Meski sudah ada, tetap perlu ada perbaikan yang serius, dalam memberikan layanan dengan pemanfaatan teknologi ini.

Sebenarnya masih banyak lagi PR yang harus dikerjakan oleh BS. Namun ke-empat hal diatas adalah yang patut untuk jadi prioritas.

Jika harapan umat, melalui gerakan ormas Islam, seruan ulama, dai dan yang lainnya, bersinergi dan menjadi satu tarikan nafas dengan upaya BS untuk memperbaiki diri itu, agar lebih complydan sesuai dengan standar syari’ah yang berlaku, maka Insya Allah akan dipermudah jalannya dalam menerapkan Syariah disektor keuangan ini. Wallhu a’lam.* 

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Tulisan ini di muat di –> https://www.hidayatullah.com/berita/ekonomi-syariah/read/2017/10/09/125359/menyelamatkan-dan-mengembangkan-bank-syariah.html

Continue reading “Menyelamatkan dan Mengembangkan Bank Syariah”

Advertisements
Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, IT

15 tahun Totalindo


Hari ini, ya 29 Juni adalah hari jadinya PT Totalindo Rekayasa Telematika yg ke 15. Jadi pada tanggal yang sama, tahun 2001, perusahaan ini resmi didirikan dengan akte no 5, oleh Notaris Yatin Rufiatina,SH. Tidak ada hiruk pikuk pesta, tidak ada tumpeng yang dipotong, semua berjalan apa adanya. Sebagai flash back, sejak awal, inginnya  perusahaan ini didesain untuk bergerak di bidang ICT,  dengan seluruh turunannya. Namun sebagaimana cerita sebelumnya, bersebab alasan cash flow, sebagai entrepreneur unyu-unyu saat itu, kamipun terjebak dalam bisnis  Palugada (apa lu mau gua ada). Sebuah kondisi yang terpaksa harus kami pilih, agar tetap bisa bernafas dan survive. Dan pola seperti ini, berjalan hampir 5 tahun, sampai kemudian, ketemu fokus, sebagaimana, visi yang kami canangkan sejak awal, sebelum perusahaan berdiri.

Dan hari-hari berikutnya setelah itu, tentu menjadi sebuah perjalanan yang sarat dengan perjuangan air mata (tanpa darah tentunya). Banyak onak-duri dan kesempatan yg datang-pergi berseliweran, menawarkan satu paket keuntungan dan “bahaya” sekaligus dalam satu kemasan. Continue reading “15 tahun Totalindo”

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, IT

15 tahun Totalindo


image

Hari ini, ya 29 Juni adalah hari jadinya PT Totalindo Rekayasa Telematika yg ke 15. Jadi pada tanggal yang sama, tahun 2001, perusahaan ini resmi didirikan dengan akte no 5, oleh Notaris Yatin Rufiatina,SH. Tidak ada hiruk pikuk pesta, tidak ada tumpeng yang dipotong, semua berjalan apa adanya. Sebagai flash back, sejak awal, inginnya  perusahaan ini didesain untuk bergerak di bidang ICT,  dengan seluruh turunannya. Namun sebagaimana cerita sebelumnya, bersebab alasan cash flow, sebagai entrepreneur unyu-unyu saat itu, kamipun terjebak dalam bisnis  Palugada (apa lu mau gua ada). Sebuah kondisi yang terpaksa harus kami pilih, agar tetap bisa bernafas dan survive. Dan pola seperti ini, berjalan hampir 5 tahun, sampai kemudian, ketemu focus, sebagaimana, visi yang kami canangkan.

Dan hari-hari berikutnya setelah itu, tentu menjadi sebuah perjalanan yang sarat dengan perjuangan air mata (tanpa darah tentunya). Banyak onak-duri dan kesempatan yg datang-pergi berseliweran, menawarkan satu paket keuntungan dan “bahaya” sekaligus dalam satu kemasan. Dan kondisi begini memaksa mengaduk-aduk perasaan, menguras energi, memompa adrenalin, dan sederet kisah pilu, yang berkelindan dengan pembelajaran luar biasa, dan sesekali (eh seringkali juga kok) dibalut rasa suka-cita tiada tara. Memang ini sebuah long journey, bisa jadi hal ini juga dirasakan oleh seorang entrepreneur lainnya, dan sebagai entrepreneur, bagi saya justru keadaan seperti itu mengasyikkan sekaligus menyesakkan.

Prestasi dan kegagalan tentu menjadi hal biasa. Karena 2 hal itu, menjadi sebuah keniscayaan, sebagai dua sisi mata uang. Dan bukan entrepreneur namanya kalo tidak di uji dalam berbagai situasi, termasuk dalam keadaan sempit, bahkan terpuruk sekalipun. Oleh karenanya, bukan entrepreneur pula namanya yang mengeluh dan meratapi nasibnya tanpa ada efforts untuk berlepas dari ujian-ujian itu. Sekali lagi, ini bukan soal berapa kali kita jatuh, tapi bagaimana kita bangkit dari keterpurukan itu. Tentu tidak hanya mengandalkan ilmu, logika dan pengalaman saja, namun ratapan dan do’a dikeheningan sepertiga malam terakhir,  kepada Allah SWT sebagai sang maha pemberi solusi, adalah cara cerdas dan kunci utama untuk exit strategy seorang entrepreneur dari problematika yang menghimpitnya.

Long Journey

Selama limabelas tahun perjalanan, tentu bukan masa yang lama, namun bukan juga masa yang pendek. Tergantung darimana kita melihatnya. Namun, yang jelas banyak pelajaran yang di dapat selama rentang waktu itu. Sebuah sekolah bisnis dan kehidupan, yang sulit diperoleh (baca : mustahil) di sekolah/kampus formal manapun juga. Ini semacam Mini MBA, yang kesehariannya selalu dihadapkan pada case study, dengan cara penyelesaiannya, tidak dalam bentuk paper atau tulisan yang di publish di jurnal-jurnal ilmiah, yang dampaknya paling hanya pada nilai atau diterima/ditolaknya paper kita, atau mungkin jadi akumulasi angka kum. Namun, solusinya berdampak langsung terhadap untung/rugi bahkan hidup/matinya perusahaan.

Selama masa itu, kami punya pengalaman mengerjakan pekerjaan dari skala kecil, institusi yang tidak terkenal, sampai pada perusahaan multinational, termasuk lembaga pemerintah baik dari level daerah sampai tingkat pusat. Juga kami sempat mengerjakan proyek di luar negeri.

Demikian juga berkenaan dengan besarnya dan volume serta kompleksitas dan resiko pekerjaannya. Dari yg sederhana, bernilai kecil, dan nyaris tanpa resiko sampai kepada pekerjaan/project yang besar dan rumit/kompleksitas tinggi serta resiko yang besar dan niliai yang cukup besar.
Terkait dengan waktu dan resources yang terlibat, kami berpengalaman menangani pekerjaan/proyek dari yang dikerjakan 1 orang, dengan cara di-remote dan selesai dalam hitungan hari, sampai kepada pekerjaan/project yang melibatkan puluhan bahkan ratusan orang, on site dan multiyears project.
Demikian juga dengan partner dan kolaborasi, kami berpartner dengan institusi/perusahaan lokal sampai multinational corporation. Dari yang untuk common business (Microsoft, Oracle, RedHat, HP, IBM, cisco, Fujitsu,dll), sampai dengan yang special business (solutions), sebut saja kerjasama kami dengan : Iblsoft (Slovakia), Vaisala (Finlandia), Resources Energy Solution (Canada), Altibase (Korea), EnterpriseDB (USA), OpenERP (Belgia), Alfresco (USA) dll.
Sedangkan bidang (industri) yang kami tangani meliputi : government and public service, telecommunications, manufacturing, financial services, oil and gas dll. Begitu pula SDM yang bergabung, juga sebarannya merata, dari PTS terbaik sampai PTN terbaik, ada saja alumninya yang sempat mengikuti tumbuh dan berkembang bersama kami.
Sebuah, Perjalanan panjang yang memberikan pelajaran dan pengalaman berharga luar biasa.

Freezed Company

Ternyata perjalanan panjang tersebut, dengan spektrum yang demikian luas, tidak serta-merta sebagai jaminan sustainabilitas sebuah perusahaan. Ada saja hambatan dan rintangan yang muncul. Dan ada semacam anomali, justru disaat perusahaan sedang tumbuh membesar, disitu muncul problem. Dan biasanya didominasi faktor internal, kalau toh tidak bisa disebut sebagai mismanagement. Tanpa bermaksud menafikan beberapa kejadian yang mewarnau perjalanan,
Saya mencatat ada 2 momentum yang terjadi. Pertama tahun 2006-2008, saat perusahaan sedang tumbuh dengan project yang sabar bagus, justru terjadi disharmony antar share holder. Akibatnya perusahaan pecah, dan terjadi aksi jual saham dan berpindah kepemilikan. Waktu berlangsungnya sampai recovery, kurang lebih perlu waktu 3(th) tahun. Karena selain berpindahnya kepemilikan saham, juga berpindahnya management. Namun setelah itu perusahaan ekspansif dan tumbuh dengan baik.
Kedua, periode 2014-sekarang (2016). Kasusnya hampir sama. Dapat project multiyears sejak 2011-2014, kemudian terjadi problem, pecah kongsi, saham berpindah, manajemen ganti. Solusi dimulai dari downsizing perusahaan, namun nampaknya ini bukan pilihan solusi terbaik. Perusahaan tetap mengalami bleeding. Akhirnya operasi dihentikan, hanya menangani yang captive dan terikat kontrak jangka panjang saja.
Dan kondisi terakhir terpaksa perusahaan dibekukan. Jadi sekarang statusnya jadi Freezed Company atau lebih tepatnya limited operation. Dengan dibekukan, bukan dimatikan, dan dengan operasional terbatas, maka masih terbuka kemungkinan untuk bangkit lagi, jika situasi membaik kedepannya, Insya Allah akan bisa berkompetisi lagi. Selain memang, secara pribadi ada mainan lain yang lebih menantang dan harus saya kerjakan, sebab butuh konsentrasi yang luar biasa.

Titik Balik dan Berkah Ramadhan
Setiap organisasi termasuk perusahaan, mempunyai jalan dan caranya sendiri untuk mature (dewasa). Siklusnyapun, tidak bisa sama persis, antar satu dan lainnya. Pun demikian, cara mengatasi problemnya, tidak bisa generic. Masing-masing memiliki ke-khasan. Tidak ada antalgin yang mampu meredakan “pusing”  setiap perusahaan.
Meskipun belum mampu memprediksi, kapan kebekuan itu akan mencair, saya berkeyakinan bahwa itu akan terjadi. Hanya masalah waktu saja. Dan seperti yang sudah- sudah, disaat dan setelah ramadhan, ada jalan keluar yang tidak terbuka sebelumnya. Ramadhan, sebagai bulan istimewa, selalu membersamai mengerjakan di dalamnya. Dan Insya Allah itu juga akan terjadi Ramadhan kali ini.
Semoga titik balik itu disegerakan. Aamiin.

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Pendidikan Menderita dalam Family Business


Alasan klasiknya ialah bahwa itu bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak, sehingga tidak tega melihat anaknya bersusah-susah sebagaimana ketika orangtuanya merintis usahanya dulu.

familybusinessAda sebuah nasihat inspiring dari salah satu pengusaha Muslim yang masuk dalam jajaran 50 orang terkaya di Indonesia. Petuah yang cukup bernas itu, disampaikan di dalam salah satu acara di Samarinda, yang kebetulan saya hadir di dalamnya. Nasihat ini, berawal dari keprihatinannya atas tidak berumur panjangnya perusahaan milik pribumi muslim, terutama bisnis keluarga (family business) yang rata-rata mati pada generasi ke-dua, beberapa saat setelah kematian perintisnya. Jarang yang sampai melewati generasi ke-3 dan seterusnya. Artinya generasi berikutnya –anak-cucu-cicit dari pendiri perusahaan- tidak mampu meneruskan usaha yang telah dirintis oleh orang tuanya itu. Hanya beberapa saja yang bisa terus bertahan, berkembang dan bahkan lebih sedikit lagi, yang usahanya jauh lebih baik dari era bapaknya masih mengelola perusahaan itu. Padahal menurut penelitian PwC, bahwa 96% bisnis di Indonesia adalah Family Business. Sementara 60% perusahaan terbuka di Asia Tenggara adalahh perusahaan keluarga, dan pewarisan kepemimpinan merupakan prioritas utama perusahaan. Sehingga kehadiranya, pasti memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Nasional.

Mengapa ini semua terjadi di dalam? Ternyata banyak faktor yang menyebabkannya. Namun yang lebih besar adalah, orang tua sejak dini tidak menyiapkan dengan baik dan matang penggantinya. Semua dilakukan secara alamiah, tanpa perencanaan dan rekayasa yang matang Continue reading “Pendidikan Menderita dalam Family Business”

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Momentum Kesuksesan


“Setiap orang memiliki hak untuk menjadi seorang entrepreneur dan membangun perusahaan yang sukses.”

 

momentumDalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sukses /suk·ses/ / suksés / a berhasil; beruntung. Sehingga dari penjelasan itu, maka setiap orang mempunyai hak untuk meraih kesuksesan, tidak terkecuali. Problemnya adalah kebanyakan kita ingin sukses, namun tidak tahu jalan dan caranya. Sehingga, kebanyakan sudah bertahun-tahun mengarungi jalan sebagai entrepreneur misalnya, dan atau mungkin menggeluti profesi lainnya, namun tetap saja belum berjodoh dengan sukses itu. Alih-alih mencicipi kesuksesan, bahkan seringkali serentetan kegagalan dengan pahit-getir menyertai langkah kita. Padahal, telah banyak buku tip dan trik sukses bisnis dan menjadi pengusaha yang telah tamat di baca. Berulangkali pula mengikuti pelatihan bisnis, motivasi sukses, workshop, seminar, nge-champ dan sejenisnya. Tetapi lagi-lagi, aroma sukses ternyata belum mau mendekat juga. Sementara, di satu sisi, kita juga menyaksikan ada saudara, teman dekat, kenalan dan lain sebagainya, mendapatkan nasib yang berbeda. Mereka menemui kesuksesan dengan cepat, dengan jalan yang tidak seterjal yang kita lewati. Kita masih bernafas satu-dua, alias senin-kamis, sementara mereka telah bernafas dengan leluasa, karena menghirup udara kesuksesan yang ada disekelilingnya. Apakah ada yang salah dengan diri kita? Sehingga kesuksesan tidak berpihak ke kita?

Pertanyaan seperti ini seringkali muncul, disaat kita galau menjadi entrepreneur. Bahkan mungkin sampai pada tingkatakan, menyalahkan Tuhan tidak adil. Atau kita merasa ada orang yang tidak ingin melihat kita sukses. Intinya kita selalu mencari “kambing hitam” dengan menyalahkan pihak “luar”, sebagai biang kerok ketidak suksesan kita. Continue reading “Momentum Kesuksesan”

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Belajar Out of the Box dari Bob Sadino


bobsadinoHampir setiap entrepreneur di Indonesia dan mungkin sebagian rakyat Indonesia mengenal Bob Sadino. Seorang pengusaha nyentrik di negeri ini. Bukan hanya penampilannya saja yang nyentrik, akan tetapi perjalanan hidupnya dalam menapaki hudup, bisnis, dan juga jenis bisnis yang digelutinya termasuk nyentrik. Karena tidak banyak pengusaha (dulu) yang mau terjun di bidang itu, sehingga langkah dan cara berbisnisnya termasuk menjadi inspirasi bagi sebagian besar entrepreneur di negeri ini.

Secara pribadi, saya pertama kali melihat dari dekat sosok om Bob, begitu beliau biasa di panggil, adalah sekitar tahun 1996. Ketika itu saya mengikuti seminar yang diselenggarakan Fakultas Peternakan UGM. Saat itu sosok Om Bob memang telah menjadi pengusaha fenomenal. Pengusaha pribumi, yang cukup mencuat namanya saat itu. Saya sudah sedikit lupa apa yang di bicarakan secara utuh ketika itu. Tetapi yang pasti, beliau menularkan virus entrepreneur. Saat itu, virus entrepreneur belum di sebarkan seganas sebagaimana beberapa tahun terakhir ini. Beliau menyatakan kurang lebih seperti ini, “Saya yang tidak punya basic pendidikan di bidang peternakan saja, bisa membangun perusahaan yang berbasis peternakan yang lumayan maju, apalagi jika lulusan fakultas peternakan seperti anda yang berbisnis di bidang peternakan, maka hasilnya jauh lebih hebat dari apa yang saya geluti”. Sebagai peserta yang, background pendidikan saya juga bukan di bidang itu, ketika itu saya hanya senyum-senyum saja. Tetapi lama-kelamaan, di saat saya merenungi kalimat itu, ada benarnya juga. Apalagi disaat mulai bergelut sebagai entrepreneur, dan mulai membaca banyak buku tentang binsnis dan entrepreneurship, maka pernyataan di atas, menemukan jawabannya. Sebab, kenyataannya menjadi pengusaha itu, tidak harus memiliki latar belakang yang linier dengan jenis usaha yang digelutinya. Meskipun, jika basic pendidikannya sesuai dengan jenis bisnis yang digelutinya, bisa jadi lebih baik, pun bisa tidak baik. Namun faktanya, banyak pengusaha, bahkan yang berkelas dunia, sama sekali tidak memiliki latar belakang yang sama dengan bisnis yang digelutinya, dan berhasil.

Statement yang keluar dari om Bob saat itu, sangat lancar dan liar keluar dari lisan beliau. Seolah tiada beban. Tiada kesan menggurui, namun pernyataannya cukup mengena. Ketika menjadi pembicara saat itu, beliau tampil seperti ciri khasnya yang sering kita lihat sekarang. Baju kemeja lengan pendek, celana jeans di atas lutut, bersepatu tanpa kaos kaki. Saya, kemudian secara fisik tidak pernah lagi ketemu beliau, kecuali melalui berita dan juga buku-buku beliau. Yang ternyata sama, isi dan tulisannya merupakan pengalaman beliau yang jika kita cermati lebih jauh benar-benar out of the box. Bisnis yang keluar dari pakem dan kaidah-kaidah ekonomi, yang biasa di tulis oleh pengusaha, pengamat maupun akademisi, di bidang bisnis dan ekonomi. Sekali lagi, tulisannya sederhana, mengalir liar dan tanpa ada kesan bahwa “akulah orang hebat, tirulah aku!”. Continue reading “Belajar Out of the Box dari Bob Sadino”

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Tantangan Bisnis 2015


doingbusiness2015Tahun 2014 sebentar lagi akan berakhir, dan tahun 2015 mau tidak mau akan datang menjelang. Bagi  entrepreneur tentu, ini merupakan tantangan tersendiri. Meski, seorang entrepreneur itu, sejatinya, hari-harinya adalah tantangan. Sebab, banyak buku dan pembicara menyampaikan bahwa menjadi seorang entrepreneur itu adalah sebuah pilihan. Oleh karenanya tidak sedikit kemudian orang yang “terpilih” menjadi entrepreneur. Bahkan, seorang pakar dari Amerika bernama David Mc Cleland, yang pendapatnya sering di kutip, di berbagai tempat, waktu dan kesempatan, menyatakan bahwa,”Sebuah negara akan makmur, jika jumlah entrepreneurnya minimal 2% dari total populasi dari sebuah Negara. Sebuah angka, yang mungkin kelihatan kecil, namun dengan jumlah penduduk yang mendekati angka 250 juta jiwa, artinya negeri ini membutuhkan sekitar 5 juta entrepreneur, yang akan mendongkrak Negara ini menjadi negeri yang makmur.

Pertanyaannya kemudian adalah, berapa sih jumlah entrepreneur di Indonesia? Sebagaimana kebiasaan di Indonesia, tentu jawabannya berbeda-beda, masih simpang siur, tergantung siapa pembuat datanya. Misalnya, pada tahun 2009, dalam sebuah tulisan di Kompas dan bukunya, Ir. Ciputra menyampaikan bahwa jumlah Entrepreneur di Indonesia berjumlah 0,18% dari populasi penduduk. Namun Kementrian UMKM, menyampaikan data, bahwa di tahun 2013, jumlah entrepreneur kita berjumlah 1,6 % dari jumlah penduduk. Dan dari informasi berbeda jumlah UMKM di Indonesia menurut data BPS, pada tahun 2012 saja jumlah UMKM di Indonesia lebih dari 56 juta UMKM, artinya lebih dari 20% dari jumlah penduduk Indonesia. Sebuah jumlah yang fantastis. Bila dengan jumlah 20% lebih dari populasi UMKM, tetapi kenyataannya Indonesia masih belum makmur, maka bisa jadi karena adanya perbedaan difinisi antara entrepreneur dan UMKM. Continue reading “Tantangan Bisnis 2015”