Harga Sebuah Konsensus 



Ada kesepakatan yang tidak di tulis dalam keluarga. Dan itu menjadi semacam aturan yang mengikat, kemudian dipedomani. Olehnya, semua anggota keluarga, patuh, taat dan ikhlas menjalankannya. Tanpa ada paksaan, telah menjadi kesadaran kolektif.  Bahkan yang terjadi adalah, saling memotivasi, saling mengingatkan, saling menguatkan, dalam menjalankan kesepakatan itu. Sehingga semuanya menjadi enjoy dan nyaman.

Hari ini, Ahad, 9/7/2017 lalu, mas Haydar sedang memulai menjalankan kesepakatan itu. Sebagai orang tua, pada awalnya berat sebenarnya untuk merestui keinginan anak ke-4 itu. Bukan kemaluannya  dalam rangka menepati komitmen itu. Melainkan  terkait dengan konsekuensi atasnya yaitu menyangkut jauhnya jarak. Mengingat dia yang masih culun itu. Beda dengan 3 kakaknya terdahulu. Yang saat usia seusia dua, hanya nyantri  di radius Jabotabek. Sehingga masih mudah untuk di jangkau. Namun ini di Yogya. Sebuah pilihan yang harus dihormati, sekaligus mesti dipertimbangkan. Yang pasti ada cost yang harus dibayar tadi, yaitu berkenaan dengan jarak dan waktu. Apalagi saat dia membutuhkan sesuatu dan lain sebagainya. Itulah kalkulasi kami secara manusia. Namun, saat melihat niat, tekat dan semangat  anak yang ingin menjalani ya, saat itu pula meruntuhkan keraguan dan keberatan kami sebagai orang tuanya. Kami lepas, dan restui pilihannya, tentu dengan proses saling memahami atas konsekuensinya.

Disaat ada sebagian teman yang ingin anaknya nyantri dan ternyata berhadapan dengan kenyataan, bahwa anaknya tidak mau nyantri. Pun demikian, seringkali saya jumpai sebagian orang, yang nyinyir dengan pola pendidikan ala Pesantren. Dan dengan serampangan, namun dikemas seolah ilmiah, men-judge sepihak. Dari kenyataan tersebut, saya justru bernafas lega. Sebab, saya punya fakta bahwa, saya tidak pernah memaksa, justru merekalah yang meminta. Sehingga  dari 5 anak, hingga tahun ini, sudah 4 anak yang memilih Pesantren, sebagai wasilah untuk menuntut ilmu. Dan olehnya, Saya merasakan bahwa ini sebuah kebahagiaan bagi saya, dan nyatanya bahagia itu sederhana. Dari fakta tersebut, sekaligus menjawab, mengapa saya dan kemudian anak-anak memilih Pesantren? Sudah barang tentu saya punya sejuta alasan sebagai pembenarnya. Baik secara subyektif maupun objektif. Mungkin suatu saat saya diskusikan tentang ini.

Sayapun tidak menutup mata, bahwa ada kekurangan dalam pendidikan di Pesantren. Namun itu tidak bisa kemudian dipakai dalih untuk menggeneralisir, lalu mendiskreditkan pendidikan ala Pesantren ini. Bahwa ada kritik, yang tajam tentang model boarding (asrama), potensi penyimpangan orientasi sex, kehilangan figur orang tua, dlsb. Itu boleh-boleh saja, dan hak siapapun untuk menilai seperti itu. Tetapi sesungguhnya, semua sangkaan tersebut, sangat gampang dipatahkan. Sehingga saya tidak hendak memperpanjang kata untuk berpolemik dan berdebat soal ini. Silakan anda meyakini keyakinan pilihan pendidikan anak-anak Anda. Dan biarkan kami memilih pesantren untuk pendidikan anak-anak kami. Tanpa harus saling menjatuhkan dan merasa benar. Sebab ketika kami pilih pendidikan anak saya, juga melalui proses riset kecil-kecilan. Bukan asal, apalagi sekedar hanya ikut-ikutan trends saja, atau tanpa ilmu. Dari sini, saran saya untuk orangtua yang anaknya tidak mau nyantri, jangan dipaksa. Ajak diskusi, kasih pengertian. Jika ternyata tidak mau, beri informasi model pendidikan, dan konsekuensi, memilih model pendidikan itu. Banyak model pendidikan yang tersedia, dan setiap anak memiliki kecenderungan pola pendidikannya masing-masing, sesuai dengan minat, bakat, karakter dan fitrahnya. Tidak bisa digeneralisir, bahwa satu model pendidikan cocok untuk semua anak.

Jika boleh disampaikan, inilah sesungguhnya konsensus di keluarga kami itu. Begitu lulus SD, langsung memilih Pesantren sebagai tempat belajarnya. Namun, untuk pilihan pesantren mana yang harus dituju, kami diskusi dulu,didahului dengan melakukan riset bareng-bareng. Biasanya kami pilih 3-5 Pesantren, yang saya rasa dan lihat, sesuai dengan karakter anak. Kami searching dulu di internet. Banyak faktor yang di amati, mulai dari visi misi, lembaga penyelenggara, kurikulum, guru, fasilitas, dan lain sebagainya. Baru, kemudian kami list, dipilih 3 besar, untuk ikut seleksi. Kadang-kadang, survey dulu pesantrennya sebelum seleksi dan menetapkan pilihan. Dialog dengan guru dan mengamati aktifitas di pesantren. Begitu sudah lolos seleksi, dan mantap, kami melakukan semacam kontrak. Bahwa harus memiliki niat, komitmen dan iltizam untuk menempuh pendidikan sampai tamat.

Peran Orang Tua
Saya tahu bahwa ada kritikan atas pendidikan model pesantren sebagaimana di atas, yang seolah menghilangkan peran orang tua dalam mendidik anaknya. Bahkan, ada yang menghakimi, bahwa orangtua yang  menyerahkan pendidikan anak ke Pesantren adalah wujud berlepas diri,  alias tidak bertanggung jawabnya orang tua atas pendidikan anak. Sebuah penilaian ceroboh dan menyederhanakan permasalahan. Bisa jadi,  ini bagian untuk melemahkan pola pendidikan ini. Bahwa sangat mungkin, ada sebagian orang tua yang “pasrah bongkokan” alias menyerahkan begitu saja, adalah kenyataan. Namun tidak sedikit dan kini jadi mayoritas, bahwa orangtua yang sangat faham tentang urgensi  interaksi antara orangtua dan anak dalam proses pendidikan ini. Sebagai bagian dari integrasi pendidikan antara pesantren – orangtua-lingkungan.

Sehingga kualitas interaksi, menurut saya cukup memberikan warna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Bukan hanya kuantitasnya saja, yang memang tidak bisa dilakukan. Komunikasi saat jarak jauh dan terbatas, bersebab ada batasan penggunaan alat komunikasi, justru menjadikan orangtua berpikir keras, tentang apa yang harus dikomunikasikan dengan anak. Bukan hanya sibuk untuk menanyakan kondisi kekinian, termasuk merespons komplain anak terkait kehidupan di Pesantren, yang seringkali memang berbeda dengan keinginan anak. Namun, justru orangtua harus mampu mengajak sekaligus mengarahkan anak untuk terbiasa menyelesaikan permasalahannya sendiri. Disamping, tentu saja kalo saya, mengajak anak untuk berbicara Narasi Besar, berkenaan dengan masa depannya, negerinya dan dien-nya.  Anak-anak biasanya senang, lalu mereka berbicara berjaya mimpi serta imajinasi yang luar biasa. Sebab mereka bukan kita yang kecil, saat ini. Mereka, pada gilirannya akan berkompetisi di jamannya kelak.
Sehingga, peran orang tua adalah kunci. Orang tua, harus mampu menyelaraskan apa yang telah diprogramkan oleh Pesantren dengan kemampuan anak. Harus ada kerjasama. Tidak bisa orangtua berlepas diri. Karena mendidik anak, sampai dengan baligh, sesungguhnya melekat pada tugas orang tua. Ini yang perlu dipahami bersama. Karenanya, dalam konteks anak di pesantren, maka institusi pesantren dan seluruh stakeholders didalamnya, menjadi pendukung sekaligus menjadi “orangtua” anak (santri). Agar mereka tidak fatherless atau motherless. Dan kesadaran ini, mestinya menjadi pemahaman bersama. Agar anak tidak salah asuh.

Melaksanakan Konsensus

Dus
, dari apa yang saya kemukakan di atas, menegaskan bahwa, sejak dini kita bisa menerapkan kesepakatan dalam keluarga. Konsensus dibikin dengan kesadaran dan semestinya inline dengan visi keluarga. Secara explisit, baik verbal maupun tulisan, bisa jadi kita tidak pernah menyatakan apa visi keluarga. Namun, sebagai suami, sejak pernikahan, sudah menetapkan bahwa, menjadi keluarga qur’ani, adalah visi. Tentu ini visi besar, yang tidak ringan. Ayahlah yang pada awalnya membuat Big picturenya, lalu dikomunikasikan keseluruh anggota keluarga secara bertahap, sesuai dengan perkembangan usianya. Semua harus jelas, dan lebih baik jika terstruktur dan terukur. Sehingga, akan menjadi mudah jika di breakdown. Apalagi jika disusun, berdasarkan quadran penting dan mendesak. Dari situ akan, jelas apa dan prioritas apa yang harus dikerjakan oleh keluarga dan seterusnya.
Dari list prioritas itu, maka strategi implementasinya bisa di buat. Anak-anak mesti dibiasakan begini. Mereka perlu diberikan pelajaran dari pencapaian-pencapaian (quick win) setiap perlangkahannya. Tidak harus linier atau sequential. Bisa saja melompat-lompat, eksponensial, bahkan tidak berpola. Dan yakinlah mereka akan belajar dari itu. Bisa jadi saat ini, mereka melaksanakan konsensus, tanpa faham dengan pasti konsekuensinya. Tapi, kelak hal ini akan membekas dalam ingatan. Yang pada gilirannya memberikan arah dalam langkah hidupnya.
Buat anak-anakku yang sedang nyantri. Biarkanlah Abi menangis, saat melepas kalian. Setumpuk perasaan membuncah dalam dada. Antara haru, sedih, bangga dan entah rasa apa lagi, yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa tulisan dan kata-kata. Ini tahap awal kalian melangkah, dalam menjalani kehidupan ini. Kedepan, akan banyak rintangan yang kalian hadapi. Dan saya yakin, kalian mampu menaklukkannya. Sebab, Insya Allah pijakan kakimu telah benar dan kokoh. Untuk, menapak dan juga melompat untuk meraih cita-cita tertinggi. Sebagaimana yang sering kita diskusikan itu. Hidup mulia, atau Syahid di jalan-Nya. Amiin.

-Kaliurang, 9/7/2017

Advertisements

Nasihat Untuk Calon Pengantin


Nasihat untuk Calon Pengantin

Pernikahan Mubarak Hidayatullah 2015.

“SUDAH nadhor dan taaruf dengan calon istri?” tanyaku kepada 7 dari 12 calon pengantin pria yang nge-teh pagi di rumah, Selasa, 25 April 2017.

“Beluuuuum!!” jawab mereka kompak, laksana paduan suara, yang mengguncang ruang tamu di rumah.

“Itulah yang bikin kami penasaran, Ustadz,” celetuk salah satu mereka. Saya tersenyum. Mereka berkeringat, setelah diminta mengangkut-ngangkut barang di rumah, sebagai bagian dari pendidikan pra nikah.

“Tolong kami dinasihati sebelum nikah, Ustadz,” pintanya. “Insya Allah! Eh, tolong dimakan kuenya,” walah ternyata sudah habis.

Kemudian saya mulai cerita.

“Pernikahan itu akan menggenapkan separuhdien antum (agama kalian. Red). Sehebat apapun sebelum menikah, masih belum komplit keber-Islaman kita. Nikah itu sunatullah. Mumpung antum belum ketemu calon istri, perbanyak ibadah, qiyamul lail, antum akan dipertemukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala pasangan yang sekufu dengan antum.”

Baca: Kemenag Gagas Kursus Calon Pengantin

Saya pandangi satu per satu dari mereka, nampak serius memperhatikan.

“Namun bisa jadi pasangan yang antumdapatkan, tidak sesuai dengan yang antumbayangkan. Tidak sama dengan kriteria yangantum idam-idamkan, sebagaimana di buku-buku yang pernah antum baca, atau ceramah-ceramah yang pernah antum dengar. Sikapilah itu sebagai pemberian terbaik dari Allah untukantum. Tidak usah protes, jangan mengeluh.”

Mereka semakin memperhatikan.

“Pernikahan itu menyatukan dua makhluk Allah yang berbeda. Laki-laki sangat didominasi oleh logika. Sementara wanita, lebih mengemuka perasaannya. Belum lagi latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan, dan lain sebagainya. Jadi jarang atau mustahil, dalam pernikahan itu langsung cocok, persis. Selalu saja ada kurangnya.”

Para calon pengantin semakin menyimak.

“Tugas suami itu mengayomi istri. Buat istri nyaman dengan kehadiran antum. Suami itu imam di rumah. Makanya dia yang paling tahu kemana arah rumah tangganya dibawa. Suami bersama istri harus bisa merumuskan visi keluarganya dibawa kemana. Tentu, semua merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada aturan main yang rigid di sana. Antum harus belajar dari situ.”

Mereka semakin mengernyitkan dahi.

“Suami itu juga mempunyai kewajiban memberi nafkah lahir batin terhadap keluarga. Sehingga suami, sebagai tulang punggung keluarga, harus mencari rejeki yang halal buat keluarga. Istri, sebagai manajer yang mengelola keuangan keluarga. Bukan soal banyak atau sedikit, namun yang lebih utama adalah berkahnya. Sebab dengan keberkahan, kebutuhan keluarga akan tercukupi.

Baca: Menikah Melecut Semangat Mencari Nafkah

Secara batin, suami harus menciptakan rasa aman dan nyaman di keluarga, sekaligus menjadikan keluarga Qur’ani. Di sisi lain, suami juga wajib memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Semuanya harus imbang, dan saling pengertian serta memahami.”

“Olehnya,” lanjut saya, “jadikanlah istrimu laksana bidadari surga, Insya Allah antum akan diperlakukan sebagai raja. Jangan hardik dan kasari istrimu. Baik secara fisik maupun kata-kata. Sebab istri itu selalu ingat, apa yang dilakukan suaminya terhadap dirinya. Ingat, mereka lebih mengedepankan perasaan dibanding logika. Mungkin bagi lelaki itu hal sepele, namun bagi wanita tidak.”

Teh di teko tertuang habis di gelas.

“Panggillah istrimu dengan nama kesayangan, yang hanya kalian berdua yang paham. Misalnya ‘cinta’, ‘cantik’, ‘mawar’, ‘melati’, dan lain sebagainya.” Mereka mulai tersenyum, salah satu dari mereka nyeletuk, “Bunga Bangkai.”

Semua tertawa lebar.

“Dalam membangun rumah tangga, tidak selalu berjalan mulus. Selalu ada saja masalah. Kadang itu hanya sepele. Tetapi jangan digampangkan. Sekecil apapun masalah, harus diselesaikan dengan baik, jika tidak, bisa jadi akan membesar. Karena setan, akan ikut bermain di situ. Dan senantiasa mengembus-embuskan fitnah, untuk membuat kacau. Bicarakan berdua, dengan tenang. Cari waktu dan tempat, yang membuat nyaman. Jangan sampai masalahmu, orang lain yang lebih tahu duluan. Apalagi ngumbar curhat di medsos.

Sehingga sebagai imam, antum harus berusaha menyelesaikan semua masalah itu dengan adil dan penuh kasih sayang. Jika ternyata belum bisa selesai juga, mintalah nasihat kepadamurrabi, atau ustadz yang paham tentang syariah. Selain itu, bekalilah dirimu dengan membaca Fiqh Munakahat, biar faham tentang pernikahan itu.”

Baca: Empat Alasan Ikut Pernikahan Mubarakah Hidayatullah

“Insya Allah, sebentar lagi antum memasuki pintu gerbang pernikahan. (Jika nanti) antumtelah menggenapkan separoh dien. Jadilah suami sekaligus imam. Yang akan membawa keluarga tidak hanya bahagia di dunia. Namun yang akan terus berkumpul di janah-Nya kelak.”

Semua mengangguk-angguk tanda setuju. Lalu pamit, untuk mengikuti pembekalan yang sudah diatur oleh panitia pernikahan mubarakah di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat. Acara ini akan digelar pada akhir April 2017.

Semoga mereka mendapat jodoh terbaik yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.* Asih Subagyo, ayah dari 5 orang anak, pengurus DPP Hidayatullah

Tulisan ini dimuat di : http://m.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/04/25/115528/nasihat-untuk-calon-pengantin.html

 

Continue reading

Perjanjian Pemakaian Handphone


IMG-20120707-01022Dari account Facebook-nya mas Harry Sufehmi di http://www.facebook.com/sufehmi, saya menemukan posting yang menarik, berkenaan dengan Perjanjian Pemakaian Handphone. Mas Harry terinspirasi dari naskah serupa, dari ibu Janell Hoffman dengan anaknya Greg Hoffman . Konon mas Harri mengambil referensi itu dari alamat ini disini dan disini

Saya tertarik untuk memposting ulang, karnea merasakan, bahwa hampir menjadi sebuah keniscayaan, alias superberat jika dalam perkembangan teknologi sekarang ini, kehadiran handphone dan gatget telah memasuki rumah tangga kita. Sehingga anak-anak pun, mau tidak mau akan memakai Mobile Phone atau bahkan mungkin Gadget. Meskipun dalam keluarga saya ada anomali, yaitu anak sulung saya kelas 2 SMP  (13 tahun), yang saat ini sedang nyantri, tidak diperkenankan oleh Pesantrennya mempergunakan hand phone, tetapi Continue reading

TENTANG UMUR KITA


umurAdalah Chairil Anwar, seorang pujangga tahun 40-an, dalam pusinya yang berjudul “AKU”, dan juga kemudian di kutip dalam beberapa syair lagu di belakangan hari, kurang lebih isinya begini,”Aku ingin hidup seribu tahun lagi…….”. Sebuah pernyataan yang mungkin menekankan bahwa keinginan hidup di dunia dengan segala kenikmatan yang sesungguhnya berupa tipu daya itu, telah berhasil membius manusia untuk lebih lama lagi tinggal hidup di dunia. Bahkan jauh sebelum itu, tatkala Firaun memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan, maka dia juga selalu berusaha agar dia tidak mati. Padahal senyatanya, mereka yang mengucapkan itu, semuanya kini telah tiada. Karena umur adalah kenentuan Allah SWT dan kematian adalah sesuatu yang pasti, kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan pati. Kita tidak bisa menolak dan menundanya barang sedetikpun jika malaikat maut sudah menghampiri kita. Sebagaimana firman Allah SWT.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan.(Munafiqun, 63: 11) Continue reading

Mas Haydar Khitan


Jatiasih-20121224-00034Pada awalnya santai. Tata ruangnya disusun minimalis, apik dan rapi. Didindingnya tertempel foto tokoh dan juga selebritis yang pernah datang ke situ. Dindingnya di cat dengan warna kontras, menjadikan ruangan itu membawa kesan meriah. Diruangan itu, tersedia berbagai macam mainan anak-anak. Mulai dari lego, puzzle, mobil-mobilan, robot-robotan, sampai dengan gadget tersedia di ruang situ. Pengunjung dan pengantar bebas menggunakan peralatan itu. Suasananya sangat enak,  mesti sedikit hiruk pikuk. Petugas yang menjaga disitu sangat ramah. Membuat anak-anak menjadi betah. Mungkin karena musim liburan sekolah. Jadi banyak yang kemudian memanfaatkannya untuk datang kesitu. Rata-rata datang berombongan, minimal 1 keluarga.  Sehinggan mengakibatkan diluar, mobil dan motor penuh sesak menjejali parkiran. Eh jangan salah sangka ini bukan taman bermain anak-anak, akan tetapi itulah gambaran singkat dari ruang tunggu rumah sunatan (www.rumahsunatan.com).

Hari Senin Kemarin 24/12/2012, Anak ke-4 saya Haydar al-Ghifari, menjadi salah satu bagian dari orang yang hadir di situ. Saya daftarkan duluan jam 09.00, saat itu pasien sudah ramai, dan dapat antrian nomer-43. Sementara antrian sudah dimulai pukul 08.00 pagi. Saya diminta Continue reading

#6….. 1 Jam untuk Berubah


Kehadiran Social Media dan Gadget, memang merupakan dua sisi mata uang. Satu sisi, kita akan mendapat banyak “sampah”, berupa informasi yang seringkali tidak kita butuhan. Tetapi disisi lain, pada saat yang bersamaan, atau bisa jadi pada suatu waktu, tiba-tiba kita mendapatkan jawaban atas apa yang kita inginkan. Kata kuncinya, kita harus pandai-pandai memanage informasi yang datang bertubi-tubi bak tsunami itu. Sehingga, kita bisa mendapatkan “sesuatu” yang memang kita inginkan.

Tadi pagi saya mendapat broadcast dari BBM group saya, yang kemudian saya sebar ke group lain, sebuah cerita yang sederhana, tetapi sangat menyentuh. Nah di kesempatan ini, saya akan membagi kepada Anda, lewat blog ini. Selamanat menikmati :

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya,

“apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?” Ayahnya memandang kepada anak kecil itu & berkata,

“tidak bisa, nak.”

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya & berkata lagi,

“apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya. Continue reading

Menggagas Taman Bacaan Anak Sholeh


Berawal dari sebuah kegelisahan kami sebagai orang tua, ketika anak-anak melaksanakan libur sekolah, dimana hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan di depan Televisi, yang seringkali didefinisikan dengan sarkasme, sebagai kotak setan itu. Bukan berarti saya anti TV, akan tetapi lebih karena content-nya, yang seringkali tidak sesuai dengan pertumbuhan anak-anak. Tidak dipungkiri, bahwa ada juga acara-acara TV itu yang selaras dengan perkembangan jiwa anak, dan di desain untuk anak-anak, akan tetapi karena alasan komersiil, seringkali iklan yang seharusnya untuk orang dewasa, nyelonong di acara anak-anak. Tidak juga saya memproteksi anak-anak, untuk tidak menonton/memboikot TV, akan tetapi secara kasat mata, survey kecil-kecilan saya terhadap anak-anak, jika mereka  asyik masyuk di depan TV, maka seringkali perilakunya akan berubah. Tidak jarang pula menjadi males, kalo tidak bisa dibilang mematikan kreatifitas. Mereka lebih pandai meniru apa yang mereka lihat, dari pada membuat sesuatu dari hasil karyanya. Secara sadar atau tidak, anak-anak kita akan menjadi follower tidak bisa menjadi leader, menjadi user bukan producer, dan seterusnya. Untuk itu sempat selama 3 tahun kami tidak memiliki TV dirumah. Kemudian kami sediakan TV, tetapi hanya untuk memutar VCD/DVD anak-anak. Dan sebagai gantinya kami langganan koneksi internet. Sehingga anak-anak tidak ketinggalan informasi/wawasan, tentu saja saya filter site-site/content apa saja yang bisa dikunjungi. Ternyata jebol juga pertahanannya, sehingga channel-channel TV itu akhirnya dengan mudah di pentengin anak-anak.

Sebenarnya, saya dan istri sudah lama membiasakan anak-anak untuk membaca. Bahkan sejak anak pertama kami belum genap 1 tahun (sekitar 11 tahun yang lalu). Untuk memenuhi keinginan anak-anak tersebut, kami senantiasa membelikan tambahan koleksi buku setiap bulan. Bahkan anak-anak saya telah hampir habis melalap buku-buku itu, tidak jarang mereka membaca satu judul buku berulang beberapa kali. Tidak kurang dari 300 (tigaratus) judul buku anak-anak tersedia di perpustakaan pribadi di rumah. Memang belum banyak, akan tetapi ternyata tidak sedikit menyita ruangan di rumah kami yang mungil. Istri saya menata dengan rapih buku-buku itu. Meskipun belum di klasifikasikan sesuai dengan Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), akan tetapi sudah di kelompokkan agar anak-anak mudah mengambil dan menaruh kembali.

Obrolan kami tadi pagi di dapur, nampakya mencapai kesepakatan bahwa kami harus menyediakan “bacaan” yang bergizi, tidak sekedar kepada anak-anak biologis kami, tetapi terhadap anak-anak sekitar kami juga. “Bacaan” dengan makna yang seluas-luasnya, yaitu memberikan anak-anak sebuah media media belajar, yang disitu anak-anak bisa membaca, mempelajari, bahkan lebih jauh mengexlore gagasannya. Saya berkeinginan adanya Community Based Learning¸ sehingga lingkungan kehidupan di sekitar kami adalah tempat belajar yang sesungguhnya. Dengan demikian kami berharap anak-anak ini nantinya akan tumbuh sebagai pribadi yang unggul, tangguh, kreatif, inifatif, mandiri dan memiliki leadership, sehingga mampu memimpin dunia. Dan pekerjaan besar itu akan kami mulai dari garasi Rumah Kami. Insya Allah.