Dakwah, Islam, Parenting, Peradaban

Obat Penyakit Bodoh


orang bodoh (ilustrasi/republika)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bodoh adalah tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman). Namun dalam kehidupan yang sesungguhnya, yang dinamakan orang bodoh bukan berarti orang yang tidak berpendidikan. Akan tetapi, orang yang bergelar doktor pun bisa menjadi orang bodoh. Karena, pada dasarnya kebodohan tidak berkaitan jenjang pendidikan ataupun dengan ijazah. Kebodohan erat kaitannya attitude (perilaku) dan akhlak seseorang.

Berkenaan dengan orang bodoh ini, Allah ta’ala berfirman dalam Surat al A’raf ayat 199 :

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkenaan dengan ayat ini menjelaskan bahwa,”Sebagian ulama mengatakan bahwa manusia itu ada dua macam: Pertama, orang yang baik; terimalah kebajikan yang diberikannya kepadamu, janganlah kamu membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya, jangan pula sesuatu yang menyempitkan dirinya”. Continue reading “Obat Penyakit Bodoh”

Dakwah, Islam, Parenting, Peradaban, Tarbiyah

Jangan Mager, Bergeraklah


google

Ada sebuah mahfuzhat yang berbunyi تحرك فإن في الحركة بركة وكثرة الجلوس تقصر العمر “Bergeraklah, sesungguhnya di dalam pergerakan itu terdapat berkah. Sedangkan banyak duduk ( diam ) memperpendek umur”. Gerak merupakan pertanda hidup. Sebab mati artinya tidak bisa bergerak lagi. Alam juga mengajarkan kita untuk terus bergerak. Dengan gerak, maka akan mencapai keseimbangan baru.

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa gunungpun bergerak, sebagaimana dalam QS An-Naml : 88,” Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Demikian halnya dengan bumi dan matahari yang tak pernah malas untuk bergerak. Ia terus berputar pada porosnya sehingga tercipta keseimbangan dalam alam galaksi bima sakti. “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. QS Yasin : 38.

Sebagaimana pula dalam sebuah siklus hidrologi, uap air pun terus bergerak. “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya…” (QS. An-Nuur : 43). Continue reading “Jangan Mager, Bergeraklah”

Islam, Parenting, Tarbiyah

Satu Kesalahan Menghapus Seribu Kebaikan?


media cerita

Pagi ini, tiba-tiba ada lewat WAG saya. Awalnya saya biarkan lewat saja, saking banyaknya group dan WA yang masuk. Tetapi setelah melihat ada angka 1.000, sudah kadung terlanjur di scroll down, memaksa saya untuk scroll up. Seolah ada magnet yang menariknya. Sekelebat kemudian membacanya.

Dan ternyata benar, sebuah Quote berupa kata-kata hikmah yang sarat dengan makna. Saya tidak tahu sumber tulisannya dari mana. Tetapi terkesan mak-jleb, menghujam ke ulu hati. Menampar muka. Mencabik-cabik jiwa dan mengiris-iris perasaan.

Seoalah itu nasihat hanya buat diri ini sendiri. Bukan untuk orang lain. Namun sesaat kemudian berpikir. Bukankah ini memang sudah jadi habit sebagian dari kita.  Dan kemudian, kita pun seringkali merasakan hal yang sama, dan mengalami keseharian seperti ini. Jadi nasihat ini buat kita semua

Qutotenya seperti ini,“Manusia akan melupakan 1000 kebaikan yang pernah kita lakukan hanya karena satu kesalahan. Tapi Allah Ta’ala akan mengampuni 1000 kesalahan dengan satu kebaikan yang kita lakukan.”. Continue reading “Satu Kesalahan Menghapus Seribu Kebaikan?”

Dakwah, Islam, Parenting, Peradaban, Tarbiyah

Para Pemakan Bangkai


republika

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al-Hujarat ayat 12 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”.

Profesor Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan Buya HAMKA, dalam Tafsir Al-Azharnya, menafsirkan dengan sangat indah. Saya kutip lengkap disini.

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan daripada prasangka.”

Prasangka ialah tuduhan yang bukan-bukan persangkaan yang tidak beralasan, hanya semata-mata rahmat yang tidak pada tempatnya saja.

“Karena sesungguhnya sebagian daripada prasangka itu adalah dosa.”

Prasangka adalah dosa karena dia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa saja memutuskan silaturahim di antara dua orang yang berbaik. Bagaimanalah perasaan yang tidak mencuri lalu disangka orang bahwa dia mencuri, sehingga sikap kelakuan orang telah berlainan saja kepada dirinya.

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Mengorek-ngorek kalau-kalau ada si anu dan si fulan bersalah, untuk menjatuhkan maruah si fulan di muka umum. Sebagaimana kebiasaan yang terpakai dalam kalangan kaum komunis sendiri apabila mereka dapat merebut kekusaan pada satu negara. Segala orang yang terkemuka dalam negara itu dikumpulkan”sejarah hidupnya”, baiknya dan buruknya, kesalahannya yang telah lama berlalu dan yang baru, jasanya dalam negeri dan perlawatannya ke mana saja. Continue reading “Para Pemakan Bangkai”

Islam, Parenting, Peradaban

Tujuh Sikap Menghadapi Ujian


hidayatullah.com

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al-Baqarah : 214)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di didalam Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, menafsirkan Surat Al-Baqarah : 214 di atas dengan, “Demikianlah setiap orang yang menegakkan kebenaran itu pasti akan diuji, dan ketika persoalannya semakin sulit dan susah lalu dia bersabar dan tegar menghadapinya, niscaya ujian tersebut akan berubah menjadi anugerah untuknya, dan segala kesulitan itu menjadi ketenangan, lalu Allah mengusulkan semua itu dengan kemenangannya atas musuh-musuhnya serta mengobati penyakit yang ada dalam hatinya”.

Ada hal menarik dan menggelitik sekaligus menjadi tadzkirah bagi kita adalah dari tafsiran beliau di akhir ayat. Beliau menyatakan ketika ujian itu ada, maka seseorang menjadi mulia atau menjadi hina (karenanya). Konsekwensi logisnya adalah, setiap ujian yang ditimpakan kepada hamba, apapun bentuknya sesungguhnya ibarat dua sisi mata uang ; bisa membawa kemuliaan, dalam arti akan menjadi semakin beriman, atau dia akan dihinakan oleh Allah swt, jika kemudian salah dalam menyikapi berbagai bentuk ujian itu. Continue reading “Tujuh Sikap Menghadapi Ujian”