Posted in Parenting

Nasihat Untuk Calon Pengantin


Nasihat untuk Calon Pengantin

Pernikahan Mubarak Hidayatullah 2015.

“SUDAH nadhor dan taaruf dengan calon istri?” tanyaku kepada 7 dari 12 calon pengantin pria yang nge-teh pagi di rumah, Selasa, 25 April 2017.

“Beluuuuum!!” jawab mereka kompak, laksana paduan suara, yang mengguncang ruang tamu di rumah.

“Itulah yang bikin kami penasaran, Ustadz,” celetuk salah satu mereka. Saya tersenyum. Mereka berkeringat, setelah diminta mengangkut-ngangkut barang di rumah, sebagai bagian dari pendidikan pra nikah.

“Tolong kami dinasihati sebelum nikah, Ustadz,” pintanya. “Insya Allah! Eh, tolong dimakan kuenya,” walah ternyata sudah habis.

Kemudian saya mulai cerita.

“Pernikahan itu akan menggenapkan separuhdien antum (agama kalian. Red). Sehebat apapun sebelum menikah, masih belum komplit keber-Islaman kita. Nikah itu sunatullah. Mumpung antum belum ketemu calon istri, perbanyak ibadah, qiyamul lail, antum akan dipertemukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala pasangan yang sekufu dengan antum.”

Baca: Kemenag Gagas Kursus Calon Pengantin

Saya pandangi satu per satu dari mereka, nampak serius memperhatikan.

“Namun bisa jadi pasangan yang antumdapatkan, tidak sesuai dengan yang antumbayangkan. Tidak sama dengan kriteria yangantum idam-idamkan, sebagaimana di buku-buku yang pernah antum baca, atau ceramah-ceramah yang pernah antum dengar. Sikapilah itu sebagai pemberian terbaik dari Allah untukantum. Tidak usah protes, jangan mengeluh.”

Mereka semakin memperhatikan.

“Pernikahan itu menyatukan dua makhluk Allah yang berbeda. Laki-laki sangat didominasi oleh logika. Sementara wanita, lebih mengemuka perasaannya. Belum lagi latar belakang keluarga, pendidikan, lingkungan, dan lain sebagainya. Jadi jarang atau mustahil, dalam pernikahan itu langsung cocok, persis. Selalu saja ada kurangnya.”

Para calon pengantin semakin menyimak.

“Tugas suami itu mengayomi istri. Buat istri nyaman dengan kehadiran antum. Suami itu imam di rumah. Makanya dia yang paling tahu kemana arah rumah tangganya dibawa. Suami bersama istri harus bisa merumuskan visi keluarganya dibawa kemana. Tentu, semua merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Ada aturan main yang rigid di sana. Antum harus belajar dari situ.”

Mereka semakin mengernyitkan dahi.

“Suami itu juga mempunyai kewajiban memberi nafkah lahir batin terhadap keluarga. Sehingga suami, sebagai tulang punggung keluarga, harus mencari rejeki yang halal buat keluarga. Istri, sebagai manajer yang mengelola keuangan keluarga. Bukan soal banyak atau sedikit, namun yang lebih utama adalah berkahnya. Sebab dengan keberkahan, kebutuhan keluarga akan tercukupi.

Baca: Menikah Melecut Semangat Mencari Nafkah

Secara batin, suami harus menciptakan rasa aman dan nyaman di keluarga, sekaligus menjadikan keluarga Qur’ani. Di sisi lain, suami juga wajib memberikan nafkah biologis kepada istrinya. Semuanya harus imbang, dan saling pengertian serta memahami.”

“Olehnya,” lanjut saya, “jadikanlah istrimu laksana bidadari surga, Insya Allah antum akan diperlakukan sebagai raja. Jangan hardik dan kasari istrimu. Baik secara fisik maupun kata-kata. Sebab istri itu selalu ingat, apa yang dilakukan suaminya terhadap dirinya. Ingat, mereka lebih mengedepankan perasaan dibanding logika. Mungkin bagi lelaki itu hal sepele, namun bagi wanita tidak.”

Teh di teko tertuang habis di gelas.

“Panggillah istrimu dengan nama kesayangan, yang hanya kalian berdua yang paham. Misalnya ‘cinta’, ‘cantik’, ‘mawar’, ‘melati’, dan lain sebagainya.” Mereka mulai tersenyum, salah satu dari mereka nyeletuk, “Bunga Bangkai.”

Semua tertawa lebar.

“Dalam membangun rumah tangga, tidak selalu berjalan mulus. Selalu ada saja masalah. Kadang itu hanya sepele. Tetapi jangan digampangkan. Sekecil apapun masalah, harus diselesaikan dengan baik, jika tidak, bisa jadi akan membesar. Karena setan, akan ikut bermain di situ. Dan senantiasa mengembus-embuskan fitnah, untuk membuat kacau. Bicarakan berdua, dengan tenang. Cari waktu dan tempat, yang membuat nyaman. Jangan sampai masalahmu, orang lain yang lebih tahu duluan. Apalagi ngumbar curhat di medsos.

Sehingga sebagai imam, antum harus berusaha menyelesaikan semua masalah itu dengan adil dan penuh kasih sayang. Jika ternyata belum bisa selesai juga, mintalah nasihat kepadamurrabi, atau ustadz yang paham tentang syariah. Selain itu, bekalilah dirimu dengan membaca Fiqh Munakahat, biar faham tentang pernikahan itu.”

Baca: Empat Alasan Ikut Pernikahan Mubarakah Hidayatullah

“Insya Allah, sebentar lagi antum memasuki pintu gerbang pernikahan. (Jika nanti) antumtelah menggenapkan separoh dien. Jadilah suami sekaligus imam. Yang akan membawa keluarga tidak hanya bahagia di dunia. Namun yang akan terus berkumpul di janah-Nya kelak.”

Semua mengangguk-angguk tanda setuju. Lalu pamit, untuk mengikuti pembekalan yang sudah diatur oleh panitia pernikahan mubarakah di Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat. Acara ini akan digelar pada akhir April 2017.

Semoga mereka mendapat jodoh terbaik yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.* Asih Subagyo, ayah dari 5 orang anak, pengurus DPP Hidayatullah

Tulisan ini dimuat di : http://m.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2017/04/25/115528/nasihat-untuk-calon-pengantin.html

 

Continue reading “Nasihat Untuk Calon Pengantin”

Posted in Parenting

Perjanjian Pemakaian Handphone


IMG-20120707-01022Dari account Facebook-nya mas Harry Sufehmi di http://www.facebook.com/sufehmi, saya menemukan posting yang menarik, berkenaan dengan Perjanjian Pemakaian Handphone. Mas Harry terinspirasi dari naskah serupa, dari ibu Janell Hoffman dengan anaknya Greg Hoffman . Konon mas Harri mengambil referensi itu dari alamat ini disini dan disini

Saya tertarik untuk memposting ulang, karnea merasakan, bahwa hampir menjadi sebuah keniscayaan, alias superberat jika dalam perkembangan teknologi sekarang ini, kehadiran handphone dan gatget telah memasuki rumah tangga kita. Sehingga anak-anak pun, mau tidak mau akan memakai Mobile Phone atau bahkan mungkin Gadget. Meskipun dalam keluarga saya ada anomali, yaitu anak sulung saya kelas 2 SMP  (13 tahun), yang saat ini sedang nyantri, tidak diperkenankan oleh Pesantrennya mempergunakan hand phone, tetapi Continue reading “Perjanjian Pemakaian Handphone”

Posted in Islam, Parenting

TENTANG UMUR KITA


umurAdalah Chairil Anwar, seorang pujangga tahun 40-an, dalam pusinya yang berjudul “AKU”, dan juga kemudian di kutip dalam beberapa syair lagu di belakangan hari, kurang lebih isinya begini,”Aku ingin hidup seribu tahun lagi…….”. Sebuah pernyataan yang mungkin menekankan bahwa keinginan hidup di dunia dengan segala kenikmatan yang sesungguhnya berupa tipu daya itu, telah berhasil membius manusia untuk lebih lama lagi tinggal hidup di dunia. Bahkan jauh sebelum itu, tatkala Firaun memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan, maka dia juga selalu berusaha agar dia tidak mati. Padahal senyatanya, mereka yang mengucapkan itu, semuanya kini telah tiada. Karena umur adalah kenentuan Allah SWT dan kematian adalah sesuatu yang pasti, kita tidak pernah tahu kapan dan dimana kita akan pati. Kita tidak bisa menolak dan menundanya barang sedetikpun jika malaikat maut sudah menghampiri kita. Sebagaimana firman Allah SWT.

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan.(Munafiqun, 63: 11) Continue reading “TENTANG UMUR KITA”

Posted in Parenting

Mas Haydar Khitan


Jatiasih-20121224-00034Pada awalnya santai. Tata ruangnya disusun minimalis, apik dan rapi. Didindingnya tertempel foto tokoh dan juga selebritis yang pernah datang ke situ. Dindingnya di cat dengan warna kontras, menjadikan ruangan itu membawa kesan meriah. Diruangan itu, tersedia berbagai macam mainan anak-anak. Mulai dari lego, puzzle, mobil-mobilan, robot-robotan, sampai dengan gadget tersedia di ruang situ. Pengunjung dan pengantar bebas menggunakan peralatan itu. Suasananya sangat enak,  mesti sedikit hiruk pikuk. Petugas yang menjaga disitu sangat ramah. Membuat anak-anak menjadi betah. Mungkin karena musim liburan sekolah. Jadi banyak yang kemudian memanfaatkannya untuk datang kesitu. Rata-rata datang berombongan, minimal 1 keluarga.  Sehinggan mengakibatkan diluar, mobil dan motor penuh sesak menjejali parkiran. Eh jangan salah sangka ini bukan taman bermain anak-anak, akan tetapi itulah gambaran singkat dari ruang tunggu rumah sunatan (www.rumahsunatan.com).

Hari Senin Kemarin 24/12/2012, Anak ke-4 saya Haydar al-Ghifari, menjadi salah satu bagian dari orang yang hadir di situ. Saya daftarkan duluan jam 09.00, saat itu pasien sudah ramai, dan dapat antrian nomer-43. Sementara antrian sudah dimulai pukul 08.00 pagi. Saya diminta Continue reading “Mas Haydar Khitan”

Posted in Parenting

#6….. 1 Jam untuk Berubah


Kehadiran Social Media dan Gadget, memang merupakan dua sisi mata uang. Satu sisi, kita akan mendapat banyak “sampah”, berupa informasi yang seringkali tidak kita butuhan. Tetapi disisi lain, pada saat yang bersamaan, atau bisa jadi pada suatu waktu, tiba-tiba kita mendapatkan jawaban atas apa yang kita inginkan. Kata kuncinya, kita harus pandai-pandai memanage informasi yang datang bertubi-tubi bak tsunami itu. Sehingga, kita bisa mendapatkan “sesuatu” yang memang kita inginkan.

Tadi pagi saya mendapat broadcast dari BBM group saya, yang kemudian saya sebar ke group lain, sebuah cerita yang sederhana, tetapi sangat menyentuh. Nah di kesempatan ini, saya akan membagi kepada Anda, lewat blog ini. Selamanat menikmati :

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya,

“apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?” Ayahnya memandang kepada anak kecil itu & berkata,

“tidak bisa, nak.”

Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya & berkata lagi,

“apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putrinya. Continue reading “#6….. 1 Jam untuk Berubah”

Posted in Parenting

Menggagas Taman Bacaan Anak Sholeh


Berawal dari sebuah kegelisahan kami sebagai orang tua, ketika anak-anak melaksanakan libur sekolah, dimana hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan di depan Televisi, yang seringkali didefinisikan dengan sarkasme, sebagai kotak setan itu. Bukan berarti saya anti TV, akan tetapi lebih karena content-nya, yang seringkali tidak sesuai dengan pertumbuhan anak-anak. Tidak dipungkiri, bahwa ada juga acara-acara TV itu yang selaras dengan perkembangan jiwa anak, dan di desain untuk anak-anak, akan tetapi karena alasan komersiil, seringkali iklan yang seharusnya untuk orang dewasa, nyelonong di acara anak-anak. Tidak juga saya memproteksi anak-anak, untuk tidak menonton/memboikot TV, akan tetapi secara kasat mata, survey kecil-kecilan saya terhadap anak-anak, jika mereka  asyik masyuk di depan TV, maka seringkali perilakunya akan berubah. Tidak jarang pula menjadi males, kalo tidak bisa dibilang mematikan kreatifitas. Mereka lebih pandai meniru apa yang mereka lihat, dari pada membuat sesuatu dari hasil karyanya. Secara sadar atau tidak, anak-anak kita akan menjadi follower tidak bisa menjadi leader, menjadi user bukan producer, dan seterusnya. Untuk itu sempat selama 3 tahun kami tidak memiliki TV dirumah. Kemudian kami sediakan TV, tetapi hanya untuk memutar VCD/DVD anak-anak. Dan sebagai gantinya kami langganan koneksi internet. Sehingga anak-anak tidak ketinggalan informasi/wawasan, tentu saja saya filter site-site/content apa saja yang bisa dikunjungi. Ternyata jebol juga pertahanannya, sehingga channel-channel TV itu akhirnya dengan mudah di pentengin anak-anak.

Sebenarnya, saya dan istri sudah lama membiasakan anak-anak untuk membaca. Bahkan sejak anak pertama kami belum genap 1 tahun (sekitar 11 tahun yang lalu). Untuk memenuhi keinginan anak-anak tersebut, kami senantiasa membelikan tambahan koleksi buku setiap bulan. Bahkan anak-anak saya telah hampir habis melalap buku-buku itu, tidak jarang mereka membaca satu judul buku berulang beberapa kali. Tidak kurang dari 300 (tigaratus) judul buku anak-anak tersedia di perpustakaan pribadi di rumah. Memang belum banyak, akan tetapi ternyata tidak sedikit menyita ruangan di rumah kami yang mungil. Istri saya menata dengan rapih buku-buku itu. Meskipun belum di klasifikasikan sesuai dengan Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), akan tetapi sudah di kelompokkan agar anak-anak mudah mengambil dan menaruh kembali.

Obrolan kami tadi pagi di dapur, nampakya mencapai kesepakatan bahwa kami harus menyediakan “bacaan” yang bergizi, tidak sekedar kepada anak-anak biologis kami, tetapi terhadap anak-anak sekitar kami juga. “Bacaan” dengan makna yang seluas-luasnya, yaitu memberikan anak-anak sebuah media media belajar, yang disitu anak-anak bisa membaca, mempelajari, bahkan lebih jauh mengexlore gagasannya. Saya berkeinginan adanya Community Based Learning¸ sehingga lingkungan kehidupan di sekitar kami adalah tempat belajar yang sesungguhnya. Dengan demikian kami berharap anak-anak ini nantinya akan tumbuh sebagai pribadi yang unggul, tangguh, kreatif, inifatif, mandiri dan memiliki leadership, sehingga mampu memimpin dunia. Dan pekerjaan besar itu akan kami mulai dari garasi Rumah Kami. Insya Allah.

Posted in Parenting

Mengenang Kasih Ibu di Hari Ibu


“Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”.  Tiba-tiba saya teringat lagu ini di hari Ibu. Lagu yang senantiasa dinyanyikan almarhumah Ibu kepada kami, ketika kami masih kecil. Jika saya atau kakak-kakak sedang bandel/nakal, ibu senantiasa melantunkan lagu itu, dengan suaranya yang lembut, merdu dan penuh penghayatan. Bagaikan tersihir,  pada saat yang bersamaan kami semua akan menuruti ibu.

Susah bagi saya untuk melukiskan sosok Ibu kami tersebut, apalagi dalam ruang blog yang sempit ini. Ingin rasanya suatu saat nanti, saya membuat biografi Ibu. Diruang ini, saya hanya ingin memberikan gambaran beberapa episode, dari deretan panjang riwayat hidupnya. Beliau adalah, seorang ibu yang sungguh amat luar biasa, multidimensi. Ibu yang mampu menjadi tauladan, pembimbing, pendidik dan sekaligus menjadi pelindung,  tidak hanya kepada kami anak-anaknya, tetapi juga kepada para tetangga, murid, sanak saudara, dan juga kerabatnya. Ibu, yang tidak hanya cantik secara fisik, akan tetapi “inner beauty”-nya sungguh patut untuk di teladani. Beliau senantiasa mengajari kepada kami bagaimana harus menghormati orang dan juga menjalin dan menjaga tali silatturahim. Yang senantiasa mengajak kami untuk selalu optimis menatap masa depan. Mengajari kami untuk tidak silau dengan gemerlap dunia, serta menjaga ibadah kami.

Memang secara dien pemahaman beliau tidak mendalam. Bahkan ketika memberikan petuah dan nasihat kepada kamipun, tidak harus dengan menyitir ayat-ayat di Kitab Suci. Tetapi sungguh, setelah kami dewasa, dan kemudian mengerti sedikit tentang dienulhaq ini, nyaris tidak ada satupun, apa yang beliau sampaikan itu, bertentangan dengan Syar’i. Semuanya inline. Bahkan seolah-olah tinggal mencarikan pembenar di Kitab Suci dan Hadits Nabi, maka seluruh apa yang Ibu lakukan dan sampaikan itu, bisa menjadi serangkaian tulisan atau bahkan buku tentang Islamic Parenting Guide.

Beliau berprofesi sebagai Guru SD, dan terakhir jabatannya adalah Kepala Sekolah Dasar. Sebuah profesi, yang kemudian mentahbiskan beliau menjadi bagian dari “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,”.  Guru yang benar-benar bisa di gugu dan di tiru. The Real Teacher, itulah penilaian subyektif saya.  Beliau tidak hanya melakukan transfer of knowledge, tetapi juga melakukan transfer  of value. Yang mendidik dan sekaligus mengajari murid-muridnya sehingga menjadi  jiwa-jiwa yang berkarakter. Selain sebagai guru, aktifitas sosialnya di luar rumahpun, sungguh sangat padat. Selain sebagai anggota pengurus Dharmawanita, menjadi pengurus PKK, Pengurus Koperasi, Pengajian dan sederet aktifitas sosial lainnya.  Akan tetapi, deretan aktifitas itu, sama sekali tidak mengurangi kodrat, kapasitas dan peran beliau sebagai Ibu Rumah Tangga.

Beliau senantiasa bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Kemudian melakukan aktifitas ibadah, dan pada saat bersamaan, beliau juga mempersiapkan masakan untuk sarapan kami dipagi hari. Beliau menyapu halaman rumah kami yang cukup luas, dan sebelum jam 6.00 pagi, seluruh pekerjaan itu termasuk hidangan untuk keluarga sudah siap. Selain itu beliau juga sudah mempersiapkan pakaian kerja Bapak dan juga kami anak-anaknya. Saya sangat heran, bagaimana beliau mampu memanage, waktu sedemikian baik. Tidak pernah rasanya beliau belajar tentang Project Management, akan tetapi seluruh rangkaian aktifitasnya, seolah mengikuti standar PMBOK. Itu semua beliau lakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi.  Sebab dari hari Senin-Sabtu beliau harus mengajar, di Sekolah yang berada di lain kecamatan yang ditempuh dalam waktu 30 menit dengan mengendarai Sepeda Motor. Artinya beliau datang lebih pagi, dari jadwal sekolah yang dimulai pukul 07.00.

Mendekati usia 50 tahun Ibu mulai menderita berbagai macam penyakit. Yang dimulai dari Cancer Payudara dan komplikasi dengan Lever. Penyakitnya semakin parah ketika Cansernya di operasi. Setelah itu, selama hampir 7 tahun,  Ibu keluar masuk Rumah Sakit dan juga pengobatan Alternatif.  Akhirnya di usia ke-55 tahun,  di pagi hari bulan Juli tahun 1996, Ibu menghembuskan nafas-nya yang terakhir dengan senyuman  tersungging indah di bibirnya. Maafkan kami anakmu yang belum bisa membalas seluruh jasamu itu. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa’afihi, wa’fu’anha. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa dan kesalahan Ibu, menerima seluruh amalnya, dan mempertemukan kembali dengan kami di Surganya . Amiin…