IT, Leadership, Peradaban, teknologi

Tantangan Literasi


source google

Pada awalnya, literasi dinisbatkann kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam hal ini, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan dalam berbahasa.

Akan tetapi pada perkembangan berikutnya, maka literasi didefinisikan dengan seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Konsekwensinya adalah pemahaman seseorang berkenaan dengan literasi ini juga terus berkembang. Sebab, dia akan dipengaruhi oleh kompetensi bidang akademik, konteks tempat dan cakupan nasional maupun intenasinal, institusi, nilai-nilai budaya serta pengalaman dalam berbagai aspek kehidupan, dan lain sebagainya.

Sajalan dengan perkembangan teknologi informasi, juga memuncilkan lahirnya istilah literasi digital. Dimana, menurut wikipedia, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum sesuai dengan kegunaannya dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Continue reading “Tantangan Literasi”

iptek, Islam, IT, Peradaban

Al-Khwarizmi : Sejarah Menarik Tentang Algoritma


source : avesiar

Seorang bernama Alex Wang, menulis di akun LinkedIn dengan judul Sejarah Yang Menarik Tentang Algoritma. Tulisannya cukup fair dan  proporsional, cukup ringkas namun jelas, dengan menyertakan referensi yang memadai. Selanjutnya, tulisannya saya kutip secara lengkap sebagai berikut ini.

‘Algoritma’ adalah kata yang benar-benar berasal dari 900 tahun yang lalu. Kata ini berasal dari nama seorang jenius matematika Persia, yang datang dengan sistem bilangan Hindu-Arab bersama dengan titik desimal, konsep aljabar, dan membuat kontribusi inovatif untuk multi mata pelajaran: Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.

‘Algoritmi’ adalah versi Latin dari namanya ‘al-Khwarizmi’. Dan ini adalah asal-usul kata algoritma.    Dalam bahasa Latin abad pertengahan, algorismus hanya berarti sistem bilangan desimal.

Pada abad ke-13, itu telah menjadi kata bahasa Inggris, tetapi baru pada akhir abad ke-19 algoritma itu berarti seperangkat aturan langkah demi langkah untuk memecahkan masalah.

Pada awal abad ke-20, Alan Turing, bapak ilmu komputer modern, menemukan bagaimana secara teori, sebuah mesin dapat mengikuti instruksi algoritmik dan memecahkan matematika yang kompleks.   Sekarang itu menjadi kata yang secara bertahap mengubah hidup kita. Continue reading “Al-Khwarizmi : Sejarah Menarik Tentang Algoritma”

Dakwah, IT, Peradaban, Tarbiyah

Mengapa Masih Ngeblog ?


source : indotrading

“Ini tahun 2022 Bro. Masih ngeblog aja. Sudah kuno Tuh”. Begitu kira-kira percakapan yang terjadi. Teringat beberapa tahun lalu, saat eranya blog, memang blog menjadi trend, dan akibatnya banyak netizen berbondong-bodong bikin blog. Dengan berbagai platform yang ada saat itu. Ada juga yang sudah mati seperti multiply.com, dll. Olehnya selain blog ini, saya juga masih ada blog lain lagi. Yang ini nggak pernah diupdate. Karena lupa username dan passwordnya. Alamatnya ini https://masbagyoku.blogspot.com/ , terakhir posting 23 Januari 2013, setelah itu nggak terupdate lagi.

Blog inipun juga hampir bernasib sama. Seringkali vacum. Namun setiap ramadhan, selalu tergerak untuk meng-updatenya lagi. Termasuk pada ramadhan kali ini. Meski dengan nuansa berbeda, sebab serangkaian tulisannya agak serius. Sehingga hampir semua tulisan disini, pernah dimuat diberbagai media. Kemudian baru di reposting di blog ini.

Dunia blog memang sudah mulai ditinggal. Kalah popularitasnya dengan media sosial, yang memang lebih interaktif.  Hal seperti ini nampaknya memang cocok dan ketemu chemistry-nya dengan karakter manusia, terutama netizen indonesia, yang memang lebih senang komunikasi verbal dibanding tulis. Lebih nyaman. Bahkan dimanjakan dengan subscribe, comment, like and share. Nggak banyak mikir. Akibatnya banyak yang membaca judulnya saja lalu men-share.

Padahal sering kali judul dan isi nggak nyambung. Mengejar clickbait, dimana sebuah judul konten yang dibuat menarik dengan tujuan memancing orang melakukan klik terhadap konten tersebut. Semakin banyak jumlah klik, semakin berhasillah judul clickbait tersebut. Hal ini juga mengkonfirmasi  tentang rendahnya budaya literasi bangsa ini. Tak heran jika kemudian hasil survey microsoft tahun 2020, yang menyatakan bahwa netizen indonesia itu peling berisik seantero jagad raya

Konsekwensinya adalah, hanya sisa sedikit blogger yang masih setia ngeblog. Termasuk blogger senior, dimana mereka adalah bloggerpapan atas di jamannya. Memang jaman telah berubah. Pilihan platform media dan kecenderungan netizenpun juga berubah. Kebanyakan migrasi dan memilih facebook, twitter, instagram, linkedin, untuk menulis ide-idenya, sebagai microblogging, meski bisa juga untuk gambar dan video. Kemudian khusus yang video menggunakan youtube, snapshot, tiktok dlsb.

Mengapa pada berpidah, selain eranya memang berunah, juga lebih interaktif sebagaimana disebut di atas. Aspek lainnya adalah aspek ekonomi, dimana platform saat ini bisa di moneytizing yang menjanjikan. Artinya bisa mendatangkan cuan disitu. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya terinspirasi dan menjadikan Youtuber, atau influencer melalui IG, bahkan Buzzerp di Twitter, dijadikan sebagai profesi. Juga menurunkan banyak profesi turunannya seperti content creator, story telling, video maker, digital marketing, search engine optimization, apps developer dlsb.

Mengapa?

Kembali ke pertanyaan yang jadi judul blog ini. Saya perlu menjelaskan mengapa masih nge-blog. Padahal kalo lihat penjelasan di atas, nampaknya jadul banget. Nah ada beberapa alasan pribadi yang mendasari, jadi wajar kalo nenti kesannya subyektif.

  1. Manyalurkan Hobi

Hobi menulis ini sebenarnya dibantun sejak kecil. Hobi ini, sesungguhnya sangat dipengaruhi kebiasaan alm. Ayahanda yang hampir setiap malam ngetik dengan mesin ketik brother. Saya biasa menemani Ayah yang multitalenta : pendidik, politikus, wiraswasta, aktifis sosial dlsb, sambil tidur di kursi sebelahnya. Sehingga, di saat mesin ketik sedang nganggur saya coba-coba ngetik. Demikian juga dianjutkan dengan menulis tangan.

 

Hal ini sebenarnya juga terkait dengan hobi baca. Buku apa saja  yang ada, sejak kecil memang selalu dibaca. Ditambah lagi seneng koleksi buku sejak bujang. Hingga berumah tanggapun, selalu setiap bulan selalu menyisihkan uang untuk minimal beli satu buku. Akibatnya isi buku-buku itu yang meyesaki kepala. Dan menulis menjadi salah satu cara mengurangi sesaknya otak. Dan ternyata mengasyikkan.  Disisi lain setelah paham tentang makna ayat pertama yang turun yaitu iqra’ (bacalah) sebagai bagian dari literasi, maka pasti diikuti juga dengan uktub (tulislah). Jadi menulis menjadi sesuatu aktifitas yang menyenangkan.

 

  1. Menuangkan dan Menguji Gagasan

You’re what you write. Kamu adalah apa yang kamu tulis. Sehingga dalam setiap tulisan itu seringkali mewakili isi kepala si penulis. Meskipun ada juga yang tidak begitu. Tetapi bagi saya, setiap ada ide dan gagasan, selalu dituangkan. Memang tidak semua dalam bentuk tulisan di blog, bisa juga seperti artikel, esay atau jurnal. Seringkali juga dalam bentuk pointer, presentasi, mindmap, dan lain sebagainya.

 

Gagasan-gagasan ini, jika sudah dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan itu, kemudian biasanya dibagi (di share) ke berbagai kalangan. Bisa di muat di blog, di jurnal, di media online, di media cetak, di group whatsapps, dan lain sebagainya. Juga tidak jarang dipresentsikan dalam pelatihan/training, ngajar di kelas, seminar, dlsb. Juga bisa dikembangkan dalam platform digital lainnya.

 

Narasi yang dituangkan itu tidak sepenuhnya diterima oleh semua orang. Ada kalanya juga diberi masukan, dikoreksi, dikritisi, di hujat dan lain sebagainya. Nah feedback seperti ini menjadi cukup bagus, karena akan menjadikan koreksi dan introspeksi diri kita, untuk tidak jumawa dan sebagai perbaikan di masa depan.

 

  1. Membangun Relasi

Melalui blog bisa memperkenalkan diri kita kepada pihak lain. Hal ini terkait dengan poin ke-2 juga. Dari gagasan yang ditulis di blog itu, pernah mendapatkan respons untuk mengisi seminar dan pelatihan di sebuah organisasi. Dari tulisan di blog juga, sempat ada yang mengajak untuk membangun bisnis bersama.

 

Oleh karenanya, relasi dari ngeblog itu terjadi secara alamiah. Dimana pembaca blog kita bisa jadi memang mendapatkan dari platform media sosial lainya. Di share temannya. Atau ada yang niat melalui search engine. Saya juga mengamati ada beberapa tulisan yang sering dikunjungi, dan nampaknya adalah mahasiswa yang mencari rujukan untuk di tulis.

 

  1. Sarana Pendidikan Dakwah

Bagi saya menulis adalah sarana dakwah itu sendiri. Dimana dakwah itu maknyanya adalah memanggil, mengundang, mengajak, menghimbau, menyeru menghidangkan dlsb, kepada kebaikan dalam hal ini dienul Islam. Memang tidak semua tulisan harus disertai dengan ayat dan hadits, akan tetapi muatannya adalah kesana.

 

Dimana secara langsung ataupun tidak langsung ada proses mendidik diri dan untuk mempengaruhi pembaca. Sebab ada seorang ulama yang berpesan satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, tapi satu tulisan dapat menembus ratusan hingga ribuan kepala (Sayyid Quthb). Bahkan di era media sosial ini bisa menembus jutaan kepala. Oleh karena terkit dengan unsur pendidikan dan aspek dakwahnya ini, maka tidak boleh ngasal. Meskipun tidak sedikit tulisan saya juga berisi kritikan dan gagasan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk kepada pemerintahan misalnya. Tetapi lagi-lagi semangatnya untuk kebaikan itu sendiri. Tidak lebih dari itu.

 

Subyektifitas tulisan ini  seratus persen milik saya. Blogger lain bisa memiliki pandangan berbeda. Sebab ada juga bloggeryang memiliki orientasi untuk  ekspresi kebebasan, mendapatkan uang, menjadi saluran politik dan lain sebagainya. Itu hak masing-masing blogger. Saya sendiri masih berusaha untuk mengintegrsikan menggunakan platform lain, dan kedepnnya jika memungkinkan juga bisa dimoneytizing.

 

Tetapi sekali lagi 4 (empat) point di atas, setidaknya menjadi landasan mengapa saya masih ngeblog. Saya masih ingat pesan seorang ustadz bahwa umur dakwah ini lebih panjang dari umur kita. Sehingga kita mesti meninggalkan sesuatu untuk melangengkan dakwah itu sendiri, dan menulis adalah salah satunya. Sehingga ngeblog bagi saya adalah menulis itu sendiri. Dimana ”menulis itu merangkai kata, sedangkan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, maka menulis adalah mempersiapkan perjuangan.” Wallahu a’lam

 

 

Islam, IT, Peradaban, Tarbiyah

Tantangan dan Peluang Dakwah di Media Sosial


source : allstars

Berdasarkan laporan dari We Are Social, jumlah penduduk Indonesia adalah 277,7 juta pada Januari 2022. Hal ini menunjukkan bahwa populasi Indonesia meningkat sebesar 2,8 juta (+1,0 persen) antara tahun 2021 dan 2022. Dimana sekitar 49,7 persen penduduk Indonesia adalah perempuan, sedangkan 50,3 persen penduduk adalah laki-laki. Pada awal tahun 2022, 57,9 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan, sementara itu 42,1 persen tinggal di pedesaan.

Ada 204,7 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2022. Sementar, tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 73,7 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. Analisis Kepios menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia meningkat sebesar 2,1 juta (+1,0 persen) antara tahun 2021 dan 2022. Sebagai gambaran, angka pengguna ini mengungkapkan bahwa 73,05 juta orang di Indonesia tidak menggunakan internet pada awal tahun 2022, artinya 26,3 persen penduduk tetap offline di awal tahun. Namun, masalah yang berkaitan dengan COVID-19 terus memengaruhi penelitian tentang adopsi internet, sehingga angka pengguna internet yang sebenarnya mungkin lebih tinggi daripada angka yang dipublikasikan ini.

Data GSMA Intelligence menunjukkan ada 370,1 juta koneksi seluler di Indonesia pada awal 2022. Namun, perhatikan bahwa banyak orang di seluruh dunia menggunakan lebih dari satu koneksi seluler – misalnya, mereka mungkin memiliki satu koneksi untuk penggunaan pribadi, dan satu lagi untuk bekerja – jadi bukan hal yang aneh jika angka koneksi seluler secara signifikan melebihi angka total. populasi. Angka GSMA Intelligence menunjukkan bahwa koneksi seluler di Indonesia setara dengan 133,3 persen dari total populasi pada Januari 2022. Jumlah koneksi seluler di Indonesia meningkat 13 juta (+3,6 persen) antara

Pengguna Media Sosial

Hingga Januari 2022, ada 191,4 juta pengguna media sosial di Indonesia. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia pada awal tahun 2022 setara dengan 68,9 persen dari total populasi. Analisis Kepios mengungkapkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia meningkat 21 juta (+12,6 persen) antara tahun 2021 dan 2022.

Berdasarkan publikasi dari meta, pada awal tahun 2022 Facebook memiliki 129,9 juta pengguna di Indonesia. Sedangkan jangkauan iklan Facebook di Indonesia setara dengan 46,8 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. Namun, Facebook membatasi penggunaan platformnya untuk orang-orang berusia 13 tahun ke atas, jadi perlu juga digarisbawahi bahwa 60,0 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Facebook pada tahun 2022. Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Facebook di Indonesia setara dengan 63,4 persen dari basis pengguna internet lokal (pada semua jenis usia) pada Januari 2022. Pada awal tahun 2022,  sekitar 44,0 persen audiens iklan Facebook di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 56,0 persen adalah laki-laki.

Berdasrkan data dari Google menunjukkan bahwa YouTube memiliki 139,0 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini berarti bahwa jangkauan iklan YouTube tahun 2022 setara dengan 50,0 persen dari total penduduk Indonesia di awal tahun. Sebagai gambaran, iklan YouTube mencapai 67,9 persen dari total basis pengguna internet Indonesia (tanpa memandang usia) pada Januari 2022. Saat itu, 46,9 persen penonton iklan YouTube di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 53,1 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di alat periklanan Meta menunjukkan bahwa Instagram memiliki 99,15 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini menunjukkan bahwa jangkauan iklan Instagram di Indonesia setara dengan 35,7 persen dari total populasi di awal tahun. Namun, Instagram membatasi penggunaan platformnya untuk orang berusia 13 tahun ke atas, jadi ada baiknya mengetahui bahwa 45,8 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Instagram pada tahun 2022. Perlu diketahui juga bahwa jangkauan iklan Instagram di Indonesia pada awal tahun 2022 setara dengan 48,4 persen basis pengguna internet lokal (tanpa memandang usia). Pada awal tahun 2022, 52,3 persen audiens iklan Instagram di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 47,7 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di sumber periklanan ByteDance menunjukkan bahwa TikTok memiliki 92,07 juta pengguna berusia 18 tahun ke atas di Indonesia pada awal 2022. Perhatikan bahwa ByteDance memungkinkan pemasar untuk menargetkan iklan TikTok kepada pengguna berusia 13 tahun ke atas melalui alat periklanannya, tetapi alat ini hanya menampilkan data pemirsa untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas. Untuk konteksnya, angka ByteDance menunjukkan bahwa iklan TikTok mencapai 47,6 persen dari semua orang dewasa berusia 18 tahun ke atas di Indonesia pada awal tahun 2022. Sementara itu, jangkauan iklan TikTok di Indonesia setara dengan 45,0 persen basis pengguna internet lokal di awal tahun, tanpa memandang usia. Pada awal tahun 2022, 66,0 persen audiens iklan TikTok di Indonesia adalah perempuan, sementara 34,0 persen adalah laki-laki.

Menurut publikasi Meta menunjukkan bahwa iklan di Facebook Messenger mencapai 28,40 juta pengguna di Indonesia pada awal tahun 2022. Sehingga pengguna Facebook Messenger di Indonesia setara dengan 10,2 persen dari total populasi di awal tahun. Facebook Messenger membatasi penggunaan platformnya untuk orang-orang berusia 13 tahun ke atas, jadi perlu juga disoroti bahwa iklan mencapai 13,1 persen dari audiens Facebook Messenger yang “memenuhi syarat” di Indonesia pada tahun 2022. Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Facebook Messenger di Indonesia setara dengan 13,9 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia). Pada awal tahun 2022, 45,0 persen audiens iklan Facebook Messenger di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 55,0 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di sumber periklanan LinkedIn menunjukkan bahwa LinkedIn memiliki 20,00 juta “anggota” di Indonesia pada awal 2022.  Angka jangkauan iklan perusahaan menunjukkan bahwa audiens LinkedIn di Indonesia setara dengan 7,2 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. LinkedIn membatasi penggunaan platformnya untuk orang berusia 18 tahun ke atas, jadi ada baiknya juga mengetahui bahwa 10,3 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan LinkedIn pada tahun 2022. Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan LinkedIn di Indonesia setara dengan 9,8 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia) di awal tahun. Pada awal tahun 2022, 44,6 persen audiens iklan LinkedIn di Indonesia adalah perempuan, sedangkan 55,4 persen adalah laki-laki.

Data yang dipublikasikan di sumber periklanan Snap menunjukkan bahwa Snapchat memiliki 3,30 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini berarti jangkauan iklan Snapchat di Indonesia setara dengan 1,2 persen dari total populasi di awal tahun. Namun, Snapchat membatasi penggunaan platformnya untuk orang berusia 13 tahun ke atas, jadi perlu juga dicatat bahwa 1,5 persen dari audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Snapchat pada tahun 2022. Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Snapchat di Indonesia setara dengan 1,6 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia) di awal tahun.Pada awal tahun 2022, 77,6 persen audiens iklan Snapchat di Indonesia adalah perempuan, sementara 19,7 persen adalah laki-laki.

Angka yang dipublikasikan di sumber periklanan Twitter menunjukkan bahwa Twitter memiliki 18,45 juta pengguna di Indonesia pada awal 2022. Angka ini berarti jangkauan iklan Twitter di Indonesia setara dengan 6,6 persen dari total populasi saat itu. Namun, Twitter membatasi penggunaan platformnya untuk orang-orang berusia 13 tahun ke atas, jadi mungkin bermanfaat untuk mengetahui bahwa 8,5 persen audiens yang “memenuhi syarat” di Indonesia menggunakan Twitter pada tahun 2022. Untuk konteks tambahan, jangkauan iklan Twitter di Indonesia setara dengan 9,0 persen basis pengguna internet lokal (berapa pun usia) di awal tahun.

Berdasarkan data Statista, Indonesia merupakan negara dengan pengguna whatsApp terbanyak ketiga di dunia. Jumlah pengguna whatsApp di Tanah Air mencapai 84,8 juta pengguna pada Juni 2021. Dan menjadi aplikasi yang paling banyak dinunakan setiap hari dengan 88% dari total pengguna medi sosial pasti menggunakan WhatsApp.

Peluang dan Tantangan

Data di atas sesungguhnya menjadikan peluang dan tantangan bagi semua aktifitas baik yang sifatnya organisasi bisnis maupun organisasi sosial, tak terkecuali lembaga dakwah. Jika mampu memanfaatkan potensi sebagaimana tersebut di atas, maka dakwah akan semakin diterima disemua  kalangan, melalui platform media tersebut.

Selanjutnya apa dan bagaimana yang harus dilakukan oleh lembaga dakwah untuk memasuki dunia digital terutama menerobos dan mewarnai dakwah di media sosial ini. Berikut ini ada sepeuluh tawaran dari pemahaman higga langkah teknis yang bisa dilakukan :

Pertama dakwah itu kewajiban setiap muslim, sehingga tidak ada alasan bagi siapapun yang mengaku muslim untuk tidak terlibat dalam proyek dakwah ini. Sehingga disemua platform media sosial, selalu sebarkan kebaikan (dakwah) sesuai dengan kemampuan, kapasitas dan keahlian masing-masing.

Kedua niat karena Allah ta’ala, karena dunia media sosial ini bisa melenakan dan bisa jadi malah mensihir kita. Sehingga  jangan sampai belok niat kita seharusnya niat untuk dakwah ilaLlah menjadi melenceng ke tujuan lainnya

Ketiga tingkatkan pemahaman diniyah kita dan perdalam kedekatan dengan Allah. Jangan sampai karena kita asyik di media sosial untuk niat berdakwah, kita malah lupa membangun kedekatan dengan Allah. Sesibuk apapun di medsos, sholat jamaah harus tepat waktu di masjid, dan perbanyak pula ibadah sunnah lainnya.

Keempat memilih akun media sosial, kita berusaha memiliki berbagai akun media sosial, bukan untuk eksistensi diri semata, akan tetapi dalam kerangka dakwah tersebut. Karena memiliki akun media sosil saat ini menjadi sebuah keniscyaan. Akan tetapi, tidak semua platform kita bisa isi secara optimal. Maka sebaiknya dipilih beberapa platform yag memangg sesuai dengan passion kita sekaligus sesuai dengan karakteristik pengguna platform tersebut, sehingga akan ada titik temu yang optimal.

Kelima pelajari karakteristik platform media sosial, dimana setiap platform medi sosial sesungguhnya memiliki karakteristik baik dari aspek pengguna, maupun algoritma yang ada didalamnya. Maka mempelajari dan memahaminya menjadi salah satu kunci dakwah di media sosial.

Keenam pahami obyek dakwah (mad’u), sebagaimana keberadaan beberapa platform media sosial tersebut di atas, ternyata juga berpengaruh terhadap audiens (obyek dakwah). Sehingga dengan memahami obyek dakwah kita (yang menjadi pengguna media sosial), maka pesan-pesan dakwah itu sesuai dengan preferensi dari obyeknya masing-masing.  Maka pemetaan (mapping) dakwah ini menjadi penting. Dilain pihak, jika kita dapat mengerti apa yang menjadi kebutuhan ummat, kita dapat menyampaikan dakwah yang sesuai dengan apa yang menjadi keresahan mereka.

Ketujuh muatan (konten) dakwah yang uptodate, karena beragamnya obyek dakwah sebagaimana tersebut di atas, maka siapapun akan memikiki spesifikasi berdasarkan konten dakwah yang dibawa. Maka sejatinya seorang juru dakwah masa kini juga mennjadi konten kreator, sehingga konten yang disampaikan tidak membosankan dan tepat sasaran.

Kedelapan sinergi dan kolaborsi, salah satu keberhasilan dari dakwah jika antar juru dakwah saling kolaborasi dan sinergi. Dimana setiap juru dakwah tentu memiliki spesifikasi di beberapa bidang, tetapi kurang di beberapa bidang yang lain, jika saling mengisi, maka kolaborasi dan sinergi dakwah ini akan mendapatkabn hasil yang dahsyat.

Kesembilan memilih tools yang tepat, karena dakwah media sosial ini sarat dengan penggunaan teknologi, maka memilih tool, berupa aplikasi yang tepat untuk menyebarkan dakwah secara masif juga menjadi penting. Disini juru dakwah tidak harus ahli, akan tetapi bisa meminta bantuan kepada yang ahli dibidangnya, untuk menginstallakan dan mengajari cara penggunaanya. Sehingga du’at tinggal menggunakan sesuai dengan keperluannya.

Kesepuluh istiqomah, ini menjadi salah satu kunci. Dakwah di media sosial tidak bisa hanya hit and run. Akan tetapi konsistensi ini sangat menentukan. Terutama terkait dengan waktu (keajegan) dalam menyebarkan konten dakwah.  Sehingga pengguna platform juga akan ter-update terus, akan tetapi juga jangan terlalu berlebihan dengan konten yang sama, hal ini menyebabkan kejenuhan.

Tentu realaitasnya tidak hanya yang tertulis sebagaimana tersebut di atas. Masih banyak lagi cara yang bisa dilakukan. Jadi tidak ada lagi alasan bagi kita, apalagi dakwah melalui media sosial ini bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Akan tetapi setidaknya ini menjadi gambara untuk memenangka dakwah di media sosial. Sebab jika lembaga dakwah gagal merespon secara memadai, berkenaan dengan perkembangan teknologi tersebut, maka tidak menutup kemungkinan menjadi ancaman serius bahkan menjadi lonceng kematian bagi dakwah itu sendiri.

Setidaknya agar optimis dalam berdakwah di media sosial, kita bisa merujuk QS Ali Imran : 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Wallahu a’lam

Asih Subagyo│Sekretaris Jenderal Muslim Information Technology Association (MIFTA)

Tulisan ini telah tayang di –> https://hidayatullah.com/kajian/read/2022/04/25/229393/tantangan-dakwah-di-media-sosial.html dengan sedikit tambahan

ekonomi, Islam, IT, Peradaban

Digitalisasi Zakat


BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), memperkirakan potensi zakat di Tanah Air pada 2021 mencapai Rp327,6 triliun. Namun, sejauh ini realisasinya baru Rp71,4 triliun. Adapun, lebih dari 85 persen dari zakat yang terkumpul dilakukan melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) tidak resmi.

Angka tersebut terdiri dari zakat perusahaan (Rp144,5 triliun), zakat penghasilan dan jasa (Rp139,07 triliun), zakat uang (Rp58,76 triliun), zakat pertanian (Rp19,79 triliun), dan zakat peternakan (Rp9,52 triliun).

Sementara Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) berjumlah 545 lembaga. Merupakan Amil terbanyak dalam sebuah negara di dunia. Tidak ada negara manapun di kolong lngit ini yang memiliki OPZ sebanyak Indonesia. Data tersebut, terdiri dari Badan Amil Zakat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Serta Lembaga Amil Zakat (LAZ), baik tingkat Nasional, Propinsi, maupun Kabupaten/Kota. Sehingga potensi yang sedemikian besar itu, sebenarnya menjadi tanggungjawab dari 545 OPZ tersebut di atas.

Sementara untuk Ramadhan 2021 tahun ini, BAZNAS dengan seluruh jaringannya menargetkan penerimaan sebesar 6 Trilyun. Sedangkan LAZ memiliki target masing-masing. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini, maka penerimaan/penghimpunan Zakat di bulan Ramadhan, biasanya meningkat hingga minimal 3 (tiga) kali lipat atau lebih dari penerimaan bulan-bulan biasanya.

Karena kesadaran umat untuk berzakat di bulan ramadhan memang selalu meningkat. Sementara itu, penerimaan tahunan dari LAZ rerata naik di kisaran 25-30 % per Tahun, termasuk pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi sudah mulai. Berdasarkan laporan tahunan dari Baitul Maal Hidayatullah, salah satu LAZ Nasional rata-rata pertumbuhannya sekitar 30% per tahun.

Menurut data PUSKAS BAZNAS (2020), skor pemahaman dasar zakat maupun skor indeks literasi zakat masih pada tahap moderat, yakni masing-masing 72,21 dan 66,78. Sementara untuk skor pemahaman lanjutan zakat tercatat rendah, yakni 56,68. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi untuk meningkatkan literasi zakat. Catatan lainnya, tingkat literasi zakat di kalangan anak muda masih terhitung rendah

Dari survey tersebut ditemukan data bahwa sumber informasi zakat tertinggi berasal dari ceramah ustadz (46%). Selanjutnya, informasi zakat didapat masyarakat dari kantor atau kampus (17%), media sosial (16%), keluarga (13%), media elektronik (5%), dan media cetak (3%).

Fakta lainnya, 60% masyarakat masih menunaikan zakat di luar lebaga zakat resmi, yakni 37% menyalurkan zakatnya langsung ke mesjid dan 23% langsung ke muztahik (penerima zakat). Hanya 40% yang menyalurkannya ke lembaga zakat resmi, yakni melalui Baznas (25%) dan Lembaga Amil Zakat (15%).

Jika merujuk kenyataan bahwa dari data demografi kependudukan yang ada saat ini, dan juga dari survey di atas, ternyata tingkat literasi di kalangan anak muda terhitung rendah. Padahal, jumlah generasi milenial dan sesudahnya, berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 saat ini lebih dari 65% dari total penduduk Indonesia. Sehingga, sesungguhnya market terbesar dari zakat ini adalah generasi milenial, generasi Z dan sesudahnya itu. Sehingga perlu digarap lebih serius lagi.

Dalam berbagai kesempatan, telah disampaikan bahwa, ada beberapa karakteristik dari generasi milenial ini. Yaitu selain suka berbagi, juga digital native. Suka berbagi ini, bisa kita lihat berbagai portal/ apps crowdfunding yang berhasil menghimpun dana receh dari kalangan anak muda ini. Jika selama ini motivasinya adalah lebih banyak terkait dengan kegiatan dan solidaritas sosial, maka melalui edukasi yang memadai, bisa diarahkan untuk lebih bernuansa ibadah (keagamaan), bisa dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, atau wakaf. Sehingga selain faktor dorongan sosial tersebut di atas, juga ada motivasi untuk beribadah.

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menyiapkan portal/apps yang bisa menarik kalangan muda itu untuk menggunakannya. Sebab sebagai digital native, mereka sebenarnya sangat cepat untuk beradaptasi menggunakan perangkat dan aplikasi digital dalam bentuk apapun juga. Asalkan bisa menarik dan mewakili keberadaan, kepentingan dan eksistensi mereka, maka mereka akan dengan sukarela berbondong-bondong untuk menggunakan aplikasi tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak menarik bagi mereka, sangat mudah untuk meninggalkannya.

Dengan demikian maka digitalisasi zakat ini menjadi sebuah keniscayaan. Satu sisi untuk mempermudah dalam proses penghimpunan. Disisi lain adalah untuk melayani generasi muda yang memang digital minded. Hal ini erat kaitannya dengan inklusi keuangan yang saat ini sudah cukup bagus. Bahkan kecenderungan generasi milenial ini adalah membangun cashless society. Lebih menyukai transaksi digital dibanding dengan transaksi tunai. Sehingga saat ini, momentumnya sangat tepat, seiring dengan pandemi yang belum surut, maka umat dapat  membayar zakat dengan mudah melalui kanal digital sekaligus mengurangi kontak fisik demi menekan risiko penyebaran virus corona.

Oleh karenanya hal ini menjadi tantangan bagi BAZNAS dan LAZ untuk kemudian membuka kanal digital sebanyak-banyaknya. Dengan melakukan kolaborasi berbagai pihak, provider kanal digital ini. Sehingga generasi milenial akan mendapatkan kemudahan dalam membayar zakat. Selanjutnya hal ini juga akan men-trigger peningkatan literasi zakat dikalangan generasi muda, yang muaranya adalah peningkatan penghimpunan zakat yang lebih transparan dan akuntabel. Sehingga akan lebih banyak lagi muzaki muda pembayar zakat dan pendistribusian terhadap mustahik yang lebih merata. . Wallahu a’lam