Digitalisasi Zakat


BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), memperkirakan potensi zakat di Tanah Air pada 2021 mencapai Rp327,6 triliun. Namun, sejauh ini realisasinya baru Rp71,4 triliun. Adapun, lebih dari 85 persen dari zakat yang terkumpul dilakukan melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) tidak resmi.

Angka tersebut terdiri dari zakat perusahaan (Rp144,5 triliun), zakat penghasilan dan jasa (Rp139,07 triliun), zakat uang (Rp58,76 triliun), zakat pertanian (Rp19,79 triliun), dan zakat peternakan (Rp9,52 triliun).

Sementara Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) berjumlah 545 lembaga. Merupakan Amil terbanyak dalam sebuah negara di dunia. Tidak ada negara manapun di kolong lngit ini yang memiliki OPZ sebanyak Indonesia. Data tersebut, terdiri dari Badan Amil Zakat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Serta Lembaga Amil Zakat (LAZ), baik tingkat Nasional, Propinsi, maupun Kabupaten/Kota. Sehingga potensi yang sedemikian besar itu, sebenarnya menjadi tanggungjawab dari 545 OPZ tersebut di atas.

Sementara untuk Ramadhan 2021 tahun ini, BAZNAS dengan seluruh jaringannya menargetkan penerimaan sebesar 6 Trilyun. Sedangkan LAZ memiliki target masing-masing. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini, maka penerimaan/penghimpunan Zakat di bulan Ramadhan, biasanya meningkat hingga minimal 3 (tiga) kali lipat atau lebih dari penerimaan bulan-bulan biasanya.

Karena kesadaran umat untuk berzakat di bulan ramadhan memang selalu meningkat. Sementara itu, penerimaan tahunan dari LAZ rerata naik di kisaran 25-30 % per Tahun, termasuk pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi sudah mulai. Berdasarkan laporan tahunan dari Baitul Maal Hidayatullah, salah satu LAZ Nasional rata-rata pertumbuhannya sekitar 30% per tahun.

Menurut data PUSKAS BAZNAS (2020), skor pemahaman dasar zakat maupun skor indeks literasi zakat masih pada tahap moderat, yakni masing-masing 72,21 dan 66,78. Sementara untuk skor pemahaman lanjutan zakat tercatat rendah, yakni 56,68. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi untuk meningkatkan literasi zakat. Catatan lainnya, tingkat literasi zakat di kalangan anak muda masih terhitung rendah

Dari survey tersebut ditemukan data bahwa sumber informasi zakat tertinggi berasal dari ceramah ustadz (46%). Selanjutnya, informasi zakat didapat masyarakat dari kantor atau kampus (17%), media sosial (16%), keluarga (13%), media elektronik (5%), dan media cetak (3%).

Fakta lainnya, 60% masyarakat masih menunaikan zakat di luar lebaga zakat resmi, yakni 37% menyalurkan zakatnya langsung ke mesjid dan 23% langsung ke muztahik (penerima zakat). Hanya 40% yang menyalurkannya ke lembaga zakat resmi, yakni melalui Baznas (25%) dan Lembaga Amil Zakat (15%).

Jika merujuk kenyataan bahwa dari data demografi kependudukan yang ada saat ini, dan juga dari survey di atas, ternyata tingkat literasi di kalangan anak muda terhitung rendah. Padahal, jumlah generasi milenial dan sesudahnya, berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 saat ini lebih dari 65% dari total penduduk Indonesia. Sehingga, sesungguhnya market terbesar dari zakat ini adalah generasi milenial, generasi Z dan sesudahnya itu. Sehingga perlu digarap lebih serius lagi.

Dalam berbagai kesempatan, telah disampaikan bahwa, ada beberapa karakteristik dari generasi milenial ini. Yaitu selain suka berbagi, juga digital native. Suka berbagi ini, bisa kita lihat berbagai portal/ apps crowdfunding yang berhasil menghimpun dana receh dari kalangan anak muda ini. Jika selama ini motivasinya adalah lebih banyak terkait dengan kegiatan dan solidaritas sosial, maka melalui edukasi yang memadai, bisa diarahkan untuk lebih bernuansa ibadah (keagamaan), bisa dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, atau wakaf. Sehingga selain faktor dorongan sosial tersebut di atas, juga ada motivasi untuk beribadah.

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menyiapkan portal/apps yang bisa menarik kalangan muda itu untuk menggunakannya. Sebab sebagai digital native, mereka sebenarnya sangat cepat untuk beradaptasi menggunakan perangkat dan aplikasi digital dalam bentuk apapun juga. Asalkan bisa menarik dan mewakili keberadaan, kepentingan dan eksistensi mereka, maka mereka akan dengan sukarela berbondong-bondong untuk menggunakan aplikasi tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak menarik bagi mereka, sangat mudah untuk meninggalkannya.

Dengan demikian maka digitalisasi zakat ini menjadi sebuah keniscayaan. Satu sisi untuk mempermudah dalam proses penghimpunan. Disisi lain adalah untuk melayani generasi muda yang memang digital minded. Hal ini erat kaitannya dengan inklusi keuangan yang saat ini sudah cukup bagus. Bahkan kecenderungan generasi milenial ini adalah membangun cashless society. Lebih menyukai transaksi digital dibanding dengan transaksi tunai. Sehingga saat ini, momentumnya sangat tepat, seiring dengan pandemi yang belum surut, maka umat dapat  membayar zakat dengan mudah melalui kanal digital sekaligus mengurangi kontak fisik demi menekan risiko penyebaran virus corona.

Oleh karenanya hal ini menjadi tantangan bagi BAZNAS dan LAZ untuk kemudian membuka kanal digital sebanyak-banyaknya. Dengan melakukan kolaborasi berbagai pihak, provider kanal digital ini. Sehingga generasi milenial akan mendapatkan kemudahan dalam membayar zakat. Selanjutnya hal ini juga akan men-trigger peningkatan literasi zakat dikalangan generasi muda, yang muaranya adalah peningkatan penghimpunan zakat yang lebih transparan dan akuntabel. Sehingga akan lebih banyak lagi muzaki muda pembayar zakat dan pendistribusian terhadap mustahik yang lebih merata. . Wallahu a’lam

Merangkul Digital Native


Sejak dikemukakan Marc Prensky pada sebuah makalahnya, dengan judul Digital Natives, Digital Immigrants pada tahun 2001, maka penggunaan kedua diksi tersebut selalu mewarnai perbincangan diberbagai kalangan. Sejak dua dekade lalu, pembahasan tentang ini belum juga berakhir. Karena memang dunia digital terus berkembang. Tidak pernah berhenti.

Secara ringkas digambarkan bahwa, anak-anak sekolah termasuk mahasiswa saat ini adalah penduduk asli dunia digital, sedangkan pengajarnya adalah imigran atau pendatang. Hal ini bisa dijelaskan bahwa generasi X dan generasi sebelumnya  masuk dalam digital immigrants. Sedangkan generasi Y, Z dan generasi sesudahnya masuk sebagai native digital.

Generasi digital immigrants merupakan generasi yang masih mengalami penggunaan mesin ketik manual maupun elektrik dan kemudian terjadi revolusi teknologi, sehingga beradaptasi dengan dunia digital. Sedangkan mereka dinamakan native digital, karena sejak lahir mereka sudah berada pada dunia digital yang terus berkembang. Mereka seolah tidak harus belajar, dan langsung bisa menyesuaikan dengan teknologi yang ada. Hal ini bisa kita lihat bagaimana anak-anak “kecil” saat ini, yang langsung bisa berinteraksi dengan smartphone, laptop atau perangkat digital lainnya, tanpa harus melalui belajar formal.

Didalam tabel ini, disajikan perbedaan antara native digital dan digital immigrants, sebagai berikut :

https://cdegelman.wordpress.com/2018/01/29/digital-native-digital-immigrant-or-somewhere-in-between/

Jika kita cermati apa yang menjadi ciri dari digital native, maka hal itulah yang masuk dalam katagori generasi milenial (generasi Y dan Z) serta generasi sesudahnya. Dan di banyak tulisan saya, hal ini perlu cara yang sistematis untuk melakukan pendekatan, di bidang apapun, untuk meraih simpati dan juga dukungan dari generasi ini.

Sehingga produk/jasa dalam model apapun jika tidak merangkul kalangan digital native ini, besar kemungkinan akan failed. Karena saat ini, sebenarnya merekalah yang men-drive pasar. Mereka adalah generasi yang tergantung dengan telepon dan device lainnya. Pribadi-pribadi intuitive learning dan juga fast learner, sehingga dengan intuisi dan kecerdasannya sangat cepat untuk melakukan Analisa dan melakukan keputusan.  Karena sudah terbiasa multitasking, melakukan banyak perintah/kerjaan dalam waktu yang bersamaan. Memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta selalu memanfaatkan multimedia.

Sehingga dengan karakteristik seperti itu, kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan atau model lama, dan mungkin mengalami keberhasilan masa lalu. Tetapi tidak jaminan berhasil di era kini. Dunia sudah berubah. Sekali lagi substansi tetap harus dijaga, akan tetapi kemasan bisa dimodifikasi. Karena kini jadi dunia mereka.  Dimana kini eranya generasi yang paperless dan cashless. Yang mulai meninggalkan semua bentuk kertas, sehingga mengisi form/borang untuk mendaftar untuk kepentingan tertentu, sudah mulai ditinggalkan.

Demikian juga pembayaran tunai dengan uang, tidak terlalu diminati lagi. Mereka senang dengan e-money, digital money,  QRIS, dlsb. Pendeknya semuanya menjadi simple, tetapi high impact dan high quality. Artinya, jika kita ingin menghadirkan produk/jasa/layanan dan tidak memperhatikan itu, maka mereka akan denial, karena tidak gua banget.

Pendekatan yang tepat, semestinya adalah dengan memenuhi karakteristik digital native, dengan tetap memberikan nilai-nilai yang terukur. Dan selanjutnya adalah dengan menghadirkan ambassador yang seusia dengan mereka, atau paling tidak memiliki jiwa seperti mereka. Sehingga bahasanya, sama dengan Bahasa mereka. Jika tidak, maka apapun yang akan kita tawarkan akan di tolak.

Bukankah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib r.a berpesan, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Sebuah Nasihat yang sangat tepat untuk melakukan pendekatan pada digital native ini. Wallahu A’lam

Selamat Menunaikan Ibadah Shiyam Ramadhan.

Belajarlah dari Bangaluru !


Keinginan Presiden Indonesia sejak awal menjabat, untuk mendirikan Silicon Valley Indonesia, sangat menggebu-gebu. Sebuah keinginan yang patut diapresiasi. Meskipun hingga kini belum juga ada yang terealisir. Ada beberapa daerah yang sempat diumumkan sebagai tempat yang cocok untuk membangun Silicon Valley itu. Diantaranya : Banten, Papua, Bandung, Penajam Paser Utara sebagai calon Ibu Kota baru itu, dan yang terakhir dan kemudian menjadi polemik adalah Sukabumi, dengan nama Bukit Algoritma. Sebuah kawasan seluas 888 ha, di KEK Cikidang Sukabumi, dengan total biaya investasi direncanakan sebesar 18 Trilyun itu, sontak membuat heboh jagat netizen.

Mengapa menuai pro-kontra? Selain nilainya yang fantastis, alasan lainnya adalah ketidakcocokan tempat yang tidak dekat dengan kampus dan industri, sebagai pemasok utama resources. Beberapa komentar yang menyangsikan, mempertanyakan dan menggugat, kemudian menghiasi percakapan di cloud. Tak tanggung-tanggung jika jauh-jauh hari Gubernur Jabar, juga memberikan warning, jangan sampai proyek ini hanya menjadi gimmick branding (untuk jualan property semata). Demikian halnya dengan Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF, Nailul Huda menyebut proyek Bukit Algoritma di Sukabumi sebagai pusat inovasi teknologi digital di wilayah Asia Tenggara masih berpotensi mangkrak. Karena prasarat infrastruktur dasar dan SDM masih belum teratasi. Dan banyak hal lagi “gugatan” lainnya yang menghiasi perdebatan di media sosial.

Jika yang menjadi rujukannya adalah Silicon Valley, pasti akan kontradiktif.  Mengapa demikian? Terletak di sebelah selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Silicon Valley diciptakan oleh pengusaha Ralph Vaerst di tahun 1970-an. Awalnya, berasal dari sejumlah besar produsen chip silikon di kawasan itu. Lambat laun, tempat itu pun menjadi markas dan kompleks perkantoran untuk sejumlah bisnis teknologi, termasuk Apple Inc. , eBay Inc., Facebook Inc., Intuit Inc., Adobe Systems Inc., Intel Corp. dan Hewlett-Packard Co, dlsb.

Sehingga Silicon Valley menjadi tempat perkembangan inovasi yang integrative karena venture capital sebagai pemodal bagi start-up bisnis teknologi hamper sepertiganya hadir di situ. Dan yang lebih memperkuat lagi adalah institusi pendidikan tinggi terkemuka juga ada di tempat itu, seperti Universitas Stanford, Universitas Silicon Valley dan tiga kampus Universitas California. Dari sini sangat kentara bahwa ekosistem yang ada di sana memang sangat mendukung.

Lalu bagaimana sebaiknya? Sebainya perlu belajar dari India yang sukses menjadikan Bangalore (baca : Bangaluru) menjadi Silicon Valley of India. Sehingga juga memiliki sebutan dengan “IT Capital of India”. Satu hal yang menarik adalah, infrastruktur meski dengan sangat terbatas tersedia saat itu, akan tetapi puluhan perguruan tinggi berada di kawasan Bangaluru ini. Juga keberadaan perusahaan lokal yang kompeten, sehingga juga menarik investasi dari venture capital. Sehingga dari sisi SDM dan funding, tidak mengalami kekurangan resources. Tentu saat ini infrastruktur di Bangalore, standarnya lebih tinggi lagi, karena mesti men-serve worldwide. Disamping memang IT-Skill lulusan perguruan tinggi di India juga di atas rata-rata, hal ini dibuktikan dengan banyaknya mereka memenuhi Silicon Valley di Bay Area itu. Bahkan eksekutif perusahaan keknologi dunia, banyak yang berasal dari India.

Dari Laporan https://thescalers.com/how-bangalore-became-asias-silicon-valley/, setidaknya ada 3 (tiga) tahapan Bangalore menjadi Silicon Valley-nya Asia, seperti sekarang ini.

1984: The Making of an IT Capital

Liberalisasi kebijakan impor dan ekspor perangkat lunak di India tahun 1984, menjadi tonggak kebangkitan industi IT di India. Hal ini, dimanfaatkan dengan baik oleh Wipro dan Infosys, perusahaan IT local India, untuk mendirikan kantor pertama kali di Bangalore dan meng-hire programmer-programmer terbaik India. Dan pada tahun 1985 Texas Instruments menjadi perusahaan Multi National Corporation yang investasi pertama kali di Bangalore.  Sebagai highlight-nya, dari instri IT ini adalah : 8% dari total GDP India berasal dari industri IT (2017), total revenue sebesar 180 M USD (2019), mempekerjakan 3,9 juta orang.

2010-2020: From back office to an R&D hotspot

Dalam dekade terakhir saja, Bangalore telah menyumbang 35% dari Global in-house center (GIC) di India. Nilai R&D yang dilakukan di India diperkirakan sekitar $ 40 miliar dan diharapkan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Kontributor utamanya adalah pengembangan software untuk bisnis dengan biaya murah dan rendah dengan teknologi terkioni dan dikerjakan oleh programmer yang kompeten. Dimana, di Bangaluru Pusat R&D perusahaan asing juga disini. Cisco mempekerjakan 11.000 lebih orang, Roll Royce mempekerjakan 100 lebih dn Boeing memperkajan 2.500 orang lebih.

2020: The Silicon Valley of Asia

Industri TI mempekerjakan sekitar 4,1 juta orang di seluruh India dan menyumbang hampir $ 137 miliar ekspor setiap tahun – 40% di antaranya dihasilkan di Bangalore. Disamping itu juga membangun budaya start-updi Bangalore dengan kriterai : menjadi peringkat 3 start-up global, memberikan pembiayaan kepada 57% start-p di India,

Tapi masalah ekonomi saja tidak bisa menjelaskan munculnya utopia TI ini. Peningkatan keahlian teknis dan tenaga kerja multi-skill telah berperan penting, sehingga menjadikan Bangalore menjadi pusat R&D, setidaknya hal ini mewakili nama-nama perusahaan besar sepetibseperti Amazon, IBM, Microsoft, Tesco, Nokia, dan Siemens. Bahkan Tesla juga sudah merencanakan kepindahan R&D nya di Bangalore. Tidak heran, jika perusahaan-perusahaan besar IT besasr lainnya juga berkumpul dalam kawasan tersebut seperti Infosys, Oracle, Dell, Samsung R&D, HP, CGI, Nokia, Huawei dan banyak lagi.

Jika demikian, maka mimpi mendirikan silicon valley di Indonesia dengan menghadirkan Bukit Algoritma itu setidaknya perlu dikaji lebih mendalam kembali. Terutama terkait dengan feasibility study-nya harus presisi, dengan memperhatikan banyak variabel. Tidak cukup modal semangat dan ngotot, atau bahkan aji mumpung. Tentu kita menghargai setiap ide, gagasan dan upaya untuk mengadirkan yang terbaik untuk bangsa ini. Apapun itu bentuknya. Saya juga yakin untuk infrastruktur dengan kedekatan dengan penguasa, bisa jadi di geber, bangunan-bangunan megah bisa didirikan, termasuk listrik, koneksi internet dlsb. Tetapi ekosistem dan resources akan menjadi PR yang tidak mudah diselesaikan.

Akankan ini berpotensi menjadi proyek mangkrak sebagaimana prediksi INDEF, ataupun menjadi gimmick branding sebagaimana warning Gubernur Jabar, atau hanya menghasilkan bangunan mewah saja, sebab riset itu tidak memerlukan bangunan yang megah, tetapi hasilnya yang implementatif, sebagaimana perdebatan di twitter. Soal ini, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Singkatnya : optimis boleh, realistis harus.

Selamat menunggu berbuka hari ke-6

Wallahu a’lam

Transformasi Digital Sebuah Keniscayaan


Siapapun kita, saat ini, hampir dipastikan memiliki ketergantungan terhadap dunia digital. Karena, digitalisasi telah menyentuh di berbagai aspek kehidupan. Bahkan dalam menjalani puasa Ramadhan seperti sekarang ini-pun, ternyata kita tidak bisa lepas dari dunia digital. Untuk melihat jadwal imsyakiyah, mendengarkan ceramah baik via youtube, ataupun yang online, membeli buka puasa, dlsb. Artinya, dunia digital seolah telah menjadi satu dalam hidup kita. Dan ini bukan hanya dirasakan masyarakat perkotaan, digitalisasi ini telah merambah hingga pelosok-pelosok kampung. Itu hanya sebagian kecil. Nanti kita akan bahas tentang bagaimana strategi implementasinya terhadap organisasi.

Mari kita telaah laporan we are social yang dapat diakses disini : https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia, dimana menyebutkan bahwa pada tahu 2021 di Indonesia ada 345,3 juta nomer yang terkoneksi ke perangkat bergerak tidak termasuk perangkat untuk IoT (Internet of Things). Dari jumlah itu, 94,9% nya yang sudah terkoneksi dengan jaringan broadband dari 3G-5G. Sementara menurut sensus penduduk tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia adalah 270,2 juta jiwa. Artinya ada beberapa orang yang memiliki lebih dari 1 (satu) nomor/telepon genggam.

Masih dari sumber yang sama, dari 345,3 juta nomer yang terkoneksi tersebut, didapatkan data sebagai berikut : 96,5 % pengguna menggunakan untuk keperluan chat dan messenger; 96,3% pengguna akses untuk aplikasi social networking; 86,2% pengguna untuk akses video dan entertainment; 60,4% pengguna untuk aplikasi music; 60,2% pengguna untuk main game; 78,2% pengguna untuk aplikasi belanja (e-commerce); 77,6% pengguna untuk mengakses peta (map); 39,2% pengguna untuk akses perbankan dan layanan keuangan lainnya; 23,4% pengguna untuk akses apliasi kesehatan, kebugaran dan nutrisi; dan 10,9 % pengguna untuk akses aplikasi kencan dan pertemanan.

Yang menarik adalah dalam aspek pembayaran, ternyata mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini bisa dilihat daridata sebagai berikut : 129,9 % pengguna menggunakan mengaktifkan transaksi pembayaran digital; 35,72 milyar dollar (552,51 trilyun rupiah) total nilai tahunan dari transaksi pembayaran yang diaktifkan secara digital tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan 27,6 % dari transaksi tahun sebelumnya. Sedangkan rata-rata belanja setiap user adalah 275 USD atau sekitar 4 juta rupiah. Dan tentu saja hal ini akan terus mengalami pertumbuhan, apalagi dipicu oleh pandemic, yang kemudian mempercepat proses digital.

Dari data di atas, menegaskan kita untuk segera memasuki digitalisasi ini. Kita bisa menarik data-data di atas, untuk kepentingan apapun juga. Olehnya, jika kita masih memaksakan dengan cara-cara konvensional, bisa jadi masih mungkin untuk jalan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Namun hampir menjadi sebuah kepastian bahwa akan tertinggal oleh mereka yang telah mengimplementasikan platform digital tersebut. Dan akibatnya akan hilang dari percaturan di bidang apapun juga. Sehingga, menurut saya, saat ini transformasi digital bukan menjadi  sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah keniscayaan, baik untuk kepentingan individu, maupun kepentingan organisasi dalam bentuk apapun juga.

Secara ringkas, sesungguhnya transformasi digital merupakan konvergensi antara teknologi informasi dengan semua aspek kehidupan dalam masyarakat dan juga dalam organisasi/perusahaan sehingga menghasilkan kualitas layanana yang terbaik.

Bagaimana cara implementasinya? Untuk organisasi apapun juga, saya menawarkan beberapa strategi implementasi berikut :

Pertama, adalah dengan memberikan awareness dari manajemen puncak sebagai pengambil kebijakan hingga low level untuk paham tentang digitalisasi ini.

Kedua, menyusun roadmap/blue print dari digitalisasi. Sehingga bisa diuraikan kebutuhan apa saja yang bisa didigitalkan. Hal ini juga menyangkut 3 (tiga) pilar utama yaitu: 1) people (mempersiapkan SDI sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya), 2) process (menyiapkan kebutuhan data dan informasi serta sistem/aspek apa saja yang akan dibangun dan diintegrasikan) dan 3) technology (menyangkut aplikasi dan infrastruktur)

Ketiga, membuat  piloting (prototyping) di masing-masing bidang/area yang akan didigitalisasikan, dilakukan evaluasi secara komprehenship. Bisa juga dengan melakukan benchmarking terhadap organsiasi sejenis, atau pake metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

Keempat, membangun sistem lengkap secara bertahap, selanjutnya mengembangkan sebuah ekosistem digital. Jika ekosistem sudah berjalan dengan baik maka transformasi digital ini akan terlaksana dengan baik.

Kelima, melakukan evaluasi, maintenance dan pengembangan serta inovasi digital terus-menerus mengikuti dinamika dan perkembangan yang ada.

Mari kita mulai melakukan tranformasi digital di organisasi dan komunitas kita sekarang juga. Selanjutnya bersinergi untuk memenangkan masa depan.

Membangun Start-Up (lagi)


Seolah tiada kapoknya. Bagi sebagian entrepreneur, membangunstart-upadalah sebuah habbits. Bukan masalah serakah, tamak, loba atau tidak puas dengan raihan yang dicapai dan sejenisnya. Tetapi keterpanggilan jiwa, sebagai manifestasi dari keingingan untuk selalu berkarya dan memberikan yang terbaik, lebih dominan yang melatarinya. Idealnya memang, dalam membangun sebuah perusahaan rintisan itu adalah setelah di didirikan, di rawat dulu, hingga menjadi perusahaan yang survive, berkembang, besar,sustainserta berpengaruh hingga IPO dan menjadi perusahaan publik (terbuka). Dan sudah barang tentu memberikan profit yang maksimal bagi share holders. Baru kemudian dikembangkan. Itu, cara kerja otak kiri katanya. Cara kerja otak kanan beda. Sebab dalam membangun bisnis, seringkali tidak linear, tetapi eksponensia. Bukan deret hitung, namun deret ukur, dan seterusnya. Sehingga, syukur-syukur start-upyang dibangun bisa mencapai derajat unicorn. Sebuah tahapan ideal bagi start-up, yang seringkali di ukur dengan valuasinya yang mencapai 1 juta dollar atau dalam kisaran 15 triliun rupiah dalam kurs hari ini. Dan parameter prestasi seperti itu, biasanya yang menjadi motivasi & impian hampir setiap start-up.Meskipun kenyataannya, dalam membangun start-upitu, tidak bisa dikaitkan langsung dengan sukses dan gagalnya bisnis sebelumnya.

Mengapa demikian? Sebab, tidak selamanya gambaran ideal itu, dapat diraih oleh semua start-up. Hanya sedikit yang bisa mencapai derajat itu. Alih-alih bisa sampai tingkatan unicorn. Untuk berkembang dan survivesaja, kerap kali sulit untuk diraih. Akibatnya, Continue reading