Covid, ekonomi, Peradaban, Politik.

The Enemy of My Enemy is My Friends


pinterest

Dunia medsos gempar. Tiba-tiba ada pernyataan mengejutkan dari Ruhut Sitompul alias si Poltak. Salah seorang pengacara yang juga aktivis Partai Politik itu. Dia terkenal sebagai kutu loncat. Pernah di Partai Golkar, Partai Demokrat, dan terakhir berlabuh ke PDIP. Gerakannya, mengikuti  dan mengekor partai apa yang sedang berkuasa. Nebeng disitu.

Ada anomali dari statemennya, yang di luar kebiasaannya. Sebagimana dikutip beberpa media beberapa hari belakngn ini. Biasanya dia selalu komentar miring terhadap Gubernur DKI. Seolah apapun yang dilakukan oleh Mas Anies tidak ada benarnya, semua salah. Lengkap dengan bullyan. Tak segan dia menghabisi dan menebar hoax kepada Mas Anies. Bukan sekedar kritik. Tapi melakukan character assassination. Dia melakukan prinsip kill the messenger.

Mas Anies bicara apa, ditimpali dengan komen yang sarkastik, nyelekit, diametral & paradoks. Seolah ingin dilumat, dihabisi, meski tanpa data dan miskin narasi. Yang penting nge-gas dan viral. Nampaknya by design, atau memang dia pion yang sedang dipasang untuk membuat gaduh. Dan biasanya berhasil memancing reaksi netizen. Meski selalu ada yang kotra dan melawannya, dengan data, fakta dan akal sehat. Namun selalu saja bisa berkelit. Ibarat belut masuk oli, susah dipegang. Continue reading “The Enemy of My Enemy is My Friends”

Covid, ekonomi, teknologi

Jangan Naik Pesawat, Harga Tiket Menggila


tempo

Sejak menjelang lebaran bulan April lalu, harga tiket pesawat terus merangkak naik. Saya kira karena sedang musim mudik, sehingga terjadi demand tinggi, sedangkan supply sedikit, akibatnya harga naik. Sebagaimana layaknya hukum ekonomi standar terkait permintaan dan penawaran. Apalagi kala itu, mudik relatif diberikan kemudahan dan kelonggaran, setelah dua tahun banyak yang menahan diri untuk tidak mudik, karena pandemi yang merajalela kala itu, sehingga permintaan benar-benar tinggi.

Ternyata dugaan saya salah. Sebab hingga saat ini, harga masih melambung tinggi. Bahkan untuk pesan beberapa bulan ke depan, berlaku hal yang sama, harga tetap tinggi. Saat saya pesan tiket untuk anak yang sedang sekolah di Ma’had Al Azhar-Kairo, untuk balik ke Indonesia, ternyata dari semua aplikasi travel online, menunjukkan harga yang seragam. Tiket penerbangan internasional, naik tiga kali lipat, bahkan lebih. Padahal sudah pilih paket promo. Demikian pula ternyata tarif penerbangan domestik, meski harganya tidak “segila” penerbangan internasional, tetapi tetap ganti harga.

Karena penasaran, searcing cari informasi. Itulah kemudahan di era digital saat ini. Selain itu, kebetulan punya grup WA, yang salah satu anggotanya adalah kawan yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan. Saya tanya, mengapa harga tiket pesawat naiknya tinggi sekali? Dia menjawab, saat ini harga avtur menggila, perang Rusia – Ukraina jadi penyebab utamanya. Sekarang setiap airline lagi mencoba program fuel efficiency. Menghitung ulang pemakaian fuel disetiap penerbangan dan membuat perhitungan yang tepat untuk setiap route penerbangan. Intinya supaya tidak jadi pemborosan fuel. Jika datanya lengkap, maka akan menggunakan system berbasis Artificial Intelligence, agar lebih presisi.

Teman lain menimpali harga minyak memang lagi gila sekarang, kemudian dibumbui, banyak permintaan crude oil, batu bara dari luar, yang jualin malah orang Malaysia, resourcenya dari Indonesia. Ini ironis, tetapi faktanya demikian. Kondisi seperti ini akan terjadi hingga kebijakan green energy di sudahi. Meskipun berdasarkan pendapat berbagai pengamat dan pelaku bisnis wisata, sulit diprediksi kapan berakhirnya.

Penyebab Naiknya Harga Tiket Pesawat

Realitas di atas terkonfirmasi, dari laporang tempo. Menurut Tempo tersebut, setidaknya ada lima faktor yang membuat harga tiket pesawat melonjak:

google : grafik harga minyak dunia beberapa tahun

Pertama, Kenaikan harga bahan bakar pesawat

Kenaikan harga bahan bakar avtur tentu masuk dalam penghitungan harga tiket di setiap jasa penerbangan. Belum lagi biaya ground handling, navigasi, dan lalu lintas udara.

Kedua, Kalkulasi bisnis maskapai

Sejumlah maskapai memiliki kalkulasi bisnis untuk tetap bertahan di masa panemi Covid-19. Salah satunya dengan menurunkan kapasitas, baik dari jumlah pesawat yang beroperasi dan membatasi jumlah kursi yang tersedia.  Di sisi lain, terjadi peningkatan kebutuhan jasa penerbangan yang kemudian menjadi tidak seimbang dengan penawaran. Hal ini karena situasi di mana jumlah permintaan lebih besar daripada penawaran, akibatnya terjadi kenaikan harga produk/jasa tersebut.

Ketiga, Penyesuaian kondisi

Sejumlah maskapai membutuhkan waktu untuk bangkit kembali, terutama setelah sempat menganggur karena tidak beroperasi selama pandemi Covid-19. Maskapai harus menghitung masa menganggur ini dengan ongkos perbaikan armada dan penyesuaian lainnya. Ditambah selama pandemi Covid-19, banyak pilot, pramugari, ground handler, dan staf penerbangan kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut belum memungkinkan bagi maskapai untuk memaksimalkan kegiatan operasional sesuai permintaan pasar.

Keempat, Pertimbangan jumlah armada dan kursi yang tersedia

Dengan berkurangnya jumlah pesawat yang beroperasi mengakibatkan pemesanan kursi penumpang yang lebih sedikit. Jika maskapai tetap menjual tiket dengan harga normal, maka belum tentu cukup untuk memenuhi biaya pemulihan.

Kelima, Kebijakan pemerintah

Khusus penerbangan domestik, Kementerian Perhubungan mengizinkan maskapai menetapkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar kepada konsumen mulai 18 April 2022.

Sehingga hal ini juga akan berpengaruh pula terhadap biaya umrah, haji serta wisata halalpun sudah bisa dipredikasi bakal melonjak naik pula. Dan bisa pula akan diikuti dengan naiknya harga komoditas lain, jika kenaikan harga minyak internasional tidak turun juga.

Melihat fakta di atas, nampaknya kita perlu menahan diri untuk tidak bepergian (terutama menggunakan pesawat) di saat harga melangit seperti saat ini, jika memang tidak penting sekali. Menunda hingga harga turun serta normal kembali merupakan tindakan yang bijaksana. Selanjutnya sabar menanti menunggu harga, sebagaimana sebelum adanya lonjakan itu. Kapan itu? Ya sulit di prediksi?.

ekonomi, entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, iptek, IT, organisasi, teknologi

Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia Dan Tantangan Digitalisasi


Ada sebuah hasi penelitian yang cukup baik bertajuk Indonesian E-commerce Consumer Behaviour (Perilaku Konsumen E-commerce Indonesia) yang dikeluarkan oleh Kredivo bekerjasama dengan Katadata Insigt Center. Laporannya masih gress, baru di rilis pada bulan Juni 2022 ini. Membedah dari berbagai aspek  berkenaan dengan perilaku konsumen, terutama terkait dengan memberikan wawasan terbaru mengenai perilaku konsumen e-commerce Indonesia melalui pendekatan bottom up yang berdasarkan data primer.

Sebagaimana kita ketahi bahwa industri e-commerce yang merupakan penggerak utama ekonomi digital Indonesia, dari tahun ke tahun terus berkembang pesat. Laporan ini membahas perilaku konsumen secara lebih mendalam, mulai dari profil demografi konsumen yang berbelanja online hingga jenis-jenis produk yang dibeli. Selain itu, juga membahas lebih dalam frekuensi transaksi berdasarkan waktu untuk menganalisis pola perilaku tertentu dari konsumen dalam berbelanja online.

Laporan ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama meneliti perilaku belanja online dari konsumen menggunakan sampel pengguna Kredivo yang melakukan transaksi e-commerce. Bagian kedua mengukur perilaku pembayaran konsumen dalam berbelanja online dan penggunaan PayLater secara khusus di tengah pandemi yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Continue reading “Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia Dan Tantangan Digitalisasi”

ekonomi, Peradaban, wakaf

Memperkuat Eksistensi Nadzir


baitul wakaf

Hasil dari survei Indeks Literasi Wakaf Nasional (IWN) tahun 2021  didapatkan nilai IWN secara Nasional 2021 adalah 0,139, meningkat tipis (0,016) dari tahun 2020 sebesar 0,123. Kategori IWN 2020 termasuk dalam level “kurang”sama seperti tahun sebelumnya. IWN adalah indeks yang dirancang untuk menjadi suatu instrumen atau alat untuk mengukur kinerja wakaf pada di suatu wilayah dari berbagai dimensi pengukuran. Faktor yang menjadi pilar tolak ukur kinerja wakaf yaitu faktor regulasi (regulation), kelembagaan (institution), proses (process), sistem (system), hasil (outcome), dan dampak (impact). Setiap faktor dalam pengukuran Indeks Wakaf Nasional memiliki indikator masing-masing.

Dari hasil IWN 2021 tersebut juga mendapatkan temuan bahwa terdapat  sebanyak dua puluh dua provinsi termasuk dalam kategori “Sangat Kurang”, lima provinsi “Kurang”, dua provinsi “Cukup”, dua provinsi “Baik”, dan terdapat tiga provinsi yang termasuk dalam kategori “Sangat Baik”. Sebelas provinsi mengalami pertumbuhan IWN yang positif, namun 23 provinsi mengalami pertumbuhan negatif Continue reading “Memperkuat Eksistensi Nadzir”

ekonomi, Krisis, Kronik, Peradaban

Ketika Uang Menguasai Dunia


istock

Adalah sebuah kebodohan bahwa terjadinya resesi dan depresi ekonomi itu merupakan sesuatu yang natural dan bagian dari siklus ekonomi biasa. Para ekonom sebenarnya sedang membohongi kita, melalui data dan analisis ekonomi, yang seolah tak terbantahkan. Sebab realitasnya adalah semua by design. Kenaikan suku bunga The Fed misalnya, buka hanya sebuah respon terhadap kenaikan inflasi di Amerika. Akan tetapi itu menjadi alasan untuk memanipulasi uang yang beredar, dimana muaranya adalah memastikan semakin banyak kekayaan yang ditransfer dari rakyat ke tangan mereka. Sehingga, peran The Fed dan kehadirannya  merupakan metamorfosis dari perdagangan uang di zaman dulu.

Sehingga tidak banyak yang tahu bahwa gonjang-ganjing bahkan keruntuhan ekonomi suatu negara itu, tak terkecuali Indonesia, selain lemahnya ekonomi sebuah negara itu sendiri, yang disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola negara, namun lebih dari itu maka sebenarnya semua sudah di atur dan ada yang mengatur oleh para bandit ekonomi. Setidaknya itu yang dikatakan oleh John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man.

Menurut bukunya tersebut, tugas Perkins adalah meyakinkan pemimpin politik dan finansial negara berkembang untuk berutang besar dengan institusi seperti Bank Dunia (World Bank), IMF dan USAID. Setelah tidak bisa membayar, negara tersebut dipaksa tunduk terhadap tekanan politik dari Amerika Serikat mengenai berbagai masalah. Perkins menyatakan bahwa negara-negara berkembang dinetralkan secara politik, lalu jurang antara orang kaya dengan miskin diperlebar, dan ekonomi negara-negara tersebut dirusak untuk jangka panjang. Continue reading “Ketika Uang Menguasai Dunia”