Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

UJUNG TANDUK


telor“Bagaikan telur di ujung tanduk” peribahasa

 

Ungkapan atau peribahasa di atas sering dipergunakan untuk menggambarkan sebuah situasi dan keadaan yang mengancam, membahayakan, bahkan genting. Jika salah sedikit bisa tergelincir, jatuh dan hancur. Sebagaimana kita ketahui, tanduk binatang itu kebanyakan berujung runcing dan tajam. Maka jika telur diletakkan diatasnya, kemungkinan untuk jatuh lebih besar, dibanding dengan tidaknya. Artinya, probabilitas celaka alias nyungsep-nya, sangat tinggi, dibandingkan dengan selamat dan aman.

Kondisi seperti ini, kerapkali menjadi satu paket ketika seseorang memilih jalan di jalur entrepreneur. Ketidakpastian, menemani setiap langkahnya. Oleh karenanya dibutuhkan, tidak hanya kekuatan mental, tetapi harus didukung pula dengan spiritualitas dan skill yang mumpuni. Memang, ketidakpastian itu, tidak selalu ditemui oleh semua entrepreneur. Ada juga, entrepreneur, yang berjalan mulus, sejak start up, hingga menjadi bisnis yang baik atau menjadi perusahaan besar. Tetapi yang begini ini jumlahnya sedikit. Kebanyakan entrepreneur, melewati ujian dengan serangkaian ketidakpastian. Masing-masing memiliki jenis dan tingkat ujian yang bermacam-macam. Besar dan beratnya ujian, satu entrepreneur dengan entrepreneur lainnya tidak sama. Meski nampaknya sama, tetapi pasti berbeda. Ujian itu bisa datang kapan dan dimana saja. Bisa bersumber dari internal, maupun eksternal. Kadang juga kombinasi dan perpaduan keduanya.

Me-manage Ujian

Dalam setiap menghadapi ujian, masing-masing orang mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Ujian yang ditimpakan kepada seseorang, meskipun nampak sama, tetapi dengan waktu dan latar belakangnya berbeda, atau mungkin semuanya sama misalnya, maka kemungkina solusi yang di berikan, bisa akan berbeda pula. Dan hasilnyapun bervariasi, bisa jadi sama-sama lulus dari ujiannya, sama-sama tidak lulus dan mungkin juga ada yang lulus dan ada yang tidak. Inilah ujian kehidupan, bukan ujian sekolah,bukan UN. Tidak ada kunci jawabam yang pasti. Apalagi bocoran jawaban. Sebab, setiap soal ujian itu, jawabannya tergatung pada jam terbang dan kemampuan “membaca” persoalan oleh masing-masing pesertanya. Sehingga jawabannya dan kelulusannya kontekstual. Sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Nah oleh karenanya, ujian kehidupan ini perlu di siasati dan di manage. Tidak bisa dibiarkan berjalan alamaiah begitu saja. Jika memungkinkan malah dilakukan re-engineering. Di beberapa tulisan saya, dengan tegas menyampaikan bahwa, ujian harus dihadapi, bukan dihindari. Di cari jalan keluarnya, bukan lari dan keluar dari ujian. Disinilah maka men-siasati dan me-manage ujian, berarti mencari tahu sebab-sebab ujian terjadi, factor apa saja yang ada mempengaruhi , merencanakan bagaimana penyelesaiannya dan lain sebagainya. Intinya kita menelisik lebih jauh, sambil kemudian pelan-pelan mencari alternative solusinya. Disamping itu, memanage ujian juga berarti, mulai melakukan mengelompokkan masalah berdasarkan sekala penyelesainnya. Dari yang penting dan mendesak, tidak penting mendesak, penting dan tidak mendesak serta tidak penting dan tidak mendesak, Pengelompokan seperti ini, sebenarnya memudahkan kita dalam melakukan mapping untuk kemudian diteruskan pada tahapan eksekusi berikutnya. Tidak gampang memang. Sebab seseorang yang sedang ditimpa ujian, seringkali tidak bisa berfikir runut. Bahkan cenderung tidak bisa focus dan konsentrasi. Apatah lagi dituntut untuk memanage ujianya itu. Akan tetapi jika semua cara seperti ini sering dilakukan, maka akan mencajdi kebiasanaan, dan alam bawah sadar kita akan menuntun untuk melakukan itu, kendatipun kita dalam kondisi galau saat menghadapi ujian, dan mungkin juga berada dalam tekanan yang hebat.

 

Out of the box

Dalam kondisi yang genting, disaat kita berada di ujung tanduk, maka bisa jadi langkah-langkah sistematis, dalam koridor manajemen modern tersebut, tidak bisa diterapkan. Sebab kita berada dalam kondisi yang uncontrollable, semuanya serba tidak terkendali. Maka, variable yang ditemuipun, seringkali bukan variable yang normal, semuanya abnormal. Dalam posisi seperti ini, maka kita dituntut untuk tetap melakukan penyelesaian dengan cepat dan tepat. Maka salah satu hal yang dilakukan adalah berfikir out of the box. Menyelesaikan masalah, diluar kebiasaan yang ada. Keluar dari kotak dan pakem-pakem yang telah ada. Keberanian melakukan ini, selain juga karena pengalaman, seringkali di dukung oleh kekuatan instingtif. Dan seorang entrepreneur, biasanya memiliki kelebihan seperti ini, satu paket yang melekat pada dirinya.

Entrepreneur yang berhasil, dan juga orang-orang yang berhasil, seringkali bukan mereka yang, selalu mengikuti system mananjemen yang sudah baku. Akan tetapi adalah mereka yang melakukan terobosan-terobosan baru, yang keluar dari kebiasaan yang ada. Maka keberhasilannya, kemudian menjadi semacam teori baru, yang tidak ada sebelumnya.

 

Melompat

Ujian, lagi-lagi memang diperlukan. Agar dengan tempaan yang cadas itu, membawa kita semakin dewasa, dalam mengarungi samudra kehidupan. Kreatifitas di pacu, agar kita terus berusaha untuk lepas dari jeratan ujian. Hidup menjadi lebih hidup. Dinamis, karena selalu bergerak, tidak monoton. Otak dirangsang untuk terus berfikir, tidak hanya berdiam diri. Jika kemudian kita menghadapi ujian itu, sebuah persoalan yang biasa saja, maka dipastikan akan segera dapat terselesaiakan. Namun jika persoalan itu sudah di ujung tanduk, maka inilah tantangan sebagai sebuah perjuangan hidup-mati. Tidak bisa santai. Harus serius, focus dan memiliki endurance dalam menghadapinya. Sebab, sebentar saja kita lengah, pasti akan terjeruus dalam lobang kehancuran.

Ujung tanduk yang demikian itu, bisa terjadi di semua aspek kehidupan. Bisa dalam bisnis, dalam karir, dalam rumah tangga dan lain sebagainya. Semua memiliki kemungkinan yang sama, jatuh dan kemudian hancur. Atau bisa menghindari dan kemudian terlepas dari situ. Salah satu hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah “melompat” dengan sekuat tenaga. Mungkin pijakannya sangat kecil. Bisa jadi runcing, terjal dan rapuh. Akan tetapi jika segala upaya, mulai dari me-manage ujian sampai dengan strategi out of the box, bisa kita lakukan. Dan tentu saja ada satu hal yang tidak bisa kita lupakan, yaitu berdo’a. Maka, tidak ada langkah yang tidak mungkin kita kalukan. Jadi, meninggalkan ujung tanduk dengan melompat, adalah cara untuk menghindari kehancuran. Lalu, bagaimana cara melompat yang baik agar bisa selamat dan tidak terluka (karena berada di ujung tanduk), atau terpeleset karena pijakannya kecil. Itulah yang perlu kita pikirkan bersama. Saya yakin, setiap kita punya cara “melompat’ yang bisa terlepas dari ujung tanduk itu.

Mungkin, saat ini kita juga sedang masuk dalam katagori, manusia-manusia yang berada di ujung tanduk ini. Bisnis yang sedang saya jalanipun, juga bisa di katagorikan sebagai berada di ujung tanduk. Tidak mudah memang keluar dari zona ini. Kita tidak usah berdebat, bagaimana cara yang efektif untuk melompat. Tetapi eksekusi untuk mampu “melompat” ujung tanduk ini, kini sedang kami lakukan. Dan saya merasakan lompatan itu tidak cukup satu kali, tetapi dilakukan berkali-kali. Setelah demikian, maka hasilnya kita kembalikan kepada Sang Maha Pembuat Keputusan.

Advertisements

Author:

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s