Waqfnomics


Salah satu instrumen ekonomi Islam dengan potensi yang sangat besar adalah wakaf. Sayang hingga saat ini belum tergali dan termanfaatkan dengan optimal dan maksimal. Meski upaya untuk melakukan awareness terhadap wakaf ini terus dilakukan oleh berbagai pihak. Namun masih belum memadai. Indikasinya adalah, pemahaman umat terkait dengan wakaf, masih jauh dari harapan.

Setidaknya, hal ini dapat dilihat dari hasil nilai Indeks Literasi Wakaf (ILW) yang dilakukan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada tahun 2020. Secara Nasional mendapatkan skor 50,48. Ini masuk dalam kategori rendah, skor ini terdiri dari nilai Literasi Pemahaman Wakaf Dasar sebesar 57,67 dan nilai Literasi Pemahaman Wakaf Lanjutan sebesar 37,97.  Sehingga, masih jauh dari tingkat literasi zakat yang mendapatkan skor 66.78, Continue reading “Waqfnomics”

Paralisis


HARI-hari ini, ada tambahan kosa kata baru berkenaan melihat situasi saat ini, yaitu statement dari Prof. Dr. Boediono, mantan Wakil Presiden dan seorang akademisi itu. Meski sudah lama bertengger di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi terkesan baru, karena jarang mendengar. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Terasa asing di telinga kita. Diksi yang dimaksud adalah paralisis.

Menurut KBBI, paralisis adalah hilangnya kemampuan untuk bergerak karena cedera atau penyakit pada bagian saraf; kelumpuhan. Sehingga hal ini menggambarkan bahwa, situasi Indonesia (dan juga negara lain), yang hampir semuanya terdampak Covid-19 itu, bukan sekadar krisis, resesi, atau depresi sekalipun tetapi lebih dari itu. Continue reading “Paralisis”

Mari Beli Produk Teman


Saat ini pandemi masih belum jelas kapan berakhirnya. Setiap hari kita mendapatkan informasi bahwa jumlah yang positif COVID-19 terus meningkat. Meski fluktuatif, tetapi masih di atas 1.000 orang perhari. Bahkan episentrum berpindah, dari Jakarta ke Jawa Timur. Disinyalir saat ini malah telah terjadi gelombang kedua. Ini pasti mempengaruhi segala aspek kehidupan. Kita fokus di aspek ekonomi dulu. Pengangguran terjadi dimana-mana. Dampaknya, jelas terasa. Multiplier effect-nya,melebar kemana-mana.

Beban hidup yang terus meningkat, Continue reading “Mari Beli Produk Teman”

I’tikaf Dengan Protokol Ketat


Hari-hari ini adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan (asyrul awakhir). Biasanya, saatnya Masjid dipenuhi dengan kaum muslimin yang  i’tikaf. Sebuah ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Dimana, Beliau setiap 10 hari terkahir di bulan ramadhan, lebih banyak mengikatkan dirinya di masjid. Melakukan i’tikaf. Artinya, berdiam diri dengan memperbanyak ibadah kepada sang Khaliq.

Dalam konteks saat ini, ditengah masih belum beujungnya wabah covid-19, merupakan salah satu bentuk isolasi mandiri yang efektif dan produktif. Karena orang masih tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik, daripada di rumah saja. Tentu saja dengan mengikuti protokol kesehatan yang super ketat.  Sebab jika tidak, seandainya ada peserta di Masjid itu yang terindikasi COVID-19, maka buliyyan terhadap umat Islam sebagai cluster baru, bakal meramaikan seluruh media. Apalagi di medsos.

Sehingga aturannya, sebelum ikut i’tikaf, semua peserta wajib di cek dulu kesehatannya. Jika dinyatakan sehat, boleh ikut. Jika tidak fit, apalagi ODP dan PDP, atau beberapa waktu sebelumnya berada/berkunjung di zona merah, by default, dilarang gabung. Bahkan, jika memungkinkan Continue reading “I’tikaf Dengan Protokol Ketat”

Sale Of Everything


Ramadhan ke-16
Tiba-tiba status WA teman-teman saya banyak yang berubah. Tidak seperti biasanya. Sebagaimana hari-hari sebelumnya, seperti yang saya kenal.  Ternyata tidak hanya di WA, namun juga wall di facebook, cuitan di twitter, status di instagram. Demikian hanya, tidak sedikit kemudian berubah menjadi YouTuber, dan seterusnya. Pendeknya, semua akun media sosial yang dimiliki, seolah menampilkan “wajah baru” dari apa dan siapa, yang selama ini mereka saya kenal. Mungkin disekitar anda juga seperti ini.

Semua berawal dari virus China itu. Awal-awal, saat pandemi muncul, semua medsos rata-rata dipenuhi dengan ketahanan dan optimisme terhadap serangan covid-19. Dilanjutkan dengan empati terhadap korban. Meski tidak jarang diikuti sesekali menyentil kebijakan pemerintah yang terkesan lamban, tidak jelas, miskoordinasi, dan lain sebagainya. Dengan disertai gambar, video, meme atau tautan berita untuk menunjukkan ketidaknyamanan situasi yang berlaku. Ini terjadi sekitar 2 minggu hingga satu bulan. Meski juga ada kawan lain, yang membela habis kebijakan pemerintah. Apapun itu kebijakannya dibenarkan dan selalu didukung. Tidak ada daya kritis. Meski kita hargai, masing-masing orang punya pilihan untuk mengekspresikan dirinya Continue reading “Sale Of Everything”