Posted in Entrepreneurship

Ramadhan, Zakat dan Pengentasan Kemiskinan 


Asih Subagyo

Ketua Badan Pengawas LAZ Nasional Baitul Maal Hidayatullah

Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan ibadah yang  pelaksanaannya memiliki syarat cukup rijid. Baik bagi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat), harta yang wajib dizakati, maupun mustahik (yang berhak menerima). 
Kendati kesadaran berzakat sebagai sebuah kewajiban terhadap harta yang telah ditentukan sudah mulai baik, ternyata masih banyak juga umat yang belum faham. Bahkan, tidak jarang yang dipahaminya hanya sebatas zakat fitrah. Sedangkan zakat lainnya (maal, perhiasan, perkebunan, peternakan, dll) termasuk infaq, shadaqah, wakaf dan hibah, masih banyak yang belum mafhum. 
Hal ini bisa kita saksikan di lapangan, meskipun hampir semua jenis zakat itu bisa dibayarkan kapan saja, tidak terikat dengan waktu, kecuali zakat fitrah yang memang memiliki batas waktu sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri ditegakkan. Namun, dalam prakteknya, biasanya Ramadhan identik dengan bergeliatnya para muzakki dalam membayar zakatnya, termasuk lainnya itu. Sehingga di setiap Ramadhan menjadi semacam musim “panen”-nya Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Dengan potensi sebesar Rp. 217 triliun, sebagaimana hasil penelitian BAZNAS dan FEM (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) IPB yang dilakukan pada tahun 2011, maka seharusnya zakat bisa memiliki multiplier effect bagi dinamika ekonomi ummat. 
Angka tersebut, diasumsikan sebesar 3% dari PDB tahun 2010. Dengan pertumbuhan PDB yang terus meningkat setiap tahun, maka potensi zakatnyapun semestinya setiap tahun juga bergerak naik pula. Dan berdasar pengalaman LAZ yang terhimpun dalam Forum Zakat (FoZ), yang juga diamini oleh BAZNAS, maka sekitar 75% dari total pendapatan zakat, dihimpun saat bulan Ramadhan. Dan, yang 25% dibagi dalam 11 bulan. 
Yang perlu digarisbawahi adalah, kesadaran filantropis di bulan Ramadhan, setiap tahun terus mengalami peningkatan, membersamai meningkatnya kuantitas peribadatan yang lainnya. Kendati demikian, dari potensi yang ada, itu ternyata pada tahun 2016 kemarin, yang mampu terhimpun baru sekitar 1 %, atau sebesar Rp. 2 triliun. Dan, pada tahun 2017 ini, diperkirakan mengalami peningkatan pendapatan secara agregat sebesar Rp. 3 sampai 4 triliun. Di sinilah tantangan nyata yang dihadapi oleh LAZ dan BAZNAS, yang tentu saja mesti menyiapkan perumusan yang baik.
Regulasi

Sebenarnya negara telah membuat regulasi yang mengatur tentang penghimpunan dan pengelolaan zakat ini, melalui UU No 23/2011. Di dalamnya mengamanatkan bahwa LAZ yang diperbolehkan untuk memungut atau menghimpun serta menyalurkan ZIS harus mendapatkan rekomendasi dari BAZNAS dan kemudian mendapatkan ijin dari Kementerian Agama. 
Menurut keterangan dari Forum Zakat (FoZ), ada 235 anggota yang dihimpun. Namun, sampai Ramadhan tahun ini, secara resmi, selain BAZNAS, baru ada 17 LAZ sekala nasional, 7 LAZ sekala Propinsi dan 11 LAZ Kabupaten/Kota, dan masih ada beberapa LAZ yang telah mendapatkan rekomendasi dari Baznas, namun masih mengurus izin dari Kementerian Agama (www.detik.com1/06/2017). Selain UU juga diikuti dengan Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dan juga SK Baznas, yang mengatur segala hal ikhwal dari dunia perzakatan ini.
Logikanya, dengan diterapkannya UU 23/2011 dan sederet aturan yang menyertainya itu, hanya lembaga-lembaga tersebutlah yang berhak melakukan penhimpunan dana ZIS di masyarakat, namun faktanya muzakki masih banyak yang memilih untuk mendistribusikan langsung baik ke perorangan, masjid, madrasah, panti asuhan, pesantren dan lembaga keagamaan lainnya. 
Kendati ada sanksi yang cukup berat bagi lembaga penerima ZIS yang belum atau tidak mendapat legalitas dari Kemenag, namun faktanya praktek model seperti ini masih saja berlangsung. Bisa jadi karena sosialisasi atas UU itu belum sampai ke mereka, atau memang ada sebagian yang merasa lebih nyaman dan afdhol jika langsung di-tasyarufkan kepada mustahik. Atau bisa juga bersebab faktor ketidakpercayaan kepada BAZ dan LAZ. Dan, jika yang terakhir ini penyebabnya, harus dijadikan bahan muhasabah bagi LAZ dan BAZNAS, sebab zakat adalah dana umat yang tentu saja dibutuhkan untuk membangun kehidupan umat.

Pemetaan Mustahik

Selain di sisi penghimpunan yang masih belum optimal, ternyata LAZ dan BAZNAS juga dihadapkan pada pendayagunaan yang harus tepat sasaran. Bahwa untuk pentasyarufan ZIS ini harus kepada 8 asnaf adalah qoth’i, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an Surat At-Taubah : 60. Dan, hal ini sudah mutlak, tidak perlu diperdebatkan lagi. 
Pertanyaannya adalah, apakah kedelapan asnaf itu harus mendapatkan porsi yang sama? Dan dalam hal ini, ulama berbeda pendapat. Namun, jumhur ulama tidak mewajibkan masing-masing asnaf itu mendapatkan1/8 bagian atau 12,5% dari zakat yang diperoleh secara sama. Syaikh Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa Zakat itu harus ditasyarufkan terutama ke-ahlul balad (penduduk setempat) dimana zakat itu dihimpun, dan semua asnaf dibagi secara adil. Adil ini artinya tidak harus sama. Artinya ada skala prioritas pembagian di situ. Dan yang tidak bisa ditinggalkan adalah fuqara dan masakin. (Qaradhawi : 2001)
Artinya, dalam pendayagunaan zakat ini, ternyata juga terkait dengan permasalahan majamenen yang berbasis pada 8 asnaf itu. Olehnya, perlu pengelolaan yang profesional. Diperlukan pemetaan data mustahik. Agar terjadi pemerataan mustahik, yang mendapat pendayagunaan. Dan tidak tumpang tindih. 
Misalnya, ada satu mustahik yang menerima dari beberapa LAZ dan ada mustahik yang seharusnya berhak menerima, tetapi tidak mendapat dari LAZ manapun juga. Pemetaan ini, juga akan memberikan gambaran, masing-masing LAZ itu disalah satu tempat untuk fokus “menggarap” di asnaf apa dan didaerah mana. Selain itu, semua LAZ dan BAZNAS, juga harus memiliki database mustahik-nya. 
Akan lebih baik lagi, jika mendorong adanya open database. Sehingga bisa tukar-menukar data antar LAZ, dan tumpang tindih itu tidak terjadi. Dengan demikian maka, satu daerah, bisa digarap oleh berbagai LAZ, dengan spesifikasi masing-masing ke tiap-tiap asnaf. Dan setiap daerah akan berbeda skala prioritasnya, sesuai kondisi yang ada di daerahnya tersebut, sebagaimana pendapat Syaikh Qaradhawi tersebut.
Sinergitas sebagai kunci
Salah satu dari tujuan zakat adalah mengentaskan mustahik dari kondisi yang dialaminya. Artinya zakat, selain bersifat karitatif dan stimulus awal, seharusnya juga dibarengi dengan konsep pemberdayaan yang mengubah dari mustahik menjadi muzakki. 
Semangat ini harus menjiwai dari pendayagunaan dana zakat tersebut. Olehnya, dengan pemetaan yang ada, maka akan tergambar secara geografis dan demografis, dari keberadaan mustahik itu. Di sini diperlukan kreatifitas dari LAZ untuk melakukannya. 
Banyak contoh, yang telah dilakukan oleh beberapa LAZ, terkait dengan bagaimana kemandirian mustahik ini di garap. Kendati proyek dan program, dengan berbagai varians-nya sudah banyak diluncurkan. Namun, output dan outcome-nya masih belum memberikan dampak yang signifikan bagi pengentasan kemiskinan di negeri ini. Karena masing-masing LAZ masih berjalan sendiri-sendiri, dengan programnya masing-masing.
Dengan basis pemetaan dan database itu, akan lebih memudahkan bagi LAZ dan juga BAZNAS untuk melakukan proyek dan program ekonomi yang tepat sasaran kepada mustahik. Karena, dari sini akan diperoleh data secara valid potensi dari mustahik. 
Di samping itu diperlukan pola sinergi program pemberdayaan dan kemandirian ekonomi antar LAZ. Dengan pola sinergi antar LAZ, Insya Allah akan meminimalisasi dari kegagalan. Sinergitas ini, sekaligus juga dapat dijadikan dasar dalam menentukan proyek di masing-masing daerah, disesuaikan dengan potensi daerah dan kapasitas mustahik. Demikian juga disesuaikna dengan kontribusi dari masing-masing LAZ. Olehnya, LAZ tidak bisa lagi ego dengan “jualan”programnya masing-masing. Program antar LAZ bisa saling melengkapi dan saling dukung.
Sehingga, dalam konteks pendayagunaan ZIS, maka kemandirian ekonomi harus menjadi salah satu fokus. Tahapan dan perencanaan teknis programnya, bisa disusun bersama. Namun dengan melihat fakta dan pengalaman di atas, maka dapat dikatakan bahwa sinergitas antar LAZ menjadi sebuah kunci. Kita sadar bahwa pengentasan kemiskinan ini sesungguhnya adalah tanggung jawab negara, namun LAZ juga memiliki tugas yang melekat dalam pedayagunaan dana zakat ini. Sehingga, mengantarkan mustahik menjadi muzakki menjadi terwujud. Wallahu A’lam bish Shawab

Tulisan ini di muat di http://m.hidayatullah.com/ramadhan/mutiara-ramadhan/read/2017/06/15/118630/ramadhan-zakat-dan-pengentasan-kemiskinan.html

Posted in Entrepreneurship, Kronik, Peradaban

Ramadhanomic dan Harapan Kebangkitan Ekonomi Umat 



Hidayatullah.com– Bulan Ramadhan yang begitu dinantikan kehadirannya itu kini telah berlalu sepekan lebih. Beberapa fasilitas yang ditawarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, membersamai datangnya sahrul mubarak ini.

Keutamaan Ramadhan, telah menjadi rangsangan bagi setiap orang yang beriman, untuk berlomba-lomba meraih keberkahan di dalamnya.

Ibadah yang memiliki hubungan langsung dengan Allah Subhanahu Wata’ala, bahkan hanya Allah-lah yang tahu berapa reward (pahala) yang layak untuk dilimpahkan kepada hamba-Nya yang berpuasa.

Olehnya, Ramadhan menjadi tempaan bagi yang berpuasa, karena mereka dididik dalam berbagai hal agar mendapatkan output-nya nanti mendapatkan predikat sebagai orang yang bertaqwa.

Namun, Ramadhan bukan hanya berkait dengan ibadah semata. Hadirnya Ramadhan, ternyata dibarengi juga dalam mengubah lifestyle (gaya dan pola hidup) mereka yang berpuasa. Continue reading “Ramadhanomic dan Harapan Kebangkitan Ekonomi Umat “

Posted in Entrepreneurship, Peradaban

Kita Harus Kaya


“Kita harus kaya dan kaya, namun bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana meng-Islamkan peradaban sekarang”.

TIBA-TIBA saya teringat salah satu ceramah Allahuyarham Ustadz Abdullah Said yang dikutip dalam buku Mencetak Kader.

Dalam sebuah kesempatan kuliah malam Jum’at, 25 Maret 1990, beliau menyampaikan bahwa, “Kita harus kaya dan kaya, namun bukan untuk pribadi tetapi untuk lembaga. Karena yang kita pikirkan adalah seluruh dunia, bagaimana meng-Islamkan peradaban sekarang”.

Jika dimaknai dalam konteks ideologis, maka pernyataan tersebut di atas, adalah sebuah doktrin. Yang menuntut para sahabat di sekitar beliau saat itu dan juga generasi sesudahnya yang berpegang teguh pada manhaj yang beliau usung, untuk mengelaborasi lebih jauh, sehingga menjadi salah satu agenda gerakan organisasi.

Pendeknya, kita tidak bisa berlepas begitu saja, dari statement itu. Continue reading “Kita Harus Kaya”

Posted in Entrepreneurship, IT

10 Langkah Memulai Bisnis


Ternyata -dengan kesadaran penuh-, sekian lama nggak meng-update blog tercinta ini :). Bukan untuk sebuah pembelaan atau sekedar mencari kambing hitam, yang tidak tahu dimana sembunyinya. Tetapi, lagi-lagi dengan memvonis kehadiran medsos sebagai penyebabnya, adalah sebuah cara untuk melemparkan masalah, sambil menyadarkan diri, betapa teknologi dengan nyata telah men-drive kehidupan umat manusia. Dan mau tidak mau banyak yang menjadi korbannya, dan dengan lantang saya akui, bahwa sayapun menjadi “korbannya”. Meski jika mau jujur kehadian Medsos, disatu sisi mempermudah komuniskasi secara lebih cepat daninteraktif, namun disisi lain membuat malas untuk menulis. Dan ini, mempertegas temuan yang menyatakan bahwa budaya literasi bangsa ini sangat rendah, menjadi tidak terbantahkan. Dan salah satu hasilnya adalah dua tahun, blog ini merana.

Padahal banyak hal, yang sejatinya pengin sekali untuk di tulis. Namun, seringkali berhenti di draft, dan tidak berlanjut dalam tulisan. Dan sebenarnya ini bertentangan dengan sikap saya yang tertuang dalam materi yang saya sampaikan di pelatihan yang saya ampu, dan melatari ditulisnya tulisan ini. Saya katakan bahwa,”orang yang cerdas itu bukan orang yang memproduksi banyak ide atau gagasan, tetapi orang yang dapat mengeksekusi ide dan gagasan itu di saat dan waktu yang tepat”. Sehingga, Continue reading “10 Langkah Memulai Bisnis”

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, IT

15 tahun Totalindo


Hari ini, ya 29 Juni adalah hari jadinya PT Totalindo Rekayasa Telematika yg ke 15. Jadi pada tanggal yang sama, tahun 2001, perusahaan ini resmi didirikan dengan akte no 5, oleh Notaris Yatin Rufiatina,SH. Tidak ada hiruk pikuk pesta, tidak ada tumpeng yang dipotong, semua berjalan apa adanya. Sebagai flash back, sejak awal, inginnya  perusahaan ini didesain untuk bergerak di bidang ICT,  dengan seluruh turunannya. Namun sebagaimana cerita sebelumnya, bersebab alasan cash flow, sebagai entrepreneur unyu-unyu saat itu, kamipun terjebak dalam bisnis  Palugada (apa lu mau gua ada). Sebuah kondisi yang terpaksa harus kami pilih, agar tetap bisa bernafas dan survive. Dan pola seperti ini, berjalan hampir 5 tahun, sampai kemudian, ketemu fokus, sebagaimana, visi yang kami canangkan sejak awal, sebelum perusahaan berdiri.

Dan hari-hari berikutnya setelah itu, tentu menjadi sebuah perjalanan yang sarat dengan perjuangan air mata (tanpa darah tentunya). Banyak onak-duri dan kesempatan yg datang-pergi berseliweran, menawarkan satu paket keuntungan dan “bahaya” sekaligus dalam satu kemasan. Continue reading “15 tahun Totalindo”

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, IT

15 tahun Totalindo


image

Hari ini, ya 29 Juni adalah hari jadinya PT Totalindo Rekayasa Telematika yg ke 15. Jadi pada tanggal yang sama, tahun 2001, perusahaan ini resmi didirikan dengan akte no 5, oleh Notaris Yatin Rufiatina,SH. Tidak ada hiruk pikuk pesta, tidak ada tumpeng yang dipotong, semua berjalan apa adanya. Sebagai flash back, sejak awal, inginnya  perusahaan ini didesain untuk bergerak di bidang ICT,  dengan seluruh turunannya. Namun sebagaimana cerita sebelumnya, bersebab alasan cash flow, sebagai entrepreneur unyu-unyu saat itu, kamipun terjebak dalam bisnis  Palugada (apa lu mau gua ada). Sebuah kondisi yang terpaksa harus kami pilih, agar tetap bisa bernafas dan survive. Dan pola seperti ini, berjalan hampir 5 tahun, sampai kemudian, ketemu focus, sebagaimana, visi yang kami canangkan.

Dan hari-hari berikutnya setelah itu, tentu menjadi sebuah perjalanan yang sarat dengan perjuangan air mata (tanpa darah tentunya). Banyak onak-duri dan kesempatan yg datang-pergi berseliweran, menawarkan satu paket keuntungan dan “bahaya” sekaligus dalam satu kemasan. Dan kondisi begini memaksa mengaduk-aduk perasaan, menguras energi, memompa adrenalin, dan sederet kisah pilu, yang berkelindan dengan pembelajaran luar biasa, dan sesekali (eh seringkali juga kok) dibalut rasa suka-cita tiada tara. Memang ini sebuah long journey, bisa jadi hal ini juga dirasakan oleh seorang entrepreneur lainnya, dan sebagai entrepreneur, bagi saya justru keadaan seperti itu mengasyikkan sekaligus menyesakkan.

Prestasi dan kegagalan tentu menjadi hal biasa. Karena 2 hal itu, menjadi sebuah keniscayaan, sebagai dua sisi mata uang. Dan bukan entrepreneur namanya kalo tidak di uji dalam berbagai situasi, termasuk dalam keadaan sempit, bahkan terpuruk sekalipun. Oleh karenanya, bukan entrepreneur pula namanya yang mengeluh dan meratapi nasibnya tanpa ada efforts untuk berlepas dari ujian-ujian itu. Sekali lagi, ini bukan soal berapa kali kita jatuh, tapi bagaimana kita bangkit dari keterpurukan itu. Tentu tidak hanya mengandalkan ilmu, logika dan pengalaman saja, namun ratapan dan do’a dikeheningan sepertiga malam terakhir,  kepada Allah SWT sebagai sang maha pemberi solusi, adalah cara cerdas dan kunci utama untuk exit strategy seorang entrepreneur dari problematika yang menghimpitnya.

Long Journey

Selama limabelas tahun perjalanan, tentu bukan masa yang lama, namun bukan juga masa yang pendek. Tergantung darimana kita melihatnya. Namun, yang jelas banyak pelajaran yang di dapat selama rentang waktu itu. Sebuah sekolah bisnis dan kehidupan, yang sulit diperoleh (baca : mustahil) di sekolah/kampus formal manapun juga. Ini semacam Mini MBA, yang kesehariannya selalu dihadapkan pada case study, dengan cara penyelesaiannya, tidak dalam bentuk paper atau tulisan yang di publish di jurnal-jurnal ilmiah, yang dampaknya paling hanya pada nilai atau diterima/ditolaknya paper kita, atau mungkin jadi akumulasi angka kum. Namun, solusinya berdampak langsung terhadap untung/rugi bahkan hidup/matinya perusahaan.

Selama masa itu, kami punya pengalaman mengerjakan pekerjaan dari skala kecil, institusi yang tidak terkenal, sampai pada perusahaan multinational, termasuk lembaga pemerintah baik dari level daerah sampai tingkat pusat. Juga kami sempat mengerjakan proyek di luar negeri.

Demikian juga berkenaan dengan besarnya dan volume serta kompleksitas dan resiko pekerjaannya. Dari yg sederhana, bernilai kecil, dan nyaris tanpa resiko sampai kepada pekerjaan/project yang besar dan rumit/kompleksitas tinggi serta resiko yang besar dan niliai yang cukup besar.
Terkait dengan waktu dan resources yang terlibat, kami berpengalaman menangani pekerjaan/proyek dari yang dikerjakan 1 orang, dengan cara di-remote dan selesai dalam hitungan hari, sampai kepada pekerjaan/project yang melibatkan puluhan bahkan ratusan orang, on site dan multiyears project.
Demikian juga dengan partner dan kolaborasi, kami berpartner dengan institusi/perusahaan lokal sampai multinational corporation. Dari yang untuk common business (Microsoft, Oracle, RedHat, HP, IBM, cisco, Fujitsu,dll), sampai dengan yang special business (solutions), sebut saja kerjasama kami dengan : Iblsoft (Slovakia), Vaisala (Finlandia), Resources Energy Solution (Canada), Altibase (Korea), EnterpriseDB (USA), OpenERP (Belgia), Alfresco (USA) dll.
Sedangkan bidang (industri) yang kami tangani meliputi : government and public service, telecommunications, manufacturing, financial services, oil and gas dll. Begitu pula SDM yang bergabung, juga sebarannya merata, dari PTS terbaik sampai PTN terbaik, ada saja alumninya yang sempat mengikuti tumbuh dan berkembang bersama kami.
Sebuah, Perjalanan panjang yang memberikan pelajaran dan pengalaman berharga luar biasa.

Freezed Company

Ternyata perjalanan panjang tersebut, dengan spektrum yang demikian luas, tidak serta-merta sebagai jaminan sustainabilitas sebuah perusahaan. Ada saja hambatan dan rintangan yang muncul. Dan ada semacam anomali, justru disaat perusahaan sedang tumbuh membesar, disitu muncul problem. Dan biasanya didominasi faktor internal, kalau toh tidak bisa disebut sebagai mismanagement. Tanpa bermaksud menafikan beberapa kejadian yang mewarnau perjalanan,
Saya mencatat ada 2 momentum yang terjadi. Pertama tahun 2006-2008, saat perusahaan sedang tumbuh dengan project yang sabar bagus, justru terjadi disharmony antar share holder. Akibatnya perusahaan pecah, dan terjadi aksi jual saham dan berpindah kepemilikan. Waktu berlangsungnya sampai recovery, kurang lebih perlu waktu 3(th) tahun. Karena selain berpindahnya kepemilikan saham, juga berpindahnya management. Namun setelah itu perusahaan ekspansif dan tumbuh dengan baik.
Kedua, periode 2014-sekarang (2016). Kasusnya hampir sama. Dapat project multiyears sejak 2011-2014, kemudian terjadi problem, pecah kongsi, saham berpindah, manajemen ganti. Solusi dimulai dari downsizing perusahaan, namun nampaknya ini bukan pilihan solusi terbaik. Perusahaan tetap mengalami bleeding. Akhirnya operasi dihentikan, hanya menangani yang captive dan terikat kontrak jangka panjang saja.
Dan kondisi terakhir terpaksa perusahaan dibekukan. Jadi sekarang statusnya jadi Freezed Company atau lebih tepatnya limited operation. Dengan dibekukan, bukan dimatikan, dan dengan operasional terbatas, maka masih terbuka kemungkinan untuk bangkit lagi, jika situasi membaik kedepannya, Insya Allah akan bisa berkompetisi lagi. Selain memang, secara pribadi ada mainan lain yang lebih menantang dan harus saya kerjakan, sebab butuh konsentrasi yang luar biasa.

Titik Balik dan Berkah Ramadhan
Setiap organisasi termasuk perusahaan, mempunyai jalan dan caranya sendiri untuk mature (dewasa). Siklusnyapun, tidak bisa sama persis, antar satu dan lainnya. Pun demikian, cara mengatasi problemnya, tidak bisa generic. Masing-masing memiliki ke-khasan. Tidak ada antalgin yang mampu meredakan “pusing”  setiap perusahaan.
Meskipun belum mampu memprediksi, kapan kebekuan itu akan mencair, saya berkeyakinan bahwa itu akan terjadi. Hanya masalah waktu saja. Dan seperti yang sudah- sudah, disaat dan setelah ramadhan, ada jalan keluar yang tidak terbuka sebelumnya. Ramadhan, sebagai bulan istimewa, selalu membersamai mengerjakan di dalamnya. Dan Insya Allah itu juga akan terjadi Ramadhan kali ini.
Semoga titik balik itu disegerakan. Aamiin.

Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Pendidikan Menderita dalam Family Business


Alasan klasiknya ialah bahwa itu bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak, sehingga tidak tega melihat anaknya bersusah-susah sebagaimana ketika orangtuanya merintis usahanya dulu.

familybusinessAda sebuah nasihat inspiring dari salah satu pengusaha Muslim yang masuk dalam jajaran 50 orang terkaya di Indonesia. Petuah yang cukup bernas itu, disampaikan di dalam salah satu acara di Samarinda, yang kebetulan saya hadir di dalamnya. Nasihat ini, berawal dari keprihatinannya atas tidak berumur panjangnya perusahaan milik pribumi muslim, terutama bisnis keluarga (family business) yang rata-rata mati pada generasi ke-dua, beberapa saat setelah kematian perintisnya. Jarang yang sampai melewati generasi ke-3 dan seterusnya. Artinya generasi berikutnya –anak-cucu-cicit dari pendiri perusahaan- tidak mampu meneruskan usaha yang telah dirintis oleh orang tuanya itu. Hanya beberapa saja yang bisa terus bertahan, berkembang dan bahkan lebih sedikit lagi, yang usahanya jauh lebih baik dari era bapaknya masih mengelola perusahaan itu. Padahal menurut penelitian PwC, bahwa 96% bisnis di Indonesia adalah Family Business. Sementara 60% perusahaan terbuka di Asia Tenggara adalahh perusahaan keluarga, dan pewarisan kepemimpinan merupakan prioritas utama perusahaan. Sehingga kehadiranya, pasti memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Nasional.

Mengapa ini semua terjadi di dalam? Ternyata banyak faktor yang menyebabkannya. Namun yang lebih besar adalah, orang tua sejak dini tidak menyiapkan dengan baik dan matang penggantinya. Semua dilakukan secara alamiah, tanpa perencanaan dan rekayasa yang matang Continue reading “Pendidikan Menderita dalam Family Business”