Bangsa Konsumtif


Dulu, ketika masih SD dan SMP, dipaksa oleh guru IPS/Geografi untuk menghafal bahwa, Indonesia selalu menduduki peringkat 1-2 komoditas, baik hasil pertanian, perkebunan, kehutanan termasuk hasil tambang. Bagaimanapun juga, saat itu negara ini juga mengalami swasembada pangan, di berbagai sektor. Dan data-data tersebut cukup membanggakan sebagai anak bangsa. Menegaskan bahwa negara ini, memang gemah ripah lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo, tukul tan sarwo tinandur dst. Dan mengkomfirmasi apa yang jadi syair lagu Koes Plus, tongkat dan kayu jadi tanaman.

Tetapi meski demikian hebatnya, sejak setelah merdeka, hingga saat ini, bangsa ini masih belum mampu untuk memproduksi kebutuhannya sendiri. Jika itu terkait dengan kebutuhan sekunder dan tersier, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun jika berkait dengan kebutuhan primer (pokok), maka pasti ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini. Mari kita lihat, sumberdaya alam sangat melimpah dinegeri ini. Tetapi anehnya dari tahun ke tahun selalu saja negeri ini mengekspor bahan mentah ke luar negeri. Ada sedikit perbaikan dengan mengekspor bahan setengah jadi, Continue reading

Advertisements

Mentor


Dalam perkembangan bisnis modern, jika seseorang ingin membangun bisnis rintisan (start-up), agar terjadi akselerasi yang signifikan. Maka Entrepreneur tersebut, mesti didampingi seorang Mentor. Dan selanjutnya, banyak contoh sukses yang mempertegas sekaligus membuktikan kebenaran tesis tersebut. Dalam bahasa lain, mentor yang juga sering disebut, dengan Coach. Meski ada perbedaan mendasar antara Mentor dan Coach. Namun dalam konteks ini kita samakan.

Menurut KBBI, mentor/men·tor/ /méntor/ n pembimbing atau pengasuh (biasanya untuk mahasiswa): tiap mahasiswa diberi seorang –. Artinya, secara spesifik mentor itu, merupakan pembimbing atau pengasuh mahasiswa, selama kuliah. Namun kini telah memiliki perluasan makna, dan dikaitkan dengan bisnis. Semangatnya sama, meski implementasi berbeda. Intinya Continue reading

Kembali ke Khiththah


Bersyukur, siang tadi, bakda sholat Jum’at, mendapat kesempatan langka. Didahului makan siang bersama, dengan menu spesial nasi kebuli. Disantap secara lesehan disebuah ruangan. Dimana jajaran direksi bersama manajemen puncak, berbaur dalam suasana yang hangat dan akrab. 

Saya cukup menikmatinya. Baik hidangannya, maupun environment yang dibangun dan di bentuk oleh sang nahkoda, yang baru 2 bulan menjabat itu. Nampak tak berjarak. Berhimpun dalam joke-joke segar, tetapi serius, berisi dan berbobot. Continue reading

Produsen Muslim


Dalam berbagai kesempatan, termasuk di blog ini, sudah sering saya sampaikan hasil pengamatan langsung, mendengar ceramah ikut seminar dan lain sebagainya. Bahwa produk yang menguasai pasaran Indonesia saat ini, banyak yang dihasilkan oleh non muslim. Bahkan itu banyak dari perusahaan MNC, yang membuat pabrik disini, kemudian merebut pasar muslim. Dan, tidak sedikit dari produsen itu, yang di golongkan sebagai penyokong zionis yahudi. Terapi kita tetep membelinya. Dus artinya secara tidak langsung kita jadi pendukungnya pula. Sebab keuntungan dari produk yang kita beli, menjadi donasi ke Israel, dan bisa jadi peluru yang menembus, para mujahid disana berasal dari keuntungan barang yang kita beli itu. Na’udzu biLlahi minta dzalik.

Data dilapangan menyebutkan bahwa, tidak kurang dari 70% dari barang yang di jual diritel modern, atau warung-warung kecil itu berasal dari perusahaan Unilever, P&G, indofood, wing food, netsle, dlsb. Mereka menguasai pasar sampai ke jalur distribusinya. Bahkan dengan ketersediaan barang yang dibatasi serta term of payment yang semakin mepet Continue reading

Narasi Besar


Tidak ada pemimpin besar dunia, yang tidak membersamai dirinya dengan narasi besar. Sebut saja nama mereka yang dalam catatan sejarah sebagai orang besar, pasti membersamainya adalah narasi besar. Baik tertulis, ucapan yang disampaikan, dan torehan sejarah yang dilakukan. Sebab dari situ, seseorang bisa dinilai dan diketahui visinya. Bahkan bisa di tebak apa bacaannya, apa isi kepalanya, dengan siapa bergaul dan lain sebagainya.

Tidak ada pemimpin besar, yang dalam perjalanan hidupnya yang tidak akrab dengan ilmu. Jika ternyata kita jumpai model pemimpin yang tidak akrab dengan ilmu, maka bisa dipastikan mereka pemimpin KW, pemimpin palsu, bahkan bisa jadi sekedar pemimpin boneka. Dia menjadi pemimpin karena ditugaskan dan seterusnya. Dan demokrasi, memfasilitasi hadirnya model tanpa narasi. Tetapi dibesarkan oleh media, dan juga hasil pencitraan. Continue reading

On Time



Salah satu habits yang kemudian menjadi brand orang Indonesia adalah jam karet. Artinya, jika berjanji, gampang sekali tidak tepat waktu, sehingga “molor” seperti karet. Dan biasanya sangat mudah mencari alasan atas keterlambatannya itu. Bahkan seringkali menjadi permakluman dan pembenaran, jika tepat waktu. Trade merk yang tidak baik ini, dengan terpaksa kita telan. Sesuatu yang sebenarnya cukup menjengkelkan dan menyebalkan. Tetapi begitulah keseharian yang kita jumpai. Kita seringkali menjumpai, jika janji jam 08.00, maka, biasa datang jam 08.30,atau jam 09.00, bahkan bisa lebih. Dan ini dianggap biasa saja.

Pernah suatu saat, beberapa tahun lalu saya ada appointment dengan seorang Entrepreneur. Dan bersebab macet, akhirnya saya terlambat, lebih dari satu jam. Saat ketemu saya minta maaf dan seperti biasa, dengan alasan klise, saya menyampaikan bahwa keterlambatan karena jalan macet parah. Namun, jawabnya enteng. Continue reading

Politics is Business


Terilhami oleh comments seorang sahabat atas status Fb saya, ketika membahas tentang kebijakan impor beras yang menurut saya menjadi bagian dari liberalnya politik di Indonesia. Saya tulis, ketika politik jadi komoditas, petani jadi korban, tengkulak untung, birokrat dapat komisi. Atas status itu, dia menyampaikan pesan yang sangat singkat. Tetapi jelas dan lugas. Dia bilang, jika dulu business is business, dan politic is politic, kini berubah politics is business. Saya rasa ini pernyataan yang benar, meski sarkastik. Dan pernyataan ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi momentumnya tepat.

Pernyataan itu, menjadi benar saat mencium aroma transaksional yang sangat menyengat dan praktiknnya jelas di depan mata. Terutama, saat penentuan calon kepala daerah, dalam pilkada serentak tahun ini. Kita saksikan, bagaimana partai dijadikan kendaraan untuk maju sebagai calon eksekutif, dan hal sama juga saat penentuan calon legislatif. Terlebih di Pilkada kali ini, carut marut dengan jelas dipertontonkan. Kita bisa lihat bagaimana partai saling comot orang. Tidak pandang bulu, dia kader atau bukan. Mengerti platform, visi, misi, program partai atau tidak. Yang penting “layak” dijual, Continue reading