Dakwah, Leadership, Peradaban, Tarbiyah, teknologi

Ketika Pakar Tak Berpengaruh Lagi


IDEApers

Saat ini, kejadian apapun juga, akan melahirkan pengamat dan ahli baru. Di mana sebenarnya secara akademis dan jejak digitalnya, orang tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan yang linear untuk itu. Namun, seolah dia yang paling tahu segalanya : Politik, Ekonomi, Sosial, Agama, dlsb . Dan anehnya, memang setiap kejadian dengan berlainan topik, bisa dengan cepat meresponnya. Hal yang terbaru adalah ketidaksamaan penetapan 1 Dzulhijjah 1443 H, yang berimbas pada pelaksanaan Sholat Idul Adha.

Sebenarnya hal itu  (orang memiliki banyak ilmu), dulu menjadi sesuatu yang  biasa dan wajar, bahkan  melekat langsung pada seorang berilmu. Namun kemudian berubah setelah keilmuan dibagi menjadi lebih dispesifikasikan dalam berbagai batasan yang kaku, dan mengerangkengnya. Dan semakin kesini, semakin lebih spesifik lagi. Sekularisasi keilmuan menjadi penyebabnya.

Mengapa demikian? Sebab, sebagaimana dalam berbagai referensi, maka banyak sarjana Muslim di abad pertengahan, memerankan peranan ini. Ketika Barat menamakan dirinya dalam Dark Age, maka ilmuwan Islam berada dalam era Golden Age. Para sarjana Muslim itu, menemukan dan merumuskan serta mempraktekkan berbagai jenis keilmuan. Pada saat yang sama, seolah mereka menjadi eksiklopedi berjalan, dengan berbagai multidisiplin keilmuannya itu. Hal ini, apa yang kemudian oleh Barat di sebut sebagai polymath (polimatik). Yaitu seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang keilmuan. Continue reading “Ketika Pakar Tak Berpengaruh Lagi”

Covid, ekonomi, teknologi

Jangan Naik Pesawat, Harga Tiket Menggila


tempo

Sejak menjelang lebaran bulan April lalu, harga tiket pesawat terus merangkak naik. Saya kira karena sedang musim mudik, sehingga terjadi demand tinggi, sedangkan supply sedikit, akibatnya harga naik. Sebagaimana layaknya hukum ekonomi standar terkait permintaan dan penawaran. Apalagi kala itu, mudik relatif diberikan kemudahan dan kelonggaran, setelah dua tahun banyak yang menahan diri untuk tidak mudik, karena pandemi yang merajalela kala itu, sehingga permintaan benar-benar tinggi.

Ternyata dugaan saya salah. Sebab hingga saat ini, harga masih melambung tinggi. Bahkan untuk pesan beberapa bulan ke depan, berlaku hal yang sama, harga tetap tinggi. Saat saya pesan tiket untuk anak yang sedang sekolah di Ma’had Al Azhar-Kairo, untuk balik ke Indonesia, ternyata dari semua aplikasi travel online, menunjukkan harga yang seragam. Tiket penerbangan internasional, naik tiga kali lipat, bahkan lebih. Padahal sudah pilih paket promo. Demikian pula ternyata tarif penerbangan domestik, meski harganya tidak “segila” penerbangan internasional, tetapi tetap ganti harga.

Karena penasaran, searcing cari informasi. Itulah kemudahan di era digital saat ini. Selain itu, kebetulan punya grup WA, yang salah satu anggotanya adalah kawan yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan. Saya tanya, mengapa harga tiket pesawat naiknya tinggi sekali? Dia menjawab, saat ini harga avtur menggila, perang Rusia – Ukraina jadi penyebab utamanya. Sekarang setiap airline lagi mencoba program fuel efficiency. Menghitung ulang pemakaian fuel disetiap penerbangan dan membuat perhitungan yang tepat untuk setiap route penerbangan. Intinya supaya tidak jadi pemborosan fuel. Jika datanya lengkap, maka akan menggunakan system berbasis Artificial Intelligence, agar lebih presisi.

Teman lain menimpali harga minyak memang lagi gila sekarang, kemudian dibumbui, banyak permintaan crude oil, batu bara dari luar, yang jualin malah orang Malaysia, resourcenya dari Indonesia. Ini ironis, tetapi faktanya demikian. Kondisi seperti ini akan terjadi hingga kebijakan green energy di sudahi. Meskipun berdasarkan pendapat berbagai pengamat dan pelaku bisnis wisata, sulit diprediksi kapan berakhirnya.

Penyebab Naiknya Harga Tiket Pesawat

Realitas di atas terkonfirmasi, dari laporang tempo. Menurut Tempo tersebut, setidaknya ada lima faktor yang membuat harga tiket pesawat melonjak:

google : grafik harga minyak dunia beberapa tahun

Pertama, Kenaikan harga bahan bakar pesawat

Kenaikan harga bahan bakar avtur tentu masuk dalam penghitungan harga tiket di setiap jasa penerbangan. Belum lagi biaya ground handling, navigasi, dan lalu lintas udara.

Kedua, Kalkulasi bisnis maskapai

Sejumlah maskapai memiliki kalkulasi bisnis untuk tetap bertahan di masa panemi Covid-19. Salah satunya dengan menurunkan kapasitas, baik dari jumlah pesawat yang beroperasi dan membatasi jumlah kursi yang tersedia.  Di sisi lain, terjadi peningkatan kebutuhan jasa penerbangan yang kemudian menjadi tidak seimbang dengan penawaran. Hal ini karena situasi di mana jumlah permintaan lebih besar daripada penawaran, akibatnya terjadi kenaikan harga produk/jasa tersebut.

Ketiga, Penyesuaian kondisi

Sejumlah maskapai membutuhkan waktu untuk bangkit kembali, terutama setelah sempat menganggur karena tidak beroperasi selama pandemi Covid-19. Maskapai harus menghitung masa menganggur ini dengan ongkos perbaikan armada dan penyesuaian lainnya. Ditambah selama pandemi Covid-19, banyak pilot, pramugari, ground handler, dan staf penerbangan kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut belum memungkinkan bagi maskapai untuk memaksimalkan kegiatan operasional sesuai permintaan pasar.

Keempat, Pertimbangan jumlah armada dan kursi yang tersedia

Dengan berkurangnya jumlah pesawat yang beroperasi mengakibatkan pemesanan kursi penumpang yang lebih sedikit. Jika maskapai tetap menjual tiket dengan harga normal, maka belum tentu cukup untuk memenuhi biaya pemulihan.

Kelima, Kebijakan pemerintah

Khusus penerbangan domestik, Kementerian Perhubungan mengizinkan maskapai menetapkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar kepada konsumen mulai 18 April 2022.

Sehingga hal ini juga akan berpengaruh pula terhadap biaya umrah, haji serta wisata halalpun sudah bisa dipredikasi bakal melonjak naik pula. Dan bisa pula akan diikuti dengan naiknya harga komoditas lain, jika kenaikan harga minyak internasional tidak turun juga.

Melihat fakta di atas, nampaknya kita perlu menahan diri untuk tidak bepergian (terutama menggunakan pesawat) di saat harga melangit seperti saat ini, jika memang tidak penting sekali. Menunda hingga harga turun serta normal kembali merupakan tindakan yang bijaksana. Selanjutnya sabar menanti menunggu harga, sebagaimana sebelum adanya lonjakan itu. Kapan itu? Ya sulit di prediksi?.

ekonomi, entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, iptek, IT, organisasi, teknologi

Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia Dan Tantangan Digitalisasi


Ada sebuah hasi penelitian yang cukup baik bertajuk Indonesian E-commerce Consumer Behaviour (Perilaku Konsumen E-commerce Indonesia) yang dikeluarkan oleh Kredivo bekerjasama dengan Katadata Insigt Center. Laporannya masih gress, baru di rilis pada bulan Juni 2022 ini. Membedah dari berbagai aspek  berkenaan dengan perilaku konsumen, terutama terkait dengan memberikan wawasan terbaru mengenai perilaku konsumen e-commerce Indonesia melalui pendekatan bottom up yang berdasarkan data primer.

Sebagaimana kita ketahi bahwa industri e-commerce yang merupakan penggerak utama ekonomi digital Indonesia, dari tahun ke tahun terus berkembang pesat. Laporan ini membahas perilaku konsumen secara lebih mendalam, mulai dari profil demografi konsumen yang berbelanja online hingga jenis-jenis produk yang dibeli. Selain itu, juga membahas lebih dalam frekuensi transaksi berdasarkan waktu untuk menganalisis pola perilaku tertentu dari konsumen dalam berbelanja online.

Laporan ini dibagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama meneliti perilaku belanja online dari konsumen menggunakan sampel pengguna Kredivo yang melakukan transaksi e-commerce. Bagian kedua mengukur perilaku pembayaran konsumen dalam berbelanja online dan penggunaan PayLater secara khusus di tengah pandemi yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Continue reading “Perilaku Konsumen e-Commerce Indonesia Dan Tantangan Digitalisasi”

iptek, IT, Peradaban, teknologi

Kematian Internet Explorer


Raksasa teknologi Microsoft telah “menyuntik mati” browser web Internet Explorer (IE)-nya pada hari Rabu 15/6/2022 kemarin . “E” biru dan putih di mana-mana, terkadang menampilkan pita emas, akan menghilang dari komputer di seluruh dunia, dan internet — setidaknya beberapa di antaranya — sedang berkabung.  Browser yang dulunya dominan dan legendaris itu, sangat disukai oleh banyak peselancar web. Setelah berusia 27 tahun sebagai teman bagi pengguna internet, lantas dimatikan. IE akan bergabung mengikuti pendahulunya seperti : Netscape Navigator, BlackBerry, modem dial-up, dan Palm Pilots dll, selanjutnya menjadi sampah sejarah teknologi.

Banyak pengguna internet  yang bernostalgia tentang browser web legendaris ini, yang diluncurkan pada tahun 1995 dan dominan selama bertahun-tahun. Di mana masa-masa itu akses internet masih dilakukan dengan dial-up.  Koneksi internet yang dihubungkan dengan telepon kabel (wireline), jauh sebelum ada wireless, FTTH, broadband, dlsb, sebagaimana yang kita kenal saat ino. Dalam konteks ini, maka kematian IE bukanlah kejutan. Sebab, setahun yang lalu, Microsoft sudah mewacanakan dan mengatakan bahwa mereka akan mengakhiri Internet Explorer pada 15 Juni 2022. Dan janji itu ditepati, tanpa lebih dan kurang. Continue reading “Kematian Internet Explorer”

Islam, Politik., teknologi

Wahai Buzzer Bertobatlah


Buzzer menurut wikipedia adalah perangkat pensinyalan audio, yang bekerja secara mekanis, elektromekanis, atau piezoelektrik (disingkat piezo). Sedangkan menurut kamus webster diartikan sebagai perangkat sinyal listrik yang mengeluarkan suara mendengung. Intinya buzzer adalah pengingat.

Tetapi pada perkembangannya, ketika media sosial mulai masif dimanfaatkan sebagai channel komunikasi pemasaran maka istilah buzzer ini dipergunakan untuk komunikasi pemasaran sebuah produk, jasa, sampai kemudian komunikasi “pemasaran” di bidang politik. Dari sini, seringkali orang susah memberakan antara buzzer dengan influencer.

Buzzer lebih berfokus pada penggiringan opini secara masif, tanpa dasaran yang kuat. Sedangkan influencer memiliki cara tersendiri untuk mengamplifikasi pesan ke masyarakat. Mereka biasanya dikenal memiliki keahlian di sebuah bidang atau artis dan publik figur yang kapasitas dan jejak digitalnya bisa ditelusuri. Ini membuat suaranya lebih layak didengar oleh publik dibandingkan buzzer di dunia politik. Continue reading “Wahai Buzzer Bertobatlah”