Digital Nomads


Dalam kesempatan berbeda, beberapa kali saya diskusi dengan anak-anak saya dan juga dengan para kemenakan. Mereka semua generasi milenial. Ada yang sudah nikah, ada yang masih singel. Ada yang sudah lulus kuliah, sedang kuliah dan generasi Z yang masih duduk di bangku SMA. Saya sebenarnya ingin menyelami persepsi mereka tentang banyak hal, tentang kehidupan beragama, tentang perpolitikan, tentang posisi generasi milenial sendiri, tetutama tentang achievementapa yang ingin mereka capai termasuk pilihan profesinya ke depan.

Saya biasanya mendongeng berbagai hal, berkenaan pemahaman dan pengalaman saya sebagai generasi X, yang mencoba sok tahu tentang milenial, yaitu generasi Y, Z dan sesudahnya. Seperti biasa alur ceritanya seringkali mengejutkan. Kadang serius dengan deretan teori dan data, lalu dilanjutkan dengan realitas kekinian dan prediksi ke depan. Dengan sok sebagai futurolog, tentu dengan memaparkan berbagai forecasting yang nampak ilmiah. Saat bicara agama, juga selalu dibarengi dengan dalil naqli dan aqli. Kemudian di kontekstualkan dengan kondisi kekinian. Jadi menjadi sajian paket komplet. Dilain pihak seringkali tanpa diduga, ditikungan cerita bisa disisipi joke, sehingga bisa bergelak bersama.

Singkat cerita, tiba saatnya sebagaimana biasa, saya bercerita tentang bagaimana cara kerja generasi milenial. Saya bilang ada kawanku yang menyediakanco-working space. Dimana kita bisa “ngantor” tanpa kontrak kerja disitu. Dengan cara sewa per-jam, dapat 1 kursi + meja yang digunakan bersama, colokan listrik, koneksi internet (WiFi), biasanya juga ada food courts dan lain suasana mendukung lainnya. Intinya saat memakai tempat itu, tidak ada ikatan yang membatasi, kecuali aturan yang ada di co-working spaceitu, antara penyewa dan pengguna.

Saat masih asyik berceloteh, tiba-tiba pembicaraan saya di potong oleh kemenakan yang baru re-signdari start-upasing dan diterima di salah satu unicornIndonesia. Meski masih muda, dia banyak malang melintang sebagai engineer, diberbagai tempat start-up. Dari yang masihcockroach, ponieshingga yang unicorn. Sebelumnya dia juga pernah bekerja di salah satu unicorn dalam negeri yang CEO nya sempat bikin heboh itu, dan sekarang dia pindah ke unicorn lainnya. “Co-working hanya salah satu media, masih ada yang lain.” Katanya. “Anak muda sekarang memang jarang yang mau terikat dalam sebuah ikatan kerja dalam satu tempat, dan bekerja dalam time base. Yang, dibatasi oleh jam datang dan jam pulang. Atau bahkan, berapa jam bekerja dalam sehari. Mereka bisa bekerja dimana saja dan kapan saja” Imbuhnya. “Kami juga tidak nyaman bekerja dalam kantor “kubikal”. Itu model pembelengguan kreatifitas. Kami mau kerja sesuka kami. Kami memilih bekerja, dengan target base. Namun semuanya harus dalam kontrak yang jelas dan terukur. Kami juga bisa bekerja by remote. Berikan saja target kerja, kapan pekerjaan dimulai, dan kapan harus selesai. Tentukan semuarequirement dan outputyang dikehendaki, maka In Shaa Allahakan kami selesaikan, bahkan sebelum tenggat waktu yang disepakati berakhir. Tetapi nggak usah nanya, dimana dan kapan kami kerjakan. Tetapkan saja hari H dan dimana serta dengan media apa hasil kerja/proyek harus kami setorkan pekerjaan itu.” terangnya.

Itulah yang namanya digital nomad. Laku seperti ini, bukan hanya untuk orang IT. Tetapi hampir semua profesi sesungguhnya akan mengarah kesini. Arsitek, designer grafis, psikolog, akuntan dlsb, menikmati dan sekaligus menjadi pelaku digital nomadini. Tentu ada profesi tertentu yang tidak bisa diberlakukan seperti ini. Namun, tetap saja, kecenderungan generasi milenial, mengarah ke digital nomadini. Disitu juga terjadi interaksi, bahkan sinergi dan kemudian terjadi kolaborasi untuk membangun start-up dan lain sebagainya. Banyak projectsyang bisa di create. Mereka terbiasa multi tasking. Mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu-satuan waktu. Sehingga hasil kerjanya seringkali melebihi ekspektasi dan pencapaian yang biasa dilakukan oleh generasi X, apalagi generasi baby boomers. Jangan selalu dijudge, bahwa milenial itu identik dengan a-sosial. Sebenarnya kami hanya butuh eksis. Kira-kira jika di jabarkan dengan bahasa tulis, begitulah paparannya.

Saya manggut-manggut, sambil jariku menari memencet tombol gadgetlangsung searchingdi internet, dan dapat penjelasan dari Wikipedia, begini,Digital nomads are a type of people who use telecommunications technologies to earn a living and, more generally, conduct their life in a nomadic manner. Such workers often work remotely from foreign countries, coffee shops,public libraries, co-working spaces, or recreational vehicles. This is often accomplished through the use of devices that have wireless Internet capabilities such as smartphones or mobile hotspots.”

Ah, kini memang sudah era Revolusi Industri 4.0 bahkan menjelang Revolusi Industri 5.0, sementara Jepang melalui PM Shinzo Abe juga menjadikan Society 5.0, sebagai platform pembangunan Jepang. Indonesia saat ini mengalami bonus demografi. Dimana generasi milenial adalah penentunya. Mereka jumlahnya terus meningkat, saat ini mendekati 50% dari populasi penduduk. Mereka adalah connecting generation. Generasi yang saling terhubung. Sehingga kehadiran teknologi informasi, komunikasi, gadget, listrik, dekat dengan food courtsdlsb, menjadi sesuatu yang melekat dengan dinamika kaum milenial. Kebanyakan kita seringkali lupa, bahwa perubahan itulah yang kekal. Akan terus dinamis. Bahkan cenderung revolusioner. Bukan mengikuti deret hitung, namun deret ukur. Bukan linear, namun eksponensial dlsb. Sementara, tanpa kita sadari, mindsetkita masih terpenjara dengan melihat kerja, sebagai paradigma lama. Sehingga kini saatnya perubahan itu harus dilakukan. Dan ternyata harus dimulai dari diri kita. Siapapun kita, berapapun usia kita, dan apapun profesi kita. 

Selamat memasuki dunia milenial, digital nomads.

Depok, 25/02/2019

Advertisements

Bacalah


Saya seringkali mendapat berbagai jenis infografis, dari media sosial tentang bagaimana posisi berbagai negara dalam hal literasi. Melihat data yang diolah dalam bentuk infografis yang sebenarnya menarik tersebut, tetap saja menunjukkan bahwa data yang ditampilkan adalah sebuah kenyataan yang mengecewakan. Terutama jika dikaitkan dengan keberadaan Indonesia dalam infografis tersebut. Yaitu sebuah data yang menunjukkan tingkat literasi bangsa ini sangat rendah, dibanding dengan berbagai negara lain. Dari 61 Negara yang di survey, Indonesia berada pada urutan ke 60. Satu tingkat di bawah Botswana. Negeri miskin di benua Afrika itu. Meski telah diulas beberapa kali, dari berbagai sudut dan oleh banyak penulis yang membahas tentang literasi ini. Namun bagi saya, topik dan bahasan tentang ini seolah tidak ada bosannya untuk di ulas. Sebagainama kita ketahui, literasi adalahkemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Selanjutnya kita perlu mengkaji, mengapa urutan 1 sampai 5, di dominasi oleh negara-negara Skandinavia. Secara berurutan dapat dilihat sebagai berikut : 1) Finlandia, 2) Norwegia, 3) Islandia, 4) Denmark, 5) Swedia. Kok, bukan negara-negara Islam misalnya. Padahal, wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW, di gua Hira adalah Surat Al Alaq 1-5, yang diawali dari Bacalah!. Sebuah fiil amr(kata kerja perintah). Konsekwensinya, membaca adalah sebuah kewajiban. Membaca dalam arti yang luas. Tidak hanya membaca teks, namun juga konteks. Bukan hanya yang tersurat, namun yang tersurat, dan seterusnya. Mafhum mukhalafahnya, seharusnya Umat Islam, menjadi pioneerdalam “membaca” dan turunannya, sebagaimana tuntutan dari literasi itu sendiri. Dan sebagai mayoritas negeri ini, maka seharusnya bangsa ini, literasinya juga dalam ranking tertinggi. Mengapa justru negara-negara Skandinavia, yang terkenal dengan viking-nya itu, yang mendominasi sebagai negara-negara “pemakan” buku terbanyak?

Apa yang sebenarnya terjadi di dunia Islam? Mengapa juga negara-negara Timur Tengah (Arab) juga tidak menempati peringkat tertinggi dalam literasi? Padahal, menurut Fahmi Khatib dalam bukunya The Lost of History, menyebutkan bahwa, pada abad pertengahan, Islam menjadi pusat Ilmu. pusat teknologi dan lebih dari itu adalah pusat peradaban. Dimana, saat itu bangsa Eropa, berbondong-bondong ke Turki dan negara Timur Tengah lainnya, untuk belajar iptek dan berbagai jenis ilmu yang sedang tumbuh subur di dunia Islam. Pada saat itu, bukan dinamakan seorang cendekiawan/intelektual jika tidak bisa berbahasa Arab. Bersebab, semua sumber ilmu pengetahuan adalah berbahasa Arab. Termasuk berbagai ilmu pengetahuan berbahasa Yunani, semua tersedia dan diterjemahkan dalam berbahasa Arab. Artinya saat itu negara-negara Islam sudah barang tentu unggul dalam literasi. Membaca dan menulis dalam satu paket.

Belum lagi jika kita membaca bagaimana Baitul Hikmah, sebuah perpustakaan tersebar dalam sejarah Islam saat Khalifah Al Makmum. Dimana koleksi bukunya jutaan judul. Dan saat itu bagaimana seorang khalifah menghargai penulis buku, dengan memberi imbalan tulisannya dengan emas, yang ditimbang seberat buku/tulisan yang dikarangnya. Artinya betapa Islam menjunjung tinggi dan sangat menghargai ilmu pengetahuan. Hal-hal di atas bukan untuk membanggakan masa lalu, tetapi bagaimana kita melihat masa keemasan Islam, disaat Barat sedang Dark Ageitu adalah fakta. Dan mengapa seolah kini menjadi sebaliknya? Faktanya, Islam nampak jauh tertinggal diberbagai aspek kehidupan. Selanjutnya kita berusaha untuk menjawabnya secara ideologis paradigmatik.

Jika saat ini literasi umat Islam tertinggal dengan Barat, tentu ada something wrongatau bisa jadi semacam missing link dari sumber ke-islaman. Sebab dalam perkembangannya terjadi ketidaklinearan dengan realitas. Dan ini hampir terjadi disemua aspek kehidupan. Pasti ada yang salah. Saya meyakini, bukan ajarannya yang salah, tetapi penganutnya yang bermasalah. Meski banyak sudah bahasan tentang ini, namun salah interpretasi umat ini yang harus diperbaiki, secara revolusioner. Jika tidak, akan semakin jauh tertinggal.

Jalan Keluar

Al Islamu mahjubul bil muslimin. (ajaran) Islam itu tertutupi oleh perilaku kaum muslimin. Begitu pendapat Syaikh Muhammad Abduh. Sedangkan Syaikh Syakib Arsyalan dengan bahasa lain menyatakan bahwa, kaum Yahudi dan Nasrani maju karena meninggalkan kitab sucinya, sementara umat Islam tertinggal karena meninggalkan al-Qur’an.

Dengan demikian maka, kata kuncinya adalah umat Islam harus meluruskannya pemahaman tentang ajaran Islam yang benar. Dan salah satu kuncinya adalah kembali ke al-Qur’an. Pertanyaannya kemudian adalah, mana ajaran Islam yang benar dan bagaimana cara kembali ke al-Qur’an.

Sudah barang tentu pertanyaan diatas bisa berjilid-jilid jawabnya. Dan menjadi diskusi berjilid-jilid yang menarik. Karena banyak sudut pandang dan pendekatan yang bisa ditawarkan. Namun secara ringkas bisa di simpulkan begini, jadikah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Hadits Nabi sebagai petunjuk teknis. Sirah Nabi sebagai panduan operasional. Kehidupan sahabat, tabiin, tabiut tabiin, sebagai benchmarking, masa kekhalifahan hinga kini sebagai referensi. Dan dikontekstualkan serta diimplementasikan dalam kehidupan sekarang dan masa depan, berdasarkan panduan tersebut di atas. Dengan demikian insya Allah, al Islamu ya’lu wala yu’la alaihi(Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya) akan terwujud disemua aspek kehidupan. Termasuk masalah literasi ini.

Wallahu a’lam

Batu, 2019

Revolusi Industri 4.0 : Ancaman atau Peluang ?


The Forth Industrial Revolution by Klaus Schwab

RRevolusi Industri 4.0 saat ini banyak menjadi topik pembicaraan. Dikalangan akademisi dan dunia industri, termasuk lembaga konsultan, sebenarnya sudah ramai diperbincangkan sejak munculnya buku The Forth Industrial Revolution oleh Klaus Schwab tahun 2015.  Dan olehnya, ditingkat internasional, duskursus dikalangan akademisi dan juga para cerdik pandai mewarnai tulisan, artikel, jurnal, seminar simposium dan sejenisnya.

Untuk Indonesia, beberapa tahun belakangan ini, juga mulai mewarnai perbincangan publik. Bahkan kementerian perindustrian sudah membuat booklet dengan judul Making Indonesia 4.0, yang berisi antisipasi menghadapi Revolusi Industri 4.0 di atas. Demikian juga hampir disemua Perguruan Tinggi juga membuat acara diskusi dan seminar tentang ini. Termasuk tulisan-tulisan ilmiah di jurnal dan juga media masa. Singkatnya, kesadaran akan peluang dan tantangan Revolusi Industri 4.0, telah menjadi milik publik. Ini positif, ditengah hiruk pikuknya tahun politik, yang memang berisik itu. Apalagi setelah debat pilpres semalam 🙂

Dari Revolusi Industri 1.0 hingga 4.0

Gambar di atas, menjelaskan tentang bagaimana revolusi industri 1.0 hingga revolusi industri 4.0 berlangsung. Banyak tulisan yang mengupas tentang itu, namun disini saya sisipkan tuliskan ringkas, untuk menjelaskan bagaimana revolusi industri berlangsung hingga kini. Penjelasan ini saya sadur darihttp://himasif.ilkom.unej.ac.id/2018/05/26/perbedaan-revolusi-industri-1-0-4-0/

Industri 1.0

Pada tahun 1800-an, mesin mesin bertenaga air dan uap dikembangkan untuk membantu para pekerja. Seiring dengan meningkatnya kemampuan prooduuksi, bisnis juga tumbuh dari pemilik usaha perorangan yang mengurus sendiri bisnisnya dan atau meminta bantuan tetangganya sebagai pekerja.

Industri 2.0

Pada awal abad ke-20, listrik menjadi sumber utama kekuasaan. Penggunaan listrik lebih efektif dari pada tenaga uap atau air karena produksi difokuskan ke satu mesin. Akhirnya mesin dirancang dengan sumber daya mereka sendiri, membuatnya lebih portebel.

Dalam periode ini juga melihat perkembangan sejumlah program managemen yang memunginkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas manufaktur. Pembagian kerja, dimana setiap pekerja melakukan sebagian dari pekerjaan total, meningkatkan prduktivitas. Produksi barang secara masal menggunakan jalur perakitan menjadi hal biasa. Insinyur mekanik amerika frederick taylor memperkenalkan pendekatan untuk mempelajari pekerjaan guna mengoptimalkan metode pekerja dan tempat kerja Terakhir, prinsip manufaktur yang tepat waktu dan ramping semakin memperhalus cara perusahaan manufaktur dapat meningkatkan kualitas dan output mereka.

Industri 3.0

Dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20, penemuan dan pembuatan perangkat elektronik, seperti transistor dan, kemudian, chip sirkuit terintegrasi, memungkinkan untuk lebih mengotomatisasi mesin-mesin individual untuk melengkapi atau mengganti operator. Periode ini juga melahirkan pengembangan sistem perangkat lunak untuk memanfaatkan perangkat keras elektronik. Sistem terintegrasi, seperti perencanaan kebutuhan material, digantikan oleh alat perencanaan sumber daya perusahaan yang memungkinkan manusia untuk merencanakan, menjadwalkan, dan melacak arus produk melalui pabrik. Tekanan untuk mengurangi biaya menyebabkan banyak produsen memindahkan komponen dan operasi perakitan ke negara-negara berbiaya rendah. Perpanjangan dispersi geografis menghasilkan formalisasi konsep manajemen rantai pasokan.

Industri 4.0

Pada abad 21, Industri 4.0 menghubungkan Internet Of Things (IOT) dengan teknik manufaktur untuk memungkinkan sistem berbagi informasi, menganalisanya, dan menggunakannya untuk memandu tindakan cerdas. Ini juga menggabungkan teknologi mutakhir termasuk manufaktur aditif, robotika, kecerdasan buatan dan teknologi kognitif lainnya, material canggih, dan augmented reality, menurut artikel “Industri 4.0 dan Ekosistem Manufaktur” oleh Deloitte University Press.

Perkembangan teknologi baru telah menjadi pendorong utama pergerakan ke Industry 4.0. Beberapa program yang pertama kali dikembangkan pada tahap akhir abad ke-20, seperti sistem eksekusi manufaktur, kontrol lantai toko dan manajemen siklus hidup produk, merupakan konsep berpandangan jauh ke depan yang tidak memiliki teknologi yang dibutuhkan untuk membuat implementasi lengkapnya menjadi mungkin. Sekarang, Industri 4.0 dapat membantu program-program ini mencapai potensi penuh mereka.

Tentang Revolusi Industri 4.0

Menurut Wikipedia, sebagaimana definisi dari World Economic Forum,Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah kondisi pada abad ke-21 ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi. Revolusi ini ditandai dengan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligent), robot, blockchain, teknologi nano, komputer kuantum, bioteknologi, Internet of Things, percetakan 3D, dan kendaraan tanpa awak.

Sebagaimana revolusi terdahulu, revolusi industri keempat berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia. Namun, kemajuan di bidang otomatisasi dan kecerdasan buatan telah menimbulkan kekhawatiran bahwa mesin-mesin suatu hari akan mengambil alih pekerjaan manusia. Selain itu, revolusi-revolusi sebelumnya masih dapat menghasilkan lapangan kerja baru untuk menggantikan pekerjaan yang diambilalih oleh mesin, sementara kali ini kemajuan kecerdasan buatan dan otomatisasi dapat menggantikan tenaga kerja manusia secara keseluruhan.

Sedangkan Menurut KlausSchwab, Revolusi Industri 4.0 meliputi : (Schwab,2015)

  1. Argumentasi: Kecepatan, keluasan dan kedalaman, dampak sistemik (terhadap negara, masyarakat, industri, danperusahaan).
  2. Dampak sistemik: ketimpangan sebagai tantangan terbesar.
  3. Megatrend: Fisik (kendaraan tanpa pengemudi, mesin cetak 3D, advanced robotics, dan material baru), digital, biologis.
  4. Tipping point dari Industri 4.0 diperkirakan terjadi pada tahun 2025.

Dampak Revolusi Industri 4.0

Menurut Schwab lagiada Lima Klaster Dampak Industri 4.0 (Schwab, 2015)

  1. Ekonomi – Pertumbuhan, Pekerjaan, Sifat Kerja
  2. Bisnis – Ekspektasi Konsumen, Produk dengan Data yang Lebih Baik, Inovasi Kolaboratif, Model Operasi Baru
  3. Hubungan Nasional-Global – Pemerintahan; Negara, Region dan Kota; Keamanan Internasional
  4. Masyarakat – Ketimpangan dan Kelas Menengah, Komunitas
  5. Individu – Identitas, Moralitas dan Etika;  Koneksi Antar-Manusia, Pengelolaan informasi publik dan privat

Kita tidak pernah tahu, dan belum diprediksi berapa lama Revolusi Industri 4.0 ini mendeterminasi kehidupan. Memicu terjadinya perubahan Peradaban. Dan, apa lagi yang akan terjadi ke depan. Yang jelas para futurolog akan terus melakukan pemikiran dan penelitian untuk melakukan forecasting dan prediksi masa depan. Yang jelas, perubahan Itu akan semakin cepat. Dan siapapun yang tidak beradaptasi (melakukan perubahan), bakal tergilas oleh waktu. Nampaknya sunnatullah (hukum alam) akan berlaku demikian.

Kendatipun demikian, kondisi seperti ini, paling tidak bagi kita dan bagi dunia, akan mengalami dampak langsung maupun tidak langsung. Dari beberapa pendapat para pakar, saya mencatat sebagai berikut :

  1. Percepatan Pengembangan industri dan ekonomi
  2. Berubahnya Sistem pendidikan dan pengembangan bakat
  3. Bergesernya peran Manusia, terjadi Kolaborasi dengan robot dan AI 
  4. Pasar kerja: pekerjaan diciptakan dan pekerjaan menghilang; kenaikan pekerjaan sesuai permintaan
  5. Pelebaran kesenjangan ekonomi dan pembagian pendapatan 
  6. Kompleks-nya Sistem regulasi
  7. Investasi global yang semakin masif
  8. Berubahnya pola hubunganmasyarakat dan manusia
  9. Arti pekerjaan dan kebutuhan penghasilan dasar 
  10. Penciptaan manusia super
  11. Pengetahuan meta tentang kecerdasan buatan, dst

Ancaman atau Peluang ?

Dari penjelasan di atas, maka dampak yang terjadi bagi kita dan dunia tersebut, sesungguhnya tantangan yang mesti di jawab saat ini dan dimasa mendatang. Jika sekali lagi, kita tidak mau digilas oleh hadirnya Revolusi Industri 4.0 ini, maka perubahan paradigmatik dan sistemik itu harus dimulai dari sekarang, bukan menunggu nanti, ketika semua sudah booming. Ketika itu terjadi, maka kita akan menjadi penonton bahkan lebih dari itu, kita akan jadi obyek penderita.

Negara, harus hadir untuk mempersiapkan semua ini dengan serius. Demikian juga perguruan tinggi sebagai penyokong hadirnya SDM yang kapabel. Demikian juga masyarakat semuanya, meski preparesejak dini. Perubahan itu kini akan terus terjadi. Cepat atau lambat. Adalah sebuah keniscayaan menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini. Jika mereka yang kerdil dan pesimis, maka melihat ini menjadi sebuah ancaman yang menakutkan. Namun bagi mereka yang optimis dan petarung, semua yang ada dihadapan ini adalah peluang sekaligus tantangan. Pertanyaannya, dimana Kita ambil posisi sekarang?

Wallahu a’lam

Depok. 17/02/2019

Berapa Usia Ideal Membangun Start-Up ?


Flat male age icon set, from young to old. EPS 10. RGB

Salah satu pertanyaan yang seringkali diajukan ke saya dari berbagai kalangan, termasuk anak saya adalah, kapan waktu yang tepat untuk memulai membangun Start-Up. Di umur berapa dan dalam situasi seperti apa sebaiknya dimulai. Atau pertanyaan sejenis dengan itu. Dan seperti biasa, banyak jawaban dengan berbagai macam argumen untuk menjawab itu. Dan kerapkali diikuti pula dengan spekulasi jawaban yang maksudnya untuk memperjelas, namun yang terjadi malah bias. Karena tidak menjawab substansi pertanyaan dengan pasti. Saya seringkali menjawab dengan pernyataan bahwa tidak ada ketentuan pasti usia berapa sebaiknya memulai usaha. Semua tergantung niat dan kesiapan masing-masing dalam memulai usaha. Sebuah jawaban klise dan nampak serampangan,  sebab  tanpa dibarengi dengan data sebagai pendukung yang memadai.

Mungkin jawaban tersebut sesaat bisa “memenangkan” penanya, namun sebenarnya tidak menjawab persoalan. Dan hal itu pada gilirannya membuat saya juga menjadi gelisah dalam hal yang sama. Dan akhirnya menjadi pertanyaan besar pula bagi saya.

Sampai kemudian saya menemukan sebuah infografis, yang di posting oleh akun twitter-nya World Economic Forum (WEF), yang kebetulan saya mem-follow-nya. Ternyata infografis itu merupakan simpulan hasil penelitian dari Harvard Business Review (HBR). Disitulah letak jawaban yang ilmiah dan otoritatif dari institusi yang kredibel di dapat. Sekaligus untuk menjadi jalan keluar atas pertanyaan di atas, dengan tepat.

Penjelasan tentang hal ini dapat dilihat sebagaimana dalam gambar (info grafis) di bawah ini.

Dari gambar tersebut di atas paling tidak menjelaskan bahwa berapa usia pendiri start-up,  dan bagaimana tingkat pertumbuhan serta keberhasilan disetiap jenjang umur. Dan ternyata yang memiliki tingkat pertumbuhan dan keberhasilan tertinggi, adalah start-up yang didirikan oleh mereka yang berumur 45 tahun. 

Secara lebih rinci penjelasannya adalah sebagai betikut : 

  • ‌Ada sekitar 15 persen usia 29 tahun kebawah mendirikan start-up, namun hanya 10% yang mengalami pertumbuhan dengan baik.
  • ‌Sekitar 29% dari usia 30-39 tahun yang membangun start-up, namun sekitar 27% yang berhasil.
  • ‌Sekitar 30 % usia 40-49 tahun membangun start-up, dan 33% mengalami highest-growth start-up
  • ‌Pada kelompok usia 50-60 tahun ada sekitar 20% yang membangun start-up, dan sekitar 23 % mengalami pertumbuhan dengan baik. 
  • ‌Sedangkan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 5% yang membangun start-up dan 5% pula yang berhasil tumbuh dengan baik.

Dari data tersebut sesungguhnya membenarkan jawaban saya di atas, bahwa tidak ada batasan di usia berapa sebaiknya membangun start-up. Faktanya, di semua umur, tetap ada potensi berhasil dan gagal. Namun, probabilitas terbesar adalah di usia 40-49 tahun. 

Saya menduga, mengapa di usia tersebut tingkat keberhasilannya tinggi. Menurut paling tidak disebabkan oleh beberapa hal ini :

  • Business Experience
  • ‌Managerial Skill
  • ‌Networking
  • ‌Risk Calculated

Kendatipun demikian, apapun alasannya itu, poin yang ingin saya sampaikan adalah, ternyata tidak ada istilah terlalu cepat atau terlalu muda dalam membangun start-up, sebagaimana juga, tidak ada istilah terlambat atau terlalu tua dalam memulai membangun start-up. Karena sekali lagi, setiap usia ada potensi masing-masing. Sehingga saya dan Anda memiliki kesempatan yang sama, untuk berhasil dan gagal.

Dengan demikian maka,  tidak harus juga menunggu datangnya momentum. Namun, mari kita ciptakan momentum itu, berapapun umur Kita. Dan ini yang menjadi alasan, mengapa saya selalu optimis dan tahun depan Saya ingin membangun start-up lagi. Sebab beberapa hari lagi akan ganti tahun, dan saat itu, usia masih berada dalam parameter interval dengan tingkat keberhasilan membangun start-up tertinggi.  Jadi tunggu apa lagi, Ayo bangun start-up, sekarang juga. Bareng saya 🙂 

Bismillah

Mawasangka, 29 Desember 2018

UMKM (harus) Melawan


Belum juga buku saya beredar. Dimana dalam sub judul buku itu jelas pesannnya, yaitu : Saatnya Menjadi Tuan di Negeri Sendiri. Dan itu jugamenjadi salah satu judul tulisan dalam bagian 3, Membangun Ekonomi Negeri. Dengan  sangat hati-hati dan berbasis data, saya coba urai, tentang ketimpangan yang terjadi. Dan secara empirik, diperoleh fakta, bahwa betapa lemahnya pribumi untuk mampu berdiri tegak di negeri sendiri. Dan dibeberapa bab juga saya sampaikan tetang ketimpangan ekonomi, dan lain sebagainya. Secara ekonomi, kebijakan ekonomi negeri ini belum berpihak kepada yang kecil, masih menjadi penyokong pemilik modal. 

Disaat saya sedangmengajak membangun kesadaran sebagaimana tersebut di atas, ironisnya, beberapa hari ini kita dikagetkan dan disibukkan dengan diluncurkannya Paket Kebijakan Ekonomi XVI, beririsan dengan berita adanya kebijakan 54 Industri (bidang usaha), dimana asing boleh menguasai kepemilikan 100% saham. Saya rasa ini kontradiktif dengan ajaan saya, di buku itu. Seharusnya negara melindungi warga negaranya dalam bentuk proteksi terhadap pengusahanya. Apalagi dalam kebijakan itu, investasi asing boleh menyasar bisnis yang selama ini menjadi garapan UMKM. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin negara, membuat kebijakan untuk “mengahibisi dan menghancurkan” UMKM di negeri sendiri, dengan regulasi yang “gila” ini. Padahal, selama ini, UMKM adalah sektor padat kerja, artinya banyak tenaga kerja yang terserap di sektor ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa UMKM, sesungguhnya menjadi benteng pengaman dalam mengurangi pengangguran. Ini bukan sekedar dongeng, namun ini fakta. Bagaimana kemudian Negara membuat kebijakan yang menselisihi urusan rakyatnya. 

Tidak jelas skema kebijakan yang di ambil pemerintah saat ini. Apakah Ada yang menyetir? Apakah ada kepentingan asing yang melatarbelakangi? Sehingga memicu reaksi dari beberapa pihak. Dalam sebuah twit-nya, mantan Menko Ekuin Rizal Ramli misalnya, berkata,” Presiden @jokowi, Mohon kebijakan yg sangat merugikan rakyat ini dibatalkan. Sama sekali tidak ada roh Trisakti dan Nawacita-nya.  Kok tega2nya ladang bisnis untuk rakyat, UKM, mau diberikan 100% sama asing ? Ini kampanye yg buruk sekali”.Saya sendiru tidak tahu, dan tidak mau mereka-reka dan berandai-andai, tentang semua itu. Yang jelas, kebijakan yang dimabil itu memaksa UMKM untuk bertarung bebas dengan pemain asing. Alih-alih memberikan perlindungan & kemudahan,  justru yang didapati adalah mencelakakan UKMK. Sadar atau tidak. Apalagi, berbagai bentuk subsidi sudah di cabut sebelumnya. Sehingga jangankan untuk lebih kompetitif, untuk sekedar survive aja, pelaku UMKM saat ini terasa berat. Belum ada rilis resmi tentang ini memang, tetapi fakta dilapangan mengkonfirmasi bahwa, kawan-kawan saya para pengusaha (terutama UMKM) mengeluhkan keadaan saat ini. Dan tidak sedikit dari mereka yang kemudian gulung tikar, atau minimal mem-freezed usahanya sampai batas yang belum jelas. Dan diantara mereka, kemudian beralih profesi, beralih kwadran menjadi karyawan, dlsb. Karena tuntutan untuk menghidupi rumah tangga, dlsb. 

Dengan kata lain, UMKM itu sebenarnya telah dilucuti kekuatannya, kemudian pada saat yang sama, dihadirkan musuh dengan kemampuan super, untuk diadu. Secara logika, maka UMKM akan nyungsep, alias kalah. Meskipun saya tetap meyakini hukum alam sebagaimana yang berlaku pada kisah David Vs Goliath alias Nabi Daud meski bertubuh kecil mampu memenangkan melawan Jalut yang bertubuh raksasa, sehingga secara fisik lebih kuat. Hanya dengan sebuah ketapel. Namun ada kata kuncinya disitu, yaitu BiidzniLlah. Atas ijin Allah. Dengan demikian maka, Meskipun kebijakan itu jelas serampangan, namun sebagai rakyat telah terbiasa dalam ujian kesabaran seperti. Atau dalam bahasa muslim yang optimis, ini adalah wahana bagi Kita untuk bisa menemukan “ketapel” dengan berbagai pendekatan stategi out of the box. Disaat yang sama, juka semakin mendekatkan diri kepada sang Khaliq, agar mampu meraih “simpati” dan mendapatkan BiidzniLlah itu. Saya memang berharap hal seperti ini terjadi. Sehingga kekuatan pribumi, kekuatan UMKM ini tidak dipandang sebelah mata. 

UKMK itu bukan tidak mau berkompetisi. Juga  bukan berarti UMKM itu manja. Atau UKMK itu takut, atau nahkan anti asing. Sekalilagi tidak. Problemnya bukan disitu. UMKM sebenarnya, dibeberapa sektor sudah cukup mampu untuk bersaing. UMKM hanya ingin ada regulai yang fair. Apalagi, jika ada regulasi yang memproteksi UMKM. Jangan sampai, seolah UMKM malah diikat, lalu didatangkan lawan yang tidak sepadan, untuk bertanding. Ini namanya tidak adil, alias dzolim. 

Saya melihat pelaku UMKM, termasuk start-up, saat ini sedang giat dan ekstra keras berusaha “naik kelas”, agar berkompetisi secara global. Tidak sedikit yang sudah berhasil, baik sebagai pelaku global atau menggaet investor asing. Mereka secara mandiri membentuk kelompok-kelompok, asosiasi dlsb, untuk saling menguatkan. Maju bersama, mengangkat martabat bangsa, melalui bisnis. Namun, jika kebijakan tersebut (yang tidak pro UMKM) diterapkan, bisa jadi akan berpengaruh terhadap perkembangan UMKM. Mereka tidak akan naik kelas. Bisa jadi tinggal kelas, atau bahkan keluar dari arena itu. Karena seharusnya tugas Negara dalah mendidik, membimbing, menguatkan UMKM dari berbagai aspek, lalu memfasilitasi dengan mengantarkan UMKM go global. Mampu bersaing di kancah internasional.

Atas fakta dan data di atas, maka tidak ada kalimat yang pantas selain LAWAN, terkait kebijakan yang ada. Kita tidak bisa membiarkan kesewenangan terhadap UMKM terjadi. Harus ada rencana yang terukur, agar UMKM benar-benar mampu menjadi Tuan di Negeri Sendiri. Agar, anak-anak muda, generasi milenial, bersemangat untuk membangun start-up, membangun UMKM. Sehingga, pegiat UMKM bisa melakukan berbagai hal sebai berikut. 

Pertama,menuntut negara untuk membatalkan beleid yang tak memihak UMKM itu, sebagaimana yang telah disampaikan Pak RR di atas.

Kedua, memperkuat UMKM diberbagai sektor agar memiliki competitive advantage dan comparative advantage. Serta mendorong UMKM untuk terus melakukan inovasi, sehingga daya saingnya meningkat. 

Ketiga,menuntut negara untuk memproteksi UMKM, dengan aturan yang sifatnya affirmative policy sehingga mengantarkan UMKM menjadi Tuan di negeri sendiri.

Keempat,jika 3 (tiga) hal tersebut tidak dipenuhi, kita hukum pemerintah sekarang dengan tidak memilih lagi di Pilpres tahun depan, alias #2019GantiPresiden. Karena pemerintah sudah terbukti tidak mampu mensejahterakan UMKM, serta tidakmembuat regulasi yang berpihak ke UMKM.

Wallahu a’lam

ID 6258, 19/11/2018

CGK-BPN 

Kehilangan Pahlawan


Hari ini 10 Nopember. Oleh bangsa ini diperingati sebagai hari Pahlawan. Sebagai wujud penghormatan atas perlawanan arek-arek Surabaya yang gugur, sebagai syuhada dalam perang yang dahsyat di kota itu. Sebuah perlawanan yang di dorong sebagai jihad fi sabilillah. Setelah adanya resolusi jihad 22 Oktober 1945, dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, sebagai Rais Akbar NU, saat itu. Bahwa melawan tentara NICA (The Netherlands Indies Civil Administration) yang diboncengi kepentingan Belanda, yang ingin menjajah kembali Indonesia, dan Rakyat yang berperang untuk mempertahankan kemerdekaan adalah jihad, dan siapapun yang gugur dalam pertempuran itu adalah Syahid. Alasan ini yang mendorong Sutomo, memimpin perlawanan dengan sangat  hebat. “Andai tidak ada takbir, saya tidak tahu, bagaimana membakar semangat pemuda-pemuda saat itu.” begitu penjelasan Bung  Tomo, mengambarkan suasana batin  saat itu  Dan  hal itu terbukti, bahwa dengan takbir yang di teriakkannya, baik melalui RRI maupun saat memimpin perlawanan, mampu memotivasi sekaligus, memberi energi perlawanan pemuda-pemuda Surabaya itu. Allahu Akbar, Allahu Akbar, menjadi tidak hanya sumber perlawanan, tetapi energi kemenangan sekaligus. Sehingga, 2 Jenderal NICA, mati dalam pertempuran itu. Sebuah korban besar, yang menjadi pukulan berat bagi Belanda.

Bung Tomo, mampu menyatukan antara nasionalisme dan Islam. Bukan sesuatu yang dipetentangkan. Bukan hal Yang harus diperhadapkan secara diametral.
Takbir, bukan hanya dijadikan simbol, namun menjadi elemen penting dalam aksi nyata. Bersenyawa dalam satu paket untuk merajut tenun kebangsaan dalam sebuah kekuatan perjuangan. Namun disisi lain, ada cerita yang menarik, yang luput dari cerita heroik itu. Bahwa dalam rombongan NICA itu ada Gurkha, yaitu pasukan bayaran dari India. Ternyata sebagian dari tentara Gurkha itu ada yang Muslim, dan olehnya tidak mau berperang melawan sesama muslimin Indonesia. Apalagi saat mendengar pekik Allahu Akbar, dalam pertempuran itu. Sebuah fragmentasi sejarah yang Indah. Continue reading “Kehilangan Pahlawan”

Membangun Start-Up (lagi)


Seolah tiada kapoknya. Bagi sebagian entrepreneur, membangunstart-upadalah sebuah habbits. Bukan masalah serakah, tamak, loba atau tidak puas dengan raihan yang dicapai dan sejenisnya. Tetapi keterpanggilan jiwa, sebagai manifestasi dari keingingan untuk selalu berkarya dan memberikan yang terbaik, lebih dominan yang melatarinya. Idealnya memang, dalam membangun sebuah perusahaan rintisan itu adalah setelah di didirikan, di rawat dulu, hingga menjadi perusahaan yang survive, berkembang, besar,sustainserta berpengaruh hingga IPO dan menjadi perusahaan publik (terbuka). Dan sudah barang tentu memberikan profit yang maksimal bagi share holders. Baru kemudian dikembangkan. Itu, cara kerja otak kiri katanya. Cara kerja otak kanan beda. Sebab dalam membangun bisnis, seringkali tidak linear, tetapi eksponensia. Bukan deret hitung, namun deret ukur, dan seterusnya. Sehingga, syukur-syukur start-upyang dibangun bisa mencapai derajat unicorn. Sebuah tahapan ideal bagi start-up, yang seringkali di ukur dengan valuasinya yang mencapai 1 juta dollar atau dalam kisaran 15 triliun rupiah dalam kurs hari ini. Dan parameter prestasi seperti itu, biasanya yang menjadi motivasi & impian hampir setiap start-up.Meskipun kenyataannya, dalam membangun start-upitu, tidak bisa dikaitkan langsung dengan sukses dan gagalnya bisnis sebelumnya.

Mengapa demikian? Sebab, tidak selamanya gambaran ideal itu, dapat diraih oleh semua start-up. Hanya sedikit yang bisa mencapai derajat itu. Alih-alih bisa sampai tingkatan unicorn. Untuk berkembang dan survivesaja, kerap kali sulit untuk diraih. Akibatnya, Continue reading “Membangun Start-Up (lagi)”