Pray For Palestine


Yahudi Laknatullah kembali berulah lagi. Kekejaman bangsa kera itu, dilakukan malam hari di bulan Ramadhan. Selepas berbuka, di saat umat Islam sedang melakukan shalat tarawih di masjid Al Aqsa. Penjajah itu,  mengerahkan polisinya untuk melepaskan tembakan peluru karet dan granat kejut ke warga Palestina yang tengah melaksanakan ibadah salat tarawih di komplek Masjid Al-Aqsa pada Jumat (7/5) malam. Kekerasan ini sudah berlangsung selama satu pekan di Kota Suci dan Tepi Barat. Kita dapat saksikan dan lihat diberbagai media yang mempublikasikannya.

Sedikitnya, hingga hari sabtu 8/5, tercatat ada 205 warga Palestina dan 17 petugas terluka dalam bentrokan malam hari di situs paling suci ketiga Islam dan di sekitar Yerusalem Timur. Petugas medis pontang-panting mengurusi kurban di saat polisi Israel membabi buta dan menggila, menghajar penduduk Palestina yang sedang khusyuk beribadah itu.

Salah satu alasan yang ramai di publik disebutkan bahwa, kekerasan ini terjadi akibat kebijakan Israel yang melarang Muslim masuk ke dalam Kota Tua selama bulan suci Ramadhan. Pihak berwenang Israel juga meminta sejumlah keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka untuk memberi ruang bagi pemukim Israel.

Padahal permasalahan utamanya adalah bermula saat Israel tidak hanya menyuruh pindah warga Palestina, akan tetapimerebut dan menduduki tanah milik warga Palestina di daerah Sheikh Jarrah, dengan cara mengusir pemilik tanah air yang syah atas pemukiman tersebut. Sengketa ini sudah terjadi bertahun-tahun. Awal tahun ini, sebuah pengadilan distrik di Yerusalem memutuskan bahwa rumah-rumah itu legal milik keluarga Yahudi. Padahal kenyataannya adalah sebaliknya, sejatinya Yahudi biadab itulah yang merampas dengan kekerasan.

Pengadilan penjajah pasti membela rakyat Israel itu. Mereka mengklaim bahwa pembelian tanah  itu dilakukan beberapa dekade lalu. Padahal pembelian itu dilakukan secara illegal, akibat pengusiran dan pendudukan. Sehingga keluarga-keluarga Palestina yang berada di Sheikh Jarrah, memberi bukti atas kepemilikan tanah tersebut, bahwa rumah mereka diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam. Akan tetapi, denga jumawa penjajah Israel tidak mengakuinya.

Menanggapi kejadian ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga buka suara. Melansir AFP ia menyebut Israel sebagai negara teroris. “Israel, negara teroris yang kejam, menyerang Muslim di Yerusalem dengan cara yang biadab tanpa etika,” kata Erdogan.

Sementara itu Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh mengirim pesan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan kepadanya “jangan bermain-main dengan api.” “Ini adalah perjuangan yang tidak dapat dimenangkan oleh Anda, tentara Anda, polisi Anda, dan seluruh negara. Kami akan mempertahankan Yerusalem apa pun pengorbanan yang harus kami lakukan,” ujar Haniyeh, yang dikutip dari lapor Ynet.

Demikian halnya dengan badan-badan Arab di seluruh Timur Tengah secara luas mengutuk kekerasan polisi Israel selama bentrokan dengan jemaah di Masjid Al-Aqsa pada Jumat (7/5/2021), seperti yang dilansir dari The Jerusalem Post pada Sabtu (8/5/2021).

Di Indonesia MUI dan Ormas-ormas Islam mengutuk keras serangan Penjajah Israel terhadap umat Islam yang sedang melaksanakan sholat tarawih tersebut. Dslam keterangan pers-nya, MUI menyatakan “Langkah empati dan konstruktif ini juga bisa dilakukan oleh negara negara Uni Eropa dan lain lain. Secara bersama-sama negara negara ini bisa melakukan tekanan internasional terhadap Israel melalui PBB. Jika diperlukan, Israel diberi sanksi internasional.”

Namun secara resmi pemerintah Indonesia, setidaknya hingga hari ini belum mengeluarkan pernyataan sikapnya. Mungkin sedang sibuk mengurusi Bipang Ambawang yang kini sedang menjadi viral tersebut.

Padahal, seharusnya Pemerintah RI, berada pada garda terdepan ketika melihat penjajahan yang biadab seperti ini. Sebagai wujud pelaksanaan pembukaan UUD ’45 pada alinea pertama,”Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Bangsa Pembohong

Israel sebagai bangsa penjajah, sekaligus bangsa yang bengis dan pembohong. Selalu ingin menang sendiri. Tidak pernah menepati janji. Setiap kebijakan maupun perjanjian yang telah disepakati, bakal diingkari dan dikhianati. Hal ini berlangsung terus-menerus dan mengulang-ulang. Anehnya bangs aini masih saja bisa eksis. Memang sebenarnya jika umat yakin, sebenarnya tinggal tunggu waktu atas kehancuran Israel ini.

Terkait dengan sikap bangsa Israel ini, al Qur’an telah banyak memberikan petunjuk, bagaimana kemurkaan Allah terhadap Yahudi ini :

فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ} [البقرة : 90]

“Karena itu mereka (Yahudi) mendapat murka di atas kemurkaan (yang mereka dapatkan sebelumnya). Dan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” [Al-Baqarah : 90]

Sehingga relevan juga untuk mengutip pernyataan Adolf Hitler mengenai Yahudi tersebut. Dia bilang sebagai berikut :“Ich konnte all die Juden inua dieser Welt zu zerstören, aber ich lasse ein wenig drehte-on,so können Sie herausfinden, warum ich sie getötet” (Bisa saja saya musnahkan semua Yahudi di dunia ini, tapi saya sisakan sedikit yang hidup, agar kamu nantinya dapat mengetahui mengapa saya membunuh mereka)

Kekejaman demi kekejaman, kebiadaban demi kebiadapan terus berlangsung terhadap saudara muslim kita di Palestina. Semua yang dilakukan itu tanpa adanya peri kemanusiaan sama sekali. Dan pelanggaran HAM berat sesungguhnya nyata terjadi disitu. Tetapi, ketika menghadapi Yahudi dan yang menimpa Umat Islam, sekelas PBB pun melempem, tidak ada suaranya yang berarti. Jika ada suaranyapun tidak dihiraukan oleh Bangsa Penjajah itu. Dengan pongah, Bangsa yahudi itu melanggar. Dan tetap tidak kena sanksi.

Sehingga, semakin hari penderitaan rakyat Palestina semakoin memilukan. Bahkan mereka terusir dari tanah airnya sendiri. Terkait dengan itu pernyataan Recep Tayib Erdogan ini, patiut direnungkan “Anda tidak perlu menjadi muslim untuk membela palestina, cukup menjadi manusia.” Begitulah statemen Presiden Turki yang menggambarkan, wujud soidaritas tidak hanya sebatas solidasitas sesame muslim, akan tetapi solidaritas antar umat manusia.

Tetapi kita yakin bahwa Palestina, Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis, akan Kembali ke pangkuan umat Islam, cepat atau lambat. Sebagaimana Umar bin Khaththab dan Shalahuddin Al-Ayyubi merebut Baitul Maqdis dari kaum kafir. In Syaa Allah hal itupun pasti akan terjadi. Semua berpuloang kepada kualitas iman dan kepemimpinan umat Islam.

Mumpung masih di penghujung bulan Ramadhan, do’a terbaik wajib kita panjatkan untuk saudara-saudara kita di Palestina, di waktu-waktu mustajabah. Terutama di witir saat qiyamul lail dengan melantunkan Qunut Nazillah. Disamping itu bantuan kemanusiaan juga wajib kita salurkan melalui lembaga resmi yang memiliki reputasi yang baik terhadap bantuan kepada muslim Palestina.

Terakhir, mari kita renungkan Surat Ali Imran : 112 ini

{ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ} [آل عمران : 112]

Telah ditimpakan kepada mereka (Yahudi) kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah serta ditimpakan kepada mereka kerendahan. Yang demikian itu (yakni: ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu (yakni: kekafiran dan pembunuhan atas para nabi-nabi) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” [Ali ‘Imran : 112]

Semoga Allah hancurkan Yahudi Laknatullah tersebut, dan memenagkan Islam. Sebagaimana cara Umar bin Khaththab dan Salahuddin Al Ayubi, mengembalikan Al Aqsa dan Baitul Maqdis ke pangkuan Islam. Tidak bisa dengan diplomasi dan menunggu belas kasihan dari penjajah. Harus ada perlawanan, jihad fi sabilillah. Wallahu A’lam

Kerja, Kerja, Kerja


Ada sebuah pekerjaan yang harus dikerjakan pagi tadi, disela-sela i’tikaf. Yang memaksa untuk kembali ke laptop, dan meninggalkan “kekhusyukan” beri’tikaf. Kemudian membawa untuk merenungi tentang konsep kerja itu sendiri. Dan melahirkan berbagai pertanayaan tentang ap asih kerja itu? Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun berkerja di berbagai bidang, namun seringkali pertanyaan mendasar seperti ini tidak terjawab dengan tuntas. Sebab kita terjebak dalam aktifitas yang praktis dan prakmatis saja. Tidak sempat untuk menelisik substansi filosofisnya.

Dalam  Islam, menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki yang halal dan thoyyib dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bahkan bekerja dengan benar sesuai tuntutan Islam, ditempatkan setara dengan para mujahid fi sabilillah. Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (profesional atau ahli). Barang siapa bersusah-payah (bekerja) mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah ‘Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

Menurut KBBI kerja /ker·ja / 1 n kegiatan melakukan sesuatu; yang dilakukan (diperbuat): — nya makan dan minum saja; 2 n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian: selama lima tahun — nya berdagang; 3 n perayaan yang berhubungan dengan perkawinan, khitanan, dan sebagainya; pesta perjamuan: — nikah akan dilaksanakan pada tanggal 10 Syawal; 4 n cak pekerjaan: menguli adalah — yang memerlukan tenaga fisik; 5 v cak bekerja: hari ini ia tidak — karena sakit;

Kemudian bagaimana kerja dengan baik? Banyak referensi yang bisa kita jadikan acuan untuk menjawab ini. Namun dalam kesempatan ini, saya menggunakan pendekatan yang dilakukan oleh Pak Anies Baswedan. Dalam beberapa kesempatan, Gubernur DKI ini memberikan panduan praktis bagaimana seharusnya kita bekerja, untuk meenghasilkan sebuah pekerjaan yang terstruktur, terukur dlsb. Meskipun, konteks pembicaraan beliau adalah berkenaan dengan tata kelola pemerintahan, akan tetapi apa yang beliau sampaikan itu, sesungguhnya juga sangat relevan dengan aktifitas kehidupan keseharian kita.

Konsep sederhana yang beliau sampaikan adalah, untuk mengerjakan suatu pekerjaan/proyek, jangan langsung kerja, kerja, kerja saja. Memang Just do it itu bagus, akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan proses perencanaan yang matang, maka hasil yang didapatkan, bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Berpotensi adanya deviasi yang besar antara target dan realisasi. Atau bisa jadi pekerjaannya gagal, bahkan bisa menjadi  useless (mangkrak) alias tidak berguna. Maka yang terjadi adalah bongkar pasang dan tambal di tengah di tengah jalan. Dan ini akan berakibat costly. Terjadi pemborosan, baik dari aspek waktu maupun biaya, dlsb.

Sebenarnya, statement beliau itu sudah cukup lama. Dan sering berulang. Sehingga “memaksa” saya untuk berfikir dan merenunginya. Ndilalah, saat berselancar di youtube, melihat sebuah acara di ILC, beberapa tahun lalu. Kemudian saya perhatikan dan renungkan. Secara singkat saya berkesimpulan bahwa apa yang beliau sampaikan itu benar adanya. Memang, saya faham, bahwa sebagian besar cara berfikir kita adalah, yang namanya bekerja itu adalah yang langsung kelihatan hasilnya. Alias hanya kerja fisik. Yang outputnya di ukur dari bentuk barang yang kasat mata. Dari gedung pencakar langit, tol langit dan seterusnya.

Gagasan – Narasi – Karya

Konsep kerja yang beliau sampaikan itu direduksi dalam tiga tahapan. Ide/Gagasan – Narasi – Kerja. Yaitu bahwa setiap kerja itu harus dimulai dari gagasan. Artinya harus ada ide yang melatar belakangi. Di cari dulu root cause-nya. Inti masalahnya apa. Jika sudah ketemu dan dirumuskan inti masalahnya, maka akan diketahui juga hubungannya dengan bidang/sector lain. Sehingga, tidak ada sebuah pekerjaan itu yang berdiri sendiri, dia dependent dengan kerja lainnya.

Selanjutnya, setelah ide/gagasan terdefinisikan dengan baik, maka langkah berikutnya adalah membuat narasi. Yaitu sebuah penjelesan yang komplit berkenaan dengan pekerjaan/proyek yang akan dilakukan ini. Bentuknya bisa bermacam-macam. Dari Term of Reference, Feasibility Study, atau Rencana/Program Kerja. Dengan adanya narasi maka, akan tahu apa pekerjaannya, siapa yang melakukan dan bertanggung jawab, kapan mulai dan berakhuir, dimana pekerjaan itu dilakukan, bagaimana cara mengerjakannya, berapa biayanya dlsb. Sehingga dari sini menjadi panduan yang komplit, sebagai guidelines untuk melakukan tahapan berikutnya.

Kemudian setelah narasi sudah jadi yang dapat berupa berbagai model itu (bisa juga pakai Business Model Canvas, dan tools lainnya), maka mesasuki tahapan implementasi. Disinilah karya itu akan dilakukan, dengan panduan proses sebelumnya. Sehingga hasil yang diharapkan dan dikerjakan itu, akan meminimalisir deviasi antara target dan realisasi. Disisi lain, mesti juga ada feed back yang berfungsi untuk mengoreksi selama berkarya itu. Tidak harus menunggu selesai pekerjaan baru dilakukan evaluasi untuk memberikan feed back, tetapi ditengah-tengah aktifitas juga bisa dilakukan. Dengan demikian maka, jika ada potensi penyimpangan, bisa segera diluruskan sedini mungkin.

Bahwa kemudian ada juga KPI (Key Performance Indicators) dalam setiap tahapan, itu bisa dilakukan, sebagai alat ukur baik dari kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga semua kerja itu terukur dari sisi target, output dan outcome nya. Dari sini selanjutnya juga akan kelihatan saling keterhubungan satu kerja dengan kerja lainnya. Begitulah seharusnya kita kerja. Tidak hanya kerja, kerja, kerja saja, tetapi semua ada konsep dan tahapannya. Selamat mencoba. Wallahu a’lam.

Krisis Oksigen !


India krisis oksigen. Selama seminggu terakhir, banyak pasien Covid-19 yang sesak napas telah meninggal karena tidak tersedianya oksigen medis di rumah sakit di beberapa negara bagian di negara tersebut. Berlawanan dengan klaim dan isu yang ada, ternyata kekurangan oksigen di beberapa negara bagian bukan karena produksi yang lebih rendah atau ekspor pada tahun ini.

Sebab, pesan SOS di Twitter dan platform media sosial lainnya menunjukkan parahnya kekurangan oksigen di negara-negara bagian ini. Dengan tagar #indianeedsoxygen, menjadi trending topic dunia, di berbagai plafform media sosial tersebut. Sementara itu, para pemimpin partai oposisi dan warga yang terkena dampak mengecam Pusat dan pemerintah negara bagian karena kekurangan oksigen medis, yang diperlukan rumah sakit untuk menjaga pasien Covid yang kritis tetap hidup. Mereka “menggorengnya” sehingga tidak hanya jadi isu nasional, akan tetapi menjadi isu dunia.

Akan tetapi sebagaimana dikutip dari indiatoday, India telah mengekspor 9.301 metrik ton oksigen ke seluruh dunia antara April 2020 dan Januari 2021. Sebagai perbandingan, negara itu hanya mengekspor 4.502 metrik ton oksigen pada tahun 2020. Oksigen yang disuplai berbentuk cair dan dapat digunakan baik untuk keperluan industri maupun medis. Sehingga ekspor besar-besaran oksigen India tersebut layak dijadikan biang kerok kekurangan oksigen untuk medis. Meskipun kita tahu, karena jumlah pasien yang membutuhkan juga berlipat-lipat, sehingga tidak mampu memenuhi demand yang ada.

Realitas Covid Saat Ini

Semua negara saat ini mengalami hal sama, terutama terkait diketemukannya mutasi baru virus Covid ini. Selain varian baru di Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris, India juga menemukan mutasi baru virus corona. Tampaknya varian ini berpotensi lebih mudah menempel pada sel manusia. Jelas itu akan menyebabkan lebih banyak orang terinfeksi dan lebih banyak dirawat di rumah sakit.

Data dari worldometer, menunjukkan tsunami gelombang ke-dua Covid di India masih terus menanjak. Kemarin 6/5/2021,  ada 414.433 kasus baru yang terjadi di India. Sehingga menyebabkan rumah sakit tidak mampu memampung pasien lagi. Sementara  cadangan oksigen juga tidak ada di rumah sakit-rumah sakit itu. Akibatnya, pasien swadaya mencari tabung oksigen kosong, sekaligus mencari oksigen, untuk dijadikan alat bantu pernafasan atau ventilator. Kekurangan oksigen ini, menyebabkan banyak pasien yang tidak tertolong nyawanya.

Sehingga kasus kematian harian di India kemarin 6/5/2021 sebanyak 3.920 jiwa, setelah sehari sebelumnya berjumlah 3.982 jiwa. Dengan demikian total kematian sejumlah 234,071 jiwa. Yang sembuh di India berjumlah 17,597,410 jiwa. Sedangkan total keseluruhan yang terinfeksi adalah 21,485,285 jiwa. Sementara itu, berdasarkan laporan DW, para ahli mengatakan angka sebenarnya di seluruh negeri mungkin lima hingga 10 kali lebih tinggi dari penghitungan resmi.

Angka tersebut menempati urutan ke-2 sedunia setelah Amerika Serikat berjumlah 33,369,192. Sementara keseluruhan yang terinfeksi virus corona di jagad ini sejumlah 156,677,623 jiwa, yang sembuh 156,677,623 jiwa, yang mati 3,269,220 jiwa sedangkan yang virusnya masih aktif berjumlah 19,368,356 jiwa.

Indonesia sendiri, menurut laporan yang sama saat ini menempati peringkat-18 dengan 1,697,305 kasus, yang sembuh 1,552,532 jiwa dan yang meninggal sejumlah 46,496 jiwa. Sementara itu pertambahan kasus harian kemarin berjumlah 5.647 jiwa dan kematian harian berjumlah 147 jiwa setelah sehari sebelumnya 212 jiwa. Artinya Indonesia juga masih belum aman.

Kasus India

Sebagaimana diketahui, bahwa tsunami gelombang kedua Covid di India ini disebabkan oleh setidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : perayaan keagamaan, kegiatan partai politik dan tidak taatnya rakyat terhadap protokol kesehatan. Hal ini karena kepuasan atas menurunnya jumlah kasus Covid di India pada pertengahan bulan januari, hingga pertengahan Maret, yang menunjukkan grafik terus menurun dan melandai. Sehingga menjadi lengah.

Bahkan juga disebutkan juga adanya hoax yang disebar karena tidak menghargai sains. Sebagaimana dikutip dari detik, pada pertengahan April, ketika jumlah kasus COVID mulai meroket, VK Paul, seorang pejabat senior pemerintah, merekomendasikan agar orang berkonsultasi dengan praktisi terapi alternatif jika mereka memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala.

Dia juga menyarankan orang untuk mengonsumsi “chyawanprash” (suplemen makanan) dan “kadha” (minuman herbal dan rempah-rempah) untuk meningkatkan kekebalan mereka. Pernyataannya ini memicu kritik dari para dokter yang mengatakan rekomendasi tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji dan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis. Dan boom semuanya sudah terlambat.

Case fatality rate Indonesia sebesar 2.74 %, sedangkan India sebesar 1.09 % untuk dunia sebesar 2.09%. Artinya tingkat kematian yang positif Covid 19, lebih tinggi dari rata-rata dunia, apalagi dengan rata-rata India. Penduduk India berjumlah 1,391,457,000 jiwa, sementara menurut ourworldindata penduduk Indonesia 275,964,453. Di India ada 30.2 juta jiwa yang vaksin full dan 99,53 vaksin sekali. Sedangkan di Indonesia ada 8 juta yang sudah vaksin full dan 4,7 yang vaksin sebagian. Secara prosentase dari jumlah populasi penduduk, India 9.32% dan Indonesia 4.64%.

Early Warning!

Ini jadi peringatan dini (early warning) bagi Indonesia. Jika tidak mampu mengendalikannya, maka situasi tsunami tahap ke-dua di Indonesia juga akan berlangsung. Dari ketiga hal tersebut, menurut saya kata kuncinya justru di protokol Kesehatan. Sebab, setelah satu tahun lebih dalam kondisi pandemi, rakyat juga mulai bosan dan jenuh dengan kondisi new normal ini. Sehingga pelonggaran terus terjadi.

Demikian juga pejabat publik juga banyak memberikan contoh ketidak taatan ini. Sanksi yang diberikan bahkan cenderung untuk standard ganda. Jika pejabat publik, saat melanggar tidak dikenakan sanksi. Tetapi jika rakyat biasa, terlebih lawan politik/oposan terhadap penguasa, akan dikenakan sanksi yang berat. Hal ini menyebabkan public distrust. Sehingga menyebabkan rakyat semakin apriori dengan penegakan hukum oleh pemerintah.

Kasus terakhir yang saat ini sedang terjadi adalah terkait dengan larangan mudik. Secara konsep, saya mendukung. Akan tetapi dalam prakteknya justru berpotensi menimbulkan kerumunan baru. Sebab saat akses ke berbagai daerah ditutup, maka kerumunan masa itu menumpuk di titik-titik yang dijaga apparat itu. Apalagi aparatnya bersenjata lengkap, seperti mau perang. Sekali lagi, ini berpotensi menimbulkan klaster baru. Semoga tidak.

Warning berikutnya adalah, nampaknya kita juga harus mulai mempersiapkan tabung oksigen untuk kepentingan pribadi. Antisipasi dengan segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk jika terjadi darurat oksigen seperti India. Jika tidak terjadi, juga tidak ada salahnya untuk memiliki persediaan ini. Bisa dimiliki dalam bentuk kelompok, keluarga atau RT. Bisa juga membuat tempat isolasi mandiri di setiap RT. Saya rasa ini bukan hal aneh, sebab saya punya kawan penderita asma, juga punya persediaan oksigen di rumahnya. Saat serangan terjadi, lagsung bisa dibantu pernafasannya. Sebelum proses medis selanjutnya.

Tetapi kita tetap harus ber-ikhtiar dengan protokol kesehatan, dan mengkonsumsi makanan untuk penguatan anti body. Lalu bertawakal dengan do’a-do’a terbaik kepada Allah SWT. Apalagi ini di sepulih akhir bulan Ramadhan. Saatnya kita ber-I’tikaf, sambil berdo’a agar COVID-19 beserta mutasi-mutasinya, segera enyah dari muka bumi. Aamiin.

Pengangguran Milenial


Pandemi COVID-19 telah menimbulkan gangguan parah pada ekonomi dan pasar tenaga kerja di seluruh dunia. Kembali pada bulan April, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan bahwa pandemi akan mengancam pekerjaan 68 juta pekerja di seluruh Asia jika wabah berlanjut hingga September 2021.

Sedangkan bagi kaum muda berusia 20 hingga 29 tahun yang telah menghadapi pasar tenaga kerja akan bertambah sulit. Bahkan sebelum krisis virus korona dimulai, situsi pandemi tersebut berdampak tidak proporsional pada prospek pekerjaan mereka.

Kondisi ini tampak dari melonjaknya jumlah pengangguran di tanah air dalam kurun waktu 6 bulan pandemi, di mana lonjakan tersebut mencapai hampir 3 juta orang. Rata-rata mereka adalah lulusan SMA dan Sarjana. Sehingga ini merupakan berkebalikan dengan asumsi kebanyakan orang selama ini, bahwa makin tinggi pendidikannya, maka makin bisa mencari banyak pekerjaan. Sebab faktanya berbicara lain.

Jika melihat dari grafik di atas yang bersumber dari ILO (International Labour Organization), maka tingkat pengangguran usia muda di Indonesa, jelas tertinggi dianding dengan negara-negara lain di ASEAN. Sebenarnya pada triwulan pertama tahun 2020, sempat turun di banding triwulan ke-empat Tahun 2019. Namun, dengan adanya pandemi, laporan terbaru menyebutkan bahwa pengangguran di kalangan milenial ini hampir menyentuh di angka 20%. Sehingga masih tetapi tertinggi di antara negara-negara ASEAN tersebut. Tentu ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dalam konteks Indonesia, tidak bisa kemudian hanya menyalahkan pamdemi, sebagai penyebab utama dari  banyaknya pengangguran itu. Senyatanya, sebelum pandemi-pun, angka pengangguran di golongan ini sudah tinggi. Menurut laporan BPS, secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 tercatat 6,26%. Ini pun meningkat dari posisi pada Februari 2020 yang sebesar 4,94%, tetapi turun dari posisi Agustus 2020 yang sebesar 7,07%.

BPS juga menyebutkan bahwa Data BPS menunjukkan, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta orang pada September 2020. Jumlah tersebut meningkat 2,76 juta dibandingkan posisi September 2019. Angka tersebut membuat kemiskinan Indonesia kembali ke level 10 persen dari jumlah penduduk, yakni sebesar 10,19 persen, setelah Tahun 2018 hingga 2019 berada di 1 digit, yaitu 9,82% dan 9,22 %. Meski fluktuatif, tetap pada kisaran itu.

Oleh karenanya, pemerintah harus melakukan penanganan serius dua hal ini, yaitu masalah pengangguran dan kemiskinan. Mesti dilaksanakan secara integratif, karena untuk mengurangi kemiskinan yang terbaik adalah dengan memberikan orang-orang miskin lapangan kerja daripada bansos. Bansos tetap dibutuhkan dalam kondisi darurat, tapi untuk bisa orang miskin terangkat menjadi sejahtera secara berkelanjutan dengan memberikan lapangan kerja.

Sehingga apapun alasannya, penyediaan lapangan kerja ini menjadi solusi yang tidak bisa di tawar lagi. Dorongan ini dapat dengan membuka proyek-proyek padat karya, ataupun stimulus ekonomi lainnya yang mendorong masyarakat untuk berproduksi. Sehingga ekonomi bergerak dan pengangguran tereliminir. Meskipun tidak semudah yang disarankan, akan tetapi langkah taktis dan strategis perlu segera dirumuskan dan diimplementasikan. Karena itulah tugas negara. Memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Terkait dengan penggauran muda tersebut, ILO mencatat bahwa beberapa anak muda akan menghadapi kesulitan menyeimbangkan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan untuk melengkapi pendapatan keluarga. Yang lain akan menghadapi tantangan untuk mencari pekerjaan pertama mereka di pasar tenaga kerja dengan permintaan yang sangat terbatas. Lebih banyak kaum muda akan menghadapi kesulitan dalam peralihan dari pekerjaan tidak tetap dan informal ke pekerjaan yang layak. Dan semakin banyak kaum muda yang tidak bekerja atau dalam pendidikan atau pelatihan, mungkin semakin terlepas dari pasar tenaga kerja.

Selanjutnya, ILO merekomendasikan  Pendekatan yang komprehensif dan terarah untuk  active labour market programmes (program pasar kerja aktif /ALMP’s) harus menjadi inti dari respons ketenagakerjaan muda dan paket pemulihan ekonomi sekaligus satu paket dengan pengurangan kemiskinan.

Sehingga, hal ini termasuk menyediakan program subsidi upah yang ditargetkan untuk kaum muda, mendukung kaum muda dalam perencanaan pekerjaan dan bantuan pencarian kerja, memperluas akses kaum muda untuk mendapatkan kembali keterampilan dan peningkatan keterampilan, dan berinvestasi dalam kewirausahaan kaum muda.

Sebagai catatan, ini tantangan bagi Indonesia yang sedang akan memanen dari bonus demografi. Sehingga menjadi tantangan yang sangat menantang bagi bangsa ini. Sebab jika gagal mengelola kaum muda ini, maka bisa dipastikan akan menjadi gagalnya dari bonus demografi itu sendiri.

Dengan demikian maka, program entrepreneur muda, menjadi salah satu yang perlu di dorong untuk kaum muda ini, yaitu dengan membangun start-up dari yang sederhana hingga yang berteknologi tinggi, sehingga sesuai dengan dunia anak muda tersebut. Sehingga dengan prosentasi lebih dari 65% dari total populasi bangsa ini, maka jika kaum mudanya terangkat, berarti akan mengangkat bangsa dan negara ini menuju bangsa yang adil dan makmur. Baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam.

Tulisan ini di muat di JannahQu | Asih Soebagyo : Pengangguran Milenial

Digitalisasi Zakat


BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), memperkirakan potensi zakat di Tanah Air pada 2021 mencapai Rp327,6 triliun. Namun, sejauh ini realisasinya baru Rp71,4 triliun. Adapun, lebih dari 85 persen dari zakat yang terkumpul dilakukan melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) tidak resmi.

Angka tersebut terdiri dari zakat perusahaan (Rp144,5 triliun), zakat penghasilan dan jasa (Rp139,07 triliun), zakat uang (Rp58,76 triliun), zakat pertanian (Rp19,79 triliun), dan zakat peternakan (Rp9,52 triliun).

Sementara Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) berjumlah 545 lembaga. Merupakan Amil terbanyak dalam sebuah negara di dunia. Tidak ada negara manapun di kolong lngit ini yang memiliki OPZ sebanyak Indonesia. Data tersebut, terdiri dari Badan Amil Zakat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Serta Lembaga Amil Zakat (LAZ), baik tingkat Nasional, Propinsi, maupun Kabupaten/Kota. Sehingga potensi yang sedemikian besar itu, sebenarnya menjadi tanggungjawab dari 545 OPZ tersebut di atas.

Sementara untuk Ramadhan 2021 tahun ini, BAZNAS dengan seluruh jaringannya menargetkan penerimaan sebesar 6 Trilyun. Sedangkan LAZ memiliki target masing-masing. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini, maka penerimaan/penghimpunan Zakat di bulan Ramadhan, biasanya meningkat hingga minimal 3 (tiga) kali lipat atau lebih dari penerimaan bulan-bulan biasanya.

Karena kesadaran umat untuk berzakat di bulan ramadhan memang selalu meningkat. Sementara itu, penerimaan tahunan dari LAZ rerata naik di kisaran 25-30 % per Tahun, termasuk pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi sudah mulai. Berdasarkan laporan tahunan dari Baitul Maal Hidayatullah, salah satu LAZ Nasional rata-rata pertumbuhannya sekitar 30% per tahun.

Menurut data PUSKAS BAZNAS (2020), skor pemahaman dasar zakat maupun skor indeks literasi zakat masih pada tahap moderat, yakni masing-masing 72,21 dan 66,78. Sementara untuk skor pemahaman lanjutan zakat tercatat rendah, yakni 56,68. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi untuk meningkatkan literasi zakat. Catatan lainnya, tingkat literasi zakat di kalangan anak muda masih terhitung rendah

Dari survey tersebut ditemukan data bahwa sumber informasi zakat tertinggi berasal dari ceramah ustadz (46%). Selanjutnya, informasi zakat didapat masyarakat dari kantor atau kampus (17%), media sosial (16%), keluarga (13%), media elektronik (5%), dan media cetak (3%).

Fakta lainnya, 60% masyarakat masih menunaikan zakat di luar lebaga zakat resmi, yakni 37% menyalurkan zakatnya langsung ke mesjid dan 23% langsung ke muztahik (penerima zakat). Hanya 40% yang menyalurkannya ke lembaga zakat resmi, yakni melalui Baznas (25%) dan Lembaga Amil Zakat (15%).

Jika merujuk kenyataan bahwa dari data demografi kependudukan yang ada saat ini, dan juga dari survey di atas, ternyata tingkat literasi di kalangan anak muda terhitung rendah. Padahal, jumlah generasi milenial dan sesudahnya, berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 saat ini lebih dari 65% dari total penduduk Indonesia. Sehingga, sesungguhnya market terbesar dari zakat ini adalah generasi milenial, generasi Z dan sesudahnya itu. Sehingga perlu digarap lebih serius lagi.

Dalam berbagai kesempatan, telah disampaikan bahwa, ada beberapa karakteristik dari generasi milenial ini. Yaitu selain suka berbagi, juga digital native. Suka berbagi ini, bisa kita lihat berbagai portal/ apps crowdfunding yang berhasil menghimpun dana receh dari kalangan anak muda ini. Jika selama ini motivasinya adalah lebih banyak terkait dengan kegiatan dan solidaritas sosial, maka melalui edukasi yang memadai, bisa diarahkan untuk lebih bernuansa ibadah (keagamaan), bisa dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, atau wakaf. Sehingga selain faktor dorongan sosial tersebut di atas, juga ada motivasi untuk beribadah.

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menyiapkan portal/apps yang bisa menarik kalangan muda itu untuk menggunakannya. Sebab sebagai digital native, mereka sebenarnya sangat cepat untuk beradaptasi menggunakan perangkat dan aplikasi digital dalam bentuk apapun juga. Asalkan bisa menarik dan mewakili keberadaan, kepentingan dan eksistensi mereka, maka mereka akan dengan sukarela berbondong-bondong untuk menggunakan aplikasi tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak menarik bagi mereka, sangat mudah untuk meninggalkannya.

Dengan demikian maka digitalisasi zakat ini menjadi sebuah keniscayaan. Satu sisi untuk mempermudah dalam proses penghimpunan. Disisi lain adalah untuk melayani generasi muda yang memang digital minded. Hal ini erat kaitannya dengan inklusi keuangan yang saat ini sudah cukup bagus. Bahkan kecenderungan generasi milenial ini adalah membangun cashless society. Lebih menyukai transaksi digital dibanding dengan transaksi tunai. Sehingga saat ini, momentumnya sangat tepat, seiring dengan pandemi yang belum surut, maka umat dapat  membayar zakat dengan mudah melalui kanal digital sekaligus mengurangi kontak fisik demi menekan risiko penyebaran virus corona.

Oleh karenanya hal ini menjadi tantangan bagi BAZNAS dan LAZ untuk kemudian membuka kanal digital sebanyak-banyaknya. Dengan melakukan kolaborasi berbagai pihak, provider kanal digital ini. Sehingga generasi milenial akan mendapatkan kemudahan dalam membayar zakat. Selanjutnya hal ini juga akan men-trigger peningkatan literasi zakat dikalangan generasi muda, yang muaranya adalah peningkatan penghimpunan zakat yang lebih transparan dan akuntabel. Sehingga akan lebih banyak lagi muzaki muda pembayar zakat dan pendistribusian terhadap mustahik yang lebih merata. . Wallahu a’lam