RESOLUSI CETAR MEMBAHANA


2013Tadi malam, sebagaimana kita lihat di berita-berita, begitu hebohnya perayaan menjelang tahun baru 2013. Sampai-sampai di jalan protocol Jakarta dari Sudirman sampai Thamrin di berlakukan Car Free Night. Bahkan di Sidney Australia sana, 7 ton kembang api di bakar, untuk menyambut pergantian tahun itu. Di sekitar rumah sayapun, tidak mau ketinggalan, meski berjarak sekitar 10 km dari Jakarta, ternyata nampak begitu hebohnya, sampai-sampai saya terjaga dari tidur nyenyak, ketika bunyi petasan bersahutan menggelegar di udara, ketika saya tengok jam dinding menunjukkan angka di 12.00. Ternyata hari dan tahun sudah berganti.

Dan kemudian di pagi hari tadi, jalanan menyandi senyap dan lengang. Mungkin masih pada tertidur kecapekan setelah semalam larut dalam hingar-bingar itu. Lantas, apa sebenarnya yang di dapat dari malam perayaan tahun baru itu? Bukankan esensi moment pergantian tahun seperti ini Continue reading

Advertisements

PRESS RELEASE MIFTA


PRESS RELEASE

Muslim Information Technology Association (MIFTA) sebuah asosiasi yang terdiri dari para professional IT muslim dan perusahaan-perusahaan IT muslim, hari ini dalam acara Musyawarah Nasional di Jakarta telah berhasil memilih ketua umum baru, dengan ketua terpilih H. Prihantoosa Supraja, Ssi, MMSI, Direktur Utama TeknosoftMedia, yang secara aklamasi menggantikan Deddy Rahman (Katapedia) untuk priode 2013-2016.

Sebelum menginjak pemilihan ketua umum baru, ketua umum sebelumnya menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan dapat diterima semua peserta munas dan dinyatakan demisioner, dalam laporan pertanggungjawabanya itu ketua umum yang lama memberikan harapan-harapan kepada ketua terpilih agar mempertahankan beberapa program unggulan yang pernah dirintisnya.

Selain memilih ketua umum baru Munas MIFTA juga memilih Sekjen yang jatuh kepada Asih Subagyo (Totalindo Groups) dan Ketua Dewan Pengawas Continue reading

#13…..Not For Sale


Menjelang Milad ke 11 PT Totalindo Rekayasa Telematika beberapa waktu yang lalu, tepatnya Awal Juni , saya mendapat opportunity dari seorang sahabat baik, saya untuk menjajagi menjadi partner dengan salah satu perusahaan Technology dari Eropa. Kebetulan kawan saya ini baru saja dating memenuhi undangan, ke Eropa, untuk mengikuti semacam exhibition  tahunan, yang di selenggarakan oleh Perusahaan itu. Singkatnya, melalui email saya di introduce, sahabat saya itu untuk berkomunimasi langsung dengan VP APAC (Asia Pacifcif) yang berdomisili di Malaysia. Dari komunikasi via email, intinya dia minta company profile kami. Kemudian saya penuhi permintaannya tersebut. Saya agak lama menunggu jawaban, ternyata email tersebut di eskalasi ke Head Quarternya di Eropa sana.

Dari HQ, mereka meminta waktu untuk melakukan teleconference kepada Manajemen, perusahaan kami. Stelah di sepakati waktunya, GMT+9, akhirnya kami komunikasi via skype. Pada awalnya seperti biasa, dia memberikan gambaran tetang perusahaannya. Dimana dia menjadi market leader pada product tertentu, mempunyai cabang di 15 negara, dimiliki oleh salah satu investment company terbesar di negaranya. Dan revenuenya Continue reading

The Revolution of Ojek..


Dari pengalaman pergi ke beberapa negara,  bagi saya sebagai wong Ndeso Indonesia, seringkali justru menemukan keribetan, di balik kemanjaan fasilitas publik yang diberikan oleh negara-negara itu. Pengalaman saya  berkunjung ke Tokyo Jepang,membuktikan betapa ketika jadwal kereta ketujuan tertentu sudah mau berangkat, maka begitu berebutan dan berlarian mereka untuk mengejar kereta agar ikut di jadwal itu. Karena kereta itu datang tepat waktu, hampir dipastikan tidak pernah terlambat ataupun meleset dari jadwal.  Artinya jika kita lewat pada jadwal itu, kita akan menunggu ke jadwal berikutnya, berarti wasting time.  Demikian juga halnya di Singapura yang tidak berbeda dengan pengalaman di Frankfurt Jerman. Praktis semua sudah tertata, teratur dengan baik, rigid dan sistematis. Pendeknya ritme hidup penduduk kota itu, dan siapupun yang datang ke kota itu, harus mengikuti pola yang demikian mekanik itu.

Lain halnya dengan Indonesia, jadwal molor, terlambat dan  meleset itu menjadi rutinitas, sehingga jika tepat waktu merupakan sebuah keberuntungan. Disamping itu, variasi moda transportasi yang tersedia cukup beragam. Tinggal kita pilih saja. Satu hal yang paling unik di negeri ini, dan sangat susah ditemukan di negara lain adalah ojek. Alat transportasi yang menggunaka motor ini, seringkali menjadi pilihan bagi siapapun juga, ketika kepepet waktu dan atau terjebak dalam kemacetan yang parah di Ibu Kota. Bukan pada kalangan proletar, mereka yang berdasipun, tidak jarang memilih Ojek, untuk mengantarkan ketujuannya agar tidak terlambat. Malah sopir-sopir itu,  justru yang menikmati comfortable di balik kemudi mobil mewah majikannya dan kemacetan di jalan raya itu.

Singkatnya, ojek adalah moda transportasi pilihan rakyat, yang egaliter dan tidak membedakan strata sosial bagi penggunanya. Melihat “merakyatnya” ojek, saya kepikiran bagaimana jika meningkatkan kenyaman ber-ojek. Jika taksi di Jakarta sekarang sudah menggunakan mobil mewah semisal Mercy dan Alphard, mengapa kemudian Ojek tidak menggunakan Moge sekelas Harley Davidson untuk difungsikan dalam melayani masyarakat kelas menengah atas, dikala terjebak kemacetan. Tentu saja dengan layanan dan  tarif premium, sebagai mana layanan taksi yang pake mobil mewah itu. Saya pikir, ini pilihan realistis dan logis. Sebuah revolusi terhadap ojek. Bagaimana menurut anda?