Krisis Oksigen !


India krisis oksigen. Selama seminggu terakhir, banyak pasien Covid-19 yang sesak napas telah meninggal karena tidak tersedianya oksigen medis di rumah sakit di beberapa negara bagian di negara tersebut. Berlawanan dengan klaim dan isu yang ada, ternyata kekurangan oksigen di beberapa negara bagian bukan karena produksi yang lebih rendah atau ekspor pada tahun ini.

Sebab, pesan SOS di Twitter dan platform media sosial lainnya menunjukkan parahnya kekurangan oksigen di negara-negara bagian ini. Dengan tagar #indianeedsoxygen, menjadi trending topic dunia, di berbagai plafform media sosial tersebut. Sementara itu, para pemimpin partai oposisi dan warga yang terkena dampak mengecam Pusat dan pemerintah negara bagian karena kekurangan oksigen medis, yang diperlukan rumah sakit untuk menjaga pasien Covid yang kritis tetap hidup. Mereka “menggorengnya” sehingga tidak hanya jadi isu nasional, akan tetapi menjadi isu dunia.

Akan tetapi sebagaimana dikutip dari indiatoday, India telah mengekspor 9.301 metrik ton oksigen ke seluruh dunia antara April 2020 dan Januari 2021. Sebagai perbandingan, negara itu hanya mengekspor 4.502 metrik ton oksigen pada tahun 2020. Oksigen yang disuplai berbentuk cair dan dapat digunakan baik untuk keperluan industri maupun medis. Sehingga ekspor besar-besaran oksigen India tersebut layak dijadikan biang kerok kekurangan oksigen untuk medis. Meskipun kita tahu, karena jumlah pasien yang membutuhkan juga berlipat-lipat, sehingga tidak mampu memenuhi demand yang ada.

Realitas Covid Saat Ini

Semua negara saat ini mengalami hal sama, terutama terkait diketemukannya mutasi baru virus Covid ini. Selain varian baru di Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris, India juga menemukan mutasi baru virus corona. Tampaknya varian ini berpotensi lebih mudah menempel pada sel manusia. Jelas itu akan menyebabkan lebih banyak orang terinfeksi dan lebih banyak dirawat di rumah sakit.

Data dari worldometer, menunjukkan tsunami gelombang ke-dua Covid di India masih terus menanjak. Kemarin 6/5/2021,  ada 414.433 kasus baru yang terjadi di India. Sehingga menyebabkan rumah sakit tidak mampu memampung pasien lagi. Sementara  cadangan oksigen juga tidak ada di rumah sakit-rumah sakit itu. Akibatnya, pasien swadaya mencari tabung oksigen kosong, sekaligus mencari oksigen, untuk dijadikan alat bantu pernafasan atau ventilator. Kekurangan oksigen ini, menyebabkan banyak pasien yang tidak tertolong nyawanya.

Sehingga kasus kematian harian di India kemarin 6/5/2021 sebanyak 3.920 jiwa, setelah sehari sebelumnya berjumlah 3.982 jiwa. Dengan demikian total kematian sejumlah 234,071 jiwa. Yang sembuh di India berjumlah 17,597,410 jiwa. Sedangkan total keseluruhan yang terinfeksi adalah 21,485,285 jiwa. Sementara itu, berdasarkan laporan DW, para ahli mengatakan angka sebenarnya di seluruh negeri mungkin lima hingga 10 kali lebih tinggi dari penghitungan resmi.

Angka tersebut menempati urutan ke-2 sedunia setelah Amerika Serikat berjumlah 33,369,192. Sementara keseluruhan yang terinfeksi virus corona di jagad ini sejumlah 156,677,623 jiwa, yang sembuh 156,677,623 jiwa, yang mati 3,269,220 jiwa sedangkan yang virusnya masih aktif berjumlah 19,368,356 jiwa.

Indonesia sendiri, menurut laporan yang sama saat ini menempati peringkat-18 dengan 1,697,305 kasus, yang sembuh 1,552,532 jiwa dan yang meninggal sejumlah 46,496 jiwa. Sementara itu pertambahan kasus harian kemarin berjumlah 5.647 jiwa dan kematian harian berjumlah 147 jiwa setelah sehari sebelumnya 212 jiwa. Artinya Indonesia juga masih belum aman.

Kasus India

Sebagaimana diketahui, bahwa tsunami gelombang kedua Covid di India ini disebabkan oleh setidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : perayaan keagamaan, kegiatan partai politik dan tidak taatnya rakyat terhadap protokol kesehatan. Hal ini karena kepuasan atas menurunnya jumlah kasus Covid di India pada pertengahan bulan januari, hingga pertengahan Maret, yang menunjukkan grafik terus menurun dan melandai. Sehingga menjadi lengah.

Bahkan juga disebutkan juga adanya hoax yang disebar karena tidak menghargai sains. Sebagaimana dikutip dari detik, pada pertengahan April, ketika jumlah kasus COVID mulai meroket, VK Paul, seorang pejabat senior pemerintah, merekomendasikan agar orang berkonsultasi dengan praktisi terapi alternatif jika mereka memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala.

Dia juga menyarankan orang untuk mengonsumsi “chyawanprash” (suplemen makanan) dan “kadha” (minuman herbal dan rempah-rempah) untuk meningkatkan kekebalan mereka. Pernyataannya ini memicu kritik dari para dokter yang mengatakan rekomendasi tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji dan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis. Dan boom semuanya sudah terlambat.

Case fatality rate Indonesia sebesar 2.74 %, sedangkan India sebesar 1.09 % untuk dunia sebesar 2.09%. Artinya tingkat kematian yang positif Covid 19, lebih tinggi dari rata-rata dunia, apalagi dengan rata-rata India. Penduduk India berjumlah 1,391,457,000 jiwa, sementara menurut ourworldindata penduduk Indonesia 275,964,453. Di India ada 30.2 juta jiwa yang vaksin full dan 99,53 vaksin sekali. Sedangkan di Indonesia ada 8 juta yang sudah vaksin full dan 4,7 yang vaksin sebagian. Secara prosentase dari jumlah populasi penduduk, India 9.32% dan Indonesia 4.64%.

Early Warning!

Ini jadi peringatan dini (early warning) bagi Indonesia. Jika tidak mampu mengendalikannya, maka situasi tsunami tahap ke-dua di Indonesia juga akan berlangsung. Dari ketiga hal tersebut, menurut saya kata kuncinya justru di protokol Kesehatan. Sebab, setelah satu tahun lebih dalam kondisi pandemi, rakyat juga mulai bosan dan jenuh dengan kondisi new normal ini. Sehingga pelonggaran terus terjadi.

Demikian juga pejabat publik juga banyak memberikan contoh ketidak taatan ini. Sanksi yang diberikan bahkan cenderung untuk standard ganda. Jika pejabat publik, saat melanggar tidak dikenakan sanksi. Tetapi jika rakyat biasa, terlebih lawan politik/oposan terhadap penguasa, akan dikenakan sanksi yang berat. Hal ini menyebabkan public distrust. Sehingga menyebabkan rakyat semakin apriori dengan penegakan hukum oleh pemerintah.

Kasus terakhir yang saat ini sedang terjadi adalah terkait dengan larangan mudik. Secara konsep, saya mendukung. Akan tetapi dalam prakteknya justru berpotensi menimbulkan kerumunan baru. Sebab saat akses ke berbagai daerah ditutup, maka kerumunan masa itu menumpuk di titik-titik yang dijaga apparat itu. Apalagi aparatnya bersenjata lengkap, seperti mau perang. Sekali lagi, ini berpotensi menimbulkan klaster baru. Semoga tidak.

Warning berikutnya adalah, nampaknya kita juga harus mulai mempersiapkan tabung oksigen untuk kepentingan pribadi. Antisipasi dengan segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk jika terjadi darurat oksigen seperti India. Jika tidak terjadi, juga tidak ada salahnya untuk memiliki persediaan ini. Bisa dimiliki dalam bentuk kelompok, keluarga atau RT. Bisa juga membuat tempat isolasi mandiri di setiap RT. Saya rasa ini bukan hal aneh, sebab saya punya kawan penderita asma, juga punya persediaan oksigen di rumahnya. Saat serangan terjadi, lagsung bisa dibantu pernafasannya. Sebelum proses medis selanjutnya.

Tetapi kita tetap harus ber-ikhtiar dengan protokol kesehatan, dan mengkonsumsi makanan untuk penguatan anti body. Lalu bertawakal dengan do’a-do’a terbaik kepada Allah SWT. Apalagi ini di sepulih akhir bulan Ramadhan. Saatnya kita ber-I’tikaf, sambil berdo’a agar COVID-19 beserta mutasi-mutasinya, segera enyah dari muka bumi. Aamiin.

Pengangguran Milenial


Pandemi COVID-19 telah menimbulkan gangguan parah pada ekonomi dan pasar tenaga kerja di seluruh dunia. Kembali pada bulan April, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan bahwa pandemi akan mengancam pekerjaan 68 juta pekerja di seluruh Asia jika wabah berlanjut hingga September 2021.

Sedangkan bagi kaum muda berusia 20 hingga 29 tahun yang telah menghadapi pasar tenaga kerja akan bertambah sulit. Bahkan sebelum krisis virus korona dimulai, situsi pandemi tersebut berdampak tidak proporsional pada prospek pekerjaan mereka.

Kondisi ini tampak dari melonjaknya jumlah pengangguran di tanah air dalam kurun waktu 6 bulan pandemi, di mana lonjakan tersebut mencapai hampir 3 juta orang. Rata-rata mereka adalah lulusan SMA dan Sarjana. Sehingga ini merupakan berkebalikan dengan asumsi kebanyakan orang selama ini, bahwa makin tinggi pendidikannya, maka makin bisa mencari banyak pekerjaan. Sebab faktanya berbicara lain.

Jika melihat dari grafik di atas yang bersumber dari ILO (International Labour Organization), maka tingkat pengangguran usia muda di Indonesa, jelas tertinggi dianding dengan negara-negara lain di ASEAN. Sebenarnya pada triwulan pertama tahun 2020, sempat turun di banding triwulan ke-empat Tahun 2019. Namun, dengan adanya pandemi, laporan terbaru menyebutkan bahwa pengangguran di kalangan milenial ini hampir menyentuh di angka 20%. Sehingga masih tetapi tertinggi di antara negara-negara ASEAN tersebut. Tentu ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dalam konteks Indonesia, tidak bisa kemudian hanya menyalahkan pamdemi, sebagai penyebab utama dari  banyaknya pengangguran itu. Senyatanya, sebelum pandemi-pun, angka pengangguran di golongan ini sudah tinggi. Menurut laporan BPS, secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 tercatat 6,26%. Ini pun meningkat dari posisi pada Februari 2020 yang sebesar 4,94%, tetapi turun dari posisi Agustus 2020 yang sebesar 7,07%.

BPS juga menyebutkan bahwa Data BPS menunjukkan, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta orang pada September 2020. Jumlah tersebut meningkat 2,76 juta dibandingkan posisi September 2019. Angka tersebut membuat kemiskinan Indonesia kembali ke level 10 persen dari jumlah penduduk, yakni sebesar 10,19 persen, setelah Tahun 2018 hingga 2019 berada di 1 digit, yaitu 9,82% dan 9,22 %. Meski fluktuatif, tetap pada kisaran itu.

Oleh karenanya, pemerintah harus melakukan penanganan serius dua hal ini, yaitu masalah pengangguran dan kemiskinan. Mesti dilaksanakan secara integratif, karena untuk mengurangi kemiskinan yang terbaik adalah dengan memberikan orang-orang miskin lapangan kerja daripada bansos. Bansos tetap dibutuhkan dalam kondisi darurat, tapi untuk bisa orang miskin terangkat menjadi sejahtera secara berkelanjutan dengan memberikan lapangan kerja.

Sehingga apapun alasannya, penyediaan lapangan kerja ini menjadi solusi yang tidak bisa di tawar lagi. Dorongan ini dapat dengan membuka proyek-proyek padat karya, ataupun stimulus ekonomi lainnya yang mendorong masyarakat untuk berproduksi. Sehingga ekonomi bergerak dan pengangguran tereliminir. Meskipun tidak semudah yang disarankan, akan tetapi langkah taktis dan strategis perlu segera dirumuskan dan diimplementasikan. Karena itulah tugas negara. Memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Terkait dengan penggauran muda tersebut, ILO mencatat bahwa beberapa anak muda akan menghadapi kesulitan menyeimbangkan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan untuk melengkapi pendapatan keluarga. Yang lain akan menghadapi tantangan untuk mencari pekerjaan pertama mereka di pasar tenaga kerja dengan permintaan yang sangat terbatas. Lebih banyak kaum muda akan menghadapi kesulitan dalam peralihan dari pekerjaan tidak tetap dan informal ke pekerjaan yang layak. Dan semakin banyak kaum muda yang tidak bekerja atau dalam pendidikan atau pelatihan, mungkin semakin terlepas dari pasar tenaga kerja.

Selanjutnya, ILO merekomendasikan  Pendekatan yang komprehensif dan terarah untuk  active labour market programmes (program pasar kerja aktif /ALMP’s) harus menjadi inti dari respons ketenagakerjaan muda dan paket pemulihan ekonomi sekaligus satu paket dengan pengurangan kemiskinan.

Sehingga, hal ini termasuk menyediakan program subsidi upah yang ditargetkan untuk kaum muda, mendukung kaum muda dalam perencanaan pekerjaan dan bantuan pencarian kerja, memperluas akses kaum muda untuk mendapatkan kembali keterampilan dan peningkatan keterampilan, dan berinvestasi dalam kewirausahaan kaum muda.

Sebagai catatan, ini tantangan bagi Indonesia yang sedang akan memanen dari bonus demografi. Sehingga menjadi tantangan yang sangat menantang bagi bangsa ini. Sebab jika gagal mengelola kaum muda ini, maka bisa dipastikan akan menjadi gagalnya dari bonus demografi itu sendiri.

Dengan demikian maka, program entrepreneur muda, menjadi salah satu yang perlu di dorong untuk kaum muda ini, yaitu dengan membangun start-up dari yang sederhana hingga yang berteknologi tinggi, sehingga sesuai dengan dunia anak muda tersebut. Sehingga dengan prosentasi lebih dari 65% dari total populasi bangsa ini, maka jika kaum mudanya terangkat, berarti akan mengangkat bangsa dan negara ini menuju bangsa yang adil dan makmur. Baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam.

Tulisan ini di muat di JannahQu | Asih Soebagyo : Pengangguran Milenial

I’tikaf Produktif


Hari ini, Kita telah berada di ujung ramadhan tahun ini. Artinya duapertiga Ramadhan hampir kita lewati. In Syaa Allah, besok kita mulai memasuki sepuluh hari terakhir (al-‘asyr al-awakhir) . Dimana, dalam banyak hadits disebutkan bahwa, Rasulullah SAW beserta keluarganya, yang sudah barang tentu diikui oleh para sahabat dan umat Islam saat itu, memparbanyak ibadah dan berdiam diri di Masjid. Belaiau melakukan I’tikaf.  Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anha berikut

كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ  )رواه البخاري، رقم 2026 ومسلم، )1172)

“Biasanya (Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)

Secara terminologi, I’tikaf didefinisikan sebagai berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu. Dan sepeninggal RasuluLlah SAW, I’tikaf ini menjadi ibadah yang menjadi kebiasaan bagi istri-istri rasulullah, yang dikuti para sahabat, tabi’in, tabiut tabi,in ulama’ salaf hingga khalaf.

Dan alhamdulillah, dalam konteks kekinian sunnah i’tikaf ini hidup Kembali. Bahkan i’tikaf menjadi sebauh Ibadah yang beberapa dekade ini menjadi trends, bagi umat Islam. Justru hal ini banyak diminati oleh generasi milenial dan kelas menengah terutama di perkotaan. Mereka adalah “santri” , yang menjalani laku nyunnah di masa kini.

I’tikaf tahun ini, nampaknya hampir sama dengan tahun lalu. Masih dalam suasana pandemi. Bahkan jumlah kasus harian, baik yang terinfeksi, sembuh dan meninggal, secara jumlah lebih banyak dari tahun lalu. Apalagi jumlah komulatifnya. Disamping itu, tahun ini juga ada kebijakan yang ketat  terkait dengan larangan mudik. Biasanya, 10 hari menjelang Idul Fitri seperti saat ini, arus mudik sudah mulai terasa, dan nanti ujungnya sehari menjelang lebaran.

Namun, tahun ini fenomena itu akan berubah. Perketatan larangan mudik H-7 dan H +7 lebaran, nampaknya bakal dipatuhi. Meski sebagaimana saya tulis sebelumnya, selalu saja ada cara dan akal-akalan dari pemudi untuk mengelabuhi petugas. Meski sudah dihadang, biasanya tetap saja bisa lolos. Karena bagi sebagaian besar rakyat, yang namanya mudik adalah ritual tahunan, yang tidak bisa ditinggalkan. Ia menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari puasa dan lebaran itu sendiri. Sehingga berbagai cara akan ditempuh, untuk mudik. Sebab banyak relasi sosial yang terjalin saat mudik.

Kendatipun demikian, beberapa hari ini sudah banyak masjid yang telah membuka pendaftaran untuk melakukan i’tikaf tahun ini. Dengan beberapa persyaratan yang terutama terkait dengan protokol kesehatan. Jika jumlah orang yang ber’itikaf atau mu’takif (معتكف) tidak dibatasi, maka bisa jadi masjid akan penuh dengan mu’takif. Sebab mereka tidak bisa kemana-mana, karena berbagai larangan pembatasa bepergiatan tersebut. Sehingga bisa jadi tumpah ruah I’tikaf di Masjid. Maka benar adanya, jika ta’mir masjid dan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) membatasi juumlah orang yang beri’tikaf.

Sehingga selain, tata cara I’tikaf yang sudah di atur dalam fiqh I’tikaf, maka paling tidak beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : 1) takmir masjid menyediakan peralatan yang mendukung protokol Kesehatan, 2) hanya peserta yang sehat yang bisa mengikuti I’tikaf, yang jika perlu menunjukkan hasil rapid antigen (minimal), 3) semua peserta wajib melaksanakan protokol kesehatan, 4) ada petugas ta’mir yang menjaga terlaksananya ini, 5) Jika memungkinkan berkoordinas dengan satgas covid setempat, sehingga jika ada kejadian tertentu bisa segera dieskalasi.

Lalu bagaimana agar I’tikaf kita bisa produktif ? Saya melihat bahwa i’tikaf ini akan produktif jika dan hanya jika para mu’takif saat melakukan i’tikaf bukan hanya untuk kepuasan ritualitas diri sendiri saja. Akan tetapi memang diniatkan untuk melakuka perubahan besar, baik untuk dirinya sendiri yang kemudian akan memberikan resonansi bagi perubahan masyarakat dalam rangka tegaknya Peradaban Islam. Jika kesadaran seperti ini tumbuh dan membersamai dalam pelaksanaan i’tikaf, maka dia akan proiduktif. Dan perubahan besar itu, In Syaa Allah akan terjadi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam beri’tikaf, sehingga i’tikaf bisa produktif dalam tataran pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

  • I’tikaf itu ibadah yang ada syarat dan rukunnya, sehingga wajib melaksanakan itu.
  • I’tikaf bukan berarti pindah tidur dari rumah ke Masjid
  • Hal utama yang dilakukan dalam I’tikaf adalah memperbayak ibadah (sholat, baca qur’an dan sedekah)
  • Tidak dilarang untuk membawa buku-buku atau kitab-kitab yang dipergunakan untuk menambah wawasan, ketika “capek” baca qur’an
  • Jika membawa gadget atau laptop, bukan untuk membuang waktu dengan kegiatan yang tidak perlu, akan tetapi dipergunakan untuk mendukung iabadah I’tikaf (membaca dan menulis)
  • Jangan banyak berbicara dan mengobrol yang tidak berguna dengan sesama peserta I’tikaf
  • Jika ada kajian yang dilaksanakan oleh takmir Masjid, sebaiknya diikuti dengan seksama
  • Manajemen waktu yang baik, selain untuk menjaga Kesehatan juga akan memandu tertib dan nyamannya dalam beribadah
  • Buat target apa yang akan dicapai selama I’tikaf
  • dlsb

Catatan tersebut di atas, merupakan sebagian pengalaman dari penulis, dan In Syaa Allah juga akan diterapkan dalam I’tikaf tahun ini. Tetapi, saya juga menghargai pilihan dari beberapa kawan yang tidak melakukan i’tikaf, justru karena alasan untuk menjaga protokol kesehatan. Atau mungkin karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, sekali lagi panduan ringkas ini adalah best practice, dan juga memperhatikan realitas kekinian. Selamat beri’tikaf.

Pertanyaannya, Anda I’tikaf dimana?

Gerakan Wakaf Kapal Selam


Sebagaimana tulisan sebelumnya, terkait dengan musibah yang menimpa KRI Nenggala -402, maka bagi kru yang muslim, semoga Syahid di jalan-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa ada beberapa kematian yang mendapatkan pahal mati syahid. Salah satunya adalah yang disebabkan karena tenggelam.  Mereka digelari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahid. Namun jenazahnya disikapi sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan (kecuali jika jenazahnya tidak diketemukan, pen). Para ulama mengistilahkan dengan syahid akhirat. Di akhirat dia mendapat pahala syahid, namun di dunia dia ditangani sebagaimana umumnya jenazah. Semoga mereka semua termasuk dalam golongan ini.

Reaksi publik terhadap peristiwa ini beraneka ragam. Kesedihan mendalam, tentu mewarnai anak bangsa bangsa. Do’a juga terucap, dan tersebar diberbagai media. Namun ternyata, tidak cukup disitu. Ada yang menggugat dan mempertanyakan kejadian ini. Jangan-jangan ini bukan kecelakaan biasa. Akan tetapi ada rekayasa (by design).

Bahkan ada yang sengaja menghancurkan. Buktinya, ada tumpahan minyak dan menurut keterangan Kapuspen TNI, kapal selam itu terbelah menjadi 3 (tiga) bagian dan hancur, dlsb. Termauk juga, mempertanyakan status tuanya kapal selam itu, 40 tahun, dimana terakhir di overhaul pada tahun 2015. Dan setelah itu tidak lakukan perawatan lagi. Padahal idealnya dilakukan overhaul setiap 3 (tiga) tahun sekali. Dan berbagai reaksi lain, yang memenuhi ruang media sosial. Semoga juga segera ketemu root cause-nya.

Kapal Selam Indonesia

Jika kita telisik dari data yang ada, saat ini Indonesia mempunya 5 kapal selam. Kini tinggal 4 buah. Kalah dari beberapa negara kecil lain. Vietnam 6 buah. Singapura 20 buah. Bahkan China 79 kapal selam. Kita unggul dari Malaysia yang punya 2 kapal selam. Sementara Thailand dan Philipina tidak punya kapal selam.

Dari 5 (lima) buah kapal selam yang ada itu, 2 buah didatangkan jaman predisen Soeharto. Yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nenggala 402, yang keduanya di pesan tahun 1977 di Howaldtswerke-Deutsche Werft Jerman dan datang tahun 1981.

Kemudian membeli lagi 3 (tiga) buah kapal selam kelas Jang Bogo Type 209/1200, di beli di jaman Presiden SBY. Yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Alugoro 405 dan KRI Ardadeli 404 yang di pesan tahun 2011 dan dibuat oleh Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co.Ltd (DSME), dan kemudian dikirim pada tahun 2014 dan 2015. Ketiga kapal selam ini proses produksinya dikerjasamakan antara DSME Korea Selatan dengan PT PAL Surabaya.

Secara berturut-turut ketiganya, telah dilakukan commissioning pada tahun 2017, 2018, 2019. Harga ketiga kapal selam tersebut adalah US $ 1,07 Milyar. Atau rata-rata per-unit seharga US $ 356,7 juta. Berdasarkan, data yang ada. Dan pada tahun 2019 sudah ada komitmen yang sama dengan pabrik Korsel itu, untuk membeli 3 (tiga) unit kapal selam lagi sekelas KRI Nagapasa ini. Dengan nilai kontrak lebih murah, yaitu senilai US $1,02 Milyar. Tetapi belum terealisasi hingga kini. Sehingga nyaris pemerintahan yang berkuasa saat ini, belum menambah kapal selam sebiji-pun. Padahal kehadirannya sangat strategis sebagai benteng pertahanan NKRI.

Mengapa tidak beli lagi? Apakah tidak ada dana? Berdasarkan RUU APBN Tahun Anggaran 2021, anggaran Kemenhan adalah Rp. 136,9 Trilyun. Secara berurutan sebagai berikut, pada 2016 sebesar Rp 98,1 triliun. Pada 2017 Rp 117,3 triliun, pada 2018 menurun menjadi Rp 106,7 triliun. Kemudian kembali meningkat untuk anggaran tahun 2019 yang sebesar Rp 115,4 triliun, tahun 2020 Rp 117,9 triliun dan APBN 2021 Rp 136,9 triliun. Mengapa tidak bisa beli kapal selam? Padahal, pada tahun 2011 Anggaran untuk Kemenhan “hanya” sebesar 45,2 bisa beli 3 (tiga) kapal selam. Dengan logika itu, seharusnya bisa beli lebih banyak lagi, agar minimal sejajar atau lebih kuat dari Singapura. Mengingat kawasann laut kita, jauh lebuh luas dari negeri jiran itu, tentu lebih membutuhkan armada keamanan laut seperti kapal selam  ini.

Sebagaimana penjelasan di atas, harga satu unit kapal selam adalah US $ 356,7 juta atau sekitar Rp, 5,2 T. Sebuah harga yang bisa terjangkau dengan melihat postur anggaran militer/TNI(kemenhan) yang cukup besar itu. Bahkan minimal per tahun bisa beli 1 atau 2 unit. Atau mungkin ada prioritas lain, yang lebih mendesak?

Wakaf adalah solusi

Masjid Jogokaryan memberikan teladan lagi. Dengan melakukan penggalangan dana untuk membeli kapal selam. Dari poster yang tersebar, jelas tertulis Infak Bantuan Pembelian Kapal Selam Pengganti KRI Nenggala 402. Ini sebuah pukulan telak bagi negara, yang tidak mau mengalokasikan anggaran untuk pertahanan negaranya sendiri. Maka, Masjid Jogokaryan memberikan contoh, bagaimana wujud cinta terhadap NKRI itu. Bukan hanya lip service, atau hanya slogan semata. Akan tetapi Masjid Jogokaryan memberikan teladan berupa aksi nyata.

Tetapi menurut saya ada satu lagi pilihan solusi paling tepat untuk penggalangan dana ini. Yaitu menggunakan instrumen wakaf uang. Mengapa demikian? Sebab saat gerakan wakaf uang (GWU) diluncurkan Presiden pada 25/1/2021, dinyatakan bahwa potensi wakaf pertahun adalah 2.000 T, sedangkan potensi wakaf uang sendiri adalah 188 T per tahun. Tetapi menurut KNEKS (Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah), realisasi wakaf uang baru sekitar 800 milyar rupiah. Masih sangat jauh dari potensi yang ada.

Jika ini dapat menjadi program Badan Wakaf Indonesia (BWI) beserta dengan nazhir-nazhir yang telah teregistrasi oleh BWI, akan menjadi tonggak yang fenomenal, sekaligus menunjukkan nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI. Para pewakif-pun, in syaa Allah juga akan berbondong-bondong mendatangi nadzir. Karena jelas dan strategis peruntukannya (obyeknya). Sedangkan mauquf ‘alaih-nya adalah seluruh  rakyat Indonesia. Demikian juga, hal ini akan menepis kecurigaan selama ini, bahwa dana wakaf akan masuk APBN. Tetapi ini benar-benar wakaf yang ada wujudnya, dan memiliki nilai strategis. Saya usulkan gerakan ini dinamakan dengan Gerakan Wakaf Kapal Selam (GWKS). Wallahu a’lam

Tulisan ini di muat di Gerakan Wakaf Kapal Selam | Hidayatullah.or.id

Syahidnya ABK KRI Nenggala-402


Do’a terus mengalir dari berbagai pihak setelah dikabarkan KRI Nenggala 402 dinyatakan hilang kontak setelah 46 menit mohon ijin untuk menyelam pada jam 03.00 WITA. Selanjutnya, mulai pukul 03.46 sudah tidak bisa dihubungi lagi. KRI Nanggala ini, rencananya akan melakukan latihan uji rudal di perairan Bali, dan diperkirakan hilang di perairan sekitar 60 mil atau sekitar 95 kilometer dari utara Pulau Bali.

Kapal tersebut dibuat oleh pabrikan Howaldtswerke, Kiel, Jerman tahun 1979 tipe U-209/1300 dan memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Kapal ini merupakan salah satu kapal selam yang resmi menjadi bagian dari alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia pada 1981.

Kecepatan kapal selam ini pun tak diragukan. Kapal KRI Nanggala-402 diketahui dapat melaju dengan kecepatan lebih kurang 25 knot, dengan mengandalkan mesin diesel elektrik. Knot adalah satuan kecepatan yang sama dengan satu mil laut (1,852 km) per jam. Jadi kalo 25 knot sama dengan 46,3 km/jam. Pada saat melakukan operasi ini, kapal selam ini membawa 53 orang yang terdiri dari 49 Anak Buah Kapal (ABK), seorang komandan satuan, dan tiga personel senjata. Kapal selam ini dijuluki sebagai monster bawah laut.

Nama ‘Nanggala’ yang disematkan dari kapal KRI Nanggala-402 tersebut diambil dari salah satu senjata dari prabu Baladewa, salah satu tokoh dalam pewayangan. Sedangkan arti nomer kapal 402 adalah menunjukkan bahwa pada nomor lambung yang diawali angka empat merupakan jenis kapal selam. Sebagaimana awalan 3(tiga) sebagai kapal perang, awalan nomer 5 (lima) sebagai kapal logistik dlsb.

Setalah 72 jam dilakukan pencarian, maka keberadaan KRI Nenggala dinyatakan subsunk. Sebuah isyarat yang menyatakan kapal hilang dan sudah ditemukan barang bukti. Selain kpasitas oksigen yang 72 jam, juka ada bukti tumpahan minyak dlsb. Sebenarnya tahap awal adalah sublook, yakni aksi yang dilaksakan jika kapal selam hilang kontak dan diduga mengalami permasalahan. Setelah tiga jam pencarian, prosedur berganti menjadi submiss, yakni status kapal selam hilang setelah tiga jam pencarian awal tak membuahkan hasil. Dan akhirnya tahap akhira dalah, subsunk tersebut.

Sebuah Pelajaran

Sebenarnya kasus tenggelamnya kapal selam, serta jatuhnya pesawat militer sudah sering terjadi di Indonesia. Salah satu hipotesanya karena, rerata alusista negeri ini sudah cukup tua. Bahkan, sebelum KRI Nenggala 402 ini hilang, ternyata pada 14 Juli 2020, KRI Teluk Jakarta  -541, juga tenggelam di perairan Masalembu – Jawa Timur. Demikian juga dengan Pesawat tempur Hawk 209 milik TNI AU jatuh di dekat Kampar, Riau, jatuh tanggal 16 Juni 2020. Helikopter MI-17 HA5141 milik TNI AD jatuh saat latihan terbang di Kendal, Jawa Tengah. Empat orang anggota TNI AD meninggal dunia, tanggal 6 Juni 2020, dst.

Mengapa hal itu terjadi? Padahal menurut https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php, 2021 Military Strength Ranking, pada tahun 2021 ini, kekuatan militer Indonesia, menempati peringkat ke-16 dunia. Sebuah kekuatan yang memang cukup diperhitungkan, oleh negara lain. Akan tetapi ternyata banyak alusistanya yang sudah tua, dan butuh peremajaan lagi. Sebagai contoh KRI Nenggala -402 ini sudah berusia 40 tahun sejak diterima di Indonesia. Dan 42 tahun sejak dibuat. Sebuah umur yang tua untuk perlengkapan militer. Sehingga, jika terjadi situasi perang saat ini misalnya, maka akan habis dan kalah serta takluk dengan lawan yang memiliki peralatan yang lebih canggih, modern dan terus di upgrade dan di update.

Banyak yang mendo’akan

Namun saya melihat ada kekuatan lain, sehingga militer kita masih kuat. Yaitu kekuatan Ibadah. Setalah dinyatakan tenggelam, maka di media sosial ramai meng-share gambar terkait dengan kegiatan sholat berjama’ah yang dilakukan oleh ABK di atas geladak KRI Nenggala 402 itu. Dari situ kemudian banyak sekali meme yang dibuat, dengan do’a yang  terus mengalir dengan tulus dari rakyat, kepada para penjaga kedaulatan bangs ini. Jelas ini sebuah penghargaan dan penghormatan melihat tingkat religiusitas, dan bisa jadi keimanan dan ketaqwaan dari ABK KRI Nenggala ini cukup tinggi. Fair enough.

Salah satu yang bisa dijadikan teladan adalah dari Kopda MES Khairul Faizin. Beliau menyekolahkan 2 (dua) putranya di TK/PAUD Yaa Bunayya Pesantren Hidayatullah Bojonegoro. Sebuah upaya agar sejak awal anaknya mendapatkan celupan keislaman dan keimanan, dengan menyekolahkan di sekolah Islam. Hal ini merupakansebuah tanggung jawab sebagai seorang Imam keluarga. Karena beliau sadar tidak bisa setiap hari membersamai anak-anaknya, disebabkan menjalankan tugas negara. Pak Khoirul Faizin meskipun seorang prajurit,  bukan pribadi yang hanya memikirkan diri dan keluarganya saja. Suatu ketika seluruh anak-anak PAUD Yaa Bunayya  diantarnya ke Pangkalan Militer Angkatan Laut yang ada di kawasan Tanjung Perak Surabaya. Dengan mengenalkan jenis-jenis kapal perang kepada anak-anak itu. Dan banyak lagi cerita di luar aktifitas sebagai prajurit, oleh ABK KRI Nenggala ini.

Akhirnya, kita harus meyakini, bahwa semua yang terjadi di dunia ini, sudah ditakdirkan Allah SWT. Ajal pasti datang tepat waktu. Tidak bisa dimajukan atau dimiundurkan. Tentu dalam hal ini, “beruntung” bagi mereka yang meninggal di bulan Ramadhan, apalagi dalam keadaan tenggelam. Apalagi jika dalam keadaan beriman kepada Allah SWT, Insya Allah akan mati syahid. Hal ini ditegaskan oleh sebuah sabda Rasulullah SAW, yang diriwatakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914).

Menurut Ibnu Hajar rahimahullah, membagi mati syahid menjadi dua macam: Pertama, Syahid dunia adalah mati ketika di medan perang karena menghadap musuh di depan. Kedua, Syahid akhirat, yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits di atas (yang mati tenggelam dan semacamnya, pen.). Mereka akan mendapatkan pahala sejenis seperti yang mati syahid. Namun untuk hukum di dunia (seperti tidak dimandikan, kecuai tidak ditemukan/hilang pen.) tidak berlaku bagi syahid jenis ini. (Fath Al-Bari, 6; 44)

Semoga ABK KRI Nenggala-402, selain dicatat sebagai pahlawan Kusuma bangsa karena sedang menjalankan tugas negara, juga bagi yang muslim, dicatat Syahid di jalan-Nya. Dan keluarga yang ditinggalkan tabah dan selalu dalam bimbingan dan ma’unah Allah SWT.  Allahumaghfirlahum warhamhum waafihi wa’fuanhum. Wallahu A’lam.