Kronik, Peradaban, Tarbiyah

15 Pelajaran Hidup yang Kuat dari buku “Mindset”


Dalam buku Mindset – the new psikology of success – How We can learn to fulfill our potential ini telah terjual lebih dari 2 (dua) juta kopi. Edisi terakhir terbit tahun 2017, telah diterjemahkan ke berbagai Bahasa, termasuk ke Bahasa Indonesia. Buku ini dikarang oleh Paul S. Dweck , PhD. Dia berbagi konsep tentang  bagaimana ide sederhana tentang otak dapat menciptakan kecintaan belajar dan ketahanan yang merupakan dasar dari pencapaian besar di setiap bidang pekerjaan dan kehidupan.

Carol Dweck mempelajari motivasi manusia. Dia menghabiskan hari-harinya menyelami mengapa orang berhasil (atau tidak) dan apa yang ada dalam kendali kita untuk mendorong kesuksesan. Teorinya tentang dua pola pikir dan perbedaan yang mereka buat dalam hasil sangat kuat. Continue reading “15 Pelajaran Hidup yang Kuat dari buku “Mindset””

Dakwah, Leadership, Peradaban, Tarbiyah, teknologi

Ketika Pakar Tak Berpengaruh Lagi


IDEApers

Saat ini, kejadian apapun juga, akan melahirkan pengamat dan ahli baru. Di mana sebenarnya secara akademis dan jejak digitalnya, orang tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan yang linear untuk itu. Namun, seolah dia yang paling tahu segalanya : Politik, Ekonomi, Sosial, Agama, dlsb . Dan anehnya, memang setiap kejadian dengan berlainan topik, bisa dengan cepat meresponnya. Hal yang terbaru adalah ketidaksamaan penetapan 1 Dzulhijjah 1443 H, yang berimbas pada pelaksanaan Sholat Idul Adha.

Sebenarnya hal itu  (orang memiliki banyak ilmu), dulu menjadi sesuatu yang  biasa dan wajar, bahkan  melekat langsung pada seorang berilmu. Namun kemudian berubah setelah keilmuan dibagi menjadi lebih dispesifikasikan dalam berbagai batasan yang kaku, dan mengerangkengnya. Dan semakin kesini, semakin lebih spesifik lagi. Sekularisasi keilmuan menjadi penyebabnya.

Mengapa demikian? Sebab, sebagaimana dalam berbagai referensi, maka banyak sarjana Muslim di abad pertengahan, memerankan peranan ini. Ketika Barat menamakan dirinya dalam Dark Age, maka ilmuwan Islam berada dalam era Golden Age. Para sarjana Muslim itu, menemukan dan merumuskan serta mempraktekkan berbagai jenis keilmuan. Pada saat yang sama, seolah mereka menjadi eksiklopedi berjalan, dengan berbagai multidisiplin keilmuannya itu. Hal ini, apa yang kemudian oleh Barat di sebut sebagai polymath (polimatik). Yaitu seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang keilmuan. Continue reading “Ketika Pakar Tak Berpengaruh Lagi”

Covid, ekonomi, Peradaban, Politik.

The Enemy of My Enemy is My Friends


pinterest

Dunia medsos gempar. Tiba-tiba ada pernyataan mengejutkan dari Ruhut Sitompul alias si Poltak. Salah seorang pengacara yang juga aktivis Partai Politik itu. Dia terkenal sebagai kutu loncat. Pernah di Partai Golkar, Partai Demokrat, dan terakhir berlabuh ke PDIP. Gerakannya, mengikuti  dan mengekor partai apa yang sedang berkuasa. Nebeng disitu.

Ada anomali dari statemennya, yang di luar kebiasaannya. Sebagimana dikutip beberpa media beberapa hari belakngn ini. Biasanya dia selalu komentar miring terhadap Gubernur DKI. Seolah apapun yang dilakukan oleh Mas Anies tidak ada benarnya, semua salah. Lengkap dengan bullyan. Tak segan dia menghabisi dan menebar hoax kepada Mas Anies. Bukan sekedar kritik. Tapi melakukan character assassination. Dia melakukan prinsip kill the messenger.

Mas Anies bicara apa, ditimpali dengan komen yang sarkastik, nyelekit, diametral & paradoks. Seolah ingin dilumat, dihabisi, meski tanpa data dan miskin narasi. Yang penting nge-gas dan viral. Nampaknya by design, atau memang dia pion yang sedang dipasang untuk membuat gaduh. Dan biasanya berhasil memancing reaksi netizen. Meski selalu ada yang kotra dan melawannya, dengan data, fakta dan akal sehat. Namun selalu saja bisa berkelit. Ibarat belut masuk oli, susah dipegang. Continue reading “The Enemy of My Enemy is My Friends”

iptek, Islam, Peradaban

Ibnu Bajjah Ilmuwan Besar Multidisiplin : Banyak Karya, Mati Muda


Ibnu Bajjah (ابن باجة) atau lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh at-Tujibi bin Bajjah (أبو بكر محمد بن يحيى بن الصايغ) adalah seorang astronom, filsuf, musisi, dokter, fisikawan, psikolog, botanis, sastrawan, dan ilmuwan Muslim Andalusia. Beliau dikenal di Barat dengan nama Latinnya, Avempace.  Ia lahir di Zaragoza 1095, tempat yang kini berada di wilayah Spanyol, dan meninggal di Fez-Maroko pada 1138.

Pada masanya, kajian Filsafat di Al-Andalus berkembang lebih lambat daripada di Timur; ia tumbuh di kalangan Muslim dan Yahudi, karena kedua komunitas itu dipelihara oleh bahasa Arab yang sama. Komunitas Muslim jauh lebih besar dan mendefinisikan ruang budaya, yang sebagian besar dibuat oleh terjemahan bahasa Arab dari karya-karya ilmiah dan filosofis Yunani.

Dari sintulah maka, Avempace menulis salah satu komentar pertama tentang Aristoteles di dunia barat. Sementara karyanya pada gerakan proyektil tidak pernah diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Teori Avempace tentang gerakan proyektil ditemukan dalam teks yang dikenal sebagai “Teks 71” Continue reading “Ibnu Bajjah Ilmuwan Besar Multidisiplin : Banyak Karya, Mati Muda”

Dakwah, Islam, Leadership, Peradaban, Politik.

Robohnya Oligarki Sempurna


google

Dalam Surah Al-Hijr Ayat 1, Allah ta’ala menegaskan bahwa Alquran adalah kitab yang sempurna. Di mana dalam berbagai tafsir secara implisit menjelaskan bahwa Alquran adalah kitab yang paling lengkap isinya dan membenarkan serta menyempurnakan kitab-kitab lain yang pernah diturunkan kepada para Rasul. Sehingga, sebagai salah satu mukjizat yang diberikan Allah SWT, kepada Nabi Muhammad SAW, al-Qur’an merupakan kitab suci yang memiliki banyak keistimewaan dan keutamaan. Salah satunya adalah tuntunan sejarah masa lalu dan menjadi ikutan sampai dengan akhir zaman kelak.

Berbicara tentang sejarah, maka membicarakan tentang sejarah kekuasaan menjadi sesuatu yang menarik. Dan sejarah kekuasaan yang menonjol, diantara berbagai sejarah lainnya, adalah beekenaan dengan kekuasaan dari Fir’aun. Sebab saat Fir’aun berkuasa, dia tidak sendirian. Ternyata ada tokoh, yang kemudian dapat dipersonifikasikan sebagai entitas/kelompok pendukung, yang kemudian menjadi penopang kekuasaannya itu.

Aktor-aktor tersebut, bekerja secara bersama-sama, bersekongkol, kong-kalikong, untuk  menunjukkan eksistensi kekuasaannya, hingga mempertahankan kekuasaanya dengan menghalalkan berbagai cara. Bahkan tak segan mengintimidasi rakyat, menindas, mengancam, menekan, mempersekusi dan sejumlah diksi sejenis lainnya. Continue reading “Robohnya Oligarki Sempurna”