Gerombolan Copet, Maling, Rampok, Penjarah dan Penjajah Negeri


Menarik tulisan pak Dahlan Iskan bertajuk Kecopeten Sebelum ke Amerika. Sebuah satire yang menghibur, sekaligus mengedukasi bagi rakyat. Dan seharusnya pemimpin negeri ini meski menelaah sindiran mantan menteri BUMN itu. Hingga faham betul tentang dampak dari pelemahan kurs rupiah yang sebenarnya menyusahkan rakyat. Bukan malah memberikan argumen, sekaligus pembelaan, sebagaimana disampaikan Menkeu Sri Mulyani yang menyatakan bahwa setiap kenaikan kurs dolar Rp. 100,-, pemerintah dapat Rp. 1,7 T. Yang sontak mendapat respon dari netizen mengapa dolar tidak dibiarkan Rp. 20.000,- bahkan biarkan naik terus, biar negara untungnya besar.

Ilustrasi yang digambarkan oleh pak DIS disitu cukup simple tapi jelas , terkait pengaruh pelemahan rupiah terhadap dolar. Hal yang sangat mudah dipahami oleh orang awam.

Continue reading

Advertisements

Menghadang Propinsi Cina


Meski saya banyak tidak sepakat dengan tesis Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, yang dipakai referensi banyak sarjana, bahkan tidak sedikit dipakai dasar pengambilan kebijakan politik di berbagai negara di dunia. Seolah jika membicarakan peradaban dan kondisi kekinian, tidak afdhol jika tidak mengutip buku itu. Dimana intinya adalah, menempatkan Islam sebagai musuh Barat, setelah runtuhnya komunis (Soviet, Jerman Timur, Cekoslowakia, dst).

Saat sedang santai di ruang baca pagi tadi, saya melihat dan ambil buku yang sudah usang itu. Setelah di bolak balik, mata tertuju ke sebuah halaman, yang menurut saya ada relevansinya dengan kondisi kekinian. Sehingga terpaksa mengutip satu paragraf dari buku yang jadi best seller itu. Disitu tertuang tentang deskripsi Huntington sekitar tahun 1990an, serta prediksinya kedepan, berkenaan dengan dominasi Cina, dimana Indonesia berada pada pusaran bagian ini. Dan kini, setelah hampir tiga puluh tahun, mendapat kebenarannya. Singkatnya, Continue reading

Tentang Skema Ponzi


Kasus penipuan yang dilakukan oleh First Travel, Abu Tours yang menghangat beberapa bulan ini dan telah masuk ke persidangan, nampaknya tidak membuat kapok, dan disinyalir masih ada beberapa Biro Travel Haji Umrah yang juga akan mengalami nasib yang sama, meski kasusnya sedikit berbeda. Hal yang sama, sesungguhnya merupakan pengulangan dari kasus-kasus investasi semisal sebagaimana di alami dalam investasi di Alam Raya, Langit Biru, Kospin di Sulawesi, Pohon Emas dan masih banyak lagi. Demikian halnya dengan kasus investasi atau bisa dalam bentuk arisan lainnya, yang tak ter-ekspose ke publik. Namun praktek-prektek seperti ini banyak terjadi di tengah masyarakat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa, pemahaman umat, berkenaan dengan investasi masih minim dan lemah. Sehingga dengan rayuan, pengembalian (return) yang menggiurkan, baik dalam bentuk bunga maupun skema bagi hasil, yang sesungguhnya tidak masuk akal, tidak logis, tetap saja diterima menjadi sebuah kebenaran dan keuntungan yang menggiurkan, olehnya mereka mengikutinya. Kasus investasi “bodong” seperti ini, memang terus terjadi dan berulang. Hal ini memang terjadi banyak aspek, salah satunya juga diakibatkan oleh lemahnya pemahaman tentang fiqh mumalah, termasuk di dalamnya adalah ketiadaan pemahaman tentang syirkah, mudharabah, murabahah, ijarah, dan seterusnya. Lagi-lagi hal ini, bersebab dari lemahnya edukasi tentang investasi di satu sisi, di lain pihak juga tarikan (gravitasi) tentang keuntungan dan janji yang menggiurkan di depan mata, membuat rakyat (bahkan tidak sedikit ustadz), laksana tertutup matanya, bagai kerbau di cocok hidungnya. Mengikuti saja tawaran-tawaran itu, tanpa reserve, karena matanya sudah hijau tertutup oleh gambaran keuntungan yang ditawarkan itu. Sesungguhnya, hal seperti ini bukan barang baru. Sebab, sudah sejak lama ada, namun, “penipuan” modern, dimulai sejak awal tahun 1900-an. Praktik sejenis ini sudah di mainkan oleh Carlo (Charles) Ponzi, dengan apa yang dikemudian hari dikenal dengan istilah skeema Ponzi.

Skema Ponzi (Sistem Ponzi/Ponzi Scheme) adalah istliah yang digunakan untuk mendefinisikan sebuah sistem dimana seseorang menginvestasikan dana demi mendapat keuntungan dan keuntungan yang diperoleh adalah berasal dari investasi yang dilakukan oleh investor berikutnya. Disebut sebagai Skema Ponzi (Ponzi Scheme) karena sistem ini pertama kali digunakan oleh Carlo Ponzi. Skema ini masih banyak digunakan pada banyak bisnis sampai dengan sekarang. Continue reading

Nilai-Nilai Ekonomi Syariah


Sebenarnya sudah lama saya ingin berbagai tulisan ini. Saya terinspirasi dan kemudian mengambil salah satu materi dalam International Seminar on Islamic Economic System – A Reply to Global Economic Challenge yang dilaksanakan STIE Hidayatullah, dalam ruang GBHN DPR/MPR Republik Indonesia pada tanggal, 5 February 2018, dengan tema Increasing National Competitiveness through Strengthening Sharia Economic and Finance. Materi ini disampaikan oleh Dr. Prayudhi Azwar, MEc sebagai Islamic Economic and Finance Department Bank Indonesia. Presentasi beliau cukup komplit dan lengkap. Semua aspek, baik yang sifatnya konseptual sampai data-data berkenaan dinamika dan implementasi ekonomi Islam secara khusus dan ekonomi di dunia pada umumnya, tersampaikan dengan baik.

Dari materi yang berbobot itu, memang sarat dengan data dan informasi, sehingga semuanya bisa dijadikan referensi bagi pegiat ekonomi Islam. Saya sangat menikmati. Tidak perlu mengerutkandahi untuk memahaminya. Semua ditampilkan dengan cara yang mudah dipahami. Continue reading

Zakat Berbasis Blockchain


Sebagai sebuah teknologi, blockchain masih tergolong baru. Sekitar tahun 2009, teknologi ini mulai dikenal. Dan sebagaimana watak teknologi, dia terus berkembang, mengikuti dinamika peradaban. Sebagai sebuah tools, sebenarnya blockchain ini, tidak berbeda dengan teknologi lainnya. Tergantung siapa dan bagaimana cara penggunaanya. Bahkan, dalam sebuah diskusi, sesungguhnya blockchain ini sebuah teknologi yang syar’i. Dimana, dia menyediakan sebuah sistem yang memungkinkan setiap orang dengan syarat tertentu, bisa memverifikasi atas apa yang dilakukannya. Persis, bagaimana ketatnya standar sanad dalam ilmu hadits. Dengan teknologi bawaan blockchain yang terdistribusi, sehingga memungkinkan banyak pihak sebagai verifikator, atas yang dilakukan oleh orang lain. Semua tercatat dalam ledger (buku besar), sehingga praktis, apa yang tercatat di ledger tersebut juga diketahui, dilihat, disimpan dan selanjutnya di verifikasi oleh pihak lainnya. Dengan demikian maka, blockchain merupakan teknologi yang mengajarkan kejujuran, sebab semua informasi tercatat dan tersebar ke berbagai pihak. Sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak menguasai teknologi blockchain ini, sebagai sebuah teknologi masa depan.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa umat Islam seringkali tertinggal dalam hal teknologi? Termasuk berkenaan dengan blockchain tersebut. Continue reading

Tansiqul Harakah


Saya mendengar kalimat tansiqul harakah ini, langsaung disampaikan dari lisan Prof. Dr. Ma’ruf Amin, diberbagai waktu, kesempatan yang berbeda disetiap acara yang saya ikuti. Sebuah diksi, yang menurut saya cukup menarik, untuk di kaji lebih jauh. Menjadi menarik, karena kalimat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI), yang sekaligus Rais ‘Aam PBNU. Yang dengan derajat keulamaannya, beliau mampu menyampaikannya dengan pendekatan dan bahasa yang indah, tanpa multi interpretasi. Hal ini, seringkali beliau kemukakan berkenaan dengan peran MUI ditengah-tengah umat. Dan sudah barang tentu dengan gayanya beliau yang runut, ringan, singkat, padat dan jelas, saat men-sarah sesuatu, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami, awam seperti saya ini.

Tansiqul Harakah ini, sebenarnya sudah dibahas diberbagai kesempatan, bahkan tahun lalu saat Komisi Dakwah MUI mengeluarkan beberapa pedoman dakwah diantaranya : pedoman dalam pe membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama ahlussunnah wal jama’ah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathiyah. Continue reading

Islamic Economic System in Answering Global Economic Challenge


Alhamdulillah, Senin, 5 Pebruari 2018, bertempat di Ruang GBHN Gedung Nusantara V DPR/MPR RI, berlangsung seminar internasional dengan tajuk sebagaimana judul di atas. Ada 3 pembicara yang hadir untuk neyampaikan gagasannya pada kesempatan itu. Pertama adalah Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh dari Center for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia, Pulau Penang, Malaysia. Kedua Sherereza binte Mohamed Saniff, Ph.D, Dosen Faculty of Islamic Development Management, Sultan Sharif Ali Islamic University (UNISSA), Brunei Darusalam. Dan yang ketiga adalah, Prayudhi Azwar, Ph.D. Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. Dan acara ini diselenggarakan oleh BEM Revolusi STIE Hidayatullah Depok. Dan saya di amanahi untuk memoderatori acara tersebut. Penunjukkan dadakan yang agak bikin grogi, tetapi akhirnya alhamdulillah bisa berjalan lancar. Continue reading