Posted in Parenting

Menggagas Taman Bacaan Anak Sholeh


Berawal dari sebuah kegelisahan kami sebagai orang tua, ketika anak-anak melaksanakan libur sekolah, dimana hari-hari mereka lebih banyak dihabiskan di depan Televisi, yang seringkali didefinisikan dengan sarkasme, sebagai kotak setan itu. Bukan berarti saya anti TV, akan tetapi lebih karena content-nya, yang seringkali tidak sesuai dengan pertumbuhan anak-anak. Tidak dipungkiri, bahwa ada juga acara-acara TV itu yang selaras dengan perkembangan jiwa anak, dan di desain untuk anak-anak, akan tetapi karena alasan komersiil, seringkali iklan yang seharusnya untuk orang dewasa, nyelonong di acara anak-anak. Tidak juga saya memproteksi anak-anak, untuk tidak menonton/memboikot TV, akan tetapi secara kasat mata, survey kecil-kecilan saya terhadap anak-anak, jika mereka  asyik masyuk di depan TV, maka seringkali perilakunya akan berubah. Tidak jarang pula menjadi males, kalo tidak bisa dibilang mematikan kreatifitas. Mereka lebih pandai meniru apa yang mereka lihat, dari pada membuat sesuatu dari hasil karyanya. Secara sadar atau tidak, anak-anak kita akan menjadi follower tidak bisa menjadi leader, menjadi user bukan producer, dan seterusnya. Untuk itu sempat selama 3 tahun kami tidak memiliki TV dirumah. Kemudian kami sediakan TV, tetapi hanya untuk memutar VCD/DVD anak-anak. Dan sebagai gantinya kami langganan koneksi internet. Sehingga anak-anak tidak ketinggalan informasi/wawasan, tentu saja saya filter site-site/content apa saja yang bisa dikunjungi. Ternyata jebol juga pertahanannya, sehingga channel-channel TV itu akhirnya dengan mudah di pentengin anak-anak.

Sebenarnya, saya dan istri sudah lama membiasakan anak-anak untuk membaca. Bahkan sejak anak pertama kami belum genap 1 tahun (sekitar 11 tahun yang lalu). Untuk memenuhi keinginan anak-anak tersebut, kami senantiasa membelikan tambahan koleksi buku setiap bulan. Bahkan anak-anak saya telah hampir habis melalap buku-buku itu, tidak jarang mereka membaca satu judul buku berulang beberapa kali. Tidak kurang dari 300 (tigaratus) judul buku anak-anak tersedia di perpustakaan pribadi di rumah. Memang belum banyak, akan tetapi ternyata tidak sedikit menyita ruangan di rumah kami yang mungil. Istri saya menata dengan rapih buku-buku itu. Meskipun belum di klasifikasikan sesuai dengan Klasifikasi Desimal Dewey (Dewey Decimal Classification (DDC), akan tetapi sudah di kelompokkan agar anak-anak mudah mengambil dan menaruh kembali.

Obrolan kami tadi pagi di dapur, nampakya mencapai kesepakatan bahwa kami harus menyediakan “bacaan” yang bergizi, tidak sekedar kepada anak-anak biologis kami, tetapi terhadap anak-anak sekitar kami juga. “Bacaan” dengan makna yang seluas-luasnya, yaitu memberikan anak-anak sebuah media media belajar, yang disitu anak-anak bisa membaca, mempelajari, bahkan lebih jauh mengexlore gagasannya. Saya berkeinginan adanya Community Based Learning¸ sehingga lingkungan kehidupan di sekitar kami adalah tempat belajar yang sesungguhnya. Dengan demikian kami berharap anak-anak ini nantinya akan tumbuh sebagai pribadi yang unggul, tangguh, kreatif, inifatif, mandiri dan memiliki leadership, sehingga mampu memimpin dunia. Dan pekerjaan besar itu akan kami mulai dari garasi Rumah Kami. Insya Allah.

Advertisements