Gerombolan Copet, Maling, Rampok, Penjarah dan Penjajah Negeri


Menarik tulisan pak Dahlan Iskan bertajuk Kecopeten Sebelum ke Amerika. Sebuah satire yang menghibur, sekaligus mengedukasi bagi rakyat. Dan seharusnya pemimpin negeri ini meski menelaah sindiran mantan menteri BUMN itu. Hingga faham betul tentang dampak dari pelemahan kurs rupiah yang sebenarnya menyusahkan rakyat. Bukan malah memberikan argumen, sekaligus pembelaan, sebagaimana disampaikan Menkeu Sri Mulyani yang menyatakan bahwa setiap kenaikan kurs dolar Rp. 100,-, pemerintah dapat Rp. 1,7 T. Yang sontak mendapat respon dari netizen mengapa dolar tidak dibiarkan Rp. 20.000,- bahkan biarkan naik terus, biar negara untungnya besar.

Ilustrasi yang digambarkan oleh pak DIS disitu cukup simple tapi jelas , terkait pengaruh pelemahan rupiah terhadap dolar. Hal yang sangat mudah dipahami oleh orang awam.

Continue reading

Advertisements

Kurs, Hutang dan Cukong


Hari-hari ini, kita disibukkan dengan berita melemahnya kurs (nilai tukar)  rupiah terhadap semua mata uang di dunia. Akan tetapi yang menjadi sorotan adalah, melemahnya nilai rupiah terhadap US Dolar. Menurut Kwik Kian Gie, sejak tahun 1971 rupiah terhadap USD mengalami depresiasi (pelemahan) sekitar 3.750%. Dan beberapa hari lalu sempat menyentuh ke level 14.235. Pelemahan ini, terendah sejak 3 tahun terakhir. Dan kita tidak tahu fluktuasi naik-turunnya ini kapan berakhir.

Hal ini membelah pendapat, baik antar analis, maupun pembelaan pemerintah. Tidak kurang seorang menteri, menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia  masih aman Continue reading

Tansiqul Harakah


Saya mendengar kalimat tansiqul harakah ini, langsaung disampaikan dari lisan Prof. Dr. Ma’ruf Amin, diberbagai waktu, kesempatan yang berbeda disetiap acara yang saya ikuti. Sebuah diksi, yang menurut saya cukup menarik, untuk di kaji lebih jauh. Menjadi menarik, karena kalimat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI), yang sekaligus Rais ‘Aam PBNU. Yang dengan derajat keulamaannya, beliau mampu menyampaikannya dengan pendekatan dan bahasa yang indah, tanpa multi interpretasi. Hal ini, seringkali beliau kemukakan berkenaan dengan peran MUI ditengah-tengah umat. Dan sudah barang tentu dengan gayanya beliau yang runut, ringan, singkat, padat dan jelas, saat men-sarah sesuatu, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami, awam seperti saya ini.

Tansiqul Harakah ini, sebenarnya sudah dibahas diberbagai kesempatan, bahkan tahun lalu saat Komisi Dakwah MUI mengeluarkan beberapa pedoman dakwah diantaranya : pedoman dalam pe membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama ahlussunnah wal jama’ah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathiyah. Continue reading

Islamic Economic System in Answering Global Economic Challenge


Alhamdulillah, Senin, 5 Pebruari 2018, bertempat di Ruang GBHN Gedung Nusantara V DPR/MPR RI, berlangsung seminar internasional dengan tajuk sebagaimana judul di atas. Ada 3 pembicara yang hadir untuk neyampaikan gagasannya pada kesempatan itu. Pertama adalah Prof. Dr. Muhammad Syukri Salleh dari Center for Islamic Development Management Studies (ISDEV) Universiti Sains Malaysia, Pulau Penang, Malaysia. Kedua Sherereza binte Mohamed Saniff, Ph.D, Dosen Faculty of Islamic Development Management, Sultan Sharif Ali Islamic University (UNISSA), Brunei Darusalam. Dan yang ketiga adalah, Prayudhi Azwar, Ph.D. Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah, Bank Indonesia. Dan acara ini diselenggarakan oleh BEM Revolusi STIE Hidayatullah Depok. Dan saya di amanahi untuk memoderatori acara tersebut. Penunjukkan dadakan yang agak bikin grogi, tetapi akhirnya alhamdulillah bisa berjalan lancar. Continue reading

Politics is Business


Terilhami oleh comments seorang sahabat atas status Fb saya, ketika membahas tentang kebijakan impor beras yang menurut saya menjadi bagian dari liberalnya politik di Indonesia. Saya tulis, ketika politik jadi komoditas, petani jadi korban, tengkulak untung, birokrat dapat komisi. Atas status itu, dia menyampaikan pesan yang sangat singkat. Tetapi jelas dan lugas. Dia bilang, jika dulu business is business, dan politic is politic, kini berubah politics is business. Saya rasa ini pernyataan yang benar, meski sarkastik. Dan pernyataan ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi momentumnya tepat.

Pernyataan itu, menjadi benar saat mencium aroma transaksional yang sangat menyengat dan praktiknnya jelas di depan mata. Terutama, saat penentuan calon kepala daerah, dalam pilkada serentak tahun ini. Kita saksikan, bagaimana partai dijadikan kendaraan untuk maju sebagai calon eksekutif, dan hal sama juga saat penentuan calon legislatif. Terlebih di Pilkada kali ini, carut marut dengan jelas dipertontonkan. Kita bisa lihat bagaimana partai saling comot orang. Tidak pandang bulu, dia kader atau bukan. Mengerti platform, visi, misi, program partai atau tidak. Yang penting “layak” dijual, Continue reading