Pray For Palestine


Yahudi Laknatullah kembali berulah lagi. Kekejaman bangsa kera itu, dilakukan malam hari di bulan Ramadhan. Selepas berbuka, di saat umat Islam sedang melakukan shalat tarawih di masjid Al Aqsa. Penjajah itu,  mengerahkan polisinya untuk melepaskan tembakan peluru karet dan granat kejut ke warga Palestina yang tengah melaksanakan ibadah salat tarawih di komplek Masjid Al-Aqsa pada Jumat (7/5) malam. Kekerasan ini sudah berlangsung selama satu pekan di Kota Suci dan Tepi Barat. Kita dapat saksikan dan lihat diberbagai media yang mempublikasikannya.

Sedikitnya, hingga hari sabtu 8/5, tercatat ada 205 warga Palestina dan 17 petugas terluka dalam bentrokan malam hari di situs paling suci ketiga Islam dan di sekitar Yerusalem Timur. Petugas medis pontang-panting mengurusi kurban di saat polisi Israel membabi buta dan menggila, menghajar penduduk Palestina yang sedang khusyuk beribadah itu.

Salah satu alasan yang ramai di publik disebutkan bahwa, kekerasan ini terjadi akibat kebijakan Israel yang melarang Muslim masuk ke dalam Kota Tua selama bulan suci Ramadhan. Pihak berwenang Israel juga meminta sejumlah keluarga Palestina meninggalkan rumah mereka untuk memberi ruang bagi pemukim Israel.

Padahal permasalahan utamanya adalah bermula saat Israel tidak hanya menyuruh pindah warga Palestina, akan tetapimerebut dan menduduki tanah milik warga Palestina di daerah Sheikh Jarrah, dengan cara mengusir pemilik tanah air yang syah atas pemukiman tersebut. Sengketa ini sudah terjadi bertahun-tahun. Awal tahun ini, sebuah pengadilan distrik di Yerusalem memutuskan bahwa rumah-rumah itu legal milik keluarga Yahudi. Padahal kenyataannya adalah sebaliknya, sejatinya Yahudi biadab itulah yang merampas dengan kekerasan.

Pengadilan penjajah pasti membela rakyat Israel itu. Mereka mengklaim bahwa pembelian tanah  itu dilakukan beberapa dekade lalu. Padahal pembelian itu dilakukan secara illegal, akibat pengusiran dan pendudukan. Sehingga keluarga-keluarga Palestina yang berada di Sheikh Jarrah, memberi bukti atas kepemilikan tanah tersebut, bahwa rumah mereka diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam. Akan tetapi, denga jumawa penjajah Israel tidak mengakuinya.

Menanggapi kejadian ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga buka suara. Melansir AFP ia menyebut Israel sebagai negara teroris. “Israel, negara teroris yang kejam, menyerang Muslim di Yerusalem dengan cara yang biadab tanpa etika,” kata Erdogan.

Sementara itu Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh mengirim pesan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan kepadanya “jangan bermain-main dengan api.” “Ini adalah perjuangan yang tidak dapat dimenangkan oleh Anda, tentara Anda, polisi Anda, dan seluruh negara. Kami akan mempertahankan Yerusalem apa pun pengorbanan yang harus kami lakukan,” ujar Haniyeh, yang dikutip dari lapor Ynet.

Demikian halnya dengan badan-badan Arab di seluruh Timur Tengah secara luas mengutuk kekerasan polisi Israel selama bentrokan dengan jemaah di Masjid Al-Aqsa pada Jumat (7/5/2021), seperti yang dilansir dari The Jerusalem Post pada Sabtu (8/5/2021).

Di Indonesia MUI dan Ormas-ormas Islam mengutuk keras serangan Penjajah Israel terhadap umat Islam yang sedang melaksanakan sholat tarawih tersebut. Dslam keterangan pers-nya, MUI menyatakan “Langkah empati dan konstruktif ini juga bisa dilakukan oleh negara negara Uni Eropa dan lain lain. Secara bersama-sama negara negara ini bisa melakukan tekanan internasional terhadap Israel melalui PBB. Jika diperlukan, Israel diberi sanksi internasional.”

Namun secara resmi pemerintah Indonesia, setidaknya hingga hari ini belum mengeluarkan pernyataan sikapnya. Mungkin sedang sibuk mengurusi Bipang Ambawang yang kini sedang menjadi viral tersebut.

Padahal, seharusnya Pemerintah RI, berada pada garda terdepan ketika melihat penjajahan yang biadab seperti ini. Sebagai wujud pelaksanaan pembukaan UUD ’45 pada alinea pertama,”Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Bangsa Pembohong

Israel sebagai bangsa penjajah, sekaligus bangsa yang bengis dan pembohong. Selalu ingin menang sendiri. Tidak pernah menepati janji. Setiap kebijakan maupun perjanjian yang telah disepakati, bakal diingkari dan dikhianati. Hal ini berlangsung terus-menerus dan mengulang-ulang. Anehnya bangs aini masih saja bisa eksis. Memang sebenarnya jika umat yakin, sebenarnya tinggal tunggu waktu atas kehancuran Israel ini.

Terkait dengan sikap bangsa Israel ini, al Qur’an telah banyak memberikan petunjuk, bagaimana kemurkaan Allah terhadap Yahudi ini :

فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ} [البقرة : 90]

“Karena itu mereka (Yahudi) mendapat murka di atas kemurkaan (yang mereka dapatkan sebelumnya). Dan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” [Al-Baqarah : 90]

Sehingga relevan juga untuk mengutip pernyataan Adolf Hitler mengenai Yahudi tersebut. Dia bilang sebagai berikut :“Ich konnte all die Juden inua dieser Welt zu zerstören, aber ich lasse ein wenig drehte-on,so können Sie herausfinden, warum ich sie getötet” (Bisa saja saya musnahkan semua Yahudi di dunia ini, tapi saya sisakan sedikit yang hidup, agar kamu nantinya dapat mengetahui mengapa saya membunuh mereka)

Kekejaman demi kekejaman, kebiadaban demi kebiadapan terus berlangsung terhadap saudara muslim kita di Palestina. Semua yang dilakukan itu tanpa adanya peri kemanusiaan sama sekali. Dan pelanggaran HAM berat sesungguhnya nyata terjadi disitu. Tetapi, ketika menghadapi Yahudi dan yang menimpa Umat Islam, sekelas PBB pun melempem, tidak ada suaranya yang berarti. Jika ada suaranyapun tidak dihiraukan oleh Bangsa Penjajah itu. Dengan pongah, Bangsa yahudi itu melanggar. Dan tetap tidak kena sanksi.

Sehingga, semakin hari penderitaan rakyat Palestina semakoin memilukan. Bahkan mereka terusir dari tanah airnya sendiri. Terkait dengan itu pernyataan Recep Tayib Erdogan ini, patiut direnungkan “Anda tidak perlu menjadi muslim untuk membela palestina, cukup menjadi manusia.” Begitulah statemen Presiden Turki yang menggambarkan, wujud soidaritas tidak hanya sebatas solidasitas sesame muslim, akan tetapi solidaritas antar umat manusia.

Tetapi kita yakin bahwa Palestina, Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis, akan Kembali ke pangkuan umat Islam, cepat atau lambat. Sebagaimana Umar bin Khaththab dan Shalahuddin Al-Ayyubi merebut Baitul Maqdis dari kaum kafir. In Syaa Allah hal itupun pasti akan terjadi. Semua berpuloang kepada kualitas iman dan kepemimpinan umat Islam.

Mumpung masih di penghujung bulan Ramadhan, do’a terbaik wajib kita panjatkan untuk saudara-saudara kita di Palestina, di waktu-waktu mustajabah. Terutama di witir saat qiyamul lail dengan melantunkan Qunut Nazillah. Disamping itu bantuan kemanusiaan juga wajib kita salurkan melalui lembaga resmi yang memiliki reputasi yang baik terhadap bantuan kepada muslim Palestina.

Terakhir, mari kita renungkan Surat Ali Imran : 112 ini

{ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ} [آل عمران : 112]

Telah ditimpakan kepada mereka (Yahudi) kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah serta ditimpakan kepada mereka kerendahan. Yang demikian itu (yakni: ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu (yakni: kekafiran dan pembunuhan atas para nabi-nabi) disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” [Ali ‘Imran : 112]

Semoga Allah hancurkan Yahudi Laknatullah tersebut, dan memenagkan Islam. Sebagaimana cara Umar bin Khaththab dan Salahuddin Al Ayubi, mengembalikan Al Aqsa dan Baitul Maqdis ke pangkuan Islam. Tidak bisa dengan diplomasi dan menunggu belas kasihan dari penjajah. Harus ada perlawanan, jihad fi sabilillah. Wallahu A’lam

Krisis Oksigen !


India krisis oksigen. Selama seminggu terakhir, banyak pasien Covid-19 yang sesak napas telah meninggal karena tidak tersedianya oksigen medis di rumah sakit di beberapa negara bagian di negara tersebut. Berlawanan dengan klaim dan isu yang ada, ternyata kekurangan oksigen di beberapa negara bagian bukan karena produksi yang lebih rendah atau ekspor pada tahun ini.

Sebab, pesan SOS di Twitter dan platform media sosial lainnya menunjukkan parahnya kekurangan oksigen di negara-negara bagian ini. Dengan tagar #indianeedsoxygen, menjadi trending topic dunia, di berbagai plafform media sosial tersebut. Sementara itu, para pemimpin partai oposisi dan warga yang terkena dampak mengecam Pusat dan pemerintah negara bagian karena kekurangan oksigen medis, yang diperlukan rumah sakit untuk menjaga pasien Covid yang kritis tetap hidup. Mereka “menggorengnya” sehingga tidak hanya jadi isu nasional, akan tetapi menjadi isu dunia.

Akan tetapi sebagaimana dikutip dari indiatoday, India telah mengekspor 9.301 metrik ton oksigen ke seluruh dunia antara April 2020 dan Januari 2021. Sebagai perbandingan, negara itu hanya mengekspor 4.502 metrik ton oksigen pada tahun 2020. Oksigen yang disuplai berbentuk cair dan dapat digunakan baik untuk keperluan industri maupun medis. Sehingga ekspor besar-besaran oksigen India tersebut layak dijadikan biang kerok kekurangan oksigen untuk medis. Meskipun kita tahu, karena jumlah pasien yang membutuhkan juga berlipat-lipat, sehingga tidak mampu memenuhi demand yang ada.

Realitas Covid Saat Ini

Semua negara saat ini mengalami hal sama, terutama terkait diketemukannya mutasi baru virus Covid ini. Selain varian baru di Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris, India juga menemukan mutasi baru virus corona. Tampaknya varian ini berpotensi lebih mudah menempel pada sel manusia. Jelas itu akan menyebabkan lebih banyak orang terinfeksi dan lebih banyak dirawat di rumah sakit.

Data dari worldometer, menunjukkan tsunami gelombang ke-dua Covid di India masih terus menanjak. Kemarin 6/5/2021,  ada 414.433 kasus baru yang terjadi di India. Sehingga menyebabkan rumah sakit tidak mampu memampung pasien lagi. Sementara  cadangan oksigen juga tidak ada di rumah sakit-rumah sakit itu. Akibatnya, pasien swadaya mencari tabung oksigen kosong, sekaligus mencari oksigen, untuk dijadikan alat bantu pernafasan atau ventilator. Kekurangan oksigen ini, menyebabkan banyak pasien yang tidak tertolong nyawanya.

Sehingga kasus kematian harian di India kemarin 6/5/2021 sebanyak 3.920 jiwa, setelah sehari sebelumnya berjumlah 3.982 jiwa. Dengan demikian total kematian sejumlah 234,071 jiwa. Yang sembuh di India berjumlah 17,597,410 jiwa. Sedangkan total keseluruhan yang terinfeksi adalah 21,485,285 jiwa. Sementara itu, berdasarkan laporan DW, para ahli mengatakan angka sebenarnya di seluruh negeri mungkin lima hingga 10 kali lebih tinggi dari penghitungan resmi.

Angka tersebut menempati urutan ke-2 sedunia setelah Amerika Serikat berjumlah 33,369,192. Sementara keseluruhan yang terinfeksi virus corona di jagad ini sejumlah 156,677,623 jiwa, yang sembuh 156,677,623 jiwa, yang mati 3,269,220 jiwa sedangkan yang virusnya masih aktif berjumlah 19,368,356 jiwa.

Indonesia sendiri, menurut laporan yang sama saat ini menempati peringkat-18 dengan 1,697,305 kasus, yang sembuh 1,552,532 jiwa dan yang meninggal sejumlah 46,496 jiwa. Sementara itu pertambahan kasus harian kemarin berjumlah 5.647 jiwa dan kematian harian berjumlah 147 jiwa setelah sehari sebelumnya 212 jiwa. Artinya Indonesia juga masih belum aman.

Kasus India

Sebagaimana diketahui, bahwa tsunami gelombang kedua Covid di India ini disebabkan oleh setidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : perayaan keagamaan, kegiatan partai politik dan tidak taatnya rakyat terhadap protokol kesehatan. Hal ini karena kepuasan atas menurunnya jumlah kasus Covid di India pada pertengahan bulan januari, hingga pertengahan Maret, yang menunjukkan grafik terus menurun dan melandai. Sehingga menjadi lengah.

Bahkan juga disebutkan juga adanya hoax yang disebar karena tidak menghargai sains. Sebagaimana dikutip dari detik, pada pertengahan April, ketika jumlah kasus COVID mulai meroket, VK Paul, seorang pejabat senior pemerintah, merekomendasikan agar orang berkonsultasi dengan praktisi terapi alternatif jika mereka memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala.

Dia juga menyarankan orang untuk mengonsumsi “chyawanprash” (suplemen makanan) dan “kadha” (minuman herbal dan rempah-rempah) untuk meningkatkan kekebalan mereka. Pernyataannya ini memicu kritik dari para dokter yang mengatakan rekomendasi tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji dan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis. Dan boom semuanya sudah terlambat.

Case fatality rate Indonesia sebesar 2.74 %, sedangkan India sebesar 1.09 % untuk dunia sebesar 2.09%. Artinya tingkat kematian yang positif Covid 19, lebih tinggi dari rata-rata dunia, apalagi dengan rata-rata India. Penduduk India berjumlah 1,391,457,000 jiwa, sementara menurut ourworldindata penduduk Indonesia 275,964,453. Di India ada 30.2 juta jiwa yang vaksin full dan 99,53 vaksin sekali. Sedangkan di Indonesia ada 8 juta yang sudah vaksin full dan 4,7 yang vaksin sebagian. Secara prosentase dari jumlah populasi penduduk, India 9.32% dan Indonesia 4.64%.

Early Warning!

Ini jadi peringatan dini (early warning) bagi Indonesia. Jika tidak mampu mengendalikannya, maka situasi tsunami tahap ke-dua di Indonesia juga akan berlangsung. Dari ketiga hal tersebut, menurut saya kata kuncinya justru di protokol Kesehatan. Sebab, setelah satu tahun lebih dalam kondisi pandemi, rakyat juga mulai bosan dan jenuh dengan kondisi new normal ini. Sehingga pelonggaran terus terjadi.

Demikian juga pejabat publik juga banyak memberikan contoh ketidak taatan ini. Sanksi yang diberikan bahkan cenderung untuk standard ganda. Jika pejabat publik, saat melanggar tidak dikenakan sanksi. Tetapi jika rakyat biasa, terlebih lawan politik/oposan terhadap penguasa, akan dikenakan sanksi yang berat. Hal ini menyebabkan public distrust. Sehingga menyebabkan rakyat semakin apriori dengan penegakan hukum oleh pemerintah.

Kasus terakhir yang saat ini sedang terjadi adalah terkait dengan larangan mudik. Secara konsep, saya mendukung. Akan tetapi dalam prakteknya justru berpotensi menimbulkan kerumunan baru. Sebab saat akses ke berbagai daerah ditutup, maka kerumunan masa itu menumpuk di titik-titik yang dijaga apparat itu. Apalagi aparatnya bersenjata lengkap, seperti mau perang. Sekali lagi, ini berpotensi menimbulkan klaster baru. Semoga tidak.

Warning berikutnya adalah, nampaknya kita juga harus mulai mempersiapkan tabung oksigen untuk kepentingan pribadi. Antisipasi dengan segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk jika terjadi darurat oksigen seperti India. Jika tidak terjadi, juga tidak ada salahnya untuk memiliki persediaan ini. Bisa dimiliki dalam bentuk kelompok, keluarga atau RT. Bisa juga membuat tempat isolasi mandiri di setiap RT. Saya rasa ini bukan hal aneh, sebab saya punya kawan penderita asma, juga punya persediaan oksigen di rumahnya. Saat serangan terjadi, lagsung bisa dibantu pernafasannya. Sebelum proses medis selanjutnya.

Tetapi kita tetap harus ber-ikhtiar dengan protokol kesehatan, dan mengkonsumsi makanan untuk penguatan anti body. Lalu bertawakal dengan do’a-do’a terbaik kepada Allah SWT. Apalagi ini di sepulih akhir bulan Ramadhan. Saatnya kita ber-I’tikaf, sambil berdo’a agar COVID-19 beserta mutasi-mutasinya, segera enyah dari muka bumi. Aamiin.

Gerakan Wakaf Kapal Selam


Sebagaimana tulisan sebelumnya, terkait dengan musibah yang menimpa KRI Nenggala -402, maka bagi kru yang muslim, semoga Syahid di jalan-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, bahwa ada beberapa kematian yang mendapatkan pahal mati syahid. Salah satunya adalah yang disebabkan karena tenggelam.  Mereka digelari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai syahid. Namun jenazahnya disikapi sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan (kecuali jika jenazahnya tidak diketemukan, pen). Para ulama mengistilahkan dengan syahid akhirat. Di akhirat dia mendapat pahala syahid, namun di dunia dia ditangani sebagaimana umumnya jenazah. Semoga mereka semua termasuk dalam golongan ini.

Reaksi publik terhadap peristiwa ini beraneka ragam. Kesedihan mendalam, tentu mewarnai anak bangsa bangsa. Do’a juga terucap, dan tersebar diberbagai media. Namun ternyata, tidak cukup disitu. Ada yang menggugat dan mempertanyakan kejadian ini. Jangan-jangan ini bukan kecelakaan biasa. Akan tetapi ada rekayasa (by design).

Bahkan ada yang sengaja menghancurkan. Buktinya, ada tumpahan minyak dan menurut keterangan Kapuspen TNI, kapal selam itu terbelah menjadi 3 (tiga) bagian dan hancur, dlsb. Termauk juga, mempertanyakan status tuanya kapal selam itu, 40 tahun, dimana terakhir di overhaul pada tahun 2015. Dan setelah itu tidak lakukan perawatan lagi. Padahal idealnya dilakukan overhaul setiap 3 (tiga) tahun sekali. Dan berbagai reaksi lain, yang memenuhi ruang media sosial. Semoga juga segera ketemu root cause-nya.

Kapal Selam Indonesia

Jika kita telisik dari data yang ada, saat ini Indonesia mempunya 5 kapal selam. Kini tinggal 4 buah. Kalah dari beberapa negara kecil lain. Vietnam 6 buah. Singapura 20 buah. Bahkan China 79 kapal selam. Kita unggul dari Malaysia yang punya 2 kapal selam. Sementara Thailand dan Philipina tidak punya kapal selam.

Dari 5 (lima) buah kapal selam yang ada itu, 2 buah didatangkan jaman predisen Soeharto. Yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nenggala 402, yang keduanya di pesan tahun 1977 di Howaldtswerke-Deutsche Werft Jerman dan datang tahun 1981.

Kemudian membeli lagi 3 (tiga) buah kapal selam kelas Jang Bogo Type 209/1200, di beli di jaman Presiden SBY. Yaitu KRI Nagapasa 403, KRI Alugoro 405 dan KRI Ardadeli 404 yang di pesan tahun 2011 dan dibuat oleh Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co.Ltd (DSME), dan kemudian dikirim pada tahun 2014 dan 2015. Ketiga kapal selam ini proses produksinya dikerjasamakan antara DSME Korea Selatan dengan PT PAL Surabaya.

Secara berturut-turut ketiganya, telah dilakukan commissioning pada tahun 2017, 2018, 2019. Harga ketiga kapal selam tersebut adalah US $ 1,07 Milyar. Atau rata-rata per-unit seharga US $ 356,7 juta. Berdasarkan, data yang ada. Dan pada tahun 2019 sudah ada komitmen yang sama dengan pabrik Korsel itu, untuk membeli 3 (tiga) unit kapal selam lagi sekelas KRI Nagapasa ini. Dengan nilai kontrak lebih murah, yaitu senilai US $1,02 Milyar. Tetapi belum terealisasi hingga kini. Sehingga nyaris pemerintahan yang berkuasa saat ini, belum menambah kapal selam sebiji-pun. Padahal kehadirannya sangat strategis sebagai benteng pertahanan NKRI.

Mengapa tidak beli lagi? Apakah tidak ada dana? Berdasarkan RUU APBN Tahun Anggaran 2021, anggaran Kemenhan adalah Rp. 136,9 Trilyun. Secara berurutan sebagai berikut, pada 2016 sebesar Rp 98,1 triliun. Pada 2017 Rp 117,3 triliun, pada 2018 menurun menjadi Rp 106,7 triliun. Kemudian kembali meningkat untuk anggaran tahun 2019 yang sebesar Rp 115,4 triliun, tahun 2020 Rp 117,9 triliun dan APBN 2021 Rp 136,9 triliun. Mengapa tidak bisa beli kapal selam? Padahal, pada tahun 2011 Anggaran untuk Kemenhan “hanya” sebesar 45,2 bisa beli 3 (tiga) kapal selam. Dengan logika itu, seharusnya bisa beli lebih banyak lagi, agar minimal sejajar atau lebih kuat dari Singapura. Mengingat kawasann laut kita, jauh lebuh luas dari negeri jiran itu, tentu lebih membutuhkan armada keamanan laut seperti kapal selam  ini.

Sebagaimana penjelasan di atas, harga satu unit kapal selam adalah US $ 356,7 juta atau sekitar Rp, 5,2 T. Sebuah harga yang bisa terjangkau dengan melihat postur anggaran militer/TNI(kemenhan) yang cukup besar itu. Bahkan minimal per tahun bisa beli 1 atau 2 unit. Atau mungkin ada prioritas lain, yang lebih mendesak?

Wakaf adalah solusi

Masjid Jogokaryan memberikan teladan lagi. Dengan melakukan penggalangan dana untuk membeli kapal selam. Dari poster yang tersebar, jelas tertulis Infak Bantuan Pembelian Kapal Selam Pengganti KRI Nenggala 402. Ini sebuah pukulan telak bagi negara, yang tidak mau mengalokasikan anggaran untuk pertahanan negaranya sendiri. Maka, Masjid Jogokaryan memberikan contoh, bagaimana wujud cinta terhadap NKRI itu. Bukan hanya lip service, atau hanya slogan semata. Akan tetapi Masjid Jogokaryan memberikan teladan berupa aksi nyata.

Tetapi menurut saya ada satu lagi pilihan solusi paling tepat untuk penggalangan dana ini. Yaitu menggunakan instrumen wakaf uang. Mengapa demikian? Sebab saat gerakan wakaf uang (GWU) diluncurkan Presiden pada 25/1/2021, dinyatakan bahwa potensi wakaf pertahun adalah 2.000 T, sedangkan potensi wakaf uang sendiri adalah 188 T per tahun. Tetapi menurut KNEKS (Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah), realisasi wakaf uang baru sekitar 800 milyar rupiah. Masih sangat jauh dari potensi yang ada.

Jika ini dapat menjadi program Badan Wakaf Indonesia (BWI) beserta dengan nazhir-nazhir yang telah teregistrasi oleh BWI, akan menjadi tonggak yang fenomenal, sekaligus menunjukkan nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI. Para pewakif-pun, in syaa Allah juga akan berbondong-bondong mendatangi nadzir. Karena jelas dan strategis peruntukannya (obyeknya). Sedangkan mauquf ‘alaih-nya adalah seluruh  rakyat Indonesia. Demikian juga, hal ini akan menepis kecurigaan selama ini, bahwa dana wakaf akan masuk APBN. Tetapi ini benar-benar wakaf yang ada wujudnya, dan memiliki nilai strategis. Saya usulkan gerakan ini dinamakan dengan Gerakan Wakaf Kapal Selam (GWKS). Wallahu a’lam

Tulisan ini di muat di Gerakan Wakaf Kapal Selam | Hidayatullah.or.id

Syahidnya ABK KRI Nenggala-402


Do’a terus mengalir dari berbagai pihak setelah dikabarkan KRI Nenggala 402 dinyatakan hilang kontak setelah 46 menit mohon ijin untuk menyelam pada jam 03.00 WITA. Selanjutnya, mulai pukul 03.46 sudah tidak bisa dihubungi lagi. KRI Nanggala ini, rencananya akan melakukan latihan uji rudal di perairan Bali, dan diperkirakan hilang di perairan sekitar 60 mil atau sekitar 95 kilometer dari utara Pulau Bali.

Kapal tersebut dibuat oleh pabrikan Howaldtswerke, Kiel, Jerman tahun 1979 tipe U-209/1300 dan memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter. Kapal ini merupakan salah satu kapal selam yang resmi menjadi bagian dari alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia pada 1981.

Kecepatan kapal selam ini pun tak diragukan. Kapal KRI Nanggala-402 diketahui dapat melaju dengan kecepatan lebih kurang 25 knot, dengan mengandalkan mesin diesel elektrik. Knot adalah satuan kecepatan yang sama dengan satu mil laut (1,852 km) per jam. Jadi kalo 25 knot sama dengan 46,3 km/jam. Pada saat melakukan operasi ini, kapal selam ini membawa 53 orang yang terdiri dari 49 Anak Buah Kapal (ABK), seorang komandan satuan, dan tiga personel senjata. Kapal selam ini dijuluki sebagai monster bawah laut.

Nama ‘Nanggala’ yang disematkan dari kapal KRI Nanggala-402 tersebut diambil dari salah satu senjata dari prabu Baladewa, salah satu tokoh dalam pewayangan. Sedangkan arti nomer kapal 402 adalah menunjukkan bahwa pada nomor lambung yang diawali angka empat merupakan jenis kapal selam. Sebagaimana awalan 3(tiga) sebagai kapal perang, awalan nomer 5 (lima) sebagai kapal logistik dlsb.

Setalah 72 jam dilakukan pencarian, maka keberadaan KRI Nenggala dinyatakan subsunk. Sebuah isyarat yang menyatakan kapal hilang dan sudah ditemukan barang bukti. Selain kpasitas oksigen yang 72 jam, juka ada bukti tumpahan minyak dlsb. Sebenarnya tahap awal adalah sublook, yakni aksi yang dilaksakan jika kapal selam hilang kontak dan diduga mengalami permasalahan. Setelah tiga jam pencarian, prosedur berganti menjadi submiss, yakni status kapal selam hilang setelah tiga jam pencarian awal tak membuahkan hasil. Dan akhirnya tahap akhira dalah, subsunk tersebut.

Sebuah Pelajaran

Sebenarnya kasus tenggelamnya kapal selam, serta jatuhnya pesawat militer sudah sering terjadi di Indonesia. Salah satu hipotesanya karena, rerata alusista negeri ini sudah cukup tua. Bahkan, sebelum KRI Nenggala 402 ini hilang, ternyata pada 14 Juli 2020, KRI Teluk Jakarta  -541, juga tenggelam di perairan Masalembu – Jawa Timur. Demikian juga dengan Pesawat tempur Hawk 209 milik TNI AU jatuh di dekat Kampar, Riau, jatuh tanggal 16 Juni 2020. Helikopter MI-17 HA5141 milik TNI AD jatuh saat latihan terbang di Kendal, Jawa Tengah. Empat orang anggota TNI AD meninggal dunia, tanggal 6 Juni 2020, dst.

Mengapa hal itu terjadi? Padahal menurut https://www.globalfirepower.com/countries-listing.php, 2021 Military Strength Ranking, pada tahun 2021 ini, kekuatan militer Indonesia, menempati peringkat ke-16 dunia. Sebuah kekuatan yang memang cukup diperhitungkan, oleh negara lain. Akan tetapi ternyata banyak alusistanya yang sudah tua, dan butuh peremajaan lagi. Sebagai contoh KRI Nenggala -402 ini sudah berusia 40 tahun sejak diterima di Indonesia. Dan 42 tahun sejak dibuat. Sebuah umur yang tua untuk perlengkapan militer. Sehingga, jika terjadi situasi perang saat ini misalnya, maka akan habis dan kalah serta takluk dengan lawan yang memiliki peralatan yang lebih canggih, modern dan terus di upgrade dan di update.

Banyak yang mendo’akan

Namun saya melihat ada kekuatan lain, sehingga militer kita masih kuat. Yaitu kekuatan Ibadah. Setalah dinyatakan tenggelam, maka di media sosial ramai meng-share gambar terkait dengan kegiatan sholat berjama’ah yang dilakukan oleh ABK di atas geladak KRI Nenggala 402 itu. Dari situ kemudian banyak sekali meme yang dibuat, dengan do’a yang  terus mengalir dengan tulus dari rakyat, kepada para penjaga kedaulatan bangs ini. Jelas ini sebuah penghargaan dan penghormatan melihat tingkat religiusitas, dan bisa jadi keimanan dan ketaqwaan dari ABK KRI Nenggala ini cukup tinggi. Fair enough.

Salah satu yang bisa dijadikan teladan adalah dari Kopda MES Khairul Faizin. Beliau menyekolahkan 2 (dua) putranya di TK/PAUD Yaa Bunayya Pesantren Hidayatullah Bojonegoro. Sebuah upaya agar sejak awal anaknya mendapatkan celupan keislaman dan keimanan, dengan menyekolahkan di sekolah Islam. Hal ini merupakansebuah tanggung jawab sebagai seorang Imam keluarga. Karena beliau sadar tidak bisa setiap hari membersamai anak-anaknya, disebabkan menjalankan tugas negara. Pak Khoirul Faizin meskipun seorang prajurit,  bukan pribadi yang hanya memikirkan diri dan keluarganya saja. Suatu ketika seluruh anak-anak PAUD Yaa Bunayya  diantarnya ke Pangkalan Militer Angkatan Laut yang ada di kawasan Tanjung Perak Surabaya. Dengan mengenalkan jenis-jenis kapal perang kepada anak-anak itu. Dan banyak lagi cerita di luar aktifitas sebagai prajurit, oleh ABK KRI Nenggala ini.

Akhirnya, kita harus meyakini, bahwa semua yang terjadi di dunia ini, sudah ditakdirkan Allah SWT. Ajal pasti datang tepat waktu. Tidak bisa dimajukan atau dimiundurkan. Tentu dalam hal ini, “beruntung” bagi mereka yang meninggal di bulan Ramadhan, apalagi dalam keadaan tenggelam. Apalagi jika dalam keadaan beriman kepada Allah SWT, Insya Allah akan mati syahid. Hal ini ditegaskan oleh sebuah sabda Rasulullah SAW, yang diriwatakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914).

Menurut Ibnu Hajar rahimahullah, membagi mati syahid menjadi dua macam: Pertama, Syahid dunia adalah mati ketika di medan perang karena menghadap musuh di depan. Kedua, Syahid akhirat, yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits di atas (yang mati tenggelam dan semacamnya, pen.). Mereka akan mendapatkan pahala sejenis seperti yang mati syahid. Namun untuk hukum di dunia (seperti tidak dimandikan, kecuai tidak ditemukan/hilang pen.) tidak berlaku bagi syahid jenis ini. (Fath Al-Bari, 6; 44)

Semoga ABK KRI Nenggala-402, selain dicatat sebagai pahlawan Kusuma bangsa karena sedang menjalankan tugas negara, juga bagi yang muslim, dicatat Syahid di jalan-Nya. Dan keluarga yang ditinggalkan tabah dan selalu dalam bimbingan dan ma’unah Allah SWT.  Allahumaghfirlahum warhamhum waafihi wa’fuanhum. Wallahu A’lam.

Penista Agama


Beberapa hari ini, lagi-lagi kita disibukkan untuk merespon penistaan agama yang dilakukan oleh seorang yang bernama Jozeph Paul Zhang. Dia mendadak viral di media sosial karena mengaku sebagai nabi ke-26. Hal itu dilakukan dalam forum diskusi via Zoom yang juga ditayangkan di akun YouTube pribadinya, yang bertajuk ‘Puasa Lalim Islam’.

Dalam forum yang liar dan brutal  itu, jelas sekali banyak kata-katanya yang menista Islam. Juga di video-video lainnya. Dalam rekaman yang viral itu, diantaranya,” Tapi dari dulu saya kalau lagi bulan puasa itu adalah bulan-bulan paling tidak nyaman. Apalagi kalau deket-deket Idul Fitri. ‘Dung… dung… breng… dung… dung… breng… Sarimin pergi ke pasar… dung dung… breng… Allah bubar’. Wah itu tuh udah paling mengerikan. Itu horor banget,” katanya sangat menghina Allah dan syariat-Nya.

Tetapi JPZ ini emang bandel. Dengan jumawanya, dia menantang siapa  saja untuk melaporkan ke aparat,” Gua kasih sayembara. Gua udah bikin video. Saya udah bikin video tantangan. Yang bisa laporin gua ke polisi gua kasih uang yang bisa laporin gua ke polisi penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26, Jozeph Paul Zhang. Meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabulullah,” imbuhnya.

Dia yang mengaku pendeta itu, setidaknya hal  itu yang menjadi title di akun youtube-nya. Meskipun banyak pihak gereja yang kemudian menolaknya, bahwa dia pendeta. Begitu percaya dirinya dia. Pertannya adalah mengapa dia berani sesumbar seperti itu? Mungkin karena sejak tahun 2018, dia sudah berada di luar negeri.  Berpindah-pindah negara. Menurut Imigrasi, dia tercatat meninggalkan Indonesia menuju Hong Kong sejak tanggal 11 Januari 2018. Pria ini bernama asli Shindy Paul. Paspornya bernomor B 6622531 yang dibuat di Kantor Imigrasi Semarang. Berdasarkan informasi kepolisian dia sudah meninggalkan Jerman, dimana terakhir posisinya di lacak. Dia tinggal di Bremen hanya 6 bulan, setelah itu kabur.

Atau bisa jadi, Dia merasa tidak tersentuh hukum, karena yang di-nista adalah Islam. Paling nanti cukup tanda tangan di atas materai 10.000, minta ma’af urusan beres. Mungkin juga dia mengira, saat diperkarakan, kemudian dia mendapatkan keterangan sakit jiwakan (gila) sehingga masalah tidak berlanjut dan tidak ada gugatan hukum. Kita lihat saya nanti.

Islamophobia

Sebenarnya perilaku penistaan agama seperti ini, tidak berbilang di negeri ini. Terutama di era media social seperti sekarang ini. Hampir setiap saat kija jumpai di akun-akun medsos, dengan muatan yang sejenis, lebih ringan atau lebih berat. Tetapi kesemuanya berakhir sama. Sedikit yang berlanjut di proses. Selebihnya tidak diproses dan tidak ketahuan ujungnya.

Pemecatan pejabat di PT PELNI, karena mengundang ustadz yang dilabeli radikal, tanpa proses tabayun/klarifikasi. Padahal ustadz-ustadz tersebut selama ini adalah pro-pemerintah misalnya. Buntutnya selain pembatalan kegiatan juga dilanjutkan dengan pemecatan pejabat yang memprakarsai kegiatan itu, merupakan contoh bahwa Islamophobia benar-benar terjadi. Meski kemudian pelaku sebagai Komisaris itu meminta ma’af kepada salah satu pembicara, namun cukup menegaskan bahwa, anti-islam ini ternyata terjadi by design.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, sebenarnya hal ini menjadi terasa aneh. Karena Islam dan umat Islam, seharusnya menjadi pemilik syah dan penguasa di negeri sendiri. Akan tetapi ternyata sebagaian besar menjadi termarginalkan oleh orang-orang, bisa jadi mereka juga mengaku Islam, tetapi beda madzab, organisasi, ormas, manhaj dlsb, juga oleh mereka yang memang kaum kafir. Saya menduga berdasarkan beberapa bacaan bahwa saat ini -bisa benar-bisa salah- kekuatan kaomunisme, liberalism,  dlsb sedang bersatu  dan bermain. Ini bukan untuk memperkeruh suasana, tetapi ini adalah keniscayaan yang harus dipecahkan. Mesti di cari root cause-nya.

Salah satu caranya adalah, harus diberlakukan yang sama terhadap penista dan pelanggar hukum. Jika orang yang dituduh teroris tanpa proses peradilan bisa di bunuh oleh aparat. Demikian juga terhadap mereka yang dianggap fundamentalis muslim atau oposisi bisa dituduh dengan pasal yang berlapis-lapis, maka terhadap penista agama Islam juga mesti diperlakukan sama. Harus diproses seadil-adilnya dan dengan cara yang terbuka. Sehingga publik akan tahu, dan tidak bersepekulasi bahwa terjadi ketidak-adilan di negeri ini.

Selanjutnya, kita tunggu langkah-langkah penegak hukum terhadap kasus JPZ ini. Kita akan melihat sejauhmana keseriusannya, dan bagaimana kesudahannya nanti. Apakah akan menguap begitu saja. Dianggap orang sakit jiwa atau gila, sehingga masalah tidak berlanjut. Meski agak psimis, tetapi mari sisakan sedikit harapan itu agar keadilan tegak di bumi Indonesia ini. Wallahu a’lam