Dakwah, Leadership, Peradaban, Tarbiyah, teknologi

Ketika Pakar Tak Berpengaruh Lagi


IDEApers

Saat ini, kejadian apapun juga, akan melahirkan pengamat dan ahli baru. Di mana sebenarnya secara akademis dan jejak digitalnya, orang tersebut tidak memiliki latar belakang pendidikan yang linear untuk itu. Namun, seolah dia yang paling tahu segalanya : Politik, Ekonomi, Sosial, Agama, dlsb . Dan anehnya, memang setiap kejadian dengan berlainan topik, bisa dengan cepat meresponnya. Hal yang terbaru adalah ketidaksamaan penetapan 1 Dzulhijjah 1443 H, yang berimbas pada pelaksanaan Sholat Idul Adha.

Sebenarnya hal itu  (orang memiliki banyak ilmu), dulu menjadi sesuatu yang  biasa dan wajar, bahkan  melekat langsung pada seorang berilmu. Namun kemudian berubah setelah keilmuan dibagi menjadi lebih dispesifikasikan dalam berbagai batasan yang kaku, dan mengerangkengnya. Dan semakin kesini, semakin lebih spesifik lagi. Sekularisasi keilmuan menjadi penyebabnya.

Mengapa demikian? Sebab, sebagaimana dalam berbagai referensi, maka banyak sarjana Muslim di abad pertengahan, memerankan peranan ini. Ketika Barat menamakan dirinya dalam Dark Age, maka ilmuwan Islam berada dalam era Golden Age. Para sarjana Muslim itu, menemukan dan merumuskan serta mempraktekkan berbagai jenis keilmuan. Pada saat yang sama, seolah mereka menjadi eksiklopedi berjalan, dengan berbagai multidisiplin keilmuannya itu. Hal ini, apa yang kemudian oleh Barat di sebut sebagai polymath (polimatik). Yaitu seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang keilmuan. Continue reading “Ketika Pakar Tak Berpengaruh Lagi”

Islam, Peradaban, Ramadhan

Ramadhan Bulan Literasi


Bulan Ramadhan, telah tiba. Di dalamnya mengandung keutamaan yang tak terbatas. Salah satu dari keutamaannya adalah disebut sebagai Syahr al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (Al Baqarah [2]: 185).

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bulan Ramadhan diistimewakan dengan turunnya al-Qur’an pada malam lailatul qadar. Al-Qur’an turun dalam satu jumlah dari lauhil mahfudz ke langit dunia sebagai petunjuk bagi manusia dari kesesatan dan ayat-ayat muhkamat yang memberi penjelasan berupa hidayah Tuhan yang kuat, jelas, dan terang bagi akal sehat, yaitu pemisah antara yang haq dan bathil. Continue reading “Ramadhan Bulan Literasi”

Islam, Peradaban

Menulislah !!


Ketika ingin memulai menulis lagi di blog, setelah beberapa saat vakum, ada seorang sahabat yang mengingatkan, kurang lebih begini,”sekarang eranya podcast mas, bukan era menulis lagi”. Sejenak saya lihat ada benarnya. Sebab saat ini, hampir setiap hari kita diundang untuk masuk ke tautan daring, baik melalui conference meeting maupun live Youtube, atau media sosial lainnya. Baik sebagai peserta, atau pembicara. Bahkan dalam satu hari dapat beberapa kali  dan tidak jarang terjadi bersamaan. Apalagi saat Ramadhan seperti sekarang ini.400

Hadirnya podcast, seolah sebagai pemberontakan terhadap realitas sosial politik yang ada. Hal-hal yang tidak kita jumpai di media mainstream, seringkali kita jumpai di podcast tersebut. Berbagai permasalahan muthakir dan juga sejarah, di ulas secara lugas, detail dan mendalam, dari berbagai sudut pandang.  Dan tidak main-main, host-nya juga bervariasi, dari kalangan rakyat biasa, artis, hingga tokoh-tokoh publik terkemuka. Semua memiliki kesempatan yang sama dan membuka channel itu. Sehingga peminatnya juga bervariasi, ada yang fakir viewers hingga yang jutaan viewersnya. Termasuk juga subscribe-nya. Tergantung dari content yang diusung, dan konsistensi dari host-nya.

Saya sebenarnya juga sempat tergiur untuk bikin podcast sendiri, sejak beberapa waktu lalu. Tetapi niat itu saya urungkan, dengan berbagai pertimbangan. Saya memilih, jalan “primitif”. Karena, terngiang quote dari Imam Ghazali,“Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” Sebuah pesan singkat yang sangat mengena. Dikesempatan lain beliau juga menyampaikan,”Bodohlah Orang Yang Memburu Kijang Liar Di Hutan, Mendapatkan Tapi Tidak Mengikatnya. Begitulah Ilmu Bila Tidak Ditulis.”. Hal ini menegaskan atsar dari sahabat Ali bin Abi Thalib r.a,”Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya.”

Namun kegiatan menulis ini, sangat sedikit peminatnya. Padahal sekarang lebih mudah. Karena beberapa fasilitas tersedia dimana-mana. Setidaknya, media sosial dapat dipakai untuk menulis ini. Termasuk juga memanfaatkan blog seperti ini. Menulis itu sebenarnya tidak susah, meski pada sebagian orang juga tidak mudah. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Jika kita berfikir saat akan menulis dengan pertanyaan :  ada yang membaca atau tidak, bagus atau tidak, menarik atau tidak, dlsb. Maka dapat dipastikan tidak jadi menulis. Tetapi jika kita paksakan apa saja yang ingin kita tuangkan, kita tuangkan saja, lama-lama akan terbiasa. Dan yakinlah setiap tulisan kita ada peminatnya. Minimal diri kita sendiri. Tentu berbeda halnya dengan penulisan ilmiah untuk masuk ke jurnal-jurnal yang ter-index scopus, dlsb. Meski harus kuat referensi dan sitasi.

Motivasi yang sering kita dapat adalah kegiatan untuk membaca. Hal ini dikaitkan dengan ayat pertama yang turun yaitu Iqra’ bismirabbika (bacalah atas nama Tuhanmu). Dalam banyak tafsir, perintah Iqra’ ini bukan hanya diartikan membaca begitu saja. Tetapi dalam konteks pembelajaran juga berarti menganalisa, mendalami, merenungkan,menyampaikan,meneliti dan lain sebagainya. Namun juga ada perintah untuk menulis (uktub). Tepatnya terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 282, sebagai ayat terpanjang dalam al-Qur’an itu, yang terkait dengan pencatatan hutang-piutang.

Sayangnya implementasi oleh umat saat ini, dalam hal memahami iqra’ sebagaimana definisi tersebut di atas, ternyata masih belum optimal. Berbeda dari pemahaman para sarjana Islam terdahulu di abad pertengahan, yang mampu mengembangkan dan implementasi iqra’ ini dengan sangat cemerlang. Sehingga penemuan-penemuan ilmiah yang unggul dan maju dijamannya. Karena mereka benar-benar membaca, menganalisa, mendalami, meneliti dan seterusnya. Bersebab keunggulannya itu, dan ketika itu Barat tertinggal jauh. Maka dalam terminologi Barat, mereka menjuluki dirinya sendiri dengan masa Dark Age.

Lalu apa kaitannya antara membaca dan menulis. Gordon Smith (politikus Inggris abad 18) menyampaikan “Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang tak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air”. Jadi keduanya memiliki keterkaitan, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Dengan demikian maka, aktivitas membaca dan menulis itu adalah kegiatan literasi itu sendiri. Sebuah aktifitas yang seharusnya melekat pada diri setiap muslim. Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi Kita untuk tidak meningkatkan literasi umat dan literasi diri, sedini mungkin. Sebab inilah yang dilakukan oleh para sahabat, salafush shaleh, para ulama serta generasi terdahulu. Sehingga kesenjangan literasi, dapat segera diatasi. Selanjutnya akan bermuara kepada kejayaan umat masa lalu, bisa diimplementasikan saat ini.

Bagaimana Ulama Menulis?

Saya kutip dari sini, tentang bagaimana semangat para ulama terdahulu menulis. Padahal, mereka menulis dengan tangan dengan penerangan terbatas. Tidak pake laptop, tidak bisa copy-paste, dlsb. Diantaranya adalah :

  • Muhammad ibnu Jarir Ath Thobari (wafat: 310 H), penulis kitab Jaami’ul Bayan ‘an Ta’wilil  Ayil Qur’an menulis dalam sehari 40 lembar. Kira-kira beliau seumur hidupnya telah menulis 584.000 lembar.
  • Imam Abul Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil Al Hambali Al Baghdadi  (wafat: 513 H) –manusia tercerdas di jagad raya kata Ibnu Taimiyah-, beliau menulis kitab Al Funun dalam 800 jilid, di mana di dalamnya berisi pembahasan tafsir, fikih, nahwu, ilmu bahasa, sya’ir, tarikh, hikayat dan bahasan lainnya.
  • Imam Abu Hatim Ar Rozi menulis kitab musnad dalam 1000 juz.
  • Ibnul Jauzi (Abul Faroj ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al Jauzi, wafat: 597 H), murid dari Ibnu ‘Aqil, beliau telah menulis 2.000 jilid buku dan buku yang beliau pernah baca adalah 20.000 jilid. Adz Dzahabi sampai mengatakan tentang Ibnul Jauzi bahwa tidak ada yang semisal beliau dalam berkarya.

Dan masih banyak lagi para ulama terdahulu yang menulis buku berjilid-jilid, dengan keterbatasan fasilitas. Demikian juga ulama’ tanah air seperti. Imam Nawawi al-Bantani, Syaih Mahfudz At-Termasi, Hadratussyaikh Hasyim As’ary dlsb. Dan yang kontemporer seperti Syaikh Wahbah Zuhalily, Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, Syaikh Al-Bani, Syaikh Utsaimin, dlsb.

Sehingga, yakinlah bahwa menulis itu sesungguhnya bukan kegiatan elitis dan mewah yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Tetapi menulis itu hal biasa saja. Semua kita, bisa melakukannya. Termasuk Anda. Dan tulisan itu akan jadi legacy bagi kita, saat sang Khaliq sudah memanggil kita kelak. Ada kata mutiara yang  dinisbatkan ke Sayidina Ali bin Abi Thalib, r.a,”Semua penulis akan mati, hanya karyanya yang abadi….”

Dalam sebuah penelitian oleh Yale University School of Public Health, bertajuk “A Chapter a Day: Association of Book Reading With Longevity”, menyebutkan bahwa, mereka yang rutin membaca buku minimal 30 menit sehari bisa bertahan 23 bulan lebih lama bila dibandingkan mereka yang tidak membaca buku.

Sehingga hal yang sama sebenarnya juga dapat dikaitkan dengan kegiatan menulis. Karena membaca dan menulis adalah ibarat dua sisi mata uang. Sehingga kalau mau panjang umur, menulislah! Minimal 30 menit. Dan ternyata untuk membuat tulisan singkat seperti ini juga membutuhkan waktu kurang labih 30 menit. Jadi apa lagi? Uktub bismirrabik!! (menulisla atas nama Tuhanmu). Wallahu a’lam.

ekonomi, entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, Islam, IT

Belajarlah dari Bangaluru !


Keinginan Presiden Indonesia sejak awal menjabat, untuk mendirikan Silicon Valley Indonesia, sangat menggebu-gebu. Sebuah keinginan yang patut diapresiasi. Meskipun hingga kini belum juga ada yang terealisir. Ada beberapa daerah yang sempat diumumkan sebagai tempat yang cocok untuk membangun Silicon Valley itu. Diantaranya : Banten, Papua, Bandung, Penajam Paser Utara sebagai calon Ibu Kota baru itu, dan yang terakhir dan kemudian menjadi polemik adalah Sukabumi, dengan nama Bukit Algoritma. Sebuah kawasan seluas 888 ha, di KEK Cikidang Sukabumi, dengan total biaya investasi direncanakan sebesar 18 Trilyun itu, sontak membuat heboh jagat netizen.

Mengapa menuai pro-kontra? Selain nilainya yang fantastis, alasan lainnya adalah ketidakcocokan tempat yang tidak dekat dengan kampus dan industri, sebagai pemasok utama resources. Beberapa komentar yang menyangsikan, mempertanyakan dan menggugat, kemudian menghiasi percakapan di cloud. Tak tanggung-tanggung jika jauh-jauh hari Gubernur Jabar, juga memberikan warning, jangan sampai proyek ini hanya menjadi gimmick branding (untuk jualan property semata). Demikian halnya dengan Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF, Nailul Huda menyebut proyek Bukit Algoritma di Sukabumi sebagai pusat inovasi teknologi digital di wilayah Asia Tenggara masih berpotensi mangkrak. Karena prasarat infrastruktur dasar dan SDM masih belum teratasi. Dan banyak hal lagi “gugatan” lainnya yang menghiasi perdebatan di media sosial.

Jika yang menjadi rujukannya adalah Silicon Valley, pasti akan kontradiktif.  Mengapa demikian? Terletak di sebelah selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Silicon Valley diciptakan oleh pengusaha Ralph Vaerst di tahun 1970-an. Awalnya, berasal dari sejumlah besar produsen chip silikon di kawasan itu. Lambat laun, tempat itu pun menjadi markas dan kompleks perkantoran untuk sejumlah bisnis teknologi, termasuk Apple Inc. , eBay Inc., Facebook Inc., Intuit Inc., Adobe Systems Inc., Intel Corp. dan Hewlett-Packard Co, dlsb.

Sehingga Silicon Valley menjadi tempat perkembangan inovasi yang integrative karena venture capital sebagai pemodal bagi start-up bisnis teknologi hamper sepertiganya hadir di situ. Dan yang lebih memperkuat lagi adalah institusi pendidikan tinggi terkemuka juga ada di tempat itu, seperti Universitas Stanford, Universitas Silicon Valley dan tiga kampus Universitas California. Dari sini sangat kentara bahwa ekosistem yang ada di sana memang sangat mendukung.

Lalu bagaimana sebaiknya? Sebainya perlu belajar dari India yang sukses menjadikan Bangalore (baca : Bangaluru) menjadi Silicon Valley of India. Sehingga juga memiliki sebutan dengan “IT Capital of India”. Satu hal yang menarik adalah, infrastruktur meski dengan sangat terbatas tersedia saat itu, akan tetapi puluhan perguruan tinggi berada di kawasan Bangaluru ini. Juga keberadaan perusahaan lokal yang kompeten, sehingga juga menarik investasi dari venture capital. Sehingga dari sisi SDM dan funding, tidak mengalami kekurangan resources. Tentu saat ini infrastruktur di Bangalore, standarnya lebih tinggi lagi, karena mesti men-serve worldwide. Disamping memang IT-Skill lulusan perguruan tinggi di India juga di atas rata-rata, hal ini dibuktikan dengan banyaknya mereka memenuhi Silicon Valley di Bay Area itu. Bahkan eksekutif perusahaan keknologi dunia, banyak yang berasal dari India.

Dari Laporan https://thescalers.com/how-bangalore-became-asias-silicon-valley/, setidaknya ada 3 (tiga) tahapan Bangalore menjadi Silicon Valley-nya Asia, seperti sekarang ini.

1984: The Making of an IT Capital

Liberalisasi kebijakan impor dan ekspor perangkat lunak di India tahun 1984, menjadi tonggak kebangkitan industi IT di India. Hal ini, dimanfaatkan dengan baik oleh Wipro dan Infosys, perusahaan IT local India, untuk mendirikan kantor pertama kali di Bangalore dan meng-hire programmer-programmer terbaik India. Dan pada tahun 1985 Texas Instruments menjadi perusahaan Multi National Corporation yang investasi pertama kali di Bangalore.  Sebagai highlight-nya, dari instri IT ini adalah : 8% dari total GDP India berasal dari industri IT (2017), total revenue sebesar 180 M USD (2019), mempekerjakan 3,9 juta orang.

2010-2020: From back office to an R&D hotspot

Dalam dekade terakhir saja, Bangalore telah menyumbang 35% dari Global in-house center (GIC) di India. Nilai R&D yang dilakukan di India diperkirakan sekitar $ 40 miliar dan diharapkan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Kontributor utamanya adalah pengembangan software untuk bisnis dengan biaya murah dan rendah dengan teknologi terkioni dan dikerjakan oleh programmer yang kompeten. Dimana, di Bangaluru Pusat R&D perusahaan asing juga disini. Cisco mempekerjakan 11.000 lebih orang, Roll Royce mempekerjakan 100 lebih dn Boeing memperkajan 2.500 orang lebih.

2020: The Silicon Valley of Asia

Industri TI mempekerjakan sekitar 4,1 juta orang di seluruh India dan menyumbang hampir $ 137 miliar ekspor setiap tahun – 40% di antaranya dihasilkan di Bangalore. Disamping itu juga membangun budaya start-updi Bangalore dengan kriterai : menjadi peringkat 3 start-up global, memberikan pembiayaan kepada 57% start-p di India,

Tapi masalah ekonomi saja tidak bisa menjelaskan munculnya utopia TI ini. Peningkatan keahlian teknis dan tenaga kerja multi-skill telah berperan penting, sehingga menjadikan Bangalore menjadi pusat R&D, setidaknya hal ini mewakili nama-nama perusahaan besar sepetibseperti Amazon, IBM, Microsoft, Tesco, Nokia, dan Siemens. Bahkan Tesla juga sudah merencanakan kepindahan R&D nya di Bangalore. Tidak heran, jika perusahaan-perusahaan besar IT besasr lainnya juga berkumpul dalam kawasan tersebut seperti Infosys, Oracle, Dell, Samsung R&D, HP, CGI, Nokia, Huawei dan banyak lagi.

Jika demikian, maka mimpi mendirikan silicon valley di Indonesia dengan menghadirkan Bukit Algoritma itu setidaknya perlu dikaji lebih mendalam kembali. Terutama terkait dengan feasibility study-nya harus presisi, dengan memperhatikan banyak variabel. Tidak cukup modal semangat dan ngotot, atau bahkan aji mumpung. Tentu kita menghargai setiap ide, gagasan dan upaya untuk mengadirkan yang terbaik untuk bangsa ini. Apapun itu bentuknya. Saya juga yakin untuk infrastruktur dengan kedekatan dengan penguasa, bisa jadi di geber, bangunan-bangunan megah bisa didirikan, termasuk listrik, koneksi internet dlsb. Tetapi ekosistem dan resources akan menjadi PR yang tidak mudah diselesaikan.

Akankan ini berpotensi menjadi proyek mangkrak sebagaimana prediksi INDEF, ataupun menjadi gimmick branding sebagaimana warning Gubernur Jabar, atau hanya menghasilkan bangunan mewah saja, sebab riset itu tidak memerlukan bangunan yang megah, tetapi hasilnya yang implementatif, sebagaimana perdebatan di twitter. Soal ini, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Singkatnya : optimis boleh, realistis harus.

Selamat menunggu berbuka hari ke-6

Wallahu a’lam

Islam, Peradaban, Politik.

Tansiqul Harakah


Saya mendengar kalimat tansiqul harakah ini, langsaung disampaikan dari lisan Prof. Dr. Ma’ruf Amin, diberbagai waktu, kesempatan yang berbeda disetiap acara yang saya ikuti. Sebuah diksi, yang menurut saya cukup menarik, untuk di kaji lebih jauh. Menjadi menarik, karena kalimat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI), yang sekaligus Rais ‘Aam PBNU. Yang dengan derajat keulamaannya, beliau mampu menyampaikannya dengan pendekatan dan bahasa yang indah, tanpa multi interpretasi. Hal ini, seringkali beliau kemukakan berkenaan dengan peran MUI ditengah-tengah umat. Dan sudah barang tentu dengan gayanya beliau yang runut, ringan, singkat, padat dan jelas, saat men-sarah sesuatu, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami, awam seperti saya ini.

Tansiqul Harakah ini, sebenarnya sudah dibahas diberbagai kesempatan, bahkan tahun lalu saat Komisi Dakwah MUI mengeluarkan beberapa pedoman dakwah diantaranya : pedoman dalam pe membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama ahlussunnah wal jama’ah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathiyah. Continue reading “Tansiqul Harakah”