Tansiqul Harakah


Saya mendengar kalimat tansiqul harakah ini, langsaung disampaikan dari lisan Prof. Dr. Ma’ruf Amin, diberbagai waktu, kesempatan yang berbeda disetiap acara yang saya ikuti. Sebuah diksi, yang menurut saya cukup menarik, untuk di kaji lebih jauh. Menjadi menarik, karena kalimat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI), yang sekaligus Rais ‘Aam PBNU. Yang dengan derajat keulamaannya, beliau mampu menyampaikannya dengan pendekatan dan bahasa yang indah, tanpa multi interpretasi. Hal ini, seringkali beliau kemukakan berkenaan dengan peran MUI ditengah-tengah umat. Dan sudah barang tentu dengan gayanya beliau yang runut, ringan, singkat, padat dan jelas, saat men-sarah sesuatu, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami, awam seperti saya ini.

Tansiqul Harakah ini, sebenarnya sudah dibahas diberbagai kesempatan, bahkan tahun lalu saat Komisi Dakwah MUI mengeluarkan beberapa pedoman dakwah diantaranya : pedoman dalam pe membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama ahlussunnah wal jama’ah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathiyah. Continue reading

Advertisements

Mendesain Masa Depan


Ini tentang kisah 3 lelaki, yang berbeda usia. Duduk melingkar di saung. Di depan sebuah pondok pesantren yang megah. Bakda Ashar. Saat mentari menuju persembunyiannya. Berganti bulan purnama dan bintang-gemintang yang menggantung di langit. Saung kecil itu, hanya berdimensi 2 x 2m. Beratap ijuk, beralaskan bambu. Beberapa bulan yang lalu. Tetapi masih terekam indah, dalam memory ini. Pertemuan Berkelas. Membekas.

Tiga pria, duduk bersila, saling berhadapan. Ini, bukan tentang kenduri. Atau santri yang talaqi, setoran, berhadapan dengan Ustadz atau Kyai nya. Bukan pula, guru yang sedang mengajar dan berhadapan dengan muridnya. Bukan konsultan yang memberikan advise dan berhadapan dengan klien-nya. Tetapi tentang keakraban, makhluk Allah. Tentang hubungan ayah dan anak. Tentang hubungan antar saudara. Tentang Empati. Tentang masa depan. Tentang peradaban. Mereka saling hormat, namun tetap akrab, seolah tiada sekat. Sesekali terdiam, syahdu dalam suasana serius, sesekali gelak tawa terdengar renyah.

Ini bukan membahas hal yang remeh-temeh, dan ecek-ecek. Continue reading