Kerokan Digital


Era digital telah membersamai kita. Praktis, hampir semua aktifitas kehidupan kita bersentuhan dengan dunia digital ini. Bahkan tidak jarang, kita merasa kehilangan, jika bangun tidur, tidak ada gadget di sebelah kita. Demikian halnya dengan keberadaan digital money, virtual money, e-money atau istilah yang sejenisnya. Kehadiran fintech, cryptocurrency dengan memanfaatkan teknology blockchain, semakin memperkuat argumen bahwa, uang saat ini sudah berubah dalam bentuk angka-angka, tanpa kita besentuhan secara fisik. Seringkali yang namanya memiliki uang, hanya bisa kita lihat di rekening itupun dilihat melalui gadget, lewat mesin ATM atau di layar monitor laptop kita, dst. Dan kita dengan mudah memindahkan dari satu rekening-ke-rekening lain untuk berganti menjadi barang atau jasa, tanpa kita memegang fisik uang tersebut. Dan yang tersisa adalah ketika cek saldo, maka angka di rekening kita berkurang dan seterusnya. Maka uang dalam pemahaman klasik selama ini, sebentar lagi akan berakhir. Tetap bisa sebagai alat tukar, tetapi tidak lagi ada bentuk fisiknya.

Belum lagi dengan berbagai perkembangan di dunia e-commerce, dan layanan online lainnya, maka satu paket dengannya adalah penggunaan e-money, digital money, virtual money atau istilah yang sejenisnya, karena berbagai alasan, termasuk kemudahan dan kecepatan. Dan tanpa terasa, hal ini. kini sudah kita alami Continue reading

Advertisements

Penjajahan Digital [2]


Senin, 27 November 2017 – 15:57 WIB

Minimal inilah bentuk perlawanan atas imperialisme digital, yang akan terus berlangsung

 Sambungan artikel PERTAMA

Dan, tak kurang dari Jack Ma, pemilik Ali Baba yang kemudian juga diangkat jadi konsultan roadmap e-commerce Indonesia itu, dengan bersemangat memborong beberapa start-up  Indonesia itu. Tentu itu dilakukan bukan tanpa hitungan.

Pasti ada kalkulasi bisnis yang njlimet menyertainya. Tidak ada ceritanya investor itu mau rugi. Pasti motif keuntungan yang di kejar. Atau bahasa kerennya, mereka berburu rente di negara ini. Jika hanya, motif bisnis semata, meski ini juga berarti merebut kue ekonomi kita- masih bisa ditolerir.

Namun ada sisi lain yang harus di waspadai. Mereka bisa masuk tanpa sekat. Dunia menjadi tak berbatas. Tanpa adanya entry barrier. Hanya berbekal Apps, semua bisa disedot, detik itu juga, dan terdistribusi keseluruh dunia.

Dengan teknologi  big-data, mereka bisa dengan leluasa mendapatkan dan mengolah data kita. Sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka, atau dijual kepihak lain. Data kita menjadi komoditas jualan.

Baca: Imperialisme Modern dan Kriminalisasi Umat Islam

Bahkan, bisa jadi, nilai transaksinya lebih besar dari bisnis initinya sendiri. Dan anehnya, Mereka mendapatkan data kita secara lengkap, by name by address. Dan di dunia digital, siapa yang memiliki data, sesunggungnya mereka penguasa dunia ditital sesungguhnya.

Itulah yang saya maksud, kita tidak sadar masuk dalam ‘jebakan batmen. Masuk ke  sebuah perangkap dengan kesengajaan. Kita mesti sadar bahwa setiap media sosial dan juga bisnis online lainnya, mensyaratkan pendaftaran melalui account email kita, nomer mobile phone dan seterusnya.

Lebih tragis lagi, Continue reading

Penjajahan Digital [1]


Senin, 27 November 2017 – 15:18 WIB

Dengan era digital yang tidak ada barrier to entry. Asing bisa bebas memasuki “wilayah” sebuah negara, bahkan disediakan karpet merah berupa regulasi

Oleh:  Asih Subagyo

IMPERIALISME sejatinya tidak benar-benar hilang dari kehidupan manusia. Dan, di zaman now dunia digital pun tidak benar-benar lepas dari yang namanya imperialisme. Inilah yang selanjutnya disebut dengan digital imperialisme (digital imperialism).

Dengan kata lain, ini bukanlah istilah baru. Ada diksi yang sejenis dengan itu, misalnya digital colonialism (kolonialisme digital). Keduanya merujuk pada makna yang sama, yaitu penjajahan digital.

Penjajahan digital sesungguhnya ancaman nyata yang semestinya diwaspadai dan bisa dihadapi. Ini bukan dongeng masa lalu. Namun telah membersamai aktifitas kehidupan kita.

Konsekwensi logis dari Revolusi 4.0, yang dipicu oleh revolusi teknologi informasi. Kita, ibarat ‘kerbau dicocok hidung’, mengikuti seluruh pakem di dalamnya, agar tidak dibilang tertinggal , sehingga membebek tanpa reserve. Agar nampak gaul dan kekinian, meski sesungguhnya sedang menjadi bidak dari permainan percaturan global.

Percaya atau tidak, kita sejatinya berada dalam jebakan betman. “Terjebak” dalam berbagai tawaran yang menggiurkan dari revolusi digital tersebut. Padahal, setiap aktifitas kita, saat tersambung dan terhubung dalam jaringan digital, semua itu ada cost-nya.

Dan, biayanya itu, bukan hanya sekedar berbentuk uang ataupun pulsa yang disedot. Tetapi lebih dari itu. Ada social cost yangharus dibayar, dimana ini yang kerapkali kita lupakan atau mungkin tidak kita sadari.

Baca: Komunitas Global Perlu Kembangkan Cyber Ethics

Social Cost inilah yang kemudian akan dikapitalisasi oleh penyedia layanan, baik sosial maupun bisnis, menjadi kekuatan mereka, untuk dalam beberapa waktu kedepan, mendikte bahkan “memperkuda” kita dalam setiap aktifitas kehidupan. Dengan demikian sudahsemestinya kita aware tentang hal ini. Continue reading