Sharing Economy


Meski bukan “barang” baru, namun penggunaan istilah sharing economy (ekonomi berbagi) atau ada yang menyebutnya dengan istilah collaborative economy, masih tergolong baru, apalagi di Indonesia. Istilah itu begitu mengemuka, saat para perusahaan rintisan (start-up) tumbuh subur dan terjadi dot net booming di Silicon Valley, menjelang dan diseputaran tahun 2000-an. Dan kemudian mendapatkan momemtum, pada saat arus disruptive economy, beberapa tahun ini lajunya kian kencang. Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang disediakan oleh teknologi, maka sharing economy ini, telah menjadi trends saat ini.

Para pengamat dan pelaku usaha serta akademisi dibuat terkejut, saat perusahaan-perusahaan raksasa yang pernah menguasai dunia, seperti Sony, Ericsson, Walkman Nokia, Kodak dan seterusnya rontok, berguguran dan nyaris gulung tikar. Bukan berarti mereka tidak melakukan perubahan. Mereka jelas melakukan perubahan, namun mereka tidak bisa melawan teknologi dan perubahan paradigma bisnis. Dalam bahasa kekiniannya, mereka terdisrupsi oleh kehadiran teknologi baru. Continue reading

Advertisements

Politics is Business


Terilhami oleh comments seorang sahabat atas status Fb saya, ketika membahas tentang kebijakan impor beras yang menurut saya menjadi bagian dari liberalnya politik di Indonesia. Saya tulis, ketika politik jadi komoditas, petani jadi korban, tengkulak untung, birokrat dapat komisi. Atas status itu, dia menyampaikan pesan yang sangat singkat. Tetapi jelas dan lugas. Dia bilang, jika dulu business is business, dan politic is politic, kini berubah politics is business. Saya rasa ini pernyataan yang benar, meski sarkastik. Dan pernyataan ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi momentumnya tepat.

Pernyataan itu, menjadi benar saat mencium aroma transaksional yang sangat menyengat dan praktiknnya jelas di depan mata. Terutama, saat penentuan calon kepala daerah, dalam pilkada serentak tahun ini. Kita saksikan, bagaimana partai dijadikan kendaraan untuk maju sebagai calon eksekutif, dan hal sama juga saat penentuan calon legislatif. Terlebih di Pilkada kali ini, carut marut dengan jelas dipertontonkan. Kita bisa lihat bagaimana partai saling comot orang. Tidak pandang bulu, dia kader atau bukan. Mengerti platform, visi, misi, program partai atau tidak. Yang penting “layak” dijual, Continue reading

Mengulang Komitmen


Beberapa tahun yang lalu saya pernah bertekad untuk nge-blog setiap hari. Menulis apa saja yang ingin ditulis. Dari yang remeh – temeh hingga serius, sehingga menjadi artikel yang di muat di media online. Tetapi, seolah membenarkan apa yang saya tulis sebelumnya, jika pada akhirnya, akan lahir banyak alasan untuk tidak bisa konsisten nge-blog lagi. Dus artinya, keinginan menulis selama 365 hari tidak jadi kesampaian. Alih-alih setiap hari, bahkan untuk rutin update pekanan atau bulanan saja tidak kesampaian.

Memang era blog mungkin sudah lewat. Telah hadir micro blogging dan media sosial yang menawarkan fitur dan fasilitas lebih menarik. Interaktif. Tidak satu arah. Dan seterusnya. Para bloggers pun, kemudian migrasi ke medsos ini. Sehingga banyak blog yang menjadi sepi dan merana. Inilah salah satu wujud bahwa teknologi itu tidak abadi. Ketergantungan satu teknologi, Continue reading