Islam, Politik., teknologi

Wahai Buzzer Bertobatlah


Buzzer menurut wikipedia adalah perangkat pensinyalan audio, yang bekerja secara mekanis, elektromekanis, atau piezoelektrik (disingkat piezo). Sedangkan menurut kamus webster diartikan sebagai perangkat sinyal listrik yang mengeluarkan suara mendengung. Intinya buzzer adalah pengingat.

Tetapi pada perkembangannya, ketika media sosial mulai masif dimanfaatkan sebagai channel komunikasi pemasaran maka istilah buzzer ini dipergunakan untuk komunikasi pemasaran sebuah produk, jasa, sampai kemudian komunikasi “pemasaran” di bidang politik. Dari sini, seringkali orang susah memberakan antara buzzer dengan influencer.

Buzzer lebih berfokus pada penggiringan opini secara masif, tanpa dasaran yang kuat. Sedangkan influencer memiliki cara tersendiri untuk mengamplifikasi pesan ke masyarakat. Mereka biasanya dikenal memiliki keahlian di sebuah bidang atau artis dan publik figur yang kapasitas dan jejak digitalnya bisa ditelusuri. Ini membuat suaranya lebih layak didengar oleh publik dibandingkan buzzer di dunia politik.

Istilah buzzer menjadi rusak, ketika dipergunakan dalam pemasaran politik, sebagaimana tersebut di atas. Sebab pada awalnya buzzer adalah sebuah jasa atau orang yang dibayar untuk mempromosikan, mengkampanyekan, atau mendengungkan sesuatu. Istilah buzzer ini telah ada sejak lama, namun di Indonesia istilah ini baru mulai mencuat setelah pemilu 2014 yang dimulai dari pilgub DKI 2012. Sejak saat itu, buzzer mendapat cap negatif sebagai pihak yang dibayar untuk memproduksi konten negatif di media sosial.

Mengapa demikian? Sebab buzzer adalah individu atau akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian atau membangun percakapan, lalu bergerak dengan motif tertentu. Mereka bisa bekerja secara mandiri atau kelompok, dan seringkali mendapatkan order dari pihak tertentu, untuk target tertentu pula.

Sehingga dalam praktiknya, buzzer biasanya punya jaringan luas dan mampu menciptakan konten sesuai konteks, cukup persuasif dan digerakkan oleh motif tertentu. Hal ini disebabkan oleh sebagian buzzer tersebut punya akses pada sumber A1. Karena memang dibina dan dipelihara. Singkatnya, buzzer adalah pelaku buzzing yang bertugas untuk membuat suara-suara bising seperti dengung lebah.

Menurut tirto, Ada dua motif utama yang menggerakkan seseorang atau akun tertentu menjadi buzzer. Pertama, motif komersial yang ditandai dengan aliran dana. Dimana tarif buzzer ini juga bervariasi, tergantung isu yang didengungkan dan jumlah follower yang dimiliki. Kedua, motif sukarela yang didorong oleh ideologi atau rasa kepuasan tertentu terhadap suatu produk dan jasa. Sarana yang digunakan para buzzer biasanya melalui akun media sosial dengan banyak pengikut seperti twitter, facebook, instagram, youtube, tiktok, whatsApps, telegram dan media sosial lainnya.

Buzzer menjadi sangat berbahaya ketika tidak peduli terhadap dampak yang terjadi karena aktifitas yang mereka lakukan. Mereka tidak segan-segan melakukan framing, fitnah, hoax dan lain sebagainya. Bahkan tidak segan melakukan character assassination. Terutama bagi mereka yang hanya mengejar rupiah untuk aktifitasnya itu. Sehingga memunculkan istilah buzzerp. Dan anehnya kebanyakan dari mereka kebal hukum, meski melanggar UU ITE.

Demikian juga, jika keberadaan buzzer didorong untuk memenuhi kebencian dan nafsu belaka, entah atas nama sentimen politik, agama dan seterusnya. Sementara di pihak lain, juga melakukan hal yang sama, maka kebisingan terutama di media sosial menjadi kian meruncing. Dan dari sinilah awal mula terjadi keterbelahan rakyat itu. Apa yang terjadi saat ini merupakan residu dari politik, terutama pilplres 2019.

Mari Kita Sudahi

Ternyata keberadaan buzzer memang sudah membuat jengah rakyat kebanyakan. Kehadiranhya menjadi sumber pecah belah bangsa yang masif. Setidaknya hal ini dikonfirmasi oleh survey yang dilakukan oleh litbang Kompas. Menurut survei Litbang Kompas tentang situasi politik nasional, mayoritas atau 36,3% responden menilai buzzer/influencer yang provokatif bisa membuat polarisasi politik di masyarakat kian memanas.

Sebanyak 21,6% responden lain menilai polarisasi politik bisa meruncing karena penyebaran informasi yang tidak lengkap/hoaks, 13,4% karena kurangnya peran tokoh bangsa dalam meredakan perselisihan, dan 5,8% karena media sosial.

Untuk mencegah perpecahan lebih lanjut, sebagian besar atau 87,8% responden setuju agar pemerintah menindak tegas buzzer atau influencer yang provokatif dan memperkeruh suasana.

Hasil survei lainnya, ada 90,2 persen responden yang meminta kedua kubu pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019 diminta menahan diri untuk tidak saling berkomentar di media sosial yang dapat menimbulkan kebencian atau kemarahan.

Lalu, ada 84,6 persen responden meminta upaya lain, yaitu yang tergolong mudah dilakukan adalah mulai mengakhiri penggunaan istilah atau label “cebong” dan “kampret/kadrun” di dalam percakapan, baik di dunia maya atau dunia nyata.

Survei Litbang Kompas ini dilakukan melalui komunikasi telepon pada 24-29 Mei 2022 dengan melibatkan 1.004 responden dari 34 provinsi Indonesia, yang mewakili sebaran polpulasi. Tingkat kepercayaan survei 95% dengan nirpencuplikan ±3,9%.

Pemerintah Berbuatlah

Realitas di atas seharusnya sebenarnya secara tidak langsung menuntut pemerintah untuk turun tangan dengan menegakkan aturan secara tegas sebagaimana tuntutan para responden yang mewakili suara rakyat itu. Pemerintah harus menyudahi adanya kesan tebang pilih dan diskriminatif terhadap mereka-mereka yang melakukan pelanggaran. Ketidakadilan itu, sudah di catat oleh rakyat terkait apa yang terjadi selama ini.

Harapannya sesegera mungkin pemerintah melakukan tindakan yang tegas dan terukur, terhadap buzzer yang provokatif dan dsitruktif. Disaat yang sama cepet-cepatlah bertobat bagi para buzzer. Jika terlambat atau tidak sama sekali, maka polarisasi dan keterbelahan rakyat di tingkat bawah ini akan semakin meruncing. Dan ini artinya, akan menghancurkan bangsa Indonesia sendiri, baik dari dalam, arau mengundang infiltrasi dari luar.  Cepat atau lambat. Wallahu a’lam.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.