Islam, Politik., teknologi

Wahai Buzzer Bertobatlah


Buzzer menurut wikipedia adalah perangkat pensinyalan audio, yang bekerja secara mekanis, elektromekanis, atau piezoelektrik (disingkat piezo). Sedangkan menurut kamus webster diartikan sebagai perangkat sinyal listrik yang mengeluarkan suara mendengung. Intinya buzzer adalah pengingat.

Tetapi pada perkembangannya, ketika media sosial mulai masif dimanfaatkan sebagai channel komunikasi pemasaran maka istilah buzzer ini dipergunakan untuk komunikasi pemasaran sebuah produk, jasa, sampai kemudian komunikasi “pemasaran” di bidang politik. Dari sini, seringkali orang susah memberakan antara buzzer dengan influencer.

Buzzer lebih berfokus pada penggiringan opini secara masif, tanpa dasaran yang kuat. Sedangkan influencer memiliki cara tersendiri untuk mengamplifikasi pesan ke masyarakat. Mereka biasanya dikenal memiliki keahlian di sebuah bidang atau artis dan publik figur yang kapasitas dan jejak digitalnya bisa ditelusuri. Ini membuat suaranya lebih layak didengar oleh publik dibandingkan buzzer di dunia politik. Continue reading “Wahai Buzzer Bertobatlah”

Dakwah, Leadership, Peradaban, Tarbiyah

Ketika Minta Ma’af Begitu Mudah


source : suara.com

Sudah tiga hari kita merayakan hari raya Idul Fitri 1443 H, bahkan bebarapa menjelang 1 Syawal 1443H,  ada suasana damai yang luar biasa diantara umat Islam. Dimana setiap orang dengan kesadaran penuh tidak ada yang merasa paling benar, semua merasa salah, dan kemudian tanpa sungkan dan rasa malu memohon ma’af, kepada saudara, sahabat, teman, bahkan kepada siapa saja. Jika jaman dulu secara simbolis diwujudkan dengan saling berkunjung dan silaturrahim, saat ini berbeda.

Sejak era digital menjadi bagian dari kehidupan umat manusia, ternyata juga mempengaruhi cara mengucapkan dan memberikan ma’af. Melalui kanal digital mempermudah, mempercepat dan memperbanyak yang bisa disampaikan dalam satuan waktu yang sama. Apakah dalam bentuk mesenger seperti WhatssApp, Telegram, Line, BIP bahkan masih ada yang menggunakan SMS dan lain sebagainya. Tinggal di blasting, maka pesan akan sampai ke ribuan penerima, sesuai dengan “alamat” yang kita tuju. Demikian juga yang melalui platform media sosial lainnya, seperti : Instagram, Facebook, Tiktok, Snapchat, YouTube dan lain sebagainya. Sehingga berbagai jenis dan model ucapan permohonan ma’af itu, bisa kita jumpai dari yang serius, yang biasa saja, hingga yang lucu. Continue reading “Ketika Minta Ma’af Begitu Mudah”

Dakwah, IT, Peradaban, Tarbiyah

Mengapa Masih Ngeblog ?


source : indotrading

“Ini tahun 2022 Bro. Masih ngeblog aja. Sudah kuno Tuh”. Begitu kira-kira percakapan yang terjadi. Teringat beberapa tahun lalu, saat eranya blog, memang blog menjadi trend, dan akibatnya banyak netizen berbondong-bodong bikin blog. Dengan berbagai platform yang ada saat itu. Ada juga yang sudah mati seperti multiply.com, dll. Olehnya selain blog ini, saya juga masih ada blog lain lagi. Yang ini nggak pernah diupdate. Karena lupa username dan passwordnya. Alamatnya ini https://masbagyoku.blogspot.com/ , terakhir posting 23 Januari 2013, setelah itu nggak terupdate lagi.

Blog inipun juga hampir bernasib sama. Seringkali vacum. Namun setiap ramadhan, selalu tergerak untuk meng-updatenya lagi. Termasuk pada ramadhan kali ini. Meski dengan nuansa berbeda, sebab serangkaian tulisannya agak serius. Sehingga hampir semua tulisan disini, pernah dimuat diberbagai media. Kemudian baru di reposting di blog ini.

Dunia blog memang sudah mulai ditinggal. Kalah popularitasnya dengan media sosial, yang memang lebih interaktif.  Hal seperti ini nampaknya memang cocok dan ketemu chemistry-nya dengan karakter manusia, terutama netizen indonesia, yang memang lebih senang komunikasi verbal dibanding tulis. Lebih nyaman. Bahkan dimanjakan dengan subscribe, comment, like and share. Nggak banyak mikir. Akibatnya banyak yang membaca judulnya saja lalu men-share.

Padahal sering kali judul dan isi nggak nyambung. Mengejar clickbait, dimana sebuah judul konten yang dibuat menarik dengan tujuan memancing orang melakukan klik terhadap konten tersebut. Semakin banyak jumlah klik, semakin berhasillah judul clickbait tersebut. Hal ini juga mengkonfirmasi  tentang rendahnya budaya literasi bangsa ini. Tak heran jika kemudian hasil survey microsoft tahun 2020, yang menyatakan bahwa netizen indonesia itu peling berisik seantero jagad raya

Konsekwensinya adalah, hanya sisa sedikit blogger yang masih setia ngeblog. Termasuk blogger senior, dimana mereka adalah bloggerpapan atas di jamannya. Memang jaman telah berubah. Pilihan platform media dan kecenderungan netizenpun juga berubah. Kebanyakan migrasi dan memilih facebook, twitter, instagram, linkedin, untuk menulis ide-idenya, sebagai microblogging, meski bisa juga untuk gambar dan video. Kemudian khusus yang video menggunakan youtube, snapshot, tiktok dlsb.

Mengapa pada berpidah, selain eranya memang berunah, juga lebih interaktif sebagaimana disebut di atas. Aspek lainnya adalah aspek ekonomi, dimana platform saat ini bisa di moneytizing yang menjanjikan. Artinya bisa mendatangkan cuan disitu. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya terinspirasi dan menjadikan Youtuber, atau influencer melalui IG, bahkan Buzzerp di Twitter, dijadikan sebagai profesi. Juga menurunkan banyak profesi turunannya seperti content creator, story telling, video maker, digital marketing, search engine optimization, apps developer dlsb.

Mengapa?

Kembali ke pertanyaan yang jadi judul blog ini. Saya perlu menjelaskan mengapa masih nge-blog. Padahal kalo lihat penjelasan di atas, nampaknya jadul banget. Nah ada beberapa alasan pribadi yang mendasari, jadi wajar kalo nenti kesannya subyektif.

  1. Manyalurkan Hobi

Hobi menulis ini sebenarnya dibantun sejak kecil. Hobi ini, sesungguhnya sangat dipengaruhi kebiasaan alm. Ayahanda yang hampir setiap malam ngetik dengan mesin ketik brother. Saya biasa menemani Ayah yang multitalenta : pendidik, politikus, wiraswasta, aktifis sosial dlsb, sambil tidur di kursi sebelahnya. Sehingga, di saat mesin ketik sedang nganggur saya coba-coba ngetik. Demikian juga dianjutkan dengan menulis tangan.

 

Hal ini sebenarnya juga terkait dengan hobi baca. Buku apa saja  yang ada, sejak kecil memang selalu dibaca. Ditambah lagi seneng koleksi buku sejak bujang. Hingga berumah tanggapun, selalu setiap bulan selalu menyisihkan uang untuk minimal beli satu buku. Akibatnya isi buku-buku itu yang meyesaki kepala. Dan menulis menjadi salah satu cara mengurangi sesaknya otak. Dan ternyata mengasyikkan.  Disisi lain setelah paham tentang makna ayat pertama yang turun yaitu iqra’ (bacalah) sebagai bagian dari literasi, maka pasti diikuti juga dengan uktub (tulislah). Jadi menulis menjadi sesuatu aktifitas yang menyenangkan.

 

  1. Menuangkan dan Menguji Gagasan

You’re what you write. Kamu adalah apa yang kamu tulis. Sehingga dalam setiap tulisan itu seringkali mewakili isi kepala si penulis. Meskipun ada juga yang tidak begitu. Tetapi bagi saya, setiap ada ide dan gagasan, selalu dituangkan. Memang tidak semua dalam bentuk tulisan di blog, bisa juga seperti artikel, esay atau jurnal. Seringkali juga dalam bentuk pointer, presentasi, mindmap, dan lain sebagainya.

 

Gagasan-gagasan ini, jika sudah dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan itu, kemudian biasanya dibagi (di share) ke berbagai kalangan. Bisa di muat di blog, di jurnal, di media online, di media cetak, di group whatsapps, dan lain sebagainya. Juga tidak jarang dipresentsikan dalam pelatihan/training, ngajar di kelas, seminar, dlsb. Juga bisa dikembangkan dalam platform digital lainnya.

 

Narasi yang dituangkan itu tidak sepenuhnya diterima oleh semua orang. Ada kalanya juga diberi masukan, dikoreksi, dikritisi, di hujat dan lain sebagainya. Nah feedback seperti ini menjadi cukup bagus, karena akan menjadikan koreksi dan introspeksi diri kita, untuk tidak jumawa dan sebagai perbaikan di masa depan.

 

  1. Membangun Relasi

Melalui blog bisa memperkenalkan diri kita kepada pihak lain. Hal ini terkait dengan poin ke-2 juga. Dari gagasan yang ditulis di blog itu, pernah mendapatkan respons untuk mengisi seminar dan pelatihan di sebuah organisasi. Dari tulisan di blog juga, sempat ada yang mengajak untuk membangun bisnis bersama.

 

Oleh karenanya, relasi dari ngeblog itu terjadi secara alamiah. Dimana pembaca blog kita bisa jadi memang mendapatkan dari platform media sosial lainya. Di share temannya. Atau ada yang niat melalui search engine. Saya juga mengamati ada beberapa tulisan yang sering dikunjungi, dan nampaknya adalah mahasiswa yang mencari rujukan untuk di tulis.

 

  1. Sarana Pendidikan Dakwah

Bagi saya menulis adalah sarana dakwah itu sendiri. Dimana dakwah itu maknyanya adalah memanggil, mengundang, mengajak, menghimbau, menyeru menghidangkan dlsb, kepada kebaikan dalam hal ini dienul Islam. Memang tidak semua tulisan harus disertai dengan ayat dan hadits, akan tetapi muatannya adalah kesana.

 

Dimana secara langsung ataupun tidak langsung ada proses mendidik diri dan untuk mempengaruhi pembaca. Sebab ada seorang ulama yang berpesan satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, tapi satu tulisan dapat menembus ratusan hingga ribuan kepala (Sayyid Quthb). Bahkan di era media sosial ini bisa menembus jutaan kepala. Oleh karena terkit dengan unsur pendidikan dan aspek dakwahnya ini, maka tidak boleh ngasal. Meskipun tidak sedikit tulisan saya juga berisi kritikan dan gagasan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk kepada pemerintahan misalnya. Tetapi lagi-lagi semangatnya untuk kebaikan itu sendiri. Tidak lebih dari itu.

 

Subyektifitas tulisan ini  seratus persen milik saya. Blogger lain bisa memiliki pandangan berbeda. Sebab ada juga bloggeryang memiliki orientasi untuk  ekspresi kebebasan, mendapatkan uang, menjadi saluran politik dan lain sebagainya. Itu hak masing-masing blogger. Saya sendiri masih berusaha untuk mengintegrsikan menggunakan platform lain, dan kedepnnya jika memungkinkan juga bisa dimoneytizing.

 

Tetapi sekali lagi 4 (empat) point di atas, setidaknya menjadi landasan mengapa saya masih ngeblog. Saya masih ingat pesan seorang ustadz bahwa umur dakwah ini lebih panjang dari umur kita. Sehingga kita mesti meninggalkan sesuatu untuk melangengkan dakwah itu sendiri, dan menulis adalah salah satunya. Sehingga ngeblog bagi saya adalah menulis itu sendiri. Dimana ”menulis itu merangkai kata, sedangkan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, maka menulis adalah mempersiapkan perjuangan.” Wallahu a’lam