Dakwah, Leadership, Peradaban, Tarbiyah

Ketika Minta Ma’af Begitu Mudah


source : suara.com

Sudah tiga hari kita merayakan hari raya Idul Fitri 1443 H, bahkan bebarapa menjelang 1 Syawal 1443H,  ada suasana damai yang luar biasa diantara umat Islam. Dimana setiap orang dengan kesadaran penuh tidak ada yang merasa paling benar, semua merasa salah, dan kemudian tanpa sungkan dan rasa malu memohon ma’af, kepada saudara, sahabat, teman, bahkan kepada siapa saja. Jika jaman dulu secara simbolis diwujudkan dengan saling berkunjung dan silaturrahim, saat ini berbeda.

Sejak era digital menjadi bagian dari kehidupan umat manusia, ternyata juga mempengaruhi cara mengucapkan dan memberikan ma’af. Melalui kanal digital mempermudah, mempercepat dan memperbanyak yang bisa disampaikan dalam satuan waktu yang sama. Apakah dalam bentuk mesenger seperti WhatssApp, Telegram, Line, BIP bahkan masih ada yang menggunakan SMS dan lain sebagainya. Tinggal di blasting, maka pesan akan sampai ke ribuan penerima, sesuai dengan “alamat” yang kita tuju. Demikian juga yang melalui platform media sosial lainnya, seperti : Instagram, Facebook, Tiktok, Snapchat, YouTube dan lain sebagainya. Sehingga berbagai jenis dan model ucapan permohonan ma’af itu, bisa kita jumpai dari yang serius, yang biasa saja, hingga yang lucu.

Tetapi secara khusus, sebenarnya ucapat hari raya Idul Fitri itu terkait dengan saling mendo’akan. Sebagaimana dalam redaksi “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). Hal ini merujuk hadits berikut ini :

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

Fenomena tersebut di atas, setidaknya kita bisa menangkap semangatnya, yaitu ingin saling mendo’akan dan dilanjutkan dengan meminta ma’af yang khas Indonesia,”Mohon Ma’af Lahir dan Batin”.  Kita memang tidak pernah tahu apa motivasi dari pengirimnya, ataupun juga yang membalasnya, iklas atau tidak. Bahkan dibaca atau tidak. Bisa jadi juga sekedar copy-paste, dari kiriman orang lain. Apapun itu bentuknya, bahkan sekedar basa-basi sekalipun, hal ini menunjukkan adanya kerendahan hati bagi si pengirimnya dan juga yang menjawab. Yang agak nyesek itu, sudah dikirim lalu nggak dijawab-jawab. Meski kita harus berkhusnudzon mungkin ada ribuan pesan yang masuk, sehingga belum sempat membalasnya.

Yang lebih menarik lagi adalah, silaturrahim digital ini bisa menembus perbedaan tempat dan waktu. Dengan vido call misalnya, termasuk dengan zoom, google meet, atau lainnya, kita bisa ngobrol panjang lebar dengan keluarga dan teman yang banyak, dan seolah kita juga bisa hadir di situ. Bahkan kedepan dengan adanya metaverse, akan lebih “gila” lagi.

Dengan realitas yang ada sekarang saja,  jika kemudian “ruh” ramadhan dan idul fitri seperti ini terus dijaga, maka akan menciptakan kedamaian yang luar biasa. Jika dalam kehdupan rumah tangga, bertetangga, bermasyarakat, di tempat kerja, berorganisasi, berbangsa dan bernegara, menerapkan nilai-nilai sebagaimana yang beberapa waktu ini kita lakukan, maka betapa suasana kehidupan kita akan memiliki energi positif dan berdampak dalam memberikan energi perubahan bagi yang dahsyat bagi peradaban umat manusia.

Pelajaran penting yang kita dapat dari silaturrahim fisik maupun digital selama Idul Fitri ini adalah kebiasaan untuk selalu mengakui salah seberapapun besarnya, dan tidak selalu merasa paling benar sendiri, akibatnya enggan untuk meminta ma’af. Sehingga menjauhkan diri dari sifat merasa yang paling hebat dan tidak pernah salah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim) [No. 2588 Syarh Shahih Muslim].

Jadi semuanya berpulang kepada diri kita masing-masing, apakah memilih menjadi peminta ma’af dengan merendahkan hati kita dihadapan manusia karena merasa rendah diri Allah ta’ala, atau memberikan ma’af kepada orang lain sehingga Allah ta’ala memberikan kemuliaan kepada. Atau tidak melakukan keduanya? Padahal teknologi memudahkan untuk itu semua. Ayo segera kirim WA, tunggu apa lagi!.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.