Entrepreneurship, Islam, Kronik, Peradaban

Seketsa Ramadhan


اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِيْ مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif al Ma’arif, hlm. 264).

Semoga Allah SWT mengijabahai do’a diatas. Agar kita bisa sampai di bulan Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Sebab, kita tidak pernah tahu umur kita, kapan berakhir. Juga tidak ada jaminan bahwa Ramadhan kali ini, kita bisa memasuki dan menjalankan amalannya. Karena maut, ditangan Ilahi. Sehingga dengan berdo’a yang ikhlas di penghujung bulan Sya’ban ini, semoga menjadi amalan kebajikan kita, yang dicatat sebagai amal sholih disisi Allah SWT.

Hari ini, Senin 12 April 2021, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1442 Hijriyah, artinya ini sudah dipenghujung Sya’ban. Berdasarkan metode hisab, in syaa Allah besok sudah memasuki 1 Rmadhan 1442H. Sementara dengan metode  ru’yatul hilal menunggu hasil isbat Kemenag, nanti malam. Tetapi berdasarkan perhitungan hisab, yang menunjukkan bahwa ketinggian hilal sudah mencapai 3 derajat 37 menit 01 detik, maka In Syaa Allah, besok hampir dipastikan, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa bersama. Sebab dengan ketinggian 3 derajat lebih, potensi untuk dilakukan ru’yah. Namun bisa jadi ada hal-hal lain, di luar standar perhitungan yang ada tersebut. Wallahu a’lam.

Artinya, jika besok sudah masuk bulan ramadhan, maka malam ini masjid, mushalla, surau dan di rumah-rumah, sudah dimulai ramai melaksanakan tarawih berjama’ah. Meskipun di beberapa tempat masih belum diperbolehkan melaksanakan tarawih berjama’ah, dengan alasan pandemi covid-19 masih belum berakhir. Sementara yang boleh, juga ada beberapa model. Dari yang sholat berjama’ah seperti biasa, hingga yang menjaga jarak dan tetap menjaga protokol kesehatan. Apapun model Ibadahnya, semangat untuk menghidupkan Ramadhan hampak terus antusias. Semoga ini hingga akhir Ramadhan, bahkan nanti setelah Ramadhan.

Nah pada Ramadhan kali ini, saya mencoba menghadirkan tulisan ringan yang akan dirilis setiap hari, menjelang adzan maghrib. Saya namakan sketsa ramadhan. Semoga bisa istiqomah selama Ramadhan tahun ini. Berharap coretan-coretan tersebut, dapat menjadi teman ngabuburit, kita semua. Sebenarnya tahun lalu juga sudah diniatkan, namun hanya bisa di beberapa tulisan, dengan berbagai alasan 😊. In Syaa Allah saya berazam untuk Ramadhan kali ini, akan terus posting tulisan, meski nanti hanya sebaris atau separagraf. Selamat menikmati…

ekonomi, Entrepreneurship, Kronik

Paralisis


HARI-hari ini, ada tambahan kosa kata baru berkenaan melihat situasi saat ini, yaitu statement dari Prof. Dr. Boediono, mantan Wakil Presiden dan seorang akademisi itu. Meski sudah lama bertengger di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tetapi terkesan baru, karena jarang mendengar. Apalagi jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Terasa asing di telinga kita. Diksi yang dimaksud adalah paralisis.

Menurut KBBI, paralisis adalah hilangnya kemampuan untuk bergerak karena cedera atau penyakit pada bagian saraf; kelumpuhan. Sehingga hal ini menggambarkan bahwa, situasi Indonesia (dan juga negara lain), yang hampir semuanya terdampak Covid-19 itu, bukan sekadar krisis, resesi, atau depresi sekalipun tetapi lebih dari itu. Continue reading “Paralisis”

Entrepreneurship, Islam, Kronik

I’tikaf Dengan Protokol Ketat


Hari-hari ini adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan (asyrul awakhir). Biasanya, saatnya Masjid dipenuhi dengan kaum muslimin yang  i’tikaf. Sebuah ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Dimana, Beliau setiap 10 hari terkahir di bulan ramadhan, lebih banyak mengikatkan dirinya di masjid. Melakukan i’tikaf. Artinya, berdiam diri dengan memperbanyak ibadah kepada sang Khaliq.

Dalam konteks saat ini, ditengah masih belum beujungnya wabah covid-19, merupakan salah satu bentuk isolasi mandiri yang efektif dan produktif. Karena orang masih tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik, daripada di rumah saja. Tentu saja dengan mengikuti protokol kesehatan yang super ketat.  Sebab jika tidak, seandainya ada peserta di Masjid itu yang terindikasi COVID-19, maka buliyyan terhadap umat Islam sebagai cluster baru, bakal meramaikan seluruh media. Apalagi di medsos.

Sehingga aturannya, sebelum ikut i’tikaf, semua peserta wajib di cek dulu kesehatannya. Jika dinyatakan sehat, boleh ikut. Jika tidak fit, apalagi ODP dan PDP, atau beberapa waktu sebelumnya berada/berkunjung di zona merah, by default, dilarang gabung. Bahkan, jika memungkinkan Continue reading “I’tikaf Dengan Protokol Ketat”

ekonomi, Entrepreneurship, Kronik, Peradaban

Sale Of Everything


Ramadhan ke-16
Tiba-tiba status WA teman-teman saya banyak yang berubah. Tidak seperti biasanya. Sebagaimana hari-hari sebelumnya, seperti yang saya kenal.  Ternyata tidak hanya di WA, namun juga wall di facebook, cuitan di twitter, status di instagram. Demikian hanya, tidak sedikit kemudian berubah menjadi YouTuber, dan seterusnya. Pendeknya, semua akun media sosial yang dimiliki, seolah menampilkan “wajah baru” dari apa dan siapa, yang selama ini mereka saya kenal. Mungkin disekitar anda juga seperti ini.

Semua berawal dari virus China itu. Awal-awal, saat pandemi muncul, semua medsos rata-rata dipenuhi dengan ketahanan dan optimisme terhadap serangan covid-19. Dilanjutkan dengan empati terhadap korban. Meski tidak jarang diikuti sesekali menyentil kebijakan pemerintah yang terkesan lamban, tidak jelas, miskoordinasi, dan lain sebagainya. Dengan disertai gambar, video, meme atau tautan berita untuk menunjukkan ketidaknyamanan situasi yang berlaku. Ini terjadi sekitar 2 minggu hingga satu bulan. Meski juga ada kawan lain, yang membela habis kebijakan pemerintah. Apapun itu kebijakannya dibenarkan dan selalu didukung. Tidak ada daya kritis. Meski kita hargai, masing-masing orang punya pilihan untuk mengekspresikan dirinya Continue reading “Sale Of Everything”

Islam, Kronik, Peradaban

Menyongsong Kebangkitan Peradaban


Ramadhan ke-10

 

Akan datang sebuah peradaban baru, setelah Corona berlalu. Diprediksi muncul kekuatan baru, yang akan menggantikan dominasi sekarang, sekaligus menentukan arah dunia ke depan. Begitu kesimpulan beberapa pendapat para ahli, menyikapi kondisi mutakhir. Demikin halnhya, lonceng kematian kapitalisme sudah ditabuh. Indikasi dan gejalanya sudah jelas dan nyaring. Tinggal tunggu waktunya. Ajal menanti, kini sedang sakaratul maut. Namun seperti biasa, tabiat kapitalisme akan mencari keseimbangan baru. Biasanya ada “Dokter” yang melakukan “operasi plastik. Kemudian, akan tammpak wajah baru, casing baru. Meski jiwa dan raganya tetap sama. Setelah itu, jika ada goncangan lagi, akan goyah. Dan berubah lagi. Selalu begitu, mencari bentuk baru lagi, dan seterusnya akan menjadi siklus. Bagi yang paham tidak kaget. Kita tunggu saja, siapa dokternya dan wajah barunya seperti apa. Beberapa waktu mendatang. 

Demikian halnya dengan sosialisme. Yang saat ini diwakili oleh China. Negara-negara lain, penganut sosialisme sudah pada tumbang. Jika tidak, maka dalam kondisi yang sempoyongan.  China, sebenasrnya  sudah berubah. Dengan menerapkan state capitalism. Secara bentuk pemerintahan dan sistem kepartaian menerapkan sistem partai tunggal. Sebuah ciri dari sosialisme/ komunisme. Namun secara Ekonomi, negara mengimplementasikan kapitalisme Continue reading “Menyongsong Kebangkitan Peradaban”