Covid, ekonomi, Entrepreneurship, Krisis, Peradaban, Politik.

Hantu Stagflasi


stagflasi

Pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, dan inflasinya yang tinggi beserta bunga The Fed yang juga masih tinggi, demikian juga tingkat pengangguran yang melebar, ternyata terus memberikan dampak bagi ekonomi dunia. Demikian juga, pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya pulih dan dampaknya yang juga masih dirasakan hingga kini.

Tumbangangnya beberapa start-up akibat dari bubble burst (ledakan gelembung) di berbagai belahan dunia, juga akibat dari tekanan ekonomi para investor. Mereka menginginkan investasinya cepat kembali. Sementara itu disinyalir bahwa salah satu penyebab bubble burst pada startup lantaran produk yang ditawarkan kalah bersaing, terutama akibat perang promo dan diskon serta bakar uang (burn money) yang terjadi. Dan ini berakibat pada layoff (PHK) di beberapa start up Indonesia seperti jd.id, zenius, linkAja, dan beberapa start up yang telah gulung tikar sebelumnya. Continue reading “Hantu Stagflasi”

Kronik, Peradaban, Politik.

Krisis Oksigen !


India krisis oksigen. Selama seminggu terakhir, banyak pasien Covid-19 yang sesak napas telah meninggal karena tidak tersedianya oksigen medis di rumah sakit di beberapa negara bagian di negara tersebut. Berlawanan dengan klaim dan isu yang ada, ternyata kekurangan oksigen di beberapa negara bagian bukan karena produksi yang lebih rendah atau ekspor pada tahun ini.

Sebab, pesan SOS di Twitter dan platform media sosial lainnya menunjukkan parahnya kekurangan oksigen di negara-negara bagian ini. Dengan tagar #indianeedsoxygen, menjadi trending topic dunia, di berbagai plafform media sosial tersebut. Sementara itu, para pemimpin partai oposisi dan warga yang terkena dampak mengecam Pusat dan pemerintah negara bagian karena kekurangan oksigen medis, yang diperlukan rumah sakit untuk menjaga pasien Covid yang kritis tetap hidup. Mereka “menggorengnya” sehingga tidak hanya jadi isu nasional, akan tetapi menjadi isu dunia.

Akan tetapi sebagaimana dikutip dari indiatoday, India telah mengekspor 9.301 metrik ton oksigen ke seluruh dunia antara April 2020 dan Januari 2021. Sebagai perbandingan, negara itu hanya mengekspor 4.502 metrik ton oksigen pada tahun 2020. Oksigen yang disuplai berbentuk cair dan dapat digunakan baik untuk keperluan industri maupun medis. Sehingga ekspor besar-besaran oksigen India tersebut layak dijadikan biang kerok kekurangan oksigen untuk medis. Meskipun kita tahu, karena jumlah pasien yang membutuhkan juga berlipat-lipat, sehingga tidak mampu memenuhi demand yang ada.

Realitas Covid Saat Ini

Semua negara saat ini mengalami hal sama, terutama terkait diketemukannya mutasi baru virus Covid ini. Selain varian baru di Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris, India juga menemukan mutasi baru virus corona. Tampaknya varian ini berpotensi lebih mudah menempel pada sel manusia. Jelas itu akan menyebabkan lebih banyak orang terinfeksi dan lebih banyak dirawat di rumah sakit.

Data dari worldometer, menunjukkan tsunami gelombang ke-dua Covid di India masih terus menanjak. Kemarin 6/5/2021,  ada 414.433 kasus baru yang terjadi di India. Sehingga menyebabkan rumah sakit tidak mampu memampung pasien lagi. Sementara  cadangan oksigen juga tidak ada di rumah sakit-rumah sakit itu. Akibatnya, pasien swadaya mencari tabung oksigen kosong, sekaligus mencari oksigen, untuk dijadikan alat bantu pernafasan atau ventilator. Kekurangan oksigen ini, menyebabkan banyak pasien yang tidak tertolong nyawanya.

Sehingga kasus kematian harian di India kemarin 6/5/2021 sebanyak 3.920 jiwa, setelah sehari sebelumnya berjumlah 3.982 jiwa. Dengan demikian total kematian sejumlah 234,071 jiwa. Yang sembuh di India berjumlah 17,597,410 jiwa. Sedangkan total keseluruhan yang terinfeksi adalah 21,485,285 jiwa. Sementara itu, berdasarkan laporan DW, para ahli mengatakan angka sebenarnya di seluruh negeri mungkin lima hingga 10 kali lebih tinggi dari penghitungan resmi.

Angka tersebut menempati urutan ke-2 sedunia setelah Amerika Serikat berjumlah 33,369,192. Sementara keseluruhan yang terinfeksi virus corona di jagad ini sejumlah 156,677,623 jiwa, yang sembuh 156,677,623 jiwa, yang mati 3,269,220 jiwa sedangkan yang virusnya masih aktif berjumlah 19,368,356 jiwa.

Indonesia sendiri, menurut laporan yang sama saat ini menempati peringkat-18 dengan 1,697,305 kasus, yang sembuh 1,552,532 jiwa dan yang meninggal sejumlah 46,496 jiwa. Sementara itu pertambahan kasus harian kemarin berjumlah 5.647 jiwa dan kematian harian berjumlah 147 jiwa setelah sehari sebelumnya 212 jiwa. Artinya Indonesia juga masih belum aman.

Kasus India

Sebagaimana diketahui, bahwa tsunami gelombang kedua Covid di India ini disebabkan oleh setidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : perayaan keagamaan, kegiatan partai politik dan tidak taatnya rakyat terhadap protokol kesehatan. Hal ini karena kepuasan atas menurunnya jumlah kasus Covid di India pada pertengahan bulan januari, hingga pertengahan Maret, yang menunjukkan grafik terus menurun dan melandai. Sehingga menjadi lengah.

Bahkan juga disebutkan juga adanya hoax yang disebar karena tidak menghargai sains. Sebagaimana dikutip dari detik, pada pertengahan April, ketika jumlah kasus COVID mulai meroket, VK Paul, seorang pejabat senior pemerintah, merekomendasikan agar orang berkonsultasi dengan praktisi terapi alternatif jika mereka memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala.

Dia juga menyarankan orang untuk mengonsumsi “chyawanprash” (suplemen makanan) dan “kadha” (minuman herbal dan rempah-rempah) untuk meningkatkan kekebalan mereka. Pernyataannya ini memicu kritik dari para dokter yang mengatakan rekomendasi tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji dan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis. Dan boom semuanya sudah terlambat.

Case fatality rate Indonesia sebesar 2.74 %, sedangkan India sebesar 1.09 % untuk dunia sebesar 2.09%. Artinya tingkat kematian yang positif Covid 19, lebih tinggi dari rata-rata dunia, apalagi dengan rata-rata India. Penduduk India berjumlah 1,391,457,000 jiwa, sementara menurut ourworldindata penduduk Indonesia 275,964,453. Di India ada 30.2 juta jiwa yang vaksin full dan 99,53 vaksin sekali. Sedangkan di Indonesia ada 8 juta yang sudah vaksin full dan 4,7 yang vaksin sebagian. Secara prosentase dari jumlah populasi penduduk, India 9.32% dan Indonesia 4.64%.

Early Warning!

Ini jadi peringatan dini (early warning) bagi Indonesia. Jika tidak mampu mengendalikannya, maka situasi tsunami tahap ke-dua di Indonesia juga akan berlangsung. Dari ketiga hal tersebut, menurut saya kata kuncinya justru di protokol Kesehatan. Sebab, setelah satu tahun lebih dalam kondisi pandemi, rakyat juga mulai bosan dan jenuh dengan kondisi new normal ini. Sehingga pelonggaran terus terjadi.

Demikian juga pejabat publik juga banyak memberikan contoh ketidak taatan ini. Sanksi yang diberikan bahkan cenderung untuk standard ganda. Jika pejabat publik, saat melanggar tidak dikenakan sanksi. Tetapi jika rakyat biasa, terlebih lawan politik/oposan terhadap penguasa, akan dikenakan sanksi yang berat. Hal ini menyebabkan public distrust. Sehingga menyebabkan rakyat semakin apriori dengan penegakan hukum oleh pemerintah.

Kasus terakhir yang saat ini sedang terjadi adalah terkait dengan larangan mudik. Secara konsep, saya mendukung. Akan tetapi dalam prakteknya justru berpotensi menimbulkan kerumunan baru. Sebab saat akses ke berbagai daerah ditutup, maka kerumunan masa itu menumpuk di titik-titik yang dijaga apparat itu. Apalagi aparatnya bersenjata lengkap, seperti mau perang. Sekali lagi, ini berpotensi menimbulkan klaster baru. Semoga tidak.

Warning berikutnya adalah, nampaknya kita juga harus mulai mempersiapkan tabung oksigen untuk kepentingan pribadi. Antisipasi dengan segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk jika terjadi darurat oksigen seperti India. Jika tidak terjadi, juga tidak ada salahnya untuk memiliki persediaan ini. Bisa dimiliki dalam bentuk kelompok, keluarga atau RT. Bisa juga membuat tempat isolasi mandiri di setiap RT. Saya rasa ini bukan hal aneh, sebab saya punya kawan penderita asma, juga punya persediaan oksigen di rumahnya. Saat serangan terjadi, lagsung bisa dibantu pernafasannya. Sebelum proses medis selanjutnya.

Tetapi kita tetap harus ber-ikhtiar dengan protokol kesehatan, dan mengkonsumsi makanan untuk penguatan anti body. Lalu bertawakal dengan do’a-do’a terbaik kepada Allah SWT. Apalagi ini di sepulih akhir bulan Ramadhan. Saatnya kita ber-I’tikaf, sambil berdo’a agar COVID-19 beserta mutasi-mutasinya, segera enyah dari muka bumi. Aamiin.

Islam, Kronik, Peradaban

Pengangguran Milenial


Pandemi COVID-19 telah menimbulkan gangguan parah pada ekonomi dan pasar tenaga kerja di seluruh dunia. Kembali pada bulan April, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan bahwa pandemi akan mengancam pekerjaan 68 juta pekerja di seluruh Asia jika wabah berlanjut hingga September 2021.

Sedangkan bagi kaum muda berusia 20 hingga 29 tahun yang telah menghadapi pasar tenaga kerja akan bertambah sulit. Bahkan sebelum krisis virus korona dimulai, situsi pandemi tersebut berdampak tidak proporsional pada prospek pekerjaan mereka.

Kondisi ini tampak dari melonjaknya jumlah pengangguran di tanah air dalam kurun waktu 6 bulan pandemi, di mana lonjakan tersebut mencapai hampir 3 juta orang. Rata-rata mereka adalah lulusan SMA dan Sarjana. Sehingga ini merupakan berkebalikan dengan asumsi kebanyakan orang selama ini, bahwa makin tinggi pendidikannya, maka makin bisa mencari banyak pekerjaan. Sebab faktanya berbicara lain.

Jika melihat dari grafik di atas yang bersumber dari ILO (International Labour Organization), maka tingkat pengangguran usia muda di Indonesa, jelas tertinggi dianding dengan negara-negara lain di ASEAN. Sebenarnya pada triwulan pertama tahun 2020, sempat turun di banding triwulan ke-empat Tahun 2019. Namun, dengan adanya pandemi, laporan terbaru menyebutkan bahwa pengangguran di kalangan milenial ini hampir menyentuh di angka 20%. Sehingga masih tetapi tertinggi di antara negara-negara ASEAN tersebut. Tentu ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dalam konteks Indonesia, tidak bisa kemudian hanya menyalahkan pamdemi, sebagai penyebab utama dari  banyaknya pengangguran itu. Senyatanya, sebelum pandemi-pun, angka pengangguran di golongan ini sudah tinggi. Menurut laporan BPS, secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 tercatat 6,26%. Ini pun meningkat dari posisi pada Februari 2020 yang sebesar 4,94%, tetapi turun dari posisi Agustus 2020 yang sebesar 7,07%.

BPS juga menyebutkan bahwa Data BPS menunjukkan, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta orang pada September 2020. Jumlah tersebut meningkat 2,76 juta dibandingkan posisi September 2019. Angka tersebut membuat kemiskinan Indonesia kembali ke level 10 persen dari jumlah penduduk, yakni sebesar 10,19 persen, setelah Tahun 2018 hingga 2019 berada di 1 digit, yaitu 9,82% dan 9,22 %. Meski fluktuatif, tetap pada kisaran itu.

Oleh karenanya, pemerintah harus melakukan penanganan serius dua hal ini, yaitu masalah pengangguran dan kemiskinan. Mesti dilaksanakan secara integratif, karena untuk mengurangi kemiskinan yang terbaik adalah dengan memberikan orang-orang miskin lapangan kerja daripada bansos. Bansos tetap dibutuhkan dalam kondisi darurat, tapi untuk bisa orang miskin terangkat menjadi sejahtera secara berkelanjutan dengan memberikan lapangan kerja.

Sehingga apapun alasannya, penyediaan lapangan kerja ini menjadi solusi yang tidak bisa di tawar lagi. Dorongan ini dapat dengan membuka proyek-proyek padat karya, ataupun stimulus ekonomi lainnya yang mendorong masyarakat untuk berproduksi. Sehingga ekonomi bergerak dan pengangguran tereliminir. Meskipun tidak semudah yang disarankan, akan tetapi langkah taktis dan strategis perlu segera dirumuskan dan diimplementasikan. Karena itulah tugas negara. Memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Terkait dengan penggauran muda tersebut, ILO mencatat bahwa beberapa anak muda akan menghadapi kesulitan menyeimbangkan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan untuk melengkapi pendapatan keluarga. Yang lain akan menghadapi tantangan untuk mencari pekerjaan pertama mereka di pasar tenaga kerja dengan permintaan yang sangat terbatas. Lebih banyak kaum muda akan menghadapi kesulitan dalam peralihan dari pekerjaan tidak tetap dan informal ke pekerjaan yang layak. Dan semakin banyak kaum muda yang tidak bekerja atau dalam pendidikan atau pelatihan, mungkin semakin terlepas dari pasar tenaga kerja.

Selanjutnya, ILO merekomendasikan  Pendekatan yang komprehensif dan terarah untuk  active labour market programmes (program pasar kerja aktif /ALMP’s) harus menjadi inti dari respons ketenagakerjaan muda dan paket pemulihan ekonomi sekaligus satu paket dengan pengurangan kemiskinan.

Sehingga, hal ini termasuk menyediakan program subsidi upah yang ditargetkan untuk kaum muda, mendukung kaum muda dalam perencanaan pekerjaan dan bantuan pencarian kerja, memperluas akses kaum muda untuk mendapatkan kembali keterampilan dan peningkatan keterampilan, dan berinvestasi dalam kewirausahaan kaum muda.

Sebagai catatan, ini tantangan bagi Indonesia yang sedang akan memanen dari bonus demografi. Sehingga menjadi tantangan yang sangat menantang bagi bangsa ini. Sebab jika gagal mengelola kaum muda ini, maka bisa dipastikan akan menjadi gagalnya dari bonus demografi itu sendiri.

Dengan demikian maka, program entrepreneur muda, menjadi salah satu yang perlu di dorong untuk kaum muda ini, yaitu dengan membangun start-up dari yang sederhana hingga yang berteknologi tinggi, sehingga sesuai dengan dunia anak muda tersebut. Sehingga dengan prosentasi lebih dari 65% dari total populasi bangsa ini, maka jika kaum mudanya terangkat, berarti akan mengangkat bangsa dan negara ini menuju bangsa yang adil dan makmur. Baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam.

Tulisan ini di muat di JannahQu | Asih Soebagyo : Pengangguran Milenial

Covid, Kronik, Peradaban

Mau Vaksin ?


Ini pertanyaan yang ramai dipublik. Setelah mendapati kenyataan bahwa, oramg sudah di vaksin kok masih positof COVID. Beberapa publik figur pun sempat menghiasi berita, karena kasus seperti ini. Hal ini menyebabkan polarisasi public, ada yang siap untuk di vaksin, dan ada juga yang tidak siap di vaksin. Masing-masing punya alasan yang logis. Dan wacana seperti ini ternyata tidak hanya dikalangan rakyat awan. Namun juga menjadi diskursus para cerdik cendekia.

Semalam seorang kerabat meninggal dunia. Setelah dinyatakan positif Covid-19, dan di rawat di Rumah Sakit lebih dari 2 (dua) pekan. Padahal sebulan sebelumnya sudah dilakukan vaksin Sinovac, sebanyak 2 (dua) kali, sesuai standar vaksiniasi Covid.  Halini dijelaskan bahwa suntikan pertama untuk memicu respons kekebalan awal terhadap vaksin yang diberikan, sedangkan suntikan kedua dapat meningkatkan kekuatan respons imun yang sebelumnya sudah terbentuk.

Sudah banyak cerita, tetapi kita mungkin perlu penjelasan tentang vaksin. Makhluk apakah itu? Vaksin adalah zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin terdiri dari banyak jenis dan kandungan, masing-masing vaksin tersebut dapat memberikan Anda perlindungan terhadap berbagai penyakit yang berbahaya.

Vaksin mengandung bakteri, racun, atau virus penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau sudah dimatikan. Saat dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Proses pembentukan antibodi inilah yang disebut imunisasi.

Sedangkan, terkait vaksin covid di Indonesia, akan memakai banyak produk dan merk. Salah satunya adalah vaksin sinovac produksi China. Setelah dilakukan uji klinis, menurut BPOM, efficacy rate-nya adalah 65,3 persen. Efficacy rate ( rerata efikasi) adalah sebuah perhitungan yang digunakan untuk menunjukkan efektivitas, dari sebuah vaksin. Artinya dengan telah di lakukan vaksinasi, kemungkinan tidak tertular  (kebal) adalah 65,3%, selebihnya 34,7% masih kemungkinan tertular. Nah ternyata masih ada angka 34,7%, yang menjelaskan mengapa sudah di vaksin kok masih tetap bisa positif COVID.

Dr. Siti Fadilah Sapari, M.Sc mantan Menteri Kesehatan, dalam sebuah podcast di Channel Karni Ilyas yang di unggah di Youtube beberapa hari lalu, menyampaikan beberapa pernyataan penting terkaiot dengan Pandemi. “Jadi kalau pandemi, itu ya biasanya belum ada obatnya. Nah, seharusnya obat itulah yang dikejar, bukan vaksin,”. Selanjutnya, juga dinyatakan “Kita perlu enggak sih vaksin? Sebetulnya dalam sejarah tidak ada yang mengatakan bahwa pandemi itu bisa dihentikan dengan vaksin,” jelas pakar virus ini, yang sempat membubarkan proyek NAMRU-2 itu, yang berujung beliau masuk bui.

Selanjutnya terkait dengan terjadinya mutasi virus beliau menyatakan “Karena vaksin itu bisa dibuat kalau virusnya sudah stabil, kalau masih mutasi, mutasi, mutasi, mestinya vaksin jangan dibuat dulu, karena vaksin itu berasal dari virus, sumber utama itu dari virus,” tuturnya.

Karena kenyataannya saat ini mutase virus terus terjadi. Mutasi virus adalah perubahan struktur dan sifat genetik virus. Proses ini dapat terjadi ketika virus sedang memperbanyak diri di dalam sel tubuh inangnya, baik manusia maupun hewan. Saat ini banyak varian virus hasil dari mutasi dan mutase ganda. Seperti yang B.1.17 terkenal dari Inggris. B1351 dari Afrika Selatan. B1525 dari Malaysia. E484K, P1, P2 dan seterusnya. Artinya, virus Corona ini, terus dan terus mutasi.

Pertanyaannya, apakah efektif dilakukan vaksin, sementara mutase terus berlangsung? Menjawab ini Dr. Nadia Tarmidzi, M.Epid, juru bicara Vaksinasi COVID Kemenkes menyampaikan bahwa,”Sampai saat ini belum ada penelitian ataupun bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin yang telah diproduksi dan telah digunakan di berbagai belahan dunia tidak bisa melindungi kita dari virus varian baru ini. Vaksin yang digunakan dalam upaya kita melakukan penanggulangan pandemi covid 19 masih sangat efektif”

Berdasarkan data dari Ourworldin data, saat ini Indonesia sudah melakukan vaksinasi terhadap 17,92 juta jiwa penduduk. Masih tergolong rendah jika disbanding dengan negara lain, sebagaimana ada di grafik berikut :

https://ourworldindata.org/covid-vaccinations

Kita akan bisa melihat efektifitas dari pada vaksinasi ini, terhadap penyebaran COVID di masing-masing negara tersebut. Yaitu dengan membandingkan pertumbuhan harian yang juga masih terus ada di masing-masing negara yang sudah dilakukan vaksin secara masif itu, sebagaimana gambar di bawah ini.

https://ourworldindata.org/covid-vaccinations

Sekarang berpulang kepada Anda, apakah setelah ini akan memberikan motivasi Anda untuk di vaksin, atau malah nggak mau di vaksin. Saya tidak punya hak untuk memperngaruhi Anda.

Yang jelas, sesuai dengan keyakinan saya sebagai muslim, namanya COVID-19 dan juga variannya hasil mutase itu adalah makhluk Allah SWT. Dia pasti tunduk pada sunnatullah, berupa ketatapan dan aturan Allah. Sedangkan tugas manusia adalah berusaha, selebihnya Allah yang akan menentukan hasilnya.

Wallahu a’lam.

Covid, Kronik, Peradaban

Belajar dari Tsunami Covid di India


https://www.worldometers.info/coronavirus/country/india/

Beberapa hari lalu, saya tulis tentang belajar dari Bangaluru, untuk membangun Silicon Valley, maka kali ini kita kita tetap belajar dari India, tetapi terkait dengan penanganan COVID-19. Dunia terbelalak, tiba-tiba India mengalami peningkatan yang drastis, terkait yang positif. Padahal pad bulan Januari, Pebruari hingga pertengahan Maret, grafiknya melandai. Seolah ada signal bahwa, pandemi segera berakhir di India.

Semua bersuka cita, bahwa kebijakan di India untuk menekan COVID-19 berhasil. Tetapi kini menunjukkan terjadinya sebuah anomali, sebab sebagaimana dalam grafik di atas, COVID-19 di India sempat mereda, namun lonjakan kembali terjadi, pada saat para ilmuwan memperkirakan herd immunity sudah hampir tercapai.

Barangkali ini yang memicu lonjakan itu. Dengan melihat penurunan kasus itu, serta tanda-tanda akan berakhirnya COVID-19, masyarakat menjadi lengah. Kerumunan masa terjadi di mana-mana. Tanpa adanya protocol Kesehatan. Sebagaimana ketat dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya. Petugaspun nampaknya juga sudah mulai melonggarkan aturan.  

Kegiatan keagamaan rakyat India yang  berdasarkan sensus 2020  berpenduduk 1,380,004,385 orang dengan komposisi 79,8% Hindu, 14,2%  Islam, 2,3 Kristen dan sisanya agama lain itu menjadi bebas. Bahkan ritual penganut Hindu yang mandi di sungai Gangga dalam beberapa hari dilakukan dengan tanpa menghiraukan protokol Kesehatan. Mereka percaya bahwa Maa (ibu) Gangga akan menyelamatkan mereka dari pandemi ini. Faktanya, justru setelah ritual itu, muncul klaster baru terjadi di sini. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang tumpah ruah disini. Dari dari 50.000 sampel yang di tes, 1.000 diantaranya adalah positif COVID-19. Dan ini diikuti di seluruh India. Kasus harian meningkat tajam. Bahkan memecahkan rekor.

Demikian juga kampanye politik juga terjadi secara offline di negara multipartai ini. Yang namanya kampaye pasti mengundang kerumunan masa. Hal lain juga terjadi di restoran, rumah makan, mall, pasar, tempat perbelanjaan dll yang juga sudah dibuka dan semuanya sama, tanpa protokol kesehatan yang ketat dan memadai. Padahal India sejauh ini, India telah memberikan lebih dari 127 juta dosis vaksin virus corona dalam upaya inokulasi terbesar di dunia. Dan ada 272,705,103 penduduk yang sudah ditest. Hanya kalah dari USA yang sudah mengetest sebanyak 435,438,612 jiwa.

Tetapi realitas di atas justru mendapatkan data yang mengerikan. Kemarin 22/04/2021, menurut worldometer, tercatat ada 332.503 kasus baru. Dengan kematian sejumlah 2.256 orang. Hal ini menjadikan kasus dan kematian tertinggi di India hingga hari ini, sepanjang pandemi menyerang setahun lalu. Sehingga secara total, ada 16,257,309 kasus di India. Dengan 13,641,606 yang sembuh dan 186,928 yang mati. Sehingga  menempatkan India menempati peringkat ke-2, menyalip Brazil dengan jumlah kasus 14,1 juta, tetapi kalah dari USA dengan 32,6 juta.

Hal lain, juga memcicu pertumbuhan yang cepat itu disinyalir telah terjadinya dan ditemukannya mutasi COVID-19.  Varian virus baru itu dinamakan varian B.1.617, yang membawa beberapa mutasi. Virus ini telah dijuluki “mutan ganda” karena dua mutasi kunci pada protein lonjakan virus corona, yang digunakannya untuk mengikat lebih efektif dengan sel sehingga menyebabkan infeksi. Sementara, mutasi L452R diketahui meningkatkan transmisi virus dan mengurangi kemanjuran antibodi, mutasi E484Q dikatakan memberi virus peningkatan sifat pengikatan sel dan penghindaran kekebalan.

Dengan tingginya kasus positif di atas, diistilahkan telah terjadi tsunami COVID-19 di India. Hal ini menyebabkan setidaknya ada 4 (empat) masalah baru di India.  1) kurangnya jumlah bed dan obat-obatan di RS, 2) keterbatasan pasokan oksigen yang dibutuhkan oleh pasien saat saturasi menurun, 3) mayat bertumpuk di luar RS, 4) tempat kremasi jenazah penuh.

Pelajaran apa yang bisa di ambil?

Dari apa yang terjadi di India, setidaknya beberapa pelajaran yang bisa kita ambil agar negeri ini terhindar dari tsunami COVID-19, beberapa hal itu meliputi :

Pertama, ketika grafik melandai, meskipun bisa dijadikan ukuran, bahwa jumlah yang terinfeksi COVID-19 turun, akan tetapi tidak bisa dijadikan alasan bahwa pandemi akan berakhir.

Kedua, grafik melandai juga bukan sebagai ukuran bahwa telah terhadi herd immunity, sehingga virus tidak menyebar/menular  lagi. Sebab masih ada indikasi yang lain yang jadi parameter.

Ketiga, Vaksinasi yang massif, juga bukan jaminan bahwa kita tidak akan terinfeksi virus corona. Faktanya, ada yang sudah di vaksinasi 2 (dua) kali ternyata masih terinveksi juga, hal ini juga kita jumpai di Indonesia.

Keempat, waspada terhadap mutasi dan hadirnya varian baru dari COVID-19.

Karena ada kesamaan dalam hal ndablegnya, terutama terkait untuk mematuhi protokol kesehatan, maka apa yang terjadi di India, sangat berpotensi juga terjadi di Indonesia. Apalagi jika mudik tetap dipaksakan. Maka, lonjakan itu bisa dipastikan bakal terjadi. Olehnya menjaga protokol kesehatan adalah kunci. Selain itu, intinya jangan paranoid sehingga menciptakan ketakutan yang luar biasa, akibatnya tidak berbuat apa-apa. Juga jangan jumawa sehingga sembrono, merasa tidak takut apapun yang terjadi, malah nantangin, nanti begitu kena baru bilang kalo COVID itu ada. Sebaiknya, kita bersikap wasathiyyah, moderat, pertengahan sehingga waspada dan proporsional menyikapi hal ini.

Selain itu bagi kita umat muslim, tentu saja dengan tetap menjaga wudhu, dan senantiasa lebih mengintefsifkan do’a dan beribadah. Apalagi ini sedang bulan Ramadhan. Setelah semua upaya itu dilakukan, selebihnya, kita tawakal kepada Allah. Semoga Allah SWT segera mengenyahkan COVID-19 dari muka bumi. Wallahu a’lam.