Menyongsong Kebangkitan Peradaban


Ramadhan ke-10

 

Akan datang sebuah peradaban baru, setelah Corona berlalu. Diprediksi muncul kekuatan baru, yang akan menggantikan dominasi sekarang, sekaligus menentukan arah dunia ke depan. Begitu kesimpulan beberapa pendapat para ahli, menyikapi kondisi mutakhir. Demikin halnhya, lonceng kematian kapitalisme sudah ditabuh. Indikasi dan gejalanya sudah jelas dan nyaring. Tinggal tunggu waktunya. Ajal menanti, kini sedang sakaratul maut. Namun seperti biasa, tabiat kapitalisme akan mencari keseimbangan baru. Biasanya ada “Dokter” yang melakukan “operasi plastik. Kemudian, akan tammpak wajah baru, casing baru. Meski jiwa dan raganya tetap sama. Setelah itu, jika ada goncangan lagi, akan goyah. Dan berubah lagi. Selalu begitu, mencari bentuk baru lagi, dan seterusnya akan menjadi siklus. Bagi yang paham tidak kaget. Kita tunggu saja, siapa dokternya dan wajah barunya seperti apa. Beberapa waktu mendatang. 

Demikian halnya dengan sosialisme. Yang saat ini diwakili oleh China. Negara-negara lain, penganut sosialisme sudah pada tumbang. Jika tidak, maka dalam kondisi yang sempoyongan.  China, sebenasrnya  sudah berubah. Dengan menerapkan state capitalism. Secara bentuk pemerintahan dan sistem kepartaian menerapkan sistem partai tunggal. Sebuah ciri dari sosialisme/ komunisme. Namun secara Ekonomi, negara mengimplementasikan kapitalisme Continue reading “Menyongsong Kebangkitan Peradaban”

The End Of The Free Market


Akhir pasar bebas. Siapa pemenang dalam perang antara Negara dan Swasta. Begitu Ian Bremmer presiden Eurasia Group, sebuah lembaga penelitian dan perusahaan konsultansi kelas dunia dengan spesialisasi penelitian resiko politik global memberikan judul bukunya yang provokatif itu. Bahkan di anak judulnya dia menulis bangkitnya kapitalisme negara dan ancaman jangka panjang bagi perekonomian dunia. Pilihan diksi dalam judul dan sub judulnya, dalam buku yang di tulis tahun 2009 lalu itu, terus menggugah kesadaran. Namun, berbagai analisa dan prediksi yang tertulis dalam buku ini, kini telah menjadi kenyataan.

Bremmer, diawal tulisannya mengutip Francis Fukuyama,”yang mungkin kita saksikan saat ini hanya akhir Perang Dingin, atau berlalunya sebuah periode tertentu dalam sejarah pascaperang, tetapi juga akhir sejarah secara harfiah: yakni, titik titik ujung ideologi umat manusia serta universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan manusia”. Jika di breakdown secara sekilas antara judul dari buku Bremmer dan kemudian mengutip pendapat Fukuyama, nampak terjadi paradoks. Continue reading “The End Of The Free Market”