Merangkul Digital Native


Sejak dikemukakan Marc Prensky pada sebuah makalahnya, dengan judul Digital Natives, Digital Immigrants pada tahun 2001, maka penggunaan kedua diksi tersebut selalu mewarnai perbincangan diberbagai kalangan. Sejak dua dekade lalu, pembahasan tentang ini belum juga berakhir. Karena memang dunia digital terus berkembang. Tidak pernah berhenti.

Secara ringkas digambarkan bahwa, anak-anak sekolah termasuk mahasiswa saat ini adalah penduduk asli dunia digital, sedangkan pengajarnya adalah imigran atau pendatang. Hal ini bisa dijelaskan bahwa generasi X dan generasi sebelumnya  masuk dalam digital immigrants. Sedangkan generasi Y, Z dan generasi sesudahnya masuk sebagai native digital.

Generasi digital immigrants merupakan generasi yang masih mengalami penggunaan mesin ketik manual maupun elektrik dan kemudian terjadi revolusi teknologi, sehingga beradaptasi dengan dunia digital. Sedangkan mereka dinamakan native digital, karena sejak lahir mereka sudah berada pada dunia digital yang terus berkembang. Mereka seolah tidak harus belajar, dan langsung bisa menyesuaikan dengan teknologi yang ada. Hal ini bisa kita lihat bagaimana anak-anak “kecil” saat ini, yang langsung bisa berinteraksi dengan smartphone, laptop atau perangkat digital lainnya, tanpa harus melalui belajar formal.

Didalam tabel ini, disajikan perbedaan antara native digital dan digital immigrants, sebagai berikut :

https://cdegelman.wordpress.com/2018/01/29/digital-native-digital-immigrant-or-somewhere-in-between/

Jika kita cermati apa yang menjadi ciri dari digital native, maka hal itulah yang masuk dalam katagori generasi milenial (generasi Y dan Z) serta generasi sesudahnya. Dan di banyak tulisan saya, hal ini perlu cara yang sistematis untuk melakukan pendekatan, di bidang apapun, untuk meraih simpati dan juga dukungan dari generasi ini.

Sehingga produk/jasa dalam model apapun jika tidak merangkul kalangan digital native ini, besar kemungkinan akan failed. Karena saat ini, sebenarnya merekalah yang men-drive pasar. Mereka adalah generasi yang tergantung dengan telepon dan device lainnya. Pribadi-pribadi intuitive learning dan juga fast learner, sehingga dengan intuisi dan kecerdasannya sangat cepat untuk melakukan Analisa dan melakukan keputusan.  Karena sudah terbiasa multitasking, melakukan banyak perintah/kerjaan dalam waktu yang bersamaan. Memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta selalu memanfaatkan multimedia.

Sehingga dengan karakteristik seperti itu, kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan atau model lama, dan mungkin mengalami keberhasilan masa lalu. Tetapi tidak jaminan berhasil di era kini. Dunia sudah berubah. Sekali lagi substansi tetap harus dijaga, akan tetapi kemasan bisa dimodifikasi. Karena kini jadi dunia mereka.  Dimana kini eranya generasi yang paperless dan cashless. Yang mulai meninggalkan semua bentuk kertas, sehingga mengisi form/borang untuk mendaftar untuk kepentingan tertentu, sudah mulai ditinggalkan.

Demikian juga pembayaran tunai dengan uang, tidak terlalu diminati lagi. Mereka senang dengan e-money, digital money,  QRIS, dlsb. Pendeknya semuanya menjadi simple, tetapi high impact dan high quality. Artinya, jika kita ingin menghadirkan produk/jasa/layanan dan tidak memperhatikan itu, maka mereka akan denial, karena tidak gua banget.

Pendekatan yang tepat, semestinya adalah dengan memenuhi karakteristik digital native, dengan tetap memberikan nilai-nilai yang terukur. Dan selanjutnya adalah dengan menghadirkan ambassador yang seusia dengan mereka, atau paling tidak memiliki jiwa seperti mereka. Sehingga bahasanya, sama dengan Bahasa mereka. Jika tidak, maka apapun yang akan kita tawarkan akan di tolak.

Bukankah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib r.a berpesan, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Sebuah Nasihat yang sangat tepat untuk melakukan pendekatan pada digital native ini. Wallahu A’lam

Selamat Menunaikan Ibadah Shiyam Ramadhan.

Published by Asih Subagyo

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: