Islam

Berburu Lailatul Qadr


Ada sebuah pelajaran dari pacuan kuda, ketika mendekati garis finish justru, kuda tersebut akan berpacu lebih kencang lagi. Hal ini juga berlaku bagi pada pelari, jarak pendek maupun jarak pendek. Semua sama, ketika mendekati akhir perlombaan jutsru mempercepat lajunya. Demikian pula ketika pembalap sepeda, semakin dekat dengan ujung garis akhir perlombaan, semakin kuat ayunannya, sehingga mencapai finish duluan. Hal yang sama terjadi untuk hampir semua perlombaan jenis apapun juga, effort di akhir menjadi sebuah keniscayaan, jika ingin memenangkan perlombaan.

Jika di ibaratkan perlombaan tersebut di atas, maka hari-hari ini, kita berada di penghujung ramadhan. Maka, menjadi menyalahi sunnatullah untuk meraih kemenangan, jika kemudian di hari-hari ini, kita malah santai di banding hari-hari berikutnya. Artinya, seharusnya justru kita memacu ibadah kita. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Tidak ada pilihan lain jika kita ingin meraih keutamaan ramadhan yang liar biasa itu.

Modal dasar dari yang melaksanakan puasa adalah beriman, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al Baqarah : 183 adalah panggilan terhadap orang yang beriman. Sehingga orang yang tidak beriman tidak diwajibkan berpuasa. Olehnya jika ada orang yang tidak beriman kemudian nyinyir terhada ibadah puasa ramadhan dan seluruh kandungan di dalamnya, wajar saja. Sebab perintah ini bukan untuknya. Kemudian ada proses yang sama, yaitu puasa. Secara Bahasa puasa atau dalam Bahasa Arab -disebut dengan Ash Shiyaam (الصيام) atau Ash Shaum (الصوم) artinya adalah al imsaak (الإمساك) yaitu menahan diri. Puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Kemudian outpunya adalah takwa.

Pertanyaanya adalah mengapa setiap tahun orang beriman berpuasa, akan tetapi ternyata tidak ada standar ketaqwaan yang mewarnai kehidupan umat pada hari-hari berikutnya. Maka jawabanya bisa panjang. Akan tetapi bisa jadi input-nya, tingkat keimanan yang berbeda. Proses dalam berpuasa juga belum sempurna. Sehingga outputnya tidak standar.

Akhir ramadhan memang diberikan fasilitas bagi setiap muslim yang melaksanakan shiyam ramadhan. Sehingga umat islam di akhir bulan ramadhan ini berbondong-bondong memenuhi masjid, sebagaiman di contohkan oleh Rasulullah SAW untuk melakukan I’tikaf. Dan kemudian juga dilanjutkan qiyamul lail disepertiga malam terkahir.

Fenomena yang terjadi di umat beberapa decade terakhir ini, akan memenuhi masjid disetiap malam-malam ganjil di kahir ramadhan. Biasanya puncaknya, setiap malam 27 ramadhan. Maka masjid-masjid akan dipenuhi jama’ah untuk ber I’tikaf dan melakukan qiyamul lail. Di beberapa masjid, rerata imamnya adalah para huffadz. Dan untuk 8 rekaat, dibacakan 1 juz, di tambah 3 rekaat witir. Di rekaat akhir witir, selalu membaca do’a qunut, dan biasanya menggores para jama’ah hingga menangis bersama.

Mengapa selalu berburu lalilatul qadar di sepertiga malam terakhir? Karena mereka berpegang pada hadits-hadits berikut , saya kutip dari Rumasyo:

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”  (HR. Bukhari)

 Dari deretan hadits tersebut di atas, maka kesimpulannya adalah malam lailatul qadr terjadi di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan dan itu terjadi di malam-malam ganjil. Oleh karena itu mari, berburu lailatul qadr, semoga kita semua dapat mendapatkannya, sehingga mampu mendapatkan kebaikan yang senilai 1.000 bulan. Wallahu a’lam

ekonomi, entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, Islam, IT

Belajarlah dari Bangaluru !


Keinginan Presiden Indonesia sejak awal menjabat, untuk mendirikan Silicon Valley Indonesia, sangat menggebu-gebu. Sebuah keinginan yang patut diapresiasi. Meskipun hingga kini belum juga ada yang terealisir. Ada beberapa daerah yang sempat diumumkan sebagai tempat yang cocok untuk membangun Silicon Valley itu. Diantaranya : Banten, Papua, Bandung, Penajam Paser Utara sebagai calon Ibu Kota baru itu, dan yang terakhir dan kemudian menjadi polemik adalah Sukabumi, dengan nama Bukit Algoritma. Sebuah kawasan seluas 888 ha, di KEK Cikidang Sukabumi, dengan total biaya investasi direncanakan sebesar 18 Trilyun itu, sontak membuat heboh jagat netizen.

Mengapa menuai pro-kontra? Selain nilainya yang fantastis, alasan lainnya adalah ketidakcocokan tempat yang tidak dekat dengan kampus dan industri, sebagai pemasok utama resources. Beberapa komentar yang menyangsikan, mempertanyakan dan menggugat, kemudian menghiasi percakapan di cloud. Tak tanggung-tanggung jika jauh-jauh hari Gubernur Jabar, juga memberikan warning, jangan sampai proyek ini hanya menjadi gimmick branding (untuk jualan property semata). Demikian halnya dengan Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF, Nailul Huda menyebut proyek Bukit Algoritma di Sukabumi sebagai pusat inovasi teknologi digital di wilayah Asia Tenggara masih berpotensi mangkrak. Karena prasarat infrastruktur dasar dan SDM masih belum teratasi. Dan banyak hal lagi “gugatan” lainnya yang menghiasi perdebatan di media sosial.

Jika yang menjadi rujukannya adalah Silicon Valley, pasti akan kontradiktif.  Mengapa demikian? Terletak di sebelah selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Silicon Valley diciptakan oleh pengusaha Ralph Vaerst di tahun 1970-an. Awalnya, berasal dari sejumlah besar produsen chip silikon di kawasan itu. Lambat laun, tempat itu pun menjadi markas dan kompleks perkantoran untuk sejumlah bisnis teknologi, termasuk Apple Inc. , eBay Inc., Facebook Inc., Intuit Inc., Adobe Systems Inc., Intel Corp. dan Hewlett-Packard Co, dlsb.

Sehingga Silicon Valley menjadi tempat perkembangan inovasi yang integrative karena venture capital sebagai pemodal bagi start-up bisnis teknologi hamper sepertiganya hadir di situ. Dan yang lebih memperkuat lagi adalah institusi pendidikan tinggi terkemuka juga ada di tempat itu, seperti Universitas Stanford, Universitas Silicon Valley dan tiga kampus Universitas California. Dari sini sangat kentara bahwa ekosistem yang ada di sana memang sangat mendukung.

Lalu bagaimana sebaiknya? Sebainya perlu belajar dari India yang sukses menjadikan Bangalore (baca : Bangaluru) menjadi Silicon Valley of India. Sehingga juga memiliki sebutan dengan “IT Capital of India”. Satu hal yang menarik adalah, infrastruktur meski dengan sangat terbatas tersedia saat itu, akan tetapi puluhan perguruan tinggi berada di kawasan Bangaluru ini. Juga keberadaan perusahaan lokal yang kompeten, sehingga juga menarik investasi dari venture capital. Sehingga dari sisi SDM dan funding, tidak mengalami kekurangan resources. Tentu saat ini infrastruktur di Bangalore, standarnya lebih tinggi lagi, karena mesti men-serve worldwide. Disamping memang IT-Skill lulusan perguruan tinggi di India juga di atas rata-rata, hal ini dibuktikan dengan banyaknya mereka memenuhi Silicon Valley di Bay Area itu. Bahkan eksekutif perusahaan keknologi dunia, banyak yang berasal dari India.

Dari Laporan https://thescalers.com/how-bangalore-became-asias-silicon-valley/, setidaknya ada 3 (tiga) tahapan Bangalore menjadi Silicon Valley-nya Asia, seperti sekarang ini.

1984: The Making of an IT Capital

Liberalisasi kebijakan impor dan ekspor perangkat lunak di India tahun 1984, menjadi tonggak kebangkitan industi IT di India. Hal ini, dimanfaatkan dengan baik oleh Wipro dan Infosys, perusahaan IT local India, untuk mendirikan kantor pertama kali di Bangalore dan meng-hire programmer-programmer terbaik India. Dan pada tahun 1985 Texas Instruments menjadi perusahaan Multi National Corporation yang investasi pertama kali di Bangalore.  Sebagai highlight-nya, dari instri IT ini adalah : 8% dari total GDP India berasal dari industri IT (2017), total revenue sebesar 180 M USD (2019), mempekerjakan 3,9 juta orang.

2010-2020: From back office to an R&D hotspot

Dalam dekade terakhir saja, Bangalore telah menyumbang 35% dari Global in-house center (GIC) di India. Nilai R&D yang dilakukan di India diperkirakan sekitar $ 40 miliar dan diharapkan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Kontributor utamanya adalah pengembangan software untuk bisnis dengan biaya murah dan rendah dengan teknologi terkioni dan dikerjakan oleh programmer yang kompeten. Dimana, di Bangaluru Pusat R&D perusahaan asing juga disini. Cisco mempekerjakan 11.000 lebih orang, Roll Royce mempekerjakan 100 lebih dn Boeing memperkajan 2.500 orang lebih.

2020: The Silicon Valley of Asia

Industri TI mempekerjakan sekitar 4,1 juta orang di seluruh India dan menyumbang hampir $ 137 miliar ekspor setiap tahun – 40% di antaranya dihasilkan di Bangalore. Disamping itu juga membangun budaya start-updi Bangalore dengan kriterai : menjadi peringkat 3 start-up global, memberikan pembiayaan kepada 57% start-p di India,

Tapi masalah ekonomi saja tidak bisa menjelaskan munculnya utopia TI ini. Peningkatan keahlian teknis dan tenaga kerja multi-skill telah berperan penting, sehingga menjadikan Bangalore menjadi pusat R&D, setidaknya hal ini mewakili nama-nama perusahaan besar sepetibseperti Amazon, IBM, Microsoft, Tesco, Nokia, dan Siemens. Bahkan Tesla juga sudah merencanakan kepindahan R&D nya di Bangalore. Tidak heran, jika perusahaan-perusahaan besar IT besasr lainnya juga berkumpul dalam kawasan tersebut seperti Infosys, Oracle, Dell, Samsung R&D, HP, CGI, Nokia, Huawei dan banyak lagi.

Jika demikian, maka mimpi mendirikan silicon valley di Indonesia dengan menghadirkan Bukit Algoritma itu setidaknya perlu dikaji lebih mendalam kembali. Terutama terkait dengan feasibility study-nya harus presisi, dengan memperhatikan banyak variabel. Tidak cukup modal semangat dan ngotot, atau bahkan aji mumpung. Tentu kita menghargai setiap ide, gagasan dan upaya untuk mengadirkan yang terbaik untuk bangsa ini. Apapun itu bentuknya. Saya juga yakin untuk infrastruktur dengan kedekatan dengan penguasa, bisa jadi di geber, bangunan-bangunan megah bisa didirikan, termasuk listrik, koneksi internet dlsb. Tetapi ekosistem dan resources akan menjadi PR yang tidak mudah diselesaikan.

Akankan ini berpotensi menjadi proyek mangkrak sebagaimana prediksi INDEF, ataupun menjadi gimmick branding sebagaimana warning Gubernur Jabar, atau hanya menghasilkan bangunan mewah saja, sebab riset itu tidak memerlukan bangunan yang megah, tetapi hasilnya yang implementatif, sebagaimana perdebatan di twitter. Soal ini, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Singkatnya : optimis boleh, realistis harus.

Selamat menunggu berbuka hari ke-6

Wallahu a’lam

Islam, Kronik, Peradaban

Lama Puasa Di Beberapa Negara


Jika ukuran dan kualitas puasa dikaitkan dengan lamanya berpuasa, maka muslimin yang berada di Longyearbyen, Norwegia bisa dianggap yang berkualitas. Sebab mereka berpuasa selama 21 jam lebih. Puasa terlama yang ada di planet Bumi ini.

Sedangkan muslimin yang berada di Ushuaia, Kawasan Amerika Selatan, dengan berpuasa selama 10-11 jam, bisa jadi diartikan tiak berkualitas. Sedangkan Kita yang berada di Indonesia dengan rata-rata puasa sekitar 12-13 jam masuk katagori menengah atau rata-rata.

Namun, kualitas puasa Ramadhan tidak ditentukan dengan ukuran lamanya itu. Sebagaimana yang tersurat dalam QS Al-Baqarah 183, maka kualitas Ramadhan ditentukan oleh outputnya, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Sedangkan prosesnya -berapapun lamanya berpuasa- menjadi sangat manusiawi sekali. Karena disesuiakn dengan zona waktu dimanapun dia bermukim, dan biasanya orang mudah beradaptasi dengan wilayah dimana mereka mukim.

Kendatipun demikian ternyata tetap ada rukhsyah (kemudahan) yang diberikan kepada wilayah-wilayah yang ekstrem tersebut. Sebagai contoh, di kota-kota paling utara yang ekstrem seperti Longyearbyen, Norwegia, di mana matahari tidak terbenam dari 20 April hingga 22 Agustus, peraturan agama, atau fatwa, telah dikeluarkan untuk mengikuti pengaturan waktu di Mekah, Arab Saudi, atau negara Muslim terdekat. Artinya kaum muslim di kota itum yang seharusnya berpuasa lebih dari 21 jam, menjadi 14-15 jam.

Mengutip https://www.aljazeera.com/news/2021/4/7/ramadan-2021-fasting-hours-around-the-world beberapa negara dan lama waktu puasanya dapat diliihat di tabel di bawah ini.Jika merujuk tabel di atas, maka kita bersyukur berada di Indonesia, “hanya” 12-13 jam dalam berpuasa. Sehingga menjadi mengherankan dan tidak bersyukur rasanya, jika Kita tidak mengoptimalkan bulan Ramadhan dengan mengisinya dengan Ibadah dan memperbanyak amal sholeh.

Hal ini juga bisa jadi referensi kita jika ada saudara, teman, anak atau family yang berada di negara-negara tersebut. Juga bisa jadi panduan, kalo ingin studi atau bekerja di beberapa negara tersebut. Meskipun, nanti untuk di wilayah utara dan selatan juga akan mengalami perubahan waktu lamanya berpuasa, seiring rotasi bumi mengeliling matahari. Nah ini akan dibahas sendiri tentang Bumi itu Bulat.

ekonomi, IT, Peradaban

Transformasi Digital Sebuah Keniscayaan


Siapapun kita, saat ini, hampir dipastikan memiliki ketergantungan terhadap dunia digital. Karena, digitalisasi telah menyentuh di berbagai aspek kehidupan. Bahkan dalam menjalani puasa Ramadhan seperti sekarang ini-pun, ternyata kita tidak bisa lepas dari dunia digital. Untuk melihat jadwal imsyakiyah, mendengarkan ceramah baik via youtube, ataupun yang online, membeli buka puasa, dlsb. Artinya, dunia digital seolah telah menjadi satu dalam hidup kita. Dan ini bukan hanya dirasakan masyarakat perkotaan, digitalisasi ini telah merambah hingga pelosok-pelosok kampung. Itu hanya sebagian kecil. Nanti kita akan bahas tentang bagaimana strategi implementasinya terhadap organisasi.

Mari kita telaah laporan we are social yang dapat diakses disini : https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia, dimana menyebutkan bahwa pada tahu 2021 di Indonesia ada 345,3 juta nomer yang terkoneksi ke perangkat bergerak tidak termasuk perangkat untuk IoT (Internet of Things). Dari jumlah itu, 94,9% nya yang sudah terkoneksi dengan jaringan broadband dari 3G-5G. Sementara menurut sensus penduduk tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia adalah 270,2 juta jiwa. Artinya ada beberapa orang yang memiliki lebih dari 1 (satu) nomor/telepon genggam.

Masih dari sumber yang sama, dari 345,3 juta nomer yang terkoneksi tersebut, didapatkan data sebagai berikut : 96,5 % pengguna menggunakan untuk keperluan chat dan messenger; 96,3% pengguna akses untuk aplikasi social networking; 86,2% pengguna untuk akses video dan entertainment; 60,4% pengguna untuk aplikasi music; 60,2% pengguna untuk main game; 78,2% pengguna untuk aplikasi belanja (e-commerce); 77,6% pengguna untuk mengakses peta (map); 39,2% pengguna untuk akses perbankan dan layanan keuangan lainnya; 23,4% pengguna untuk akses apliasi kesehatan, kebugaran dan nutrisi; dan 10,9 % pengguna untuk akses aplikasi kencan dan pertemanan.

Yang menarik adalah dalam aspek pembayaran, ternyata mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini bisa dilihat daridata sebagai berikut : 129,9 % pengguna menggunakan mengaktifkan transaksi pembayaran digital; 35,72 milyar dollar (552,51 trilyun rupiah) total nilai tahunan dari transaksi pembayaran yang diaktifkan secara digital tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan 27,6 % dari transaksi tahun sebelumnya. Sedangkan rata-rata belanja setiap user adalah 275 USD atau sekitar 4 juta rupiah. Dan tentu saja hal ini akan terus mengalami pertumbuhan, apalagi dipicu oleh pandemic, yang kemudian mempercepat proses digital.

Dari data di atas, menegaskan kita untuk segera memasuki digitalisasi ini. Kita bisa menarik data-data di atas, untuk kepentingan apapun juga. Olehnya, jika kita masih memaksakan dengan cara-cara konvensional, bisa jadi masih mungkin untuk jalan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Namun hampir menjadi sebuah kepastian bahwa akan tertinggal oleh mereka yang telah mengimplementasikan platform digital tersebut. Dan akibatnya akan hilang dari percaturan di bidang apapun juga. Sehingga, menurut saya, saat ini transformasi digital bukan menjadi  sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah keniscayaan, baik untuk kepentingan individu, maupun kepentingan organisasi dalam bentuk apapun juga.

Secara ringkas, sesungguhnya transformasi digital merupakan konvergensi antara teknologi informasi dengan semua aspek kehidupan dalam masyarakat dan juga dalam organisasi/perusahaan sehingga menghasilkan kualitas layanana yang terbaik.

Bagaimana cara implementasinya? Untuk organisasi apapun juga, saya menawarkan beberapa strategi implementasi berikut :

Pertama, adalah dengan memberikan awareness dari manajemen puncak sebagai pengambil kebijakan hingga low level untuk paham tentang digitalisasi ini.

Kedua, menyusun roadmap/blue print dari digitalisasi. Sehingga bisa diuraikan kebutuhan apa saja yang bisa didigitalkan. Hal ini juga menyangkut 3 (tiga) pilar utama yaitu: 1) people (mempersiapkan SDI sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya), 2) process (menyiapkan kebutuhan data dan informasi serta sistem/aspek apa saja yang akan dibangun dan diintegrasikan) dan 3) technology (menyangkut aplikasi dan infrastruktur)

Ketiga, membuat  piloting (prototyping) di masing-masing bidang/area yang akan didigitalisasikan, dilakukan evaluasi secara komprehenship. Bisa juga dengan melakukan benchmarking terhadap organsiasi sejenis, atau pake metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

Keempat, membangun sistem lengkap secara bertahap, selanjutnya mengembangkan sebuah ekosistem digital. Jika ekosistem sudah berjalan dengan baik maka transformasi digital ini akan terlaksana dengan baik.

Kelima, melakukan evaluasi, maintenance dan pengembangan serta inovasi digital terus-menerus mengikuti dinamika dan perkembangan yang ada.

Mari kita mulai melakukan tranformasi digital di organisasi dan komunitas kita sekarang juga. Selanjutnya bersinergi untuk memenangkan masa depan.

Islam, Krisis, Kronik

Ramadhan Di Bawah Naungan Pandemi


Tigabelas purnama sudah berlalu. Kita hidup dalam kondisi new normal. Sebuah keadaan dimana memaksa kita untuk membiasakan pola hidup baru, yang tidak biasa kita lakukan pada masa-masa sebelumnya. Sehingga mau-tidak mau mengubah semua aspek kehidupan, tanpa kecuali. Tetapi, tatanan kehidupan baru itu, setelah satu tahun lebih, kini telah menjadi habit. Seolah kita sudah terbiasa dengan lifestyle baru ini. Terutama yang menyangkut dengan menjaga Kesehatan. Tentu masing-masing kita punya segudang pengalaman yang bisa diceritakan.

Jika kita menengok, sejak diketemukannya kasus COVID-19 pertama akhir 2019 di Wuhan China, hingga hari ini menurut situs wordometer sudah ada 137,252,621 kasus diseluruh dunia. Dengan tingkat kesembuhan sebesar 110,433,163 jiwa, dan kematian sebesar 2,958,629 orang. Dari data tersebut diperoleh angka, bahwa saat ini ada  23,860,829 orang yang masih positif COVID-19, dengan 23,756,920 orang (99.6%) dalam kondisi sedang, serta 103,909 orang (0.4%) dalam kondisi kritis. Dan data ini bisa berubah dari menit ke menit.

Bagaimana dengan Indonesia? Dari sumber yang sama, ternyata Indonesia mengalami kenaikan peringkat dari tahun lalu. Dari peringkat 34 sebagaimana dikutip di tulisan sebelumnya, hingga kini berada pada urutan ke-19. Secara statistik dapat jelaskan bahwa hingga hari ini sudah ada 1,571,824 kasus diseluruh Indonesia. Ada 1,419,796 jiwa yang sembuh (termasuk saya), dan ada 42,656 jiwa yang meninggal. Sebagai penyintas, pengalaman terinfeksi COVID-19, merupakan pengalaman yang cukup menarik. Apalagi saya termasuk komorbid. Nanti akan saya ceritakan tersendiri.

Lagi-lagi, jika merujuk data yang ada, maka sesungguhnya Indonesia telah mengalami puncak Covid-19 pada bulan Februari 2021. Karena setelah itu, kasus harian berangsur terus menurun, sebagaimana ditunjuk dalam grafik berikut ini. Semoga akan terus melandai dan segera berakhir.

Meskipun demikian jika merujuk pengalaman beberapa negara lain, ternyata memiliki pola yang sama, terjadi gelombang-gelombang berikutnya. Olehnya masih berpotensi adanya second wave, third wave dan seterusnya. Dengan demikian maka, dalam konteks Indonesia, masih berpeluang bahwa pandemi ini tidak segera berakhir. Namun, dengan adanya vaksin yang sudah dilakukan sejak bulan lalu, semoga juga menjadi penghambat tersebarnya virus china ini. Selain itu, dengan adanya kebijakan pemerintah yang cukup membatasi ruang gerak rakyat, dus artinya juga akan membatasi ruang gerak penyebaran virus.

Kebijakan-kebijakan itu, ternyata juga berpengaruh terhadap kegiatan Ibadah. Memang sudah banyak masjid/mushola yang sejak beberapa bulan lalu membuka diri untuk kegiatan sholat dengan pembatasan dan protokol kesehatan. Meski juga ada yang masih menjaga jarak, namun juga ada juga yang shaf-nya sudah rapat. Semua tergantung dengan kebijakan pemerintah dan kesepakatan takmir/DKM masing-masing masjid/mushola. Tetapi apapaun yang terjadi,  kita bisa lihat bahwa ghirah umat menyambut Ramadhan dengan seluruh aktifitas Ibadah didalamnya tetap semarak.

Dari pengamatan di masyarakat terkait dengan Ramadhan, terutama yang terkait dengan pandemi ini, setidaknya dapat dipilah sebagi berikut :

Pertama, Takut (Paranoid), sikap paranoid banyak kita jumpai di masyarakat. Mereka sangat ketakutan dengan situasi yang ada. Biasanya banyak ini dialami oleh kelas menengah atas. Mereka yang sudah mapan. Hingga proteksi berlebihan dilakukan. Meskipun belakangan sudah tidak ketat lagi, namun jelas ketakutannya. Biasanya ngotot untuk tidak hadir berjama’ah di Masjid, atau jaga jarak shaf sholat, protokol kesehatan yang ketat dan seterusnya. Kajian dilakanakan secara online. Intinya tidak mau ada kerumunan atas nama apapun juga. Sikap ketakutan yang berlebihan justru malah menghambat untuk melakukan ibadah yang sempurna.

Kedua, Proporsional (moderat), sebenarnya ada juga perasaan takut bagi kelompok ini. Namun rasa takutnya bisa ditutupi dengan memperhatikan realitas yang ada. Sehingga melahirkan sikap yang proporsional. Biasanya mereka yang well educated yang berada pada kelompok ini. Sikapnya terukur. Saat status pandeminya meningkat (jadi zona merah misalnya) mereka menjaga jarak dan menjaga protokol Kesehatan. Jika status sudah turun ke kuning atau hijau, maka Kembali sholat dengan shaf rapat seperti biasa. Namun tidak sampai tidak menghadiri sholat. Demikian juga dalam kajian, fleksibel bisa online ataupun offfline.

Ketiga, Masa Bodoh, Kelompok ini tidak merasa takut dengan apapun yang terjadi. Biasanya mereka menganggap bahwa covid-19 ini adalah konspirasi kelompok tertentu. Sehingga mereka tidak peduli. Sholat, kajian dan lain sebagainnya tetap berjalan secara offline. Shaf sholat tetap rapat. Meski sesekali masih pake protokol kesehatan, dlsb. Intinya, apapun yang terjadi tidak mempengaruhi sikapnya dalam beribadah. Saat ini, kelompok seperti ini banyak. Paling tidak dalam sikapnya dalam beribadah. Bukan latar belakangnya. Karena sudah jenuh dengan situasi pandemi ini.

Ternyata 13 bulan hidup dalam suasana pandemi telah melahirkan sikap beribadah yang beraneka ragam. Jika didetailkan lagi, akan ditemukan sikap yang lain lagi. Model ini, setidaknya juga bisa menjadi mapping kondisi kita, berada pada posisi mana. Dan sikap keberagamaan seperti ini, tidak menutup kemungkinan akan terpolarisasi lagi, jika pandemi masih berlangsung lama. Atau, hanya 2 (dua) saja, yaitu paranoid dan masa bodoh. Selamat menjalankan ibadah shiyam Ramadhan.

Wallahu a’lam.