
Tradisi mudik tahun ini, kembali meriah lagi. Setelah dua tahun, terkendala oleh pandemi. Mesti masih harus terus menerapkan protokol kesehatan di berbagai tempat, akan tetapi tidak seketat tahun-tahun sebelumnya. Lebih longgar. Kendatipun masih kita jumpai, mayarakat yang terkesan abai, tetapi sekali lagi harus tetap waspada. Jangan sampai lengah, bisa fatal akibatnya.
Mudik berasal dari kata “udik”, artinya orang kampung atau orang Udik. Jadi mudik adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rantauan dikota-kota yang dalam waktu tertentu bahkan dikarenakan sudah lama tidak pulang, untuk balik ke kampung. Sehingga mudik identik dengan kegiatan pulang ke kampung halamannya dengan berbagai moda transportasi baik kendaraan pribadi maupun umum. Mudik seringkali terkait dengan hari besar keagamaan terutama hari raya Idul Fitri atau cuti tahunan untuk silaturahim pada keluarga besarnya yang ada dikampung.
Pada perkembangan selanjutnya, mudik tidak hanya terkait dengan kegiatan silaturrahim ke kampung yang awalnya kental dengan muatan religius tersebut. Akan tetapi sudah bercampur dengan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan politik. Continue reading “Mudiknomics : Ekonomi Silaturrahim”
Kemarin, saat tilawah surat Yusuf, dilembar-lembar terakhir Juz 12,dimulai dari ayat 43, terjadi dialog antara Raja Mesir dengan para pembesar di negaranya termasuk ahli nujum berkenaan dengan mimpi Raja,” Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”. Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi” (QS Yusuf :43)
