entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

PUTAR BALIK


uturnSeberapa pun jauh jarak yang di tempuh, perubahan tetap harus dimungkinkan. Itulah prinsip manajemen perubahan – Renald Khasali

 

Hari ini, saya bertemu dengan 2 (dua) orang, yang sedang di rundung masalah. Yaitu sama-sama bisnis dan perusahaannya mengalami kemunduran, jika tidak bisa dibilang jatuh. Kami bertemu di dua tempat, waktu dan di situasi yang berbeda. Intinya sama, mereka bercerita tentang bagaimana bisnisnya mengalami kejatuhan. Tentu saja dengan berbagai cerita yang dibumbui  kisah yang mengharu biru. Satu orang bercerita, bagaimana dia jatuh di satu bisnis, dan kemudian berpindah-pindah bisnis, sampai sekian tahun belum move on juga, dan masih merasa terpuruk. Sahabat lainnya, bercerita tentang bagaimana dia sudah bertahun-tahun dia dalam satu bisnis, tetapi setelah tahun ke-15 mengalami goncangan hebat, dan terpuruk habis. Meski dengan kasus yang berbeda sebenarnya merea juga sedang berkonsultasi dan berhadapan dengan orang yang sedang mengalami hal yang sama. Yaitu saya hehehehe.

Dalam hal ini, meskipun bisnis saya sedang terjerembab juga,  saya berusaha untuk tenang menghadapi kedua sahabat saya ini. Saya lihat dari raut wajahnya, sesungguhnya mereka mampu menghadapi permasalahan yang dihadapinya. Dan sebenarnya, apa yang disampaikan mereka saat berdiskusi, sebagaian besar adalah solusi yang sebenarnya sudah dia ketahui. Selain itu, saya menyaksikan juga bahwa mereka adalah orang-orang yang sholeh, hal ini nampak jelas dari sinar optimisme yang menyala-nyala, yang tergambar saat menyampaikan problemnya. Meski sesekali, nada suaranya nampak melemah, namun intonasi dan pilihan bahasanya itu tidak bisa membohongi.”Saya, kali ini memang jatuh, tetapi saya tidak akan surut kebelakang dan menyesali, saya akan tetap maju ke depan, Insya Allah akan ada jalan keluarnya, pada saatnya,” kira-kira begitu yang di ucapkannya.  Continue reading “PUTAR BALIK”

entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, IT

Downsizing


downsizingPekan kemarin kami Totalindoers, baru saja mengadakan acara bulanan yang biasa disebut dengan CEO’s Briefing yang dikemas dalam sharing session. Kami berkumpul dengan jumlah yang paling sedikit sejak dari 3 tahun terakhir ini. Kami berawal dari tim yang jumlahnya hanya hitungan jari, kemudian bertambah menjadi pulihan dan sampai ratusan orang. Kemudian berkurang lagi menjadi puluhan, dan kini kembali ke belasan orang. Dengan sedikit orang, serta komposisi dan personil yang berbeda pula, saya berharap ini menjadi semacam KOPASSUS, yang pantang pulang sebelum menang. Nah, dengan model sharing seperti ini, maka semua nya menjadi tahu dan paham, tentang langkah dan stretegi apa yang akan dilakukan perusahaan kedepan. Sehingga pertemuan seperti ini, di hadiri oleh semua komponen Totalindoers, tanpa kecuali, tidak dibedakan dari semua tingkatan dan senioritasnya. Semuanya mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum.

Dalam kerja-kerja seperti ini, selalu saya awali dengan rasa syukur dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Totalindoers atas kinerja dan dedikasinya selama ini, untuk bersama-sama dalam sebuah kapal. Kemudian kita tunjukkan big picture dan road map perusahaan, secara garis besar. Kemudian, saya menyampaikan kondisi terakhir perusahaan, evaluasi atas perkembangan  dan seluruh dinamika didalamnya, yang mungkin dirasakan bersama, dari berbagai sudut pandang. Selanjutnya, secara garis besar dibeberkan langkah-langkah dan strategi , dan target apa yang harus diaksanakan, pekan ini,  sebulan kedepan, juga gambaran setahun atau bahkan beberapa tahun kedepan. Kemudian, menyoroti kinerja bulan berjalan, juga tidak lupa memompa semangat dengan berbagai cerita, yang berupaya untuk sedikit memberikan motivasi, dalam rangka membuka dan membongkar mindset Totalindoers, sehingga inline Continue reading “Downsizing”

entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

The Living Company (Agar Perusahaan Berumur Panjang)


tumbuhSetelah dipostingan sebelumnya, kita membahas tentang keberlangsungan hidup sebuah perusahaan, dimana di dalamnya juga disampaiiakan tabel hasil penelitian dari SBA  (Small Business Administration) tentang usia perusahaan yang didirikan tahun 1998. Dan kemudian kita mendapati fakta bahwa, setelah berumur 7 tahun, rata-rata tinggal 31,18% yang masih bertahan hidup. Nah, ditulisan kali ini, saya sengaja  menyadur  sebagian besar dari buku Chaotics, karya Philips Kotler dan John A. Caslione, yang ternyata juga bersumber  dari buku The Living Company karya Arie de Geus, mendapatkan fakta yang menarik, tentang rata-rata harapan hidup perusahaan di Jepang dan Eropa, serta  bagaimana agar perusahaan dapat berumur panjang. Bahkan sampai ratusan tahun, sesuatu yang mungkin juga ingin kita lakukan dan banyak contoh kisah suksesnya.

Adalah Arie de Geus, saat itu usianya 38 tahun, jabatannya line manager Royal Dutch Shell, yang menyebabkan dia harus tinggal di tiga benua, untuk melaksanakan tugasnya itu. Dan di Shell, jabatan terakhirnya adalah direktur perencanaan perusahaan yang bertanggungjawab atas perencanaan dan sekenario bisnis. Saat masih di Shell, de Geus memulai studi atas sejumlah perusahaan yag berumur panjang. Ia ingin tahu apakah perusahaan-perusahaan ini dikelola dengan seperangkat sifat dan prioritas yang umum. Semakin dlam penelitiannya atas perushanaan-perusahaan tersebut, semakin besar kekhawatirannya akan harapan hidup. Tulisannya, “Harapan hidup rata-rata sebuah perusahaaan seharusnya dua- sampai tiga abad,” Continue reading “The Living Company (Agar Perusahaan Berumur Panjang)”

entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Keberlangsungan Hidup Perusahaan


survivalSebagai sebuah organinasi, maka perusahaan tak ubahnya laksana sebuah organisme, yang membutuhkan makanan untuk melangsungkan kehidupannya,  tumbuh dan berkembang. Dalam masa tumbuh dan berkembang itu, tidak sedikit perusahaan yang kemudian menderita ‘penyakit”. Bila sejak dini terdeteksi “penyakit” nya dan kemudian bisa disembuhkan, maka selamatlah perusahaan itu. Akan tetapi, acapkali perusahaan sakit  yang sudah/belum diketarahui penyakitnya, dan tidak bisa disembuhkan, kemudian mati dalam usia muda. Layu sebelum berkembang. Namun tidak sedikit, perusahaan yang kelihatannya sehat dan tumbuh serta berkembang dengan baik, akan tetapi ternyata rapuh, ketika ada gejolak sedikit, akhirnya tumbang juga. Dan kemudian gulung tikar.

Fakta tersebut, memaksa perusahaan harus senantiasa merasa ‘was-was’ atas keberlangsungan hidupnya. Memang ini tidak gampang, tetapi bisa dilakukan. Ternyata beberapa imunitas agar perusahaan tahan terhadap kematian dini itu adalah kombinasi antara konstruksi modal, asset dan daya saing strategis untuk mencapai laba di atas rata-rata. Ini harus menjadi prioritas. Bahkan menurut Andrew Groove, mantan direktur Intel, dia sempat mengamatai dan kemudian berpendapat bahwa hanya perusahaan-perusahaan “paranoid” yang dapat bertahan dan berhasil. Hal ini senada dengan pendapat Thomas J. Watson, mantan Dirut IBM, yang memperingatkan,”perusahaan adalah sesuatu yang memerlukan biaya dan keberhasilannya adalah suatu pencapaian yang bersifat sementara, yang setiap saat dapat lolos dari tangan.”  Intinya, tidak pernah ada perusahaan yang aman 100%  dan sehat sehingga terbebas dari ancaman kematian, akan tetapi juga tidak harus menjadikan ketakutan untuk melangkah. Justru karena kita tahu bahwa, tidak ada perusahaan yang 100% aman dari kematian itulah, yang meneyebabkan kita tidak boleh berhenti. Harus terus melangkah dan bergerak. Sebab yang membedakan mati dan hidup, minimal adalah ketika kita masih bisa bergerak. Continue reading “Keberlangsungan Hidup Perusahaan”

entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Entrepreneur itu Petarung, Gagal itu Biasa !


“Kegagalan itu hanya milik si penakut nan pecundang, keberhasilan itu milik sang pemberani nan petarung” (renungan akhir tahun)

Traffic sign for Winners or Losers - business conceptMenjadi entrepreneur adalah sebuah perjuangan. Banyak cerita jatuh-bangun, yang mewarnai kehidupannya. Hampir dipastikan, tidak ada entrepreneur yang dalam karirnya berjalan mulus. Kejatuhan, kegagalan atau kebangkrutan, seringkali mewarnai kehidupanyya. Diantara mereka berguguran di tengah jalan. Disaat perjalanan yang ditempuhnya masih belum sampai di tempat tujuan. Ada yang masih sebentar dan pendek dalam menempuh perjalanan, ada yang sudah jauh sekali dan melewati beberapa rintangan. Tetapi, semuanya sama, terjerembab dalan jurang kegagalan. Ada yang bisa bangkit, setelah terpuruk. Dan tidak sedikit yang terus terbenam dalam keterpurukan. Ada pula yang kemudian beralih profesi, ketika sedang terjatuh itu. Hal ini adalah biasa, manusiawi. Ada baiknya kita dengar petuah kurang lebih seabad yang lalu, Thomas Alva Edison, seorang penemu lampu pijar, yang telah melalui serangkaian trial and error dalam ujicobanya. Dia, mengingatkan kita dengan sebuah kata mutiaranya,Banyak sekali kegagalan dalam hidup adalah mereka yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan ketika mereka menorah”.

Kita seringkali menyerah, ketika menemukan hambatan dalam bekerja dan berbagai hal lainnya. Hambatan itu bisa datang di awal, ditengah perjalanan dan bahkan menjelang akhir perjalanan. Kita dengan mudah menganggap senantiasa menemukan jalan buntu, dan dihadapkan pada pintu-pintu besi yang tergembok dengan rapat dan kokohnya. Seolah tidak ada jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi. Lalu, darinya ada alasan buat kita, bahkan menjadikannya sebagai pembenar, untuk melempar handuk, dan kemudian menyerah dan pasrah dengan kenyataan. Kita mundur teratur. Dan kekalahan, kemudian berpihak kepada kita. Tanpa kita sadari, kita telah menjerumuskan diri kita, sebagai pecundang. Continue reading “Entrepreneur itu Petarung, Gagal itu Biasa !”