Corporate Spiritual


Sebagaimana dibahas dalam tulisan sebelumnya, bahwa kelas menengah muslim menjadi kunci dalam membangun sebuah bangsa. Dengan belasan fenomena tesebut -bahkan bisa jadi akan terus berkembang- ternyata juga mendeterminasi yang selanjutnya, secara sistemik -disadari atau tidak- telah mengubah perilaku mereka dalam menjalankan bisnis. Entrepreneur muslim dan pemilik perusahaan rintisan (start-up), bahkan eksekutif puncak perusahaan muslim sekalipun, rerata memasukkan nilai-nilai islam dalam menjalankan aktifitas bisnisnya. Dan ini menjadi semacam kesacaran kolektif (jama’i) yang terjadi di kalangan pengusaha dan juga profesional serta eksekutif muslim.

Spiritualitas agama (Islam), dengan berbagai aspek dan turunannya, dan dengan berbagai subyek (pelakunya), kini terus berkembang dan menjadi basis nilai pesatnya sistem ekonomi syariah di Indonesia. Fenomena ini sekaligus membantah teori Ian Marshal dan Danah Zohar Continue reading

Advertisements

Sharing Economy


Meski bukan “barang” baru, namun penggunaan istilah sharing economy (ekonomi berbagi) atau ada yang menyebutnya dengan istilah collaborative economy, masih tergolong baru, apalagi di Indonesia. Istilah itu begitu mengemuka, saat para perusahaan rintisan (start-up) tumbuh subur dan terjadi dot net booming di Silicon Valley, menjelang dan diseputaran tahun 2000-an. Dan kemudian mendapatkan momemtum, pada saat arus disruptive economy, beberapa tahun ini lajunya kian kencang. Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang disediakan oleh teknologi, maka sharing economy ini, telah menjadi trends saat ini.

Para pengamat dan pelaku usaha serta akademisi dibuat terkejut, saat perusahaan-perusahaan raksasa yang pernah menguasai dunia, seperti Sony, Ericsson, Walkman Nokia, Kodak dan seterusnya rontok, berguguran dan nyaris gulung tikar. Bukan berarti mereka tidak melakukan perubahan. Mereka jelas melakukan perubahan, namun mereka tidak bisa melawan teknologi dan perubahan paradigma bisnis. Dalam bahasa kekiniannya, mereka terdisrupsi oleh kehadiran teknologi baru. Continue reading

Wakaf untuk Start-Up


Tulisan ini sebenarnya sudah beberapa waktu saya persiapkan. Saat saya merenung, bahwa sebenarnya ada instrumen pembiayaan dalam Islam yang syar’i, non riba, non bank, yang menurut saya bisa menjadi alternatif pendanaan bagi start-up. Dan lebih jauh dari itu adalah untuk pengembangan Bisnis dan juga Ekonomi umat Islam. Ada saja kendala sehingga tulisan singkat ini tidak tuntas, dan tak pernah terpublikasikan. Sampai kemudian saya terpancing saat di tag di Facebook oleh kawan baik saya mas Eko Budhi Suprasetiawan, berkenaan dengan economy’s base, yang menurut dia beda dengan economic base, yang menurutnya, istilah itu dimunculkan oleh Stephen Gudemen. Dan dalam konteks Islam, jawabannya adalah wakaf.

Tetapi, wakaf dalam Islam saat ini, masih belum mendapat perhatian serius di kalangan umat Islam Indonesia. Saya melihat mengapa kemudian instrumen wakaf ini, kurang atau tepatnya tidak mendapat perhatian yang serius, dikalangan umat Islam. Karena, fakta dilapangan -paling tidak disekitar kita- ada pemahaman yang salah, yaitu yang namanya wakaf itu adalah soal kuburan, mushala, masjid, sekolah dan sejenisnya. Belum lagi, bagaimana sikap lembaga keuangan seperti perbankan, yang melihat harta wakaf itu tidak bernilai. Sehingga di neracanya akan di tulis 0 (nol). Problem berikutnya adalah nazhir (penerima wakaf) yang juga tidak memiliki kecakapan untuk mengelola wakaf sehingga memiliki nilai keekonomian yang lebih. Continue reading

Top Ten Start-up Mistakes


Sekali lagi membicarakan start-up atau perusahaan rintisan ini tidak pernah habis untuk di bahas dan di kupas dari berbagai sisi dan sudut pandang. Awalnya di salah satu WAG yang membahas tentang start-up. Kemudian saya balas dengan tulisan di blog ini, yang membahas tentang itu. Dan ada tambahahan seorang kawan, dengan mengirim gambar sebagaimana di laman ini. Lalu saya minta ijin untuk mengutip kirimannya untuk di tulis di  blog dan sekaligus berselancar menuju alamat yang diarahkan kesini. Ternyata berisi infografis, sebagaimana dalam gambar tersebut yang di poting pada 15 Nopember 2013 di blog-nya Daniel Garplidin, dan hingga saat ini sudah dilihat lebih dari 9.000 orang.

Daniel membuat berdasarkan prioritas dan besaran prosentase kesalahan dan skor yang di dapatkan dari tingkat kesalahan yang sering dilakukan oleh perusahaan rintisan (start-up). Berdasarkan infografis tersebut urutannya adalah sebagai berikut. Continue reading

Start Up Leadership


Bisnis rintisan (start up) selalu menarik untuk dikaji. Banyak hal yang bisa dipelajari, kemudian dapat di jadikan benchmark, dan diimplementasikan dalam bisnis rintisan kita. Kali ini, kita akan membahas tentang leadership. Yaitu berkenaan dengan kepemimpinan dalam bisnis rintisan. Sebenarnya, ini ini juga bagian dari diskusi di WAG sebelumnya. Mungkin anda bertanya, bagaimana sebuah bisnis rintisan memerlukan kepemimpinan. Padahal baru sedikit karyawan yang terlibat, bahkan bisa jadi cuman dirinya sendiri. Lalu apa gunanya kepemimpinan? Bukankah yang lebih penting survive dulu? Dan segudang pertanyaan lainnya.

Tulisan ini memang tidak akan menjawab pertanyaan itu semua. Namun, sebagaimana dalam tulisan sebelumnya, seringkali kacau balaunya tim startup dan kemudian terjadi pecah kongsi, bukan sekedar dari hilangnya kepercayaan, kecurangan, ketidakjujuran, ketidaksamaan visi dan sebagainya. Namun ternyata juga disebabkan oleh lemahnya leadership. Dengan demikian maka, Continue reading

Tantangan Start Up


Di salah satu WAG, kami berdiskusi tentang bagaimana mempertahankan dan mengembangkan bisnis rintisan (start up).

Ternyata ada 1001 sebab yang membersamai Start Up, sehingga banyak yang bertumbangan di tengah jalan. Alih-alih tumbuh, berkembang dan membesar. Banyak kemudian terjadi pecah kongsi. Semangat bakar kapal yang menjadi motivasi awal untuk membangun bisnis, ternyata diikuti dengan membakar kapal dan vehicle yang sedang di bangun. Hal ini dipicu oleh sebuah pertanyaan, mengapa rata-rata Start Up tidak tahan lama, dan salah satunya adalah perpecahan dalam manajemen? Continue reading

Penjajahan Digital [2]


Senin, 27 November 2017 – 15:57 WIB

Minimal inilah bentuk perlawanan atas imperialisme digital, yang akan terus berlangsung

 Sambungan artikel PERTAMA

Dan, tak kurang dari Jack Ma, pemilik Ali Baba yang kemudian juga diangkat jadi konsultan roadmap e-commerce Indonesia itu, dengan bersemangat memborong beberapa start-up  Indonesia itu. Tentu itu dilakukan bukan tanpa hitungan.

Pasti ada kalkulasi bisnis yang njlimet menyertainya. Tidak ada ceritanya investor itu mau rugi. Pasti motif keuntungan yang di kejar. Atau bahasa kerennya, mereka berburu rente di negara ini. Jika hanya, motif bisnis semata, meski ini juga berarti merebut kue ekonomi kita- masih bisa ditolerir.

Namun ada sisi lain yang harus di waspadai. Mereka bisa masuk tanpa sekat. Dunia menjadi tak berbatas. Tanpa adanya entry barrier. Hanya berbekal Apps, semua bisa disedot, detik itu juga, dan terdistribusi keseluruh dunia.

Dengan teknologi  big-data, mereka bisa dengan leluasa mendapatkan dan mengolah data kita. Sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka, atau dijual kepihak lain. Data kita menjadi komoditas jualan.

Baca: Imperialisme Modern dan Kriminalisasi Umat Islam

Bahkan, bisa jadi, nilai transaksinya lebih besar dari bisnis initinya sendiri. Dan anehnya, Mereka mendapatkan data kita secara lengkap, by name by address. Dan di dunia digital, siapa yang memiliki data, sesunggungnya mereka penguasa dunia ditital sesungguhnya.

Itulah yang saya maksud, kita tidak sadar masuk dalam ‘jebakan batmen. Masuk ke  sebuah perangkap dengan kesengajaan. Kita mesti sadar bahwa setiap media sosial dan juga bisnis online lainnya, mensyaratkan pendaftaran melalui account email kita, nomer mobile phone dan seterusnya.

Lebih tragis lagi, Continue reading