entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Keberlangsungan Hidup Perusahaan


survivalSebagai sebuah organinasi, maka perusahaan tak ubahnya laksana sebuah organisme, yang membutuhkan makanan untuk melangsungkan kehidupannya,  tumbuh dan berkembang. Dalam masa tumbuh dan berkembang itu, tidak sedikit perusahaan yang kemudian menderita ‘penyakit”. Bila sejak dini terdeteksi “penyakit” nya dan kemudian bisa disembuhkan, maka selamatlah perusahaan itu. Akan tetapi, acapkali perusahaan sakit  yang sudah/belum diketarahui penyakitnya, dan tidak bisa disembuhkan, kemudian mati dalam usia muda. Layu sebelum berkembang. Namun tidak sedikit, perusahaan yang kelihatannya sehat dan tumbuh serta berkembang dengan baik, akan tetapi ternyata rapuh, ketika ada gejolak sedikit, akhirnya tumbang juga. Dan kemudian gulung tikar.

Fakta tersebut, memaksa perusahaan harus senantiasa merasa ‘was-was’ atas keberlangsungan hidupnya. Memang ini tidak gampang, tetapi bisa dilakukan. Ternyata beberapa imunitas agar perusahaan tahan terhadap kematian dini itu adalah kombinasi antara konstruksi modal, asset dan daya saing strategis untuk mencapai laba di atas rata-rata. Ini harus menjadi prioritas. Bahkan menurut Andrew Groove, mantan direktur Intel, dia sempat mengamatai dan kemudian berpendapat bahwa hanya perusahaan-perusahaan “paranoid” yang dapat bertahan dan berhasil. Hal ini senada dengan pendapat Thomas J. Watson, mantan Dirut IBM, yang memperingatkan,”perusahaan adalah sesuatu yang memerlukan biaya dan keberhasilannya adalah suatu pencapaian yang bersifat sementara, yang setiap saat dapat lolos dari tangan.”  Intinya, tidak pernah ada perusahaan yang aman 100%  dan sehat sehingga terbebas dari ancaman kematian, akan tetapi juga tidak harus menjadikan ketakutan untuk melangkah. Justru karena kita tahu bahwa, tidak ada perusahaan yang 100% aman dari kematian itulah, yang meneyebabkan kita tidak boleh berhenti. Harus terus melangkah dan bergerak. Sebab yang membedakan mati dan hidup, minimal adalah ketika kita masih bisa bergerak. Continue reading “Keberlangsungan Hidup Perusahaan”

entrepreneur, technopreneur, IT

Waze-pun jatuh ke pangkuan Google


wazeAwal pekan lalu, Google Inc, mengumumkan akuisisi resmi Waze. Melalui Wakil Presiden Google Geo, Brian Mc Clendon, di blog nya kemarin, secara resmi proses akuisisinya itu di umumkan. Waze, adalah jejaring sosial berbasiskan peta, yang merupakan solusi pintar menghindari untuk menghindari kemacetan. Konon, Google setelah membeli Waze  akan mengintegrasikan dengan Google Maps, dan ternyata memberikan kesempatan untuk pengembangan produknya tetap berada di negara penjajah, Israel itu.

Nilai akuisisi Waze disebutkan sebesar US$ 1,3 Miliar, atas jejaring sosial bikinan negeri zionis ini. Dengan nilai 1 dollar US yang sekarang terus bergerak  ke arah Rp.10.000,- maka akan didapatkan dana senilai 13 Trilyun rupiah. Sebuah angka yang cukup fantastis, mengingat Waze Mobile Inc. didirikan pada tahun 2008 silam. Jadi hanya dalam waktu 5 (lima) tahun, bisa mencapai nilai sebesar itu.  Pencetus aplikasi ini adalah Uri Levine, Ehud Shabtai, dan Amir Shinar. Hingga akhir 2011, Waze hanya memiliki karyawan sebanyak 80 orang. Sebanyak 70 orang karyawan berkantor di Israel dan sisanya di Palo Alto, California, AS.

Saat ini users Waze terus bergerak mendekati angka 50 juta Continue reading “Waze-pun jatuh ke pangkuan Google”

entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

#5…..Kapan Mulai Berbisnis ?


Saya sering mendapat pertanyaan yang seperti itu, atau kurang lebih maksudnya seperti itu. Pada awalnya saya menjawab sangat normatif sekali. Yaitu tergantung dari kesiapan kita. Sebab untuk memulai bisnis itu butuh persiapan. Ada proses yang dilalui. Dimulai dari persiapan dengan membikin bisnis plan dan seterusnya sampai kemudian membuat hitung-hitungan aspek keuangan dari ROI, BEP dan seterusnya. Dulu saya berpendapat seperti itu, sehingga, sebelum mulai bisnis, akan terasa betapa berat memulai sebuah bisnis itu.

Seiring dengan pengalaman dan juga bacaan yang saya baca, saya menemukan banyak hal, yang sesungguhnya tidak begitu-begitu amat. Bukan berarti tanpa ada persiapan dan proses seperti di atas. Akan tetapi kita bisa menyederhanakan atau mungkin menyingkat proses-proses di atas. Letaknya teryata dari kebiasaan atau kesukaan yang Anda lakukan sejak kecil. Mungkin kita lihat itu sesuatu yang sederhana, atau bahkan tidak ada pengaruhnya. Continue reading “#5…..Kapan Mulai Berbisnis ?”

entrepreneur, technopreneur

Ciptakan peluang atau Mati….


Peluang itu tidak datang dua kali, maka ambillah peluang itu selagi ada”. Seringkali saya mendengar kalimat itu, atau senada dengan itu. Atau mungkin kalimat seperti ini : “Tolong dong saya dikasih peluang, biar saya bisa dapat memperbaiki nasib.” Ungkapan-ungkapan seperti itu sah-sah saja. Tetapi bagi orang yang pengin mengabdikan dirinya sebagai entrepreneur, maka itu menunjukkan kelemahan. Artinya dia bukan tipe fighter, yang siap bertarung untuk memperjuangkan cita-citanya. Jika dia bersifat pasif dan tidak proaktif, maka sangat sulit untuk mencapai kesuksesan.

Terkait dengan peluang, paling tidak ada 5 (lima) model bagi kita dalam menyikapi sebuah kata yang namanya peluang itu.

  1. Menunggu

    Kebanyakan entrepreneur pemula, memilih langkah ini. Padahal sering kita mendengar istilah menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan. Memilih cara menunggu peluang ini, mungkin langkah keterpaksaan, setelah semua daya upaya menenemui jalan buntu. Jadi terpaksa pasrah. Disisi lain menunggu peluang, sejatinya kita sedang menggali kubur sendiri. Karena penuh ketidakpastian. Saran saya, hindari menunggu peluang. Karena jika memilih cara ini sesungguhnya anda telah selemah-lemah entrepreneur.

  2. Di Beri (menerima)

    Kadang-kadang tanpa dinyana-nyana, kita diberi peluang. Pemberi peluang ini datang bisa dari mana saja. Bisa saudara, teman, kenalan, kolega dan lain-lainnya. Pemberi peluang bisa jadi meminta imbalan, baik itu dalam bentuk uang tunai, maupun dalam bentuk lainnya. Kendati demikian, menerima peluang ini juga masih belum jelas. Jika peluang ini baik dan menguntungkan, mengapa diberikan kepada kita. Mengapa tidak di eksekusi sendiri saja. Artinya diberi peluangpun masih diperlukan effort yang besar untuk mendapatkannya. Dia tidak datang gratis. Juga tidak datang sebagaimana semudah kita memakan makanan yang sudah terhidang di piring. Entrepeneur jenis ini masih lumayan. Sebab pemberi peluang tentunya melihat kita memiliki kompetensi atas peluang yang diberikan. Dan ada upaya untuk meng-eksekusinya.

  3. Mengejar

    Peluang sesungguhnya ada dimana-mana. Yang diperlukan oleh kita sesungguhnya adalah bagaimana melihat peluang itu. Kebanyakan entrepreneur pemula sudah melihat peluang itu. Kemampuan melihat peluang ini, yang kemudian akan men-drive kita untuk bagaimana mendapatkan peluang itu dan kemudian merealisasikannya. Disinilah kemudian kita dituntut untuk memiliki strategi dalam mengejar peluang ini. Dalam mengejar peluang ini tentu saja kita mengukur kemampuan kita, dengan melihat seberapa besar peluang itu kita dapat. Jangan sampai salah kita melihat. Sebuah informasi yang masih belum mateng, sudah kita anggap sebagai peluang. Sudah banyak resources yang kita keluarkan, hasilnya tidak ada.

  4. Menjemput

    Setingkat di atas mengejar, adalah menjemput. Ketika kita berbicara tentang menjemput peluang, tentu saja tingkat kepastiannya sudah sangat tinggi. Menjemput berarti ada yang di jemput. Obyek atau tujuannya sudah pasti. Kendatipun demikian, meski tetap diperlukan effort untuk merealisasikannya, akan tetapi di banding dengan probabilitas keberhasilannya, maka tidak terlalu significant. Menjemput peluang dapat diartikan juga, bukan upaya sesaat, tentu saja ini sudah melalui proses yang panjang. Bahkan mungkin telah berdarah darah. Dan kini saatnya menuai hasilnya. Dan ini sebenarnya bagian panjang dari perjuangan seorang entrepreneur, dia tidak pasif tetapi pro aktif. Dia tidak diam tetapi bergerak. Dia tidak menunggu, tetapi menjemput.

  1. Menciptakan

    Dan hal yang terakhir, dan ini menunjukkan kelas sebagai seorang entrepreneur sejati, adalah dengan menciptakan peluang. Menciptakan itu sederhananya adalah membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Atau boleh jadi menyempurnakan yang sudah ada menjadi lebih baik. Pendeknya menciptakan itu, akan memberikan nilai lebih. Seorang yang mampu menciptakan sesuatu, tentu saja menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya, atau jadi memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya untuk dimobolisir sehingga bisa melahirkan sesuatu yang baru itu. Jika seseorang pada posisi ini, dia tidak akan pernah risau ataupun tergoda dengan adanya informasi -yang belum jelas akurasinya- yang bersileweran dan dibumbuhi penawaran sebagai sebuah peluang. Dia tidak akan pernah silau atas semua itu. Sebab dia punya jalannya sendiri, dan jalan yang ditempuh itu adalah menciptakan peluang.

     

    Sekarang mari kita evaluasi diri kita masing-masing, berada pada model yang mana. Dan kemudian model mana yang akan dipilih. Saya mengajak untuk memilih menjadi pribadi atau kelompok yang memilih nomer 5, sehingga mampu menciptakan peluang. Kemudian dari pilihan kita itu,  kita akan memberikan banyak manfaat buat orang lain. Dan disinilah harga diri kita sebagai entrepreneur akan bernilai.

Entrepreneurship

Sekali lagi tentang Azim Premji


Meskipun  sudah cukup sering membaca tentang kisah Azim Hasham Premji, yang di juluki Bill Gates Muslim dari India itu, nampaknya tak kering inspirasi yang bisa di gali dari orang yang biasa dipanggil dengan Azim Premji ini. Fenomenya, yang mengubah sebuah perusahaan minyak goreng, menjadi pemain IT nomer wahid di dunia, adalah salah satu prestasi yang patut untuk di contoh. Dan itu dilaluinya dengan cara yang elegan, jauh dari praktik kolusi dan korupsi, yang sebenarnya sangat membudaya di India. Melalui kendaraannya www.wipro.com,  perusahaan warisan bapaknya itulah, kemudian seolah-olah hampir semua perusahaan IT dunia menjadi client-nya.  Dari Microsoft, Cisco, SAP, Nokia dll menyerahkan R&D dan pengembangan product dan softwarenya di perusahaan yang berada di bilangan Bangalore, sebuah kawasan industri yang dijuluki dengan Silicon Valley India. Azim Premji, tidak harus merengek-rengek kepada pemerintah dan rakyat India untuk rame-rame membeli produk dan service Wipro. Akan tetapi kecakapan Azim Premji dalam mengaddopt standarisasi internasional-lah yang menyebabkan pembeli justru datang kepadanya. Bahkan Wipro menjadi perusahaan yang mampu mengimplementasikan CMMI #5 pertama kali di dunia. Disamping tentu saja  implementasi standarisasi dan sertifikasi dunia lainnya.

Dari hasil jerih payahnya itu, menurut www.forbes.com, terhitung pada bulan maret 2011, saat ini dia menduduki peringkat ke 28 orang terkaya di dunia, dan nomer 3 di India, dengan kekayaan 17,6 Miliar dollar Amerika. Continue reading “Sekali lagi tentang Azim Premji”