Corporate Spiritual


Sebagaimana dibahas dalam tulisan sebelumnya, bahwa kelas menengah muslim menjadi kunci dalam membangun sebuah bangsa. Dengan belasan fenomena tesebut -bahkan bisa jadi akan terus berkembang- ternyata juga mendeterminasi yang selanjutnya, secara sistemik -disadari atau tidak- telah mengubah perilaku mereka dalam menjalankan bisnis. Entrepreneur muslim dan pemilik perusahaan rintisan (start-up), bahkan eksekutif puncak perusahaan muslim sekalipun, rerata memasukkan nilai-nilai islam dalam menjalankan aktifitas bisnisnya. Dan ini menjadi semacam kesacaran kolektif (jama’i) yang terjadi di kalangan pengusaha dan juga profesional serta eksekutif muslim.

Spiritualitas agama (Islam), dengan berbagai aspek dan turunannya, dan dengan berbagai subyek (pelakunya), kini terus berkembang dan menjadi basis nilai pesatnya sistem ekonomi syariah di Indonesia. Fenomena ini sekaligus membantah teori Ian Marshal dan Danah Zohar Continue reading “Corporate Spiritual”

Advertisements

10 Akhlak Pengusaha Muslim


Adalah Prof. Dr. Shalah ash-Shawi dan Prof. Dr. Abdullah al-Mushlih dalam bukunya Ma La Yasa’ at-Tajira Jahluhu, yang diterjemahkan oleh Pustaka Darul Haq dengan judul Fikih Ekonomi Islam, dalam Bab I di awali dengn bahasan mengenai akhlak usahawan muslim. Dimana, ada 10 hal yang menurut beliau berdua menjai kode-etik bagi pengusaha muslim agar dalam melaksanakan aktifitasnya senantiasa memelihara kejernihan atiran ilahi, jauh dari sikap serakah dan egoisme, sehingga membuat usaha tersebut menjadi mediator bagi terbentuknya tatanan masyarakat yang saing mengasihi satu sama lainnya. Dan ini menurut saya, menjadi pilar bagi tegaknya peradaban Islam.

Akhlak dan kemudian menjadi kode etik bagi pengusaha muslim tersebut, sesungguhnya menjadi pembeda dengan pengusaha kebanyakan. Continue reading “10 Akhlak Pengusaha Muslim”

Closed-Loop Market


Sebagaimana yang kita baca diberbagai kitab sirah, maka salah satu pilar peradaban yang di bangun setelah hijrah di Madinah adalah membangun Pasar. Sebab saat itu, dominasi ekonomi Madinah di bawah kendali Yahudi bani Qainuqa. Sementara itu, menuruf Prof Ash-Shalabi, hijrahnya kaum Muslimin ke Madinah, menyebabkan bertambahnya beban ekonomi di pundak negara yang baru berdiri ini. Sehingga, Nabi SAW, melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis ini dengan berbagai cara dan metode. Selain mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshor dan membangun Masjid Nabawi untuk mengakomodasi sebanyak mungkin orang-orang miskin Madinah, maka beliau juga memberi perhatian besar untuk urusan ekonomi ini.

Melihat cengkeraman Yahudi di sektor ekonomi yang kuat ini, dimana merekalah yang memiliki pasar niaga dan harta di Madinah, mengendalikan harga barang dan memonopolinya, memungut pajak yang tinggi, penh dengan praktik riba, serta mengeksploitasi keuntungan dari kebutuhan manusia. Nabi melihat ini adalah permasalahan mendasar yang harus diselesaikan. Maka, kaum Muslimin harus membangun pasar sendiri, untuk menyaingi sekaligus memotong rantai perdagangan yang selama ini di dominasi Yahudi, atas sumber-sumber kekayaan dan ekonomi Madinah. Selain itu, pasar yang dibangun juga menerapkan nilai-nilai islam, jauh dari sifat culas dan riba lainnya, yang saat itu menjadi jualan dan sistem di pasar yahudi. Dan didalamnya, di ajarkan serta dipraktekkan akhlak mulia dalam perniagaan. Maka, nabi memilihkan tempat di bagian barat Masjid Nabawi sebagai pasar bagi mereka, kemudian beliau bersabda.”Ini adalah pasar kalian, Di sini kalian tidak direndahkan dan tidak dipungut pajak.” Continue reading “Closed-Loop Market”

Belajar Out of the Box dari Bob Sadino


bobsadinoHampir setiap entrepreneur di Indonesia dan mungkin sebagian rakyat Indonesia mengenal Bob Sadino. Seorang pengusaha nyentrik di negeri ini. Bukan hanya penampilannya saja yang nyentrik, akan tetapi perjalanan hidupnya dalam menapaki hudup, bisnis, dan juga jenis bisnis yang digelutinya termasuk nyentrik. Karena tidak banyak pengusaha (dulu) yang mau terjun di bidang itu, sehingga langkah dan cara berbisnisnya termasuk menjadi inspirasi bagi sebagian besar entrepreneur di negeri ini.

Secara pribadi, saya pertama kali melihat dari dekat sosok om Bob, begitu beliau biasa di panggil, adalah sekitar tahun 1996. Ketika itu saya mengikuti seminar yang diselenggarakan Fakultas Peternakan UGM. Saat itu sosok Om Bob memang telah menjadi pengusaha fenomenal. Pengusaha pribumi, yang cukup mencuat namanya saat itu. Saya sudah sedikit lupa apa yang di bicarakan secara utuh ketika itu. Tetapi yang pasti, beliau menularkan virus entrepreneur. Saat itu, virus entrepreneur belum di sebarkan seganas sebagaimana beberapa tahun terakhir ini. Beliau menyatakan kurang lebih seperti ini, “Saya yang tidak punya basic pendidikan di bidang peternakan saja, bisa membangun perusahaan yang berbasis peternakan yang lumayan maju, apalagi jika lulusan fakultas peternakan seperti anda yang berbisnis di bidang peternakan, maka hasilnya jauh lebih hebat dari apa yang saya geluti”. Sebagai peserta yang, background pendidikan saya juga bukan di bidang itu, ketika itu saya hanya senyum-senyum saja. Tetapi lama-kelamaan, di saat saya merenungi kalimat itu, ada benarnya juga. Apalagi disaat mulai bergelut sebagai entrepreneur, dan mulai membaca banyak buku tentang binsnis dan entrepreneurship, maka pernyataan di atas, menemukan jawabannya. Sebab, kenyataannya menjadi pengusaha itu, tidak harus memiliki latar belakang yang linier dengan jenis usaha yang digelutinya. Meskipun, jika basic pendidikannya sesuai dengan jenis bisnis yang digelutinya, bisa jadi lebih baik, pun bisa tidak baik. Namun faktanya, banyak pengusaha, bahkan yang berkelas dunia, sama sekali tidak memiliki latar belakang yang sama dengan bisnis yang digelutinya, dan berhasil.

Statement yang keluar dari om Bob saat itu, sangat lancar dan liar keluar dari lisan beliau. Seolah tiada beban. Tiada kesan menggurui, namun pernyataannya cukup mengena. Ketika menjadi pembicara saat itu, beliau tampil seperti ciri khasnya yang sering kita lihat sekarang. Baju kemeja lengan pendek, celana jeans di atas lutut, bersepatu tanpa kaos kaki. Saya, kemudian secara fisik tidak pernah lagi ketemu beliau, kecuali melalui berita dan juga buku-buku beliau. Yang ternyata sama, isi dan tulisannya merupakan pengalaman beliau yang jika kita cermati lebih jauh benar-benar out of the box. Bisnis yang keluar dari pakem dan kaidah-kaidah ekonomi, yang biasa di tulis oleh pengusaha, pengamat maupun akademisi, di bidang bisnis dan ekonomi. Sekali lagi, tulisannya sederhana, mengalir liar dan tanpa ada kesan bahwa “akulah orang hebat, tirulah aku!”. Continue reading “Belajar Out of the Box dari Bob Sadino”

Tantangan Bisnis 2015


doingbusiness2015Tahun 2014 sebentar lagi akan berakhir, dan tahun 2015 mau tidak mau akan datang menjelang. Bagi  entrepreneur tentu, ini merupakan tantangan tersendiri. Meski, seorang entrepreneur itu, sejatinya, hari-harinya adalah tantangan. Sebab, banyak buku dan pembicara menyampaikan bahwa menjadi seorang entrepreneur itu adalah sebuah pilihan. Oleh karenanya tidak sedikit kemudian orang yang “terpilih” menjadi entrepreneur. Bahkan, seorang pakar dari Amerika bernama David Mc Cleland, yang pendapatnya sering di kutip, di berbagai tempat, waktu dan kesempatan, menyatakan bahwa,”Sebuah negara akan makmur, jika jumlah entrepreneurnya minimal 2% dari total populasi dari sebuah Negara. Sebuah angka, yang mungkin kelihatan kecil, namun dengan jumlah penduduk yang mendekati angka 250 juta jiwa, artinya negeri ini membutuhkan sekitar 5 juta entrepreneur, yang akan mendongkrak Negara ini menjadi negeri yang makmur.

Pertanyaannya kemudian adalah, berapa sih jumlah entrepreneur di Indonesia? Sebagaimana kebiasaan di Indonesia, tentu jawabannya berbeda-beda, masih simpang siur, tergantung siapa pembuat datanya. Misalnya, pada tahun 2009, dalam sebuah tulisan di Kompas dan bukunya, Ir. Ciputra menyampaikan bahwa jumlah Entrepreneur di Indonesia berjumlah 0,18% dari populasi penduduk. Namun Kementrian UMKM, menyampaikan data, bahwa di tahun 2013, jumlah entrepreneur kita berjumlah 1,6 % dari jumlah penduduk. Dan dari informasi berbeda jumlah UMKM di Indonesia menurut data BPS, pada tahun 2012 saja jumlah UMKM di Indonesia lebih dari 56 juta UMKM, artinya lebih dari 20% dari jumlah penduduk Indonesia. Sebuah jumlah yang fantastis. Bila dengan jumlah 20% lebih dari populasi UMKM, tetapi kenyataannya Indonesia masih belum makmur, maka bisa jadi karena adanya perbedaan difinisi antara entrepreneur dan UMKM. Continue reading “Tantangan Bisnis 2015”

BESAR atau KECIL Sebuah Pilihan


besarkecil

Genggamlah bumi sebelum bumi menggengam anda, pijaklah bumi sebelum bumi memijak anda,maka perjuangkanlah hidup ini sebelum anda memasuki perut bumi.

Pertanyaan yang sering kali muncul bagi mereka yang baru mempunyai keinginan untuk mulai usaha adalah, bagaimana sih mulai usaha itu? Sedangkan bagi start-up alias perusahaan yang baru berdiri, pertanyaan hampir seragam pula, mengapa perusahaan saya tidak cepat besar, kok begini-begini saja, padahal saya sudah melakukan segala cara. Sudah membaca buku-buku bisnis, bahkan sudah belajar dari pengalaman orang-orang, baik langsung maupun berdasarkan kisah suksesnya . Atau ada juga jenis pertanyaan seperti ini. Mengapa sih orang itu belum lama memulai usaha, tetapi bagaikan secepat kilat perusahaannya tumbuh dengan cepat, besar dan menggurita? Atau pertanyaan lain semisal begini, saya lihat orang itu sudah berusaha belasan bahkan puluhan tahun, tapi usahanya tetap segitu-gitu aja, tidak besar-besar? dan lain sebagainya.

Pertanyaan–pertanyaan sebagaimana tersebut di atas adalah lumrah dan wajar. Namun, selain bertanya ,sesungguhnya mereka juga mengalami kegelisahan dan kegalauan yang amat sangat. Sebuah kegelisahan dan kegalauan yang bisa jadi bernilai positif dan bisa jadi sebaliknya. Positif jika dalam melihat kondisi tersebut, sebagai sebuah upaya instropeksi, dalam melakoni proses di dalam bisnis. Sehingga dari pertanyaan-pertannyaan tersebut, justru akan menghasilkan sebuah analisa mendalam, dan selanjutnya menjadikan adanya semacam rekomendasi dan langkah-langkah strategis dan taktis untuk menjawab, kekurangan atas seranglkaian pertanyaan itu. Dan kemudian menjadi faham, dan mampu menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Disisi lain, bisa jadi akan bernilai negative jika didorong oleh keinginan membuncah, yang pengin melihat bisnisnya cepat ‘besar” dan berkembang. Sehingga, seringkali tidak sabar mengikuti proses, atau bahkan menegasikan sebuah proses. Sehingga melahirkan keputus-asaan, dan akibatnya berhenti dengan tetap menyimpan sejuta pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Continue reading “BESAR atau KECIL Sebuah Pilihan”

Keberlangsungan Hidup Perusahaan


survivalSebagai sebuah organinasi, maka perusahaan tak ubahnya laksana sebuah organisme, yang membutuhkan makanan untuk melangsungkan kehidupannya,  tumbuh dan berkembang. Dalam masa tumbuh dan berkembang itu, tidak sedikit perusahaan yang kemudian menderita ‘penyakit”. Bila sejak dini terdeteksi “penyakit” nya dan kemudian bisa disembuhkan, maka selamatlah perusahaan itu. Akan tetapi, acapkali perusahaan sakit  yang sudah/belum diketarahui penyakitnya, dan tidak bisa disembuhkan, kemudian mati dalam usia muda. Layu sebelum berkembang. Namun tidak sedikit, perusahaan yang kelihatannya sehat dan tumbuh serta berkembang dengan baik, akan tetapi ternyata rapuh, ketika ada gejolak sedikit, akhirnya tumbang juga. Dan kemudian gulung tikar.

Fakta tersebut, memaksa perusahaan harus senantiasa merasa ‘was-was’ atas keberlangsungan hidupnya. Memang ini tidak gampang, tetapi bisa dilakukan. Ternyata beberapa imunitas agar perusahaan tahan terhadap kematian dini itu adalah kombinasi antara konstruksi modal, asset dan daya saing strategis untuk mencapai laba di atas rata-rata. Ini harus menjadi prioritas. Bahkan menurut Andrew Groove, mantan direktur Intel, dia sempat mengamatai dan kemudian berpendapat bahwa hanya perusahaan-perusahaan “paranoid” yang dapat bertahan dan berhasil. Hal ini senada dengan pendapat Thomas J. Watson, mantan Dirut IBM, yang memperingatkan,”perusahaan adalah sesuatu yang memerlukan biaya dan keberhasilannya adalah suatu pencapaian yang bersifat sementara, yang setiap saat dapat lolos dari tangan.”  Intinya, tidak pernah ada perusahaan yang aman 100%  dan sehat sehingga terbebas dari ancaman kematian, akan tetapi juga tidak harus menjadikan ketakutan untuk melangkah. Justru karena kita tahu bahwa, tidak ada perusahaan yang 100% aman dari kematian itulah, yang meneyebabkan kita tidak boleh berhenti. Harus terus melangkah dan bergerak. Sebab yang membedakan mati dan hidup, minimal adalah ketika kita masih bisa bergerak. Continue reading “Keberlangsungan Hidup Perusahaan”