Posted in Peradaban

MUHASABAH AKHIR TAHUN


terompetBeberapa hari ini, jika kita melintasi jalanan di seputaran Jakarta, akan dengan mudah kita temui pedagang terompet dan berbagai asesoris yang  beraneka warna. Pedagang musiman ini, selalu menjejali kota-kota besar, menjelang akhir tahun seperti ini. Setiap tahun mereka, yang kebanyakan dari luar kota Jakarta, membawa dagangannya, untuk kemudian mengadu nasib, demi mendapatkan rejeki musiman itu. Selain pedagang terompet,  yang kini bentuknya sudah tidak konvensional lagi, akan tetapi berbagai bentuk yang indah dan menarik, juga tidak sedikit pedagang petasan dan kembang api, yang sama-sama berderet di sepanjang jalan. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya dagangannya laris manis, di borong oleh pembeli yang juga pengin merayakannya. Barangkali satu hal yang diharapkan mereka. Agar tahun malam baru tidak turun hujan, agar habis semua daganan yang dibawanya.

Sementara itu, didepan Hotel, di pinggir jalan-jalan protokol, di perempatan, di sisi jalan tol, dan di tempat-tempat strategis lainnya, juga terpajang spanduk dan baliho yang menjual acara dengan seluruh gemerlap kegiatan yang dikemas dengan tajuk old and new , yang biasanya diadakan di hotel dan atau tempat-tempat keramaian tlainnya. Dengan menawarkan hiburan artis-artis dalam dan luar negeri. Tidak ketinggalan pula, dikampung-kampung juga, terpasang sandu, poster, bahkan anak-anak mudah yang mengedarkan kotak sumbangan, untuk kegiatan malam tahun baru. Pendek kata,  hari-hari ini, hampir tidak ada ruang yang kosong, selain persiapan perayaan malam tahun baru. Seolah-olah jika tidak menjalankan ritual, perayaan tahun baru, dianggap sebagai orang yang tidak gaul. Dan kemudian dengan mudah, bisa diprediksi berapa milyar bahkan mungkin berapa trilyun yang di hambur-hamburkan oleh rakyat Indonesia di setiap menjelang akhir tahun ini. Dan faktanya, meskipun demikian acara seperti ini disukai oleh rakyat negeri ini.

REFLEKSI

Saya tidak pernah mengkhususkan menyambut tahun baru, apalagi dengan cara hura-hura seperti itu. Bukankah lebih baik, jika menjelang akhir tahun seperti ini, dipakai untuk merenung, dan kemudian menghitung-hitung dan mengkalkulasi apa saja rencana dan target minimal secara pribadi yang bisa terlaksana dan berapa yang di pending, bahkan berapa banyak yang kemudian gagal. Selanjutnya, bagi yang berhasil, kita pelajarai agar ketemu polanya langkah dan strategi apa yang kita lakukan, sehingga apa yang sudah di rencanalan itu bisa terealisasi. Pun demikian terhadap yang di pending maupun yang gagal. Tentu dengan sedikit mengernyitkan dahi, kita dengan mudah akan bisa membuat list, penyebab kegagalan semuanya. Dan dari situ kita buatkan matrik, yang akan memudahkan kita untuk me-mapingkan, masalah dan jawabanya. Jika ini bisa kita lakukan maka, sejatinya kita sudah mempersiapkan apa yang akan dilakukan tahun depan.

Dalam konteks Islam hal ini lazim disebut muhasabah. Adalah sahabat Umar bin Khaththab ra, yang memprakarsainya, dengan atsar yang beliau ucapkan, ”Hisablah dirimu, sebelum engkau dihisab”.  Hisab dalam pengertian yang paling sederhana adalah menghitung. Lantas kemudian apa yang di hitung? Yang dihitung adalah amal perbuatan kita yang kasat mata bisa kita lihat, sebab diluar itu tentu Allah SWT, akan melakukan perhutungan yang maha teliti, dan tidak ada bandingnya dengan super computer tercanggih  yang ada didunia, meski digabung keseluruhannya. Kendati tidak ada anjuran untuk melakukan hisab setiap akhir tahun, bahkan sebaiknya penghitungan itu, dilakukan setiap saat. Sebagai bagian dari refleksi  kita. Untuk hal ini, Umar bin Khaththab ra, telah memberikan contoh nyata, dengan kebiasaan beliau melakukan kegiatan hisab ini, seringkali dilakukan di sepertiga malam terakhir, ketika beliau qiyamul lail atau sholat tahajjud. Dan bahkan, beliau tidak jarang sampai menangis, dan sorbanya basah kuyup, bersimbah airmata, ketika menyadari apa yang beliau lakukan ketika masih masa jahiliyyah. Dan dari sinilah, Umar bin Khaththab yang terkenal keras dan tegas itu, menjadi lembut hatinya.

ANOMALI

Melihat fenomena tersebut di atas, beberapa tokoh-tokoh agama, kemudian membuat semacam acara tandingan. Hal ini di adakan sebagai upaya untuk mencegah tasyabuh, yang melekat disetiap ritual perayaan tahun baru. Mereka kemudian membuat acara akhir tahun dengan melakukan muhasabah di Masjid-masjid. Ummat di ajak berkumpul di masjid menjelang tahun baru, mendengarkan ceramah dan kajian-kajian keagamaan. Ummat di ajak untuk kemudian melakukan perbuatan yang positif, setidaknya tidak menjadi bagian dari yang menghambur-hamburkan uang, dimana itu adalah perbuatan mubadzir, dan perbuatan yang mubadzir itu adalah temannya syaiton.

Dan kegiatan semacam ini,  meski awalnya terlihat aneh, sekarang sudah mulai  menjadi trend bagi keluarga-keluarga muslim. Menjadi alternatif yang bisa dilakukan, daripada terjebak dalam perayaan-perayaan yang sejatinya tidak bermanfaat itu. Meski saya juga melihat kadang-kadang di mobil atau motornya masih terlihat membawa terompet. Praduga saya, hanya untuk menyenangkan anaknya, tidak lebih dari itu.  Akan tetapi setidaknya mereka telah berusaha mendekati tempat yang baik. Dan ini harus di apresiasi, dan kemudian kedepan di desain kira-kira acara apa yang bisa lebih menarik.

DIRUMAH SAJA

Ternyata agenda saya nanti malam dirumah saja. Berkumpul dan bercengkerama dengan anak-anak. Kemudian akan saya bikinkan list buat mereka, untuk melakukan evaluasi atas apa yang sudah mereka lakukan selama tahun 2012. Baik itu pelajaran sekolah, hafalan al qur’an nya, kegiatan ekstra kurikulernya, bersosialisasinya dan lain sebagainya. Dan dilembar berikutnya, akan saya ajak untuk membuat daftar apa yang akan dilakukan di tahun 2013, semacam resolusi begitu. Dan pelan-pelan di arahkan untuk membuat sejenis KPI (Key Performance Indicator), yang nantinya bisa dipakai untuk bahan evaluasi. Bagi saya dan istri juga membuat, bagaimana agar dalam rumah tangga juga semakin baik kedepan.

Intinya, akhir tahun adalah media untuk refleksi dan muhasabah diri. Sehebat apapun yang sudah kita rencanakan untuk tahun 2012 dulu, dan sebaik apapun kita berusaha untuk mengimplementasikannya, yakinlah sebagai manusia tentu banyak keurangan disana-sini. Hal ini hanya bisa ditemukan ketika dengan rendah hati, kita melakukan muhasabah. Dan jika, dalam muhasabah itu, kita menemukan hal-hal yang menyebabkan kita berhasil ataupun tidak berhasil, dan solusi apa yang kita lakukan, sejatinya itu sebuah starting point, untuk melakukan quantum leap kedepan.

Advertisements

Author:

Life is beautiful

2 thoughts on “MUHASABAH AKHIR TAHUN

  1. Suwun mas Danank, ini sekedar sharing, ternyata ada hal lain yang bisa kita lakukan dari mainstream yang ada, agar tahun 2013 dan tahun-tahun berikutnya, bisa cetar membahana 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s