Islam, Politik.

Penista Agama


Beberapa hari ini, lagi-lagi kita disibukkan untuk merespon penistaan agama yang dilakukan oleh seorang yang bernama Jozeph Paul Zhang. Dia mendadak viral di media sosial karena mengaku sebagai nabi ke-26. Hal itu dilakukan dalam forum diskusi via Zoom yang juga ditayangkan di akun YouTube pribadinya, yang bertajuk ‘Puasa Lalim Islam’.

Dalam forum yang liar dan brutal  itu, jelas sekali banyak kata-katanya yang menista Islam. Juga di video-video lainnya. Dalam rekaman yang viral itu, diantaranya,” Tapi dari dulu saya kalau lagi bulan puasa itu adalah bulan-bulan paling tidak nyaman. Apalagi kalau deket-deket Idul Fitri. ‘Dung… dung… breng… dung… dung… breng… Sarimin pergi ke pasar… dung dung… breng… Allah bubar’. Wah itu tuh udah paling mengerikan. Itu horor banget,” katanya sangat menghina Allah dan syariat-Nya.

Tetapi JPZ ini emang bandel. Dengan jumawanya, dia menantang siapa  saja untuk melaporkan ke aparat,” Gua kasih sayembara. Gua udah bikin video. Saya udah bikin video tantangan. Yang bisa laporin gua ke polisi gua kasih uang yang bisa laporin gua ke polisi penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26, Jozeph Paul Zhang. Meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabulullah,” imbuhnya.

Dia yang mengaku pendeta itu, setidaknya hal  itu yang menjadi title di akun youtube-nya. Meskipun banyak pihak gereja yang kemudian menolaknya, bahwa dia pendeta. Begitu percaya dirinya dia. Pertannya adalah mengapa dia berani sesumbar seperti itu? Mungkin karena sejak tahun 2018, dia sudah berada di luar negeri.  Berpindah-pindah negara. Menurut Imigrasi, dia tercatat meninggalkan Indonesia menuju Hong Kong sejak tanggal 11 Januari 2018. Pria ini bernama asli Shindy Paul. Paspornya bernomor B 6622531 yang dibuat di Kantor Imigrasi Semarang. Berdasarkan informasi kepolisian dia sudah meninggalkan Jerman, dimana terakhir posisinya di lacak. Dia tinggal di Bremen hanya 6 bulan, setelah itu kabur.

Atau bisa jadi, Dia merasa tidak tersentuh hukum, karena yang di-nista adalah Islam. Paling nanti cukup tanda tangan di atas materai 10.000, minta ma’af urusan beres. Mungkin juga dia mengira, saat diperkarakan, kemudian dia mendapatkan keterangan sakit jiwakan (gila) sehingga masalah tidak berlanjut dan tidak ada gugatan hukum. Kita lihat saya nanti.

Islamophobia

Sebenarnya perilaku penistaan agama seperti ini, tidak berbilang di negeri ini. Terutama di era media social seperti sekarang ini. Hampir setiap saat kija jumpai di akun-akun medsos, dengan muatan yang sejenis, lebih ringan atau lebih berat. Tetapi kesemuanya berakhir sama. Sedikit yang berlanjut di proses. Selebihnya tidak diproses dan tidak ketahuan ujungnya.

Pemecatan pejabat di PT PELNI, karena mengundang ustadz yang dilabeli radikal, tanpa proses tabayun/klarifikasi. Padahal ustadz-ustadz tersebut selama ini adalah pro-pemerintah misalnya. Buntutnya selain pembatalan kegiatan juga dilanjutkan dengan pemecatan pejabat yang memprakarsai kegiatan itu, merupakan contoh bahwa Islamophobia benar-benar terjadi. Meski kemudian pelaku sebagai Komisaris itu meminta ma’af kepada salah satu pembicara, namun cukup menegaskan bahwa, anti-islam ini ternyata terjadi by design.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, sebenarnya hal ini menjadi terasa aneh. Karena Islam dan umat Islam, seharusnya menjadi pemilik syah dan penguasa di negeri sendiri. Akan tetapi ternyata sebagaian besar menjadi termarginalkan oleh orang-orang, bisa jadi mereka juga mengaku Islam, tetapi beda madzab, organisasi, ormas, manhaj dlsb, juga oleh mereka yang memang kaum kafir. Saya menduga berdasarkan beberapa bacaan bahwa saat ini -bisa benar-bisa salah- kekuatan kaomunisme, liberalism,  dlsb sedang bersatu  dan bermain. Ini bukan untuk memperkeruh suasana, tetapi ini adalah keniscayaan yang harus dipecahkan. Mesti di cari root cause-nya.

Salah satu caranya adalah, harus diberlakukan yang sama terhadap penista dan pelanggar hukum. Jika orang yang dituduh teroris tanpa proses peradilan bisa di bunuh oleh aparat. Demikian juga terhadap mereka yang dianggap fundamentalis muslim atau oposisi bisa dituduh dengan pasal yang berlapis-lapis, maka terhadap penista agama Islam juga mesti diperlakukan sama. Harus diproses seadil-adilnya dan dengan cara yang terbuka. Sehingga publik akan tahu, dan tidak bersepekulasi bahwa terjadi ketidak-adilan di negeri ini.

Selanjutnya, kita tunggu langkah-langkah penegak hukum terhadap kasus JPZ ini. Kita akan melihat sejauhmana keseriusannya, dan bagaimana kesudahannya nanti. Apakah akan menguap begitu saja. Dianggap orang sakit jiwa atau gila, sehingga masalah tidak berlanjut. Meski agak psimis, tetapi mari sisakan sedikit harapan itu agar keadilan tegak di bumi Indonesia ini. Wallahu a’lam

ekonomi, entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, Islam, IT

Belajarlah dari Bangaluru !


Keinginan Presiden Indonesia sejak awal menjabat, untuk mendirikan Silicon Valley Indonesia, sangat menggebu-gebu. Sebuah keinginan yang patut diapresiasi. Meskipun hingga kini belum juga ada yang terealisir. Ada beberapa daerah yang sempat diumumkan sebagai tempat yang cocok untuk membangun Silicon Valley itu. Diantaranya : Banten, Papua, Bandung, Penajam Paser Utara sebagai calon Ibu Kota baru itu, dan yang terakhir dan kemudian menjadi polemik adalah Sukabumi, dengan nama Bukit Algoritma. Sebuah kawasan seluas 888 ha, di KEK Cikidang Sukabumi, dengan total biaya investasi direncanakan sebesar 18 Trilyun itu, sontak membuat heboh jagat netizen.

Mengapa menuai pro-kontra? Selain nilainya yang fantastis, alasan lainnya adalah ketidakcocokan tempat yang tidak dekat dengan kampus dan industri, sebagai pemasok utama resources. Beberapa komentar yang menyangsikan, mempertanyakan dan menggugat, kemudian menghiasi percakapan di cloud. Tak tanggung-tanggung jika jauh-jauh hari Gubernur Jabar, juga memberikan warning, jangan sampai proyek ini hanya menjadi gimmick branding (untuk jualan property semata). Demikian halnya dengan Kepala Center of Innovation and Digital Economy INDEF, Nailul Huda menyebut proyek Bukit Algoritma di Sukabumi sebagai pusat inovasi teknologi digital di wilayah Asia Tenggara masih berpotensi mangkrak. Karena prasarat infrastruktur dasar dan SDM masih belum teratasi. Dan banyak hal lagi “gugatan” lainnya yang menghiasi perdebatan di media sosial.

Jika yang menjadi rujukannya adalah Silicon Valley, pasti akan kontradiktif.  Mengapa demikian? Terletak di sebelah selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Silicon Valley diciptakan oleh pengusaha Ralph Vaerst di tahun 1970-an. Awalnya, berasal dari sejumlah besar produsen chip silikon di kawasan itu. Lambat laun, tempat itu pun menjadi markas dan kompleks perkantoran untuk sejumlah bisnis teknologi, termasuk Apple Inc. , eBay Inc., Facebook Inc., Intuit Inc., Adobe Systems Inc., Intel Corp. dan Hewlett-Packard Co, dlsb.

Sehingga Silicon Valley menjadi tempat perkembangan inovasi yang integrative karena venture capital sebagai pemodal bagi start-up bisnis teknologi hamper sepertiganya hadir di situ. Dan yang lebih memperkuat lagi adalah institusi pendidikan tinggi terkemuka juga ada di tempat itu, seperti Universitas Stanford, Universitas Silicon Valley dan tiga kampus Universitas California. Dari sini sangat kentara bahwa ekosistem yang ada di sana memang sangat mendukung.

Lalu bagaimana sebaiknya? Sebainya perlu belajar dari India yang sukses menjadikan Bangalore (baca : Bangaluru) menjadi Silicon Valley of India. Sehingga juga memiliki sebutan dengan “IT Capital of India”. Satu hal yang menarik adalah, infrastruktur meski dengan sangat terbatas tersedia saat itu, akan tetapi puluhan perguruan tinggi berada di kawasan Bangaluru ini. Juga keberadaan perusahaan lokal yang kompeten, sehingga juga menarik investasi dari venture capital. Sehingga dari sisi SDM dan funding, tidak mengalami kekurangan resources. Tentu saat ini infrastruktur di Bangalore, standarnya lebih tinggi lagi, karena mesti men-serve worldwide. Disamping memang IT-Skill lulusan perguruan tinggi di India juga di atas rata-rata, hal ini dibuktikan dengan banyaknya mereka memenuhi Silicon Valley di Bay Area itu. Bahkan eksekutif perusahaan keknologi dunia, banyak yang berasal dari India.

Dari Laporan https://thescalers.com/how-bangalore-became-asias-silicon-valley/, setidaknya ada 3 (tiga) tahapan Bangalore menjadi Silicon Valley-nya Asia, seperti sekarang ini.

1984: The Making of an IT Capital

Liberalisasi kebijakan impor dan ekspor perangkat lunak di India tahun 1984, menjadi tonggak kebangkitan industi IT di India. Hal ini, dimanfaatkan dengan baik oleh Wipro dan Infosys, perusahaan IT local India, untuk mendirikan kantor pertama kali di Bangalore dan meng-hire programmer-programmer terbaik India. Dan pada tahun 1985 Texas Instruments menjadi perusahaan Multi National Corporation yang investasi pertama kali di Bangalore.  Sebagai highlight-nya, dari instri IT ini adalah : 8% dari total GDP India berasal dari industri IT (2017), total revenue sebesar 180 M USD (2019), mempekerjakan 3,9 juta orang.

2010-2020: From back office to an R&D hotspot

Dalam dekade terakhir saja, Bangalore telah menyumbang 35% dari Global in-house center (GIC) di India. Nilai R&D yang dilakukan di India diperkirakan sekitar $ 40 miliar dan diharapkan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Kontributor utamanya adalah pengembangan software untuk bisnis dengan biaya murah dan rendah dengan teknologi terkioni dan dikerjakan oleh programmer yang kompeten. Dimana, di Bangaluru Pusat R&D perusahaan asing juga disini. Cisco mempekerjakan 11.000 lebih orang, Roll Royce mempekerjakan 100 lebih dn Boeing memperkajan 2.500 orang lebih.

2020: The Silicon Valley of Asia

Industri TI mempekerjakan sekitar 4,1 juta orang di seluruh India dan menyumbang hampir $ 137 miliar ekspor setiap tahun – 40% di antaranya dihasilkan di Bangalore. Disamping itu juga membangun budaya start-updi Bangalore dengan kriterai : menjadi peringkat 3 start-up global, memberikan pembiayaan kepada 57% start-p di India,

Tapi masalah ekonomi saja tidak bisa menjelaskan munculnya utopia TI ini. Peningkatan keahlian teknis dan tenaga kerja multi-skill telah berperan penting, sehingga menjadikan Bangalore menjadi pusat R&D, setidaknya hal ini mewakili nama-nama perusahaan besar sepetibseperti Amazon, IBM, Microsoft, Tesco, Nokia, dan Siemens. Bahkan Tesla juga sudah merencanakan kepindahan R&D nya di Bangalore. Tidak heran, jika perusahaan-perusahaan besar IT besasr lainnya juga berkumpul dalam kawasan tersebut seperti Infosys, Oracle, Dell, Samsung R&D, HP, CGI, Nokia, Huawei dan banyak lagi.

Jika demikian, maka mimpi mendirikan silicon valley di Indonesia dengan menghadirkan Bukit Algoritma itu setidaknya perlu dikaji lebih mendalam kembali. Terutama terkait dengan feasibility study-nya harus presisi, dengan memperhatikan banyak variabel. Tidak cukup modal semangat dan ngotot, atau bahkan aji mumpung. Tentu kita menghargai setiap ide, gagasan dan upaya untuk mengadirkan yang terbaik untuk bangsa ini. Apapun itu bentuknya. Saya juga yakin untuk infrastruktur dengan kedekatan dengan penguasa, bisa jadi di geber, bangunan-bangunan megah bisa didirikan, termasuk listrik, koneksi internet dlsb. Tetapi ekosistem dan resources akan menjadi PR yang tidak mudah diselesaikan.

Akankan ini berpotensi menjadi proyek mangkrak sebagaimana prediksi INDEF, ataupun menjadi gimmick branding sebagaimana warning Gubernur Jabar, atau hanya menghasilkan bangunan mewah saja, sebab riset itu tidak memerlukan bangunan yang megah, tetapi hasilnya yang implementatif, sebagaimana perdebatan di twitter. Soal ini, biarlah waktu yang akan menjawabnya. Singkatnya : optimis boleh, realistis harus.

Selamat menunggu berbuka hari ke-6

Wallahu a’lam

Islam, Peradaban

Berubahlah


Yang kekal dalam kehidupan ialah perubahan itu sendiri. Ini merupakan terjemahan  langsung dari pernyataan Heraclitus, seorang Filsuf Yunani, yang hidup sekitar 2500 tahun lalu.  “There is nothing permanent except change”. Hal ini dimaksudkan bahwa mau ataupun tidak mau, manusia tidak dapat lari dari mengalami pelbagai perubahan dalam perjalanan kehidupannya di muka bumi. Baik dalam sekala kecil maupun perubahan yang besar. Pakar Manajemen terkemuka dunia Jack Welch yang sangat fenomenal dan berhasil membesarkan GE, juga menegaskan,  “ Heraclitus ”, artinya berubahlah sebelum Anda dipaksa untuk berubah. Sehingga melahirkan adagium berubah atau mati, yang seringkali dikaitkan dalam bisnis.

Dalam  konteks perubahan ini, sesungguhnya umat Islam memeiliki panduan yang cukup sempurna, yaitu yang terdapat dalam Surat Ar-Ra’d : 11, Allah SWT berfirman,” لَ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia).

Dalam Tafsir Muyassar ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak merubah kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum kecuali jika mereka merubah apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka lalu mereka mendurhakai-Nya. Apabila Allah menghendaki petaka kepada suatu kelompok manusia, maka tidak ada tempat berlari darinya. Mereka tidak mendapatkan selain dari Allah seorang pelindung pun yang mengurusi urusan mereka, lalu suatu yang disenangi didatangkan kepada mereka dan suatu yang tidak disenangi dihindarkan dari mereka.

Dalam konteks tersebut, maka perubahan yang dimaksud adalah perubahan menuju jalan Allah SWT. Atau bisa dikatakan hijrah, dalam artian meninggalkan tatanan kehidupan yang lama (yang tidak/kurang baik), menuju tatanan kekehidupan yang sesuai dengan syariat dan ketentuan Allah SWT, di seluruh aspek kehidupannya. Baik hal itu dilakukan oleh komunitas/kelompok/kaum maupun yang dilakukan oleh individu.

Disis lain, hal tersebut juga menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan oleh kelompok, ternyata lebih efektif dilakukan dibandingkan dengan individu.  Dan lebih efektif lagi jika dilakukan oleh pemimpin terlebih dahulu. Sebagaimana perkataan Ibn Khaldun dalam Muqadimmahnya : “Agama raja adalah agama rakyat.”. Artinya rakyat/pengikut/followers akan mudah berubah jika pemimpinnya juga berubah. Kendatipun demikian perubahan secara bottom-up yang di mulai dari individu ternyata juga dapat mempengaruhi perubahan kelompok yang ada. Tergantung dari sudut pandang mana kita memulai dan melihatnya. Dan jika terjadi kombinasi atau sinergitas dalam perubahan tersbut, maka akan melahirkan ekuatan yang dahsyat.

Ramadhan momentum perubahan

Lalu kapan sebaiknya melakukan perubahan itu? Setiap saat kita dituntut untuk melakukan perubahan. Agar kita terus dapat beramal sholeh dan berprestasi sepanjang masa. Sehingga kehidupan dan hari demi hari kita terus diisi oleh kebaikan-kebaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dan esok lebih baik dari hari ini. Meskipun ini hadits dhaif setidaknya, dapat dijadikan motivasi bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan itu.

Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk melakukan perubahan, sebagaimana merujuk tafsir di atas. Baik secara individu maupun secara kolektif/kelompok/jama’i. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukan perubahan. Keutamaan dan fasilitas yang disediakan oleh Ramadhan, sangat mendukung untuk melakukan perubahan. Ramadhan adalah proses perubahan. Dengan inputnya iman dan outputnya taqwa. Sehingga perubahan yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan sangat efektif dan efisien.

Artinya jika kita ingin memenangkan kehidupan di dunia dan akhirat, maka perubahan harus kita lakukan semenjak diri. Perubahan yang terukur untuk  li i’lai kalimatillah hiyal ulya.  Perubahan bil haq ilal haq. Prubahan yang dimulai dari diri kita. Ibda binafsik. Demi tegaknya peradaban Islam di muka bumi. Maka tidak ada pilihan lain bagi kita.

Berubahlah !

Islam, Peradaban, Politik.

HRS : Ramadhan, Penjara dan Karya Ulama


Kebahagiaan di awal Ramadhan ini menyelimuti HRS dan seluruh keluarganya. Sebab, kemarin, 15/04/2021, media di ramaikan dengan keberhasilan HRS yang lulus dari ujian program doktoral di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) Malaysia. Kabar kelulusan HRS ini, sudah barang tentu disambut dengan penuh rasa syukur oleh warga masyarakat khususnya umat Islam. Kecuali para haters yang masih memendam benci tidak berkesudahan kepada beliau.

Disertasi (di Malaysia di sebut tesis), HRS tersebut berjudul “Metodologi Pemilahan Antara Usul Dan Furu’ Dalam Aqidah Dan Syari’ah Serta Akhlaq Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, merupakan bahasan berat dan mendalam karena isinya membedah 73 aliran dalam Islam telah selesai diuji pada pukul 15.00 waktu Malaysia dan HRS dinyatakan telah lulus dari ujian yang ia lakukan secara online dari Rutan Mabes Polri ini. Sidang disertasi (dalam kampus Malaysia dikenal dengan istilah Viva Voice) diuji oleh Profesor Madya Dr Kamaluddin Nurdin Marjuni serta Dr Ahmed Abdul Malik. Atas kelulusan ini, maka HRS bakal menyandang gelar doktor dari Universitas Sains Islam Malaysia. Selanjutnya beliau berhak mendapat gelar dan mencantumkan P.hD di belakang namanya.

Apa yang menarik dari peristiwa ini? Saat ini HRS sedang dalam penjara untuk kasus yang berlapis, yang terkesan dipaksakan ini. Bahkan sehari sebelumnya, beliau mencecar habis Bima Arya S, Walikota Bogor terkait tuduhan menyembunyikan hasil Swab RS Ummi Bogor, yang juga viral itu. Namun yang menakjubkan adalah, saat sidang desertasi yang berat itu, tetap saja HRS mampu menjawab pertanyaan penguji dengan sangat lugas dan cerdas.

Seolah penjara hanya bisa membatasi fisiknya untuk tidak bergerak keluar jeruji besi, namun tidak untuk ilmu dan fikirannya, justru semakin cemerlang. Mata batinnya semakin tajam. Ruhiyahnya semakin hidup, menyertai setiap aktifitasnya. Karena bagi orang beriman -apalagi ulama- berkarya itu tidak bisa dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Mereka bisa menembus sekat-sekat itu semua, dengan kekuatan ke-imanannya itu sendiri. Dan tentu berkat ridho Allah. Sehingga, demikian halnya dengan shiyam Ramadhan yang sedang dijalaninya, seolah tidak bisa mengunci fisiknya untuk lunglai dan berdiam diri. Tetapi tetap saja tampil dengan lugas, menyala-nyala, penuh ghirah dan semangat.

Sebenarnya realitas ini cukup membungkan bagi siapapun yang selama ini dengan sengaja mengkriminalisasikan beliau. Atau pihak-pihak yang selama ini berseberangan dengan HRS, bahkan mereka yang suka membully, menghina dlsb. Saya haqul yakin pencapaian haters HRS secara akademis tidak bisa dibandingkan dengan HRS. Bagai langit ke-7 dengan dasar sumur.  Bisa jadi, prestasi HRS ini, justru menambah sakit hati bagi para pemebencinya. Maka sudahi saja membenci ulama. Lebih baik bahu-membahu membangun negeri yang sedang terpuruk ini.

Apa yang dialami oleh HRS ini, sesungguhnya juga banyak dialami oleh ulama-ulama terdahulu. Mereka secara fisik dipenjara namun masih tetap bisa dan terus berkarya. Bahkan karya-karya fenomenal itu lahir dibalik jeruji. Ini menegaskan bahwa al ‘ulama warisatul ambiyaa itu adalah sebuah ketetapan. Anda boleh tidak setuju dengan pernyataan saya ini, namun fakta membuktikan begitu.

Beberapa ulama’ yang melahirkan karya saat dipenjara adalah :

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, dipenjara hingga 12 kali oleh penguasa dzalim saat itu, salah satu karya femomenalnya adalah “Ar Raddu ‘ala Al Ikhnai”. Kitab itu merupakan bantahan terhadap pendapat ulama dari mazhab Hanafi bernama Muhammad bin Abu Bakar Al-Ikhnai.

Sayyid Qutb dipenjara karena tuduhan rencana kudeta dan pembunuhan terhadap Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Saat menjalani masa-masa di penjara, ia merampungkan kitab tafsir kontemplatif bertajuk Fī Dzilālil Qur’an.

Badiuzzaman Said Nursi salah seorang ulama Turki, juga denjara oleh Mustafa Kamal sang pemangku Rezim Otoriter Turki. Beliau berhasil menulis Tafsir Risalah Nur dari balik jeruji penjara. Tulisan ini di tulis di kertas yang berserak bahkan sampul rokok yang dikirimkan ke luar jendela kepada muridnya lalu oleh muridnya dihimpun dan jadi kitab tafsir yang mendorng pergerakan Islam di Turki. Para pembaca Risalah Nur selanjutnya disebut dengan Tulabun Nur.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka juga mengalami nasib yang sama. Ramadan tahun 1348 H bertepatan dengan 1964 M. Hamka dipenjara oleh pemerintah Orde Lama selama dua tahun empat bulan. Pemerintah menuduh Hamka telah melanggar undang-undang Anti-Subversif Pempres No. 11. Lebih spesifik ia dituduh terlibat merencanakan pembunuhan terhadap pemimpin besar revolusi, Presiden Soekarno. Dan dari dalam jeruji itulah lahir Tafsir Al Azhar yang fenomenal itu.

Dan jika diuraikan masih banyak lagi ulama yang dipenjara dan melahirkan karya. Kita tunggu desertasi HRS yang oleh pengujinya direkomendasikan untuk dicetak dan digandakan dalam sebuah buku itu. Sehingga bisa menjadi literatur kelak.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah, memenjarakan ulama’ dengan tuduhan serampangan, karena dianggap berseberangan dengan penguasa, justru akan membangkitkan ghirah ulama’ itu untuk menekuni ilmu. Sebab bisa jadi selama ini, mereka sibuk melayani umat untuk mengisi pengajian, taklim dlsb. Sehingga penjara merupakan sarana uzlah dan rihlah. Olehnya, wajar jika karya-karya besar ulama lahir dari balik jeruji.

Seharusnya pemerintah/penguasa senang jika ada ulama’ yang mengingkatkan, meski mungkin terasa pahit. Anggap, sebagai separing partner. Bukan memenjarakannya. Apalagi penguasa hanya mencari para penjilat, buzzer dan sejenisnya, yang sebenarnya malah menjerumuskan. Syabas dan Tahniah untuk HRS. Wallahu a’lam

Islam, Kronik, Peradaban

Lama Puasa Di Beberapa Negara


Jika ukuran dan kualitas puasa dikaitkan dengan lamanya berpuasa, maka muslimin yang berada di Longyearbyen, Norwegia bisa dianggap yang berkualitas. Sebab mereka berpuasa selama 21 jam lebih. Puasa terlama yang ada di planet Bumi ini.

Sedangkan muslimin yang berada di Ushuaia, Kawasan Amerika Selatan, dengan berpuasa selama 10-11 jam, bisa jadi diartikan tiak berkualitas. Sedangkan Kita yang berada di Indonesia dengan rata-rata puasa sekitar 12-13 jam masuk katagori menengah atau rata-rata.

Namun, kualitas puasa Ramadhan tidak ditentukan dengan ukuran lamanya itu. Sebagaimana yang tersurat dalam QS Al-Baqarah 183, maka kualitas Ramadhan ditentukan oleh outputnya, yaitu menjadi orang yang bertaqwa. Sedangkan prosesnya -berapapun lamanya berpuasa- menjadi sangat manusiawi sekali. Karena disesuiakn dengan zona waktu dimanapun dia bermukim, dan biasanya orang mudah beradaptasi dengan wilayah dimana mereka mukim.

Kendatipun demikian ternyata tetap ada rukhsyah (kemudahan) yang diberikan kepada wilayah-wilayah yang ekstrem tersebut. Sebagai contoh, di kota-kota paling utara yang ekstrem seperti Longyearbyen, Norwegia, di mana matahari tidak terbenam dari 20 April hingga 22 Agustus, peraturan agama, atau fatwa, telah dikeluarkan untuk mengikuti pengaturan waktu di Mekah, Arab Saudi, atau negara Muslim terdekat. Artinya kaum muslim di kota itum yang seharusnya berpuasa lebih dari 21 jam, menjadi 14-15 jam.

Mengutip https://www.aljazeera.com/news/2021/4/7/ramadan-2021-fasting-hours-around-the-world beberapa negara dan lama waktu puasanya dapat diliihat di tabel di bawah ini.Jika merujuk tabel di atas, maka kita bersyukur berada di Indonesia, “hanya” 12-13 jam dalam berpuasa. Sehingga menjadi mengherankan dan tidak bersyukur rasanya, jika Kita tidak mengoptimalkan bulan Ramadhan dengan mengisinya dengan Ibadah dan memperbanyak amal sholeh.

Hal ini juga bisa jadi referensi kita jika ada saudara, teman, anak atau family yang berada di negara-negara tersebut. Juga bisa jadi panduan, kalo ingin studi atau bekerja di beberapa negara tersebut. Meskipun, nanti untuk di wilayah utara dan selatan juga akan mengalami perubahan waktu lamanya berpuasa, seiring rotasi bumi mengeliling matahari. Nah ini akan dibahas sendiri tentang Bumi itu Bulat.