Peradaban

MUHASABAH AKHIR TAHUN


terompetBeberapa hari ini, jika kita melintasi jalanan di seputaran Jakarta, akan dengan mudah kita temui pedagang terompet dan berbagai asesoris yang  beraneka warna. Pedagang musiman ini, selalu menjejali kota-kota besar, menjelang akhir tahun seperti ini. Setiap tahun mereka, yang kebanyakan dari luar kota Jakarta, membawa dagangannya, untuk kemudian mengadu nasib, demi mendapatkan rejeki musiman itu. Selain pedagang terompet,  yang kini bentuknya sudah tidak konvensional lagi, akan tetapi berbagai bentuk yang indah dan menarik, juga tidak sedikit pedagang petasan dan kembang api, yang sama-sama berderet di sepanjang jalan. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, biasanya dagangannya laris manis, di borong oleh pembeli yang juga pengin merayakannya. Barangkali satu hal yang diharapkan mereka. Agar tahun malam baru tidak turun hujan, agar habis semua daganan yang dibawanya.

Sementara itu, didepan Hotel, di pinggir jalan-jalan protokol, di perempatan, di sisi jalan tol, dan di tempat-tempat strategis lainnya, juga terpajang spanduk dan baliho yang menjual acara dengan seluruh gemerlap kegiatan yang dikemas dengan tajuk old and new , yang biasanya diadakan di hotel dan atau tempat-tempat keramaian tlainnya. Dengan menawarkan hiburan artis-artis dalam dan luar negeri. Tidak ketinggalan pula, dikampung-kampung juga, terpasang sandu, poster, bahkan anak-anak mudah yang mengedarkan kotak sumbangan, untuk kegiatan malam tahun baru. Pendek kata,  hari-hari ini, hampir tidak ada ruang yang kosong, selain persiapan perayaan malam tahun baru. Seolah-olah jika tidak menjalankan ritual, perayaan tahun baru, dianggap sebagai Continue reading “MUHASABAH AKHIR TAHUN”

Kronik, Peradaban

#9…..Membaca Sejarah


Sejarah itu bukan hanya sekedar catatan dari rentetetan peristiwa yang kemudian dikompilasi dalam bentuk sebuah buku, yang biasanya sangat tebal. Bukan pula dongeng dan cerita turun-temurun, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaranya. Sejatinya sejarah adalah sebuah gambaran dan visualisasi dari masa lalu, yang denganya, sejarah selalu memotret apa yang terjadi dalam silih bergantinya generasi manusia, jatuh dan bangunnya sebuah bangsa, muncul dan tenggelamnya peradaban, bangkit dan ambruknya sebuah kekuasaan dan seterusnya. Sehingga darinya, sejarah akan menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sejarah adalah bukti empiris masa lalu. Dan sejarah bukan hanya yang ditulis secara tekstual dalam buku-buku tebal itu, pun demikian bukan pula apa yang dicerikan sambung-menyambung dari nenek moyang itu. Sejarah adalah kontekstual, dia berada di dalam buku dan apa yang ada di luar buku, dia melingkupi semua peristiwa, kejadian dan aktor, disaat sejarah itu terjadi. Maka, sejarah sesungguhnya merupakan petunjuk masa depan.

Saya bukan ahli sejarah. Saya hanya seorang penikmat sejarah. Itupun dilakukan dengan cara amatiran, yaitu dengan membaca buku-buku sejarah ataupun mungkin melihat tayangan di DVD atau nonton National Geographic. Bahkan pelajaran resmi sejarah yang pernah saya ikuti, hanya diperoleh di bangku SD, SMP dan SMA, selebihnya hanya mencari sendiri. Apa saja saya baca: mulai dari siroh nabawiyah, tarikh islam, dan berbagai buku sejarah dunia, maupun sejarah nasional, bahkan sejarah lokal lainnya. Karena, bagi saya dengan membaca sejarah saya, bisa melayang ke masa lalu, dan menyelam, menelisik jauh dalam relung-relung kehidupan masa lalu, dengan segala asesoris dan dinamika kehidupan saat itu. Pada saat yang sama, dengan sangat bebasnya membikin komparasi dengan membandingkan dengan kehidupan di mana saat ini saya hidup. Kadang, bisa tersenyum sendiri, jika kemudian masa lalu kita gunakan parameter masa kini, pun demikian sebaliknya. Maka, membaca sejarah, akan terasa indah. Continue reading “#9…..Membaca Sejarah”

Peradaban

#4 …..Pendidikan yang memerdekakan


Saya meyakini, seharusnya sebuah sistem pendidikan itu, bisa mengantarkan peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi yang merdeka. Dan kemerdekaan dari murid ini, tentu saja didapat dari guru-guru yang merdeka. Guru yang merdeka tentu saja berasal kurikulum yang merdeka. Singkatnya pendidikan yang merdeka akan di hasilkan oleh sistem pendidikan yang merdeka. Tidak ada tertekan, tidak ada paksaan dan keterpaksaan. Artinya jika ternyata saat ini, masih kita jumpai sistem pendidikan yang belum memerdekakan, berarti ada sesuatu yang salah. Seharusnya, sebuah sistem pendidikan yang benar akan berjalan menuju satu kesatuan tujuan yang sama, yaitu memerdekakan manusia. Dalam makna merdeka yang sebenarnya, yaitu merdeka dari ketergantungan terhadap mahkluk, dan hanya bergantung kepada sang khaliq.

Jika demikian adanya lantas pendidikan model apa yang harus di desain. Satu-satunya model pendidikan yang berhasil mengantarkan pendidik dan peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi yang terkenal sepanjang sejarah manusia, dan tertulis dalam tinta emas, sebagai generasi terbaik, bahkan tidak ada lagi generasi terbaik sesudahnya. Pendidikan yang berhasil melahirkan peradaban yang mulia Continue reading “#4 …..Pendidikan yang memerdekakan”

Peradaban

#1…..365 tulisan dalam 365 hari


Hari Sabtu, 30 Maret 2012 kemarin, saya mabit (bermalam) di Masjid Baitul Karim, Komplek DPP Hidayatullah, di bilangan Cipinang Cempedak – Jakarta Timur. Malam itu yang memberikan taujih, adalah al-Ustadz Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah. Ada sekitar 200-an peserta yang malam itu berkumpul, memenuhi ruangan masjid. Banyak hal yang disampaikan beliau malam itu. Akan tetapi bagi saya ada satu hal yang sangat menantang, yaitu ketika beliau membahas tentang baigaimana membangun tradisi keilmuan, yang dikaitan dengan bagaimana keseharian seorang Muslim itu harus diisi. Dan kesemuanya itu dalam kerangka membangun tradisi keilmuan itu.

Malam itu, beliau mencontohkan aktifitas beliau sendiri, yang menurut beliau, sesungguhnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. Setiap malam, beliau menjadwalkan jam 22.00 malam harus sudah tidur. Jika ada aktifitas yang memaksa untuk lebih dari jam 22.00, berarti akan mengurangi jatah tidur beriktnya. Kemudian ,bangun jam 02.00 dini hari. Tidak perlu pakai alarm, sebab by default, ketika memasuki jam 02.00, seolah-olah ada yang membangunkan. Selanjutnya kegiatannya di awali dengan mandi dan bersuci, kegiatan bersuci ini membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Kemudian, kira-kira 1,5 – 2 jam kegiatan dilanjutkan dengan qiyamul lail, dan dzikir. Setelah itu, sekitar jam 3.30 atau 03.45, di pergunakan untuk kegiatan membaca dan menulis. Sampai sekitar 30 menit atau 15 menit menjelang Subuh melakukan istirahat sejenak sampai dengan mendengar azan subuh. Selepas subuh sampai 30 menit menjelang dhuhur melakukan aktifitas kegiatan seperti biasa, bekerja dan berdakwah. Dan kemudian beliau akan melakukan Qoilullah lagi 30 menit menjalang azan dhuhur, dan setelah sholat dhuhur sampai dengan jam 22.00, malam adalah aktifitas sebagaimana biasa. Baik untuk urusan keluarga, bekerja, dakwah dan ibadah lainnya. Beliau menegaskan maksimal hanya 5 (lima) jam dalam sehari, selayaknya seorang muslim itu tidur. Jika lebih dari itu, betapa banyak umurnya yang sia-sia, alias habis dipergunakan untuk tidur.

Jauh sebelum itu, saya sempat membaca di hidayatullah.com, sebuah tulisan yang membahas salah satu ulama besar, Imam Nawawi. Selama berpuluh-puluh tahun dalam hidupnya, ketika malam sudah larut. Banyak orang-orang yang telah terlelap merangkai mimpi. Namun, Nawawi muda yang masih terlihat menikmati bacaannya. Ketika rasa kantuk menyerang, ia sandarkan tubuh dan kepalanya pada buku sebentar, lalu terbangun kembali. Tanpa merebahkan punggungnya di tempat tidur, ia lalu meneruskan aktifitas yang menjadi hobinya, yaitu membaca. Begitu seterusnya, hingga ia menunaikan sholat tahajjud. 
 Menjelang sholat subuh, ia meraih roti yang ia simpan dan memakannya sebagai sahur yang sekaligus menjadi makan malam serta makan siangnya. Ia sudah terbiasa berpuasa dan makan sekali dalam sehari semalam. Masih banyak lagi contoh, bagaimana ulama-ulama terdahulu dalam rangka mendedikasikan dirinya dengan ilmu. Dan saya yakin di saat inipun, masih banyak pencinta ilmu yang menghidupkan malam-malamnya dengan bergulat dengan riset-riset, tulisan-tulisan dan dalam bentuk tradisi keilmuan lainnya.

Dari fakta-fakta itu, artinya membangun tradisi keilmuan termasuk di antaranya kegiatan tulis menulis, sesungguhnya bukan sesuatu yang berat, asalkan kita mau bersungguh-sungguh, istiqomah  dan dinikmati. Pun demikian saya, terinspirasi yang kemudian termotivasi dari hal-hal di atas. Maka mulai hari ini 2 April 2012 sampai selesai, saya bertekad  membuat semacam proyek untuk membuat 365 tulisan dalam 365 hari. Saya tidak membatasi temanya. Apa saja yang bisa di tulis akan di tuangkan dalam blog ini. Tetapi saya jamin tulisannya yang ringan-ringan (karena tidak bisa nulis yang berat-berat :). Bahkan bisa jadi nggak penting. Wong, ini blog saya sendiri, ya terserah saya mau nulis apa. Saya hanya berusaha untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Bisa jadi terlaksana, bisa jadi tidak. Namanya juga proyek, jadi bisa dikatakan  365 tulisan dalam 365 hari, adalah baseline planning. Jika tidak berhasil, di buat rebaseline lagi, begitu seterusnya, sampai kemudian berhasil. Dan akhirnya….., Bismillah semoga bisa… #1