Covid, Kronik, Peradaban

Belajar dari Tsunami Covid di India


https://www.worldometers.info/coronavirus/country/india/

Beberapa hari lalu, saya tulis tentang belajar dari Bangaluru, untuk membangun Silicon Valley, maka kali ini kita kita tetap belajar dari India, tetapi terkait dengan penanganan COVID-19. Dunia terbelalak, tiba-tiba India mengalami peningkatan yang drastis, terkait yang positif. Padahal pad bulan Januari, Pebruari hingga pertengahan Maret, grafiknya melandai. Seolah ada signal bahwa, pandemi segera berakhir di India.

Semua bersuka cita, bahwa kebijakan di India untuk menekan COVID-19 berhasil. Tetapi kini menunjukkan terjadinya sebuah anomali, sebab sebagaimana dalam grafik di atas, COVID-19 di India sempat mereda, namun lonjakan kembali terjadi, pada saat para ilmuwan memperkirakan herd immunity sudah hampir tercapai.

Barangkali ini yang memicu lonjakan itu. Dengan melihat penurunan kasus itu, serta tanda-tanda akan berakhirnya COVID-19, masyarakat menjadi lengah. Kerumunan masa terjadi di mana-mana. Tanpa adanya protocol Kesehatan. Sebagaimana ketat dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya. Petugaspun nampaknya juga sudah mulai melonggarkan aturan.  

Kegiatan keagamaan rakyat India yang  berdasarkan sensus 2020  berpenduduk 1,380,004,385 orang dengan komposisi 79,8% Hindu, 14,2%  Islam, 2,3 Kristen dan sisanya agama lain itu menjadi bebas. Bahkan ritual penganut Hindu yang mandi di sungai Gangga dalam beberapa hari dilakukan dengan tanpa menghiraukan protokol Kesehatan. Mereka percaya bahwa Maa (ibu) Gangga akan menyelamatkan mereka dari pandemi ini. Faktanya, justru setelah ritual itu, muncul klaster baru terjadi di sini. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang tumpah ruah disini. Dari dari 50.000 sampel yang di tes, 1.000 diantaranya adalah positif COVID-19. Dan ini diikuti di seluruh India. Kasus harian meningkat tajam. Bahkan memecahkan rekor.

Demikian juga kampanye politik juga terjadi secara offline di negara multipartai ini. Yang namanya kampaye pasti mengundang kerumunan masa. Hal lain juga terjadi di restoran, rumah makan, mall, pasar, tempat perbelanjaan dll yang juga sudah dibuka dan semuanya sama, tanpa protokol kesehatan yang ketat dan memadai. Padahal India sejauh ini, India telah memberikan lebih dari 127 juta dosis vaksin virus corona dalam upaya inokulasi terbesar di dunia. Dan ada 272,705,103 penduduk yang sudah ditest. Hanya kalah dari USA yang sudah mengetest sebanyak 435,438,612 jiwa.

Tetapi realitas di atas justru mendapatkan data yang mengerikan. Kemarin 22/04/2021, menurut worldometer, tercatat ada 332.503 kasus baru. Dengan kematian sejumlah 2.256 orang. Hal ini menjadikan kasus dan kematian tertinggi di India hingga hari ini, sepanjang pandemi menyerang setahun lalu. Sehingga secara total, ada 16,257,309 kasus di India. Dengan 13,641,606 yang sembuh dan 186,928 yang mati. Sehingga  menempatkan India menempati peringkat ke-2, menyalip Brazil dengan jumlah kasus 14,1 juta, tetapi kalah dari USA dengan 32,6 juta.

Hal lain, juga memcicu pertumbuhan yang cepat itu disinyalir telah terjadinya dan ditemukannya mutasi COVID-19.  Varian virus baru itu dinamakan varian B.1.617, yang membawa beberapa mutasi. Virus ini telah dijuluki “mutan ganda” karena dua mutasi kunci pada protein lonjakan virus corona, yang digunakannya untuk mengikat lebih efektif dengan sel sehingga menyebabkan infeksi. Sementara, mutasi L452R diketahui meningkatkan transmisi virus dan mengurangi kemanjuran antibodi, mutasi E484Q dikatakan memberi virus peningkatan sifat pengikatan sel dan penghindaran kekebalan.

Dengan tingginya kasus positif di atas, diistilahkan telah terjadi tsunami COVID-19 di India. Hal ini menyebabkan setidaknya ada 4 (empat) masalah baru di India.  1) kurangnya jumlah bed dan obat-obatan di RS, 2) keterbatasan pasokan oksigen yang dibutuhkan oleh pasien saat saturasi menurun, 3) mayat bertumpuk di luar RS, 4) tempat kremasi jenazah penuh.

Pelajaran apa yang bisa di ambil?

Dari apa yang terjadi di India, setidaknya beberapa pelajaran yang bisa kita ambil agar negeri ini terhindar dari tsunami COVID-19, beberapa hal itu meliputi :

Pertama, ketika grafik melandai, meskipun bisa dijadikan ukuran, bahwa jumlah yang terinfeksi COVID-19 turun, akan tetapi tidak bisa dijadikan alasan bahwa pandemi akan berakhir.

Kedua, grafik melandai juga bukan sebagai ukuran bahwa telah terhadi herd immunity, sehingga virus tidak menyebar/menular  lagi. Sebab masih ada indikasi yang lain yang jadi parameter.

Ketiga, Vaksinasi yang massif, juga bukan jaminan bahwa kita tidak akan terinfeksi virus corona. Faktanya, ada yang sudah di vaksinasi 2 (dua) kali ternyata masih terinveksi juga, hal ini juga kita jumpai di Indonesia.

Keempat, waspada terhadap mutasi dan hadirnya varian baru dari COVID-19.

Karena ada kesamaan dalam hal ndablegnya, terutama terkait untuk mematuhi protokol kesehatan, maka apa yang terjadi di India, sangat berpotensi juga terjadi di Indonesia. Apalagi jika mudik tetap dipaksakan. Maka, lonjakan itu bisa dipastikan bakal terjadi. Olehnya menjaga protokol kesehatan adalah kunci. Selain itu, intinya jangan paranoid sehingga menciptakan ketakutan yang luar biasa, akibatnya tidak berbuat apa-apa. Juga jangan jumawa sehingga sembrono, merasa tidak takut apapun yang terjadi, malah nantangin, nanti begitu kena baru bilang kalo COVID itu ada. Sebaiknya, kita bersikap wasathiyyah, moderat, pertengahan sehingga waspada dan proporsional menyikapi hal ini.

Selain itu bagi kita umat muslim, tentu saja dengan tetap menjaga wudhu, dan senantiasa lebih mengintefsifkan do’a dan beribadah. Apalagi ini sedang bulan Ramadhan. Setelah semua upaya itu dilakukan, selebihnya, kita tawakal kepada Allah. Semoga Allah SWT segera mengenyahkan COVID-19 dari muka bumi. Wallahu a’lam.

Kronik, Peradaban

Masih Mau Mudik ?


Mudik (oleh KBBI disinonimkan dengan istilah pulang kampung) adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk pulang ke kampung halamannya (udik). Selain itu, mudik juga diartikan mereka yang yang sudah menetap di sutau tempat/perkotaan menuju ke kampung halaman/udik asalnya.  Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Waktunya biasanya di akhir Ramadhan, setelag hari raya Idul Fitri.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Dan kemudian juga berkembang dengan adanya reuni, untuk bersua dengan teman, kerabat dan lain sebagainya. Sehingga, akan mencari cara untuk bisa mudik, apapun risikonya. Dan ini dibuktikan dengan jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri dengan membeli tiket berbagai moda tranportasi, meski sudah dibatasi waktunya oleh pemerintah.

Namun, nampaknya para pemudik kali ini harus menunda tradisi tahunan itu. Setelah tahun lalu juga ada pembatasan mudik. Praktis 2 (dua) tahun ini, hasrat untuk mudik harus di tahan, karena akan berisiko. Hal ini dipertegas dengan hari ini 22/04/2021,  Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 memutuskan untuk memperpanjang masa larangan mudik Lebaran. Perpanjangan larangan tersebut berlaku mulai hari ini, Kamis 22 April 2021, hingga 24 Mei 2021. Aturan itu tertuang dalam Addendum Surat Edaran perihal pengetatan persyaratan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN).

Mengapa diperpanjang? Ternyata ini merupakan hasil survei dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan RI yang menyatakan bahwa dalam survei tersebut ditemukan bahwa masih adanya sekelompok masyarakat yang hendak mudik pada rentang waktu  H-7 dan H+7 Pemberlakuan Peraturan Peniadaan Mudik.

Tujuan addendum dalam surat edaran ini adalah untuk mengantisipasi peningkatan arus pergerakan penduduk yang berpotensi meningkatkan penularan kasus antar daerah pada masa sebelum dan sesudah periode peniadaan mudik diberlakukan. Artinya  bertujuan untuk mencegah ganasnya penyebaran COVID-19. Dan menurut pernyataan presiden, berdasarkan kajian tim Kesehatan, jika tidak ada larangan mudik, maka kemungkinan akan bertambah 120 ribu hingga 140 ribu penambahan kasus baru COVID-19 per-hari.

Jika dirangkum, maka larangan mudik berlaku selama 1 bulan, terhitung sejak hari ini hingga 24 Mei mendatang. Dan dalam surat edaran tersebut juga ditambahkan beberapa aturan terkait perjalanan darat, udara, maupun laut. Satu aturan tambahan diantaranya adalah mengenai pelaku perjalanan darat, udara, maupun laut diwajibkan menunjukkan minimal surat keterangan hasil negatif GeNose.

Artinya untuk tanggal 22 April hingga 5 Mei dan tanggal 17- 24 Mei, terjadi pengetatan protokol kesehatan, dengan membatasi masa berlaku surat keterangan hasil tes PCR/swab antigen, yang sebelumnya punya masa berlaku 2 (dua) hari, mulai hari ini surat keterangan hanya berlaku 1 x 24 jam.Selain itu, akan dilakukan tes rapid antigen acak kepada para penumpang angkutan darat.

Aturan ini sangat ketat. Dan secara ringkas, jelas membatasi pergerakan rakyat untuk mudik. Akan tetapi bukan rakyat Indonesia kalo tidak bisa mencari jalan keluar. Jika tidak bisa mengakali. Selalu ada saja celah yang bisa ditemukan. Dan biasanya petugas dan semua pihak akan terkaget-kaget, ternyata ada saja yang luput dari aturan, ketika sudah terjadi.

Namun, ini bukan soal bisa mengakali dengan berbagai akal-akalan itu. Melainkan ini menyangkut keselamatan jiwa. Yang menjadi salah satu dari maqashidul syari’ah. Hal ini, bukan hanya untuk Anda saja. Tetapi untuk orang yang disekitar Anda, terhadap orang yang akan Anda temui dlsb. Bisa jadi Kita nampak sehat, akan tetapi sesungguhnya kita adalah carrier, alias pembawa dan penyebar virus itu. Atau justru Kita yang akan tertular oleh orang lain. Jadi kita tahan dulu keinginan untuk mudik tahun ini. Sehingga sejarah mencatat kita sebagai bagian yang ikut mencegah penyebaran COVID dengan tidak mudik. Bukan malah menjadi bagian dari penyebar COVID ini.

Jadi, masih ingin mudik?

IT, Peradaban

Merangkul Digital Native


Sejak dikemukakan Marc Prensky pada sebuah makalahnya, dengan judul Digital Natives, Digital Immigrants pada tahun 2001, maka penggunaan kedua diksi tersebut selalu mewarnai perbincangan diberbagai kalangan. Sejak dua dekade lalu, pembahasan tentang ini belum juga berakhir. Karena memang dunia digital terus berkembang. Tidak pernah berhenti.

Secara ringkas digambarkan bahwa, anak-anak sekolah termasuk mahasiswa saat ini adalah penduduk asli dunia digital, sedangkan pengajarnya adalah imigran atau pendatang. Hal ini bisa dijelaskan bahwa generasi X dan generasi sebelumnya  masuk dalam digital immigrants. Sedangkan generasi Y, Z dan generasi sesudahnya masuk sebagai native digital.

Generasi digital immigrants merupakan generasi yang masih mengalami penggunaan mesin ketik manual maupun elektrik dan kemudian terjadi revolusi teknologi, sehingga beradaptasi dengan dunia digital. Sedangkan mereka dinamakan native digital, karena sejak lahir mereka sudah berada pada dunia digital yang terus berkembang. Mereka seolah tidak harus belajar, dan langsung bisa menyesuaikan dengan teknologi yang ada. Hal ini bisa kita lihat bagaimana anak-anak “kecil” saat ini, yang langsung bisa berinteraksi dengan smartphone, laptop atau perangkat digital lainnya, tanpa harus melalui belajar formal.

Didalam tabel ini, disajikan perbedaan antara native digital dan digital immigrants, sebagai berikut :

https://cdegelman.wordpress.com/2018/01/29/digital-native-digital-immigrant-or-somewhere-in-between/

Jika kita cermati apa yang menjadi ciri dari digital native, maka hal itulah yang masuk dalam katagori generasi milenial (generasi Y dan Z) serta generasi sesudahnya. Dan di banyak tulisan saya, hal ini perlu cara yang sistematis untuk melakukan pendekatan, di bidang apapun, untuk meraih simpati dan juga dukungan dari generasi ini.

Sehingga produk/jasa dalam model apapun jika tidak merangkul kalangan digital native ini, besar kemungkinan akan failed. Karena saat ini, sebenarnya merekalah yang men-drive pasar. Mereka adalah generasi yang tergantung dengan telepon dan device lainnya. Pribadi-pribadi intuitive learning dan juga fast learner, sehingga dengan intuisi dan kecerdasannya sangat cepat untuk melakukan Analisa dan melakukan keputusan.  Karena sudah terbiasa multitasking, melakukan banyak perintah/kerjaan dalam waktu yang bersamaan. Memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta selalu memanfaatkan multimedia.

Sehingga dengan karakteristik seperti itu, kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan atau model lama, dan mungkin mengalami keberhasilan masa lalu. Tetapi tidak jaminan berhasil di era kini. Dunia sudah berubah. Sekali lagi substansi tetap harus dijaga, akan tetapi kemasan bisa dimodifikasi. Karena kini jadi dunia mereka.  Dimana kini eranya generasi yang paperless dan cashless. Yang mulai meninggalkan semua bentuk kertas, sehingga mengisi form/borang untuk mendaftar untuk kepentingan tertentu, sudah mulai ditinggalkan.

Demikian juga pembayaran tunai dengan uang, tidak terlalu diminati lagi. Mereka senang dengan e-money, digital money,  QRIS, dlsb. Pendeknya semuanya menjadi simple, tetapi high impact dan high quality. Artinya, jika kita ingin menghadirkan produk/jasa/layanan dan tidak memperhatikan itu, maka mereka akan denial, karena tidak gua banget.

Pendekatan yang tepat, semestinya adalah dengan memenuhi karakteristik digital native, dengan tetap memberikan nilai-nilai yang terukur. Dan selanjutnya adalah dengan menghadirkan ambassador yang seusia dengan mereka, atau paling tidak memiliki jiwa seperti mereka. Sehingga bahasanya, sama dengan Bahasa mereka. Jika tidak, maka apapun yang akan kita tawarkan akan di tolak.

Bukankah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib r.a berpesan, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”. Sebuah Nasihat yang sangat tepat untuk melakukan pendekatan pada digital native ini. Wallahu A’lam

Selamat Menunaikan Ibadah Shiyam Ramadhan.

Islam, Peradaban

Berubahlah


Yang kekal dalam kehidupan ialah perubahan itu sendiri. Ini merupakan terjemahan  langsung dari pernyataan Heraclitus, seorang Filsuf Yunani, yang hidup sekitar 2500 tahun lalu.  “There is nothing permanent except change”. Hal ini dimaksudkan bahwa mau ataupun tidak mau, manusia tidak dapat lari dari mengalami pelbagai perubahan dalam perjalanan kehidupannya di muka bumi. Baik dalam sekala kecil maupun perubahan yang besar. Pakar Manajemen terkemuka dunia Jack Welch yang sangat fenomenal dan berhasil membesarkan GE, juga menegaskan,  “ Heraclitus ”, artinya berubahlah sebelum Anda dipaksa untuk berubah. Sehingga melahirkan adagium berubah atau mati, yang seringkali dikaitkan dalam bisnis.

Dalam  konteks perubahan ini, sesungguhnya umat Islam memeiliki panduan yang cukup sempurna, yaitu yang terdapat dalam Surat Ar-Ra’d : 11, Allah SWT berfirman,” لَ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia).

Dalam Tafsir Muyassar ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak merubah kenikmatan yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum kecuali jika mereka merubah apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka lalu mereka mendurhakai-Nya. Apabila Allah menghendaki petaka kepada suatu kelompok manusia, maka tidak ada tempat berlari darinya. Mereka tidak mendapatkan selain dari Allah seorang pelindung pun yang mengurusi urusan mereka, lalu suatu yang disenangi didatangkan kepada mereka dan suatu yang tidak disenangi dihindarkan dari mereka.

Dalam konteks tersebut, maka perubahan yang dimaksud adalah perubahan menuju jalan Allah SWT. Atau bisa dikatakan hijrah, dalam artian meninggalkan tatanan kehidupan yang lama (yang tidak/kurang baik), menuju tatanan kekehidupan yang sesuai dengan syariat dan ketentuan Allah SWT, di seluruh aspek kehidupannya. Baik hal itu dilakukan oleh komunitas/kelompok/kaum maupun yang dilakukan oleh individu.

Disis lain, hal tersebut juga menegaskan bahwa perubahan yang dilakukan oleh kelompok, ternyata lebih efektif dilakukan dibandingkan dengan individu.  Dan lebih efektif lagi jika dilakukan oleh pemimpin terlebih dahulu. Sebagaimana perkataan Ibn Khaldun dalam Muqadimmahnya : “Agama raja adalah agama rakyat.”. Artinya rakyat/pengikut/followers akan mudah berubah jika pemimpinnya juga berubah. Kendatipun demikian perubahan secara bottom-up yang di mulai dari individu ternyata juga dapat mempengaruhi perubahan kelompok yang ada. Tergantung dari sudut pandang mana kita memulai dan melihatnya. Dan jika terjadi kombinasi atau sinergitas dalam perubahan tersbut, maka akan melahirkan ekuatan yang dahsyat.

Ramadhan momentum perubahan

Lalu kapan sebaiknya melakukan perubahan itu? Setiap saat kita dituntut untuk melakukan perubahan. Agar kita terus dapat beramal sholeh dan berprestasi sepanjang masa. Sehingga kehidupan dan hari demi hari kita terus diisi oleh kebaikan-kebaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dan esok lebih baik dari hari ini. Meskipun ini hadits dhaif setidaknya, dapat dijadikan motivasi bagi kita untuk selalu berbuat kebaikan itu.

Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk melakukan perubahan, sebagaimana merujuk tafsir di atas. Baik secara individu maupun secara kolektif/kelompok/jama’i. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukan perubahan. Keutamaan dan fasilitas yang disediakan oleh Ramadhan, sangat mendukung untuk melakukan perubahan. Ramadhan adalah proses perubahan. Dengan inputnya iman dan outputnya taqwa. Sehingga perubahan yang dilakukan pada bulan Ramadhan akan sangat efektif dan efisien.

Artinya jika kita ingin memenangkan kehidupan di dunia dan akhirat, maka perubahan harus kita lakukan semenjak diri. Perubahan yang terukur untuk  li i’lai kalimatillah hiyal ulya.  Perubahan bil haq ilal haq. Prubahan yang dimulai dari diri kita. Ibda binafsik. Demi tegaknya peradaban Islam di muka bumi. Maka tidak ada pilihan lain bagi kita.

Berubahlah !

Islam, Peradaban, Politik.

HRS : Ramadhan, Penjara dan Karya Ulama


Kebahagiaan di awal Ramadhan ini menyelimuti HRS dan seluruh keluarganya. Sebab, kemarin, 15/04/2021, media di ramaikan dengan keberhasilan HRS yang lulus dari ujian program doktoral di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) Malaysia. Kabar kelulusan HRS ini, sudah barang tentu disambut dengan penuh rasa syukur oleh warga masyarakat khususnya umat Islam. Kecuali para haters yang masih memendam benci tidak berkesudahan kepada beliau.

Disertasi (di Malaysia di sebut tesis), HRS tersebut berjudul “Metodologi Pemilahan Antara Usul Dan Furu’ Dalam Aqidah Dan Syari’ah Serta Akhlaq Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, merupakan bahasan berat dan mendalam karena isinya membedah 73 aliran dalam Islam telah selesai diuji pada pukul 15.00 waktu Malaysia dan HRS dinyatakan telah lulus dari ujian yang ia lakukan secara online dari Rutan Mabes Polri ini. Sidang disertasi (dalam kampus Malaysia dikenal dengan istilah Viva Voice) diuji oleh Profesor Madya Dr Kamaluddin Nurdin Marjuni serta Dr Ahmed Abdul Malik. Atas kelulusan ini, maka HRS bakal menyandang gelar doktor dari Universitas Sains Islam Malaysia. Selanjutnya beliau berhak mendapat gelar dan mencantumkan P.hD di belakang namanya.

Apa yang menarik dari peristiwa ini? Saat ini HRS sedang dalam penjara untuk kasus yang berlapis, yang terkesan dipaksakan ini. Bahkan sehari sebelumnya, beliau mencecar habis Bima Arya S, Walikota Bogor terkait tuduhan menyembunyikan hasil Swab RS Ummi Bogor, yang juga viral itu. Namun yang menakjubkan adalah, saat sidang desertasi yang berat itu, tetap saja HRS mampu menjawab pertanyaan penguji dengan sangat lugas dan cerdas.

Seolah penjara hanya bisa membatasi fisiknya untuk tidak bergerak keluar jeruji besi, namun tidak untuk ilmu dan fikirannya, justru semakin cemerlang. Mata batinnya semakin tajam. Ruhiyahnya semakin hidup, menyertai setiap aktifitasnya. Karena bagi orang beriman -apalagi ulama- berkarya itu tidak bisa dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Mereka bisa menembus sekat-sekat itu semua, dengan kekuatan ke-imanannya itu sendiri. Dan tentu berkat ridho Allah. Sehingga, demikian halnya dengan shiyam Ramadhan yang sedang dijalaninya, seolah tidak bisa mengunci fisiknya untuk lunglai dan berdiam diri. Tetapi tetap saja tampil dengan lugas, menyala-nyala, penuh ghirah dan semangat.

Sebenarnya realitas ini cukup membungkan bagi siapapun yang selama ini dengan sengaja mengkriminalisasikan beliau. Atau pihak-pihak yang selama ini berseberangan dengan HRS, bahkan mereka yang suka membully, menghina dlsb. Saya haqul yakin pencapaian haters HRS secara akademis tidak bisa dibandingkan dengan HRS. Bagai langit ke-7 dengan dasar sumur.  Bisa jadi, prestasi HRS ini, justru menambah sakit hati bagi para pemebencinya. Maka sudahi saja membenci ulama. Lebih baik bahu-membahu membangun negeri yang sedang terpuruk ini.

Apa yang dialami oleh HRS ini, sesungguhnya juga banyak dialami oleh ulama-ulama terdahulu. Mereka secara fisik dipenjara namun masih tetap bisa dan terus berkarya. Bahkan karya-karya fenomenal itu lahir dibalik jeruji. Ini menegaskan bahwa al ‘ulama warisatul ambiyaa itu adalah sebuah ketetapan. Anda boleh tidak setuju dengan pernyataan saya ini, namun fakta membuktikan begitu.

Beberapa ulama’ yang melahirkan karya saat dipenjara adalah :

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah, dipenjara hingga 12 kali oleh penguasa dzalim saat itu, salah satu karya femomenalnya adalah “Ar Raddu ‘ala Al Ikhnai”. Kitab itu merupakan bantahan terhadap pendapat ulama dari mazhab Hanafi bernama Muhammad bin Abu Bakar Al-Ikhnai.

Sayyid Qutb dipenjara karena tuduhan rencana kudeta dan pembunuhan terhadap Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Saat menjalani masa-masa di penjara, ia merampungkan kitab tafsir kontemplatif bertajuk Fī Dzilālil Qur’an.

Badiuzzaman Said Nursi salah seorang ulama Turki, juga denjara oleh Mustafa Kamal sang pemangku Rezim Otoriter Turki. Beliau berhasil menulis Tafsir Risalah Nur dari balik jeruji penjara. Tulisan ini di tulis di kertas yang berserak bahkan sampul rokok yang dikirimkan ke luar jendela kepada muridnya lalu oleh muridnya dihimpun dan jadi kitab tafsir yang mendorng pergerakan Islam di Turki. Para pembaca Risalah Nur selanjutnya disebut dengan Tulabun Nur.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka juga mengalami nasib yang sama. Ramadan tahun 1348 H bertepatan dengan 1964 M. Hamka dipenjara oleh pemerintah Orde Lama selama dua tahun empat bulan. Pemerintah menuduh Hamka telah melanggar undang-undang Anti-Subversif Pempres No. 11. Lebih spesifik ia dituduh terlibat merencanakan pembunuhan terhadap pemimpin besar revolusi, Presiden Soekarno. Dan dari dalam jeruji itulah lahir Tafsir Al Azhar yang fenomenal itu.

Dan jika diuraikan masih banyak lagi ulama yang dipenjara dan melahirkan karya. Kita tunggu desertasi HRS yang oleh pengujinya direkomendasikan untuk dicetak dan digandakan dalam sebuah buku itu. Sehingga bisa menjadi literatur kelak.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah, memenjarakan ulama’ dengan tuduhan serampangan, karena dianggap berseberangan dengan penguasa, justru akan membangkitkan ghirah ulama’ itu untuk menekuni ilmu. Sebab bisa jadi selama ini, mereka sibuk melayani umat untuk mengisi pengajian, taklim dlsb. Sehingga penjara merupakan sarana uzlah dan rihlah. Olehnya, wajar jika karya-karya besar ulama lahir dari balik jeruji.

Seharusnya pemerintah/penguasa senang jika ada ulama’ yang mengingkatkan, meski mungkin terasa pahit. Anggap, sebagai separing partner. Bukan memenjarakannya. Apalagi penguasa hanya mencari para penjilat, buzzer dan sejenisnya, yang sebenarnya malah menjerumuskan. Syabas dan Tahniah untuk HRS. Wallahu a’lam