Islam, Kronik, Peradaban

Pengangguran Milenial


Pandemi COVID-19 telah menimbulkan gangguan parah pada ekonomi dan pasar tenaga kerja di seluruh dunia. Kembali pada bulan April, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperingatkan bahwa pandemi akan mengancam pekerjaan 68 juta pekerja di seluruh Asia jika wabah berlanjut hingga September 2021.

Sedangkan bagi kaum muda berusia 20 hingga 29 tahun yang telah menghadapi pasar tenaga kerja akan bertambah sulit. Bahkan sebelum krisis virus korona dimulai, situsi pandemi tersebut berdampak tidak proporsional pada prospek pekerjaan mereka.

Kondisi ini tampak dari melonjaknya jumlah pengangguran di tanah air dalam kurun waktu 6 bulan pandemi, di mana lonjakan tersebut mencapai hampir 3 juta orang. Rata-rata mereka adalah lulusan SMA dan Sarjana. Sehingga ini merupakan berkebalikan dengan asumsi kebanyakan orang selama ini, bahwa makin tinggi pendidikannya, maka makin bisa mencari banyak pekerjaan. Sebab faktanya berbicara lain.

Jika melihat dari grafik di atas yang bersumber dari ILO (International Labour Organization), maka tingkat pengangguran usia muda di Indonesa, jelas tertinggi dianding dengan negara-negara lain di ASEAN. Sebenarnya pada triwulan pertama tahun 2020, sempat turun di banding triwulan ke-empat Tahun 2019. Namun, dengan adanya pandemi, laporan terbaru menyebutkan bahwa pengangguran di kalangan milenial ini hampir menyentuh di angka 20%. Sehingga masih tetapi tertinggi di antara negara-negara ASEAN tersebut. Tentu ini kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dalam konteks Indonesia, tidak bisa kemudian hanya menyalahkan pamdemi, sebagai penyebab utama dari  banyaknya pengangguran itu. Senyatanya, sebelum pandemi-pun, angka pengangguran di golongan ini sudah tinggi. Menurut laporan BPS, secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 tercatat 6,26%. Ini pun meningkat dari posisi pada Februari 2020 yang sebesar 4,94%, tetapi turun dari posisi Agustus 2020 yang sebesar 7,07%.

BPS juga menyebutkan bahwa Data BPS menunjukkan, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta orang pada September 2020. Jumlah tersebut meningkat 2,76 juta dibandingkan posisi September 2019. Angka tersebut membuat kemiskinan Indonesia kembali ke level 10 persen dari jumlah penduduk, yakni sebesar 10,19 persen, setelah Tahun 2018 hingga 2019 berada di 1 digit, yaitu 9,82% dan 9,22 %. Meski fluktuatif, tetap pada kisaran itu.

Oleh karenanya, pemerintah harus melakukan penanganan serius dua hal ini, yaitu masalah pengangguran dan kemiskinan. Mesti dilaksanakan secara integratif, karena untuk mengurangi kemiskinan yang terbaik adalah dengan memberikan orang-orang miskin lapangan kerja daripada bansos. Bansos tetap dibutuhkan dalam kondisi darurat, tapi untuk bisa orang miskin terangkat menjadi sejahtera secara berkelanjutan dengan memberikan lapangan kerja.

Sehingga apapun alasannya, penyediaan lapangan kerja ini menjadi solusi yang tidak bisa di tawar lagi. Dorongan ini dapat dengan membuka proyek-proyek padat karya, ataupun stimulus ekonomi lainnya yang mendorong masyarakat untuk berproduksi. Sehingga ekonomi bergerak dan pengangguran tereliminir. Meskipun tidak semudah yang disarankan, akan tetapi langkah taktis dan strategis perlu segera dirumuskan dan diimplementasikan. Karena itulah tugas negara. Memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Terkait dengan penggauran muda tersebut, ILO mencatat bahwa beberapa anak muda akan menghadapi kesulitan menyeimbangkan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan untuk melengkapi pendapatan keluarga. Yang lain akan menghadapi tantangan untuk mencari pekerjaan pertama mereka di pasar tenaga kerja dengan permintaan yang sangat terbatas. Lebih banyak kaum muda akan menghadapi kesulitan dalam peralihan dari pekerjaan tidak tetap dan informal ke pekerjaan yang layak. Dan semakin banyak kaum muda yang tidak bekerja atau dalam pendidikan atau pelatihan, mungkin semakin terlepas dari pasar tenaga kerja.

Selanjutnya, ILO merekomendasikan  Pendekatan yang komprehensif dan terarah untuk  active labour market programmes (program pasar kerja aktif /ALMP’s) harus menjadi inti dari respons ketenagakerjaan muda dan paket pemulihan ekonomi sekaligus satu paket dengan pengurangan kemiskinan.

Sehingga, hal ini termasuk menyediakan program subsidi upah yang ditargetkan untuk kaum muda, mendukung kaum muda dalam perencanaan pekerjaan dan bantuan pencarian kerja, memperluas akses kaum muda untuk mendapatkan kembali keterampilan dan peningkatan keterampilan, dan berinvestasi dalam kewirausahaan kaum muda.

Sebagai catatan, ini tantangan bagi Indonesia yang sedang akan memanen dari bonus demografi. Sehingga menjadi tantangan yang sangat menantang bagi bangsa ini. Sebab jika gagal mengelola kaum muda ini, maka bisa dipastikan akan menjadi gagalnya dari bonus demografi itu sendiri.

Dengan demikian maka, program entrepreneur muda, menjadi salah satu yang perlu di dorong untuk kaum muda ini, yaitu dengan membangun start-up dari yang sederhana hingga yang berteknologi tinggi, sehingga sesuai dengan dunia anak muda tersebut. Sehingga dengan prosentasi lebih dari 65% dari total populasi bangsa ini, maka jika kaum mudanya terangkat, berarti akan mengangkat bangsa dan negara ini menuju bangsa yang adil dan makmur. Baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam.

Tulisan ini di muat di JannahQu | Asih Soebagyo : Pengangguran Milenial

ekonomi, Islam, IT, Peradaban

Digitalisasi Zakat


BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), memperkirakan potensi zakat di Tanah Air pada 2021 mencapai Rp327,6 triliun. Namun, sejauh ini realisasinya baru Rp71,4 triliun. Adapun, lebih dari 85 persen dari zakat yang terkumpul dilakukan melalui Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) tidak resmi.

Angka tersebut terdiri dari zakat perusahaan (Rp144,5 triliun), zakat penghasilan dan jasa (Rp139,07 triliun), zakat uang (Rp58,76 triliun), zakat pertanian (Rp19,79 triliun), dan zakat peternakan (Rp9,52 triliun).

Sementara Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) berjumlah 545 lembaga. Merupakan Amil terbanyak dalam sebuah negara di dunia. Tidak ada negara manapun di kolong lngit ini yang memiliki OPZ sebanyak Indonesia. Data tersebut, terdiri dari Badan Amil Zakat Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/Kota. Serta Lembaga Amil Zakat (LAZ), baik tingkat Nasional, Propinsi, maupun Kabupaten/Kota. Sehingga potensi yang sedemikian besar itu, sebenarnya menjadi tanggungjawab dari 545 OPZ tersebut di atas.

Sementara untuk Ramadhan 2021 tahun ini, BAZNAS dengan seluruh jaringannya menargetkan penerimaan sebesar 6 Trilyun. Sedangkan LAZ memiliki target masing-masing. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini, maka penerimaan/penghimpunan Zakat di bulan Ramadhan, biasanya meningkat hingga minimal 3 (tiga) kali lipat atau lebih dari penerimaan bulan-bulan biasanya.

Karena kesadaran umat untuk berzakat di bulan ramadhan memang selalu meningkat. Sementara itu, penerimaan tahunan dari LAZ rerata naik di kisaran 25-30 % per Tahun, termasuk pada tahun 2020 kemarin, saat pandemi sudah mulai. Berdasarkan laporan tahunan dari Baitul Maal Hidayatullah, salah satu LAZ Nasional rata-rata pertumbuhannya sekitar 30% per tahun.

Menurut data PUSKAS BAZNAS (2020), skor pemahaman dasar zakat maupun skor indeks literasi zakat masih pada tahap moderat, yakni masing-masing 72,21 dan 66,78. Sementara untuk skor pemahaman lanjutan zakat tercatat rendah, yakni 56,68. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi untuk meningkatkan literasi zakat. Catatan lainnya, tingkat literasi zakat di kalangan anak muda masih terhitung rendah

Dari survey tersebut ditemukan data bahwa sumber informasi zakat tertinggi berasal dari ceramah ustadz (46%). Selanjutnya, informasi zakat didapat masyarakat dari kantor atau kampus (17%), media sosial (16%), keluarga (13%), media elektronik (5%), dan media cetak (3%).

Fakta lainnya, 60% masyarakat masih menunaikan zakat di luar lebaga zakat resmi, yakni 37% menyalurkan zakatnya langsung ke mesjid dan 23% langsung ke muztahik (penerima zakat). Hanya 40% yang menyalurkannya ke lembaga zakat resmi, yakni melalui Baznas (25%) dan Lembaga Amil Zakat (15%).

Jika merujuk kenyataan bahwa dari data demografi kependudukan yang ada saat ini, dan juga dari survey di atas, ternyata tingkat literasi di kalangan anak muda terhitung rendah. Padahal, jumlah generasi milenial dan sesudahnya, berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 saat ini lebih dari 65% dari total penduduk Indonesia. Sehingga, sesungguhnya market terbesar dari zakat ini adalah generasi milenial, generasi Z dan sesudahnya itu. Sehingga perlu digarap lebih serius lagi.

Dalam berbagai kesempatan, telah disampaikan bahwa, ada beberapa karakteristik dari generasi milenial ini. Yaitu selain suka berbagi, juga digital native. Suka berbagi ini, bisa kita lihat berbagai portal/ apps crowdfunding yang berhasil menghimpun dana receh dari kalangan anak muda ini. Jika selama ini motivasinya adalah lebih banyak terkait dengan kegiatan dan solidaritas sosial, maka melalui edukasi yang memadai, bisa diarahkan untuk lebih bernuansa ibadah (keagamaan), bisa dalam bentuk zakat, infaq, shadaqah, atau wakaf. Sehingga selain faktor dorongan sosial tersebut di atas, juga ada motivasi untuk beribadah.

Tantangan berikutnya adalah, bagaimana menyiapkan portal/apps yang bisa menarik kalangan muda itu untuk menggunakannya. Sebab sebagai digital native, mereka sebenarnya sangat cepat untuk beradaptasi menggunakan perangkat dan aplikasi digital dalam bentuk apapun juga. Asalkan bisa menarik dan mewakili keberadaan, kepentingan dan eksistensi mereka, maka mereka akan dengan sukarela berbondong-bondong untuk menggunakan aplikasi tersebut. Namun sebaliknya, jika tidak menarik bagi mereka, sangat mudah untuk meninggalkannya.

Dengan demikian maka digitalisasi zakat ini menjadi sebuah keniscayaan. Satu sisi untuk mempermudah dalam proses penghimpunan. Disisi lain adalah untuk melayani generasi muda yang memang digital minded. Hal ini erat kaitannya dengan inklusi keuangan yang saat ini sudah cukup bagus. Bahkan kecenderungan generasi milenial ini adalah membangun cashless society. Lebih menyukai transaksi digital dibanding dengan transaksi tunai. Sehingga saat ini, momentumnya sangat tepat, seiring dengan pandemi yang belum surut, maka umat dapat  membayar zakat dengan mudah melalui kanal digital sekaligus mengurangi kontak fisik demi menekan risiko penyebaran virus corona.

Oleh karenanya hal ini menjadi tantangan bagi BAZNAS dan LAZ untuk kemudian membuka kanal digital sebanyak-banyaknya. Dengan melakukan kolaborasi berbagai pihak, provider kanal digital ini. Sehingga generasi milenial akan mendapatkan kemudahan dalam membayar zakat. Selanjutnya hal ini juga akan men-trigger peningkatan literasi zakat dikalangan generasi muda, yang muaranya adalah peningkatan penghimpunan zakat yang lebih transparan dan akuntabel. Sehingga akan lebih banyak lagi muzaki muda pembayar zakat dan pendistribusian terhadap mustahik yang lebih merata. . Wallahu a’lam

Islam

Berburu Lailatul Qadr


Ada sebuah pelajaran dari pacuan kuda, ketika mendekati garis finish justru, kuda tersebut akan berpacu lebih kencang lagi. Hal ini juga berlaku bagi pada pelari, jarak pendek maupun jarak pendek. Semua sama, ketika mendekati akhir perlombaan jutsru mempercepat lajunya. Demikian pula ketika pembalap sepeda, semakin dekat dengan ujung garis akhir perlombaan, semakin kuat ayunannya, sehingga mencapai finish duluan. Hal yang sama terjadi untuk hampir semua perlombaan jenis apapun juga, effort di akhir menjadi sebuah keniscayaan, jika ingin memenangkan perlombaan.

Jika di ibaratkan perlombaan tersebut di atas, maka hari-hari ini, kita berada di penghujung ramadhan. Maka, menjadi menyalahi sunnatullah untuk meraih kemenangan, jika kemudian di hari-hari ini, kita malah santai di banding hari-hari berikutnya. Artinya, seharusnya justru kita memacu ibadah kita. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Tidak ada pilihan lain jika kita ingin meraih keutamaan ramadhan yang liar biasa itu.

Modal dasar dari yang melaksanakan puasa adalah beriman, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al Baqarah : 183 adalah panggilan terhadap orang yang beriman. Sehingga orang yang tidak beriman tidak diwajibkan berpuasa. Olehnya jika ada orang yang tidak beriman kemudian nyinyir terhada ibadah puasa ramadhan dan seluruh kandungan di dalamnya, wajar saja. Sebab perintah ini bukan untuknya. Kemudian ada proses yang sama, yaitu puasa. Secara Bahasa puasa atau dalam Bahasa Arab -disebut dengan Ash Shiyaam (الصيام) atau Ash Shaum (الصوم) artinya adalah al imsaak (الإمساك) yaitu menahan diri. Puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Kemudian outpunya adalah takwa.

Pertanyaanya adalah mengapa setiap tahun orang beriman berpuasa, akan tetapi ternyata tidak ada standar ketaqwaan yang mewarnai kehidupan umat pada hari-hari berikutnya. Maka jawabanya bisa panjang. Akan tetapi bisa jadi input-nya, tingkat keimanan yang berbeda. Proses dalam berpuasa juga belum sempurna. Sehingga outputnya tidak standar.

Akhir ramadhan memang diberikan fasilitas bagi setiap muslim yang melaksanakan shiyam ramadhan. Sehingga umat islam di akhir bulan ramadhan ini berbondong-bondong memenuhi masjid, sebagaiman di contohkan oleh Rasulullah SAW untuk melakukan I’tikaf. Dan kemudian juga dilanjutkan qiyamul lail disepertiga malam terkahir.

Fenomena yang terjadi di umat beberapa decade terakhir ini, akan memenuhi masjid disetiap malam-malam ganjil di kahir ramadhan. Biasanya puncaknya, setiap malam 27 ramadhan. Maka masjid-masjid akan dipenuhi jama’ah untuk ber I’tikaf dan melakukan qiyamul lail. Di beberapa masjid, rerata imamnya adalah para huffadz. Dan untuk 8 rekaat, dibacakan 1 juz, di tambah 3 rekaat witir. Di rekaat akhir witir, selalu membaca do’a qunut, dan biasanya menggores para jama’ah hingga menangis bersama.

Mengapa selalu berburu lalilatul qadar di sepertiga malam terakhir? Karena mereka berpegang pada hadits-hadits berikut , saya kutip dari Rumasyo:

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”  (HR. Bukhari)

 Dari deretan hadits tersebut di atas, maka kesimpulannya adalah malam lailatul qadr terjadi di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan dan itu terjadi di malam-malam ganjil. Oleh karena itu mari, berburu lailatul qadr, semoga kita semua dapat mendapatkannya, sehingga mampu mendapatkan kebaikan yang senilai 1.000 bulan. Wallahu a’lam

Islam, Peradaban

Menjadikan Akhir Lebih Baik


James C. Collins, seorang konsultan bisnis di USA pada tahun 1994, menulis sebuah buku yang berjudul Built to Last, merupakan riset klasik yang terkenal mengenai perusahaan visioner, yaitu perusahaan yang unggul di industrinya, disegani kompetitor dan terbukti memiliki dampak positif pada dunia. Dari buku ini, Anda dapat memahami rahasia dari perusahaan-perusahaan visioner tersebut. Dia menulis bersama dengan Jerry I. Porras seoranh seorang Professor Emeritus di bidang perilaku organisasi dan perubahan di Stanford University Graduate School of Business.

Secara ringkas, ada sebuah pertanyaan dari penulisnya, berkenaan apa yang terjadi dalam sepanjang sejarah,: “Apa yang membuat perusahaan yang benar-benar luar biasa berbeda dari perusahaan pembanding dan apa praktik umum yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan hebat yang bertahan lama ini sepanjang sejarah mereka?”

Dari pertanyaan itu,maka buku ini dipenuhi dengan ratusan contoh spesifik dan diatur ke dalam kerangka konsep praktis yang koheren yang dapat diterapkan oleh manajer dan wirausahawan di semua tingkatan. Built to Last memberikan master blue print untuk membangun organisasi yang akan makmur hingga abad ke-21 dan seterusnya. Intinya Collins mengajarkan kita unytuk melawan mitos-mitos bisnis, yang seringkali berjalan secara skuensial, akan tetapi justru membangun dan memulai dari ujung (goal) dari visi organisasi, kemudian di tarik kedepan.

Sehingga, buku pertama Collins ini, merupakan salah satu buku bisnis paling berpengaruh di era kita bahkan setelah hampir 20 tahun sejak pertama kali diterbitkan.

Hal yang sama sebenarnya juga telah menjadi pondasi dasar saat pak Habibie ketika memulai dan membangun BPPT beserta Industri Strategis yang berada di bawahnya. Salah satunya adalah tentang prinsip ‘Berawal di Akhir, Berakhir di Awal’ yang dipopulerkan Habibie untuk membuat lompatan-lompatan mutakhir dalam kemajuan teknologi di Indonesia. Secara sederhana bisa dijelaskan dengan membangun produk jadinya dulu, kemudian melakukan reverse engineering. Dari sini kemudian dapat ketemu model dan design-nya. Dengan demikian maka, akan ketemu proses yang utuh, dari design, model dan produknya yang dapat diimplementasikan dengan sendirinya. Itulah yang melatari IPTN (PT DI), PT PAL, PINDAD dlsb. Sayang beberapa tidak bisa berjanjut karena visi pengambil kebijakan yang berbeda. Meski masih ada yang terus berlanjut.

Dalam sebuah hadits dijelaskan اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالْخَوَاتِم (“Setiap amal tergantung dengan penutupnya” HR Ahmad :22835, HR. Bukhari : 6607). Artinya setiap karya manusia itu, sebenarnya akan dapat dinilai dengan bagaimana finishingnya. Kadang pada permulaannya tidak kelihatan bagus, tidak teratur, sebagaimana dalam membangun rumah misalnya. Pada pekerjaan 60-70%, maka temboknya masih belum di plester, masih belum ada pintu dan jendela, belum ada keramik dlsb. Akan tetapi di 30% terakhir saat dilakukan finishing, pelan-pelan akan kelihatan bagus. Dan ketika sudah 100% juga akan sempurna.

Di dalam surat Adh-Dhuha ayat : 4, Allah SWT berfirman :وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ (Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan bahwa : Kemudian Allah ﷻ mengabarkan kepada Nabi-Nya bahwasanya apa yang Allah ﷻ siapkan untuknya di akhirat adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Allah ﷻ tidak akan meninggalkanmu didunia wahai Muhammad, akan tetapi apa yang Tuhanmu siapkan di akhirat adalah kenikmatan yang jauh lebih baik dan tidak akan musnah. { وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ } Surga yang Allah ﷻ siapkan untuk NAbi-Nya adalah lebih baik daripada apa yang telah Dia ﷻ berikan kepadanya didunia, oleh karena itu harta dan kekuasaan dunia tidak pernah manguasai Nabi Muhammad ﷺ , sebagaimana para Raja-raja dan penguasa lainnya tunduk dan menjadi hamba harta dunia, karena sesungguhnya dunia akan musnah dan hancur, dan tidak akan ada lagi kehidupan didalamya, maka Allah ﷻ memberikan kekayaan dunia ini kepada Nabi-Nya secukupnya.

Lalu apa korelasinya semua itu. Setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan untuk urusan dunia saja, kita juga mesti ber-orientasi apa yang akan terjadi nanti. Karena, jika tidak kita tidak akan mampu memenangkan apa yang terjadi di masa depan. Dari situ, maka kita akan dapat menarik ke masa kini. Apa saja yang harus dikerjakan, sehingga mampu memenangkan masa depan itu. Jika urusan dunia sudah jelas juga ukurannya. Demikian juga urusan akhirat yang dijanjikan lebih baik itu, juga lebih jelas dan terang benderang parameternya.

Kini, pilihan ada di tangan kita. Agar fidunya hasanah da fil akhirati hasanah, langkah apa saja yang harus kita lakukan. Tiap-tiap orang jelas punya prioritas, namun setidaknya tulisan sederhana ini, dapat dijadikan guideline. Wallahu A’lam.

Entrepreneurship, Islam

The Next Leader


Dalam pekan kemarin, Saya mendapat kesempatan untuk diskusi dengan anak-anak muda. Di Legoso, diskusi seara offline dengan anak-anak Pesmadai (Peantren Mahasiswa Da’i) yang santrinya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tingga, berbagai jenis program studi, yang kebanyakan di dominasi oleh mahasiswa UIN Jakarta. Mereka berasal dari semester 3 hingga semester akhir. Dan rerata masuk dalam katagori generasi Z.

Demikain halnya, kemarin malam juga berdiskusi dengan beberapa adik-adik mahasiswa yang sedang mengemban pendidikan di berbagai negara. Tercatat peserta berasal dari berbagai kampus dan pergurun  tunggi mancanegara yang terdiri dari negara : Malaysia, Turki, Mesir, Yaman, Sudan dan Saudi. Sama, rerata mereka adalah generasi Z.

Sebagaimana kita ketahui, dikutip dari Wikipedia, Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi. Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Y, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa diantaranya merupakan keturunan dari Generasi X dan Y.

Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik dan murattal menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi (digital native) dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka

Menurut, psikolog Elizabeth T. Santosa dalam bukunya yang berjudul “Raising Children in Digital Era” mencatat ada 7 karakteristik generasi yang lahir di era digital ini. Karakteristik tersebut terdiri dari : 1) Memiliki ambisi besar untuk sukses, 2) Berperilaku instan, 3) Cinta kebebasan, 4) Percaya diri, 5) Menyukai hal yang detail, 6) Keinginan untuk mendapatkan pengakuan, 7) Digital dan teknologi informasi.

Ketujuh karakteristik ini, memang sangat terlihat jika kita dekat dan berdiskusi dengan mereka. Tidak bisa model pendekatan satu arah, akan tetapi mesti melakukan pendekatan dialogis. Bukan di dikte, tetapi dirangkul. Bukan di kasih tahu, tetapi diarahkan, dst. Intinya, komunikasi dengan generasi Z ini, mesti mampu menyelami bagaimana psikologi mereka. Tidak bisa mentang-mentang kita lebih senior, kemudian mengatur-atur, pasti akan ditinggalkan, sebab pada dasarnya mereka perlu mendapatkan pengakuan.

Akan tetapi, satu hal pesan yang harus disampaikan kepada generasi Z adalah bahwa mereka merupakan calon pemimpin masa depan. Sebagaimana dalam pepatah Arab : “شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ (syubbanul yaum rijalul ghad), pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.”  Demikian juga Amirul Mukminin Umar bin Khathab pernah berpesan dalam atsarnya : تَفَقَّهُوْا قَبْلَ أَنْ تَسُوْدُوْ “Belajarlah kalian sehingga berilmu sebelum kalian menjadi pemimpin”. Artinya jelas bahwa masa depan sebuah bangs aitu berada di tangan pemuda.

Saya sampaikan juga nasihat dari Hasan Al Bashri rahimahullah,“Dunia itu hanya tiga hari. Kemarin, yang tak kan terulang. Besok, yang belum tentu menemuinya. Hari ini, tempat menabung amalan kita”. Artinya masa lalu sebagai sebuah pelajaran, karena kita memang dapat belajar dari masa lalu, akan tetapi tidak bisa Kembali ke masa lalu. Sedangkan besok, atau masa depan belum tentu kita bisa menemuinya, akan tetapi kita bisa merancang masa depan berbekal ilmu pengetahuan. Sedangkan hari ini adalah relaitas yang kita hadapi, dimana kita mesti beramal di masa ini, sebagai bekal untuk menggapai masa depan.

Oleh karenanya, saya berpesan kurang lebioh seperti ini :

  • Setiap pemuda harus merancang roadmap (peta jalan) masa depanya, sehingga pemuda juga mesti memiliki visi besar, bahkan bisa jadi melampaui kediriannya.
  • Perubahan-perubahan besar dunia selalu digerakkan pemuda, oleh karenanya persiapakan diri menjadi bagian dari perubahan itu.
  • Sebagai Generasi Z, maka ada keharusan untuk mengubah definisi Generasi Z yang negative, diubah menjadi kekuatan positif
  • Setiap pemuda dituntut untuk memiliki legacy, sebagai bagian dari menciptakan sejarah. Sebagaimana pesan dari Allahuyarham Ustadz Abdullah Said,“Jangan hanya jadi pembaca sejarah, jadilah pembuat sejarah.”
  • Didalam diri setiap pemuda muslim, harus melekat dirinya sebagai da’i. Sebagai ilustrasinya adlah Kuburan Baqi’ di dekat Masjid Nabawi itu hanya diisi ribuan jenazah Sahabat. Dimana ratusan ribu lainnya? Semua bertebaran berda’wah di seluruh penjuru dunia
  • Pemuda seharusnya mampu menilai berbagai kekacauan Indonesia saat ini dari kejauhan, siapkan diri kalian untuk memperbaiki masa depan Indonesia dna dunia.
  • Pemuda harus menjadi singa-singa penjaga dienullah.
  • Kunci sekaligus problem kebanyakan generasi Z adalah manajemen waktu, sehingga ini mesti di jaga. Akan tetapi dengan ciri lain dari generasi Z yang multitasking dan digital native, in Syaa Allah akan bisa menyelesaikan itu semua.

Sekalilagi diskusi dengan generasi Z itu sangat mengasyikkan, sebab tabnta disadari seakan Kembali ke masa-masa itu, dimana idelisme itu memang menggelegak seolah-oleh dapat menaklukkan dunia. Dan tugas generasi senior adalah King Maker. Leader Maker. Mengantarkan mereka menjadi pemimpin masa depan. Menjadi the next leader. Wallahu a’lam.