Islam

Berburu Lailatul Qadr


Ada sebuah pelajaran dari pacuan kuda, ketika mendekati garis finish justru, kuda tersebut akan berpacu lebih kencang lagi. Hal ini juga berlaku bagi pada pelari, jarak pendek maupun jarak pendek. Semua sama, ketika mendekati akhir perlombaan jutsru mempercepat lajunya. Demikian pula ketika pembalap sepeda, semakin dekat dengan ujung garis akhir perlombaan, semakin kuat ayunannya, sehingga mencapai finish duluan. Hal yang sama terjadi untuk hampir semua perlombaan jenis apapun juga, effort di akhir menjadi sebuah keniscayaan, jika ingin memenangkan perlombaan.

Jika di ibaratkan perlombaan tersebut di atas, maka hari-hari ini, kita berada di penghujung ramadhan. Maka, menjadi menyalahi sunnatullah untuk meraih kemenangan, jika kemudian di hari-hari ini, kita malah santai di banding hari-hari berikutnya. Artinya, seharusnya justru kita memacu ibadah kita. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Tidak ada pilihan lain jika kita ingin meraih keutamaan ramadhan yang liar biasa itu.

Modal dasar dari yang melaksanakan puasa adalah beriman, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al Baqarah : 183 adalah panggilan terhadap orang yang beriman. Sehingga orang yang tidak beriman tidak diwajibkan berpuasa. Olehnya jika ada orang yang tidak beriman kemudian nyinyir terhada ibadah puasa ramadhan dan seluruh kandungan di dalamnya, wajar saja. Sebab perintah ini bukan untuknya. Kemudian ada proses yang sama, yaitu puasa. Secara Bahasa puasa atau dalam Bahasa Arab -disebut dengan Ash Shiyaam (الصيام) atau Ash Shaum (الصوم) artinya adalah al imsaak (الإمساك) yaitu menahan diri. Puasa dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa. Kemudian outpunya adalah takwa.

Pertanyaanya adalah mengapa setiap tahun orang beriman berpuasa, akan tetapi ternyata tidak ada standar ketaqwaan yang mewarnai kehidupan umat pada hari-hari berikutnya. Maka jawabanya bisa panjang. Akan tetapi bisa jadi input-nya, tingkat keimanan yang berbeda. Proses dalam berpuasa juga belum sempurna. Sehingga outputnya tidak standar.

Akhir ramadhan memang diberikan fasilitas bagi setiap muslim yang melaksanakan shiyam ramadhan. Sehingga umat islam di akhir bulan ramadhan ini berbondong-bondong memenuhi masjid, sebagaiman di contohkan oleh Rasulullah SAW untuk melakukan I’tikaf. Dan kemudian juga dilanjutkan qiyamul lail disepertiga malam terkahir.

Fenomena yang terjadi di umat beberapa decade terakhir ini, akan memenuhi masjid disetiap malam-malam ganjil di kahir ramadhan. Biasanya puncaknya, setiap malam 27 ramadhan. Maka masjid-masjid akan dipenuhi jama’ah untuk ber I’tikaf dan melakukan qiyamul lail. Di beberapa masjid, rerata imamnya adalah para huffadz. Dan untuk 8 rekaat, dibacakan 1 juz, di tambah 3 rekaat witir. Di rekaat akhir witir, selalu membaca do’a qunut, dan biasanya menggores para jama’ah hingga menangis bersama.

Mengapa selalu berburu lalilatul qadar di sepertiga malam terakhir? Karena mereka berpegang pada hadits-hadits berikut , saya kutip dari Rumasyo:

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”  (HR. Bukhari)

 Dari deretan hadits tersebut di atas, maka kesimpulannya adalah malam lailatul qadr terjadi di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan dan itu terjadi di malam-malam ganjil. Oleh karena itu mari, berburu lailatul qadr, semoga kita semua dapat mendapatkannya, sehingga mampu mendapatkan kebaikan yang senilai 1.000 bulan. Wallahu a’lam

Islam, Peradaban

Menjadikan Akhir Lebih Baik


James C. Collins, seorang konsultan bisnis di USA pada tahun 1994, menulis sebuah buku yang berjudul Built to Last, merupakan riset klasik yang terkenal mengenai perusahaan visioner, yaitu perusahaan yang unggul di industrinya, disegani kompetitor dan terbukti memiliki dampak positif pada dunia. Dari buku ini, Anda dapat memahami rahasia dari perusahaan-perusahaan visioner tersebut. Dia menulis bersama dengan Jerry I. Porras seoranh seorang Professor Emeritus di bidang perilaku organisasi dan perubahan di Stanford University Graduate School of Business.

Secara ringkas, ada sebuah pertanyaan dari penulisnya, berkenaan apa yang terjadi dalam sepanjang sejarah,: “Apa yang membuat perusahaan yang benar-benar luar biasa berbeda dari perusahaan pembanding dan apa praktik umum yang diikuti oleh perusahaan-perusahaan hebat yang bertahan lama ini sepanjang sejarah mereka?”

Dari pertanyaan itu,maka buku ini dipenuhi dengan ratusan contoh spesifik dan diatur ke dalam kerangka konsep praktis yang koheren yang dapat diterapkan oleh manajer dan wirausahawan di semua tingkatan. Built to Last memberikan master blue print untuk membangun organisasi yang akan makmur hingga abad ke-21 dan seterusnya. Intinya Collins mengajarkan kita unytuk melawan mitos-mitos bisnis, yang seringkali berjalan secara skuensial, akan tetapi justru membangun dan memulai dari ujung (goal) dari visi organisasi, kemudian di tarik kedepan.

Sehingga, buku pertama Collins ini, merupakan salah satu buku bisnis paling berpengaruh di era kita bahkan setelah hampir 20 tahun sejak pertama kali diterbitkan.

Hal yang sama sebenarnya juga telah menjadi pondasi dasar saat pak Habibie ketika memulai dan membangun BPPT beserta Industri Strategis yang berada di bawahnya. Salah satunya adalah tentang prinsip ‘Berawal di Akhir, Berakhir di Awal’ yang dipopulerkan Habibie untuk membuat lompatan-lompatan mutakhir dalam kemajuan teknologi di Indonesia. Secara sederhana bisa dijelaskan dengan membangun produk jadinya dulu, kemudian melakukan reverse engineering. Dari sini kemudian dapat ketemu model dan design-nya. Dengan demikian maka, akan ketemu proses yang utuh, dari design, model dan produknya yang dapat diimplementasikan dengan sendirinya. Itulah yang melatari IPTN (PT DI), PT PAL, PINDAD dlsb. Sayang beberapa tidak bisa berjanjut karena visi pengambil kebijakan yang berbeda. Meski masih ada yang terus berlanjut.

Dalam sebuah hadits dijelaskan اِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالْخَوَاتِم (“Setiap amal tergantung dengan penutupnya” HR Ahmad :22835, HR. Bukhari : 6607). Artinya setiap karya manusia itu, sebenarnya akan dapat dinilai dengan bagaimana finishingnya. Kadang pada permulaannya tidak kelihatan bagus, tidak teratur, sebagaimana dalam membangun rumah misalnya. Pada pekerjaan 60-70%, maka temboknya masih belum di plester, masih belum ada pintu dan jendela, belum ada keramik dlsb. Akan tetapi di 30% terakhir saat dilakukan finishing, pelan-pelan akan kelihatan bagus. Dan ketika sudah 100% juga akan sempurna.

Di dalam surat Adh-Dhuha ayat : 4, Allah SWT berfirman :وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ (Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan bahwa : Kemudian Allah ﷻ mengabarkan kepada Nabi-Nya bahwasanya apa yang Allah ﷻ siapkan untuknya di akhirat adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Allah ﷻ tidak akan meninggalkanmu didunia wahai Muhammad, akan tetapi apa yang Tuhanmu siapkan di akhirat adalah kenikmatan yang jauh lebih baik dan tidak akan musnah. { وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ } Surga yang Allah ﷻ siapkan untuk NAbi-Nya adalah lebih baik daripada apa yang telah Dia ﷻ berikan kepadanya didunia, oleh karena itu harta dan kekuasaan dunia tidak pernah manguasai Nabi Muhammad ﷺ , sebagaimana para Raja-raja dan penguasa lainnya tunduk dan menjadi hamba harta dunia, karena sesungguhnya dunia akan musnah dan hancur, dan tidak akan ada lagi kehidupan didalamya, maka Allah ﷻ memberikan kekayaan dunia ini kepada Nabi-Nya secukupnya.

Lalu apa korelasinya semua itu. Setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan untuk urusan dunia saja, kita juga mesti ber-orientasi apa yang akan terjadi nanti. Karena, jika tidak kita tidak akan mampu memenangkan apa yang terjadi di masa depan. Dari situ, maka kita akan dapat menarik ke masa kini. Apa saja yang harus dikerjakan, sehingga mampu memenangkan masa depan itu. Jika urusan dunia sudah jelas juga ukurannya. Demikian juga urusan akhirat yang dijanjikan lebih baik itu, juga lebih jelas dan terang benderang parameternya.

Kini, pilihan ada di tangan kita. Agar fidunya hasanah da fil akhirati hasanah, langkah apa saja yang harus kita lakukan. Tiap-tiap orang jelas punya prioritas, namun setidaknya tulisan sederhana ini, dapat dijadikan guideline. Wallahu A’lam.

Entrepreneurship, Islam

The Next Leader


Dalam pekan kemarin, Saya mendapat kesempatan untuk diskusi dengan anak-anak muda. Di Legoso, diskusi seara offline dengan anak-anak Pesmadai (Peantren Mahasiswa Da’i) yang santrinya adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tingga, berbagai jenis program studi, yang kebanyakan di dominasi oleh mahasiswa UIN Jakarta. Mereka berasal dari semester 3 hingga semester akhir. Dan rerata masuk dalam katagori generasi Z.

Demikain halnya, kemarin malam juga berdiskusi dengan beberapa adik-adik mahasiswa yang sedang mengemban pendidikan di berbagai negara. Tercatat peserta berasal dari berbagai kampus dan pergurun  tunggi mancanegara yang terdiri dari negara : Malaysia, Turki, Mesir, Yaman, Sudan dan Saudi. Sama, rerata mereka adalah generasi Z.

Sebagaimana kita ketahui, dikutip dari Wikipedia, Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010 masehi. Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Y, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa diantaranya merupakan keturunan dari Generasi X dan Y.

Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik dan murattal menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi (digital native) dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka

Menurut, psikolog Elizabeth T. Santosa dalam bukunya yang berjudul “Raising Children in Digital Era” mencatat ada 7 karakteristik generasi yang lahir di era digital ini. Karakteristik tersebut terdiri dari : 1) Memiliki ambisi besar untuk sukses, 2) Berperilaku instan, 3) Cinta kebebasan, 4) Percaya diri, 5) Menyukai hal yang detail, 6) Keinginan untuk mendapatkan pengakuan, 7) Digital dan teknologi informasi.

Ketujuh karakteristik ini, memang sangat terlihat jika kita dekat dan berdiskusi dengan mereka. Tidak bisa model pendekatan satu arah, akan tetapi mesti melakukan pendekatan dialogis. Bukan di dikte, tetapi dirangkul. Bukan di kasih tahu, tetapi diarahkan, dst. Intinya, komunikasi dengan generasi Z ini, mesti mampu menyelami bagaimana psikologi mereka. Tidak bisa mentang-mentang kita lebih senior, kemudian mengatur-atur, pasti akan ditinggalkan, sebab pada dasarnya mereka perlu mendapatkan pengakuan.

Akan tetapi, satu hal pesan yang harus disampaikan kepada generasi Z adalah bahwa mereka merupakan calon pemimpin masa depan. Sebagaimana dalam pepatah Arab : “شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الْغَدِ (syubbanul yaum rijalul ghad), pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.”  Demikian juga Amirul Mukminin Umar bin Khathab pernah berpesan dalam atsarnya : تَفَقَّهُوْا قَبْلَ أَنْ تَسُوْدُوْ “Belajarlah kalian sehingga berilmu sebelum kalian menjadi pemimpin”. Artinya jelas bahwa masa depan sebuah bangs aitu berada di tangan pemuda.

Saya sampaikan juga nasihat dari Hasan Al Bashri rahimahullah,“Dunia itu hanya tiga hari. Kemarin, yang tak kan terulang. Besok, yang belum tentu menemuinya. Hari ini, tempat menabung amalan kita”. Artinya masa lalu sebagai sebuah pelajaran, karena kita memang dapat belajar dari masa lalu, akan tetapi tidak bisa Kembali ke masa lalu. Sedangkan besok, atau masa depan belum tentu kita bisa menemuinya, akan tetapi kita bisa merancang masa depan berbekal ilmu pengetahuan. Sedangkan hari ini adalah relaitas yang kita hadapi, dimana kita mesti beramal di masa ini, sebagai bekal untuk menggapai masa depan.

Oleh karenanya, saya berpesan kurang lebioh seperti ini :

  • Setiap pemuda harus merancang roadmap (peta jalan) masa depanya, sehingga pemuda juga mesti memiliki visi besar, bahkan bisa jadi melampaui kediriannya.
  • Perubahan-perubahan besar dunia selalu digerakkan pemuda, oleh karenanya persiapakan diri menjadi bagian dari perubahan itu.
  • Sebagai Generasi Z, maka ada keharusan untuk mengubah definisi Generasi Z yang negative, diubah menjadi kekuatan positif
  • Setiap pemuda dituntut untuk memiliki legacy, sebagai bagian dari menciptakan sejarah. Sebagaimana pesan dari Allahuyarham Ustadz Abdullah Said,“Jangan hanya jadi pembaca sejarah, jadilah pembuat sejarah.”
  • Didalam diri setiap pemuda muslim, harus melekat dirinya sebagai da’i. Sebagai ilustrasinya adlah Kuburan Baqi’ di dekat Masjid Nabawi itu hanya diisi ribuan jenazah Sahabat. Dimana ratusan ribu lainnya? Semua bertebaran berda’wah di seluruh penjuru dunia
  • Pemuda seharusnya mampu menilai berbagai kekacauan Indonesia saat ini dari kejauhan, siapkan diri kalian untuk memperbaiki masa depan Indonesia dna dunia.
  • Pemuda harus menjadi singa-singa penjaga dienullah.
  • Kunci sekaligus problem kebanyakan generasi Z adalah manajemen waktu, sehingga ini mesti di jaga. Akan tetapi dengan ciri lain dari generasi Z yang multitasking dan digital native, in Syaa Allah akan bisa menyelesaikan itu semua.

Sekalilagi diskusi dengan generasi Z itu sangat mengasyikkan, sebab tabnta disadari seakan Kembali ke masa-masa itu, dimana idelisme itu memang menggelegak seolah-oleh dapat menaklukkan dunia. Dan tugas generasi senior adalah King Maker. Leader Maker. Mengantarkan mereka menjadi pemimpin masa depan. Menjadi the next leader. Wallahu a’lam.

Islam, Kronik, Peradaban

I’tikaf Produktif


Hari ini, Kita telah berada di ujung ramadhan tahun ini. Artinya duapertiga Ramadhan hampir kita lewati. In Syaa Allah, besok kita mulai memasuki sepuluh hari terakhir (al-‘asyr al-awakhir) . Dimana, dalam banyak hadits disebutkan bahwa, Rasulullah SAW beserta keluarganya, yang sudah barang tentu diikui oleh para sahabat dan umat Islam saat itu, memparbanyak ibadah dan berdiam diri di Masjid. Belaiau melakukan I’tikaf.  Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anha berikut

كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ  )رواه البخاري، رقم 2026 ومسلم، )1172)

“Biasanya (Nabi sallallahu’alaihi wa sallam) beri’tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan sampai Allah wafatkan. Kemudian istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172)

Secara terminologi, I’tikaf didefinisikan sebagai berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu. Dan sepeninggal RasuluLlah SAW, I’tikaf ini menjadi ibadah yang menjadi kebiasaan bagi istri-istri rasulullah, yang dikuti para sahabat, tabi’in, tabiut tabi,in ulama’ salaf hingga khalaf.

Dan alhamdulillah, dalam konteks kekinian sunnah i’tikaf ini hidup Kembali. Bahkan i’tikaf menjadi sebauh Ibadah yang beberapa dekade ini menjadi trends, bagi umat Islam. Justru hal ini banyak diminati oleh generasi milenial dan kelas menengah terutama di perkotaan. Mereka adalah “santri” , yang menjalani laku nyunnah di masa kini.

I’tikaf tahun ini, nampaknya hampir sama dengan tahun lalu. Masih dalam suasana pandemi. Bahkan jumlah kasus harian, baik yang terinfeksi, sembuh dan meninggal, secara jumlah lebih banyak dari tahun lalu. Apalagi jumlah komulatifnya. Disamping itu, tahun ini juga ada kebijakan yang ketat  terkait dengan larangan mudik. Biasanya, 10 hari menjelang Idul Fitri seperti saat ini, arus mudik sudah mulai terasa, dan nanti ujungnya sehari menjelang lebaran.

Namun, tahun ini fenomena itu akan berubah. Perketatan larangan mudik H-7 dan H +7 lebaran, nampaknya bakal dipatuhi. Meski sebagaimana saya tulis sebelumnya, selalu saja ada cara dan akal-akalan dari pemudi untuk mengelabuhi petugas. Meski sudah dihadang, biasanya tetap saja bisa lolos. Karena bagi sebagaian besar rakyat, yang namanya mudik adalah ritual tahunan, yang tidak bisa ditinggalkan. Ia menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari puasa dan lebaran itu sendiri. Sehingga berbagai cara akan ditempuh, untuk mudik. Sebab banyak relasi sosial yang terjalin saat mudik.

Kendatipun demikian, beberapa hari ini sudah banyak masjid yang telah membuka pendaftaran untuk melakukan i’tikaf tahun ini. Dengan beberapa persyaratan yang terutama terkait dengan protokol kesehatan. Jika jumlah orang yang ber’itikaf atau mu’takif (معتكف) tidak dibatasi, maka bisa jadi masjid akan penuh dengan mu’takif. Sebab mereka tidak bisa kemana-mana, karena berbagai larangan pembatasa bepergiatan tersebut. Sehingga bisa jadi tumpah ruah I’tikaf di Masjid. Maka benar adanya, jika ta’mir masjid dan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) membatasi juumlah orang yang beri’tikaf.

Sehingga selain, tata cara I’tikaf yang sudah di atur dalam fiqh I’tikaf, maka paling tidak beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : 1) takmir masjid menyediakan peralatan yang mendukung protokol Kesehatan, 2) hanya peserta yang sehat yang bisa mengikuti I’tikaf, yang jika perlu menunjukkan hasil rapid antigen (minimal), 3) semua peserta wajib melaksanakan protokol kesehatan, 4) ada petugas ta’mir yang menjaga terlaksananya ini, 5) Jika memungkinkan berkoordinas dengan satgas covid setempat, sehingga jika ada kejadian tertentu bisa segera dieskalasi.

Lalu bagaimana agar I’tikaf kita bisa produktif ? Saya melihat bahwa i’tikaf ini akan produktif jika dan hanya jika para mu’takif saat melakukan i’tikaf bukan hanya untuk kepuasan ritualitas diri sendiri saja. Akan tetapi memang diniatkan untuk melakuka perubahan besar, baik untuk dirinya sendiri yang kemudian akan memberikan resonansi bagi perubahan masyarakat dalam rangka tegaknya Peradaban Islam. Jika kesadaran seperti ini tumbuh dan membersamai dalam pelaksanaan i’tikaf, maka dia akan proiduktif. Dan perubahan besar itu, In Syaa Allah akan terjadi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam beri’tikaf, sehingga i’tikaf bisa produktif dalam tataran pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

  • I’tikaf itu ibadah yang ada syarat dan rukunnya, sehingga wajib melaksanakan itu.
  • I’tikaf bukan berarti pindah tidur dari rumah ke Masjid
  • Hal utama yang dilakukan dalam I’tikaf adalah memperbayak ibadah (sholat, baca qur’an dan sedekah)
  • Tidak dilarang untuk membawa buku-buku atau kitab-kitab yang dipergunakan untuk menambah wawasan, ketika “capek” baca qur’an
  • Jika membawa gadget atau laptop, bukan untuk membuang waktu dengan kegiatan yang tidak perlu, akan tetapi dipergunakan untuk mendukung iabadah I’tikaf (membaca dan menulis)
  • Jangan banyak berbicara dan mengobrol yang tidak berguna dengan sesama peserta I’tikaf
  • Jika ada kajian yang dilaksanakan oleh takmir Masjid, sebaiknya diikuti dengan seksama
  • Manajemen waktu yang baik, selain untuk menjaga Kesehatan juga akan memandu tertib dan nyamannya dalam beribadah
  • Buat target apa yang akan dicapai selama I’tikaf
  • dlsb

Catatan tersebut di atas, merupakan sebagian pengalaman dari penulis, dan In Syaa Allah juga akan diterapkan dalam I’tikaf tahun ini. Tetapi, saya juga menghargai pilihan dari beberapa kawan yang tidak melakukan i’tikaf, justru karena alasan untuk menjaga protokol kesehatan. Atau mungkin karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, sekali lagi panduan ringkas ini adalah best practice, dan juga memperhatikan realitas kekinian. Selamat beri’tikaf.

Pertanyaannya, Anda I’tikaf dimana?