Kerja, Kerja, Kerja


Ada sebuah pekerjaan yang harus dikerjakan pagi tadi, disela-sela i’tikaf. Yang memaksa untuk kembali ke laptop, dan meninggalkan “kekhusyukan” beri’tikaf. Kemudian membawa untuk merenungi tentang konsep kerja itu sendiri. Dan melahirkan berbagai pertanayaan tentang ap asih kerja itu? Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun berkerja di berbagai bidang, namun seringkali pertanyaan mendasar seperti ini tidak terjawab dengan tuntas. Sebab kita terjebak dalam aktifitas yang praktis dan prakmatis saja. Tidak sempat untuk menelisik substansi filosofisnya.

Dalam  Islam, menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki yang halal dan thoyyib dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bahkan bekerja dengan benar sesuai tuntutan Islam, ditempatkan setara dengan para mujahid fi sabilillah. Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (profesional atau ahli). Barang siapa bersusah-payah (bekerja) mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah ‘Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

Menurut KBBI kerja /ker·ja / 1 n kegiatan melakukan sesuatu; yang dilakukan (diperbuat): — nya makan dan minum saja; 2 n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian: selama lima tahun — nya berdagang; 3 n perayaan yang berhubungan dengan perkawinan, khitanan, dan sebagainya; pesta perjamuan: — nikah akan dilaksanakan pada tanggal 10 Syawal; 4 n cak pekerjaan: menguli adalah — yang memerlukan tenaga fisik; 5 v cak bekerja: hari ini ia tidak — karena sakit;

Kemudian bagaimana kerja dengan baik? Banyak referensi yang bisa kita jadikan acuan untuk menjawab ini. Namun dalam kesempatan ini, saya menggunakan pendekatan yang dilakukan oleh Pak Anies Baswedan. Dalam beberapa kesempatan, Gubernur DKI ini memberikan panduan praktis bagaimana seharusnya kita bekerja, untuk meenghasilkan sebuah pekerjaan yang terstruktur, terukur dlsb. Meskipun, konteks pembicaraan beliau adalah berkenaan dengan tata kelola pemerintahan, akan tetapi apa yang beliau sampaikan itu, sesungguhnya juga sangat relevan dengan aktifitas kehidupan keseharian kita.

Konsep sederhana yang beliau sampaikan adalah, untuk mengerjakan suatu pekerjaan/proyek, jangan langsung kerja, kerja, kerja saja. Memang Just do it itu bagus, akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan proses perencanaan yang matang, maka hasil yang didapatkan, bisa jadi tidak sesuai dengan harapan. Berpotensi adanya deviasi yang besar antara target dan realisasi. Atau bisa jadi pekerjaannya gagal, bahkan bisa menjadi  useless (mangkrak) alias tidak berguna. Maka yang terjadi adalah bongkar pasang dan tambal di tengah di tengah jalan. Dan ini akan berakibat costly. Terjadi pemborosan, baik dari aspek waktu maupun biaya, dlsb.

Sebenarnya, statement beliau itu sudah cukup lama. Dan sering berulang. Sehingga “memaksa” saya untuk berfikir dan merenunginya. Ndilalah, saat berselancar di youtube, melihat sebuah acara di ILC, beberapa tahun lalu. Kemudian saya perhatikan dan renungkan. Secara singkat saya berkesimpulan bahwa apa yang beliau sampaikan itu benar adanya. Memang, saya faham, bahwa sebagian besar cara berfikir kita adalah, yang namanya bekerja itu adalah yang langsung kelihatan hasilnya. Alias hanya kerja fisik. Yang outputnya di ukur dari bentuk barang yang kasat mata. Dari gedung pencakar langit, tol langit dan seterusnya.

Gagasan – Narasi – Karya

Konsep kerja yang beliau sampaikan itu direduksi dalam tiga tahapan. Ide/Gagasan – Narasi – Kerja. Yaitu bahwa setiap kerja itu harus dimulai dari gagasan. Artinya harus ada ide yang melatar belakangi. Di cari dulu root cause-nya. Inti masalahnya apa. Jika sudah ketemu dan dirumuskan inti masalahnya, maka akan diketahui juga hubungannya dengan bidang/sector lain. Sehingga, tidak ada sebuah pekerjaan itu yang berdiri sendiri, dia dependent dengan kerja lainnya.

Selanjutnya, setelah ide/gagasan terdefinisikan dengan baik, maka langkah berikutnya adalah membuat narasi. Yaitu sebuah penjelesan yang komplit berkenaan dengan pekerjaan/proyek yang akan dilakukan ini. Bentuknya bisa bermacam-macam. Dari Term of Reference, Feasibility Study, atau Rencana/Program Kerja. Dengan adanya narasi maka, akan tahu apa pekerjaannya, siapa yang melakukan dan bertanggung jawab, kapan mulai dan berakhuir, dimana pekerjaan itu dilakukan, bagaimana cara mengerjakannya, berapa biayanya dlsb. Sehingga dari sini menjadi panduan yang komplit, sebagai guidelines untuk melakukan tahapan berikutnya.

Kemudian setelah narasi sudah jadi yang dapat berupa berbagai model itu (bisa juga pakai Business Model Canvas, dan tools lainnya), maka mesasuki tahapan implementasi. Disinilah karya itu akan dilakukan, dengan panduan proses sebelumnya. Sehingga hasil yang diharapkan dan dikerjakan itu, akan meminimalisir deviasi antara target dan realisasi. Disisi lain, mesti juga ada feed back yang berfungsi untuk mengoreksi selama berkarya itu. Tidak harus menunggu selesai pekerjaan baru dilakukan evaluasi untuk memberikan feed back, tetapi ditengah-tengah aktifitas juga bisa dilakukan. Dengan demikian maka, jika ada potensi penyimpangan, bisa segera diluruskan sedini mungkin.

Bahwa kemudian ada juga KPI (Key Performance Indicators) dalam setiap tahapan, itu bisa dilakukan, sebagai alat ukur baik dari kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga semua kerja itu terukur dari sisi target, output dan outcome nya. Dari sini selanjutnya juga akan kelihatan saling keterhubungan satu kerja dengan kerja lainnya. Begitulah seharusnya kita kerja. Tidak hanya kerja, kerja, kerja saja, tetapi semua ada konsep dan tahapannya. Selamat mencoba. Wallahu a’lam.