iptek, Islam, IT, Peradaban

Al-Khwarizmi : Sejarah Menarik Tentang Algoritma


source : avesiar

Seorang bernama Alex Wang, menulis di akun LinkedIn dengan judul Sejarah Yang Menarik Tentang Algoritma. Tulisannya cukup fair dan  proporsional, cukup ringkas namun jelas, dengan menyertakan referensi yang memadai. Selanjutnya, tulisannya saya kutip secara lengkap sebagai berikut ini.

‘Algoritma’ adalah kata yang benar-benar berasal dari 900 tahun yang lalu. Kata ini berasal dari nama seorang jenius matematika Persia, yang datang dengan sistem bilangan Hindu-Arab bersama dengan titik desimal, konsep aljabar, dan membuat kontribusi inovatif untuk multi mata pelajaran: Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.

‘Algoritmi’ adalah versi Latin dari namanya ‘al-Khwarizmi’. Dan ini adalah asal-usul kata algoritma.    Dalam bahasa Latin abad pertengahan, algorismus hanya berarti sistem bilangan desimal.

Pada abad ke-13, itu telah menjadi kata bahasa Inggris, tetapi baru pada akhir abad ke-19 algoritma itu berarti seperangkat aturan langkah demi langkah untuk memecahkan masalah.

Pada awal abad ke-20, Alan Turing, bapak ilmu komputer modern, menemukan bagaimana secara teori, sebuah mesin dapat mengikuti instruksi algoritmik dan memecahkan matematika yang kompleks.   Sekarang itu menjadi kata yang secara bertahap mengubah hidup kita. Continue reading “Al-Khwarizmi : Sejarah Menarik Tentang Algoritma”

Entrepreneurship

Narasi Besar


Tidak ada pemimpin besar dunia, yang tidak membersamai dirinya dengan narasi besar. Sebut saja nama mereka yang dalam catatan sejarah sebagai orang besar, pasti membersamainya adalah narasi besar. Baik tertulis, ucapan yang disampaikan, dan torehan sejarah yang dilakukan. Sebab dari situ, seseorang bisa dinilai dan diketahui visinya. Bahkan bisa di tebak apa bacaannya, apa isi kepalanya, dengan siapa bergaul dan lain sebagainya.

Tidak ada pemimpin besar, yang dalam perjalanan hidupnya yang tidak akrab dengan ilmu. Jika ternyata kita jumpai model pemimpin yang tidak akrab dengan ilmu, maka bisa dipastikan mereka pemimpin KW, pemimpin palsu, bahkan bisa jadi sekedar pemimpin boneka. Dia menjadi pemimpin karena ditugaskan dan seterusnya. Dan demokrasi, memfasilitasi hadirnya model tanpa narasi. Tetapi dibesarkan oleh media, dan juga hasil pencitraan. Continue reading “Narasi Besar”