Revolusi Industri 4.0 : Ancaman atau Peluang ?


The Forth Industrial Revolution by Klaus Schwab

RRevolusi Industri 4.0 saat ini banyak menjadi topik pembicaraan. Dikalangan akademisi dan dunia industri, termasuk lembaga konsultan, sebenarnya sudah ramai diperbincangkan sejak munculnya buku The Forth Industrial Revolution oleh Klaus Schwab tahun 2015.  Dan olehnya, ditingkat internasional, duskursus dikalangan akademisi dan juga para cerdik pandai mewarnai tulisan, artikel, jurnal, seminar simposium dan sejenisnya.

Untuk Indonesia, beberapa tahun belakangan ini, juga mulai mewarnai perbincangan publik. Bahkan kementerian perindustrian sudah membuat booklet dengan judul Making Indonesia 4.0, yang berisi antisipasi menghadapi Revolusi Industri 4.0 di atas. Demikian juga hampir disemua Perguruan Tinggi juga membuat acara diskusi dan seminar tentang ini. Termasuk tulisan-tulisan ilmiah di jurnal dan juga media masa. Singkatnya, kesadaran akan peluang dan tantangan Revolusi Industri 4.0, telah menjadi milik publik. Ini positif, ditengah hiruk pikuknya tahun politik, yang memang berisik itu. Apalagi setelah debat pilpres semalam 🙂

Dari Revolusi Industri 1.0 hingga 4.0

Gambar di atas, menjelaskan tentang bagaimana revolusi industri 1.0 hingga revolusi industri 4.0 berlangsung. Banyak tulisan yang mengupas tentang itu, namun disini saya sisipkan tuliskan ringkas, untuk menjelaskan bagaimana revolusi industri berlangsung hingga kini. Penjelasan ini saya sadur darihttp://himasif.ilkom.unej.ac.id/2018/05/26/perbedaan-revolusi-industri-1-0-4-0/

Industri 1.0

Pada tahun 1800-an, mesin mesin bertenaga air dan uap dikembangkan untuk membantu para pekerja. Seiring dengan meningkatnya kemampuan prooduuksi, bisnis juga tumbuh dari pemilik usaha perorangan yang mengurus sendiri bisnisnya dan atau meminta bantuan tetangganya sebagai pekerja.

Industri 2.0

Pada awal abad ke-20, listrik menjadi sumber utama kekuasaan. Penggunaan listrik lebih efektif dari pada tenaga uap atau air karena produksi difokuskan ke satu mesin. Akhirnya mesin dirancang dengan sumber daya mereka sendiri, membuatnya lebih portebel.

Dalam periode ini juga melihat perkembangan sejumlah program managemen yang memunginkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas manufaktur. Pembagian kerja, dimana setiap pekerja melakukan sebagian dari pekerjaan total, meningkatkan prduktivitas. Produksi barang secara masal menggunakan jalur perakitan menjadi hal biasa. Insinyur mekanik amerika frederick taylor memperkenalkan pendekatan untuk mempelajari pekerjaan guna mengoptimalkan metode pekerja dan tempat kerja Terakhir, prinsip manufaktur yang tepat waktu dan ramping semakin memperhalus cara perusahaan manufaktur dapat meningkatkan kualitas dan output mereka.

Industri 3.0

Dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20, penemuan dan pembuatan perangkat elektronik, seperti transistor dan, kemudian, chip sirkuit terintegrasi, memungkinkan untuk lebih mengotomatisasi mesin-mesin individual untuk melengkapi atau mengganti operator. Periode ini juga melahirkan pengembangan sistem perangkat lunak untuk memanfaatkan perangkat keras elektronik. Sistem terintegrasi, seperti perencanaan kebutuhan material, digantikan oleh alat perencanaan sumber daya perusahaan yang memungkinkan manusia untuk merencanakan, menjadwalkan, dan melacak arus produk melalui pabrik. Tekanan untuk mengurangi biaya menyebabkan banyak produsen memindahkan komponen dan operasi perakitan ke negara-negara berbiaya rendah. Perpanjangan dispersi geografis menghasilkan formalisasi konsep manajemen rantai pasokan.

Industri 4.0

Pada abad 21, Industri 4.0 menghubungkan Internet Of Things (IOT) dengan teknik manufaktur untuk memungkinkan sistem berbagi informasi, menganalisanya, dan menggunakannya untuk memandu tindakan cerdas. Ini juga menggabungkan teknologi mutakhir termasuk manufaktur aditif, robotika, kecerdasan buatan dan teknologi kognitif lainnya, material canggih, dan augmented reality, menurut artikel “Industri 4.0 dan Ekosistem Manufaktur” oleh Deloitte University Press.

Perkembangan teknologi baru telah menjadi pendorong utama pergerakan ke Industry 4.0. Beberapa program yang pertama kali dikembangkan pada tahap akhir abad ke-20, seperti sistem eksekusi manufaktur, kontrol lantai toko dan manajemen siklus hidup produk, merupakan konsep berpandangan jauh ke depan yang tidak memiliki teknologi yang dibutuhkan untuk membuat implementasi lengkapnya menjadi mungkin. Sekarang, Industri 4.0 dapat membantu program-program ini mencapai potensi penuh mereka.

Tentang Revolusi Industri 4.0

Menurut Wikipedia, sebagaimana definisi dari World Economic Forum,Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah kondisi pada abad ke-21 ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi. Revolusi ini ditandai dengan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligent), robot, blockchain, teknologi nano, komputer kuantum, bioteknologi, Internet of Things, percetakan 3D, dan kendaraan tanpa awak.

Sebagaimana revolusi terdahulu, revolusi industri keempat berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh dunia. Namun, kemajuan di bidang otomatisasi dan kecerdasan buatan telah menimbulkan kekhawatiran bahwa mesin-mesin suatu hari akan mengambil alih pekerjaan manusia. Selain itu, revolusi-revolusi sebelumnya masih dapat menghasilkan lapangan kerja baru untuk menggantikan pekerjaan yang diambilalih oleh mesin, sementara kali ini kemajuan kecerdasan buatan dan otomatisasi dapat menggantikan tenaga kerja manusia secara keseluruhan.

Sedangkan Menurut KlausSchwab, Revolusi Industri 4.0 meliputi : (Schwab,2015)

  1. Argumentasi: Kecepatan, keluasan dan kedalaman, dampak sistemik (terhadap negara, masyarakat, industri, danperusahaan).
  2. Dampak sistemik: ketimpangan sebagai tantangan terbesar.
  3. Megatrend: Fisik (kendaraan tanpa pengemudi, mesin cetak 3D, advanced robotics, dan material baru), digital, biologis.
  4. Tipping point dari Industri 4.0 diperkirakan terjadi pada tahun 2025.

Dampak Revolusi Industri 4.0

Menurut Schwab lagiada Lima Klaster Dampak Industri 4.0 (Schwab, 2015)

  1. Ekonomi – Pertumbuhan, Pekerjaan, Sifat Kerja
  2. Bisnis – Ekspektasi Konsumen, Produk dengan Data yang Lebih Baik, Inovasi Kolaboratif, Model Operasi Baru
  3. Hubungan Nasional-Global – Pemerintahan; Negara, Region dan Kota; Keamanan Internasional
  4. Masyarakat – Ketimpangan dan Kelas Menengah, Komunitas
  5. Individu – Identitas, Moralitas dan Etika;  Koneksi Antar-Manusia, Pengelolaan informasi publik dan privat

Kita tidak pernah tahu, dan belum diprediksi berapa lama Revolusi Industri 4.0 ini mendeterminasi kehidupan. Memicu terjadinya perubahan Peradaban. Dan, apa lagi yang akan terjadi ke depan. Yang jelas para futurolog akan terus melakukan pemikiran dan penelitian untuk melakukan forecasting dan prediksi masa depan. Yang jelas, perubahan Itu akan semakin cepat. Dan siapapun yang tidak beradaptasi (melakukan perubahan), bakal tergilas oleh waktu. Nampaknya sunnatullah (hukum alam) akan berlaku demikian.

Kendatipun demikian, kondisi seperti ini, paling tidak bagi kita dan bagi dunia, akan mengalami dampak langsung maupun tidak langsung. Dari beberapa pendapat para pakar, saya mencatat sebagai berikut :

  1. Percepatan Pengembangan industri dan ekonomi
  2. Berubahnya Sistem pendidikan dan pengembangan bakat
  3. Bergesernya peran Manusia, terjadi Kolaborasi dengan robot dan AI 
  4. Pasar kerja: pekerjaan diciptakan dan pekerjaan menghilang; kenaikan pekerjaan sesuai permintaan
  5. Pelebaran kesenjangan ekonomi dan pembagian pendapatan 
  6. Kompleks-nya Sistem regulasi
  7. Investasi global yang semakin masif
  8. Berubahnya pola hubunganmasyarakat dan manusia
  9. Arti pekerjaan dan kebutuhan penghasilan dasar 
  10. Penciptaan manusia super
  11. Pengetahuan meta tentang kecerdasan buatan, dst

Ancaman atau Peluang ?

Dari penjelasan di atas, maka dampak yang terjadi bagi kita dan dunia tersebut, sesungguhnya tantangan yang mesti di jawab saat ini dan dimasa mendatang. Jika sekali lagi, kita tidak mau digilas oleh hadirnya Revolusi Industri 4.0 ini, maka perubahan paradigmatik dan sistemik itu harus dimulai dari sekarang, bukan menunggu nanti, ketika semua sudah booming. Ketika itu terjadi, maka kita akan menjadi penonton bahkan lebih dari itu, kita akan jadi obyek penderita.

Negara, harus hadir untuk mempersiapkan semua ini dengan serius. Demikian juga perguruan tinggi sebagai penyokong hadirnya SDM yang kapabel. Demikian juga masyarakat semuanya, meski preparesejak dini. Perubahan itu kini akan terus terjadi. Cepat atau lambat. Adalah sebuah keniscayaan menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ini. Jika mereka yang kerdil dan pesimis, maka melihat ini menjadi sebuah ancaman yang menakutkan. Namun bagi mereka yang optimis dan petarung, semua yang ada dihadapan ini adalah peluang sekaligus tantangan. Pertanyaannya, dimana Kita ambil posisi sekarang?

Wallahu a’lam

Depok. 17/02/2019

Advertisements

Ciptakan peluang atau Mati….


Peluang itu tidak datang dua kali, maka ambillah peluang itu selagi ada”. Seringkali saya mendengar kalimat itu, atau senada dengan itu. Atau mungkin kalimat seperti ini : “Tolong dong saya dikasih peluang, biar saya bisa dapat memperbaiki nasib.” Ungkapan-ungkapan seperti itu sah-sah saja. Tetapi bagi orang yang pengin mengabdikan dirinya sebagai entrepreneur, maka itu menunjukkan kelemahan. Artinya dia bukan tipe fighter, yang siap bertarung untuk memperjuangkan cita-citanya. Jika dia bersifat pasif dan tidak proaktif, maka sangat sulit untuk mencapai kesuksesan.

Terkait dengan peluang, paling tidak ada 5 (lima) model bagi kita dalam menyikapi sebuah kata yang namanya peluang itu.

  1. Menunggu

    Kebanyakan entrepreneur pemula, memilih langkah ini. Padahal sering kita mendengar istilah menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan. Memilih cara menunggu peluang ini, mungkin langkah keterpaksaan, setelah semua daya upaya menenemui jalan buntu. Jadi terpaksa pasrah. Disisi lain menunggu peluang, sejatinya kita sedang menggali kubur sendiri. Karena penuh ketidakpastian. Saran saya, hindari menunggu peluang. Karena jika memilih cara ini sesungguhnya anda telah selemah-lemah entrepreneur.

  2. Di Beri (menerima)

    Kadang-kadang tanpa dinyana-nyana, kita diberi peluang. Pemberi peluang ini datang bisa dari mana saja. Bisa saudara, teman, kenalan, kolega dan lain-lainnya. Pemberi peluang bisa jadi meminta imbalan, baik itu dalam bentuk uang tunai, maupun dalam bentuk lainnya. Kendati demikian, menerima peluang ini juga masih belum jelas. Jika peluang ini baik dan menguntungkan, mengapa diberikan kepada kita. Mengapa tidak di eksekusi sendiri saja. Artinya diberi peluangpun masih diperlukan effort yang besar untuk mendapatkannya. Dia tidak datang gratis. Juga tidak datang sebagaimana semudah kita memakan makanan yang sudah terhidang di piring. Entrepeneur jenis ini masih lumayan. Sebab pemberi peluang tentunya melihat kita memiliki kompetensi atas peluang yang diberikan. Dan ada upaya untuk meng-eksekusinya.

  3. Mengejar

    Peluang sesungguhnya ada dimana-mana. Yang diperlukan oleh kita sesungguhnya adalah bagaimana melihat peluang itu. Kebanyakan entrepreneur pemula sudah melihat peluang itu. Kemampuan melihat peluang ini, yang kemudian akan men-drive kita untuk bagaimana mendapatkan peluang itu dan kemudian merealisasikannya. Disinilah kemudian kita dituntut untuk memiliki strategi dalam mengejar peluang ini. Dalam mengejar peluang ini tentu saja kita mengukur kemampuan kita, dengan melihat seberapa besar peluang itu kita dapat. Jangan sampai salah kita melihat. Sebuah informasi yang masih belum mateng, sudah kita anggap sebagai peluang. Sudah banyak resources yang kita keluarkan, hasilnya tidak ada.

  4. Menjemput

    Setingkat di atas mengejar, adalah menjemput. Ketika kita berbicara tentang menjemput peluang, tentu saja tingkat kepastiannya sudah sangat tinggi. Menjemput berarti ada yang di jemput. Obyek atau tujuannya sudah pasti. Kendatipun demikian, meski tetap diperlukan effort untuk merealisasikannya, akan tetapi di banding dengan probabilitas keberhasilannya, maka tidak terlalu significant. Menjemput peluang dapat diartikan juga, bukan upaya sesaat, tentu saja ini sudah melalui proses yang panjang. Bahkan mungkin telah berdarah darah. Dan kini saatnya menuai hasilnya. Dan ini sebenarnya bagian panjang dari perjuangan seorang entrepreneur, dia tidak pasif tetapi pro aktif. Dia tidak diam tetapi bergerak. Dia tidak menunggu, tetapi menjemput.

  1. Menciptakan

    Dan hal yang terakhir, dan ini menunjukkan kelas sebagai seorang entrepreneur sejati, adalah dengan menciptakan peluang. Menciptakan itu sederhananya adalah membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Atau boleh jadi menyempurnakan yang sudah ada menjadi lebih baik. Pendeknya menciptakan itu, akan memberikan nilai lebih. Seorang yang mampu menciptakan sesuatu, tentu saja menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya, atau jadi memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya untuk dimobolisir sehingga bisa melahirkan sesuatu yang baru itu. Jika seseorang pada posisi ini, dia tidak akan pernah risau ataupun tergoda dengan adanya informasi -yang belum jelas akurasinya- yang bersileweran dan dibumbuhi penawaran sebagai sebuah peluang. Dia tidak akan pernah silau atas semua itu. Sebab dia punya jalannya sendiri, dan jalan yang ditempuh itu adalah menciptakan peluang.

     

    Sekarang mari kita evaluasi diri kita masing-masing, berada pada model yang mana. Dan kemudian model mana yang akan dipilih. Saya mengajak untuk memilih menjadi pribadi atau kelompok yang memilih nomer 5, sehingga mampu menciptakan peluang. Kemudian dari pilihan kita itu,  kita akan memberikan banyak manfaat buat orang lain. Dan disinilah harga diri kita sebagai entrepreneur akan bernilai.