Krisis Oksigen !


India krisis oksigen. Selama seminggu terakhir, banyak pasien Covid-19 yang sesak napas telah meninggal karena tidak tersedianya oksigen medis di rumah sakit di beberapa negara bagian di negara tersebut. Berlawanan dengan klaim dan isu yang ada, ternyata kekurangan oksigen di beberapa negara bagian bukan karena produksi yang lebih rendah atau ekspor pada tahun ini.

Sebab, pesan SOS di Twitter dan platform media sosial lainnya menunjukkan parahnya kekurangan oksigen di negara-negara bagian ini. Dengan tagar #indianeedsoxygen, menjadi trending topic dunia, di berbagai plafform media sosial tersebut. Sementara itu, para pemimpin partai oposisi dan warga yang terkena dampak mengecam Pusat dan pemerintah negara bagian karena kekurangan oksigen medis, yang diperlukan rumah sakit untuk menjaga pasien Covid yang kritis tetap hidup. Mereka “menggorengnya” sehingga tidak hanya jadi isu nasional, akan tetapi menjadi isu dunia.

Akan tetapi sebagaimana dikutip dari indiatoday, India telah mengekspor 9.301 metrik ton oksigen ke seluruh dunia antara April 2020 dan Januari 2021. Sebagai perbandingan, negara itu hanya mengekspor 4.502 metrik ton oksigen pada tahun 2020. Oksigen yang disuplai berbentuk cair dan dapat digunakan baik untuk keperluan industri maupun medis. Sehingga ekspor besar-besaran oksigen India tersebut layak dijadikan biang kerok kekurangan oksigen untuk medis. Meskipun kita tahu, karena jumlah pasien yang membutuhkan juga berlipat-lipat, sehingga tidak mampu memenuhi demand yang ada.

Realitas Covid Saat Ini

Semua negara saat ini mengalami hal sama, terutama terkait diketemukannya mutasi baru virus Covid ini. Selain varian baru di Brasil, Afrika Selatan, dan Inggris, India juga menemukan mutasi baru virus corona. Tampaknya varian ini berpotensi lebih mudah menempel pada sel manusia. Jelas itu akan menyebabkan lebih banyak orang terinfeksi dan lebih banyak dirawat di rumah sakit.

Data dari worldometer, menunjukkan tsunami gelombang ke-dua Covid di India masih terus menanjak. Kemarin 6/5/2021,  ada 414.433 kasus baru yang terjadi di India. Sehingga menyebabkan rumah sakit tidak mampu memampung pasien lagi. Sementara  cadangan oksigen juga tidak ada di rumah sakit-rumah sakit itu. Akibatnya, pasien swadaya mencari tabung oksigen kosong, sekaligus mencari oksigen, untuk dijadikan alat bantu pernafasan atau ventilator. Kekurangan oksigen ini, menyebabkan banyak pasien yang tidak tertolong nyawanya.

Sehingga kasus kematian harian di India kemarin 6/5/2021 sebanyak 3.920 jiwa, setelah sehari sebelumnya berjumlah 3.982 jiwa. Dengan demikian total kematian sejumlah 234,071 jiwa. Yang sembuh di India berjumlah 17,597,410 jiwa. Sedangkan total keseluruhan yang terinfeksi adalah 21,485,285 jiwa. Sementara itu, berdasarkan laporan DW, para ahli mengatakan angka sebenarnya di seluruh negeri mungkin lima hingga 10 kali lebih tinggi dari penghitungan resmi.

Angka tersebut menempati urutan ke-2 sedunia setelah Amerika Serikat berjumlah 33,369,192. Sementara keseluruhan yang terinfeksi virus corona di jagad ini sejumlah 156,677,623 jiwa, yang sembuh 156,677,623 jiwa, yang mati 3,269,220 jiwa sedangkan yang virusnya masih aktif berjumlah 19,368,356 jiwa.

Indonesia sendiri, menurut laporan yang sama saat ini menempati peringkat-18 dengan 1,697,305 kasus, yang sembuh 1,552,532 jiwa dan yang meninggal sejumlah 46,496 jiwa. Sementara itu pertambahan kasus harian kemarin berjumlah 5.647 jiwa dan kematian harian berjumlah 147 jiwa setelah sehari sebelumnya 212 jiwa. Artinya Indonesia juga masih belum aman.

Kasus India

Sebagaimana diketahui, bahwa tsunami gelombang kedua Covid di India ini disebabkan oleh setidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : perayaan keagamaan, kegiatan partai politik dan tidak taatnya rakyat terhadap protokol kesehatan. Hal ini karena kepuasan atas menurunnya jumlah kasus Covid di India pada pertengahan bulan januari, hingga pertengahan Maret, yang menunjukkan grafik terus menurun dan melandai. Sehingga menjadi lengah.

Bahkan juga disebutkan juga adanya hoax yang disebar karena tidak menghargai sains. Sebagaimana dikutip dari detik, pada pertengahan April, ketika jumlah kasus COVID mulai meroket, VK Paul, seorang pejabat senior pemerintah, merekomendasikan agar orang berkonsultasi dengan praktisi terapi alternatif jika mereka memiliki penyakit ringan atau tanpa gejala.

Dia juga menyarankan orang untuk mengonsumsi “chyawanprash” (suplemen makanan) dan “kadha” (minuman herbal dan rempah-rempah) untuk meningkatkan kekebalan mereka. Pernyataannya ini memicu kritik dari para dokter yang mengatakan rekomendasi tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji dan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis. Dan boom semuanya sudah terlambat.

Case fatality rate Indonesia sebesar 2.74 %, sedangkan India sebesar 1.09 % untuk dunia sebesar 2.09%. Artinya tingkat kematian yang positif Covid 19, lebih tinggi dari rata-rata dunia, apalagi dengan rata-rata India. Penduduk India berjumlah 1,391,457,000 jiwa, sementara menurut ourworldindata penduduk Indonesia 275,964,453. Di India ada 30.2 juta jiwa yang vaksin full dan 99,53 vaksin sekali. Sedangkan di Indonesia ada 8 juta yang sudah vaksin full dan 4,7 yang vaksin sebagian. Secara prosentase dari jumlah populasi penduduk, India 9.32% dan Indonesia 4.64%.

Early Warning!

Ini jadi peringatan dini (early warning) bagi Indonesia. Jika tidak mampu mengendalikannya, maka situasi tsunami tahap ke-dua di Indonesia juga akan berlangsung. Dari ketiga hal tersebut, menurut saya kata kuncinya justru di protokol Kesehatan. Sebab, setelah satu tahun lebih dalam kondisi pandemi, rakyat juga mulai bosan dan jenuh dengan kondisi new normal ini. Sehingga pelonggaran terus terjadi.

Demikian juga pejabat publik juga banyak memberikan contoh ketidak taatan ini. Sanksi yang diberikan bahkan cenderung untuk standard ganda. Jika pejabat publik, saat melanggar tidak dikenakan sanksi. Tetapi jika rakyat biasa, terlebih lawan politik/oposan terhadap penguasa, akan dikenakan sanksi yang berat. Hal ini menyebabkan public distrust. Sehingga menyebabkan rakyat semakin apriori dengan penegakan hukum oleh pemerintah.

Kasus terakhir yang saat ini sedang terjadi adalah terkait dengan larangan mudik. Secara konsep, saya mendukung. Akan tetapi dalam prakteknya justru berpotensi menimbulkan kerumunan baru. Sebab saat akses ke berbagai daerah ditutup, maka kerumunan masa itu menumpuk di titik-titik yang dijaga apparat itu. Apalagi aparatnya bersenjata lengkap, seperti mau perang. Sekali lagi, ini berpotensi menimbulkan klaster baru. Semoga tidak.

Warning berikutnya adalah, nampaknya kita juga harus mulai mempersiapkan tabung oksigen untuk kepentingan pribadi. Antisipasi dengan segala kemungkinan yang terjadi. Termasuk jika terjadi darurat oksigen seperti India. Jika tidak terjadi, juga tidak ada salahnya untuk memiliki persediaan ini. Bisa dimiliki dalam bentuk kelompok, keluarga atau RT. Bisa juga membuat tempat isolasi mandiri di setiap RT. Saya rasa ini bukan hal aneh, sebab saya punya kawan penderita asma, juga punya persediaan oksigen di rumahnya. Saat serangan terjadi, lagsung bisa dibantu pernafasannya. Sebelum proses medis selanjutnya.

Tetapi kita tetap harus ber-ikhtiar dengan protokol kesehatan, dan mengkonsumsi makanan untuk penguatan anti body. Lalu bertawakal dengan do’a-do’a terbaik kepada Allah SWT. Apalagi ini di sepulih akhir bulan Ramadhan. Saatnya kita ber-I’tikaf, sambil berdo’a agar COVID-19 beserta mutasi-mutasinya, segera enyah dari muka bumi. Aamiin.

Mau Vaksin ?


Ini pertanyaan yang ramai dipublik. Setelah mendapati kenyataan bahwa, oramg sudah di vaksin kok masih positof COVID. Beberapa publik figur pun sempat menghiasi berita, karena kasus seperti ini. Hal ini menyebabkan polarisasi public, ada yang siap untuk di vaksin, dan ada juga yang tidak siap di vaksin. Masing-masing punya alasan yang logis. Dan wacana seperti ini ternyata tidak hanya dikalangan rakyat awan. Namun juga menjadi diskursus para cerdik cendekia.

Semalam seorang kerabat meninggal dunia. Setelah dinyatakan positif Covid-19, dan di rawat di Rumah Sakit lebih dari 2 (dua) pekan. Padahal sebulan sebelumnya sudah dilakukan vaksin Sinovac, sebanyak 2 (dua) kali, sesuai standar vaksiniasi Covid.  Halini dijelaskan bahwa suntikan pertama untuk memicu respons kekebalan awal terhadap vaksin yang diberikan, sedangkan suntikan kedua dapat meningkatkan kekuatan respons imun yang sebelumnya sudah terbentuk.

Sudah banyak cerita, tetapi kita mungkin perlu penjelasan tentang vaksin. Makhluk apakah itu? Vaksin adalah zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin terdiri dari banyak jenis dan kandungan, masing-masing vaksin tersebut dapat memberikan Anda perlindungan terhadap berbagai penyakit yang berbahaya.

Vaksin mengandung bakteri, racun, atau virus penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau sudah dimatikan. Saat dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Proses pembentukan antibodi inilah yang disebut imunisasi.

Sedangkan, terkait vaksin covid di Indonesia, akan memakai banyak produk dan merk. Salah satunya adalah vaksin sinovac produksi China. Setelah dilakukan uji klinis, menurut BPOM, efficacy rate-nya adalah 65,3 persen. Efficacy rate ( rerata efikasi) adalah sebuah perhitungan yang digunakan untuk menunjukkan efektivitas, dari sebuah vaksin. Artinya dengan telah di lakukan vaksinasi, kemungkinan tidak tertular  (kebal) adalah 65,3%, selebihnya 34,7% masih kemungkinan tertular. Nah ternyata masih ada angka 34,7%, yang menjelaskan mengapa sudah di vaksin kok masih tetap bisa positif COVID.

Dr. Siti Fadilah Sapari, M.Sc mantan Menteri Kesehatan, dalam sebuah podcast di Channel Karni Ilyas yang di unggah di Youtube beberapa hari lalu, menyampaikan beberapa pernyataan penting terkaiot dengan Pandemi. “Jadi kalau pandemi, itu ya biasanya belum ada obatnya. Nah, seharusnya obat itulah yang dikejar, bukan vaksin,”. Selanjutnya, juga dinyatakan “Kita perlu enggak sih vaksin? Sebetulnya dalam sejarah tidak ada yang mengatakan bahwa pandemi itu bisa dihentikan dengan vaksin,” jelas pakar virus ini, yang sempat membubarkan proyek NAMRU-2 itu, yang berujung beliau masuk bui.

Selanjutnya terkait dengan terjadinya mutasi virus beliau menyatakan “Karena vaksin itu bisa dibuat kalau virusnya sudah stabil, kalau masih mutasi, mutasi, mutasi, mestinya vaksin jangan dibuat dulu, karena vaksin itu berasal dari virus, sumber utama itu dari virus,” tuturnya.

Karena kenyataannya saat ini mutase virus terus terjadi. Mutasi virus adalah perubahan struktur dan sifat genetik virus. Proses ini dapat terjadi ketika virus sedang memperbanyak diri di dalam sel tubuh inangnya, baik manusia maupun hewan. Saat ini banyak varian virus hasil dari mutasi dan mutase ganda. Seperti yang B.1.17 terkenal dari Inggris. B1351 dari Afrika Selatan. B1525 dari Malaysia. E484K, P1, P2 dan seterusnya. Artinya, virus Corona ini, terus dan terus mutasi.

Pertanyaannya, apakah efektif dilakukan vaksin, sementara mutase terus berlangsung? Menjawab ini Dr. Nadia Tarmidzi, M.Epid, juru bicara Vaksinasi COVID Kemenkes menyampaikan bahwa,”Sampai saat ini belum ada penelitian ataupun bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin yang telah diproduksi dan telah digunakan di berbagai belahan dunia tidak bisa melindungi kita dari virus varian baru ini. Vaksin yang digunakan dalam upaya kita melakukan penanggulangan pandemi covid 19 masih sangat efektif”

Berdasarkan data dari Ourworldin data, saat ini Indonesia sudah melakukan vaksinasi terhadap 17,92 juta jiwa penduduk. Masih tergolong rendah jika disbanding dengan negara lain, sebagaimana ada di grafik berikut :

https://ourworldindata.org/covid-vaccinations

Kita akan bisa melihat efektifitas dari pada vaksinasi ini, terhadap penyebaran COVID di masing-masing negara tersebut. Yaitu dengan membandingkan pertumbuhan harian yang juga masih terus ada di masing-masing negara yang sudah dilakukan vaksin secara masif itu, sebagaimana gambar di bawah ini.

https://ourworldindata.org/covid-vaccinations

Sekarang berpulang kepada Anda, apakah setelah ini akan memberikan motivasi Anda untuk di vaksin, atau malah nggak mau di vaksin. Saya tidak punya hak untuk memperngaruhi Anda.

Yang jelas, sesuai dengan keyakinan saya sebagai muslim, namanya COVID-19 dan juga variannya hasil mutase itu adalah makhluk Allah SWT. Dia pasti tunduk pada sunnatullah, berupa ketatapan dan aturan Allah. Sedangkan tugas manusia adalah berusaha, selebihnya Allah yang akan menentukan hasilnya.

Wallahu a’lam.