#13…..Not For Sale


Menjelang Milad ke 11 PT Totalindo Rekayasa Telematika beberapa waktu yang lalu, tepatnya Awal Juni , saya mendapat opportunity dari seorang sahabat baik, saya untuk menjajagi menjadi partner dengan salah satu perusahaan Technology dari Eropa. Kebetulan kawan saya ini baru saja dating memenuhi undangan, ke Eropa, untuk mengikuti semacam exhibition  tahunan, yang di selenggarakan oleh Perusahaan itu. Singkatnya, melalui email saya di introduce, sahabat saya itu untuk berkomunimasi langsung dengan VP APAC (Asia Pacifcif) yang berdomisili di Malaysia. Dari komunikasi via email, intinya dia minta company profile kami. Kemudian saya penuhi permintaannya tersebut. Saya agak lama menunggu jawaban, ternyata email tersebut di eskalasi ke Head Quarternya di Eropa sana.

Dari HQ, mereka meminta waktu untuk melakukan teleconference kepada Manajemen, perusahaan kami. Stelah di sepakati waktunya, GMT+9, akhirnya kami komunikasi via skype. Pada awalnya seperti biasa, dia memberikan gambaran tetang perusahaannya. Dimana dia menjadi market leader pada product tertentu, mempunyai cabang di 15 negara, dimiliki oleh salah satu investment company terbesar di negaranya. Dan revenuenya Continue reading “#13…..Not For Sale”

Advertisements

Ciptakan peluang atau Mati….


Peluang itu tidak datang dua kali, maka ambillah peluang itu selagi ada”. Seringkali saya mendengar kalimat itu, atau senada dengan itu. Atau mungkin kalimat seperti ini : “Tolong dong saya dikasih peluang, biar saya bisa dapat memperbaiki nasib.” Ungkapan-ungkapan seperti itu sah-sah saja. Tetapi bagi orang yang pengin mengabdikan dirinya sebagai entrepreneur, maka itu menunjukkan kelemahan. Artinya dia bukan tipe fighter, yang siap bertarung untuk memperjuangkan cita-citanya. Jika dia bersifat pasif dan tidak proaktif, maka sangat sulit untuk mencapai kesuksesan.

Terkait dengan peluang, paling tidak ada 5 (lima) model bagi kita dalam menyikapi sebuah kata yang namanya peluang itu.

  1. Menunggu

    Kebanyakan entrepreneur pemula, memilih langkah ini. Padahal sering kita mendengar istilah menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan. Memilih cara menunggu peluang ini, mungkin langkah keterpaksaan, setelah semua daya upaya menenemui jalan buntu. Jadi terpaksa pasrah. Disisi lain menunggu peluang, sejatinya kita sedang menggali kubur sendiri. Karena penuh ketidakpastian. Saran saya, hindari menunggu peluang. Karena jika memilih cara ini sesungguhnya anda telah selemah-lemah entrepreneur.

  2. Di Beri (menerima)

    Kadang-kadang tanpa dinyana-nyana, kita diberi peluang. Pemberi peluang ini datang bisa dari mana saja. Bisa saudara, teman, kenalan, kolega dan lain-lainnya. Pemberi peluang bisa jadi meminta imbalan, baik itu dalam bentuk uang tunai, maupun dalam bentuk lainnya. Kendati demikian, menerima peluang ini juga masih belum jelas. Jika peluang ini baik dan menguntungkan, mengapa diberikan kepada kita. Mengapa tidak di eksekusi sendiri saja. Artinya diberi peluangpun masih diperlukan effort yang besar untuk mendapatkannya. Dia tidak datang gratis. Juga tidak datang sebagaimana semudah kita memakan makanan yang sudah terhidang di piring. Entrepeneur jenis ini masih lumayan. Sebab pemberi peluang tentunya melihat kita memiliki kompetensi atas peluang yang diberikan. Dan ada upaya untuk meng-eksekusinya.

  3. Mengejar

    Peluang sesungguhnya ada dimana-mana. Yang diperlukan oleh kita sesungguhnya adalah bagaimana melihat peluang itu. Kebanyakan entrepreneur pemula sudah melihat peluang itu. Kemampuan melihat peluang ini, yang kemudian akan men-drive kita untuk bagaimana mendapatkan peluang itu dan kemudian merealisasikannya. Disinilah kemudian kita dituntut untuk memiliki strategi dalam mengejar peluang ini. Dalam mengejar peluang ini tentu saja kita mengukur kemampuan kita, dengan melihat seberapa besar peluang itu kita dapat. Jangan sampai salah kita melihat. Sebuah informasi yang masih belum mateng, sudah kita anggap sebagai peluang. Sudah banyak resources yang kita keluarkan, hasilnya tidak ada.

  4. Menjemput

    Setingkat di atas mengejar, adalah menjemput. Ketika kita berbicara tentang menjemput peluang, tentu saja tingkat kepastiannya sudah sangat tinggi. Menjemput berarti ada yang di jemput. Obyek atau tujuannya sudah pasti. Kendatipun demikian, meski tetap diperlukan effort untuk merealisasikannya, akan tetapi di banding dengan probabilitas keberhasilannya, maka tidak terlalu significant. Menjemput peluang dapat diartikan juga, bukan upaya sesaat, tentu saja ini sudah melalui proses yang panjang. Bahkan mungkin telah berdarah darah. Dan kini saatnya menuai hasilnya. Dan ini sebenarnya bagian panjang dari perjuangan seorang entrepreneur, dia tidak pasif tetapi pro aktif. Dia tidak diam tetapi bergerak. Dia tidak menunggu, tetapi menjemput.

  1. Menciptakan

    Dan hal yang terakhir, dan ini menunjukkan kelas sebagai seorang entrepreneur sejati, adalah dengan menciptakan peluang. Menciptakan itu sederhananya adalah membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Atau boleh jadi menyempurnakan yang sudah ada menjadi lebih baik. Pendeknya menciptakan itu, akan memberikan nilai lebih. Seorang yang mampu menciptakan sesuatu, tentu saja menggunakan seluruh potensi yang dimilikinya, atau jadi memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya untuk dimobolisir sehingga bisa melahirkan sesuatu yang baru itu. Jika seseorang pada posisi ini, dia tidak akan pernah risau ataupun tergoda dengan adanya informasi -yang belum jelas akurasinya- yang bersileweran dan dibumbuhi penawaran sebagai sebuah peluang. Dia tidak akan pernah silau atas semua itu. Sebab dia punya jalannya sendiri, dan jalan yang ditempuh itu adalah menciptakan peluang.

     

    Sekarang mari kita evaluasi diri kita masing-masing, berada pada model yang mana. Dan kemudian model mana yang akan dipilih. Saya mengajak untuk memilih menjadi pribadi atau kelompok yang memilih nomer 5, sehingga mampu menciptakan peluang. Kemudian dari pilihan kita itu,  kita akan memberikan banyak manfaat buat orang lain. Dan disinilah harga diri kita sebagai entrepreneur akan bernilai.

Mengapa Start Up Company Seringkali Bubar


Minggu lalu saya kedatangan tamu 2 (dua) orang teman sesama entrepreneur, di sore hari. Mereka berdua datang ke kantor, seperti biasa berbagi informasi, terkait opportunity dan kemungkinan untuk melakukan kolaborasi dan kerjasama. Pembicaraan pada awalnya lancar, membahas seputar sepinya order/proyek tahun ini dan optimisme untuk menghadapi tahun depan. Tentu dengan bumbu gurauan yang menyegarkan. Ditengah pembicaraan kemudian mereka bercerita bahwa malam ini, mereka akan melakukan rapat dan mengambil keputusan untuk melanjutkan bisnisnya atau membubarkan. Ada seorang partnernya yang melakukan fraud sehingga menyebabkan kerugian dan kekacauan didalam manajemen. Padahal dia salah satu share holder dan juga duduk di jajaran manajemen.

Hal seperti di atas, dengan berbagai macam varian permasalahannya, dan tingkat keruwetan yang berbeda, seringkali saya temukan, dan menjadi persoalan bagi entrepreneur kita . Seringkali ada yang sukses, dan menjadikan itu sebagai momentum untuk menjadikan team work yang solid. Tetapi tidak jarang, justru menyebabkan perpecahan, bahkan bubarnya perusahaan itu. Hal yang samapun, dua tahun yang lalu saya juga mengalami, memang tidak sampai bubar, akan tetapi perpecahan itu akibatnya terasakan sampai sekarang. Kendati kondisi perusahaan sekarang jauh lebih baik sebelum terjadi perpecahan itu.

Herannya lagi ini juga terjadi bagi mereka yang berasal dari sekolah, atau  bahkan kelas, jurusan, fakultas, angkatan dan perguruan tinggi yang sama. Ternyata tidak menjamin terjadi kelanggengan dalam berbisnis, meskipun tetap ada juga yang awet. Demikian halnya mereka yang ketemu ketika mau mulai usaha ternyata akhirnya bisa langgeng, kendati adapula yang kemudian pecah di tengah jalan. Sedangkan waktu terjadinya “perpecahan” itu juga bermacam-macam, bisa terjadi di awal-awal pendiriannya, di beberapa tahun kemudian, bahkan ada yang sudah puluhan tahun baru terjadi disharmonis itu.

Disaat yang sama kita bisa menemukan beberapa perusahaan yang telah berumur puluhan tahun, untuk kasus Indonesian misalnya : Jamu Jago, Group Bakrie, Sampoerna, dan masih banyak lagi. Untuk kasus negara lain misalnya : Stora (Swedia, 800 tahun), Sumitomo (Jepang, 400 tahun), Du Pont (AS, 195 tahun), Pilkington (Inggris 171 tahun) dan juga IBM, Toyota, P&G, Mercedez Benz dll. Artinya, perusahaan itu bisa berumur panjang dan diwariskan, jika dikelola dengan baik. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi pelaku bisnis di Indonesia, bagaimana bisa mengelola perusahaan sehingga berumur panjang.

Dari pengalaman saya, dan beberapa pengalaman teman dan juga orang lain, saya mengelompokkan hal-hal yang menyebabkan perpecahan tersebut, di antaranya adalah :

  1. Kurangnya Modal
  2. Tidak Fokusnya Bisnis
  3. Team Work (Manajemen) yang Tidak Solid
  4. Perbedaan Visi
  5. Terjadinya Fraud

Kedepan hal-hal tersebut akan saya kupas satu persatu.