ekonomi, Krisis, Peradaban, Politik.

Hari Kebangkitan UTANG Nasional = Setiap Kepala Menaggung 32 Juta Rupiah


source liputan 6

Hari ini, kita mendapatkan berita yang mengejutkan. Menteri Keuangan Sri Mulyani, sebagaimana dilaporkan idntimes, menyampaikan di beberapa media saat Rapat Kerja denggan Badan Anggaran DPR Kamis 19/5/2022. Dia menyatakan bahwa ada dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) mengalami kerugian dalam jumlah cukup besar. Hal itu tak terlepas dari lonjakan harga komoditas energi, yakni batu bara dan minyak mentah yang jadi bahan baku produksi kedua BUMN tersebut.

Untuk Pertamina dilihat dari arus kas, maka estimasi defisitnya mencapai 12,98 miliar dolar AS (Rp191,2 triliun). Defisit terjadi karena Pertamina tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) ketika harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan. Dijelaskan pula bahwa harga keekonomian saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang ditetapkan di pasar. Hal tersebut membuat Pertamina menanggung selisih lebar antara kedua harga tersebut. Itu semakin diperparah dengan belum adanya tambahan anggaran subsidi dan kompensasi dari pemerintah ke Pertamina.

Dalam hal ini, sebenarnya statemen tersebut diata  bisa dibantah dengan data pula. Sebab saat harga minyak mentah dunia sangat rendah, sementara harga BBM tidak diturunkan, sebenarnya disitu seharusnya Pertamina juga mengeruk keuntungan dari selisih harga yang sangat besar pula. Tetapi lagi-lagi, kalo sedang rugi tone-nya membesar, ketika untung mengecil.

Selain Pertamina, PLN juga mendapatkan kerugian diperkirakan akan mencapai Rp71,1 triliun, sebagai imbas dari belum naiknya tarif listrik di tengah lonjakan harga komoditas batu bara. Namun, angka defisit PLN tidak lebih besar jika dibandingkan dengan Pertamina Continue reading “Hari Kebangkitan UTANG Nasional = Setiap Kepala Menaggung 32 Juta Rupiah”

Advertisement
Entrepreneurship, IT

Kemana Arah R & D Kita ?


researchPagi ini, 11/04/2013, Koran Kontan, di halaman 2 memuat berita dengan judul : “Biaya R & D Bisa Menjadi Pengurang Pajak”. Ini meriupakan berita gembira dan sebuah kemajuan dari pemerintah, terutama bagi perusahaan yang memang bekerja di Bidang Inovasi dan Teknologi. Kepala BKPM, Chatib Basri, mengusulkan kepada pemerintah agar memberikan insentif dengan menjadikan biaya riset dan pengembangan menjadi biaya yang mengurangi laba, dalam sebuah perusahaan. Sehingga, dengan demikian beban pajak akan berkurang. Dijelaskan lagi bahwa, saat ini perusahaan di Indonesia, rata-rata enggan menyelenggarakan pelatihan atau training, karena butuh biaya yang besar. Padahal kegiatan ini penting agar perusahaan tetap mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang panjang karena mampu terus melakukan inovasi. Apalagi, jika terkait dengan R & D, maka masih jauh panggang dari api.

Dari penjelasan Bung Dede itu, -begitu bisanya Kepala BKPM itu di panggil-, dapat menjadi semacam cermin bagi kita, bahwa selain kegamangan melakukan R & D karena selain masih belum tentu jelas hasilnya, juga tidak ada dukungan yang berarti dari pemerintah. Akibatnya, mentalitas yang terjadi pada pelaku usaha, lebih senang menjadi trader, dengan menjadi reseller ataupun agen dari produk-produk yang di hasilkan oleh negara lain. Karena, mungkin tidak mau terlalu repot-repot mengeluarkan biaya dengan tingkat ketidak pastian yang tinggi. Dan dengan menjadi trader, maka bisa diperoleh hitungan yang cepat, biaya kulakan di tambah biaya operasionalnya yang kemudian dikalkulasi menjadi HPP (Harga Pokok Produksi), dengan mudah bisa dihitung, dan ditambah margin secukupya, maka akan gampang diperoleh hitungan untung/ruginya. Mindset seperti ini, Continue reading “Kemana Arah R & D Kita ?”