Leadership, Peradaban, Politik., Ramadhan

Pemimpin Ideal dari Karakter Dua Nabi


Ramadhan adalah sebuah bulan dimana al-Qur’an menjadi bahan bacaan utama yang dibaca oleh umat Islam seluruh dunia sepanjang hari. Bahkan semua muslim berusaha lebih banyak membaca dan meng-khatamkan al-Qur’an, bersebab besarnya keutamaan yang ada di dalamnya. Demikian halnya selayaknya, disamping kuantitas interaksi dengan al-Qur’an yang demikian intens, semestinya juga diikuti dengan perbaikan kualitas bacaan (tahsin) serta peningkatan pemahaman terhadap isi dan kandungan al-Qur’an. Selain membaca tarjamah dan tafsir, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara mentadabburi al-Qur’an it sendiri.

Secara singkat tadabbur adalah mengerahkan upaya untuk melihat, memahami, merenungi sesuatu, bahkan sampai pada sisi terjauhnya, dari yang tersirat maupun yang tersurat. Kalau kata tadabbur dikaitkan dengan al-Qur’an, maka dikenal dengan istilah menjadi tadabbur al-Qur’an (تدبر القرآن). Dengan demikian maka artinya adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantar kita kepada akhir dari petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan tujuan-tujuan akhir yang ingin dicapai dari membaca al-Quran”. Continue reading “Pemimpin Ideal dari Karakter Dua Nabi”

Advertisement
Islam, Leadership, Peradaban

Pemimpin Itu Melayani


Krisis kepemimpinan, kini terjadi dimana-mana. Ukuranya sederhana. Siapapun yang saat ini disebut pemimpin, dalam berbagai tingkatan dan level, rata-rata sibuk mengkapitalisasi dirinya dan kelompoknya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya lebih banyak dan banyak lagi. Tidak tanggung-tanggung, bisa dilakuan dengan berbagai daya dan upaya. Seolah mengamini dalil Lord Acton yang masyhur itu,”Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely”. Dimana, korupsi dalam perspektif Acton tidak hanya menyangkut dengan uang saja, tetapi juga terkait dengan kebijakan, politik, sosial, budaya dan lain sebagainya. Sehingga “wajar” jika semakin sesorang mendapat kekuasaan semakin menggila dan gelap mata. Akibatnya enggan melepas kekuasannya itu. Dampaknya terus melakuan mobilisasi dan menjalin aliansi dengan berbagai pihak, agar kekuasaannya semakin kuat, langgeng dan tidak jatuh.  Seolah merekalah merupakan pengatur segalanya, orang lain (rakyat) dianggap buta, tidak tahu apa-apa.

Lebih parah lagi jika kemudian ada yang memanfaatkan kepemimpinan dan kekuasaan itu. Biasanya dilakukan oleh orang-orang disekitarnya dan kelompok-kelompok yang memiliki kepetingan. Mereka seringkali menjadi penyokong yang tidak waras. Sebab mereka juga takut kehilangan bagian dari “kue” kekuasaan yang telah dinimati atau yang dijanjikan. Maka berbagai upaya pembelaan dan penjerumusanpun dilakukan. Menjilat. Asal bapak senang (ABS) dan istilah serta perilaku sejenis lainnya. Akibatnya, pemimpinnya mati kutu, sebab semakin mendapat pembenaran, bukan kebenaran.

Apalagi jika seorang pemimpin tidak cukup memiliki ilmu, kapasitas, integitas dan kecakapan yang memadai dalam memimpin. Maka dia akan larut dan diombang-ambingkan oleh situasi, kondisi dan keadaan. Sebab ada virus yang dihembuskan, bahwa memimpin itu artinya menguasai Continue reading “Pemimpin Itu Melayani”

Islam, Peradaban, Ramadhan

Memadukan Kepemimpinan Qolbu dan Akal


Rasulullah SAW  bersabda,‘Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya aka rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Tulisan sebelumnya tentang lead by heart dan manage by head, mendapat respon yang cukup beragam dari berbagai pihak. Terlepas dari pro dan kontra, itu adalah keniscayaan dari sebuah tulisan. Tetapi, sebenarnya istilah itu memang lazim, ketika membahas tentang kepemimpinan. Di akhir tulisan terdahulu, simpulannya adalah bagaimana mampu mengintegrasikan dan memadukan antara hati (qolbu) dan kepala (akal) dalam sebuah kepemimpinan, dan tidak mendikotomikanbya. Ini menjadi PR besar dan tantangan bagi kita. Sebab telunjuk kita tidak bisa diarahkan kepada orang lain. Melainkan terarah ke diri kita sendiri. Sebab masing-masing diri kita adalah pemimpin. Tulisan ini akan menguraikan PR tersebut.

Adalah Ivette K. Cabalero yang menulis sebuah artikel dengan judul 12 Qualities of Leaders Who Lead with Head & Heart Together, cukup dapat menjelaskan, bagaimana model kepemimpinan dengan hati (qolbu) itu bisa berjalan beriringan dengan mengelolanya dengan kepala (akal). Dia mennguraikan dengan sangat apik, bahwa Pemimpin yang memiliki kemampuan untuk memimpin dengan kepala dan hati, yang bersinergi dan berjalan bersama-sama sangat berdampak dan berpengaruh dalam kehidupan orang-orang yang mereka pimpin. Seperti kutipan kata bijak Nelson Mandela,“Kepala yang baik dan hati yang baik selalu merupakan kombinasi yang hebat.” Continue reading “Memadukan Kepemimpinan Qolbu dan Akal”

Islam, Leadership

Lead By Heart, Manage by Head


Dalam Surat Shad (38) : 26, Alah SWT berfirman,“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah SWT akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dalam tafsir Al-Muyasar dijelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung pesan kepada ulil amri (pemerintah, dan siapapun yang memimpin-red) agar mereka menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan dari Allah swt dan tidak menyimpang darinya karena hal itu akan menyesatkan mereka dari jalann-Nya

Demikian halnya dengan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a : “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya, seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tangggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memlihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin akan ditanya (diminta pertangggung jawab) dari hal yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal yang paling mendasar yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa dalam level apapun, manusia adalah pemimpin termasuk bagi dirinya sendiri. Setiap perbuatan dan tindakan  memiliki resiko yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap orang adalah pemimpin meskipun pada saat yang sama setiap orang juga Continue reading “Lead By Heart, Manage by Head”

Islam, Peradaban, Politik.

Tansiqul Harakah


Saya mendengar kalimat tansiqul harakah ini, langsaung disampaikan dari lisan Prof. Dr. Ma’ruf Amin, diberbagai waktu, kesempatan yang berbeda disetiap acara yang saya ikuti. Sebuah diksi, yang menurut saya cukup menarik, untuk di kaji lebih jauh. Menjadi menarik, karena kalimat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI), yang sekaligus Rais ‘Aam PBNU. Yang dengan derajat keulamaannya, beliau mampu menyampaikannya dengan pendekatan dan bahasa yang indah, tanpa multi interpretasi. Hal ini, seringkali beliau kemukakan berkenaan dengan peran MUI ditengah-tengah umat. Dan sudah barang tentu dengan gayanya beliau yang runut, ringan, singkat, padat dan jelas, saat men-sarah sesuatu, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami, awam seperti saya ini.

Tansiqul Harakah ini, sebenarnya sudah dibahas diberbagai kesempatan, bahkan tahun lalu saat Komisi Dakwah MUI mengeluarkan beberapa pedoman dakwah diantaranya : pedoman dalam pe membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama ahlussunnah wal jama’ah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathiyah. Continue reading “Tansiqul Harakah”