Tansiqul Harakah


Saya mendengar kalimat tansiqul harakah ini, langsaung disampaikan dari lisan Prof. Dr. Ma’ruf Amin, diberbagai waktu, kesempatan yang berbeda disetiap acara yang saya ikuti. Sebuah diksi, yang menurut saya cukup menarik, untuk di kaji lebih jauh. Menjadi menarik, karena kalimat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Islam (MUI), yang sekaligus Rais ‘Aam PBNU. Yang dengan derajat keulamaannya, beliau mampu menyampaikannya dengan pendekatan dan bahasa yang indah, tanpa multi interpretasi. Hal ini, seringkali beliau kemukakan berkenaan dengan peran MUI ditengah-tengah umat. Dan sudah barang tentu dengan gayanya beliau yang runut, ringan, singkat, padat dan jelas, saat men-sarah sesuatu, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami, awam seperti saya ini.

Tansiqul Harakah ini, sebenarnya sudah dibahas diberbagai kesempatan, bahkan tahun lalu saat Komisi Dakwah MUI mengeluarkan beberapa pedoman dakwah diantaranya : pedoman dalam pe membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama ahlussunnah wal jama’ah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathiyah. Continue reading “Tansiqul Harakah”

Advertisements

Sharing Economy


Meski bukan “barang” baru, namun penggunaan istilah sharing economy (ekonomi berbagi) atau ada yang menyebutnya dengan istilah collaborative economy, masih tergolong baru, apalagi di Indonesia. Istilah itu begitu mengemuka, saat para perusahaan rintisan (start-up) tumbuh subur dan terjadi dot net booming di Silicon Valley, menjelang dan diseputaran tahun 2000-an. Dan kemudian mendapatkan momemtum, pada saat arus disruptive economy, beberapa tahun ini lajunya kian kencang. Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang disediakan oleh teknologi, maka sharing economy ini, telah menjadi trends saat ini.

Para pengamat dan pelaku usaha serta akademisi dibuat terkejut, saat perusahaan-perusahaan raksasa yang pernah menguasai dunia, seperti Sony, Ericsson, Walkman Nokia, Kodak dan seterusnya rontok, berguguran dan nyaris gulung tikar. Bukan berarti mereka tidak melakukan perubahan. Mereka jelas melakukan perubahan, namun mereka tidak bisa melawan teknologi dan perubahan paradigma bisnis. Dalam bahasa kekiniannya, mereka terdisrupsi oleh kehadiran teknologi baru. Continue reading “Sharing Economy”

Hidup adalah wang-sinawang


Bagi orang Jawa, kemungkinan besar tahu, atau minimal pernah mendengar terhadap istilah wang  sinawang. Saya  tidak tahu apakah terminologi wang sinawang ini juga dimiliki oleh etnik lain. Secara sederhana wang sinawang dapat diartikan sebagai cara memandang, melihat, menilai dan sekaligus menduga, bahwa kehidupan yang dilakoni oleh orang lain itu lebih enak, lebih indah, lebih nikmat dan lebih bahagia. Sedang memandang kehidupannya sendiri lebih sengsara, lebih susah, lebih menderita dan sebagainya. Meskipun bisa jadi secara kasat mata, dirinya lebih tajir, dibanding dengan yang dinilai.

Saya tidak tahu apakah ini merupakan salah satu bentuk atau cara menghargai dan menghormati terhadap orang lain, sekedar basa-basi atau pada titik tertentu sebenarnya adalah rasa minder atau inferior. Atau bisa juga itu sebuah upaya untuk merendahkan diri meningkatkan mutu. Terlepas apapun latar belakang terjadinya, yang jelas ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Peristiwa wang-sinawang ini, seringkali  terjadi ketika seseorang lama tidak ketemu sahabatnya, di dalam tempat dimana saja  dan waktu kapanpun juga. Bisa juga meskipun bukan sahabat, mereka melihat orang lain, yang dia lihat secara dhohirnya lebih beruntung dari dirinya. Dengan segala cara penilaian, sudut pandang, subyektifitas dan bumbu-bumbu penyedap laiannya. Bahkan ketika dua orang sahabat atau lebih, yang lama tidak ketemu, dan biasanya masing-masing mendapat informasi yang sepenggal-sepenggal terhadap temannya yang sudah lama terpisah itu, ketika mereka berjumpa kemudian saling memuji, sebagaimana penjelasan tentang wang-sinawang diatas. Dan yang di puji, merendahkan dirinya, ganti memuji kepada temannya yang memuji lagi.

Nah, kejadian seperti ini, sering saya alami ketika ketemu, tetangga, teman bermain, teman sekolah, sahabat, dan orang-orang yang pernah kenal dan terpisah dalam kurun waktu tertentu dan kemudian ketemu. Apakah ketemu lewat Facebook, Tweetter, atau pas Chatting. Tanpa ba-bi-bu, setelah basa-basi menyatakan kabar, langsung men-judge, dengan beribu-ribu pujian dan sanjungan, dan biasannya andalannya adalah,”Kata si A kamu sekarang jadi a , b, c, d., saya dapat info juga dari  si B kamu sekarang e,f,g,h dan seterusnya,” . Biasanya saya menjawab juga,”Kata si C kamu mendapat i,j, k l. Malah saya dapat info dari si D, kamu sekarang sudah x,y,z,” dan seterusnya. Jadi memang benar Hidup adalah wang sinawang.