Prophetic Leadership


Saya mencoba mengumpulkan beberapa Hadist Rasulullah SAW, yang terkait dengan kepemimpinan. Dari hadits yang ribuan itu, karena keterbatasan  saya, hanya mampu menyajikan sedikit. Dari yang sedikit itu, ada beberapa ibroh yang bisa kita ambil disana. Paling tidak kita bisa melihat sekaligus memahami bagaimana Nabi memimpin sahabat dan ummatnya ketika itu.  Dahsyatnya lagi, pola kepemimpinan Nabi itu, tidak hanya applicable di zammanya, akan tetapi tetap up to date sampai sekarang, bahkan hingga sangkakala di tiupkan oleh Malaikat Izrofil kelak. Kita bisa mendapati semangat egaliter yang mewarnai pola kepemimpinannya, akan tetapi disisi lain juga penuh dengan sikap ketegasan, ketauladanan, melayani, dan banyak lagi hikmah yang bisa dipetik dari hadits-hadits tersebut. Coba baca hadits itu sekali dan resapi maknanya, dan kemudian baca kedua kali pahami maknanya, dan seterusnya, maka makna dari setiap apa yang kita baca ternyata berkembang. Itulah, sabda Nabi, tidak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh usia,  tidak hanya sebagai bahan bacaan kita, tetapi menjadi inspirasi sekaligus roadmap yang  sistemik untuk diimplementasikan, bagi siapapun kita, dan untuk tingkat kepemimpinan apapun juga, karena sejatinya kita semua adalah pemimpin. Beberapa hadits yang saya kutip itu Continue reading “Prophetic Leadership”

Advertisements

The Revolution of Ojek..


Dari pengalaman pergi ke beberapa negara,  bagi saya sebagai wong Ndeso Indonesia, seringkali justru menemukan keribetan, di balik kemanjaan fasilitas publik yang diberikan oleh negara-negara itu. Pengalaman saya  berkunjung ke Tokyo Jepang,membuktikan betapa ketika jadwal kereta ketujuan tertentu sudah mau berangkat, maka begitu berebutan dan berlarian mereka untuk mengejar kereta agar ikut di jadwal itu. Karena kereta itu datang tepat waktu, hampir dipastikan tidak pernah terlambat ataupun meleset dari jadwal.  Artinya jika kita lewat pada jadwal itu, kita akan menunggu ke jadwal berikutnya, berarti wasting time.  Demikian juga halnya di Singapura yang tidak berbeda dengan pengalaman di Frankfurt Jerman. Praktis semua sudah tertata, teratur dengan baik, rigid dan sistematis. Pendeknya ritme hidup penduduk kota itu, dan siapupun yang datang ke kota itu, harus mengikuti pola yang demikian mekanik itu.

Lain halnya dengan Indonesia, jadwal molor, terlambat dan  meleset itu menjadi rutinitas, sehingga jika tepat waktu merupakan sebuah keberuntungan. Disamping itu, variasi moda transportasi yang tersedia cukup beragam. Tinggal kita pilih saja. Satu hal yang paling unik di negeri ini, dan sangat susah ditemukan di negara lain adalah ojek. Alat transportasi yang menggunaka motor ini, seringkali menjadi pilihan bagi siapapun juga, ketika kepepet waktu dan atau terjebak dalam kemacetan yang parah di Ibu Kota. Bukan pada kalangan proletar, mereka yang berdasipun, tidak jarang memilih Ojek, untuk mengantarkan ketujuannya agar tidak terlambat. Malah sopir-sopir itu,  justru yang menikmati comfortable di balik kemudi mobil mewah majikannya dan kemacetan di jalan raya itu.

Singkatnya, ojek adalah moda transportasi pilihan rakyat, yang egaliter dan tidak membedakan strata sosial bagi penggunanya. Melihat “merakyatnya” ojek, saya kepikiran bagaimana jika meningkatkan kenyaman ber-ojek. Jika taksi di Jakarta sekarang sudah menggunakan mobil mewah semisal Mercy dan Alphard, mengapa kemudian Ojek tidak menggunakan Moge sekelas Harley Davidson untuk difungsikan dalam melayani masyarakat kelas menengah atas, dikala terjebak kemacetan. Tentu saja dengan layanan dan  tarif premium, sebagai mana layanan taksi yang pake mobil mewah itu. Saya pikir, ini pilihan realistis dan logis. Sebuah revolusi terhadap ojek. Bagaimana menurut anda?