Penjaga Kuda


Ini jalan hidup dan cerita anak ke-3. Baru memasuki semester 2, di pesantren ini. Dia melanjutkan jenjang SMA, setelah tamat jenjang SMP, di Jonggol Bogor. Dia masuk dengan predikat muhafidz. Sudah setor hafalan 30 juz, saat masih kelas 2 SMP. Sebenarnya ini saatnya dia untuk me-mutqinkan hafalannya. Itulah alasan mengapa dia diterima di Pesantren ini. Yang sesuai kebijakannya, tidak menerima santri SMA , selain lulusan SMP-nya sendiri. Karena berlaku pendidikan selama 6 tahun (SMP lanjut ke SMA)

Kami, sebagai orang tuanya tidak mengira, dia bisa hafal secepat itu. Secara prestasi akademik, sebenarnya tidak menonjol. Rata-rata saja. Bahkan jauh dari kakak dan adiknya. Tetapi dia memiliki sifat penyayang. Ringan tangan. Suka membantu, senang menolong. Intinya care terhadap sesama. Ini, kelebihannya. Dan bisa jadi wasilah dipermudah dalam menghafal. 16 bulan, untuk menghafalkan 30 juz.

Di banyak kesempatan, tempat dan waktu, dia sering jadi penghidup suasana. Tidak hanya dirumah. Ternyata dikelas, di asrama, begitu juga. Anaknya easy going. Continue reading

Advertisements

Berbisnis itu (tidak) Mudah


dorongMeskipun masih jauh dari sukses, -tentunya dengan deretan indicator kesuksesan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah-, tetapi setidaknya saya memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam berbisnis. Dengan berbagai hambatan, kendala, tantangan dan rintangan, serta di bumbui beberapa kali  keberhasilan, maka rasanya cukup modal bagi saya untuk berbagi kepada sesama. Pendeknya, berkali-kali memasuki lembah kematian (dead valley) dan kemudian bisa, mentas, masuk jurang lagi, mentas lagi,  dan seterusnya, begitulah kira-kira siklus bisnis yang saya jalani. Untuk sekedar menghibur diri, saya kemudian tertarik dengan pepatah yang bunyinya kurang lebih begini “Jangan dihiraukan berapa kali anda terjatuh, tetapi lihatlah bagaimana anda bangkit dari setiap kegagalan,”. Berbekal pepatah itu, tidak jarang menjadikan motivasi yang kuat, sehingga membuat senantiasa bangkit dari setiap terjerembab ke dalam lembah kematian itu.

Siklus, yang sangat menguras adrenalin itu, sejatinya berawal dari ketidak adaan “ilmu” yang menyertai ketika awal memulai bisnis. Sehingga trial and error, menjadi teman setia, dalam menapaki bisnis itu. Dan, berdasarkan pengalaman itulah, maka kemudian saya bisa melakukan instrospeksi bahwa, terdapat beberapa kesalahan, yang melekat pada diri saat menjalani bisnis. Jika dulu, saya mengetahui ada kesalahan dalam melangkah, ketika sudah terjadi kegagalan misalnya, sekarang meskipun belum begitu tajam ada semacam intuisi yang melakukan self evaluation terhadap setiap kejadian. Sehingga ada semacam sensor,  sebagai early warning system, atau peringatan dini, ketika akan mengerjakan sesuatu. Meskipun belum selamanya pas, akan tetapi Continue reading