#10…..Membangun R & D, Kenapa Tidak?


Di perusahaan kami, meskipun saat ini masih sangat kecil, kami sedang mengupayakan berjalannya sebuah devisi Research and Developmen (R&D). Meskipun selama kegiatan R&D sudah berjalan, akan tetapi masih belum memiliki dan mengikuti standard dan prosedur yang baik. Berjalan apa adanya. Belum ada team yang khusus di tempatkan disitu, sedemikian pula halnya, perusahaan juga belum cukup mengalokasikan budget untuk R&D. Dan dengan tanpa adanya alokasi dana dan resources yang cukup untuk R&D tersebut, kami sudah menghasilkan 2 (dua) produk, yang sudah terjual dipasar. Tetapi saya masih belum puas, jika dia tidak dikelola melalui proses R&D yang benar.

Sebagai perusahaan yang berbasis teknologi, kehadiran divisi R&D adalah merupakan sebuah keharusan. Sebab, R&D merupakan nyawa, yang akan menjaga hidup matinya sebuah perusahaan teknologi. Apalagi jika ia, ingin ungul dalam persaingan bisnis. Perusahaan teknologi yang memenangkan pertarungan, adalah mereka yang berani mengalokasikan dananya untuk kepentingan R&D ini. Biasanya mereka mengalokasikan budget untuk kepentingan R&D ini minimal di angka 3,5% dari total revenue. Continue reading “#10…..Membangun R & D, Kenapa Tidak?”

Advertisements

#7….. 5F Untuk Mengembangkan Bisnis


Seringkali saya  menjumpai sesorang yang sudah cukup lama mengembangkan usahanya. Bahkan berkali-kali berganti jenis usaha, akan tetapi tidak pernah cocok. Semuanya kandas di tengah jalan. Ada yang bangkrut, bahkan meninggalkan setumpuk hutang. Padahal dia telah membaca puluhan buku tentang entrepreneurship dan kisah sukses pengusaha besar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan beberapa trik dan tipnya sudah dipraktekkan. Disamping itu tidak jarang dia melihat dan mendengarkan radio bisnis, juga mengikuti seminar dan pelatihan yang diisi oleh motivator terbaik di negeri ini. Tetapi mengapa, lagi-lagi usahanya selalu tidak membuahkan hasil?

Berdasarkan pengalaman dan bacaan saya, ada cara sederhana yang mudah di ingat, dan kemudian dilakukan untuk mengembangkan bisnis kita. Mungkin ini juga sering disarankan oleh motivator atau di dapat dari buku-buku entrepreneur, dengan cara penyajian dan argumentasi yang berbeda-beda. Tetapi bagi saya, inilah beberapa cara yang saya pakai dalam menjalankan bisnis saya, sehingga masih survive sampai saat ini, yang tahun ini memasuki tahun ke-12. Meskipun dengan dinamika yang bermacam-macam, 5F ini saya pakai kerangka dalam memanage perusahaan.

  1. Fight Saya yakin sejatinya setiap pengusaha itu seorang pejuang, atau bahasa agamanya mujahid. Mereka senantiasa bertarung di garis terdepan. Sebagai seorang petarung tentu saja banyak halangan dan rintangan yang dihadapi. Demikian juga tentang perjalanan hidupnya, kadang di atas dan tidak jarang langsung jatuh ke jurang, sebagaimana yang digambarkan dalam kurva dead valley. Oleh karenanya seorang entrepreneur harus tetap menyalakan semangangat perjuangan ini. Dia harus fight sebagai seorang fighter. Dan seorang fighter tentu memiliki fighting spirit yang tinggi untuk memenangkan pertarungan, apapapun kendala dan rintangannya. Dia, tidak boleh menyerah dalam kondisi apapun juga. Saya pernah mengalami suasana dalam kondisi yang jatuh, bener-benar jatuh, dengan tumpukkan hutang yang menggunung. Continue reading “#7….. 5F Untuk Mengembangkan Bisnis”

Here Free Lunch


Yang terkesan dari kegiatan MTT#2 (MIFTA Teknopreneur Talks), adalah kemasan acara dan pilihan pembicaranya. Meski acaranya sederhana, tetapi sangat berbobot, menarik dan menggerakkan. Perhelatan rutin yang di laksanakan oleh MIFTA (Muslim Information Technology Association) ini, diadakan setiap bulan. Dengan cara mengundang dan juga mendatangi entrepreneur yang sudah cukup berhasil, dan memiliki track record yang bagus. Mereka “dipaksa” agar mau  berbagi tip dan trik bisnisnya, dari sejak awal merintis usaha sampai dengan  mencapai prestasi dan keberhasilan seperti sekarang ini. Narasumber, pada awalnya ditujukan kepada mereka yang memiliki bisnis yang berhubungan langsung dengan dunia IT (teknopreneur). Meski para pembicara MTT sebagaimana yang  diharapkan adalah  pelaku teknopreneur, akan tetapi Event Organizer-nya kali ini nampaknya cukup cerdas untuk kemudian merangkul pembicara yang memiliki potensi  untuk mendukung lahirnya teknopreneur baru. Sebab, sebagaimana visi MIFTA, untuk 2 tahun ke depan, adalah menciptakan 500 entrepreneur baru. Sebuah kerja mulia, yang besar, cukup menantang dan perlu didukung oleh berbagai pihak. Continue reading “Here Free Lunch”

Membandingkan Tiga Opensource ERP


Saat ini, banyak pilihan aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning) berbasis opensource, yang beredar dan dapat kita jumpai di dunia maya. Masing-masing mempunyai kelebihan satu dengan lainnya. Kelebihan di salah satu aplikasi ERP, bisa jadi sama-sama di jumpai di aplikasi lainnya. Tetapi tidak menutup kemungkinan  tidak diketemukan di aplikasi lainnya tersebut.

Pendeknya, dengan semakin banyaknya pilihan itu, seringkali justru tidak memudahkan kita. Tetapi sebaliknya, sebagai user atau mungkin System Integrator malah bingung memilih yang mana. Barangkali kebingungan itu sedikit akan terurai dengan melihat tabel berikut. Dengan tuntunan dari tabel di bawah ini, minimal akan memudahkan kita untuk memilih ERP mana, yang cocok untuk di implementasikan diperusahaan kita dan juga mungkin di client kita. Modul-modul  apa saja yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh masing-masing aplikasi dan modul mana saja yang perlu dipakai dan diimplementasikan terlebih dahulu. Fitur-fitur apa saja yang cocok untuk kebutuhan kita saat ini, dst. Disini akan di bandingkan 3 (tiga) aplikasi opensource ERP yang cukup banyak digunakan yaitu : OpenERP (www.openerp.com), Open Bravo (www.openbravo.com) dan Adempiere (www.adempiere.com).

Selanjutnya, untuk mengetahui platform dan framework dari aplikasi tersebut, saya rekomendasikan untuk berselancar ke url masing-masing. Anda juga bisa melihat komparasi lainnya dengan mengunjungi url ini. Akhirnya selamat mencoba…. 🙂

Mulai Bisnis IT (Seri IT Preneurship)


Jika kita baca banyak buku tentang /kewirausahaan, tentu kita temui banyak kiat dan cara sesorang utnuk memulai bisnisnya. Baik dengen cara pendekatan dari kisah sukses keberhasilan si Penulisnya, atau semacam oto biografi/success story, maupun dengan pendekatan belajar dari keberhasilan orang lain.

Seringkali kita di sodori kiat-kiat sukses dan praktis tentang keberhasilan sesorang dengan sederet penghargaan dan kekayaan yang menempel padanya, yang membuat “ngiler” bagi siapa saja.. Di dunia IT paling tidak kita sering disodorkan bagaimana Mr Bill Gates bisa sukses membawa Miceosoft, Steve Job dengan Mac-nya Willam Dell dengan komouter del, Cisco System, HP, IBM, Google, Yahoo, Silicon Valley, Bangalore dll,

Cara apapun yang di sajikan, pada intinya adalah bagaimana memotivasi pembaca-nya untuk mengikuti jejak-nya dalam memulai dan menjalankan bisnis-nya. Ironisnya, banyak orang yang mengikuti kiat dan cara yang dituangkan di berbagai buku tersebut, ternyata tetap saja tidak berhasil, pertanyaannya kemudian adalah, adakah pedoman baku untuk memluai bisnis itu?

Pertanyaan di atas itulah sebenarnya yang memotivasi saya untuk memulai bisnis. Dan saya sudah memulai menemukan jawabannya, bahwa jarang kisah sukses sesorang itu dengan mudah kita “copy-paste” untuk menjadi kemudian sebagai kisah sukses saya. Meski setting sosial, awal memulai usahanya sama, akan tetapi tentu saja tetap saja terdapat perbedaan, ketika proses terus berjalan, dan semakin lama justru akan semakin tidak ketemu. Jika demikian , Bagaimana sih memulai bisnis itu? (bersambung)

IT Preneurship


Biasanya…. orang-orang IT Indonesia itu lebih seneng menggeluti dunianya dengan menjadi engineer. Mereka kebanyakan akan bangga jika dianggap lebih “hebat” dalam hal-hal teknis jika di banding yang lainnya. Salah satu parameter dari keahlian-nya/kepakaran dan keprofesionalan seseorang itu, jika telah mampu memegang certified professional tertentu. Akhirnya orang IT Indonesia pada berbondong-bondong ngejar certified-certified profesional, yang berderet-deret. Emang sih.. akan lebih kelihatan mentereng.  Dan bisa di pamerin,  nih lho gua… dengan sederet certified. Nah biasanya semakin pinter seseorang akan muncul semacam kesombongan intelektual (intellectual pride), yang menyebabkan cara memandang engineer lain dengan sebeleh mata. Siapa lu…, kecuali jika  sudah mendapat referensi dari kelompoknya. Inipun juga nggak menjamin tidak muncul adanya arogansi intelektual jika mereka kerja bareng 🙂

Emang dengan certified sederet akan membawa ke grade salary yang tentu lebih tinggi jika di banding dengan engineer biasa. Dengan embel-embel tersebut, juga akan mampu bekerja di world wide dan world class company, selain salary dan tunjangan yang tinggi, juga fasilitas yang luar biasa yang bias membikin ngiler. Akan tetapi… meskipun hebat sampai keliling di seluruh dunia setiap haripun –meminjam istilah Robert T. Kyosaki– tetap aja berada pada kuadran employee alias buruh atau paling banter self employee. Sehingga masih saja bekerja untuk uang…. dan disuruh-suruh orang alias tidak merdeka.b

Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan orang-orang IT India. Mereka telah mampu membangkitkan ruh para engineer itu, dari kuadran pekerja, dengan suatu sikap yang saya istilahkan dengan IT Preneurship. Kemampuan dan kecanggihan otak enggineer mereka di dunia IT, tidak membatasai mereka hanya sekadar jadi employee semata . Tetapi dengan IT Preneurship tersebut, mereka tergerak untuk terjun menjadi entrepreneur IT yang sejati. Meskipun harus di mulai dengan berdarah-darah.

Memang perjalanan menjadi entrepreneur itu, adalah perjalanan yang terjal dan mendaki. Kadang menaiki bukit bahkan gunung yang terjal disaat lain harus terjun di lembah yang terjal dan dalam pula. Disisi lain memang engineer tidak perlu banyak memikirkan pendapatannya. Mereka berada dalam zona aman, meski masih dihatui juga dengan PHK dll. Seingga para enginner ini pendapatannya bisa di ukur secara linear. Sedangkan menjadi entrepeneur, di hadapkan dengan segala ketidak pastian, terutama dlam hal pendapatan. Akan tetapi dengan karakteristik tersebut, sesungguhnya entrepreneur pendapatannya itu bisa di capai secara exponensial.

Tentu saja ada kiat dan caranya menjadi entrepeneur di dunia IT ini. Nah inilah yang saya istilahkan dengan IT Preneurshitp itu. Bagaimana prinsip-prinsip IT Preneurship itu bisa berjalan, nanti kita ikuti edisi berikutnya (bersambung)