Here Free Lunch


Yang terkesan dari kegiatan MTT#2 (MIFTA Teknopreneur Talks), adalah kemasan acara dan pilihan pembicaranya. Meski acaranya sederhana, tetapi sangat berbobot, menarik dan menggerakkan. Perhelatan rutin yang di laksanakan oleh MIFTA (Muslim Information Technology Association) ini, diadakan setiap bulan. Dengan cara mengundang dan juga mendatangi entrepreneur yang sudah cukup berhasil, dan memiliki track record yang bagus. Mereka “dipaksa” agar mau  berbagi tip dan trik bisnisnya, dari sejak awal merintis usaha sampai dengan  mencapai prestasi dan keberhasilan seperti sekarang ini. Narasumber, pada awalnya ditujukan kepada mereka yang memiliki bisnis yang berhubungan langsung dengan dunia IT (teknopreneur). Meski para pembicara MTT sebagaimana yang  diharapkan adalah  pelaku teknopreneur, akan tetapi Event Organizer-nya kali ini nampaknya cukup cerdas untuk kemudian merangkul pembicara yang memiliki potensi  untuk mendukung lahirnya teknopreneur baru. Sebab, sebagaimana visi MIFTA, untuk 2 tahun ke depan, adalah menciptakan 500 entrepreneur baru. Sebuah kerja mulia, yang besar, cukup menantang dan perlu didukung oleh berbagai pihak. Continue reading “Here Free Lunch”

Advertisements

Ujian Entrepreneur


Seorang kawan baru saja di rumahkan (baca = PHK) dari kantornya. Kemudian memberitahu saya, lewat SMS, “Mas Alhamdulillah saya pensiun dini, dan akan segera bakar kapal,”. Bakar Kapal adalah istilah yang di populerkan oleh salah satu komunitas bisnis. Istilah ini dinisbahkan kepada kisah kepahlawanan Thareq bin Ziyad, salah seorang panglima Islam yang terkenal. Ketika itu beliau menggelorakan semangat Jihad pasukannya, tatkala berhadahan dengan tentara salib, sesaat  setelah mendarat di Eropa dari perjalanannya menyeberang lautan dari Benua Afrika. Agar tidak ada pilihan bagi pasukannya untuk surut kebelakang, makah kapal yang telah menyeberangkannya, diperintahkan untuk di bakar. Sehingga tidak ada pilihan lain kecuali maju dan bertempur habis-habisan. Kemudian atas izin Allah, kaum muslimin ketika itu berhasil menaklukkan Benua Eropa. Continue reading “Ujian Entrepreneur”

Ikatlah Mimpimu Dengan Menuliskannya


Memang ini sedikit plesetan, dari atsar Ali bin Abi Tholib r.a, keponakan, menantu sekaligus sahabat Nabi SAW, yang dijuluki sebagai baabun ‘ilm (pintunya ilmu), dimana beliau pernah bersabda,”Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya”. Statement ini, jika kita tarik ke garis kekinian, maka akan ketemu relevansinya. Konon setiap penuntut ilmu, untuk meraih gelar strata kesarjanaannya, harus membuktikan tingkat kepahamannya akan ilmunya itu dengan menuliskannya. Yang kemudian di kenal berupa skripsi, thesis maupun desertasi. Atau dalam case lain, betapa banyaknya saat ini buku terbit, yang ditulis oleh orang dengan latar belakang, tingkat pendidikan dan disiplin ilmu yang beraneka ragam Ada bermacam alasan yang melatar belakanginya, ada yang inging menunjukkan jati dirinya, kampanye, untuk mendapatkan pengakuan masyarakat, men-share pengalaman dan sederet alasan lainnya. Pendek-nya dengan menulis, mereka telah berbagi pengalaman atau pengetahuan dengan sesama.

Lalu apa kaitanya dengan mimpi ?. Sebagaimana ilmu, sesungguhnya mimpi juga memiliki dimensi yang sangat luas. Bahkan bisa dikatakan melintasi ruang dan waktu. Mimpi, tidak bisa kemudian kita arahkan sekemauahendak kita. Dia bisa liar, dan bisa pula jinak, tergantung situasi batin ketika kita bermimpi. Dia datang begitu saja, dengan berbagai variasinya, dan kemudian pergi begitu saja. Ada kalanya mimpi itu begitu membekas sampai kita bangun pun masih terngiang-ngiang dengan mimpi kita,  atau kerap kali hilang tak berbekas. Mungkin juga kita pernah terbangunkan olehnya, jika ternyata itu berupa mimpi buruk. Sampai-sampai ada juga orang — dan ini menjadi kepercayaan sebagaian masyarakat–,  yaitu dengan mentakwil mimpi. Jika mimpi begini, takwilnya begitu, jika mimpi begitu, takwilnya begini dan seterusnya. Bahasan ini terkait dengan  mimpi dalam arti yang sesungguhnya atau lebih dikenal dengan “kembangnya orang tidur”.

Tetapi dalam tulisan ini, saya ingin mengajak kita untuk membahas “mimpi” dalam arti yang lebih luas. Bisa itu berupa cita-cita atau bisa berupa visi hidup. Hal ini saya angkat, karena sejatinya dalam kesehariann kita, tidak terlepas dari upaya kita untuk merah apa yang disebut “mimpi” itu. Sejak kecil kita pernah bercita-cita untuk menjadi ini dan itu. Dan di masa kecil itu pula, apa yang kita cita-citakan seolah-olah tergambar jelas dalam sebuah layar tancap J. Tetapi tiba-tiba dejavu, saat ini sekonyong-konyong kita pernah berada dalam tempat dan waktu yang sama, sebagaimana yang tergambar dalam khayalan kita masa kecil itu. Atau, kita pernah juga mempunyai visi hidup yang pernah kita declare-kan, ketika mengikuti sebuah acara pelatihan motivasi, semacam Achievement Motivation Training dan sejenisnya. Visi hidup kita bahkan pernah kita tulis, akan tetapi kita tidak tahu makna apa yang kita mimpikan dan juga kita tulis itu. Sehingga, tulisan itu pergi begitu saja, atau mungkin terlupakan dan hilang ditelan waktu.

Lalu, apa maksudnya menuliskan mimpi itu. Mulai saat ini, mari kita buatlah list dari mimpi-mimpi kita. Jangan berpikir yang macam-macam dulu, daftar semua mumpi itu, bisa cuman 1 baris, satu lembar ataupun berpuluh-puluh halaman juga tidak masalah. Baru setelah yakin bahwa semua mimpi-mimpi itu sudah tertuang dan tertulis di kertas-kertas itu, mulailah memilah dengan yang mungkin dicapai dan skala prioritas, atau dengan kata lain dibuatkan semacam matrix dengan prioritas yang penting dan mendesak. Kita harus berani merekonstrusksikan mimpi-mimpi kita yang mungkin berserakan itu. Ibarat sebuah puzzle, mimpi kita teracak kemana-mana. Kita harus tekun dan telaten untuk menata ulang mimpi-mimpi itu. Saya yakin, sesungguhnya kita masih ingat tentang apa yang pernah kita cita-citakan, dalam rentang umur kita, sejak kecil sampai usia berapapun kita sekarang. Barangkali, ada yang sudah terealisasikan, ada yang belum terlaksana atau bahkan ada yang sudah jadi kadaluwarsa. Pendeknya, kita berusaha mengelompokkan mimpi itu yang menjadi : mimpi produktif, tidak produktif dan obsolette. Kemudian, mimpi itu bisa disusun menjadi semacam roadmap, blueprint atau bahkan proposal hidup kita. Pada awalnya bisa jadi tidak teratur, atau baru berupa mind mapping. Akan tetapi itu akan terus bergulir dan tidak mustahil bisa di breakdown lebih jauh lagi. Tidak ada kata terlambat, tetapi jangan berlama-lama. Saat ini juga, wujudkan mimpi-mimpi itu dengan menuliskannya.

Mengapa Start Up Company Seringkali Bubar


Minggu lalu saya kedatangan tamu 2 (dua) orang teman sesama entrepreneur, di sore hari. Mereka berdua datang ke kantor, seperti biasa berbagi informasi, terkait opportunity dan kemungkinan untuk melakukan kolaborasi dan kerjasama. Pembicaraan pada awalnya lancar, membahas seputar sepinya order/proyek tahun ini dan optimisme untuk menghadapi tahun depan. Tentu dengan bumbu gurauan yang menyegarkan. Ditengah pembicaraan kemudian mereka bercerita bahwa malam ini, mereka akan melakukan rapat dan mengambil keputusan untuk melanjutkan bisnisnya atau membubarkan. Ada seorang partnernya yang melakukan fraud sehingga menyebabkan kerugian dan kekacauan didalam manajemen. Padahal dia salah satu share holder dan juga duduk di jajaran manajemen.

Hal seperti di atas, dengan berbagai macam varian permasalahannya, dan tingkat keruwetan yang berbeda, seringkali saya temukan, dan menjadi persoalan bagi entrepreneur kita . Seringkali ada yang sukses, dan menjadikan itu sebagai momentum untuk menjadikan team work yang solid. Tetapi tidak jarang, justru menyebabkan perpecahan, bahkan bubarnya perusahaan itu. Hal yang samapun, dua tahun yang lalu saya juga mengalami, memang tidak sampai bubar, akan tetapi perpecahan itu akibatnya terasakan sampai sekarang. Kendati kondisi perusahaan sekarang jauh lebih baik sebelum terjadi perpecahan itu.

Herannya lagi ini juga terjadi bagi mereka yang berasal dari sekolah, atau  bahkan kelas, jurusan, fakultas, angkatan dan perguruan tinggi yang sama. Ternyata tidak menjamin terjadi kelanggengan dalam berbisnis, meskipun tetap ada juga yang awet. Demikian halnya mereka yang ketemu ketika mau mulai usaha ternyata akhirnya bisa langgeng, kendati adapula yang kemudian pecah di tengah jalan. Sedangkan waktu terjadinya “perpecahan” itu juga bermacam-macam, bisa terjadi di awal-awal pendiriannya, di beberapa tahun kemudian, bahkan ada yang sudah puluhan tahun baru terjadi disharmonis itu.

Disaat yang sama kita bisa menemukan beberapa perusahaan yang telah berumur puluhan tahun, untuk kasus Indonesian misalnya : Jamu Jago, Group Bakrie, Sampoerna, dan masih banyak lagi. Untuk kasus negara lain misalnya : Stora (Swedia, 800 tahun), Sumitomo (Jepang, 400 tahun), Du Pont (AS, 195 tahun), Pilkington (Inggris 171 tahun) dan juga IBM, Toyota, P&G, Mercedez Benz dll. Artinya, perusahaan itu bisa berumur panjang dan diwariskan, jika dikelola dengan baik. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi pelaku bisnis di Indonesia, bagaimana bisa mengelola perusahaan sehingga berumur panjang.

Dari pengalaman saya, dan beberapa pengalaman teman dan juga orang lain, saya mengelompokkan hal-hal yang menyebabkan perpecahan tersebut, di antaranya adalah :

  1. Kurangnya Modal
  2. Tidak Fokusnya Bisnis
  3. Team Work (Manajemen) yang Tidak Solid
  4. Perbedaan Visi
  5. Terjadinya Fraud

Kedepan hal-hal tersebut akan saya kupas satu persatu.

Penulis, All England dan Entrepreneur


Setelah membaca bukunya mas Hernowo, yang berjudul : “Mengikat Makna Update”, pesan yang saya peroleh dari buku itu, kira-kira begini, “Menjadi penulis itu bukan hanya milik orang-orang yang berbakat menulis. Akan tetapi dia akan melekat kepada siapapun yang berani (belajar) untuk menulis. Meskipun pada awalnya tulisannya itu tidak teratur, tidak menerapkan EYD, tidak runut dan sebagainya. Tulislah apa saja yang anda pikirkan, maka lambat –laun anda akan menjadi penulis,”. Mas Hernowo, lebih menguatkan tesisnya itu, kemudian dengan menunjukkan bahwa keberhasilan beliau menulis adalah justru ketika berumur 44 tahun. Dan dalam waktu 8 tahun (saat ini umur beliau 52 tahun), telah berhasil menulis 34 buku, dan hebatnya lagi sebagian menjadi best seller.

Saya tidak hendak mengajak kita untuk lebih jauh mengenal mas Hernowo, anda bisa googling jika menginginkan. Sebagai pelaku bisnis, Saya hanya ingin menggunakan analogi mas Hernowo tentang menulis itu, dengan bagaimana seseorang menjadi entrepreneur. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mendengar pak Aksa Mahmud (pemilik BOSOWA groups), memberikan analogi yang ringan pula tentang bagaimana menjadi pebisnis. “Tidak mungkin sesorang yang ingin menjadi juara dunia renang, dan merebut medali emas olimpiade, hanya membaca buku teori tentang renang dan kisah sukses peraih medali emas olimpiade, tanpa sekalipun dia pernah menceburkan diri ke kolam renang dan memulai berenang. Mungkin di awal dia tidak bisa menahan tubuhnya dan minum air atau bahkan tenggelam. Akan tetapi dengan semangat, latihan dan usahanya itulah dia akan dapat menggapai cita-citanya itu.”. Jadi menjadi pebisnis itu bukan mimpi yang ada diangan-angan belaka. Tetapi harus di upayakan dengan sungguh-sunguh, dengan berbagai resiko yang mengikutinya.

Atau di kisah lain, bagaimana seorang Liem Swie King, yang juara All England itu. Keberhasilannya tidak di peroleh secara mudah dan cuma-cuma, akan tetapi terletak dari cara berlatihnya, yang luar biasa.”Bagaimana saya bisa mengalahkan juara All England (ketika itu Rudi Hartono), jika saya berlatihnya saja sama dengan dia. Saya harus berlatih dua kali lipat (lebih berat) agar bisa dapat mengalahkannya,”. Dan terbukti dengan semangat, upaya dan kerja kerasnya seperti itu, kemudian Liem Swie King bisa mengalahkan Rudi Hartono dan kemudian menjadi juara All England sampai beberapa kali.

Lalu, apa kaitannya dengan bisnis. Seringkali “calon” entrepreneur gagal berbisnis bukan karena tidak  paham atau tidak punya pengetahuan tentang bisnis. Bahkan banyak diantara mereka yang sangat paham bagaimana menyusun business plan, dan kemuadian melakukan SWOT analisys, termasuk juga menyajikan rasio keuangan yang sangat susah bin njlimet dan akademik itu. Bahkan bacaanya tentang kewirausahaan bisa jadi lebih banyak dari pelaku bisnis yang sukses itu sendiri. Ibaratnya secara teori sudah hafal diluar kepala. Seseorang seringkali ingin menjadi pebisnis dengan membayangkan enaknya  sosok pebisnis yang sukses saat ini. Sangat sedikit yang menyelami bagaimana  proses seseorang itu menjadi sukses. Penginya semuanya serba instan. Sehingga yang ada dipikirannya adalah ingin perusahaannya langsung besar.  Mereka lebih lihai berhitung di atas kertas. Satu hal yang tidak dilakukan adalah mencoba, dan memulai untuk berbisnis.

Mari kita bayangkan korporasi model apa yang ingin anda bangun. Katakanlah Anda  ingin bikin perusahaan seperti Micosoft. Bukankah Microsoft yang ada sekarang ini, dulunya berasal dari perusahaan yang kecil, yang dimulai oleh Bill Gates dari garasi rumah orang tuanya. Bahkan sebelum adanya itu bukankah, dulunya Microsoft juga tidak ada. Yang menyebabkan adanya Microsoft adalah keberanian Bill Gates, keluar dari kuliahnya dan kemudian terjun langsung untuk memulai bisnis itu. Tentu saja dinamika Microsoft juga melalui fase mencoba, berusaha, jatuh-bangun dan kemudian sukses.

Jadi…, untuk menjadi penulis, juara All England dan juga entrepreneur, ternyata resepnya sama. Terjun langsung, terus belajar (berlatih/mencoba) dan jangan takut gagal… (AS)