(Bukan) Gurita Cikeas


Hari-hari kita di hebohkan oleh sebuah buku yang di karang George Junus Aditjondro, yang diterbitkan oleh penerbit Galangpress Yogyakarta, dengan judul “ Membongkar Gurita Cikeas”, yang rencananya akan diluncurkan pada 30 Desember 2009. Meski buku itu belum diterbitkan, ternyata reaksi publik cukup beragam mensikapi kehadiran buku itu. Tentu saja ada tejadi pro dan kontra. Dan biasanya, dalam berapa hari ini, beritanya akan menghiasi media cetak dan elektronik, kemudian hilang begitu saja. Saya tidak hendak mengajak untuk mengulas isi buku itu, akan tetapi saya pengin melihat sisi lain. Yaitu mengenal “Gurita”, dengan makna yang sesungguhnya. Sekaligus sebagai ingatan ketika belajar Biologi dibangku SMA dulu 

Dari Wikipedia saya peroleh bahwa Gurita adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.

Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. Lengan gurita merupakan struktur hidrostat muskuler yang hampir seluruhnya terdiri dari lapisan otot tanpa tulang atau tulang rangka luar. Tidak seperti hewan Cephalopoda lainnya, sebagian besar gurita dari subordo Incirrata mempunyai tubuh yang terdiri dari otot dan tanpa tulang rangka dalam. Gurita tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar seperti halnya Nautilus dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sotong dan cumi-cumi. Paruh adalah bagian terkeras dari tubuh gurita yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil.

Tubuh yang sangat fleksibel memungkinkan gurita untuk menyelipkan diri pada celah batuan yang sangat sempit di dasar laut, terutama sewaktu melarikan diri dari ikan pemangsa seperti belut laut Moray. Gurita yang kurang dikenal orang dari subordo Cirrata memiliki dua buah sirip dan cangkang dalam sehingga kemampuan untuk menyelip ke dalam ruangan sempit menjadi berkurang.

Gurita sangat cerdas dan kemungkinan merupakan hewan paling cerdas di antara semua hewan invertebrata. Kecerdasan gurita sering menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli biologi. Hasil percobaan mencari jalan di dalam maze dan memecahkan masalah menunjukkan bahwa gurita mempunyai ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang, walaupun masa hidup gurita yang singkat membuat pengetahuan yang bisa dipelajari gurita menjadi terbatas. Gurita mempunyai sistem saraf yang sangat kompleks dengan sebagian saja yang terlokalisir di bagian otak. Dua pertiga dari sel saraf terdapat pada tali saraf yang ada di kedelapan lengan gurita. Lengan gurita bisa melakukan berbagai jenis gerakan refleks yang rumit, dipicu oleh 3 tahapan sistem saraf yang berbeda-beda. Beberapa jenis gurita seperti gurita mimic bisa menggerakkan lengan-lengannya untuk meniru gerakan hewan laut yang lain.

Banyak orang menganggap gurita adalah satwa laut yang tidak berbahaya, tapi faktanya amat bertentangan dengan anggapan itu. Sebuah studi yang baru dilakukan oleh sejumlah ilmuwan Australia menunjukkan bahwa semua gurita ternyata berbisa. Para ilmuwan telah mengetahui bahwa gurita cincin biru memiliki bisa beracun. Kini mereka mengatakan semua gurita dan sotong, bahkan beberapa cumi-cumi, memiliki racun berbisa. Pada dasarnya, semua binatang itu memiliki nenek moyang purba berbisa yang sama. Dalam studi yang dipublikasikan dalam Journal of Molecular Evolution , para ilmuwan mengindikasikan bahwa informasi itu akan membuka jalan baru menuju penemuan obat baru.

Itulah sedikit pengetahuan tentang gurita, ternyata dibalik kelembutannyta menyimpan banyak rahasia, berupa kecerdasan dan bisa/racun. Dari penjelasan itu, maka wajar saja ketika Gurita di pakai sebagai analogi dalam dunia bisnis yang berkelidan dengan politik menyebabkan gerah, bagi yang terlibat disitu. Atau jangan-jangan mereka tersinggung bahwa yang terjadi sekarang sesungguhnya masih belum sebesar gurita, tetapi masih cumi-cumi. Bisa juga sebaliknya, mereka tersinggung karena gurita, yang terungkap disitu terlalu kecil dibanding kenyataannya. Wallahu’a’lam.

Advertisements

Mengkader atau Mati


Terinspirasi oleh status FB, seorang sahabat,  kebetulan juga seorang Ustadz, yang sedang melakukan Dauroh (Workshop) di Batu- Malang. Di status FB-nya tersebut tertulis “Mengkader atau Mati”. Sebuah tulisan, meskipun pendek dan singkat, hanya tiga suku kata, tetapi memiliki makna yang dalam dan sekaligus sebuah pernyataan yang menantang dan menggugah. Kalimat yang biasanya keluar dari jiwa-jiwa yang memiliki semangat kejuangan yang tinggi. Ternyata kalimat itu menjadi tema salah satu dauroh, tentu saja subyektifitas saya mengatakan bahwa kalimat itu akan menjiwai seluruh kegiatan di acara tersebut. Berhubung saya tidak mengikuti acara tersebut, tentu saja saya hanya bisa untuk “meraba” dan membayangkan ataupun menduga, dinamika dan suasana yang terjadi di tempat itu. Pastinya, akan dipenuhi dengan semangat dan ghiroh, yang meletup-letup, yang dihidupkan dalam kegitan itu. Saya bayangkan, rangkaian acara itu akan di mulai dari proses penyadaran, pemahaman konsep dan biasanya dilanjutkan dengan model aksi.

Mengapa pengkaderan itu urgent? dan mengapa pula mengkader itu penting. Jika dianalogikan dengan siklus kehidupan di muka bumi ini, maka pengkaderan adalah sama dengan regenerasi. Sebagaimana kita ketahui seluruh mahkluk hidup dimuka bumi ini, akan melakukan proses regenerasi. Tentu saja dengan bermacam variasi, model dan cara yang digunakannya. Apa yang dilakukan Singa si Raja rimba dalam meregenerasi kepada anaknya, tentu tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh seekor ayam. Apa yang dilakukan oleh pohon pisang, tentu berlainan dengan apa yang di lakukan oleh pohon Randu untuk melakukan proses regenerasi. Meskipun berlainan, akan tetapi secara spesifik memiliki tujuan inti yang sama, yaitu agar mereka memiliki penerus yang akan melanjutkan keturunannya, atau dengan kata lain melestarikan dan bahkan mengembangkan apa yang telah dibawa oleh generasi sebelumnya, kepada generasi selanjutnya. Singkatnya regerasi adalah sebuah sunnatullah, setiap mahkluk hidup dalam menjaga keberlangsungan hidupnya.

Demikian halnya dalam sebuah keluarga, kelompok, organisasi, perusahaan dan bahkan juga negara. Jika gagal melakukan regenerasi (baca ; pengkaderan), maka sesungguhnya gagal pula apa yang mereka “perjuangkan” selama ini. Tanpa adanya sebuah regenerasi, visi dan misi yang baik akan terputus atau lambat laun akan mati, bersama dengan kematian founding fathers atau assabiqunal awwalun-nya. Dalam konteks inilah, maka pengkaderan dalam organisasi memiliki urgensi yang tinggi. Pada sebuah organisasi (dakwah), sebagimana yang digeluti sahabat saya tersebut, tentu sudah dirumuskan dan memiliki tahapan dalam melakukan proses pengkaderan. Saya berkeyakinan, bahwa proses pengkaderannya akan dilakukan dengan program tarbiyah yang komperhensif yang mencakup tarbiyah ruhiyyah (spiritual), tarbiyah ‘aqliyyah (intelektual) dan tarbiyah jasadiyyah (fisik). Ketiganya itu merupakan satu kesatuan yang integrated, tidak dapat dipisah-pisahkan. Dari tarbiyah yang komperhensif ini diharapkan akan melahirkan output-output yang telah siap berjuang dan berjihad demi cita-cita yang mulia dan luhur yaitu menegakkan panji-panji Islam dimuka bumi. Dari sinilah maka jargon “Mengkader atau Mati”, memiliki makna.

Dalam proses Pengkaderan tentu melibatkan Pengkader dan Kader. Kader paling tidak memiliki pengertian sebagi orang yang menjadi inti penggerak dalam sebuah pergerakan, baik itu bersifat pribadi maupun golongan. Pengkader adalah Kader, yang sudah melalui dan lulus dalam serangkaian tahapan proses pengkaderan. Mengkader berarti bagaimana memproses sesorang biasa (yang belum kader) dengan melalui tahapan tertentu, untuk menjadi dan melahirkan kader-kader. Sehingga dari proses pengkaderan ini akan lahir penerus yang akan meneruskan setiap cita-cita mulia yang sedang kita pikul. Mereka (para kader itu) akan memperjuangkan visi dan misi yang selama ini kita emban. Bahkan bisa jadi, mereka akan bisa mengembangkan dan menyempurnakan idealisme yang sudah kita bangun sebelumnya. Pendek kata, jika proses pengkaderan ini tidak ada, terputus, terhenti, atau macet, maka tunggulah saat-saat terputus pula cita-cita besar dan mulia generasi sebelumnya . Sehingga bersamaan dengan itu, hal-hal yang selama ini dibangun dan dikembangkan juga akan lenyap ditelan waktu.

Maka…, siapapun, dimanapun, kapanpun, dalam posisi apapun, melakukan pengkaderan adalah sebuah keharusan. Tidak ada sedetik waktu-pun yang kita miliki, selain melakukan aktifitas ini. Jika anda, keluarga anda, kelompok anda, organisasi anda, partai anda dan juga negara anda, ingin merealisasikan cita-cita, visi dan misinya, maka hanya melakukan tiga suku kata ini :”Mengkader atau Mati”. Selamat Mengkader…. (a tribute to Ust. Sohibul Anwar)

Mengenang Kasih Ibu di Hari Ibu


“Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia”.  Tiba-tiba saya teringat lagu ini di hari Ibu. Lagu yang senantiasa dinyanyikan almarhumah Ibu kepada kami, ketika kami masih kecil. Jika saya atau kakak-kakak sedang bandel/nakal, ibu senantiasa melantunkan lagu itu, dengan suaranya yang lembut, merdu dan penuh penghayatan. Bagaikan tersihir,  pada saat yang bersamaan kami semua akan menuruti ibu.

Susah bagi saya untuk melukiskan sosok Ibu kami tersebut, apalagi dalam ruang blog yang sempit ini. Ingin rasanya suatu saat nanti, saya membuat biografi Ibu. Diruang ini, saya hanya ingin memberikan gambaran beberapa episode, dari deretan panjang riwayat hidupnya. Beliau adalah, seorang ibu yang sungguh amat luar biasa, multidimensi. Ibu yang mampu menjadi tauladan, pembimbing, pendidik dan sekaligus menjadi pelindung,  tidak hanya kepada kami anak-anaknya, tetapi juga kepada para tetangga, murid, sanak saudara, dan juga kerabatnya. Ibu, yang tidak hanya cantik secara fisik, akan tetapi “inner beauty”-nya sungguh patut untuk di teladani. Beliau senantiasa mengajari kepada kami bagaimana harus menghormati orang dan juga menjalin dan menjaga tali silatturahim. Yang senantiasa mengajak kami untuk selalu optimis menatap masa depan. Mengajari kami untuk tidak silau dengan gemerlap dunia, serta menjaga ibadah kami.

Memang secara dien pemahaman beliau tidak mendalam. Bahkan ketika memberikan petuah dan nasihat kepada kamipun, tidak harus dengan menyitir ayat-ayat di Kitab Suci. Tetapi sungguh, setelah kami dewasa, dan kemudian mengerti sedikit tentang dienulhaq ini, nyaris tidak ada satupun, apa yang beliau sampaikan itu, bertentangan dengan Syar’i. Semuanya inline. Bahkan seolah-olah tinggal mencarikan pembenar di Kitab Suci dan Hadits Nabi, maka seluruh apa yang Ibu lakukan dan sampaikan itu, bisa menjadi serangkaian tulisan atau bahkan buku tentang Islamic Parenting Guide.

Beliau berprofesi sebagai Guru SD, dan terakhir jabatannya adalah Kepala Sekolah Dasar. Sebuah profesi, yang kemudian mentahbiskan beliau menjadi bagian dari “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa,”.  Guru yang benar-benar bisa di gugu dan di tiru. The Real Teacher, itulah penilaian subyektif saya.  Beliau tidak hanya melakukan transfer of knowledge, tetapi juga melakukan transfer  of value. Yang mendidik dan sekaligus mengajari murid-muridnya sehingga menjadi  jiwa-jiwa yang berkarakter. Selain sebagai guru, aktifitas sosialnya di luar rumahpun, sungguh sangat padat. Selain sebagai anggota pengurus Dharmawanita, menjadi pengurus PKK, Pengurus Koperasi, Pengajian dan sederet aktifitas sosial lainnya.  Akan tetapi, deretan aktifitas itu, sama sekali tidak mengurangi kodrat, kapasitas dan peran beliau sebagai Ibu Rumah Tangga.

Beliau senantiasa bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Kemudian melakukan aktifitas ibadah, dan pada saat bersamaan, beliau juga mempersiapkan masakan untuk sarapan kami dipagi hari. Beliau menyapu halaman rumah kami yang cukup luas, dan sebelum jam 6.00 pagi, seluruh pekerjaan itu termasuk hidangan untuk keluarga sudah siap. Selain itu beliau juga sudah mempersiapkan pakaian kerja Bapak dan juga kami anak-anaknya. Saya sangat heran, bagaimana beliau mampu memanage, waktu sedemikian baik. Tidak pernah rasanya beliau belajar tentang Project Management, akan tetapi seluruh rangkaian aktifitasnya, seolah mengikuti standar PMBOK. Itu semua beliau lakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi.  Sebab dari hari Senin-Sabtu beliau harus mengajar, di Sekolah yang berada di lain kecamatan yang ditempuh dalam waktu 30 menit dengan mengendarai Sepeda Motor. Artinya beliau datang lebih pagi, dari jadwal sekolah yang dimulai pukul 07.00.

Mendekati usia 50 tahun Ibu mulai menderita berbagai macam penyakit. Yang dimulai dari Cancer Payudara dan komplikasi dengan Lever. Penyakitnya semakin parah ketika Cansernya di operasi. Setelah itu, selama hampir 7 tahun,  Ibu keluar masuk Rumah Sakit dan juga pengobatan Alternatif.  Akhirnya di usia ke-55 tahun,  di pagi hari bulan Juli tahun 1996, Ibu menghembuskan nafas-nya yang terakhir dengan senyuman  tersungging indah di bibirnya. Maafkan kami anakmu yang belum bisa membalas seluruh jasamu itu. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa’afihi, wa’fu’anha. Semoga Allah mengampuni seluruh dosa dan kesalahan Ibu, menerima seluruh amalnya, dan mempertemukan kembali dengan kami di Surganya . Amiin…

Penulis, All England dan Entrepreneur


Setelah membaca bukunya mas Hernowo, yang berjudul : “Mengikat Makna Update”, pesan yang saya peroleh dari buku itu, kira-kira begini, “Menjadi penulis itu bukan hanya milik orang-orang yang berbakat menulis. Akan tetapi dia akan melekat kepada siapapun yang berani (belajar) untuk menulis. Meskipun pada awalnya tulisannya itu tidak teratur, tidak menerapkan EYD, tidak runut dan sebagainya. Tulislah apa saja yang anda pikirkan, maka lambat –laun anda akan menjadi penulis,”. Mas Hernowo, lebih menguatkan tesisnya itu, kemudian dengan menunjukkan bahwa keberhasilan beliau menulis adalah justru ketika berumur 44 tahun. Dan dalam waktu 8 tahun (saat ini umur beliau 52 tahun), telah berhasil menulis 34 buku, dan hebatnya lagi sebagian menjadi best seller.

Saya tidak hendak mengajak kita untuk lebih jauh mengenal mas Hernowo, anda bisa googling jika menginginkan. Sebagai pelaku bisnis, Saya hanya ingin menggunakan analogi mas Hernowo tentang menulis itu, dengan bagaimana seseorang menjadi entrepreneur. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mendengar pak Aksa Mahmud (pemilik BOSOWA groups), memberikan analogi yang ringan pula tentang bagaimana menjadi pebisnis. “Tidak mungkin sesorang yang ingin menjadi juara dunia renang, dan merebut medali emas olimpiade, hanya membaca buku teori tentang renang dan kisah sukses peraih medali emas olimpiade, tanpa sekalipun dia pernah menceburkan diri ke kolam renang dan memulai berenang. Mungkin di awal dia tidak bisa menahan tubuhnya dan minum air atau bahkan tenggelam. Akan tetapi dengan semangat, latihan dan usahanya itulah dia akan dapat menggapai cita-citanya itu.”. Jadi menjadi pebisnis itu bukan mimpi yang ada diangan-angan belaka. Tetapi harus di upayakan dengan sungguh-sunguh, dengan berbagai resiko yang mengikutinya.

Atau di kisah lain, bagaimana seorang Liem Swie King, yang juara All England itu. Keberhasilannya tidak di peroleh secara mudah dan cuma-cuma, akan tetapi terletak dari cara berlatihnya, yang luar biasa.”Bagaimana saya bisa mengalahkan juara All England (ketika itu Rudi Hartono), jika saya berlatihnya saja sama dengan dia. Saya harus berlatih dua kali lipat (lebih berat) agar bisa dapat mengalahkannya,”. Dan terbukti dengan semangat, upaya dan kerja kerasnya seperti itu, kemudian Liem Swie King bisa mengalahkan Rudi Hartono dan kemudian menjadi juara All England sampai beberapa kali.

Lalu, apa kaitannya dengan bisnis. Seringkali “calon” entrepreneur gagal berbisnis bukan karena tidak  paham atau tidak punya pengetahuan tentang bisnis. Bahkan banyak diantara mereka yang sangat paham bagaimana menyusun business plan, dan kemuadian melakukan SWOT analisys, termasuk juga menyajikan rasio keuangan yang sangat susah bin njlimet dan akademik itu. Bahkan bacaanya tentang kewirausahaan bisa jadi lebih banyak dari pelaku bisnis yang sukses itu sendiri. Ibaratnya secara teori sudah hafal diluar kepala. Seseorang seringkali ingin menjadi pebisnis dengan membayangkan enaknya  sosok pebisnis yang sukses saat ini. Sangat sedikit yang menyelami bagaimana  proses seseorang itu menjadi sukses. Penginya semuanya serba instan. Sehingga yang ada dipikirannya adalah ingin perusahaannya langsung besar.  Mereka lebih lihai berhitung di atas kertas. Satu hal yang tidak dilakukan adalah mencoba, dan memulai untuk berbisnis.

Mari kita bayangkan korporasi model apa yang ingin anda bangun. Katakanlah Anda  ingin bikin perusahaan seperti Micosoft. Bukankah Microsoft yang ada sekarang ini, dulunya berasal dari perusahaan yang kecil, yang dimulai oleh Bill Gates dari garasi rumah orang tuanya. Bahkan sebelum adanya itu bukankah, dulunya Microsoft juga tidak ada. Yang menyebabkan adanya Microsoft adalah keberanian Bill Gates, keluar dari kuliahnya dan kemudian terjun langsung untuk memulai bisnis itu. Tentu saja dinamika Microsoft juga melalui fase mencoba, berusaha, jatuh-bangun dan kemudian sukses.

Jadi…, untuk menjadi penulis, juara All England dan juga entrepreneur, ternyata resepnya sama. Terjun langsung, terus belajar (berlatih/mencoba) dan jangan takut gagal… (AS)



Ayo…. Kembali Nge-Blog

Bukankah sepenggal kalimat yang di tulis di wall, untuk update status, ternyata lebih memberikan rasa plong—karena bisa mewakili ungkapan kekesalan, kebahagiaan, dll–, ketimbang harus menulis beberapa paragraf postingan di blog. Singkatnya cukup dengan mengetikkan beberapa kata di keyboard laptop atau di qwerty-nya blackberry, sudah bisa mewakili ungkapan perasaan.


Cukup lama blog ini (dan juga beberapa blog saya yang lain)  tidak pernah saya update. Kesibukan, mungkin sebuah alasan sekaligus sebagai sebuah apologi untuk membenarkan “kemalasan” saya dalam merangkai kata menjadi sebuah kalimat yang tersusun menjadi paragraf dalam blog ini. Padahal selain alasan itu, sesungguhnya kehadiran twitter dan facebook, dan beberapa aplikasi social networking lainnya,  telah menyebabkan saya berpaling dari ngeblog. Hadirnya social networking itulah sejatinya menambah deretan sebagai pembenar bahkan menjustifikasi bahwa budaya lisan lebih mendominasi daripada budaya tulis di negeri ini.

Bukankah sepenggal kalimat yang di tulis di wall, untuk update status, ternyata lebih memberikan rasa plong—karena bisa mewakili ungkapan kekesalan, kebahagiaan, dll–, ketimbang harus menulis beberapa paragraf postingan di blog.  Singkatnya cukup dengan mengetikkan beberapa kata di keyboard laptop atau di qwerty-nya blackberry, sudah bisa mewakili ungkapan perasaan. Disamping kemudian lewat jejaring sosial itu, kemudian kita tiba-tiba bisa tersambung kembali dengan teman-teman masa lalu, dimasa masih di TK, SD, dan seterusnya, teman pengajian, teman bermain, dll. Sehingga lengkap sudah ber-social networking, blog tidak usah di sentuh.

Meskipun terkesan simple dan egelatiter, dan juga menyambung tali sillaturrahim yang telah lama tidak tersambung, ternyata banyak diantara facebook user (dan juga social networking lainnya), merasakan kebosanan juga. Memang banyak alasan yang melatar belakanginya, ada yang tidak enak masa lalunya terbuka, khawatir CLBK, membuang-buang waktu, dan lain sebainya. Meski kemudian tidak  sampai menghapus account-nya akan tetapi sudah jarang posting di wall. (Minimal jika ada yang nanya punya account tweet, FB, bisa ngejawab 🙂

Selain alasan itu, bagi saya, ada hal lain lagi yang lebih prinsip, yaitu, saya khawatir (minimal untuk saya) akan mengubah cara berfikir saya menjadi simple dan tidak tersetruktur. Bukan gaya, bukan sok ilmiah, saya hanya ingin mengajak kita untuk menghidupkan lagi budaya tulis. Dan lewat blog ini (yang akan saya jadikan main blog), saya akan mengusahakan minimal 1 minggu sekali, saya akan update blog ini. Ayo kembali ngeblog 🙂

Mulai Bisnis IT (Seri IT Preneurship)


Jika kita baca banyak buku tentang /kewirausahaan, tentu kita temui banyak kiat dan cara sesorang utnuk memulai bisnisnya. Baik dengen cara pendekatan dari kisah sukses keberhasilan si Penulisnya, atau semacam oto biografi/success story, maupun dengan pendekatan belajar dari keberhasilan orang lain.

Seringkali kita di sodori kiat-kiat sukses dan praktis tentang keberhasilan sesorang dengan sederet penghargaan dan kekayaan yang menempel padanya, yang membuat “ngiler” bagi siapa saja.. Di dunia IT paling tidak kita sering disodorkan bagaimana Mr Bill Gates bisa sukses membawa Miceosoft, Steve Job dengan Mac-nya Willam Dell dengan komouter del, Cisco System, HP, IBM, Google, Yahoo, Silicon Valley, Bangalore dll,

Cara apapun yang di sajikan, pada intinya adalah bagaimana memotivasi pembaca-nya untuk mengikuti jejak-nya dalam memulai dan menjalankan bisnis-nya. Ironisnya, banyak orang yang mengikuti kiat dan cara yang dituangkan di berbagai buku tersebut, ternyata tetap saja tidak berhasil, pertanyaannya kemudian adalah, adakah pedoman baku untuk memluai bisnis itu?

Pertanyaan di atas itulah sebenarnya yang memotivasi saya untuk memulai bisnis. Dan saya sudah memulai menemukan jawabannya, bahwa jarang kisah sukses sesorang itu dengan mudah kita “copy-paste” untuk menjadi kemudian sebagai kisah sukses saya. Meski setting sosial, awal memulai usahanya sama, akan tetapi tentu saja tetap saja terdapat perbedaan, ketika proses terus berjalan, dan semakin lama justru akan semakin tidak ketemu. Jika demikian , Bagaimana sih memulai bisnis itu? (bersambung)

Motivasi : Ngajarin Anak Puasa


Memasuki bulan Ramadhan, ada tambahan job baru, yang harus dengan telaten harus aku kerjakan. Bukan job-job besar untuk bikin proposal dalam rangka menjebolkan sebuah proyek. Akan tetapi lebih mulia dari pada itu, yaitu mengantarkan anak-anak-ku tersayang sebagai amanah Allah untuk lebih banyak mengenal Syaria’ahnya. Ya…..Rukun Islam ke-4, yaitu puasa.

Sampai hari ke-4 ini di luar dugaan justru Nafi’ anak ke -2, yang masih kelas 1 SD umur 6 tahun itu, sama sekali belom bolong puasanya. Masih keliatan segar bugar. Sedangkan Rohmah anak ke-1, yang kelas 3 SD (8 tahun), kemarin harus buka jam 2 siang karena sakit (deman) dan hari ke-4 pun sama ummi-nya dan juga saya, kami larang untuk berpuasa,karena masih deman, meskipun protes pengin puasa. Dan yang mebikin kejutan justru anak k3-3 Rif’at (IAK) baru umur 5 tahun, kelas TKB, hari pertama puasa penuh sampai maghrib, sedang hari ke2 dan ketiga sampai dengan Ashar. Sedangkan yang kecil 2 tahun tentu belon ngerti puasa dong. Subhanallah…

Berawal dari Motivasi …..

Mungkin alasan anak-anak tersebut untuk tetep kuat dan pengin terus berpuasa adalah iming-iming yang saya janjikan. Iming-imingnya memang masih berupa materi. Jika kuat puasa sampai dhuhur mendapat hadiah Rp. 1.000,-, jika sampai ashar Rp. 3.000,- dan jika sampai maghrib Rp. 5.000,-. Selain iming-iming yang sifatnya materi tersebut, tentu saja saya dan “umminya” anak-anak terus-menerus memberikan motivasi yang sifatnya spririt, tentang kisah-kisah mulia dan sukses orang-orang yang mendirikan puasa, terutama puasa ramadhan. Disamping itu keutamaan dan kemuliaan bulan ramadhan senantiasa kami bacakan dan kami ulang-ulang, tentu saja sesuai dengan cara yang mudah merekapahami

Meski masih dini… tetapi saya yakin sebenarnya motivasi, akan menjadi “energi” yang luar biasa untuk menyelesaikan sesuatu. Termasuk bagaimana anak-anak tersebut mampu menyelesaikan puasa ramadhannya.

Selamat Anakku… mudah-mudahan menjadi anak Sholeh……..