ekonomi, Entrepreneurship, Krisis

Bangkrut Yang Sesungguhnya


kemenkeu

Beberapa waktu lalu, mendapatkan curhat dari seorang sahabat yang bisnis dan usahanya sedang mengalami kebangkrutan, rugi terus menerus, sehingga terancam gulung tikar. Hampir putus asa, karena dililit hutang dimana-mana. Baik kepada vendor maupun ke karyawan. Kondisi seperti ini, sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kondisi seperti saat ini, meski pandemi sudah berangsur berakhir, akan tetapi ternyata masih banyak usaha dengan berbagai sekala, terutama UMKM yang belum pulih.

Sebagai orang yang pernah mengalami kondisi seperti itu, yang bisa dilakukan pertama adalah ber-empati. Mendengarkan keluh kesahnya. Sebab seringkali orang butuh menumpahkan uneg-unegnya, agar ada yang menampungnya, sekedar untuk mengurangi beban yang berat. Itu saja sudah cukup. Kadang tidak butuh bantuan langsung. Meskipun jika bisa membantu itu lebih baik.

Dengan melihat momentum agar tidak terkesan menggurui, sambil kemudian sesekali menyampaikan saran untuk sabar dan tawakal dengan semakin mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Ber-istighfar dan muhasabah diri, jangan-jangan ada yang salah kita selama ini. Kita lihat hubungan dengan Aallah ta’ala bagaimana, hubungan dengan sesama manusia bagaimana dan seterusnya. Selanjutnya jangan sampai putus asa, tetap terus berusaha semaksimal mungkin. Begitulah semestinya ikhtiar yang kita lakukan, selebihnya kita serahkan kepada Allah ta’ala.

Sejalan dengan itu, juga dengan hati-hati diajak dialog bahwa kerugian dan kebangkrutan usaha kita saat ini, bisa jadi merupakan takdir terbaik untuk kita. Demikian pula jika kita masih dalam jalan itu, lebih banyak mudharatnya yang menyeret kita ke dosa dan ujung-ujungnya membawa kita neraka, dibanding manfaatnya. Dan begitulah kehidupan, tidak semua yang kita rencakanan, akan berjalan mulus, banyak rintangan, halangan, onak dan duri. Tugas kita selain memaksimalkan ikhtiar, juga  selalu berprasangka baik kepada Allah ta’ala.

Rugi materi dalam bisnis, itu biasa saja. Bukan akhir dari segalanya. Anggap saja itu merupakan learning cost. Sebagai ongkos belajar, untuk mendapatkan hasil yang terbaik dimasa depan. Tetap optimis, tetap semangat. Ini momentum untuk jeda sejenak, mengatur nafas, menyusun kekuatan untuk bangkit kembali. Dan ini menimbulkan kesadaran baru bahwa menurut Rasulullah SAW, kebangkrutan dalam bisnis/usaha itu bukan kebangkrutan yang sesungguhnya.

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”. Para shahabat pun menjawab, ”Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”. Nabi bersabda, ”Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581).

Dari hadits tersebut dapat dimaknai bahwa di akhirat kelak seluruh amal kita akan ditimbang. Dari sini akan ketahuan neracanya. Positif atau negatif. Dan ternyata perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain menjadi pemberat dari serangkaian ibadah yang kita lakukan. Selanjutnya yang lebih memberatkan lagi adalah perbuatan zalim, sebab dia dapat menggerogoti amal sholeh kita, justru oleh mereka yang terzalimi. Akibatnya amal sholeh kita kalah dengan serangkaian dosa yang kita produksi itu. Dan mengakibatkan tercampakkan ke neraka, sebagai balasan. Nauszubillahi min dzalik.

Dengan demikian maka, ternyata rugi bisnis itu sesungguhnya hal kecil. Jangan lebay. Sebab ada yang lebih ngeri dari itu. Kendati demikian, jika bisnis/usaha/dagang adalah profesi kita, bukan berarti harus berhenti. Tetap optimis, tetap jalan.  Dan diimbangi dengan tetap berusaha agar bisnis kita tidak merugi, jalan dengan baik, menguntungkan, tidak menzalimi orang lain dan menjadi wasilah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Jika demikian maka kita akan menjadi orang-orang yang beruntung. Wallahu a’lam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.